Monday, July 11, 2016

Rahasia Anak Bisa Lebih "Kaya" saat Masuk Sekolah

buku

Libur sekolah biasanya waktu yang paling ditunggu anak-anak. Begitu banyak hal ingin mereka lakukan selepas banyaknya tugas sekolah, ulangan, dan juga ujian.

Anak-anak memang banyak maunya dan itu adalah wajar mengingatusia mereka yang aktif. Ada yang ingin bermain bersama teman-teman, sekadar jalan-jalan ke pusat belanja dan bermain game, menyaksikan film favorit, bahkan ada yang berharap dapat berlibur bersama orangtuanya ke luar kota atau ke luar negeri.

Tapi, bagaimana kalau Anda sebagai orangtua sedang mengalami keterbatasan waktu maupun dana untuk berlibur bersama anak-anak? Apakah Anda akan membiarkan mereka menghabiskan waktu liburannya berlalu begitu saja?

Rasanya sayang, memang. Tapi, jangan khawatir, Anda tetap dapat mengajak buah hati bertualang ke berbagai kota maupun negara melalui cerita.

Ada banyak buku cerita yang dapat membawa fantasi anak melintasi berbagai tempat. Salah satunya adalah buku 100 Cerita Rakyat Nusantara karya Dian Kristiani (Dian K.). Melalui 100 cerita di buku ini anak-anak dapat merasakan keberagaman dan kekayaan cerita rakyat di Indonesia, mulai Sumatera, Sulawesi, hingga Papua.

Ada cerita Buaya Perompak, si Bungsu, dan Sultan Domas dari Lampung. Cerita La Dana dan Kerbau, La Upe, dan Putri Tandampalik dari Sulawesi Selatan. Ada juga cerita Asal Mula Tanjung Menangis, Terompah Sultan Gajadean, dan Asal Mula Telaga Biru dari Maluku Utara, serta cerita Buaya Sakti, Kasuari dan Dara Makota, Asal Usul Nama Irian dari Papua, dan masih banyak lagi.

Agar lebih menyenangkan, beri kesempatan kepada buah hati Anda untuk memilih dari provinsi mana dia akan mulai bertualang melalui cerita yang ada. Jika destinasi pertama yang dipilih anak Anda adalah Jawa Tengah, dia dapat bertemu dengan Timun Mas dan juga Cindelaras.

Setelah puas menikmati cerita rakyat dari wilayah tersebut, ajaklah anak Anda untuk menjelajah dan berkenalan dengan cerita-cerita rakyat dari provinsi lainnya. Ada kisah mengharukan tentang keluarga, ada pula cerita seru dalam menghadapi monster.

Saat membaca buku ini, setiap cerita dapat dipilih secara acak tanpa perlu mengikuti urutan yang ada. Selain itu, cerita rakyat dalam buku ini ditulis khusus untuk anak-anak sehingga tidak mengandung unsur mistis dan kekerasan.

Tak hanya itu. Setiap kisah juga memiliki pesan moral dan mengajarkan kepada anak untuk berani berjuang, cerdik menghadapi masalah, dan selalu jujur kepada siapa pun.

Nah, setelah bertualang mengunjungi 33 provinsi yang ada di Indonesia, buah hati Anda pun dapat semakin "kaya" saat masuk sekolah nanti. Selamat menjelajah Indonesia! (Red: Fathoni Ahmad)

Source: Edukasi Kompas 

Senangnya Belajar di Alam Terbuka

madrasah alam terbukaMadrasah Ibtidaiyah (MI) Al Hidayah, Desa Pacul, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menjalankan program pembelajaran inovatif dan inspiratif tanpa membuat stres peserta didik dengan sistem belajar di alam terbuka.
Program pembelajaran di alam terbuka ini wajib diikuti seluruh elemen madrasah mulai pendidik dan peserta didik. Pembelajaran langsung dilaksanakan dengan praktik sehingga para siswa-siswi bisa menerapkan teori yang diajarkan di meja kelas. Pembelajaran di alam terbuka ini bisa dilakukan di mana pun. Misalnya saja di persawahan, anak-anak dikenalkan tentang bagaimana cara petani menggarap sawah mereka sehingga menghasilkan beras yang dimakan setiap hari hingga di peternakan melihat bagaimana peternak memelihara ternak mereka.

Dengan sistem pembelajaran yang dilakukan, siswa-siswi semakin tertarik dan bisa belajar dengan suasana baru. Tujuan terpentingnya peserta didik bisa lebih mengenal alam, mencintainya dan tahu bahwa alam ada untuk keberlangsungan hidup manusia, sehingga manusia bertugas agar terus menjaganya. Dari sistem pembelajaran yang diterapkan, meski MI Alhidayag berada di pinggiran kota tak membuat lembaga ini miskin prestasi.

Terbukti, banyak prestasi yang pernah diraih oleh siswa di antaranya pernah menjadi Juara II Olimpiade Sains Tingkat MI serta menjadi Runner Up Be number 1 (juara 2) Lomba Pengetahuan Alam Se- Kabupaten Bojonegoro yang diselenggarakan tahun 2015 ini.

Di sisi lain, selain unggul dari pengetahuan umumnya, MI Al hidayah juga termasuk sekolah yang menjadi media untuk turut mensyi'arkan agama Islam di wilayah Kecamatan Bojonegoro, khususnya di Masyarakat Desa Pacul. Sekolah yang terletak di samping masjid Desa Pacul ini awal berdirinya di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren (Ponpes) Al Falah pada Tahun 1968 oleh KH Mashudi Hasan. Diawali dengan madrasah berbasis Madrasah Diniyah (Madin) saat ini Madrasah Ibtida'iyah (MI) Al-Hidayah bisa menjadi lembaga pendidikan formal favorit masyarakat Kota Bojonegoro.

Asah Siswa dari Segi Amaliyah, Mental dan Karakter

Untuk menanamkan kebiasaan menjalankan amaliyah Islam, MI Al-Hidayah membiasakan siswa-siswinya untuk mempraktikkan Shalat Dhuha setiap hari sebelum memulai kegiatan belajar mengajar. Selain itu, untuk melatih mental dan karakter setiap siswa, mereka wajib praktik berbicara (pidato) di depan guru dan teman seperjuangannya setiap kali di kelas yang dilakukan terjadwal. Harapannya, dengan pembiasan yang diterapkan nantinya dapat mencetak generasi penerus bangsa yang berilmu, beriman dan berakhlakul karimah sesuai visi MI Al-Hidayah.

