Wednesday, November 30, 2016

“Integrated Curriculum” di MINU Pucang Sidoarjo

[caption id="attachment_2967" align="aligncenter" width="620"]Foto: minupucangsidoarjo.sch.id Foto: minupucangsidoarjo.sch.id[/caption]

Madrasah Ibtidaiyah ini menggunakan kurikulum terpadu atau integrated curriculum sebagai acuannya dengan mengadopsi dan mengadaptasi kurikulum Kementrian Agama (Kemenag), Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Cambridge University dan International Baccalaureate Program (IB). Penerapan kurikulum ini diharapkan dapat menghasilkan sumber daya manusia berkualitas, kompetitif di bidang ilmu pengetahuan serta memiliki keagungan akhlak.

Profil madrasah kita kali ini adalah Madrasah Ibtidaiyah Ma'arif Nahdlatul Ulama Cambridge International Examination, atau yang biasa dikenal dengan MINU Pucang yang teletak di Jalan Jenggolo 53 Sidoarjo, Jawa Timur ini memiliki kurikulum yang berbeda dari sekolah MI/SD pada umumnya.

Kepala sekolah MINU Pucang Sidoarjo, M Hamim Thohari mengaku, dengan mengadopsi dan adaptif mana yang sama dengan kurikulum nasional yang lebih tinggi, maka kurikulum itu diadopsi. Kualifikasi tersebut di atas rata-rata Madrasah Ibtidaiyah.

Menurutnya, keempat kurikulum tersebut tidak dimiliki oleh sekolah lainnya di wilayah Sidoarjo. Ada yang menggunakan kurikulum Cambridge University, namun tidak menggunakan kurikulum IB dan hanya di MINU Pucang yang menggunakan empat kurikulum. "Alhamdulillah siswa kami bisa dan mampu menerima semua kurikulum tersebut," tutur Hamim.

Bahasa Pengantar Inggris

Setiap materi pembelajaran selalu menggunakan bahasa Inggris. Tak terkecuali pada saat pembelajaran agama, guru dan siswanya tetap menggunakan bahasa Inggris. Hamim menjelaskan, semua materi yang diberikan kepada siswa, tidak ada yang dikotomi atau dikesampingkan. Semua materi agama atau pun muatan umum, diajarkan sesuai dengan kurikulum yang ada.

"Pada saat pembelajaran, yang menjadi produser atau sutradara adalah pendidiknya. Pada saat di kelas, semuanya kami serahkan kepada dewan gurunya. Rata-rata pendidik di MINU Pucang ini 90 persen guru bahasa Inggris, yakni melalui bimbingan tenaga pendidik yang profesional dengan 56 persen kualifikasi jenjang pendidikan S2. "Kami juga rutin memberikan pelatihan bahasa Inggris kepada dewan guru dan alhamdulillah sampai saat ini tetap berjalan," kata Hamim.

Dalam menyeimbangkan antara ilmu agama dengan umum, Hamim menyatakan bahwa di MINU Pucang Sidoarjo juga menerapkan program intensif Tartil Al-Qur'an dengan target siswa hapal juz 30, 1 dan 2. Pembelajaran tersebut dilakukan secara menyeluruh dengan memadukan unsur Al-Qur'an dan intelektual peserta didik yang berfokus pada pembentukan akhlak dan kemampuan probelm solving.

Di MINU Pucang sendiri, jumlah tenaga pendidiknya sekitar 84 guru. Dari sekian itu, ada 16 guru yang memiliki sertifikasi internasioanl secara mandiri. Sementara jumlah siswanya hingga saat ini sekitar 1706 siswa. Untuk memenuhi kebutuhan belajar mengajarnya, MINU Pucang memiliki ruang kelas sebanyak 32 ruangan dan luas sekolah 3682 meter persegi.

