Tuesday, January 19, 2016

Subhanallah, Mahasiswi ini Terus Hafalkan Al-Qur'an Sambil Kuliah Kedokteran di Jerman

[tps_header]Subhanallah, Mahasiswi ini Terus Hafalkan Al-Qur'an Sambil Kuliah Kedokteran di Jerman[/tps_header]


[tps_title]Lulusan Madrasah, Kuliah Kedokteran di Jerman[/tps_title]


Sambil menimba ilmu kedokteran di Universitas Leipzig Jerman, Ika Damayanti menyelesaikan hafalan Al-Qur’an yang sudah dimulainya saat masih berada di MAN Insan Cendekia Gorontalo. Aktifitas belajarnya yang padat di Jerman tidak menghalanginya untuk menambah hafalan ayat demi ayat. Al-Qur’an sudah menjadi sahabatnya sehari-hari.




[caption id="attachment_112" align="alignleft" width="260"]Ika Damayanti Puasa Ika Damayanti Puasa[/caption]

Ia belajar Al-Qur’an di Masjid Al-Rahman Leipzig yang dibimbing  oleh beberapa temannya asal Suriah di akhir pekan. Ia juga melakukan muroja’ah; menyetorkan hafalannya di grup WhatsApp, MEMORIZING QURAN: Menghafal Quran 1 Hari 1 Ayat.


Nama lengkapnya Ika Damayanti Puasa. Ia dipanggil Ika, terkadang orang terdekat memanggilnya lebih singkat lagi “Ka”. Ika dari bahasa Sanskerta Eka artinya satu. Ia anak ke-1 dari tiga bersaudara. Damayanti terinspirasi dari Damai. Orangtuanya mengharapkan anak pertamanya menjadi jalan damai bagi agama, bangsa dan negara. Sedangkan Puasa adalah marga dari ayahnya Sumitro Puasa.


Setelah lulus SMP, awalnya ia memutuskan untuk melanjutkan belajar ke SMA dengan tetap membawa nilai-nilai Islam. Namun beberapa hari setelah Ujian Nasional, salah satu temannya memberikan brosur MAN Insan Cendekia Gorontalo, disingkat MAN ICG. Ia bersyukur akhirnya berhasil lolos tes seleksi yang cukup ketat.


Komitmen MAN ICG menjadi lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya mencetak generasi cerdas tetapi juga memiliki pengetahuan agama yang luas dibuktikan dengan sejumah prestasi yang didapatkan para siswanya di ajang Musabaqoh Tilawatil Quran (MTQ).


Pada MTQ Tingkat Kabupaten Bone Bolango yang diselenggarakanpada awal tahun 2012, kontingen MAN ICG yang mewakili kecamatan Tilongkabila kembali mengukir prestasi tertinggi dengan membawa pulang gelar juara di hampir seluruh kategori yang dilombakan dalam kegiatan tersebut.


Ika Damayanti Puasa waktu itu meraih Juara I pada cabang Hifdzil Qur’an atau menghafal Al-Qur’an untuk kelompok 10 Juz putri. Ia melengkapi daftar siswa ICG lainnya yang memperoleh juara untuk cabang Hifdzil Qur’an. Juara lainnya diperoleh ICG untuk cabang Tilawah, Fahmil Quran, Khottil Quran, dan Syarhil Qur’an.


Namun ada peristiwa yang tidak akan terlupakan saat Ika mengikuti lomba MTQ. Saat itu tepat tanggal 31 Maret 2012 pagi, ayahnya berpulang ke Hadirat Allah SWT.

“Saya masuk ke rumah pagi itu dengan rasa campur aduk, sudah lama saya tidak berbicara dengan ayah langsung maupun lewat telepon, dan ayah sekarat sambil memanggil manggil nama saya dan adik-adik saya tanpa meninggalkan pesan sebelum meninggal,” kata Ika.

[tps_title]Berangkat ke Jerman[/tps_title]


Dari kecil Ika mengaku sudah banyak mendengar dan melihat proses belajar mengajar di luar negeri, khususnya saat saya les bahasa Inggris. Ia tertarik dengan budaya dan bahasa yang baru, serta jaringan komunikasi yang luas. Keinginan itu dipertemukan dengan presentasi dari beberapa duta mengenai pendidikan di Jerman. Saya pun mulai mencari info mengenai kuliah di Jerman.


“Jerman merupakan negara yang sangat menghargai para student, fasilitas dan kemudahan di Jerman bagi mahasiswa terbukti dengan dihapusnya biaya kuliah di hampir semua negara bagian. Kemajuan kesehatan di Jerman yang didukung dengan banyak research baru dan fasilitas berteknologi tinggi, menggolongkan Jerman sebagai negara dengan pelayanan medis terbaik. Setiap orang memiliki hak yang sama terhadap pelayanan medis, hal ini didukung juga oleh asuransi kesehatan yang wajib bagi setiap warganya,’ katanya


“Dengan banyak info yang saya dapat, saya akhirnya meminta jawaban dari Allah, jika keinginan saya kuliah kedokteran di Jerman memang sesuai dengan kehendak Allah maka semoga Allah memudahkan langkah saya untuk kesana,” kata Ika.


Walaupun ia sudah diterima di jurusan kedokteran Universitas Hasanuddin, hatinya tergerak untuk tetap merealisasikan mimpinya belajar di Jerman.


Ahamdulillah atas izin Allah segala proses bisa saya lewati mulai dari belajar bahasa hingga diterima di Universitas tertua kedua di Jerman, Universität Leipzig (Universitas Leipzig).


