Saturday, January 16, 2016

Madrasah Lebih Baik

Para Pejuang Pendidikan Islam, Inspirasi Tiada Henti

Identitas buku:

Judul                     : Mendidik Tanpa Pamrih: Kisah Para Pejuang Pendidikan Islam (Jilid 1)

Penulis                 : Mahbib Khoiron, dkk

Editor                   : Abi S Nugroho, Hamzah Sahal

Penerbit              : Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI

Tebal                    : 364 halaman

Cetakan               : I, Desember 2014

Peresensi            : Fathoni Ahmad

Pendidikan bukan soal kelas. Pendidikan juga bukan soal materi dan tetek bengeknya. Tetapi pendidikan merupakan jalan bagi para generasi muda dalam menatap masa depan. Artinya, pendidikan para generasi muda tidak boleh terhenti hanya karena alasan tak ada biaya, tak ada kelas, hal-hal teknis lainnya.


Dengan cara pandang bahwa pendidikan harus tetap dijalankan untuk menggelorakan energi masa depan anak bangsa, tak sedikit di negeri ini yang rela tanpa diberi fasilitas negara tetapi teguh dalam mendidik para muridnya. Terutama para guru ngaji dan guru madrasah di berbagai pelosok di Indonesia seperti kisah para pejuang pendidikan Islam dalam tajuk mendidik tanpa pamrih yang diurai secara apik dalam buku yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI ini.


Di buku jilid 1 setebal 364 halaman ini diceritakan, para pejuang pendidikan Islam yang aktif memberikan pendidikan agama kepada kelompok-kelompok tertentu, bahkan di tempat prostitusi sekalipun seperti yang dilakukan oleh Ajengan Mamad (halaman 91). Di sebuah gang yang sangat populer di negeri ini bernama Saritem, Ajengan Mamad sejak 2003 ada di tengah-tengah kawasan bisnis ‘perlendiran’ tersebut. Pas di samping kawasan tersebut, Mamad mendirikan sebuah pesantren bernama Darun Ni’mah. Lewat Gerakan Moralnya (Germo), ia tak henti-hentinya mengajak masyarakat untuk memperbaiki akhlak.


Berbeda dengan Ajengan Mamad, Rohmawati (halaman 153), guru ngaji kelahiran Banten, 20 Desember 1982 ini tetap teguh membina pengajian ibu-ibu di tengah krisis dan kemiskinan. Namun demikian, hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi ibu tiga anak ini. Perjuangan membangun pendidikan Islam berbasis majlis taklim ini tak mudah bagi Rohmawati. Mulai dari membangun tempat ngaji sendiri di tempat Kiai Dimyati, tokoh kampung kemudian pindah di rumahnya sendiri yang pernah terjadi musibah kebakaran hingga melalap semua isi rumah termasuk kitab-kitab materi ngaji.


Rohmawati yang tak lulus sekolah dasar (SD) ini mengajar fikih, tauhid, dan hadits kepada ibu-ibu majlis taklim. Setelah terjadi musibah tersebut, ia kembali ke tempat semula. Adapun operasional pengajian tak jarang diambil dari kantong pribadi jika iuaran dari para jamaah tidak mencukupi untuk membayar listrik, dan lain-lain. Dengan kondisi yang tidak ringan ini, Rohmawati tetap teguh membina masyarakat di kampungnya untuk tetap ngaji sehingga ruh spiritualitas tidak lepas di tengah kehidupan warga yang serba kekurangan secara materi.


Lain Ajengan dan Rohmawati, lain pula dengan Nur Husin (halaman 17), satu-satunya guru ngaji di Dusun Kwangenrejo, Desa Leran, Kecamatan Kalitidu yang berjarak belasan kilometer dari Kota Bojonegoro, Jawa Timur. Kawasan di mana Nur Husin ini lebih populer disebut “Kampung Kristen” daripada nama administratifnya. Ia tak kenal lelah mengajar ngaji di kampung kristennya. Karena sebelum mengajar ngaji, ia setiap hari berjualan es keliling dan mencari kayu bakar.


Perjuangan Nur Husin tidak mudah. Ia mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) ketika ia sendiri belum bisa sepenuhnya mandiri. Dengan pendapatan seadanya untuk kebutuhan keluarganya, tak jarang Husin juga harus menanggung sendiri kebutuhan santri-santri di TPQ-nya. Semngat Husin untuk menetap dan mengajar ngaji di Kwangenrejo sempat patah arang. Karena tidak kerasan, Husin membawa anak dan istrinya ke kampung halaman orang tuanya di Kepohbaru. Namun di luar dugaan, belum lama ia pindah, rombongan satu mobil warga muslim Kwangenrejo datang ke Kepohbaru dan memintanya kembali. “Kami butuh sampean. Siapa lagi yang mengajar ngaji kalau bukan sampean?” ujar rombongan tersebut.


