Tuesday, July 5, 2016

Khutbah Idul Fitri: Bagaimana Membentuk Jati Diri Pasca Ramadhan?

[caption id="attachment_2138" align="aligncenter" width="617"]Foto ilustrasi Masjid. Foto ilustrasi Masjid.[/caption]

Khutbah I

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ.
اَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ، وَنَصَرَ عَبْدَهُ، وَأَعَزَّ جُنْدَهُ، وَهَزَمَ اْلأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ، لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ وَفَّقَنَا ِلإِتْمَامِ شَهْرِ رَمَضَانَ وَأَعَانَناَ عَلىَ الصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَجَعَلَنَا خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ للِنَّاسِ. نَحْمَدُهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَهِدَايَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُ الْمُبِيْنُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ، أَمَّا بَعْدُ:
فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، وَأَحُسُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Allahu Akbar, wa lillahilh hamd

Dengan bersyukur ke hadirat Allah SWT atas karunia dan rahmat-Nya pagi hari yang berbahagia ini kita menyambut kedatangan hari yang agung, hari raya fitri, hari raya kemuliaan dan kesucian.

Dengan rasa haru dan penuh ikhlas, kita semua melepas bulan Ramadhan, bulan yang luhur dan mulia yang dipenuhi dengan ampunan dan karunia. Kita bertakbir, mengagungkan Allah SWT dan menyucikan-Nya dengan bertasbih, menyucikan dari segala sesuatu yang tidak layak pada-Nya.

Takbir, tahlil dan tahmid silih berganti, berkumandang di angkasa raya diucapkan dengan lisan yang fasih dengan penuh keikhlasan dan kepasrahan. Rona dan wajah setiap Muslim menampakkan kebahagiaan yang cemerlang dan ketulusan yang mendalam, jauh sampai ke lubuk hati. Melukiskan kesan yang kuat dan mengakar ke dalam jiwa yang suci. Semua itu merupakan perwujudan dari pernyataan syukur kita ke hadirat Allah SWT atas segala karunia dan nikmat-Nya, terutama karunia yang paling agung berupa petunjuk dan hidayah-Nya. Hidayah itu membibing kita meniti cahaya yang terang benderang, menuju kehidupan yang sukses, lahir dan bathin. Kita bersyukur telah dapat melaksanakan ibadah shiyam sebulan penuh dengan ketabahan dan keikhlasan.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ

Artinya: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu. (Al-Baqarah [2]: 185)

Pagi ini, kita merayakan Idul Fitri, hari raya kesucian yang dinantikan kehadirannya oleh setiap insan yang beriman, dengan demikian kita kembali kepada fitrah, yaitu kemurnian dan kesucian. Kembali kepada kemurnian dan kesucian berarti kita kembali kepada suasana yang bersih telepas dari dosa dan kesalahan. Setiap orang yang melaksanakan puasa Ramadhan sesuai denga petunjuk al-Qur’an dan al-Sunnah akan terlepas dosa dan kesalahannya sehingga menjadi suci kembali, seperti bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya. Kesucian yang telah kita peroleh dengan susah payah itu hendaklah terus dipertahankan sampai bulan-bulan berikutnya dengan meingkatkan iman dan takwa kita serta bertaqarub kepada-Nya dengan tunduk dan patuh.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar

Puasa Ramadhan yang baru saja kita jalani membentuk setiap diri umat Islam agar memiliki kemampuan untuk mengendalikan hawa nafsu dan dapat meningkatkan potensi kesucian rohaninya. Ibadah shiyam dapat membentu jati diri Muslim yang pari purna dengan meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT. Iman dan takwa itu dibuktikan dengan senantiasa berpegang teguh kepa petunjuk-Nya, melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Dengan mempertahankan kelestarian iman dan taqwa, kita meniti jalan yang lurus untuk mencapai keridhaan Allah SWT, keridhaan yang senantiasa didambakan oleh setiap manusia yang beriman. Menuju keridhaan yang agung dan luhur itu harus ditempuh dengan melaksankan ibadah dan amal shaleh secara ikhlas dan jujur, sesuai dengan ikrar kita yang selalu kita ucapkan dalam do’a iftitah yang dibaca pada saat awal melaksanakan shalat. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tidak ada sekutu baginya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri (kepada Allah) (QS. al-An’am : 162-163).

Pembentukan jati diri dalam ibadah shiyam merupakan aktivitas yang sangat penting dalam kehidupan seorang mukmin, karena dengan jati diri itulah kita akan bersikap istiqomah dalam menjalani ajaran agama. Ibadah shiyam yang kita laksanakan, harus mampu membentuk jati diri setiap Muslim dan meningkatkan kualitasnya dari tahapan yang paling rendah menuju tahapan yang paling tinggi.

Kaum Muslimin, para jamaah yang kami muliakan,

Pembentukan jati diri itu, menuju perubahan pada yang lebih sempurna, sebagaimana yang dicontohkan oleh kehidupan para sahabat Nabi dan Tabiin generasi awal. Perubahan yang sangat mendasar menuju jati diri yang sempurna misalnya kita bisa mengambil contoh dar peristiwa berikut ini:

Pada suatu saat Rasulullah Muhammad SAW menerima tamu, seorang pria dari kalangan musyrik Arab jahiliyah. Nabi menerima tamu itu sebagaimana layaknya beliau menerima tamu yang lain, dihormati selayaknya dan dipersilahkan duduk di ruang yang telah disediakan. Nabi SAW menyuguhkan kepada tamu itu segelas air susu murni. Demikianlah kebiasaan dan kebangaan orang-orang Arab pada waktu itu, mereka sangat berbahagia sekali apabila dapat menyuguhkan pada tamunya air susu murni yang mereka perah dari kambing atau unta.