Dari segi sejarah, MI Al Hidayah Sejak berdiri tahun 1968 hingga kini mengalami 10 periodesasi kepemimpinan. Adapun periodesasi kepemimpinan tersebut dimulai dari pendiri awal KH.Masyhudi Hasan, dilanjutkan penerus-penerusnya Mahmudi Ali, Marwazi Hasan, Abdullah Masykur, Ali Musa,Muhammad Badri, Maryani Ahmad, Ngaijan, Mohamad Syaifuddin dan Muhaimin Abbas hingga saat ini.

Dalam perjalanannya pada tahun 1992, tepatnya saat lembaga di bawah kepemimpinan Muhammad Badri, MI Al-Hidayah tidak lagi berada di lingkup wilayah Ponpes Al Falah namun berdiri sendiri di bawah naungan Yayasan Al-Hidayah. Meski berdiri sendiri, semangat mesyiarkan agama Islam serta memajukan madrasah ibtida'iyah tetaplah menjadi motivasi utama.

Seiring berjalannya Waktu, kini MI Al-Hidayah pacul di bawah kepemimpinan Muhaimin Abbas. Madrasah ini terus mengembangkan sistem belajar siswa-siswi agar terus mendapat suasana baru dalam belajar dengan menerapkan nilai agama yang dirangkai dengan materi kurikulum umum maupun agama. Salah satunya dengan program sekolah alam.

Muhaimin Abbas selaku kepala sekolah mengatakan, dengan sekolah di alam bebas diharapkan dapat memberi penyegaran otak semua siswa sehingga siswa yang belajar dapat termotivasi untuk terus belajar. Terbukti siswa dapat pengalaman dan banyak prestasi siswa yang diraih.

Selain pembelajaran intrasekolah, MI Al-Hidayah juga banyak menawarkan banyak kegiatan Ekstra kurikuler pada siswa agar nantinya siswa dapat mandiri serta dapat mengembangkan bakatnya dikemudian hari. Adapun ekstra
kurikuler yang ada di antaranya adalah Seni musik Piano, pidato, pramuka, tari dan banyak ekskul lainnya.

"Semoga MI Al-Hidayah Pacul ini ke depannya dapat dan layak bersaing untuk mengukir prestasi namun tak lepas menanamkan jiwa keislaman sejak dini di era modern ini," harap Muhaimin Abbas. (Red: Anam)

 

Sumber: NU Online

Sunday, July 10, 2016

Guru Kimia Teladan Ini Belajar Agama Sambil Mengajar di Madrasah

Beberapa guru memang perlu berorientasi keluar, mengantarkan siswa-siswi berprestasi di berbagai kompetisi. Namun untuk mempertahankan stabilitas dan keunggulan madrasah, diperlukan juga sosok guru yang “menjaga gawang”, istiqamah berada di dalam dan memberikan teladan. Inilah yang diperankan oleh Hendro Murjoko, guru senior yang mengajar kimia di MAN Insan Cendekia Gorontalo. Datang dari daerah yang jauh bersama keluarga, ia tidak berpikir akan berpindah tugas ke luar daerah. Ia sudah menikmati hidup di Gorontalo bersama keluarga dan para siswanya. Ia datang ke madrasah paling pagi, dan pulang paling sore. Ia hampir tidak pernah kemana-mana selain madrasah. Sesekali waktu ia mengundang guru kimia dari sekolah lain ke MAN Insan Cendekia untuk belajar bersama.

Ditemui di sekretariat MAN Insan Cendekia Gorontalo, beberapa waktu lalu, bapak tiga anak ini keliahatan segar. Badannya yang tegap dan atletis menunjukkan kalau ia gemar berolahraga. Usianya sudah hampir kepala lima, tapi ia kelihatan lebih muda. Kesan paling menarik ketika berbincang dengan Pak Hendro adalah ketika ia bercerita tentang kepala sekolahnya dulu sewaktu ia sekolah di Lampung. Namanya Pak Mardi R. Ia sangat fasih kalau mengatakan huruf “R”.

Ia bercerita banyak hal tentang pengalaman pribadinya, sampai akhirnya menjadi guru dan sempat menjadi kepala madrasah di MAN Insan Cendekia Gorontalo. Ia merasa belum tuntas belajar agama. Dan di madrasah ini, sembari mengajar kimia, ia merasa “terkondisikan” untuk memperdalam agama.

[caption id="attachment_2155" align="aligncenter" width="300"]? ?[/caption]

Hidayah dari Langgar Kampung

Hendro Murjoko lahir dari keluarga non muslim. Ayahnya yang berasal dari Solo menganut agama Kristen Protestan. Ibunya dari Wonosobo sempat Muslim kemudian pindah agama. Mereka menikahnya secara Islam tetapi tidak menjalankan agama. Kemudian sekitar tahun 1965 setelah peristiwa Gestapu, mereka kembali ke Kristen. Namun keluarganya memberikan kebebasan kepada Hendro kecil dan saudaranya untuk menganut agama yang diyakini. Ia bererita bagaimana pertama kali ia mengucap dua kalimat syahadat dan mempertahankannya dari rayuan pendeta yang mengajaknya ikut agama Protestan.

Pintu hidayah datang saat Hendro masih duduk di kelas 3 SD. Waktu itu ia diajak temannya mengaji di sebuah langgar kampung, sekitar 200 m dari rumahnya di Lampung. Ayah dan ibunya pindah dari Jawa ke Lampung dan ia lahir di sana.

“Saya ngomong sama orang tua. Pak saya mau ke masjid tapi nggak punya sarung sama kopyah. Kata bapak saya, besok kalau bapak dapat uang akan bapak belikan. Ternyata benar, saya dibelikan sarung dan kopyah baru,” kenangnya.

Setelah mendapat sarung dan peci baru ia pergi ke langgar. Guru mengaji di kampungnya bernama Kang Sukito yang kemudian berganti menjadi Zainal Abidin, berusia lima tahun diatasnya dan sudah dianggap seperti kakak sendiri. Gurunya bertanya, “Dro kog kamu ngaji ayo baca syahadat dulu saya bimbing,” kata Kang Kito, panggilan akrabnya. Sejak itu sampai lulus SMP selam 6-7 tahun Hendro sering tidur di langgar.