Tiga kisah dari perjuangan para guru ngaji tersebut merupakan gambaran dari 29 sembilan pejuang pendidikan Islam lain yang dijelaskan dalam buku ini. Secara umum, buku ini mengulas perjuangan para guru pendidikan Islam dalam berbagai indikator. Indikator tersebut dapat dipilah yaitu, guru ngaji yang menginspirasi meski dalam kondisi kekurangan ekonomi. Selain itu, para guru tersebut juga tetap berjuang meneguhkan pendidikan Islam di kawasan rawan sekalipun. Buku ini juga menjelaskan para guru ngaji dan madrasah yang selalu menjadi pelopor di tengah krisisnya pendidikan agama di kampungnya masing-masing.


Di dalam buku, secara khusus Kementerian Agama RI yang memfasilitasi gagasan untuk mempublikasikan peran para guru agama di berbagai pelosok daerah, yaitu agar para guru tersebut mendapat perhatian pemerintah secara luas. Bahwa mereka tetap berjuang mendidik anak bangsa dan menyiapkan generasi emas nan berkualitas meski tanpa berbagai tunjangan layaknya banyak guru di luar sana. Mereka tidak mau terhimpit keribetan birokrasi, untuk mengurus sertifikasi, dan lain-lain. Mereka bukannya tidak berharap kesejahteraan sebagai seorang guru. Tetapi birokrasi dalam sertifikasi menjadikan profesi guru menjadi komersil sehingga mendidik pun tanpa ruh yang akan menghasilkan generasi tak berakhlak.


Dalam buku ini, pembaca juga akan dibawa ke dalam perjuangan kultural yang dilakukan oleh para guru agama. Melalui pendidikan, mereka mampu menjaga kearifan lokal (local wisdom) di tengah modernisasi pendidikan yang cenderung komersil. Mereka tetap teguh menjaga akhlak generasi muda dengan tetap mengaji dan sekolah di madrasah. Di dalam pendidikan agama tersebut, mereka juga menjaga tradisi sehingga identitas sebagai bangsa tidak tercerabut di tengah gempuran globalisasi yang semakin mengglobal. Selamat membaca! (Fathoni Ahmad)




Guru, Mendidik dengan Kasih Sayang- [Quote]


Guru tidak layak menyebarluaskan kekurangan dan kesalahan murid karena akan merangsang timbulnya protes murid secara demonstratif. Mereka akan dihantui rasa bersalah yang bias membuat mereka protes sebagai cara mempertahankan diri. Arahan, teguran, dan juga bimbingan guru dapat disampaikan dengan penuh kasih sayang tanpa emosi


KH. Sahal Mahfudz



Pendidikan Karakter [Quote]




Pendidikan Islam pada dasarnya adalah proses pembentukan watak, sikap, dan perilaku islami yang meliputi iman (akidah), Islam (syariat), dan ihsan (akhlak, etika, dan tasawuf).



- KH Sahal Mahfudz, Fiqh Sosial, h. 336

Tuesday, November 24, 2015

Menag: Sampaikan Pesan Damai Islam Melalui Kartun

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Kartun merupakan gambar ilustrasi yang bisa memberikan arti dalam kehidupan, Di zaman modern ini, kalangan santri masih konsisten menjaga tradisi dengan mengaji. Sementara kartun dimata santri adalah karya seni yang penuh candaan tapi penuh penghayatan imajinasi. Santri dan kartun bagi sebagian orang masih terdengar aneh dan memberi kesan tersendiri.


Lomba, Pameran dan Sarasehan kartun Santri Nusantara melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, kartun santri nusantara ini di bertujuan untuk memberikan ruang para santri terutamanya agar bisa berekpresi menelurkan ide dan gagasan melalui karya-karya kartun yang indah dan elegan. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan Dirjen Pendis sejak bulan september yang lalu.


Karya lomba kartun santri ini bertemakan “Bernegara dan beragama yang santun berakhlak”, hasil karya kartun ini di nilai langsung oleh dewan juri KH. Musthofa Bisri, Pramono R, Kus Indarto dan Abdullah ibnu Thalhah. Peserta lomba kartun santri nusantara di ikuti 750 peserta santri dan 1500 karya kartun yang terkumpul di panitia.