Ika menimba ilmu Kedokteran di Universitas Leipzig, Jerman. Pendidikan kedokteran terdiri dari 12 semester, 6 tahun 3 bulan yang setara dengan master degree secara internasional. Ika berencana setelah lulus akan melanjutkan spesialisasi di Jerman juga 6 tahun dan siap kembali untuk membangun tingkat kesehatan masyarakat Indonesia.


Proses belajar di Jerman secara umum hampir sama dengan di Indonesia. Para civitas akademis sangat menghargai dan mendukung penuh orang dengan usaha dan kerjanya yang keras. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan, tidak ada perbedaan usia dalam proses pendidikan di Jerman.



[tps_title]Melanjutkan Hafalan Al-Qur’an[/tps_title]


Ika Damayanti mulai menghafal Quran secara intensif saat masuk MAN ICG. Tahfidzul Quran adalah program setiap harinya, 30 menit sebelum proses belajar mengajar pagi hari dimulai dan 30 menit sebelum sholat Isya. Dalam program ini para santri dan santriwati mendapat buku hafalan, dimana setiap setoran hafalan atau murojaah tercatat di dalam buku itu.


Fastabiqul khoirot, ya berlomba-lomba dalam kebaikan, beberapa teman-teman saya sudah hafidz sebelum beranjak ke MAN ICG, sehingga mereka menyetorkan hafalannya dengan penuh semangat, saya juga dengan semangat berusaha untuk memanfaatkan waktu itu dengan baik, hingga setoran saya telah melebihi target hafalan yang harus dicapai selama 3 tahun di MAN ICG,” kata Ika.


Pada 2012 saat diadakan kegiatan MTQ, saat itu Ika berumur 16. Ia mengikuti lomba tahfidz 10 Juz. “Saat itu hafalan saya 5 Juz, berarti saya harus mengejar 5 Juz dalam waktu singkat untuk mewakili MAN ICG,” katanya. Didukung oleh para hafidz hafidzah teman-temannya alhamdulillah Ika bisa meraih juara 1 untuk bidang tahfidz atau hafalan Al-Qur’an.


Aktifitas menghadal Al-Qur’an masih dilanjutkan oleh Ika saat ini ketika berada di Jerman. Ia belajar Quran di masjid Al-Rahman Leipzig yang dibimbing  oleh beberapa temannya asal Siria di akhir pekan.


Secara intensif ia juga menghadiri pengajian muslimah Leipzig yang diadakan 2 minggu sekali, mengaji Al-Quran dan juga membahas Hadits. Selain itu, untuk murojaah saya menyetorkan hafalan saya di grup WhatsApp, MEMORIZING QURAN: Menghafal Quran 1 Hari 1 Ayat.


“Saya berencana menyelesaikan hafalan Quran saya dan bisa memperkenalkannya dalam terjemahan bahasa Jerman, khususnya di bidang kesehatan. Saya juga mendaftarkan diri di sebuah lembaga beasiswa Avicenna khusus untuk mahasiswa muslim, dalam rangka menjadi kader dan cendekiawan muslim yang berkarya dengan ilmu pengetahuan,” katanya. (*)

Sunday, January 17, 2016

Pendidikan Yang Membebaskan

[caption id="attachment_96" align="alignnone" width="542"]Pendidikan Yang Membebaskan Pendidikan Yang Membebaskan[/caption]

Judul Buku : Pendidikan Pembebasan Dalam Perspektif Barat & Timur
Penulis : Umiarso, M.Pd.I & Zamroni, M.Pd.
Penerbit : Ar-Ruzz Media, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2011
Tebal : 212 halaman


Oleh: Supriyadi


Pendidikan merupakan kebutuhan manusia yang harus terpenuhi. Kebutuhan manusia akan pendidikan tersebut bisa disetarakan dengan kebutuhan manusia untuk makan, berpakaian, dan bertempat tinggal. Dengan demikian, pendidikan menjadi kebutuhan primer bagi manusia. Tidak hanya demikian, dengan pendidikanlah manusia akan menemukan hakikatnya sebagai manusia. Oleh karenanya, pendidikan harus menjadi media pembebas manusia.


Pendidikan adalah aksi pembebasan manusia dari belenggu kebodohan baik itu berupa kebodohan secara intelektual maupun moral-spiritual agar menjadi manusia yang seutuhnya. Dengan demikian, pendidikan adalah hak setiap manusia, bahkan kewajiban setiap manusia untuk mendapatkan pendidikan. Karena jika manusia itu tidak berpendidikan, maka manusia akan terbelenggu dalam kubangan kebodohan.


Umiarso, M.Pd.I dan Zamroni, M.Pd dalam buku yang berjudul “Pendidikan Pembebasan dalam Perspektif Barat & Timur” menguraikan bagaimana pendidikan itu menjadi media pembebasan manusia. Pada dasarnya, pendidikan itu adalah pembebasan, oleh karenanya pendidikan tidak boleh menjadi ajang untuk melestarikan doktrinasi, pemaksaan, keterkekangan berpikir, dan pembunuhan kesadaran kritis manusia.


Berpijak pada pemikiran pendidikan Paulo Freire yang berpendapat bahwa pendidikan merupakan praktik pembebasan. Freire mengemukakan bahwa pendidikan dapat digunakan sebagai alat pembebasan yang meletakkan manusia pada fitrah kemanusiaannya. Secara konsisten, pendidikan harus ditempatkan dalam konfigurasi memanusiakan manusia, yang merupakan proses tanpa henti dan berorientasi pada pembebasan manusia melalui aktualisasi kesadaran kritis yang ia miliki (hlm. 188).