Setalah disuguhi segelas air susu, tamu itu meminumnya sampai habis. Kemudian Nabi menyediakan gelas yang keduanya, itupun diminum sampai habis lalu Nabi menyediakan gelas yang ketiga itupun diminum sampai habis. Hal itu terus berlangsung sampai tujuh gelas. Pertemuan itu kemudian berlalu begitu saja, tidak ada hal yang perlu dicatat, pria Arab jahiliyah kembali ke rumahnya dan Nabi pun melaksanakan aktivitas dakwahnya sebagaimana biasa.

Kira-kira beberapa bulan setelah itu, pria Arab jahiliyah tadi masuk Islam, sebagai seorang mualaf dia merasa ketinggalan dengan para sahabat lain, karena itu dia terus mempelajari agama dengan sungguh-sungguh dan mengamalkannya dengan baik. Dalam jangka waktu tidak begitu lama pria mualaf itu telah menjadi seorang Muslim yang sangat baik. Setelah menjadi pria Muslim yang baik dia mengujungi rumah Nabi kembali. Nabi menerima tamu mualaf ini, langsung teringat dengan kunjungan yang pertama dulu, kemudian Nabi menyediakan segelas air susu, sebagaimana dulu menyediakannya. Pria mualaf itu kemudian minum segelas air susu yang disediakan oleh Nabi sebagaimana dulu ia meminumnya.

Ketika Nabi akan menyediakan gelas yang kedua, tiba-tiba pria mualaf itu mengatakan, “Wahai Rasulullah cukup untukku, cukup untukku dengan segelas susu itu.” Nabi SAW mengomentari sikap pria mualaf yang telah berubah drastis dari kebiasaan jahiliyahnya dan menggantinya dengan jati diri seorang Muslim, beliau mengatakan:

الْمُؤْمِنُ يَشْرَبُ فِي مِعًى وَاحِدٍ وَالْكَافِرُ يَشْرَبُ فِي سَبْعَةِ أَمْعَاءٍ

Seorang mukmin cukup meminum dengan satu gelas, sedangkan orang kafir baru puas minum dengan tujuh gelas. (HR. Muslim. No Hadis: 3843)

Dari contoh itu kita bisa melihat secara langsung betapa besarnya perubahan sikap dan jati diri dari seorang jahiliyah menjadi seorang mukmin. Pola hidup yang tadinya dipenuhi dengan kerakusan digantinya dengan kesederhanaan. Kesederhanaan dalam pola makan, dalam pola berpakaian dan bertingkah laku. Manusia mukmin yang melaksanakan ibadah Ramadhan juga diarahkan agar melakukan perubahan yang besar dalam membentuk jati dirinya, dari manusia yang berkualitas rendah menjadi berkualitas tinggi menuju kesempurnaan sesuai dengan ajaran Islam. Puasa Ramadhan pada hakikatnya dapat membentuk jati diri seseorang menjadi pribadi yang berkualitas dan memiliki kemampuan yang tinggi dalam meraih kesuksesan di dunia dan akhirat. Salah satu jati diri manusia mukmin adalah berpola hidup sederhana dan dapat mengendalikan nafsunya sehingga tidak terjerembab dalam lembah kehinaan dan kehancuran.

Ada tiga macam nafsu yang sering menjerumuskan seseorang ke lembah kehinaan yaitu nafsu dari dorongan perut, libido seksual, dan hawa nafsu yang menyesatkan. Nabi SAW sangat mengkhawatirkan umatnya terjerembab dalam tiga macam nafsu yang menghancurkan itu, sehingga beliau bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْهَوَى

Artinya: “Sesungguhnya aku mengkhawatiri kamu sekalian terjerembab dalam keinginan hawa nafsu dari dorongan perutmu, dorongan seksualmu dan hawa nafsu yang menyesatkan. (HR. Ahmad. No Hadis:18951)

Dalam kehidupan modern yang kita jalani sekarang, di mana sikap hidup materialisme, konsumtivisme, dan hedonisme, terus menggerogoti masyarkat kita, kita jumpai betapa banyakanya orang yang telah terjerembab dalam lembah kenistaan dan kehinaan. Ada sebagian dari masyarakat yang terjerembab ke dalam hawa nafsu perutnya sehingga ia menjadi budak perutnya sendiri, maka ia pun makan secara berlebihan, minum secara berlebihan, sehingga hidupnya hanya memenuhi dorongan perutnya. Orang seperti ini tergolong dalam kelompok manusia yang paling buruk dari umat Nabi Muhammad SAW.

Kalau orang pertama tadi menjadi budak perutnya sendiri, sehingga ia terjerembab dalam kehinaan dan kehancuran, sedangkan kelompok kedua banyak orang yang menjadi budak dari dorongan libidonya sehingga ia menjadi budak nafsu seksualnya. Keadaan seperti ini lebih membahayakan lagi, karena akan menimbulkan kerusakan dan kehinaan yang lebih parah. Banyak keluarga dan masyarakat yang hancur karena menjadi budak libido dan nafsu seksualnya. Akibat memperturutkan nafsu seksual banyak menyebabkan manusia bergelimang dengan dosa, seperti; perselingkuhan, perzinahan, dan timbulnya deviasi seksual yang mengerikan.