Prestasi Membanggakan

Selain memiliki keunggulan kurikulum, siswa MINU Pucang Sidoarjo juga banyak menorehkan prestasi membanggakan. Tak ayal, banyak tropi maupun piagam penghargaan di dalam almari yang menjadi pusat pemandangan ketika mulai memasuki ruangan. Almari yang memiliki ukuran kurang lebih 2x1,5 meter ini berada di depan pintu masuk menuju ruang kelas.

Adapun prestasi yang pernah diraih oleh siswa MINU Pucang Sidoarjo pada tahun 2014 antara lain, juara I, II dan III tartil LPSI Al-Barokah tingkat Kota Surabaya-Sidoarjo, juara II dan III Pildacil tingkat Kabupaten Sidoarjo. Tahun 2015, juara I Pildacil tingkat Kabupaten Sidoarjo, juara I cerdas cermat matematika tingkat Kabupaten Sidoarjo, juara I cerdas cermat IPA tingkat Kabupaten Sidoarjo, juara I cerdas cermat bahasa Inggris tingkat Kabupaten Sidoarjo, juara I Olimpiade Math Science SSC tingkat Kabupaten Sidoarjo, rangking 5 besar Nasional Math Science Emerald dan masih banyak lagi yang lainnya.

"Alhamdulillah pretasi yang diraih siswa kami dari tahun ke tahun selalu ada dan sangat banyak sekali. Tidak hanya itu, sekolah kami juga sering digunakan untuk study banding dari sekolah maupun Universitas baik yang ada di Sidoarjo maupun dari luar Sidoarjo," terang Hamim. [Moh Kholidun/Anam]

 

Tuesday, November 29, 2016

Lagi, Siswi Madrasah Ini Menang Olimpiade Matematika

olimpiade-matematikaBantul, PendidikanIslam.id - Kholida Nailul Muna kembali mengukir prestasi di bidang matematika. Siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wonokromo Bantul ini baru saja meraih Juara I Olimpiade Matematika DIY Jateng yang digelar di Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto, Ahad (27/11) kemarin.

Dalam olimpiade yang diikuti 267 pelajar tingkat SMA/SMK dan MA dari DIY dan Jawa Tengah tersebut, Kholida menjadi satu-satunya siswa madrasah di antara lima juara olimpiade ini. Prestasi ini juga sekaligus membuktikan bahwa “Madrasah Memang lebih Baik dan Lebih Baik Madrasah”.

Prestasi ini bukan yang pertama. Sebelumnya ia menjadi juara II olimpiade matematika internasional. Menurut Kholida, setiap mengikuti kompetisi selalu saja ada pengalaman baru yang sangat bermanfaat untuk mengembangkan kemampuan, khususnya di bidang matematika.

“Di setiap event pastinya punya tantangan yang berbeda, tingkat kesulitan dan jenis soal juga sering beda. Itulah yang menantang saya untuk bisa mengerjakan soal dengan benar dan teliti,” ungkap Kholida seperti dikutip edupost.id.

Keberhasilan Kholida tak lepas dari bimbingan Pusat Pendidikan Matematika (PPM), Fery Ardian. Tak hanya itu, guru matematika dari MAN Wonokromo, Sapti Wahyuni, juga dengan tekun mendampingi dan melatih Kholida.

Ketua PPM Ami Triono menyebut, prestasi yang dimiliki Kholida memang luar biasa. “Keberhasilan ini merupakan prestasi luar biasa dan hanya terwujud dari usaha serta doa dari semua pihak dan rizki Kholida juga karena juara 2,3,4 dan 5 berasal dari sekolah-sekolah umum,” ungkap Ami. (Red: Anam)

 

Monday, November 28, 2016

Menag Resmi Luncurkan Aplikasi iSantri Digital Corner di Pesantren Situbondo

[caption id="attachment_2961" align="aligncenter" width="640"]Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat peluncuran Aplikasi iSantri di Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Situbondo, Jawa Timur. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat peluncuran Aplikasi iSantri di Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Situbondo, Jawa Timur.[/caption]

SITUBONDO, PENDIDIKANISLAM.ID - Aplikasi iSantri telah diluncurkan, Senin (28/11) di Pondok Pesantren Salafiyah Sayafi’iyah Sukorejo Situbondo, Jawa Timur oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.
Program pemberdayaan santri melalui perpustakaan digital berbasis media sosial ini merupakan terobosan besar bagi Ma’had Aly dan pesantren secara keseluruhan untuk menjawab tantangan keilmuan di zaman global.

