Sunday, January 17, 2016

Chairul Akmal: Dari Madrasah Anak Aceh Ini Bertolak ke Jepang

[tps_title]Dari Madrasah, Anak Aceh Ini Bertolak ke “Negeri Sakura[/tps_title]




[caption id="attachment_87" align="aligncenter" width="453"]Chairul Akmal Chairul Akmal[/caption]

Peristiwa penting yang tidak mungkin dilupakan oleh Chairul Akmal adalah bencana tsunami Aceh. Bencana dahsyat itu telah merenggut nyawa kedua orang tuanya serta adik perempuan satu-satunya. Namun ia tidak menyerah menghadapi hidup. Ia bangkit.  “Tidak ada yang dapat menentukan apa yang dapat kita capai selain diri kita sendiri,” katanya.


Saat itu Akmal baru duduk di kelas 5 MI. Setelah bencana itu terjadi, ia pindah ke Aceh Besar, tinggal bersama nenek dan tantenya. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di MIN Pesantren Tengku Chiek Oemar Diyan, lalu melanjutkan ke MTs di Aceh Besar.


Perjalanan nasib mungkin sudah ditentukan oleh Yang Kuasa. Setelah menyelesaikan pendidikan MTs, Akmal lulus tes masuk MAN Insan Cendekia Serpong. Di sana ia bertemu dengan banyak siswa pintar se-Indonesia. Ia juga tergabung dalam tim olimpiade sains. Setelah lulus MAN, Akmal melanjutkan kuliah di salah satu universitas terkemuka di Jepang. Saat ini ia sudah berada di semester akhir. Ia akan lulus tahun 2016. Namun ia masih ingin berada di Jepang.


Di sela-sela kegiatan kuliah yang sangat padat di Negeri Sakura, ia tidak melupakan pesan penting dari orang tua dan almamaternya, mengamalkan ilmu agama yang ia punya. Di waktu liburan semester, mahasiswa Universitas Tohoku ini mengajar di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Hagi, Sendai. TPA ini diperuntukkan bagi anak-anak keluarga Indonesia dan Malaysia di kota Sendai, Jepang.


[tps_title]Diterima di MAN Insan Cendekia[/tps_title]


Sejak kecil, Akmal sudah belajar di madrasah. “Saya sendiri kurang mengerti saat kecil kenapa, tapi saya pribadi tidak berusaha membedakan antara ‘Sekolah’ dan ‘Madrasah’. Walaupun memang ibu sejak dari saya kecil ingin saya masuk ke pesantren. Kebetulan pesantren yang saya masuki ber-MTs,” katanya.


Lulus dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pesantren Tengku Chiek Oemar Diyan di Aceh Besar tahun 2009, Akmal melanjutkan ke MAN Insan Cendekia Serpong.


Di MAN Insan Cendekia, ia dipertemukan dengan para guru teladah. “Gurunya excellent,” katanya. “Saya rasa selain siswanya yang berasal dari anak-anak terbaik berbagai kalangan, Insan Cendekia Serpong bisa menjadi sekolah yang seperti sekarang karena gurunya,” kata Akmal memuji guru-gurunnya.


Bersama MAN Insan Cendekia Akmal tercatat beberapa kali mewakili sekolah di perlombaan bidang kimia. Ia termasuk tim olimpiade kimia saat itu. Meski ia tidak berhasil membawa piala atau piagam, tapi usahanya telah mengharumkan nama madrasah. Akmal sendiri mendapatkan banyak pelajaran saat berkompetisi dengan siswa-siswi pintar se-Indonesia.



[tps_title]Berangkat ke Jepang[/tps_title]


Setelah lulus dari MAN Insan Cendekia pada tahun 2012, ia mendaftar di dua universitas terkemuka, satu di dalam negeri dan satu lagi di luar negeri. Akmal diterima di kedua universitas yang ia inginkan.


Pengumuman kelulusan tes di Tohoku dan UGM berdekatan. “Setelah menimbang hal yang saya inginkan untuk masa depan saya, saya memilih untuk belajar di Tohoku,” kata akmal.


