Tuesday, November 1, 2016

Gelar AICIS, Kemenag Angkat Keilmuan Indonesia di Kancah Global

[caption id="attachment_2858" align="aligncenter" width="640"]IAIN Raden Intan Lampung, tempat perhelatan AICIS 2016. IAIN Raden Intan Lampung, tempat perhelatan AICIS 2016.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Forum komunitas akademik untuk ajang kebolehan karya penelitian mutakhir yang dihelat dalam Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) ke-16 akan digelar Kampus Sukarame, IAIN Raden Intan Lampung.

Forum komunitas akademik yang dihadiri para guru besar, dosen, mahasiswa, peneliti, dan pemerhati studi Islam di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam akan berlangsung selama empat hari, Selasa-Jumat 1-4 November 2016 akan dibuka langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Forum kajian akbar tahunan dalam pengembangan keilmuan studi Islam yang diinisiasi oleh Kementerian Agama ini mengambil tema The Contribution of Indonesian Islam to the World Civilization.

Tema ini diangkat berdasar pada distingsi Indonesia sebagai surga para peneliti (theparadise for researcher). Bagi para Indonesianis, Indonesia merupakan lahan perburuan yang sangat kaya untuk melakukan riset ilmu sosial.

Beberapa ilmuan kelas dunia lahir dari pelbagai kajian riset di Indonesia, seperti Clifford Geertz dan Robert Hefner. Sebagai tambahan informasi, pada AICIS ke 15 yang di selenggarakan di IAIN Manado, Robert Hefner hadir sebagai pembicara.

Dalam konteks komunitas akademik ini, Dirjen Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin berharap agar perguruan tinggi Keagamaan Islam di Indonesia melalui forum AICIS dapat mengangkat langit keilmuan Indonesia.

“AICIS adalah momentum refleksi akademik, diseminasi hasil penelitian, dan ekspose pendidikan Islam Indonesia dalam kancah global,” ujar Kamaruddin Amin melalui keterangan tertulisnya, Selasa (1/11/2016).

Untuk itu, Kamaruddin menjelaskan, dalam rangka mempromosikan distingsi Islam Indonesia, pelbagai hasil penelitian dosen perguruan tinggi Indonesia harus didesiminasikan.

“Historisitas dan kompleksitas diskursus studi Islam Indonesia yang ditumbuhkan oleh akademisi Indonesia telah mengantarkan dalam kerangka pencarian format yang tepat bagi pengembangan studi Islam Indonesia dengan bingkai desiminasi ide-ide inklusif, kritis, historis, dan kontributif bagi beragam aspek peradaban dunia,” paparnya.

Adapun pembicara yang dijadwalkan hadir antara lain: Prof. Dr. Monchef Ben Abdel Jelil (University de Saosa Tunisia), Prof. Dr. Sumanto Al-Qurtubi (King Fahd University of Petroleum and Minerals, Saudi Arabia), Dr. Annabel Teh Gallop (British Library), Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud (ISTAC Malaysia), dan Prof. Bhajan Grewal (Victoria University).

Selain itu, Dr. Minako Sakai (UNSW), Prof. Tomas Lindgren (Umea University, Sweden), Dr. Kevin W. Fogg (Oxford University), Habiburrahman el-Shirozi (Indonesian Novelist/Humanist), Dr. Muhammad Hadi bin Muhammad Melayong (Brunei Darussalam), Prof. Magdy Behman (Estern Mennonite University, USA), Dr. Minako Sakai (University of New South Wales, Australia), dan Prof. Dr. David Carter (University of Canberra, Australia).

(Red: Fathoni Ahmad)

No comments:

Post a Comment