Menteri Agama mengapresiasi langkah Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren tersebut. Karena menurutnya, Ma’had Aly di pesantren harus dibangun dan ditunjang dengan fasilitas berbasis teknologi untuk menyebarkan keilmuan yang bersumber dari kitab-kitab karya ulama pesantren kepada masyarakat, terutama santri dan siswa.

“Program digitalisasi ini juga bisa berfungsi untuk menjaga kelestarian karya pesantren dan ulama-ulama klasik untuk menghindari perubahan dari tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab untuk mengubah substansi,” ujar Lukman usai memberikan sambutan dalam peluncuran tersebut.

Dalam program digitalisasi perpustakaan yang dikuatkan dengan aplikasi di ponsel pintar ini, Kementerian Agama menggandeng Aksaramaya, perusahaan pembuat aplikasi dan ruang digitalisasi pesantren.

CEO Aksaramaya, Sulasmo dalam keterangannya menjelaskan, iSantri dapat diunduh langsung melalui Google Playstore dan Desktop sehingga memudahkan santri, siswa, dan masyarakat untuk mendapatkan layanan tersebut.

“Aplikasi iSantri yang berisi buku dan kitab dapat diakses dan dipinjam layaknya ketika kita di perpustakaan,” terang pria yang kerap disapa Lasmo itu.

Tetapi, lanjutnya, layanan ini tidak statis, melainkan bersifat dinamis karena setiap pengguna dapat diketahui sedang membaca buku apa sekaligus bisa sharing antar pembaca terkait dengan substansi kitab maupun buku.

“Jadi persis seperti ketika kita berinteraksi di media sosial,” terang Lasmo.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Dr Mohsen menuturkan, Ma’had Aly di pesantren yang menjadi sasaran program digitalisasi ini perlu dalam dunia kontemporer saat ini.

Sebab menurutnya, kitab karya ulama dan pemikiran santri sangat dibutuhkan untuk memberikan warna Islam moderat berkarakter ramah di dunia maya. Hal ini berangkat dari hiruk-pikuk dunia maya, terutama media sosial yang selama ini dipenuhi oleh informasi yang belum tentu benar, tetapi dengan gampangnya diviralkan.

Dalam kesempatan ini, Kementerian Agama juga menggandeng Perpustakaan Nasional untuk menggerakkan program digitalisasi. Selama ini, Perpustakaan Nasional sendiri telah banyak mendigitalisasikan kitab-kitab kalsik karya ulama-ulama pesantren.

Dalam kegiatan ini pula, Kementerian Agama mengadakan pertemuan Majelis Masyayikh Ma’had Aly. Majelis yang beranggotakan para kiai sepuh ini berperan dalam merancang standar akademik dan kurikulum di Ma’had Aly.

“Majelis Masyayikh ini juga berperan sebagai expert judgement, tim ahli dalam menentukan segala sesuatu yang menjadi ketentuan Ma’had Aly agar tetap pada jalur tradisi dan keilmuan pesantren,” ujar Kasubdit Pendidikan Diniyah Direktorat PD Pontren Kemenag, Ahmad Zayadi.

Hadir dalam kegiatan yang juga dilakukan peluncuran Kartu Indonesia Pintar bagi santri yaitu Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah KHR Azahim Ibrahimy, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah KH Afifuddin Muhajir, Wakil Ketua LBM PBNU KH Abdul Moqsith Ghazali, Ketua Lakpesdam PBNU H Rumadi, Bupati Situbondo Dadang Wigiarto, dan KH Ahsin Sakho Muhammad.