Namun ternyata ia masih tetap dirayu untuk kembali ke gereja. Kata pendeta kepada keluarganya, nanti tidak bahagia kalau ada anaknya yang ‘murtad’. Bahkan ia selalu diajak dialog oleh pendeta sampai ia beranjak SMA dan diajak ke gereja. “Tapi bapak saya tidak masalah,” kata Hendro. Ia kukuh menjalankan agama Islam.

Ketika duduk SMA, Hendro mengikuti pelajaran agama agama Islam. Ada satu cerita ketika ia dites lisan bacaan shalat oleh guru agamanya yang bernama Pak Ali Supaat.

“Waktu dites saya betul-betul tidak bunyi. Guru saya menyarankan setelah lulus dari sini kamu mondok ya itu jalan satu-satunya. Saat itu baru terketuk saya harus belajar lagi,” kata Hendro. Sejak itu ia memperdalam agama kepada guru agama di sekitarnya. Ia juga gemar membaca buku-buku agama dan belajar secara otodidak.

Sejak tahun 1990-an ia sudah mengajar di Lampung. Tahun 1995, ketika ada lowongan menjadi guru di Insan Cendekia yang diproyeksikan sebagai sekolah Islam unggulan dan mengadopsi sistem belajar pesantren, Hendro langsung teringat pesan dari gurunya yang menyarankan ia mondok atau belajar di pesantren. Mungkin itulah cara Yang Kuasa memberikan jalan. Di Insan Cendekia, ia semakin mantap memperdalam agama. “Di sini (Insan Cendekia Gorontalo) semua guru terkondisikan untuk memperdalam agama,” katanya.

Tes Masuk Insan Cendekia

Sejak tahun 1990 Hendro sudah mengajar di SMA Utama Wacana Metro Lampung Tengah, tempat ia sekolah SMA. Kemudian tahun 1995 ia mengikuti tes menjadi guru untuk Insan Cendekia, waktu itu masih di berada bawah Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BBPT). Ia membaca pengumuman penerimaan guru di salah satu koran nasional. Ia dan beberapa temannya sesama guru mengirimkan lamaran. “Bahkan saya mengirim tiga hari terakhir cap pos. Ternyata dari sekian temen guru, saya yang dipanggil tes,” katanya.

Tes penerimaan guru baru dilakukan di awal tahun 1996, di kantor BPPT Jl Tamrim Jakarta Pusat. Tes meliputi beberapa tahap, danmemakai sistem gugur. Ada tes akademis, psikologi lalu wawancara, setelah itu baru tes kesehatan. Di masa Orde Baru juga ada tahap Litsus atau Penelitian Khusus. Hendro berhasil melewati semua tahap tes dan dinyatakan lulus.

Waktu itu Insan Cendekia akan didirikan di dua lokasi, Serpong dan Gorontalo. Hendro memilih Gorontalo. “Padahal waktu itu saya belu tahu Gorontalo itu dimana, tapi katanya Sulawesi, kampungnya Pak Habibi. Wah menarik ini. Saya tertarik ikut tahu daerah lain seperti orang tua saya. Orang tua saya dari Jawa lalu merantau ke Lampung lalu lahirlah saya,” katanya.

Sebelum ke Gorontalo karena waktu itu IC yang siap baru di Serpong, ada 47 guru yang lulus semua ditempatkan di Serpong. Pada 10 Juli 1997, 23 guru berangkat ke Gorontalo dan mulai mengajar. “Sejak itu saya berada di Gorontalo sampai hari ini,” katanya.

Saat berangkat ke Gorontalo, Hendro sudah berkluarga dan mempunyai seorang anak berusia 2 tahun. Orang tua dan mertuanya mengikhlaskannya merantau ke Gorontalo bersama anak dan istri. “Sempat sebenarnya mertua saya saya ajak ke Gorontalo setelah saya 13 tahun di sini. Kata mertua saya, wah di sini enak pantes kamu betah,” kata Hendro.

Sejak pertama berdomisili di Gorontalo bersama istrinya Purwantini dan anak pertamanya, Hendro sudah mengurus surat pindah domisili dan siap hidup sebagai warga Gorontalo. Sekarang ia sudah mempuanyai 3 orang anak: Oman Setianto, Sena Abraham Irsyad, Gantara Lara Janitra. Dua anak yang terakhir lahir di Gorontalo.

Terkondisikan Belajar Agama

Menurut Hendro, sekolah Islam itu akan mengkondisikan para gurunya untuk lebih banyak belajar agama. Ini tentunya bagi guru yang mengajar meteri umum. Hendro Murjoko mengajar kimia.

“Sedikit-sedikit saya belajar ilmu agama melalui otodidak. Background pendidikan dari SD sampai S-1 dan S-2 saya semuanya umum dan fokus ke kimia. Saya memang suka membaca embaca buku-buku agama sejak di rumah terutama fiqih. Nah saya juga suka membaca buku khutbah Jum’at, walaupun sampai sekarang saya belum pernah maju khutbah tapi saya suka membaca buku khutbah,” katanya.

Insan Cendekia menjadi Madrasah Aliyah pada tahun 2000. Namun konsep awal lembaga enddikan ini adalah sekolah Islam. Menurut Hendro, pada saat awal ia ke Gorontalo, pelajaran agama di Man Insan Cendekia masuk nomenklatur “pelajaran agama masjid”. “Tapi sebenarnya itu isinya seperti yang diajarkan di Madrasah Aliyah seperti aqidah, akhlaq, fiqih dan Al-Qur’an-Hadits,” katanya.

Di Insan Cendekia, para guru pelajaran umum juga diarahkan untuk mengaitkan materi-materi yang disampaikan dengan agama. Hendro bercerita, misalnya saat ia mengajarkan tentang bahan kimia tertentu, ia menhhubungkan dengan Hadits Rasulullah. “Kita menikmati cuka saat ini itu bagian dari sunnah Rasul karena di zaman Rasul cuka itu termasuk lauk pauk,” katanya.

Guru Kimia

Hendro Murjoko mengajar kimia sejak berada di Lampung, tepatnya di almamaternya SMA Utama Wacana Metro pada saat ia masih kuliah. Ia lulus kuliah tahun 1991, namun sudah mulai mengajar tahun 1990.

“Ketika saya sekolah di SMA Utama Wacana Metro, saya dibebaskan dari SPP karena berprestasi. Saya adalah lulusan terbaik jurusan IPA, tahun 1986 dan meraih NEM tertingi di sekolah 45,92,” katanya.