Kalau orang kedua tadi menjadi budak dari dorongan seksualnya sendiri, maka kelompok yang ketiga, adalah manusia-manusia yang diperbudak oleh hawa nafsunya sendiri, keadaan ini jauh lebih berbahaya lagi, karena memperturutkan hawa nafsu akan mencampakkan pelakunya menuju kehancuran yang sangat menakutkan. Bahkan terkadang hanya berapa detik saja orang tidak bisa mengendalikan hawa nafusnya ia telah terjerumus dalam kerusakan dan kehancurn dan penyesalan yang sangat berat selama-lamanya di dunia dan akhirat Karena itu Nabi menyatakan: “Musuhmu yang paling berbahaya adalah hawa nafsumu yang berada di antara kedua lambungmu sendiri” (Ihya’ Ulumuddin).

Al-Qur’an memperingatkan orang-orang yang terjerembab dalam kemauan hawa nafsu yang menyesatkan, sebagaimana dijelaskan dalam surat al-Ahqaf: 20.

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ

Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik".

Berbagai kejahatan timbul dalam kehidupan masyarakat, karena manusia meuruti hawa nafsunya sendiri. Ibadah puasa Ramadhan yang telah kita jalani dapat melatih dan melindungi diri kita agar tidak terjerembab dalam kubangan hawa nafsu, sebagaimana yang disebutkan di atas. Dengan demikian puasa dapat membentuk jati diri yang paripurna, menjadi manusia Muslim yang beriman dan bertakwa.

Allahu Akbar, wa lillahil hamd
Hadirin dan hadirat yang mulia,

Kembali kepada fitrah yang suci dan bersih itulah yang sesungguhnya kita jalani sekarang ini. Hari yang amat berbahagia ini dinamakan ‘Idul Fitri’, yaitu kesucian dan keutuhan yang telah kita peroleh kembali setelah kita melakukan puasa Ramadhan sebulan penuh. Karena itu hari ini adalah hari kemenangan dan kejayaan bagi kita semua, karena kita telah berusaha meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, ucapan yang paling tepat kita ikrarkan pada hari ini adalah suatu do’a:

اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَآئِدِيْنَ وَالْفَآئِزِيْنَ وَالْمَقْبُوْلِيْنَ

“Wahai Allah jadikanlah kami termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah yang memperoleh sukses dan kemenangan serta diterima amal ibadahnya oleh Allah Swt”.

Dengan kembali kepada fitrah, kita akan mencapai kebahagiaan dan kesuksesan lahir batin yang selalu kita harapkan. Sesuai dengan petunjuk Ilahi, marilah kita bertakbir mengagungkan asma Allah atas segala petunjuk-Nya dan marilah kita bersyukur atas segala rahmat dan karunia-Nya.

Semoga kita semua senantiasa dapat mengikuti petunjuk Allah dan senantiasa memperoleh rahmat-Nya. Amiin.

عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فِي هذَا الْعِيْدِ السَّعِيْدِ، وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ، فَمَنْ أَطَاعَهُ فََهُوَ سَعِيْدٌ وَمَنْ أَعْرَضَ وَتَوَلَّى عَنْهُ فَهُوَ فِي الضَّلاَلِ الْبَعِيْدِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ. اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ، أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلاً وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا. اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللّهُمَّ أَصْلِحِ الرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار.
عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَنِ وَجَانِبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ.

Dr. KH. Zakky Mubarak, MA, Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.

Source: NU Online 

Muhammad Assad, Alumni MAN Insan Cedekia ini Sukses di Usia Muda

7 Muhammad AssadMuhammad Assad mengukir kesuksesan sejak masih muda. Perjuangannya yang tak mudah kini telah berbuah. Pria kelahiran Jakarta, 16 Januari 1987, ini mendapat full scholarship untuk studi S1 dan S2. Beasiswa S1 diberikan oleh Petronas dan S2 dari Emir (Raja) Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani. Karirnya meroket. Assad kini adalah seorang wirausahawan muda yang sukses, praktisi keuangan syariah, pembicara internasional, dan penulis buku-buku national bestseller.

Assad lulus S1 Program Business Information Systems dengan predikat first-class student honours dari University of Technology Petronas, Malaysia, dan meraih tiga penghargaan saat kelulusan: Rector's Gold Award, The Best International Student Award, dan Chancellor Award, penghargaan tertinggi dari Universitas yang diberikan langsung oleh Mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad. Ia melanjutkan studi S2 Program Islamic Finance di Hamad bin Khalifa University, Doha-Qatar. Assad lulus S2 (Msc) dengan predikat summa cum-laude pada tahun 2012. Saat kelulusan S2 inilah Assad mendapat penghargaan dari First Lady Qatar, Her Highness Sheikha Moza bint Nasser.

Selain produktif menulis, Assad sekarang juga sibuk sebagai CEO Rayyan Capital, perusahaan yang didirikan bersama temannya Edwyn Rahmat yang bergerak di bidang investasi dan keuangan serta menjadi Chairman NFQ Group, yang fokus dalam membuat program-program edukatif dan inspiratif bagi anak muda. Lima buku telah lahir dari tangannya dan semuanya menyandang predikat terlaris nasional, antara lain Notes From Qatar 1, Notes From Qatar 2, Sedekah Super Stories, Good Morning Qatar, dan 99 Hijab Stories.

Perjuangan Tanpa Henti

Masa kecil Assad dihabiskan di lembaga pendidikan Islam. Ia belajar sejak taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama di Al-Azhar 6 Jakapermai, Bekasi, Jawa Barat. Lalu pendidikannya bersambung ke jenjang berikutnya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Di madrasah inilah, Assad menimba banyak pengalaman, mulai dari perluasan wawasan keagamaan, sains, hingga beragam keterampilan.