[Fathoni Ahmad]

Madrasah Favorit dari Balik Bambu

minu-favorit-bojonegoroMadrasah favorit ini terletak di Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, Bojonegoro Jawa Timur, akrab disebut Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ulum atau MINU Unggulan. Madrasah ini pernah menjadi pilot project sekolah unggulan di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU), didirikan pada tanggal 1 September 1953 Berdasarkan Piagam Pengakuan Kewadjiban Beladjar oleh Kepala Djawatan Pendidikan Agama Nomor : K/II/CIX/7549 pada tanggal 1 April 1960.

Pendirian MINU berawal dari para tokoh sesepuh masyarakat Desa Sukorejo Kecamatan Bojonegoro, Kabupaten Bojonegoro yang mempunyai pendapat sekaligus keinginan untuk memiliki sebuah sekolahan/tempat pendidikan untuk anak cucu mereka. Pada waktu itu tepatnya pada tahun 1952 dengan dipimpin sesepuh desa mengadakan musyawarah dan menghasilkan keputusan pendirian sekolah yang bernama Madrasah Ibtidaiyah Wadjib Belajar Nahdlatul Ulama (MWBNU).

Saat itu, kegiatan belajar mengajar dilaksanakan di sebuah rumah milik warga setempat dengan sarana-prasarana seadanya. Baru beberapa tahun selanjutnya, tepatnya pada tahun 1956 karena sekolah semakin diminati masyarakat akhirnya kegiatan pembelajaran dipindah di tempat yang lebih luas di rumah Bapak Muniran, yang lokasinya berada di depan Stasiun Kereta Api Bojonegoro.

Empat tahun kemudian, tepatnya tahun 1960 Sekolah tersebut dipindah lagi dari ke lokasi sdi Jalan Gajah Mada No. 16 Desa Sukorejo, Kecamatan Bojonegoro. Kala itu, gedung madrasah hanya berupa bambu hasil usaha gotong royong warga Nahdlatul Ulama setempat. Meski demikian, saat ini seiring berjalannya waktu, MINU Unggulan Bojonegoro telah menjadi salah satu sekolah favorit di Bojonegoro.

Bahkan, tahun 2010 lalu, MINU Unggulan termasuk dalam enam sekolah yang dijadikan percontohan di LP Maarif NU Jatim. Selain MINU Unggulan Bojonegoro, ada pula sekolah lain, yakni MINU Al Khairiyah Situbondo, MINU Teratai putra/putri Gresik, MINU Kureksari Sidoarjo, dan SD Islam Bainul Ashar Tulungagung.

MINU Nurul Ulum Bojonegoro awalnya tidak mendapat perhatian dari masyarakat kini menjadi tujuan utama masyarakat untuk menyekolahkan anaknya. Bahkan sebelum pendaftaran siswa baru ditutup, jumlah siswanya sudah melebihi pagu yang ada. Melawan persepsi masyarakat soal biaya, menjadi salah satu alasan MINU Unggulan menjadi sekolah pilihan. Sebab, belajar di sekolah unggulan yang dibangun LP Maarif Jatim memang tidak semahal yang dibayangkan masyarakat pada umumnya. Bahkan, pada praktiknya, biaya justru disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masyarakat sekitar.

Selain itu juga butuh transparansi dan partisipasi wali murid. MINU Unggulan Bojonegoro memiliki sistem akuntabilitas dan transparansi. Tidak hanya pihak sekolah, wali murid bukan juga diberikan motivasi ikut berpikir dan mendorong sekolah berkembang lebih baik.

Kepala MINU Unggulan Bojonegoro, Abdul Mujib Ridwan mengaku, di lembaga yang dipimpinnya saat ini terdapat 274 siswa dari kelas 1 sampai kelas 6. Pembelajaran yang diterapkan ialah program full day school. Dengan ketentuan untuk kelas 1 sampai kelas 3, masuk sekolah pukul 06.50 WIB dan pulangnya pukul 14.00 WIB. Sedangkan kelas 4 sampai kelas 6, masuk pukul 06.50 WIB dan pulangnya pukul 15.30 WIB.