Kepala sekolahnya Pak Mardi R menyarankannya, masuk ke perguruan tinggi melalui jalur penelusuran minat dan kemampuan, atau jalur tanpa tes, Universtas Lampung dan mengambil jurusan pendidikan kimia. “Kalau kamu keterima diberi bekal selama kuliah Rp. 20.000 perbulan dari sekolah ini. Dan nanti klo sudah merasa cukup dan sekolah membutuhkan kamu walaupun belum lulus kamu mengajar ke sini karena sini butuh guru kimia,” kata Hendro.

Di SMA itu, Hendro juga belajar kimia dari seorang guru kimia yang sangat bangus. Namanya Iwayan Wirya. Ia hanya guru honorer sekaligus dosen Universitas Lampung. “Jadi saya ketemu beliau lagi. Ada beberapa mata kuliah diajar oleh beliau. Di SMA beliau juga luar biasa, memberikan pelayanan sangat bagus. Beliau yang menginspirasi saya memberikan pelayanan belajar kimia dengan bagus. Saya mengikuti semangat beliau,” kenangnya.

Hendro mengajarkan ilmu kimia dasar, terutama terkait materi dan perubahannya, serta berkaitan dengan reaksi-reaisi kimia. Ia membekali siswa masuk ke perguruan tinggi terutama yang mau ingin melanjutkan ke jurusan kedokteran, teknik kimia, teknik metalurgi, biokimia, dan kimia murni.

“Pelayanan” Terbaik buat Siswa

Menurut Hendro, aktivitas pembelajaran hasus disesuaikan dengan gaya anak-anak, serta disesuaikan dengan fasilitas yang tersedia. Ia beruntung mengajar di Insan Cendekia karena sudah mempunyai Laboratorium kimia, dan waktu itu ada teknologi OHP.

“Pemanfaatkan lab kimia kita gunakan semaksimal mungkin untuk pelayanan. Lab langsung dikondisikan sedemikian sehingga siswa siap belajar. OHP juga kita gunakan semaksimal mungkin. Kita mulai menyiapkan slide-nya untuk siswa,” katanya.

Namun, kata Hendro, para guru tidak harus mengandalkan fasilitas. Ia bercerita, OHP di Insan Cendekia waktu itu jumlahnya terbatas dan semua guru memerlukannya. Maka ia membuat alat peraga sendiri dari bahan karton dan cat warna. Ia masuk sekolah dengan membawa “papan pajangan”. Alat-alat yang ia persiapkan itu cukup efektif membantunya dalam menyampaikan materi.

“Daripada menulis sambil bicara, lebih baik kita membawa alat. Kita membuat alat sendiri. Tidak perlu menunggu disediakan. Ini kan sederhana,” katanya.

Untuk memudahkan siswa berlatih menyelesaikan soal, ia mengumpulkan banyak seskali soal dan mengetikkannya. Sebelum masuk kelas ia sudah membawa fotocopy soal dan dibagikannya kepada siswa. Jika menulis di papan, lalu siswa juga menulis, akan butuh waktu lama. Dalam latihan-latihan soal itu siswanya sudah menerima handout copya-an soal dan tinggal dikerjakan.

“Bagi saya memang lebih baik kalau soal kita ketik. Selain berguna untuk latihan, itu juga berguna untuk menyusun soal-soal yang lain, misalnya untuk midle semester, uji coba dan lain sebagainya. Kita punya data yang telah diketik yang rapi, karena waktu itu belum jamannya internet. Saya mengajak temen-teman untuk mengetik semua soal ujian Ebtanas. Setelah diketik diedit rapi baru kita klasisikasi sesuai pokok bahasan,” katanya.

Hendro juga mengumpulkan dan mengetik semua soal kimia untuk masuk perguruan tinggi. Semua soal yang dikumpulkan menjadi semacam “bank soal”.

Itulah salah satu sebab MAN Insan Cendekia mempunyai keunggulan dalam hal materi ajar Seringkali madrasah ini diminta oleh pihak lain Diknas kabupaten atau provinsi untuk memberikan pelatihan guru dalam rangka peningkatan kompetensi profesional hal. Bank soal sangat berguna untuk keperluan pelatihan.

Selain itu, bank soal yang dipersiapkan juga sangat penting dalam membantu siswa melakukan uji coba soal ujian semester, ujian akhir bahkan ujian masuk ke perguruan tinggi. Tidak heran jika siswa-siswi MAN Insan Cendekia yang berhasil masuk ke perguruan favorit karena semua sudah dipersiapkan oleh guru-guru mereka sejak di Madrasah Aliyah.

Ajak Guru Sekolah Lain Maju

Hendro bercerita, awal ia masuk Insan Cendekia Gorontalo, ada dua guru kimia. Kemudian bertambah satu lagi menjadi bertiga. Kemudia ada yang pulang kampung, berikutnya ada guru baru lagi. “Di sini akhirnya saya paling tua,” katanya tertawa.

Di sela mengajar siswanya sendiri, waktu itu Hendro dengan seorang guru kimia berinisiatif untuk mengundang guru-guru kimia dari sekolah lain untuk berkumpul dan belajar bersama. Pihak Diknas setempat saat itu mengeluhkan banyak siswa sekolah yang lemah, terutama untuk materi kimia. Waktu itu Ujian Nasional masih menjadi penentu kelulusan. Ada batas minimal dan sebagian siswa sekolah di Gorontalo tidak melampuai batas minimal itu.

“Saya dan teman saya Bu Mul, guru kimia juga, berinisiatif untuk menhubungi teman-teman guru sekolah lain untuk belajar bersama di Insan Cendekia. Nanti tutornya saya. Jadi mereka saya ajak meningkatkan kompetensi profesional, menguasai materi ajar, materi kimia,” katanya.

Pertemuan diadakan satu bulan sekali. Pertemuan dimulai dari tes awal untuk mengetahui kemampuan, lalu materi dan metode pembelajaran. Para guru kimia sangat bersemangat, terutama karena untuk mengejar nilai siswa-siswa mereka. Pertemuan rutin itu berjalan sampai dua tahun.

“Hasilnya alhamdulillah ada peningkatan kemampuan. Awalnya para guru kita uji dengan soal Ujian Nasional, ternyata hasil tes guru itu rendah. Kesimpulannya, guru juga tidak menguasai, lalau bagaimana dengan siswanya?” katanya.