 “Saya mendapatkan kesempatan untuk belajar Marine Biology di Tohoku University yang pada akhirnya menjadi pilihan saya. Saat ini saya sudah memasuki tahun terakhir pendidikan sarjana di Tohoku dan Insya Allah akan lulus pada tahun 2016,” kata Akmal.


Di Jepang, ia tinggal di Kota Sendai, Miyagi, Jepang. Selain kuliah, ia juga mengikuti beberpa kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah Indonesia. Ia mengikuti Festina 2013 (main performance), promosi budaya Indonesia oleh Persatuan Pelajar Indonesia Sendai bagi penduduk Jepang.


Di sela jadwal kuliah yang padat di Jepang, ia sempat mengajar Al-Qur’an di TPA Hagi Sendai. Ini adalah taman pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak Indonesia dan Malaysia di Sendai.


[tps_title]Meneliti Landak Laut[/tps_title]


Fokus kajian Akmal di Jepang saat ini adalah marine ecology atau ekologi kelautan, terutama berkaitan dengan Landak Laut dan Macroalgae. Marine ecology semestinya menjadi satu disiplin keilmuan yang penting pada saat Indonesia mulai fokus mengupayakan pembangunan dari sektor laut.


Namun Akmal belum terlalu berpikir tentang karir dan planning ke depan. Ia berencana untuk bekerja di bidang akademis dengan menjadi seorang peneliti atau researcher atau sekelas lecturer. Dan perguruan tinggi di Jepang sangat memungkinnya mencapai apa yang diinginkan. Di Jepang ia dapat betul-betul fokus dan didukung dengan fasilitas yang memadai untuk mendalami spesialisasi bidangnya keilmuannya.


Meski sudah lama tinggal di Jepang, dan penampilannya mungkin sudah mirip dengaan orang Jepang, Akmal masing ingin tinggal dan kembali ke Aceh. Kapan kembali ke Aceh? “Mungkin tidak langsung setelah lulus kuliah tapi beberapa tahun setelah lulus dan punya pengalaman yang cukup di bidang pekerjaan saya,” katanya.


Demikianlah Chairul Akmal, salah satu lulusan madrasah asal Aceh yang sukses dan saat ini berada di Jepang.


“Bahwa tidak ada yang dapat menentukan apa yang dapat kita capai selain diri kita sendiri,” pesannya untuk adik-adinya yang saat ini masih belajar di madrasah. (*)


3 comments:

  1. Peristiwa penting yang tidak mungkin dilupakan oleh Chairul Akmal adalah bencana tsunami Aceh. Bencana dahsyat itu telah merenggut nyawa kedua orang tuanya serta adik perempuan satu-satunya. Namun ia tidak menyerah menghadapi hidup. Ia bangkit. “Tidak ada yang dapat menentukan apa yang dapat kita capai selain diri kita sendiri,” katanya

    ReplyDelete
  2. Di sela-sela kegiatan kuliah yang sangat padat di Negeri Sakura, ia tidak melupakan pesan penting dari orang tua dan almamaternya, mengamalkan ilmu agama yang ia punya. Di waktu liburan semester, mahasiswa Universitas Tohoku ini mengajar di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA) Hagi, Sendai. TPA ini diperuntukkan bagi anak-anak keluarga Indonesia dan Malaysia di kota Sendai, Jepang.

    ReplyDelete
  3. Perjalanan nasib mungkin sudah ditentukan oleh Yang Kuasa. Setelah menyelesaikan pendidikan MTs, Akmal lulus tes masuk MAN Insan Cendekia Serpong. Di sana ia bertemu dengan banyak siswa pintar se-Indonesia. Ia juga tergabung dalam tim olimpiade sains. Setelah lulus MAN, Akmal melanjutkan kuliah di salah satu universitas terkemuka di Jepang. Saat ini ia sudah berada di semester akhir. Ia akan lulus tahun 2016. Namun ia masih ingin berada di Jepang.

    ReplyDelete