Berbagai Program Ekstra

Selama ini, MINU Unggulan Bojonegoro menerapkan berbagai program rutin tahunan sebagai kegiatan pengembangan peserta didik, wali murid dan pendidik. Khusus untuk siswa dan wali murid, terdapat kegiatan outbond setiap tahun. Kegiatan itu dilaksanakan di lokasi yang strategis untuk pembelajaran di luar ruangan.

Menurut kepala MINU Unggulan Bojonegoro, outbond merupakan kegiatan rutin tahunan yang dilaksanakan setiap semester genap. Dengan outbond ini diharapkan para siswa bisa menghilangkan kejenuhan saat belajar di dalam kelas. "Selain itu juga untuk melatih keberanian siswa untuk berpetualang di alam," ujar Mujib.

Lebih lanjut dijelaskan, selain diikuti oleh siswa, para orang tua siswa juga turut serta. Mereka mengikuti kegiatan mulai dengan menyanyikan yel-yel kelompok hingga mengikuti tantangan-tantangan yang disediakan panitia.

"Biasanya khusus untuk para siswa disediakan wahana air dan flying fox, sementara untuk para wali murid juga kami sediakan bermacam-macam lomba. Di antaranya lomba tarik tambang, gapyak hingga lomba membawa gelas dengan taplak meja," ujarnya.

Selama ini, saat kegiatan berlangsung, para siswa dan wali murid ceria meski letih dengan berbagai permainan dan lomba yang dilakukan.

Sementara itu, untuk pengembangan guru terdapat program TOT (Tarining Of Trainer). Semua Guru MI Nurul Ulum mengikuti kegiatan tersebut untuk membentuk seorang pendidik yang selalu kreatif, motivasi, dan berkarakter. Kreatifitas para dewan guru MINU Unggulan terlihat saat perayaan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) Ke-338 tahun ini. Dalam pawai budaya yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, MINU Unggulan termasuk sebagai Juara Harapan III untuk tingkat Sekolah Dasar.

Tercatat ada sebanyak 45 regu yang memeriahkan pawai budaya tingkat SD/SMP tahun 2015 ini, dengan rincian 11 regu dari tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan 34 regu dari tingkat Sekolah Dasar (SD).

Dari segi pengembangan siswa, MINU Unggulan juga menyelenggarakan bimbingan-bimbingan khusus bagi siswa-siswinya yang mengikuti olimpiade. Salah satunya sebagaimana diikuti siswanya, M. Kafa Mas’udi yang berhasil menyabet Juara III Olimpiade Sains Nasional oleh EEC, tahun lalu serta meraih Juara I pada kompetisi yang sama tingkat Provinsi Jawa Timur tahun ini.

MINU Unggulan mendukung penuh perjuangan siswanya dengan memberikan bimbingan seminggu dua kali sampai mendekati olimpiade, termasuk pemantapan materi Matematika dan Sains. Namun seringnya mengikuti kejuaraan dan olimpiade tingkat Kabupaten, Provinsi sampai Nasional sejak kelas 2, membuat pembimbing tidak kesulitan memberikan materi.

Selama ini, manajemen Madrasah yang profesional merupakan kunci pokok dalam membangun MINU menjadi madrasah yang unggul, tidak luput dengan program peningkatan kualitas tenaga pendidik secara berkelanjutan, beragam fasilitas yang ditawarkan sebagai penunjang kegiatan Belajar Mengajar, kreativitas dalam pengajaran, serta pengelolaan kelas yang baik menjadikan MINU sebagai lembaga yang profesional dalam mengemban amanat pendidikan. (Nidhomatum MR/Anam)

Friday, November 25, 2016

Kemenag Segera Luncurkan iSantri dan Majelis Masyayikh Ma’had Aly

[caption id="attachment_2950" align="aligncenter" width="640"]Gambar ilustrasi santri digital. Gambar ilustrasi santri digital.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Kementerian Agama melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren akan segera merilis iSantri. Aplikasi sosial media ini akan dirilis pertama kalinya oleh Menag Lukman Hakim Saifuddin di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Jawa Timur, Senin (28/11) mendatang.