Launching Pameran dan Sarasehan Kartun Santri Nasional di Galeri Nasional, Jakarta, Selasa (24/11), Sarasehan yang di isi oleh KH. Zawawi Imran selaku kyai dan seniman ini juga mempersembahakan puisi yang berjudul “Ibu” untuk menteri Agama Lukman Hakim Saifudin.


Sejumlah kurator kartun nasional seperti Kuss Indarto ikut hadir dan memeriahkan  Acara yang akan berlangsung dari  24 – 30 November 2015, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin di Galeri Nasional, ikut hadir Sekjen Nursyam, Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Mohsen, dan penanggungjawab acara kartun santri nusantara Abdul Rouf , serta tuan rumah Galeri Indonesia, Lempuk Setyanegara,


Menurut Lukman Hakim, banyak kesamaan antara seni kartun dan santri, 3 hal di antaranya adalah: pertama, kartun dan santri sama-sama memiliki ruh, memliki jiwa intelektual. “Kartun selalu merupakan artikulasi apa yang ada dalam fikiran yang dituangkan dalam bentuk lukisan,visual, dan gambar,” tambahnya.


Kedua, baik kartun dan santri selalu berupaya mengubah kehidupan sosial kemasyarakatan ke arah yang lebih baik melalui pesan kartun yang penuh pesan-pesan yang membangun. Ketiga, kartun dan santri, keduanya mengandung unsur homor, setidak-tidaknya suka dengan hal-hal yang humoris. Karya-karya kartun sangat kaya dengan nilai humor, santri juga kaya dengan humor. “Kalau tidak suka humor, kesantriannya dipertanyakan,” canda Menteri Agama.


“Dunia kartun merupakan media yang strategis untuk menyampaikan kedamaian, toleransi kesejukan, sehingga kehidupan keberagamaan kita semakin baik,” Tegas Menteri Agama.

Saturday, October 17, 2015

Kisah Lahirnya Madrasah MU di Bali

Kampung Wanasari merupakan satu kampung di Denpasar dengan mayoritas warga beragama Islam. Kampung yang berada di Kecamatan Denpasar Utara ini secara umum aktivitas perekonomian masyarakatnya ditopang oleh kegiatan perdagangan. Sebagian besar penduduknya tergolong warga kurang mampu.


Ketidakmampuan ini lambat laun berdampak terhadap keberlangsungan masa depan pendidikan anak. Tak ayal, banyak anak usia sekolah tidak dapat melanjutkan pendidikannya lantaran terbentur biaya. Di sisi lain, kebutuhan akan pendidikan tingkat SMP/MTs sangat mendesak mengingat di Wanasari telah berdiri Madrasah Ibtidaiyah sejak 1970-an dan dua pondok pesantren.




[caption id="attachment_70" align="alignnone" width="940"]Lomba Antar Kelas di MTs Miftahul Ulum Denpasar Bali Lomba Antar Kelas di MTs Miftahul Ulum Denpasar Bali. Photo: MTs Miftahul Ulum Denpasar[/caption]

Menurut keterangan Kepala MTs Miftahul Ulum (MU) Jarod Sudarmaji, M.Pd.I., pada 1999 masyarakat di daerah itu masih sulit mencari sekolah muslim. Meski sudah ada MI untuk tingkat dasar, namun masih belum ditemukan Madrasah Tsanawiyah. “Jadi, anak-anak sekolahnya keluar Bali, seperti ke Asembagus, Situbondo. Dan beberapa pesantren di Jawa Timur,” katanya.


Akhirnya, lanjut Jarod, para tokoh masyarakat sini bersepakat untuk mendirikan Madrasah Tsanawiyah. Tepatnya pada 16 Januari 1999 para tokoh masyarakat Wanasari merumuskan langkah merapatkan barisan untuk mencari solusi bagi kelanjutan pendidikan anak-anak yang tidak sekolah, yakni dengan mendirikan MTs Miftahul Ulum di bawah naungan Yayasan Miftahul Ulum yang beralamat di Jl A Yani 35 B Wanasari, Denpasar. Yayasan ini dipimpin H Mohammad Hasan Ishaq, SH.



Tantangan, Masyarakat Belum Tahu Apa Itu Madrasah


Perlombaan 17 Agustus di Mts Miftahul Ulum Denpasar Bali“Saat itu, tantangannya berat. Masyarakat juga belum tahu apa itu madrasah. Mereka juga belum yakin akan kemampuan MTs dalam keilmuan. Nah, tahun 99 itu cuma 9 siswa aja yang masuk. Alhamdulillah, karena komitmen para pendiri dari 9 siswa itu lama-lama makin hari makin meningkat,” ungkap Jarod.