Jika kita refleksikan pemikiran tersebut pada praktik pendidikan di Indonesia saat ini belumlah sesuai. Pendidikan di Indonesia masih mendoktrin, tidak jarang juga mengekang tumbuhnya kesadaran kritis, bahka sering terjadi kekerasan dalam pendidikan, serta normatifitas di dalamnya membuat peserta didik seolah menjadi robot yang terprogram untuk suatu kepentingan. Hal itu merupakan warisan dari pendidikan represif masa orde baru yang bertujuan untuk melahirkan kuli-kuli sehingga mampu melancarkan program penguasa, yakni pembangunan.


Pendidikan di Indonesia di masa kini harus direkonstruksi dan didekonstruksi sekaligus untuk menghapus status quo dalam pendidikan yang telah ada sebelumnya. Orientasi pendidikan Indonesia harus tepat pada titik pembebasan. Meski demikian, kebebasan di sini bukan berarti bebas secara ekstrem dan radikal serta tidak bertanggunjawab, melainkan kebebasan untuk berpendidikan, berpikir kritis, dan beradab sehingga terjadi keharmonisan dalam kehidupan yang bermartabat.


Dengan demikian, pemikiran Freire tersebut harus dibumbui dengan pemikiran dari Timur (salah satunya Islam) yang tidak hanya membebaskan kemanusiaan manusia di muka bumi secara horizontal. Pendidikan juga harus ditegaskan secara vertikal untuk mengenal dimensi transenden sehingga terjadi keseimbangan. Dimensi transendental dalam pendidikan tersebut adalah guna memungkinkan manusia mengenali Yang Maha Tak Terhingga, Tuhan semesta alam.


Orientasi pembebasan bagi manusia harus ditempatkan pada posisi yang integral antara dimensi sekuler dan transenden. Kebebasan sebagai potensi dasar harus dimanifestasikan dengan bertanggungjawab karena ia merupakan amanat dari Tuhan, Pencipta alam semesta dan realitas kehidupan (hlm. 190).


Dengan mengkombinasikan paradigma pendidikan horizontal dan vertikal tersebut tidak lain adalah untuk membentuk manusia yang terbebas dari ketertindasan dan kebodohan serta beradab. Hal ini sebagaimana tujuan pendidikan yang tidak hanya sekedar transfer of knowledge (transfer ilmu pengetahuan) akan tetapi juga transfer of value (tranfer nilai).


Secara sederhana, fungsi pendidikan adalah untuk menjadikan manusia yang tidak mudah dibodohi dan tidak mau membodohi. Tidak mudah dibodohi artinya bahwa manusia itu memiliki kecerdasan intelektual yang dengannya manusia mampu berpikir kritis. Sementara tidak membodohi adalah bahwa manusia yang berpendidikan itu memiliki moral dan etika yang mulia sehingga menjadi manusia yang mulia pula serta mampu mengenal Tuhannya.


Akhirnya, dengan membaca buku yang berjudul “Pendidikan Pembebasan dalam Perspektif Barat & Timur”, para pembaca diajak untuk menelusuri konsep pendidikan pembebasan yang terkombinasi dari perspektif Barat (Paulo Freire) dan Timur (pendidikan Islam) untuk menuju pendidikan yang membebaskan kemanusiaan manusia. Dengan kebebasan kemanusiaan manusia, manusia akan menemukan hakikat kemanusiaannya dan bertanggungjawab atas kebebasannya serta mampu mengenak Tuhannya.


Supriyadi,  pengamat sosial pada Fak. Tarbiyah & Keguruan UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Chairul Akmal: Dari Madrasah Anak Aceh Ini Bertolak ke Jepang

[tps_title]Dari Madrasah, Anak Aceh Ini Bertolak ke “Negeri Sakura[/tps_title]




[caption id="attachment_87" align="aligncenter" width="453"]Chairul Akmal Chairul Akmal[/caption]

Peristiwa penting yang tidak mungkin dilupakan oleh Chairul Akmal adalah bencana tsunami Aceh. Bencana dahsyat itu telah merenggut nyawa kedua orang tuanya serta adik perempuan satu-satunya. Namun ia tidak menyerah menghadapi hidup. Ia bangkit.  “Tidak ada yang dapat menentukan apa yang dapat kita capai selain diri kita sendiri,” katanya.


Saat itu Akmal baru duduk di kelas 5 MI. Setelah bencana itu terjadi, ia pindah ke Aceh Besar, tinggal bersama nenek dan tantenya. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di MIN Pesantren Tengku Chiek Oemar Diyan, lalu melanjutkan ke MTs di Aceh Besar.


Perjalanan nasib mungkin sudah ditentukan oleh Yang Kuasa. Setelah menyelesaikan pendidikan MTs, Akmal lulus tes masuk MAN Insan Cendekia Serpong. Di sana ia bertemu dengan banyak siswa pintar se-Indonesia. Ia juga tergabung dalam tim olimpiade sains. Setelah lulus MAN, Akmal melanjutkan kuliah di salah satu universitas terkemuka di Jepang. Saat ini ia sudah berada di semester akhir. Ia akan lulus tahun 2016. Namun ia masih ingin berada di Jepang.


Di sela-sela kegiatan kuliah yang sangat padat di Negeri Sakura, ia tidak melupakan pesan penting dari orang tua dan almamaternya, mengamalkan ilmu agama yang ia punya. Di waktu liburan semester, mahasiswa Universitas Tohoku ini mengajar di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Hagi, Sendai. TPA ini diperuntukkan bagi anak-anak keluarga Indonesia dan Malaysia di kota Sendai, Jepang.