"iSantri adalah Aplikasi Sosial Media berbasis buku dan kitab digital, dilengkapi dengan digital library. Aplikasi ini berisi beragam kitab, buku pelajaran, buku sains dan buku penunjang lainnya yang bisa dipinjam dan dibaca oleh Santri/siswa untuk belajar mandiri serta memperkaya pengetahuan," terang Kasubdit Pendidikan Diniyah Direktorat PD Pontren Ahmad Zayadi, Jumat (25/11).

Menurut Zayadi, peluncuran ini juga akan ditandai dengan peresmian digital corner. Ada 13 digital corner yang akan beroperasi di 13 Mahad Aly, yaitu: Mahad Aly Saidusshiddiqiyyah (DKI Jakarta), Mahad Aly Syekh Ibrahim Al Jambi (Jambi), Mahad Aly Sumatera Thawalib Parabek (Sumatera Barat), Mahad Aly MUDI Mesjid Raya (Aceh).

Selain itu, Mahad Aly Asadiyah (Sulsel), Mahad Aly Rasyidiyah Khalidiyah (Kalsel), Mahad Aly salafiyah Syafiiyah (Jatim), Mahad Aly Hasyim Al-Asyary (Jatim), Mahad Aly At-Tarmasi (Jatim), Mahad Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh (Jateng), Mahad Aly PP Iqna ath-Thalibin (Jateng), Mahad Aly Al Hikamussalafiyah (Jabar), dan Mahad Aly Miftahul Huda Manonjaya (Jabar).

Digital corner ini nantinya akan menjadi media dan penunjang kegiatan belajar mengajar para santri. "iSantri Digital Corner merupakan dynamic library yang disediakan di area Pondok Pesantren/Madrasah (dalam dan luar gedung perpustakaan) untuk memberikan akses kepada para Santri/siswa membaca lewat iSantri," ujarnya.

"iSantri Digital Corner sekaligus menjadi ruang untuk diskusi dan pengembangan literasi Santri/siswa dan guru," tambahnya yang menerangkan bahwa dalam kesempatan tersebut juga akan diresmikan Majelis Masyayikh Ma’had Aly.

“Majelis Masyayikh adalah lembaga yang berisi para kiai sepuh dan alim yang akan menentukan standarisasi akademik dan sebagai expert judgement Ma’had Aly,” imbuh Zayadi.

Aktivitas yang bisa dilakukan di iSantri Digital Corner ini antara lain: Baca e-book lewat iSantri, diskusi seputar buku yang sedang dibaca, serta pelatihan dan workshop.

Selain merilis iSantri Digital Corner, Menag secara simbolis juga akan menyerahkan Kartu Indonesia Pintar (KIP) tahap II kepada santri Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Ada sekitar 91.448 KIP yang dibagikan pada tahap II ini ke para santri yang tersebar di seluruh Indonesia.

Sumber: Portal Kementerian Agama

[Red: Fathoni Ahmad]

Thursday, November 24, 2016

Ketika Nabi Menjawab Pertanyaan

[caption id="attachment_2947" align="aligncenter" width="640"]Gambar ilustrasi. Gambar ilustrasi.[/caption]

Nabi adalah orang yang membawa berita. Bukan sembarang berita, tapi ini berita dari langit. Semua Nabi membawa dua pesan utama: percaya kepada Tuhan dan percaya pada hari akhir/hari kebangkitan. Pesan dari langit bukan sekadar pepesan kosong melainkan juga harus diterapkan untuk terciptanya ketertiban dan kenyamanan. Pada titik ini, Nabi menjelma menjadi suri tauladan untuk menjalankan pesan ilahi.