Hendro mengorganisir para guru kimia di Gorontalo untuk belajar bersama dan dibiayai bersama. “Pertemuan diadakan pada Sabtu awal bulan, saat para guru baru gajian. Mereka membayar transport pakai uang sendiri. Makan minum kita urunan (iuran). Ada sekitar 40 guru kimia yang berasal dari 25-an sekolah,” katanya.

Di hadapan para guru sekolah lain, Hendro juma menciptakan ‘keresahan’. “Saya ajari mereka untuk resah. Kita ajari praktikum. Sebagian dari mereka mengatakan, di sekolah kami belum diterapkan praktikum. Namun, saya ajari mereka utuk resah. Kalu sudah resah kan nanti lapor ke pimpinan supaya ada praktikum. Saya menciptakan keresahan dulu,” katanya.

Selain praktikum, para guru juga diajak mempelajari SKL, Standar Kompetensi Lulusan.  Jadi saat datang ke Insan Cendekia mereka diberikan pre-test, materi-materi, lalu ada post-tes. Dari situ baru kelihatan ada peningkatan kemapuan. Hasilnya, kepercayaan diri para guru kimia di Gorontalo meningkat.

Guru Teladan

Pak Hendro Murjoko adalah sosok guru yang supel dan mudah bergaul. Ia mudah sekali akrab. Cara berbicaranya tegas dan suaranya jelas. Kalimat-kalimatnya sederhana. Saat bercerita, terkadang ia mengulang-ngulang kalimatnya, seperti sedang memberikan penjelasan di depan kelas. Orang yang diajak bicara akan mudah sekali paham.

Ia adalah sosok yang sangat disiplin. Tinggal di luar komplek MAN Insan Cendekia Gorontalo, ia datang pagi-pagi sekali. Pukul 06.05 ia berangkat dari rumah dan samapi di madrasah pukul 06.15 waktu setempat. Ia mengendarai “motor lelaki” yang kelihatan masih baru. “Guru kimia kan harus tampil beda,” katanya ketika berpapasan di pintu gerbang MAN Insan Cendekia.

Datang paling pagi, ia juga selalu pulang paling sore, setelah para siswanya pulang. Menurutnya, kebiasaan seperti itu ia tiru dari sosok guru dan kepalas sekolahnya dulu sewaktu di Lampung, Pa Mardi R. atau Mardi Rahardjo.

“Saya ingat betul Pak Mardi R. Beliau datang paling awal seakan beliau yang membuka pintu. Meskipun siang beliau ke luar sekoalah, sebagai pegawai negeri, namun beliau balik lagi ke sekolah dan beliau pulang paling terakhir. Jadi beliau datang pagi sebelum siswa datang dan pulang paling lama. Itu yang saya itu, jadi saya pulang setelah shalat ashar,” katanya

Saat berhadapan dengan siswa guru harus dalam kondisi prima dan bersemangat. “Kalau gurunya bersemangat, akan membuat siswa bersemangat. Kalau guru berfikir positif, siswa akan berpikir ositif. Kalau saya senyum siswa akan senyum. Kalau saya mengucapka Assalamau’alaikum dengan senyum mereka juga senyum. Itu fakta lho!”

“Kalau saya tidak semangat, ya siswa-siswa jadi tidak semangat. Kalau saya disiplin waktu insyaallah siswa akan mengikti. Kalau saya tidak terlambat masuk kelas, anak-anak akan mengkondisikan supaya tidak terlambat,” tambahnya.

Seitar tahun 2010 lalu, para guru di MAN Insan Cendekia Gorontalo sepakat memilihnya sebagai guru teladan. “Entah mereka memilih dari sisi apa saya tidak pernah mikir,” kata Hendro yang pernah menjabat Kepala Madrasah.

“Ketika pertama saya sampai di sini (Insan Cendekia Gorontalo) karena waktu itu tidak ada yang bisa nyupir, saya yang menjadi sopir. Saya yang mengantarkan guru atau anak amak ke dokter. Jadi saya guru kimia sekaligus nyupir. Kalau guru kimia menjadi kepala laboratorium itu kan sudah biasa. Tetapi saya nyupir juga waktu itu. Saya punya kemapuan ya saya manfaatkan untuk madrasah. Saya juga pernah menjadi ketua panitia lelang, lalu ikut mengurus rehap penggantian atap madrasah, menghitung biaaya, mencarikan dan mengawasi tukang, itu kan luar biasa,” katanya tertawa.

Betah di Gorontalo

Hendro Murjoko menjadi Kepala MAN Insan Cendekia Gorontalo pada bulan Oktober 2000 sampai Juni 2001. Setelah selesai bertugas, ia kembali menjadi guru biasa, spesialis mata pelajaran kimia. Ia berangkat pagi dan pulang sore selepas shalat ashar. Di sela mengajar ia membaca buku. Selain buku-buku agama, ia membaca banyak sekali nover, dari novel sejarah sampai deteitif. Terkadang ia tunjukan ke siswanya kalau ia suka membaca. “Saya ini memberikan inspirasi pada siswa. Kalau gurunya suka baca, harapannya mereka itu juga ikut,” katanya.

Apa yang membuatnya betah di Gorontalo? Ia tertawa mendapat pertanyaan ini.

“Sebenarnya itu kompromi saya dengan anak istri. Di Gorontalo kita sekeluarga tidak punya saudara kandung. Saudara saya 9 orang, istri 6 orang semua di Lampung. Kadang kami measa merasa sepi. Kog rasa-rasanya enak kalau pulang ke Lampung,” katanya.

Sesekali Hendro dan keluarga pulang ke Lampung bersama istri dan anak-anaknya. Namun baru beberapa hari di Lamapung, anak-anaknya sudah ingin kembali ke Gorontalo. “Ternyata yang punya lampung itu saya dan istri saya. Anak-anak saya itu punyanya Gorontalo,” katanya.

“Sebenarnya saya pribadi menikmati di Gorontao. Lebih-lebih anak-anak tahunya tumpah darah mereka itu Gorontalo. Kalau saya dimana-mana bisa menikmati,” katanya.