Menurut Jarod, untuk pendiri atau tokoh tidak mengacu kepada satu orang. Hal ini dikarenakan banyak tokoh yang terlibat dalam pembangunan dan pengajaran di Mitahul Ulum.


Kepala MTs Miftahul Ulum Jarod Sudarmaji M.Pd.I mengatakan, madrasah yang dipimpinnya pada mulanya merupakan pondok pesantren. Dalam perkembangannya, pesantren tersebut di-merger dengan pesantren Darun Najah di Desa Dauh Puri Kaja, sebelah timur kampung Wanasari, lantaran kian menyusutnya jumlah santri. Namun, sekolahnya tetap ke MTs Mifathul Ulum Jl Ahmad Yani 35-B Wanasari, Denpasar Utara, Kota Denpasar.


Dengan berdirinya MTs Miftahul Ulum, telah memberikan banyak pengaruh positif terhadap kesinambungan pendidikan warga Wanasari. Selain dapat menampung kelanjutan sekolah para alumni MI dan Pesantren di kampung Jawa tersebut, keberadaan MTs Miftahul Ulum juga telah memberikan manfaat ekonomi bagi warga sekitar madrasah. Banyak di antara mereka menjadi penjual makanan ringan serta alat tulis bagi kebutuhan siswa.


“Pada awalnya, sekolah ini dipandang masyarakat sebagai sekolah yang memberikan pembelajaran agama saja tanpa adanya unsur pendidikan umum. Hal ini dapat dilihat dari input siswa yang masuk sebagian besar adalah alumni MI saja. Pandangan semacam ini bisa dimaklumi mengingat nama madrasah belum terlalu akrab di masyarakat umum, termasuk juga oleh sebagian warga muslim sendiri,” tutur Jarod.


Namun, lanjut dia, seiring dengan semakin eksisnya MTs Miftahul Ulum dalam pencapaian prestasi di berbagai bidang menyebabkan animo masyarakt terhadap Madrasah Tsanawiyah pertama di Kota Denpasar ini makin meningkat, yaitu dengan bertambahnya jumlah siswa yang berasal dari berbagai lulusan MI dan SD Negeri maupun Swasta. (Musthofa Asrori)

Monday, June 1, 2015

Gerakan Nasional “Ayo Mondok”

Gerakan Nasional “Ayo Mondok, Pesantrenku Keren”  ini adalah bentuk kepedulian kalangan pesantren terhadap fenomena dunia pendidikan yang gagal menanamkan pendidikan karakter kepada pelajar dan mahasiswa. Demikian kata KH Lukman Harits Dimyati di Kramat Raya 164 Jakarta medio 2015 yang lalu.

[caption id="attachment_259" align="aligncenter" width="960"]Launching Gerakan Nasional Ayo Mondok Launching Gerakan Nasional Ayo Mondok[/caption]

Secara moral, lanjut  Pengasuh Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan, hanya pesantren yang bisa menyelamatkan generasi muda dari kencenderungan-kecenderungan pendidikan yang merusak. Perilaku yang baik hanya bisa dilakukan dengan pembiasaan secara terus menerus untuk bersikap baik.

“Pembiasaan selama 24 jam dengan pengawasan, pembinaan dan pendampingan terus menerus adalah bentuk pendidikan karakter yang sudah lama dilakukan di pesantren, jauh sebelum isu pendidikan karakter muncul,” tukas koordinator Gerakan “Ayo Mondok” ini.

Sementara itu, KH. Sad Aqil Siroj mengatakan, gerakan Ayo Mondok ini merupakan “action” dari gerakan “Kembali ke Pesantren” yang dicanangkannya sejak Muktamar NU di Makassar 2010 lalu.

“Omong kosong kalau kita ngomong kembali ke khittah kalau tidak kembali ke pesantren. Kembali ke pesantren bisa dalam artian fisik yakni mondok, atau dalam pengertian kembali kepada nilai, akhlaq dan jati diri pesantren,” kata Ketua Umum PBNU 2014 – 2019 ini.

Hadir dalam acara peluncuran Gerakan Nasional “Ayo Mondok” Mantan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren yang kebetulan juga sebagai Ketua PP RMI, Amin Haedari, Ketua RMI Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozien dan Ketua RMI Jawa Timur KH Reza Ahmad Zahid. (A. Khoirul Anam)