[tps_title]Diterima di MAN Insan Cendekia[/tps_title]


Sejak kecil, Akmal sudah belajar di madrasah. “Saya sendiri kurang mengerti saat kecil kenapa, tapi saya pribadi tidak berusaha membedakan antara ‘Sekolah’ dan ‘Madrasah’. Walaupun memang ibu sejak dari saya kecil ingin saya masuk ke pesantren. Kebetulan pesantren yang saya masuki ber-MTs,” katanya.


Lulus dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pesantren Tengku Chiek Oemar Diyan di Aceh Besar tahun 2009, Akmal melanjutkan ke MAN Insan Cendekia Serpong.


Di MAN Insan Cendekia, ia dipertemukan dengan para guru teladah. “Gurunya excellent,” katanya. “Saya rasa selain siswanya yang berasal dari anak-anak terbaik berbagai kalangan, Insan Cendekia Serpong bisa menjadi sekolah yang seperti sekarang karena gurunya,” kata Akmal memuji guru-gurunnya.


Bersama MAN Insan Cendekia Akmal tercatat beberapa kali mewakili sekolah di perlombaan bidang kimia. Ia termasuk tim olimpiade kimia saat itu. Meski ia tidak berhasil membawa piala atau piagam, tapi usahanya telah mengharumkan nama madrasah. Akmal sendiri mendapatkan banyak pelajaran saat berkompetisi dengan siswa-siswi pintar se-Indonesia.



[tps_title]Berangkat ke Jepang[/tps_title]


Setelah lulus dari MAN Insan Cendekia pada tahun 2012, ia mendaftar di dua universitas terkemuka, satu di dalam negeri dan satu lagi di luar negeri. Akmal diterima di kedua universitas yang ia inginkan.


Pengumuman kelulusan tes di Tohoku dan UGM berdekatan. “Setelah menimbang hal yang saya inginkan untuk masa depan saya, saya memilih untuk belajar di Tohoku,” kata akmal.


 “Saya mendapatkan kesempatan untuk belajar Marine Biology di Tohoku University yang pada akhirnya menjadi pilihan saya. Saat ini saya sudah memasuki tahun terakhir pendidikan sarjana di Tohoku dan Insya Allah akan lulus pada tahun 2016,” kata Akmal.


Di Jepang, ia tinggal di Kota Sendai, Miyagi, Jepang. Selain kuliah, ia juga mengikuti beberpa kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah Indonesia. Ia mengikuti Festina 2013 (main performance), promosi budaya Indonesia oleh Persatuan Pelajar Indonesia Sendai bagi penduduk Jepang.


Di sela jadwal kuliah yang padat di Jepang, ia sempat mengajar Al-Qur’an di TPA Hagi Sendai. Ini adalah taman pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak Indonesia dan Malaysia di Sendai.


[tps_title]Meneliti Landak Laut[/tps_title]


Fokus kajian Akmal di Jepang saat ini adalah marine ecology atau ekologi kelautan, terutama berkaitan dengan Landak Laut dan Macroalgae. Marine ecology semestinya menjadi satu disiplin keilmuan yang penting pada saat Indonesia mulai fokus mengupayakan pembangunan dari sektor laut.


Namun Akmal belum terlalu berpikir tentang karir dan planning ke depan. Ia berencana untuk bekerja di bidang akademis dengan menjadi seorang peneliti atau researcher atau sekelas lecturer. Dan perguruan tinggi di Jepang sangat memungkinnya mencapai apa yang diinginkan. Di Jepang ia dapat betul-betul fokus dan didukung dengan fasilitas yang memadai untuk mendalami spesialisasi bidangnya keilmuannya.


Meski sudah lama tinggal di Jepang, dan penampilannya mungkin sudah mirip dengaan orang Jepang, Akmal masing ingin tinggal dan kembali ke Aceh. Kapan kembali ke Aceh? “Mungkin tidak langsung setelah lulus kuliah tapi beberapa tahun setelah lulus dan punya pengalaman yang cukup di bidang pekerjaan saya,” katanya.


Demikianlah Chairul Akmal, salah satu lulusan madrasah asal Aceh yang sukses dan saat ini berada di Jepang.


“Bahwa tidak ada yang dapat menentukan apa yang dapat kita capai selain diri kita sendiri,” pesannya untuk adik-adinya yang saat ini masih belajar di madrasah. (*)


UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Raih Posisi ke-1 PTKIN Terpopuler

[caption id="attachment_82" align="alignright" width="224"]Logo UIN Sunan Kalijaga Logo UIN Sunan Kalijaga[/caption]

Pada Juli 2015 ini, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dinobatkan sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) terpopuler dan terbaik ke-1, dan peringkat ke-27 dalam skala nasional. Predikat ini diberikan lembaga pemeringkat universitas dan perguruan tinggi yang bermarkas di Sydney, Australia; 4 International Universities and Colleges (4ICU).


Peringkat kampus ini ditentukan berdasarkan popularitas website perguruan tinggi di 200 negara di dunia. Menurut 4ICU, universitas yang dinilai adalah mereka yang diakui secara resmi, berlisensi atau terakreditasi oleh badan nasional atau regional seperti kementerian pendidikan dan atau diakui oleh organisasi akreditasi pendidikan tinggi.


Kasubag Humas, Dokumentasi, dan Publikasi UIN Sunan Kalijaga Dra RTM Maharani mengatakan, prestasi tersebut patut disyukuri. Sebab, tidak mudah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bisa menembus peringkat 1 di lingkungan PTKIN seluruh Indonesia berdasarkan versi 4ICU dan peringkat 1 Web Repositories menurut webomatrics.