Nabi bukan hanya pembawa pesan (messenger) sebagaimana layaknya tukang pos yang tidak tahu isi pesan. Nabi diberi pemahaman akan berita atau pesan yang hendak diteruskan kepada sesama. Bahkan Nabi juga menjawab sejumlah pertanyaan mengenai maksud dan kandungan berita langit. Nabi juga menjadi orang pertama yang berhadapan dengan mereka yang tidak percaya dan mengingkari pesan langit.

Ada yang jelas-jelas menentang (kafir) namun ada pula yang hatinya mendua antara percaya dan tidak percaya (munafiq). Banyak pihak yang sekadar iseng bertanya kepada Nabi. Atau bertanya untuk menguji dan mengolok-olok. Ada pula yang gemar mencari-cari kesalahan, menguping dan membocorkan pembicaraan Nabi, bahkan ada yang meniru gerak-gerik Nabi berbicara sekadar mengejek setiap kali Nabi menyampaikan pesan atau penjelasan.

Dalam Hadis riwayat Imam Bukhari dikisahkan Nabi naik mimbar dan kemudian "menantang" jamaah untuk mengajukan pertanyaan yang mereka mau, dan pasti saat itu akan Nabi jawab. Melihat Nabi yang terlihat geram, sejumlah sahabat menangis terisak-isak. Nabi berulangkali berseru: "bertanyalah kalian kepadaku!". Seorang bertanya, "dimana tempat tinggalku kelak?" Nabi menjawab: "kamu di neraka!". lantas Abdullah bin Hudzaifah bertanya: "siapa ayahku Ya Rasul?" Nabi menjawab, "Ayahmu Hudzaifah." Nabi masih menunggu siapa lagi yang mau bertanya segala macam kepadanya dengan terus mengulang: "Ayo bertanya lagi?!"

Umar bin Khattab kemudian berkata: "Radhina billahi Rabba, wa bil Islami dina, wa bi Muhammadin shallahu 'alayhi wa sallam Rasula (Kami ridha Allah sebagai Rabb Kami, Islam sebagai agama kami dan Muhammad SAW sebagai Rasul)." Ucapan Umar di tengah isak tangis para sahabat tersebut mengandung pertaubatan, penyesalan akan ketidaksopanan sejumlah pihak dan juga pengulangan janji kesetiaan kepada Nabi.

Nabi terdiam sejenak mendengar ucapan Umar. Nabi kemudian bersabda: "Pada dinding ini telah diperlihatkan kepadaku surga dan neraka. Belum pernah kulihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini." Ucapan Nabi bermakna gentingnya situasi saat itu akibat kemarahan Nabi.

Peristiwa ini berbuntut panjang. Dalam riwayat Imam Muslim diceritakan kisah tambahan betapa ibu Abdullah murka pada anaknya yang bertanya siapa bapaknya di depan Nabi. Bukan saja pertanyaan itu tidak penting ditanyakan tapi juga seolah meragukan jalur nasabnya. Kata ibunya, "Kamu sangka ibumu ini pelacur yang kemudian aibnya mau kamu buka di depan Nabi dan jamaah dengan bertanya seolah meragukan siapa ayahmu?! Aku tidak pernah mendengar seorang pun yang lebih durhaka ketimbang engkau!"

Ada memang orang yang selalu ingin tahu hal-hal yang amat sangat detil dari agama ini. Nabi yang membawa gagasan besar dan pesan dari langit disibukkan dengan pertanyaan remeh temeh, seperti orang yang kehilangan unta dan kemudian bertanya hal itu kepada Nabi.

Nabi pernah bersabda:

"Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah”. Seseorang berkata, ”Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Maka beliau diam hingga orang tersebut mengulanginya sampai tiga kali, kemudian Rasulullah bersabda, ”Kalau aku katakan ya, niscaya hal tersebut menjadi wajib, dan niscaya kalian tidak akan sanggup,” kemudian beliau bersabda, ”Biarkanlah aku terhadap apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakan semampu kalian. Dan jika aku melarang sesuatu pada kalian, tinggalkanlah."