MAN IC Serpong merupakan sekolah berbasis asrama yang menekankan peserta didik pada penguasaan Iptek dengan bekal imam dan takwa (Imtak). Madrasah yang semula bernama SMU Cendekia berdiri pada tahun 1997/1997 didirikan atas prakarsa Menristek/Kepala BPPT B.J Habinie pada 1996 dengan gengsi yang tinggi. Ia hanya menampung para lulusan terbaik MTs atau sederajat dari berbagai daerah di Indonesia melalui tes seleksi yang sangat ketat. Assad beruntung bisa masuk madrasah favorit ini, yang meski dengan demikian ia harus menaklukkan soal-soal dengan tingkat kesulitan di atas rata-rata sekaligus bersaing dengan pelajar-pelajar andal dari beragam penjuru di Indonesia.

Menurut salah satu gurunya di MAN IC Serpong, Dra. Persahini Sidik, M.Si, selama di madrasah Assad termasuk anak yang percaya diri dan mudah bergaul dengan teman-temannya. Sebagiamana teman-temannya, di MAN IC ia mendapatkan pendidikan agama yang ketat, di samping kegiatan ektrakurikuler yang bebas dipilih menurut minat dan bakat masing-masing siswa. Assad, kata perempuan yang setahun terahir menjadi Kepala MAN IC Serpong ini, juga pernah mendapatkan apresiasi sebagai siswa teladan dari Honda.

Di sini ia ditempa dengan standar dan target nilai yang berbeda dari madrasah pada umumnya. Guru-guru yang membimbingnya pun adalah orang-orang pilihan, yang direkrut berdasarkan kualifikasi yang tinggi. Assad mengaku bangga dengan madrasahnya ini. Ia bahkan mampu memberikan bukti bahwa madrasah mampu bersaing dengan sekolah-sekolah umum dalam memperbutkan beasiswa penuh dari perguruan tinggi-perguruan tinggi top luar negeri. Proses dan buah pendidikan yang diterima masih membekas dan terkenang dalam diri Assad. Ia dalam sebuah lembaran kertas karton pada 2013 lalu pernah memberikan testimoninya tentang madrasahnya ini: “Insan Cendekia Serpong sekolah terbaik yang melahirkan generasi terbaik Indonesia. Sukses terus almamaterku tercinta. All the best!!”.

Dalam blog pribadinya, Assad pernah bersyukur atas apa yang selama ini ia terima, termasuk jalan untuk memperoleh beasiswa penuh di perguruan tinggi-perguruan tinggi  top dunia. Tapi dia membantah bahwa semua itu ia terima dengan mudah. “Kalau ada yang bilang mendapatkan beasiswa mudah itu bohong. Life is tough. Perasaan kecewa, sedih, di bawah tekanan, dan bahagia semua pernah dialami dalam prosesnya. Mungkin kombinasi itu yang akhirnya membuat saya berhasil mendapatkan beasiswa,” katanya.

Begitu Assad lulus MAN Insan Cendekia Serpong, langkah pertama yang dilakukan adalah mulai mencari informasi tentang universitas yang memberikan beasiswa. Saat itu tak banyak universitas yang memberikan beasiswa S1. Tapi gayung bersambut, Assad menemukan tiga universitas top luar negeri yang menawarkan beasiswa S1, yaitu Nanyang Technological University (NTU) di Singapore, National University of Singapore (NUS) di Singapore, dan University of Technology Petronas (UTP) di Malaysia. Impian pertama adalah masuk NTU jurusan bisnis, selanjutnya antara NUS atau UTP, juga jurusan bisnis. “Maklum, jiwa berdagang sudah tumbuh sejak kecil. Hehe...”

Ia kemudian membuat daftar dari ketiga universitas tersebut tentang persyaratan apa saja yang dibutuhkan. Tes pertama yang ia ikuti diadakan oleh NUS di Kedutaan Besar Singapura di Jakarta dan hasilnya gagal. Assad merasa soal-soal yang diujikan cukup berat, persiapan kurang matang, dan kompetitornya kebanyakan berpengalaman di ajang olimpiade. Kemudian, tes kedua diadakan NTU. Di sini Assad bersaing dengan ribuan pendaftar dan pihak universitas hanya melihat nilai rapor sebagai tiket masuk. Sementara, sebagai madrasah bergengsi MAN Insan Cendekia terkenal “pelit” dalam hal nilai. Pada titik ini, Assad mengaku menemukan sebuah hambatan. Ternyata terbukti. Di seleksi awal NTU yang menentukan bisa ikut tes atau tidak, namanya tidak masuk. Sempat melobi dan diizinkan mengikuti tes tapi lagi-lagi tidak lolos.

Perasaan shock tentu muncul. Apalagi NTU sedari awal adalah kampus tujuan yang paling diidamkan dari yang lain. Tapi kesediahan tersebut tak berlangsung lama. Assad bangkit dan mengejar peluang ketiga di UTP.  Dari MAN Insan Cendekia ada 7 orang yang ikut tes di perguruan tinggi ini. Kata orang yang mengurus beasiswa ini, pelamar beasiswa UTP ini ada sekitar 1000 orang. Seleksi kemudian mengerucut menjadi 60 orang, lalu terakhir dipilihlah 7 orang dari Indonesia. Hasilnya, memuaskan! Assad diterima dan mendapatkan beasiswa penuh di UTP dengan jurusan yang diinginkan, Business Information Systems.  “I’m so happy! Setelah dua kali gagal, akhirnya dapet juga. Hehe.. Mungkin inilah tempat terbaik yang telah ditentukan oleh Allah SWT.”