[tps_title]Tabel 1. 4 PTKIN yang Masuk 100 Top Universities di Indonesia Menurut 4ICU, Edisi Juli 2015[/tps_title]































Nama Perguruang TinggiPeringkat se-PTKINPeringkat se-Indonesia
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta127
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta236
UIN Sunan Ampel Surabaya365
UIN Sunan Gunung Djati Bandung467

4ICU melakukan penilaian terhadap website universitas dan perguruan tinggi dua kali dalam setahun, yakni periode Januari dan Juli. Penilaian atau pemeringkatan dilakukan dengan metode algoritma dan didasarkan pada tiga mesin pencari independen seperti Google Page Rank, Yahoo Inbound Links, dan Alexa Traffic Rank.


Berikut daftar Top 100 Universities di Indonesia dalam penilaian 4 International Universities and Colleges (4ICU) untuk periode Juli 2015:http://www.4icu.org/id/


[tps_title]Tabel 2. 3 PTKIN yang Masuk Top 30 Web Repositories di Indonesia Menurut Webometrics[/tps_title]






































Nama

Perguruang Tinggi
Juli 2015Januari 2015
Peringkat se-PTKINPeringkat se-IndonesiaPeringkat se-PTKINPeringkat se-Indonesia
Perpustakaan (Digital Library) Sunan Kalijaga Yogyakarta1617
Repository UIN Walisongo220220
Perpustakaan (Digital Library) UIN Sunan Ampel Surabaya324328


[tps_title]Tabel 3. 6 PTKIN yang Masuk 100 Top Universitas di Indonesia Menurut Webometrics[/tps_title]


































































Nama

Perguruan Tinggi
Juli 2015Januari 2015
Peringkat se-PTKINPeringkat se-IndonesiaPeringkat se-PTKINPeringkat se-Indonesia
UIN Walisongo Semarang118328
UIN Malang236227
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta345120
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta455458
UIN Sunan Gunung Djati Bandung562559
UIN Sunan Ampel Surabaya6738110
UIN Sultan Syarif Kasim Riau780667

uDin-Humas

Blog “Abdi Madrasah” Karyanya menjadi Rujukan Banyak Guru

Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudlatus Syubban ini awalnya hanya sekedar menyalurkan hobi berselancar di dunia maya via. Namun kemudian blog yang dibuatnya dirujuk banyak orang. Khususnya sesama guru MI di berbagai daerah. MI Raudlatus Syubban berada di Desa Wegil Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, cukup jauh dari pusat kota, sekitar 35 km.

[caption id="attachment_78" align="alignright" width="250"]Nasruddin Latif Guru MI Raudlatus Syubban Kincir Nasruddin Latif Guru MI Raudlatus Syubban Kincir[/caption]

Nasruddin Latif (36), mengaku saat pertama kali bertugas di MI Wegil pada 2006 ia menempuh perjalanan 40 menit dengan kendaraan roda dua dari kampung halamannya di Desa Kunir, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak.

Nasruddin prihatin saat awal bertugas di MI Wegil. Letak geografisnya jauh sekali dari kota kecamatan. “Informasi pun sering kali lebih banyak terlambatnya. Mungkin karena akses dan banyak hal lain,” ujar Nasruddin.

Ia mencontohkan, tiap tahun ajaran baru para guru harus merencanakan program madrasah ke depan. Senjata utamanya pakai kalender pendidikan (kaldik). Sementara jika kaldik tersebut tidak segera sampai ke madrasah, tentu menjadi persoalan tersendiri. Dari Kemenag tingkat provinsi, Kaldik turun ke kabupaten/kota, baru ke pengawas kecamatan, diteruskan ke KKM.

“Terakhir para kepala madrasah diundang. Nah, baru masuk ke madrasah sini. Zaman dulu begitu,” ungkap Nasruddin.

Karena panjangnya birokrasi yang musti melewati beberapa pintu, belum lagi jika ada keterlambatan di salah satu pintu tersebut, kata dia, dapat dibayangkan bisa jadi sebulan kemudian pihaknya baru mempunyai kaldik.

“Padahal Juli sudah mulai kegiatan. Itu cuman sekedar salah satunya. Belum lagi informasi yang lain, misalnya tentang peraturan. Kan perlu kami ketahui juga agar selalu up to date,” ujarnya.

Karena merasa informasi di tempatnya mengajar sering terlambat, maka Nasruddin mencoba mencari alternatif informasi lain. Yakni menggunakan media online. Kurang lebih dua tahun ia berlangganan informasi melalui e-mail dari salah satu blog yang senantiasa memberikan informasi tentang pendidikan. Blog tersebut dikelola oleh seorang Guru Sekolah Dasar.

“Dari blog tersebut saya senantiasa mendapatkan informasi tentang pendidikan yang banyak saya butuhkan. Meski demikian, saya masih merasa kurang karena blog tersebut yang mengelola adalah seorang guru SD. Jadi, informasi-informasi yang diberikan proporsinya lebih banyak informasi yang dibutuhkan para guru SD. Padahal saya guru MI,” ujarnya.

Sebagai guru MI, Nasruddin tidak hanya membutuhkan informasi terkait pendidikan yang bersifat umum melainkan juga yang khusus berhubungan dengan madrasah. “Kalau ada pendataan yang online kadang-kadang saya kerjakan di rumah. Karena di sekolah kan nggak mungkin. Sebab sinyal internet susah sekali di sini,” kata Nasruddin.