Kementerian Agama mendirikan beberapa MAN Insan Cendekia baru di berbagai daerah. Sempat bisik-bisik diantara beberapa guru untuk berpindah ke tempat yang baru. Hendro juga pernah mendapatkan tawaran, namun ia tida tertarik. Di tempat baru, ia harus memulai memulai yang baru. “Mungkin yang agak sulit itu mengkondsikan anak-anak,” katanya. Puta pertamanya kini sudah kuliah di Universitas Brawijaya Malang pada jurusan kedokteran hewan. Namun dua anak lainya masih kecil. Anak kedua masih dudu di kelas XI dan satu lagi masih duduk di kelas 5 SD.

Jadi ia memutuskan untuk tetap tinggal dan menetap di Gorontalo. Di daerah berpenduduk mayoritas Muslim ini, ia juga bertemu dengan teman-teman dari daerah yang jauh. Istilahnya, ia punya banyak seman senasip sepenanggungan. Ia juga sudah bergaul akrab dan menjadi bagian dari masyarakat Gorontalo selama bertahun-tahun. (A. Khoirul Anam)

Saturday, July 9, 2016

Bagaimana Finlandia, Jerman, AS dan Kanada Memajukan Dunia Pendidikan?

[caption id="attachment_2152" align="aligncenter" width="640"]Foto ilustrasi Foto ilustrasi[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Ujian Nasional (UN) sudah menjadi agenda rutin di dunia pendidikan Indonesia yang diselenggarakan setahun sekali. Para siswa akan mengikuti ujian ini untuk menentukan apakah mereka layak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau tidak. Bahkan sebelumnya, UN menjadi alat ukur sistem kelulusan siswa secara nasional.

Di sisi lain, beberapa negara maju di belahan dunia ini justru melakukan kebalikannya. Negara-negara maju ini tidak memberlakukan ujian nasional karena berbagai macam alasan. Berikut negara-negara maju yang tidak memberlakukan ujian nasional (UN) seperti dilansir cirebontrust.com.

1. Finlandia
Finlandia merupakan negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik di dunia. Tapi anehnya, pemerintah Finlandia tidak menerapkan ujian nasional untuk mengevaluasi para pelajarnya. Justru, mereka menganggap guru yang paling berhak mengevaluasi muridnya, bukan selembar kertas ujian atau pemerintah.

Guru di Finlandia dianggap paling tahu kemampuan muridnya. Oleh karena itu ujian nasional ditiadakan. Tak heran jika guru di Finlandia memiliki gaji tertinggi di dunia.

2. Jerman
Jerman adalah salah satu negara paling maju di daratan Eropa. Namun, pemerintah Jerman juga sama tidak menerapkan ujian nasional.

Sama halnya dengan di Finlandia, pemerintah Jerman mentiadakan ujian nasional karena guru dianggap yang paling tahu kemampuan muridnya. Selain itu, ujian nasional dihapus agar para pelajar bisa berkembang secara optimal dan tidak terbebani oleh soal ujian.

3. Amerika
Negeri Paman Sam ini dikenal banyak melahirkan orang-orang berpengaruh, misalnya saja sang pendiri Microsoft Bill Gates, pendiri Apple Steve Jobs, pendiri Facebook Mark Zuckerberg, dan masih banyak lagi.

Tapi jika melihat lebih ke dalam lagi, rupanya Amerika tidak menerapkan ujian nasional. Sistem pendidikan di Amerika mengharuskan seseorang untuk bisa membuat pekerjaan bukan memenuhi lapangan pekerjaan. Tak heran jika banyak perusahaan Amerika yang sudah menjelit ke berbagai negara di penjuru dunia.

4. Kanada
Kanada menganggap ujian nasional tidak ada sangkut pautnya dengan kemajuan di bidang Teknologi Informasi. Oleh sebab itu, ujian nasional di negara ini ditiadakan. Para siswa diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan mereka. Tak hanya berbekal ilmu, tapi diharuskan mempraktikannya di lapangan.

Red: Fathoni Ahmad

Friday, July 8, 2016

Khutbah Hari Raya: Keberhasilan Beragama Terletak pada Keshalehan Sosial

[caption id="attachment_2148" align="aligncenter" width="640"]Khutbah Idul Fitri 1437 H oleh Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal. Khutbah Idul Fitri 1437 H oleh Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar di Masjid Istiqlal.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Selesainya ibadah formal seperti puasa dan amaliah lainnya, bukan berarti segala urusan agama selesai. Ukuran keberhasilan keberagamaan ternyata diukur dengan hal-hal yang bersifat sosial kemasyarakatan.

“Orang yang hanya mengutamakan ibadah ritual tanpa melahirkan makna dan efek sosial ternyata tidak ada artinya. Segalanya baru berarti setelah diuji di dalam realitas kehidupan,” demikian pesan Khatib Salat Idul Fitri di Masjid Istiqlal KH Nasaruddin Umar, Jakarta, Rabu (6/7) seperti dilansir kemenag.go.id.

Ratusan ribu umat Islam memadati Masjid Istiqlal untuk menyelenggarakan jamaah Salat Idul Fitri 1437 H. Tampak hadir, Wapres Jusuf Kalla, Menag Lukman Hakim Saifuddin beserta menteri kabinet kerja lainnya, serta pimpinan dan anggota DPR. Tepat pukul 06.45, Salat Id dimulai dengan Imam Ust. Husni Thamrin.

Imam Besar Masjid Istiqlal ini mengajak umat Islam untuk tidak beragama secara palsu yang minim kepedulian sosial sebagaimana dilukiskan dalam pesan Al Quran Surat Al-Maun ayat 1-7.

“Tahukah kalian siapa orang yang mendustakan agama? Mereka itulah orang yang menghardik dan tidak care terhadap anak yatim, tidak menganjurkan memberi makan dan solusi terhadap problem fakir miskin. Maka celakalah bagi mereka yang salat, yang lalai dari salatnya; orang-orang yang berbuat ria dan enggan (menolong dengan) barang berharga,” tutur mantan Wakil Menteri Agama ini.

Sehubungan berakhirnya Ramadan, guru besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengajak umat Islam untuk memelihara kualitas puasanya dengan bersyukur dan bersabar, ikhlas dan istiqamah, kritis dan santun, serta berani membela kebenaran dan takut melakukan pelanggaran.