Benar. Di UTP Assad justru merasakan banyak kesempatan dan hal-hal baik yang saya dapatkan selama di UTP yang mungkin tidak akan didapatkan jika kuliah di tempat lain. Pikiran bahwa NTU adalah universitas paling ideal baginya perlahan berubah. Puncaknya, ia mengakhiri studi 3,5 tahun dengan membawa nama baik Indonesia saat menjadi satu-satunya mahasiswa dalam sejarah UTP yang mendapatkan triple awards saat kelulusan: “Rector’s Gold Award 2009 for Business Information Systems”, “The Best International Student Award for The Year 2009”, dan “Chancellor Award for The Best Graduate for the Class of 2009”.

Nasib Berbalik Arah

Satu semester menjelang kelulusan di UTP, Asad sudah mulai memikirkan apa rencana ke depan. Kala itu sudah ada sekitar 2-3 perusahaan yang menawarkan bekerja. Tawaran itu ia tolak demi melanjutkan kuliah S2. Persiapannya lebih matang: ada Plan A dan Plan B. Dalam Plan A terdapat 10 Universitas yang menjadi tujuan utama. Selanjutnya di plan B ada 5 universitas yang menjadi tujuan kedua. Ke-15 universitas tersebut tersebar di berbagai negara, dari Singapore, Australia, Amerika Serikat, UK hingga Qatar.

Keberuntungan berpihak pada dirinya. Setelah melalui semua proses, dari 10 Universitas di Plan A, Assad diterima di 4 universitas: 2 di Singapore, 1 di UK dan 1 di Qatar. Sisa 6 universitas yang lain, beberapa menolak dan beberapa lagi tidak ada kabarnya. Menariknya, dari empat universitas tersebut, terdapat NUS (memberikan full scholarship) dan NTU (memberikan partial scholarship), dua universitas yang pernah menolaknya sewaktu memburu beasiswa S1 beberapa tahun yang lalu. “Jadi senyum-senyum sendiri dan berkata, ‘dulu gue yang berharap dapet beasiswa, sekarang gantian malah ditawarin’.”

Assad menerima tawaran beasiswa dari NUS dan menolak universitas di UK karena tidak sesuai jurusannya, dan juga menolak NTU karena hanya memberikan partial scholarship. Meski kesempatan kuliah di NUS sudah dalam genggaman, tapi dambaan utama Assad ada di Qatar. “Ada cerita menarik. Beasiswa NTU saya tolak karena mereka hanya memberikan partial scholarship. Setelah mengirim email memberitahukan hal tersebut, tiba-tiba beberapa hari kemudian seseorang dari bagian admission NTU menelepon langsung dari Singapore dan straight to the point mengatakan, “Assad, we will give you full scholarship. Please accept our offer!” hahahaha.. Saya kaget tapi juga agak ngeri, kok bisa-bisanya sebuah universitas internasional berkelas dunia tiba-tiba mengubah kebijakannya begitu cepat.”

Lain lagi cerita dari NUS. Setelah Assad mengirim email menerima tawaran beasiswa mereka, beberapa hari kemudian pihak NUS mengirimkan tiket pesawat Jakarta-Singapura ke rumah dengan tanggal keberangkatan akhir Juli. Ini tentu mengagetkannya karena pengumuman dari Qatar baru keluar tanggal 1 Agustus. Di hatinya sedang bergejolak antara memilih NUS dan kampus idaman di Qatar yang belum memberi kepastian. “Jika menolak NUS, sudah tidak ada satu universitas pun yang saya pegang, sementara Qatar belum memberikan pengumuman. Tapi jika saya menerima NUS dan ternyata Qatar juga menerima, maka runyam juga.”

Setelah beberapa kali shalat Istikharah, akhirnya timbul dalam diri Assad keyakinan yang kuat bahwa ia akan diterima di Qatar. Dengan demikian, ia harus menolak tawaran NUS sambil menunggu pengumuman dari Hamad bin Khalifa University, Doha-Qatar. Keputusan ini mungkin akan dianggap aneh sebagian orang. Bagaimana tidak? Tiga tawaran beasiswa pasti dari perguruan tinggi top dilepas begitu saja, lalu menunggu diterima di perguruan tinggi lain yang masih dalam bayangan. “Kalau dipikir-pikir lucu juga ya, dulu mereka (NTU dan NUS) yang menolak saya, sekarang gantian saya yang menolak mereka hehehe.. Saya berani berbuat demikian karena sangat yakin dan positif Insha Allah diterima di Qatar. Bukankah Allah SWT yang memerintahkan hambaNya agar selalu berprasangka baik dan tidak pernah berputus asa dari rahmat-Nya?”

Saat pengumuman dari Qatar pun tiba. Pada 1 Agustus itu, sebuah email berbahasa Arab dari Qatar Foundation masuk. Saat-saat mendebarkan dimulai. Assad seketika bersujud dan mengucap syukur tanpa henti-hentiNya begitu ia tahu isi surat elektronik tersebut memberinya selamat bahwa ia diterima kuliah S2 Program Keuangan Islam di Qatar dan mendapatkan beasiswa penuh dari Raja Qatar Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani.

Kini Assad terkenal sebagai seorang penulis produktif yang telah menulis lima buku terlaris di Indonesia. Dia juga pernah jadi pembicara internasional di empat benua, yakni Asia, Afrika, Australia, dan Eropa. Beberapa organisasi  yang pernah mengundangnya antara lain United Nations, UNESCO, Islamic Development Bank, dan G20 Youth Summit. Assad juga pernah dikontrak TVOne menjadi kontributor seluruh kawasan Timur Tengah dan saat ini dipercaya menjadi Duta Wakaf Al-Azhar untuk hubungan internasional.