Dari kondisi yang ia alami, ia kemudian berfikir, bisa jadi ada sebagian atau bahkan banyak juga rekan guru madrasah yang bernasib seperti dirinya yang butuh informasi up to date tentang pendidikan. Dalam rangka menunjang tugas-tugas sebagai guru madrasah, info terkini pendidikan menjadi hal penting. Nasruddin lalu membuat akun Facebook. Harapannya dapat berbagi informasi lewat update status di media sosial karya Mark Zukernberg ini.

“Saya bahkan sampai membuat sebuah laman Fanspage Facebook yang saya beri nama Mutiara Pendidikan hingga beberapa waktu. Melalui Fanspage Mutiara Pendidikan ini saya berbagi info dan terkadang berbagi tautan tentang pendidikan,” ungkap sarjana pendidikan Islam lulusan Universitas Wahid Hasyim Semarang ini.

Seiring berjalannya waktu, Nasruddin merasa berbagi informasi melalui Fandpage Facebook masih kurang efektif. Pasalnya, sulit mencari arsip-arsip informasi yang pernah di-update. Selain itu, ia juga berfikir mungkin akan lebih baik jika dia tidak hanya berbagi tautan web atau blog orang lain melainkan dapat berbagi tautan dari web/blog miliknya sendiri.

Mulailah ia belajar membuat blog secara otodidak dengan mengandalkan informasi dari hasil pencarian di google. Membuat blog ternyata tidak sesulit yang ia bayangkan. Hanya dengan modal gmail dan petunjuk cara membuat blog dari hasil pencarian google, ia pun punya blog. Nasruddin makin keranjingan blogging sehingga dalam sepekan ia betah hingga dua jam di warnet sepulang mengajar. Ia lalu belajar mengganti template blog, posting artikel, memasang wedget, dan lain sebagainya.

“Sampai di sini saya masih belum berani untuk share. Karena ini baru blog percobaan. Setelah sekitar empat blog saya buat hanya sekedar latihan. Lalu, sekiranya kemampuan dasar blog sudah lumayan terkuasai, maka mulailah saya buat blog yang nantinya siap dipublikasikan,” ujar Nasruddin.

Menurut dia, menentukan nama blog ternyata lebih sulit ketimbang membuat blog itu sendiri. Awalnya karena ia sudah memiliki Fanspage Mutiara Pendidikan, ia pun ingin menggunakan nama yang sama. “Tetapi sebagai guru madrasah, saya ingin memperlihatkan kemadrasahan saya. Lalu, muncul ide nama blog Guru Madrasah. Ternyata sudah ada. Blog Guru Madrasah Ibtidaiyah juga sudah ada meski blog-blog tersebut jarang posting,” paparnya.

Di tengah kegalauan tersebut, terbersit dalam benak adanya kata “Abdi Negara”, dan “Abdi Masyarakat”. Akhirnya, ia memilih nama “Abdi Madrasah” yang disingkat “Abdima”. Hal yang lebih menguatkan Nasruddin memilih nama tersebut lantaran adanya kesadaran betapa pentingnya peran madrasah dalam kehidupan dirinya.

“Sebab, dari madrasah lah saya mulai dikenalkan dengan huruf dan angka. Dari madrasah lah saya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Yakni di MI kemudian melanjutkan ke MTs, terakhir di MA. Jadi, karena merasa dicetak oleh madrasah, maka sedikit banyak ingin bermanfaat bagi madrasah. Tentu, sebatas kapasitas dan kemampuan yang saya miliki,” ujarnya merendah.

Tanpa menunggu lama, pada 19 Desember 2012 secara resmi Nasruddin memiliki blog bernama “Abdi Madrasah” yang beralamat di http://abdima.blogspot.com/. Setelah beberapa hari melengkapi blog dengan berbagai tulisan termasuk wedget dan lain sebagainya, terpublishlah posting perdana pada 31 Desember 2012.

Sejak ia mempunyai blog, baik Mutiara Pendidikan maupun Abdi Madrasah, ia mulai mem-posting tulisan pada 30 Desember 2012. “Otomatis fanspage saya di Facebook saya ubah menjadi Abdi Madrasah karena menyesuaikan blog tadi itu,” kata dia.

Ia berprinsip hanya ingin berbagi tanpa orang lain mengetahui jati dirinya. Ia berharap bisa berbagi tanpa diiringi rasa sombong. “Saya pernah dengar, kalau bisa tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu. Yang penting tujuan saya main blog itu kan menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama,” ujarnya mantap.

Nasruddin menuturkan, dalam blognya tertulis ‘membagi informasi kepada para sahabat agar hidup ini lebih bermanfaat.’ Makanya, dalam admin itu ia tidak menuliskan database-nya. “Saya hanya menulis sebagai guru Madrasah Ibtidaiyah yang mulai mengenal huruf dan angka dari madrasah. Oleh karena itu, harus berbuat yang terbaik untuk madrasah,” tegasnya.

Sebagai guru saya ia butuh informasi terbaru, jadi sederhananya Butuh Cari Dapat Bagi (BCDB). Jika ia butuh info, maka ia pun segera mencarinya. Setelah mendapatkannya, lalu ia membagikannya kepada siapa saja. Pada saat Facebook-an, Nasruddin mengaku seringkali melihat sebagian temannya membagikan berita tentang madrasah.

“Saya pun ikut nge-share. Tapi sebelumnya saya buat postingannya. Yang penting di google itu kan nggak boleh copas. Kalau sekedar mengulas kan boleh. Meski ada juga yang copas, tapi saya cantumkan sumber dan link-nya. Misal, dari website NU Online, direktorat madrasah tentang prestasi atau program apa gitu,” akunya.