“Bukan hanya pandai melihat kelemahan orang lain tapi juga pandai melihat kelemahan diri sendiri. Bukan hanya mampu bicara banyak tapi juga mampu berbuat banyak. Bukan hanya mampu menjadi orang baik, tapi juga mampu mempersiapkan generasi masa depan yang lebih baik,” pesannya. (Red: Fathoni Ahmad)

Thursday, July 7, 2016

Masuki Bulan Syawal Menag Tekankan Pentingnya Pengendalian Diri

[caption id="attachment_2145" align="aligncenter" width="640"]Menag Lukman Hakim Saifuddin bersama Wapres JK menjelang Sholat Idul Fitri 2016 di Masjid Istiqlal. Menag Lukman Hakim Saifuddin bersama Wapres JK sesaat usai Sholat Idul Fitri 2016 di Masjid Istiqlal.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Setelah menjalani puasa Ramadan, umat Islam di Indonesia dan dunia, merayakan Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Sebagai refleksi Syawal, Menag Lukman Hakim Saifuddin mengajak umat Islam untuk menjadikan latihan sebulan di Ramadan sebagai bekal menghadapi kehidupan di sebelas bulan mendatang dengan penuh pengendalian diri.

“Hawa nafsu adalah musuh utama setiap kita. Memasuki Syawal, kita diharapkan bisa menjalani hidup ini dengan penuh kemampuan untuk mengendalikan diri sehingga jati diri kita lebih terpelihara,” demikian pesan Menag seperti dilansir kemenag.go.id.

Menurutnya, Idul Fitri secara harfiah berasal dari kata Id dan Fitri. Id berarti kembali, sedang fitri berarti kesucian. Maka Idul Fitri berarti kembali ke jati diri kemanusiaan. “Setelah sebulan menempa diri, maka di akhir kita diharapkan menjadi manusia baru yang mampu mengendalikan hawa nafsunya. Itu yang ke depan harapannya perlu dijaga dan dipelihara,” tuturnya.

Di singgung soal tradisi mudik dan halal bi halal, Menag mengatakan bahwa keduanya adalah tradisi khas Indonesia dan merupakan buah kearifan para pendahulu bangsa dalam memaknai Idul Fitri. Dikatakan Menag, substansi mudik dan halal bI halal adalah bermaafan.

“Pendahulu kita memakni Idul Fitri dengan kembali pada kesucian kita. Untuk.menyempurnakan kesucian kita, diperlukan saling memaafkan. Itukah makna mudik. Menemui kerabat, handai taulan dan orang orang yang membesarkan kita,” katanya.

“Makna pulang kampung, nilai spiritualitasnya tinggi sekali. Setelah memohon ampunan pada Tuhan, dilanjutkan dengan bermaafan antar sesama manusia,” tambahnya.

Menag menambahkan bahwa dorongan emosional dalam tradisi mudik sangat tinggi sehingga meski dengan berbagai cara, hal itu dilakukan dengan penuh kegembiraan. Dorongan emosional itu tidak terlepas dari makna spiritualitas yang terkandung di dalamnya. (Red: Fathoni Ahmad)

Wednesday, July 6, 2016

Keluarga 'Broken Home' Tak Menghalangi Bella Menjadi Saintis

25 Nabila -Tak pernah terbayang oleh Nabilah bisa menimba Ilmu di Madrasah yang menjadi impian siapa saja siswa seumurannya MAN 3 Malang yang terletak di Jalan Bandung Nomor 07 Kota Malang. Ia berhasil mendapatkan beasiswa penuh dan tinggal di asrama.

Berawal dari keinginan yang kuat untuk memperdalam ilmu agama yang tidak ia peroleh di SD dan SMP, ia bertekad untuk masuk di madrasah. Mengikuti jalur beasiswa dengan motivasi agar tidak menjadi beban orang tuanya yang bisa dibilang pas-pasan. Mengikuti serangkaian tes yang super ketat tak membuatnya mengurungkan niat untuk menjadi siswi dan santri di asrama MAN 3 Malang. Hingga usaha keras siswi bernama lengkap Nabilah Rohadatul ‘Aisy membuahkan hasil berhasil masuk dan diterima.

Kelas Olimpy

Nabilah yang tergolong anak cerdas berprestasi masuk pada kelas olimpy, kelas yang dikhususkan pada anak-anak yang kompeten dan mau mengasah diri untuk berprestasi di event-event lokal dan nasional.

Prediksi wali kelas dan guru pembina anak yang akrab di sapa Bella itu tepat. Baru masuk kelas 10 ketekunan dan kecerdasannya mengantarkan pada juara kelas umum. Prestasi yang diraihnya membuat Bella mendapatkan jam pembinaan khusus untuk selanjutnya mengikuti ajang Kompetisi Sains Madrasah (KSM) yang diadakan di Palembang pertengahan 2015 lalu. Siswi asli Sukun Malang ini sukses meraih juara pertamanya di ajang bergengsi itu.

Bukan tanpa alasan, Bella sangat menekuni kimia yang sekarang menjadi keahlian khususnya. Siswi ramah ini kelak ingin menjadi ilmuan yang memberi manfaat pada masyarakat sekitar. Hal itu terbukti dari aktivitas rutinnya yakni: “Selalu melakukan penelitian”.

“Saya membayangkan hasil sederhana dari penelitianku akan dimanfaatkan masyarakat pelosok yang belum menikmati fasilitas listrik. Hal ini sangat sederhana, namun sangat bermanfaat bagi mereka,” beber Bella akan mimpinya suatu saat.

Ingin Mengubah Kedaan Keluarga

Anak dengan mimpi besar ini tidak dilahirkan dari orang kaya raya atau yang lekat dengan pendidikan. Ayahnya, M Nurandi Wahudi hanya seorang pedagang kecil dan Ibunya; Ismawati adalah ibu rumah tangga murni. Keduanya lulusan SMA, namun keterbatasan kondisi tak mematahkan semangat Bella dengan mimpinya kelak dengan ketekunannya bisa mengubah keadaan keluarga.

Rasanya tak cukup dengan hidup pas-pasan dan tidak bisa mengenyam kenyamanan seperti yang dirasakan teman-teman Bella, gadis remaja itu harus merasakan pahitnya menjadi anak broken home. Keluarganya sempat mengalami masalah. Untungya, ia tinggal di asrama MAN 3 Malang bersama teman-temannya dan tidak larut dalam urusan keluarga yang akan mengganggu aktivitas belajarnya.

“Yah,... ini sulit diterima dan pahit, tapi tetap harus dijalani. Pelarianku pada buku dan aku terus terhibur dengan teman-teman di asrama yang selalu setia memberikan keceriaan,” ceritanya dengan suara pelan. Terlihat jelas gurat-gurat yang penuh semangat itu berubah dengan tatapan seorang anak yang menyimpan sejuta kerapuhan.