“Sewaktu lulus MAN, impian saya adalah melanjutkan kuliah di luar negeri dengan beasiswa penuh! Papa selalu meyakinkan bahwa saya pasti mampu, asalkan dengan persiapan yang baik dan matang. Beliau sering berkata, “Success is when preparation meets the opportunity,kenang Assad. (Red: Anam)

Monday, July 4, 2016

Widya Lestari, Guru Madrasah Pencetus Rumah Belajar “Akar Ilalang”

Widya Lestasi memimpikan satu lembaga pendidikan yang diperuntukkan bagi anak-anak miskin. Ia ingin mereka bisa sekolah gratis tanpa harus membayar apapun dan direpoti dengan apapun. Namun untuk mewujudkan impian itu, ia harus punya gedung. Akhirnya ia berinisiatif membawa anak-anak ke musholla di depan rumah. Namun masyarakat tidak berkenan. Lalu ia pindahkan mereka ke rumah ibunya. Di rumah itu, “anak-anak akar ilalang” diajarinya mengaji, diceritakan tentang kisah-kisah para Nabi. Mereka juga diajari menulis, menari, membaca puisi dan drama.

Saat kami berkunjung ke rumahnya di desa Tunjungrejo awal Oktober 2015, guru ekonomi di Madrasah Aliyah Salafiyah Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah ini sedang sibuk mengawasi anak asuhnya yang berlatih tari saman. Bagi dia, bermain dan belajar bersama anak-anak menjadi rutinitas yang menyenangkan.

Aktifitas itu dilakukannya di luar tugas mengajar di sekolah formal. Namun di sekolahnya ia juga membuat terobosan. Ia tidak mau siswanya terkungkung di dalam kelas. Guru ekonomi ini meminta izin untuk mengajak siswa-siswinya berkunjung ke bank, pusat produksi makanan, sampai ke Bursa Efek. Ada cerita, saat berkunjung ke bank, ia tertegun. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para siswa sangat menyedihkan. Itu karena selama ini mereka hanya menduga-duga. Tidak tahu dunia luar; tidak tahu apa sebenarnya yang mereka bicarakan di sekolah.

Di Madrasah Salafiyah, ada forum pembelajaran luar kelas bernama study excursion yang identik dengan dirinya.

Prestasi Formal dan Nonformal

Widya (38), demikian ia akrab disapa, mendedikasikan ilmu dan pengalamannya bagi kemajuan siswa dan madrasah tempatnya mengajar. Itu sudah dilakukannya sejak di bangku kuliah. Salah satu yang dilakukannya antara lain, mengikuti lomba guru berprestasi baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.

Untuk tingkat Kabupaten Pati, Widya dapat juara I Guru MA Berprestasi. Ia juga menyabet gelar Guru Berprestasi tingkat Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2015. “Itu yang secara formal. Terus dikirim ke provinsi, alhamdulillah masih dapat juara tiga,” tutur Widya bangga.

Meski itu pengalaman pertama, namun bagi dia merupakan pencapaian yang luar biasa. Pasalnya, selain tidak ada pengalaman dan pembinaan dari siapapun, ia mempersiapkan sendiri materi dan segala hal terkait perlombaan. “Kami membuat karya ilmiah sendiri, mempersiapkan segala sesuatunya sendiri. Jadi, itu adalah satu capaian yang luar biasa bagi saya,” tandasnya.

Widya merasa, prestasi formal bukan segala-galanya. Ia lebih bersyukur memiliki prestasi nonformal. “Untuk prestasi nonformal, saya pikir saya sudah menjadi teladan bagi anak saya. Itu sudah satu prestasi. Apalagi saat saya tanya, pengen jadi apa dek? Anak saya bilang, ingin jadi seperti ibu, jadi guru. Berarti sikap saya selama ini sudah menjadi teladan bagi dia, minimal itu,” ujarnya merendah.

Widya merasa anak-anak didiknya memiliki kesan dirinya merupakan prototipe guru yang galak. Meski demikian, kesan tersebut tidak membuatnya dibenci murid. Justru ia merasa dicintai dan dihormati mereka. “Kalau bagi murid saya yang lain memang saya terkenal sebagai guru yang katanya galak, tapi dicintai banyak murid,” ujarnya sembari tergelak.

Mengapa demikian? Menurut dia, karena sikap galak yang ditunjukkannya bagi anak-anak merupakan galak yang mendidik. Contoh misalnya, ia sering menegur anak putri yang ketahuan berjilbab masih memperlihatkan sebagian rambutnya.

“Saya bilang, kalau berjilbab ya rambutnya nggak boleh kelihatan. Jadi, kalau ada rambut yang koser-koser di belakang itu pasti saya jambak. Mesti seperti itu. Ini kuda apa gadis Aliyah Salafiyah ini. Kan nggak ada bedanya antara kuda yang di pasar dengan anak MA salafiyah ini. Yang kayak gitu langsung saya jambak,” ujarnya.

Widya juga sangat memperhatikan soal pakaian khususnya seragam. Terus  jika ada anak anak MA Salafiyah yang pakai seragam streat, agak pendek, gitu kan dikeluarin ya, karena pendek gitu, itu biasanya saya kerjain, di papan tulis saya suruh nulis kan tangannya gini (sambil memperagakan menulis) jadi kan kelihatan karena terbuka. Waw keren banget. Saya bilang gitu,” katanya sembari tertawa.