Menurut Nasruddin, website Abdima banyak dikunjungi orang lantaran seakan-akan para pengunjung merasa web tersebut banyak memberikan informasi tentang madrasah. Ia merasa web yang dikelolanya memiliki nilai plus dibanding web lainnya. (Musthofa Asrori)

Bagi Guru ini, Belajar di Luar Kelas Sangat Menginspirasi

Guru Ekonomi Madrasah Aliyah Salafiyah Kajen, Pati Jawa Tengah ini meminta izin kepada kepala sekolah untuk mengajak para siswi untuk belajar di luar kelas. Ia tidak mau siswa-siswinya terkungkung di dalam kelas. Bagi dia, belajar di luar kelas sangat menginspirasi.

“Saya datang ke BPR Artha Huda Abadi untuk minta izin kunjungan ke sana. Semua anak saya ajak ke sana. Waktu itu saya mengajar ekonomi kelas III. Mereka takjub luar biasa. Baru kali itu masuk sebuah bank,” kata Widya Lestari.

Yang membuat dirinya tertegun, pertanyaan-pertanyaan para siswi ke pihak bank sangat mengagetkan sekaligus menyedihkan. “Ya Allah, pertanyaan kayak gitu kok ditanyakan,” katanya.

“Misalnya, syarat jadi pegawai bank itu apa? Lucu banget kan?! Saya prihatin sekali. Memang, akses mereka keluar sangat terbatas sekali. Maklum, anak pondok. Tapi sebetulnya nggak masalah. Yang penting itu kan wawasan. Nah, wawasan mereka itu minim sekali,” ujar Widya.

Setahun kemudian, Widya mengajak anak-anak ke BPR Artha Huda Abadi lagi. Tahun berikutnya lagi, ia mengajak mereka ke pabrik Kacang Dua Kelinci di kota Pati.

“Saat itu mereka senang sekali. Ke Kacang Dua Kelinci saja mereka senangnya luar biasa. Mereka bisa melihat langsung bagaimana kacang itu bisa berjalan sendiri mulai proses awal hingga pengepakan,” kenangnya.

Semenjak itu, setiap ada kegiatan yang bernama study excursion yang menggantikan study tour di Madrasah Salafiyah menjadi identik dengan dirinya.

“Jadi, tiap ada kegiatan belajar di luar itu pasti taunya dari saya. Sebab, yang menciptakan pertama kali di situ saya. Nah, sejak itu, tiap tahun kami mengadakan study excursion. Paling jauh, kami mengunjungi Bursa Efek Indonesia yang ada di Surabaya,” ujarnya bangga.

Ia mengajak siswanya ke alun-alun kota, lalu ke pasar menyaksikan aktifitas perekonomian. “Saya prihatin sekali dengan kondisi mereka. Karena apa, anak sini tidak pernah lihat kota Pati. Alun-alun Pati saja mereka belum pernah lihat. Bahkan, pasar juana pun tidak pernah,” ungkap Widya.

Siapa yang menginspirasi ide tersebut? Widya mengatakan, saat kuliah di Malang, Jawa Timur, ia pernah menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas Ekonomi Widya Gama Malang. Sebagai aktivis kampus, ia sering melakukan kegiatan seperti itu.

Bahkan, aktivitas model itu sudah dimulainya sejak masih menjadi mahasiswa jurusan akhirnya menjadi Ketua BEM Fakultas.

“Saya pikir, itu merupakan satu langkah yang bagus yang menambah wawasan anak-anak. Daripada sekedar study tour, mereka kalau study excursion selalu ada ilmu yang dibawa pulang. Mereka harus bikin laporan, dan sesuai dengan materinya itu nanti mereka presentasi. Pada akhirnya tidak hanya materi ekonomi. Ada juga materi Bahasa Indonesia juga untuk penyusunan laporannya. Di dalamnya juga kimia, fisika, untuk anak IPA. Kalau untuk ada IPS arahnya ke ekonomi, sosiologi, dan geografi,” tuturnya. (Musthofa Asrori)

Selayang Pandang Dayah MUDI Mesra, "Pesantren" Terbesar di Aceh

[tps_title]Lembaga Pendidikan Islam Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah Mesjid Raya[/tps_title]


[caption id="attachment_67" align="alignnone" width="960"]Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Komplek Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Komplek Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.[/caption]

Salah satu dayah (pesantren) terbesar di Aceh saat ini adalah MUDI Mesra. Nama resminya Lembaga Pendidikan Islam Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiyyah Mesjid Raya yang lebih dikenal dengan sebutan LPI atau Dayah MUDI Mesra. Santri dan masyarakat senang dayahnya disebut Mesra. Pasalnya, selain satu lokasi dengan Mesjid Raya, kemesraan sang Abu MUDI dalam mengajar selalu menjadi cerita dan kenangan.


Saya bersama tim kecil berkesempatan mengunjungi sekaligus berburu kemesraan di MUDI Mesra. Perjalanan darat di malam hari selama empat jam dari Banda Aceh hingga lokasi hendak mengikuti pengajian kitab kuning usai Shubuh. Kepala Seksi Pembinaan Kurikulum Badan Pembinaan Pendidikan Dayah (BPPD) Provinsi Aceh M Badaruddin yang mengawal sangat senang dan bersemangat.


Kemesraan dan kesyahduan mulai terasa ketika mobil kami sampai di halaman pesantren. Jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari ketika ribuan santri memenuhi mesjid untuk ber-saharul layaaali. Beberapa santri senior tampak tersenyum ramah menyambut kami yang sipit menahan kantuk.



