Tuesday, February 2, 2016
Pelajarilah Ilmu [Quote]
Saturday, January 23, 2016
Menanamkan Percaya diri pada Anak Saat Bertamu
Suatu hari A Wahid Hasyim menerima tamu seorang sahabatnya, Abdullah Ubaid, yang membawa seorang putranya berumur 3-4 tahun. Dihidangkanlah minuman the 3 cangkir. Satu untuk Ubaid, satu untuk anaknya, dan satu lagi untuk shahibul bait atau tuan rumah.
Terjadilah perbincangan antara seorang ayah dan anak.
“Ayah, tolong ambilkan air tehnya?” pinta anaknya.
“Nak, coba ambil sendiri. Kan tehnya ada di dekat kamu.”
“Ayah, enggak bisa. Kalau nanti aku ambil, jatuh, dan pecah bagaimana?”
“Enggak akan jatuh Nak, kalau kamu mengambilnya hati-hati. Pelan-pelan saja.” Ayahnya kembali meyakinkan.
“Ayah… kan tehnya panas. Aku belum kuat memegangnya.” Anaknya masih menunjukkan keengganannya.
“Nah, sabar dulu kalau begitu. Tunggu sampai agak dingin, nanti kamu bisa mengambil dan meminumnya dengan mudah dan enak,” kata Sang Ayah.
Akhirnya anak itu pun menunggu tehnya dan tatkala sudah agak dingin ia mengambilnya dengan tangannya sendiri dan meminumnya.
Dialog yang sederhana. Tetapi di balik itu ia ada contoh yang disuguhkan, yaitu cara praktis membangun kepercayaan diri seorang anak dalam kebiasaan sehari-hari. Sepele, tetapi signifikan dalam membangun karakter anak.
Disadur dari Guru Orang-Orang dari Pesantren,
LKiS Yogyakarta, Cet ke 3, 2008
Thursday, January 21, 2016
KH. Wahid Hasyim: Mampu Mengurus Rumah Tangga Sendiri, Mampu Mengurusi Rakyat
PendidikanIslam.id -
Pada masa pendudukan Jepang, A Wahid Hasyim mewakili ayahandanya, KH Hasyim Asy’ari, sebagai Kepala Shumubu atau Jawatan Urusan Agama Pusat. Posisi yang sangat strategis pada tahun 1942. Suatau saat, Wahid mengundang Ketua Pemuda Anshor Nahdlatul Ulama Jawa Tengah, Saifuddin Zuhri bertemu dengannya di Jakarta.
[caption id="attachment_121" align="alignnone" width="960"]
Akhirnya bertemulah keduanya di Hotel Des Indes, hotel kelas satu di Jakarta, yang sebelumnya hanya pembesar-pembesar Belanda yang menempatinya. Wahid banyak bicara situasi politik saat itu, termasuk mengajak Saefuddin untuk bertemu Muhammad Yamin, salah satu tokoh pergerakan.
“Malam ini tentu akan ada rencana baru. Betul kan, bahwa saya telah mengadakan hubungan dengan berbagai golongan? Alhasil, kita kaum santri sedang diperlukan oleh semua golongan. Kita juga memerlukan mereka. Kita saling memerlukan dalam rangka perjuangan besar memerdekakan bangsa kita dari penjajahan yang manapun,” kata Wahid sambil mengikat sepatu, bersiap ke kediaman Yamin. Mengenakan celana dan kemeja, penampilannya sedikit berubah yang sebelumnya memakai kain sarung.
Wahid berdiri, bercermin sebentar membetulkan letak dasinya. Lalu mengambil peci hitamnya. Ditentengnya peci itu, lalu mengajak Saefuddin keluar dari kamar hotel. Di luar telah tersedia sebuah mobil Fiat hitam. Wahid mengemudikan sendiri mobilnya, sementara Saefuddin duduk di sampingnya.
Malam itu, kira-kira pukul 21.00, jalan-jalan di Jakarta tampak sepi. Terlihat beberapa delman dan orang naik sepeda berlalu lalang. Mobil-mobil tidak begitu banyak, itu pun cuma dinaiki TuanTuan Dai Nippon.
“Ini mobil dinas Gus?” Tanya Saefuddin mengalihkan pembicaraan.
“Bukan! Mobil dinas cuma di waktu kantor. Itu pun jarang aku pakai. Saya diberi mobil dinas pakai tanda militer Jepang, saya tak mau pakai. Saya tak mau memakai mobil militer Jepang. Sebab itu, saya membeli sendiri mobil Fiat ini,” jawabnya.
Saefuddin cukup terkejut mendengar jawaban Wahid.
“Bagaimana caranya bisa membeli mobil sendiri di zaman begini?” Tanya Saefuddin penasaran. Pasalnya zaman itu tidak ada orang sipil yang memiliki mobil.
“Ya Allah, kalau soal mobil saja tidak bisa memecahkannya, bagaimana bisa memecahkan persoalan rakyat?” jawab Wahid tegas.
Ia menjelaskan, “Mobil adalah suatu alat bepergian, juga alat berjuang. Banyak di antara kawan-kawan kita yang sudah tergolong pemimpin, kadang-kadang persoalan rumah tangga saja tidak bisa memecahkannya, bagaimana bisa memecahkan masalah umat yang jauh lebih besar dari sekedar masalah rumah tangga.” (Fathuri SR)
Saturday, January 16, 2016
Guru, Mendidik dengan Kasih Sayang- [Quote]
Guru tidak layak menyebarluaskan kekurangan dan kesalahan murid karena akan merangsang timbulnya protes murid secara demonstratif. Mereka akan dihantui rasa bersalah yang bias membuat mereka protes sebagai cara mempertahankan diri. Arahan, teguran, dan juga bimbingan guru dapat disampaikan dengan penuh kasih sayang tanpa emosi
KH. Sahal Mahfudz
Pendidikan Karakter [Quote]
Pendidikan Islam pada dasarnya adalah proses pembentukan watak, sikap, dan perilaku islami yang meliputi iman (akidah), Islam (syariat), dan ihsan (akhlak, etika, dan tasawuf).
- KH Sahal Mahfudz, Fiqh Sosial, h. 336