Ia juga memiliki trik jitu mengatasi anak didik yang malas mengerjakan pekerjaan rumah (PR). “Mungkin galaknya itu kalau muridnya nggak ngerjain PR.  Saya bilang ke anak-anak, oke, saya beri kesempatan. Tapi ngerjainnya sampai lima kali yaa. Besok biar mereka nggak mengulangi lagi,” ujar Widya.

Meski mengaku wajahnya kelihatan galak, ia tetap ramah kepada siapapun. Ia mengakui orang yang pertama kali melihatnya pasti terkesan jika ia galak. “Kalau pertama kali ngeliat saya pasti hmmm, galak banget yaa. Tapi kalau sudah kenal, nggak kok,” kata Widya sembari tertawa.

Agar para siswa memperhatikannya, ia sering menyelipkan kalimat-kalimat petuah setiap kali ia mengajar. “Apapun itu. Contoh misalnya, saya mengajar Akuntansi. Tantangannya berat sekali. Ya, mengajar Akuntansi di madrasah yang mereka itu entah bagaimana ceritanya ada kiai yang mengatakan bahwa ilmu ekonomi itu nggak bisa dibawa masuk surga. Tidak bisa menjawab pitakon kubur.”

Ia pun membenarkan pendapat kiai tersebut. “Saya jawab betul. Kiaimu betul sekali,” kata dia sembari mengangkat jempol. Memang nggak ada pertanyaan kubur yang bisa dijawab dengan ilmu ekonomi, tambahnya. “Nggak bisa karena yang dibawa bawa mati hanya tiga, iya to?! Salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat,” ujarnya.

“Kenapa kalian sekolah, mencari ilmu. Buat apa? Cari pekerjaan bukan? Nah, itu. Pekerjaan itu adalah nanti memanfaatkan ilmu yang dimiliki, itu yang bisa dibawa mati. Memang nggak bisa dipakai untuk menjawab pitakon kubur tapi bisa dibawa mati karena ilmunya yang bermanfaat. Tapi kalau kalian sekolah tidak bisa memanfaatkan ilmu ya tidak bisa dibawa mati,” tegasnya.

Yang kedua, lanjutnya, supaya pelajaran masuk di otak mereka, ia merujuk ke Al-Qur’an. Meski orang ekonomi yang tidak pernah sekolah di madrasah, ia berani menunjukkan kebenaran. “Baca al-Baqarah ayat 282. Di situ diperintahkan setiap kalian bertransaksi, catatlah. Nah, Akuntansi itu jadi ilmu pencatatan itu. Jadi dasarnya jelas. Siapa bilang Akuntansi bukan ilmu dari Al-Quran? Jelas, nggak bisa ditolak. Baru mereka bisa menerima jawaban saya,” tandasnya.

Tunjukkan Loyalitas dengan Prestasi

Pengalaman Widya mengikuti lomba guru berprestasi tingkat kabupaten merupakan suatu hal yang luar biasa. Apalagi mampu menyabet juara I. Ia menceritakan, lomba untuk Kementerian Agama Pati baru digelar pada Maret 2015. Sementara, untuk Kanwil Kemenag Jawa Tengah sudah dua kali. “Lomba tersebut merupakan pengalaman pertama saya. Tapi, saya ikut Diknas makanya pialanya dari Diknas. Kalau diknas kan dari dulu. Nah, sasarannya khusus guru MA. Meski pelaksana lomba itu Diknas, namun pesertanya guru SMA dan MA. Jadi, MA sendiri, SMA sendiri. Pelaksanaannya bareng,” kata dia.

Konon, lanjutnya, Kemenag Pati ingin memberikan motivasi kepada para guru yang ada di bawah naungannya supaya bersemangat. Nah, akhirnya Kemenag Pati bekerjasama dengan Diknas untuk menyelenggarakan lomba tersebut. Lombanya gabung antara guru SMA dan MA. Satu ruangan. Namun, juaranya ada dua: MA dan SMA. “Semua prosesnya sama. Presentasi di ruang yang sama dengan juri yang sama. Cuma dibedakan antara guru MA dan SMA,” papar Widya.

Meski diselenggarakan bulan Maret, namun penerimaan piala baru pada Mei 2015. Widya menceritakan, dulunya lomba tersebut menggunakan istilah “guru teladan”, namun kini diubah istilahnya menjadi “guru berprestasi”. Adapun cara lombanya, para peserta menyusun karya ilmiah dan membuat portofolio yang berisi aneka kegiatan atau aktivitas yang pernah dilakukan. Misalnya, di sekolah tersebut sang guru selain mengajar juga memiliki tugas lain.

“Seperti saya, misalnya, pernah jadi koordinator prodi IPS selama delapan tahun. Lalu, menjadi pembimbing olimpiade karya ilmiah remaja, pembimbing teater, pembimbing apa namanya kayak ada lomba orasi, cerdas cermat, atau lomba debat. Nah, itu dirangkum menjadi satu. Karya ilmiah pertama saya ambil penelitian tindakan kelas (PTK) untuk materi saya sendiri,” ujarnya.

Ditanya tentang suka-duka pencapaian prestasi, Widya mengatakan untuk kategori prestasi formal ini ia mengerjakan risetnya sendiri dengan biaya sendiri. Tidak ada supporting bantuan dari pihak manapun termasuk dari sekolah. Pada akhirnya, diberi insentif dari pihak sekolah lantaran meski dapat juara I namun tidak mendapat hadiah uang pembinaan.