Maka kemudian turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian." [al-Mâidah: 101].

Jadi, apa kita tidak boleh bertanya? Tentu boleh. Ada sekitar 12 ayat di mana Allah turun tangan langsung menjelaskan jawaban dengan menggunakan redaksi: "Mereka bertanya kepadamu tentang...." Itu karena pertanyaannya sangat penting. Di lain kesempatan, Nabi juga senang sekali berdialog dengan para sahabatnya. Ini artinya Nabi tidak keberatan menghadapi berbagai pertanyaan sahabat.

Namun seringkali orang bertanya bukan untuk mendapatkan jawaban. Ada yang bertanya untuk menunjukkan bahwa dia juga memiliki pengetahuan tentang hal yang dibicarakan. Ada yang bertanya untuk menyindir, atau untuk menunjukkan kita lebih pintar dari yang ditanya. Atau bertanya untuk menebar pesona betapa alim dan dermawannya kita.

Simak pertanyaan model ini: "Mengapa ya Ustadz setiap saya habis bersedekah rasanya nikmatttt sekaliii?" Lantas disusul pertanyaan jamaah lain, "Kalau saya rasanya nikmat itu pas sehabis shalat tahajud 12 rakaat. Kenapa ya Ustadz?" Atau yang satu ini: "Bu Ustadzah, setiap saya pergi umrah setiap bulannya kenapa ya saya selalu menangis kalau shalat di depan Ka'bah? Dan anehnya tetangga saya katanya tidak bisa keluar air mata di Tanah Suci. Apakah perbedaan ini karena saya rajin menyantuni anak yatim, sementara tetangga saya itu terkenal pelitnya ya Bu?"

Duuhhhh!

Nadirsyah Hosen, Dosen Senior Monash Law School Australia.

Sumber: Facebook/NadirsyahHosen

Tiga Aspek Fokus Pendidikan Islam

[caption id="attachment_2839" align="aligncenter" width="640"]Ilustrasi proses belajar mengajar di kelas. Ilustrasi proses belajar mengajar di kelas.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Pendidikan Islam akan difokuskan kepada tiga aspek. Hal ini dilakukan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang baik.

Menteri Agama Republik Indonesia, Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, bermodalkan berbagai keunggulan dan potensi besar yang dimiliki Indonesia. Visi pendidikan Islam ke depan adalah terwujudnya pendidikan Islam yang unggul dan moderat. Kemudian, menjadi rujukan dunia dalam integrasi ilmu agama, pengetahuan serta teknologi.

“Demi memastikan kualitas sumber daya manusia yang baik, maka pendidikan Islam perlu fokus pada tiga aspek," kata Lukman dalam sambutannya di acara launching Education Sector Analytical and Capacity Development Partnership (ACDP) di Auditorium KH M Rasjidi Kementerian Agama, Rabu (23/11).

Ia menerangkan, tiga aspek tersebut yang pertama, meningkatkan kualitas pendidikan. Kedua, pembentukan akhlak murid yang baik dan budi pekerti yang luhur. Ketiga, pengembangan keterampilan mereka dalam berpikir tingkat tinggi.

Menurutnya, merujuk pada tiga asepek itu maka generasi emas Indonesia diharapkan akan menjadi manusia-manusia yang tangguh dalam menghadapi persaingan global. Selain itu menjadi generasi yang mampu terus menjawab tantangan-tantangan baru.

Dikatakan Lukman, pendidikan Islam juga sengaja akan lebih dititik beratkan pada esensi ajaran Islam. Hal ini diperlukan karena persaingan hidup semakin ketat. Apalagi realitas Indonesia yang majemuk. Maka esensi dari Islam yang hakekatnya hadir untuk mewujudkan kedamaian, kasih sayang, kemaslahatan dan rahmat bagi seluruh alam semesta perlu dititik beratkan.

Sumber: Republika

[Red: Fathoni Ahmad]