[tps_title]Dibangun Era Sultan Iskandar Muda[/tps_title]


[caption id="attachment_66" align="alignnone" width="960"]HALAMAN DEPAN PESANTREN MUDI MESRA BEHADAPAN DENGAN HALAM KAMPUS STAI AL-AZIZIYAH HALAMAN DEPAN PESANTREN MUDI MESRA BEHADAPAN DENGAN HALAM KAMPUS STAI AL-AZIZIYAH[/caption]

Menurut sejarah, Dayah MUDI Mesra telah didirikan seiring pembangunan Mesjid Raya yang peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Dayah ini berlokasi di Desa Mideun Jok, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh. Pimpinan pertama dayah ini bernama Faqeh Abdul Ghani. Sayangnya, khazanah ini tidak tercatat berapa lama ia memimpin dayah, dan siapa pula penggantinya.


Barulah pada tahun 1927, dijumpai secara jelas catatan tentang kepemimpinan Dayah ini. Pada tahun tersebut, Dayah ini dipimpin Teungku H Syihabuddin bin Idris dengan santri berjumlah 100 orang putra dan 50 orang putri. Mereka diasuh lima tenaga pengajar lelaki dan dua guru perempuan.


Menurut salah seorang pengajar dayah, sesuai dengan kondisi zaman pada masa itu, bangunan asrama hunian santri merupakan barak-barak darurat yang dibangun dari bambu dan rumbia. Setelah Tgk H Syihabuddin wafat pada 1935, dayah dipimpin adik iparnya bernama Tgk H Hanafiah bin Abbas yang akrab disapa Tgk Abi. Meski kondisi fisik bangunan ini bertahan, jumlah santri meningkat menjadi 150 putra dan 50 putri.


Teungku M Sholeh sempat menggantikan kepemimpinan selama dua tahun ditinggal Tgk Hanafiah ke Mekah untuk menimba ilmu. Pesantren lalu dipimpin Tgk Abdul Aziz bin M Shaleh, menantu Tgk H Hanafiah, menyusul wafatnya sang pengasuh pada 1964.


Tgk Abdul Aziz yang akrab disapa Abon ini bergelar “al-Manthiqi” lantaran spesialisasi keilmuannya dalam bidang Mantiq atau Logika. Ia merupakan murid Abuya Muda Wali, pimpinan Dayah Bustanul Muhaqqiqin Darussalam Kecamatan Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan.



[tps_title]Perkembangan Dayah Mudi Mesra[/tps_title]


Semenjak kepemimpinan Abon, pesantren MUDI Mesra kian bertambah muridnya terutama dari Aceh dan Sumatera. Dari segi sarana dan prasarana pun mengalami perkembangan. Asrama santri yang semula layaknya barak darurat dibangun menjadi asrama semi permanen berlantai dua yang dapat menampung 150 santri.




[caption id="attachment_64" align="alignnone" width="960"]Asrama Putra MUDI Mesjid Raya Samalanga Asrama Putra MUDI Mesjid Raya Samalanga[/caption]

Tahun 1989 pasca-wafatnya Abon, kepemimpinan dayah ditetapkan melalui kesepakatan alumni dan masyarakat. Forum musyawarah mufakat lalu mempercayakan tongkat estafet kepemimpinan dayah kepada Teungku Haji Hasanoel Bashry bin Haji Gadeng (Abu MUDI), salah seorang menantu Abon yang juga santri senior yang dibanggakan.


Di masa kepemimpinan Abu MUDI, dayah tersebut kian maju pesat. Jumlah santri terus berdatangan dari seluruh penjuru Aceh dan juga dari luar daerah bahkan dari negeri tetangga, Thailand dan Malaysia.


Atas ide Abu MUDI, didirikanlah Yayasan Pendidikan Islam al-Aziziyah (YPIA): sebuah lembaga kemasyarakatan berbasis dayah salafiyah MUDI Mesra Samalanga. Wacana awal pendirian YPIA adalah bagaimana menyeragamkan lembaga pendidikan dayah yang merupakan cabang dayah MUDI Mesra ke dalam satu kesatuan nama dan visi-misi.


“Dari diskusi yang kami gelar, disepakati bahwa dayah-dayah cabang diberi nama di ujungnya dengan label al-Aziziyah seperti MUDI Mekar menjadi MUDI Mekar al-Aziziyah. Cabang yang ada diperkirakan sekitar 220 unit,” papar Abu MUDI.


Meski demikian, para santri baru tetap mendaftar di MUDI Mesra sebagai pusatnya. Hingga kini, MUDI Mesra mengelola beberapa unit kegiatan. Mulai TK al-Aziziyah, TPQ Muhazzabul Akhlaq al-Aziziyah, Madrasah Tsanawiyah, SMPI Jabal Rahmah, Paket C, Balai Pengajian dan Majelis Ta’lim al-Aziziyah, hingga Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) al-Aziziyah.


Abu MUDI telah lama bermimpi mengelola seluruh unit pendidikan yang terpadu di bawah bendera al-Aziziyah. Di beberapa sudut pesantren tampak pembangunan gedung terus berlangsung.


“Itulah mengapa para santri tetap mendaftar ke sini. Santri kami sekarang berjumlah lebih dari 3000 orang. Meski sudah ada cabang, namun mereka tetap ingin kemari. Ada yang bilang, kalau mencari ilmu, carilah di MUDI Mesra,” ujar Abu MUDI menutup bincang pagi di ruang tamu pesantren. (Musthofa Asrori)