“Ovel All Kimia”

Bella dengan kenyataan pahit dari keluarga, tak lantas menyerah pada keadaan. Baginya, keadaan yang rumit justru memantiknya untuk terus melahirkan prestasi-prestasi baru dengan karya yang akan dia banggakan kelak.

Tak pelak, mata pelajaran kesukaannya Kimia mengantarkannya menjadi Primadona di ajang Olimpiade Kimia, baik tingkat kota Malang, Propinsi hingga Nasional. Puncaknya Bella yang dikenal santun dan memiliki akhlak yang baik itu mendapatkan Medali Emas “Ovel All Kimia” di Jogja tingkat Nasional tahun ini.

Bella mengaku, prestasi yang diraihnya sekarang bukanlah segalanya tanpa guru bimbingan yang difasilitasi penuh oleh MAN 3 Malang, beasiswa yang mampu ia pertahankan hingga kelas 12 ini bukan diperolehnya dengan jalan mudah, namun dipercaya bantuan  free SPP ini sangat membantunya dalam meraih mimpi yang ia rajut sedari Sekolah Dasar (SD).

Kutu Buku

Menjadi kutu buku sudah melekat pada diri Bella sejak SD, meski prestasinya dulu tak secemerlang sekarang yakni hanya pada peringkat 3 besar. Namun gadis periang itu mengaku selalu up date ilmu pengetahuan di perpustakaan.

Tidak hanya novel-novel islami yang menjadi bahan bacaannya, dia amat suka sejarah, terlebih masa kejayaan islam di abad pertengahan. Bella kecil mulai mengenal Ar-Razi, Al-Farabi dan ilmuan idolanya Avicenna sejak di bangku sekolah dasar.

Tak sebanyak yang Bella tahu secara mendalam seperti sekarang memang, namun buku yang melekat diingatnnya hingga sekarang adalah buku yang memparkan perpustakaan Bait Al-Hikmah yang harus dibakar dan penemuan-penemuannya menjadi hak paten barat. Spirit Avicenna sang ilmuanlah yang hingga kini menjadi semangat tersendiri untuknya terus meneliti dan berprestasi, mimpinya sangat besar, “Saya ingin mengembalikan masa kejayaan, dimana Islam sangat cinta dan berkembang dalam ilmu pengetahuan” ucapnya bangga.

Memperdalam Sains

Sedari SMP, Bella yang ABG tak pernah merasakan apa itu masa pubertas dengan hura-hura, dan bercengkrama any time bersama partner belajar, karena Bella harus membantu orang tua mengerjakan pekerjaan serabutan setelah sekolah.

Beruntung, Bella tak lantas menyerah pada keadaan capek, idolanya sosok Ibnu Sina yang terus diagung-agungkan oleh Bella membuatnya cinta Sains. Yah Bella memutuskan akan terus memperdalam Sains sejak SMP.

Selalu membaca buku adalah keyakinan Bella agar tidak pernah tertinggal akan ilmu pengetahuan, namun gunda Bella juga dimulai disini. Bella cinta akan Avicenna dan kejayaan islam, namun Bella minim akan ilmu agama. Bella hanya tau jika agama adalah ruhaniah, sholat adalah hal yang wajib dilakukan, selebihnya rutinitas-rutinitas agama di lingkungannya hanya diikuti tanpa mengerti maksud dan tujuannya.

Bermula dari kegundaan itulah Bella dihadapkan pada pilihan dilematis akan kelanjutan pendidikannya setelah SMP. Awalnya sosok manis ini ingin memilih untuk nyantri di pondok pesantren, namun bella sadar biayanya tidak mungkin murah dan sosok cerdas ini masih belum menemukan pesantren dengan metode penerimaan jalur beasiswa. Sampai pada keinginannya yang membuncah akan memperdalam ilmu agama, dia menambatkan tumpuan harapannya pada MAN 3 Malang, yang dirasa akan memberikan angin segar wacana agama dan belajar sains.

“Saya nekat mbak, meski beberapa teman dan tetangga mengejek akan kemampuanku untuk masuk MAN 3, tau sendirikan sulitnya masuk madrasah ini, tapi saya optimis dan terus berdoa, Alhamdulillah ditrima sungguh, saya gak nyangka sebelumnya,” ucapnya polos.

Membangun Mimpi

Bella menuturkan, Tuhan sangat bermurah hati padanya, tak semua orang memiliki kesempatan emas bisa belajar di sekolah favorit dan modern seperti MAN 3 dengan jalur beasiswa pula. Merasa diberi anugerah yang tak terhingga inilah Bella tak pernah menyia-nyiakan waktunya dengan berleha-leha. Belajar, bersosialisasi, dan terus membaca selalu ia tekankan pada diri sendiri.

Belajar di Asrama MAN 3 Malang adalah mimpi yang ia idam-idamkan, karenanya dia tidak pernah sekalipun absen pada kegiatan asrama yang menurutnya mulai membawa angin kehidupan baru baginya. “Saya mulai mengerti agama dengan baik ya disini, belajar menghargai waktu ya di sini, dan bahwa waktu itu adalah pedang juga di sini, saya sangt mencintai guru, lingkungan dan teman di asrama” cerianya penuh semangat.

Aktivitasanya tak pernah lepas dari membaca buku-buku agama dan terus mengasah mata pelajaran favoritnya yakni Kimia. Tak sia-sia, mimpi dan perjuangannya, menjadikannya siswi kesayangan dengan sejuta prestasi. Bella dikenal sangat periang, ramah dan memiliki akhlak yang baik dimata guru-guru, hal ini disampaikan langsung oleh ibu Elida, salah satu guru pembinanya.

Meski mengaku belum memiliki pandangan akan ambil kuliah dimana dan jurusan apa, , gadis usia 17 tahun dengan perawakannya yang sederhana ingin kelak menjadi seorang ilmuan atau saintis yang mengharumkan nama agama dan bangsa.

“Kuliah bagiku masih misteri mbak, dengan keadaan perekonomianku yang seperti sekarang. Untuk itu aku tidak berani mengutarakan, biar ada dalam hatiku saja, namun aku akan terus menjadi researcher, kuliah ataupun tidak,” ucapnya penuh harap. (Red: Anam)