“Jadi, dari Diknas tidak ada hadiah apa-apa selain piala sama sertifikat saja. Padahal penelitian butuh biaya macam-macam. Tapi nggak apa-apa. Tujuan kami sebenarnya bukan itu. Tujuan kami bukan untuk mendapatkan hadiahnya. Tapi tujuan saya adalah bagaimana saya memiliki karya yang bisa menginspirasi banyak orang,” ujarnya.

Ia terpacu mengikuti lomba guru berprestasi ketika terlibat konflik personal dengan salah satu stakeholders madrasah di tempatnya mengajar. “Saya sebenarnya memiliki motivasi tersendiri. Jadi, pada saat saya mengikuti lomba ini pada saat yang sama saya sedang mengalami konflik dengan kepala Aliyah Salafiyah. Ini saya fair saja,” ujarnya mantap.

Pada saat itu, ada pihak ketiga yang mencoba untuk “meracuni” kepala sekolah terkait dirinya yang dianggap tidak memiliki loyalitas kepada madrasah. Akhirnya konflik pun tak terhindarkan. “Konfliknya sangat personal banget. Jadi, saya tidak bisa share. Intinya saya merasa didzalimi. Lalu, saya ingin buktikan bahwa saya memang memiliki loyalitas yang tinggi kepada madrasah. Saya memiliki kompetensi yang berbeda dengan yang lain. Jadi, saya buktikan dengan punya karya itu,” ucapnya berkaca-kaca.

Ia merasa bersyukur sekali ketika hasil risetnya selesai dan siap dilombakan. Lalu ia datangi sang kepala sekolah sembari bicara baik-baik soal lomba guru berprestasi. “Bapak, saya minta izin untuk mengikuti lomba guru berprestasi atas nama MA Salafiyah. Respon beliau, sangat kaget. Lalu menjawab, oh iya, silakan aja kalau memang anda mampu. Oke, pak. Saya minta restunya saja,” tuturnya.

Saat riset untuk lomba yang pertama, lanjut Widya, belum ada bantuan sama sekali baik dari yayasan maupun madrasah. Hingga ia dinyatakan sebagai juara I tingkat Kabupaten Pati, dari pihak yayasan baru tergerak untuk membantu. Kebetulan ketua yayasannya, Ulil Albab, memang sangat luar biasa kepeduliannya bagi pengembangan madrasah.

“Pak Ulil Albab sangat mendukung saya. Kata beliau, apapun yang Anda butuhkan dari fasilitas sekolah terkait lomba, silakan dipakai termasuk dana yang dibutuhkan. Sampai saya dikirim ke Kanwil Kemenag Jateng di Semarang, pihak yayasan juga memberikan sangu (uang saku),” ungkapnya.

Juara Tingkat Provinsi

Setelah bulan Maret 2015 merebut piala juara I tingkat kabupaten, Widya melaju ke tingkat provinsi Jawa Tengah pada September. “Jadi, ada waktu enam bulan untuk bikin karya ilmiah lagi yaitu karya inovatif. Saya melakukan penelitian lagi. Karena yang dikirim ke tingkat provinsi itu karya inovatif. Bukan PTK. Jadi, melakukan riset lagi,” kata jebolan Universitas Widya Gama Malang ini.

Di Kanwil Kemenag Jateng, kontingen Pati beranggotakan sembilan guru dari RA, MI, MTs, dan MA. Mereka didampingi para kepala sekolah dan pengawas. Itu adalah perjuangan yang luar biasa. Pasalnya, dari kesembilan anggota ini belum ada yang berpengalaman ikut perlombaan.

“Jadi, apa saja yang dibutuhkan itu kami mempersiapkan diri sendiri. Sampai sana ketemu para peserta yang rata-rata memiliki NIP yang mana mereka sudah sering kali mengikuti kegiatan seperti itu yang digelar oleh PGRI, KKM, sedangkan kami tidak pernah sama sekali. Jadi, mereka itu sudah berpengalaman,” tuturnya.

Meski demikian, Widya cukup berbangga sebab nilai karya tulis ilmiahnya mendapat nilai tertinggi, yakni 92, kendati hanya mendapat juara tiga. Juara I dari Kabupaten Demak, dan Pekalongan mendapat juara II. Kontingen dari dua kabupaten ini nantinya yang akan mewakili Jawa Tengah untuk lomba di Jakarta.

“Juara satu dan dua nilainya justru di bawah saya. Yang satu 90, satunya lagi 89. Itu nilai karya ilmiahnya. Saya hanya kalah di presentasi. Jadi, karena kurang berpengalaman. Yang kacau lagi itu di power point. Mestinya sedikit saja, tapi punya saya terlalu banyak,” ungkapnya seraya tertawa.

Selain itu, kata dia, waktunya juga hanya sekitar dua minggu. Meski demikian, ia mengaku bangga bisa mewakili Pati di tingkat provinsi. Ia merasa mendapat ilmu banyak sekali dari kegiatan tersebut. Waktu itu, dewan juri dari Univeritas Negeri Semarang (UNNES) dan UIN Walisongo. Tempatnya di hotel Usma Ambarawa.

Widya merasa, sebagai satu-satunya guru MA yang tidak ber-NIP yang lolos tiga besar dengan pengalaman lokakarya dan seminar yang minim sekali dan pertama kalinya. Ia pernah menggagas bersama teman-teman guru ekonomi untuk membuat MGMP Ekonomi khusus guru aliyah swasta.

“Tiga tahun lalu, itu saya namakan gerakan Guru Ekonomi Madrasah Aliyah Swasta (GEMAS) sebagai perlawanan kultural sekaligus mewakili kegemasan kami terkait kesenjangan di antara guru swasta dan negeri,” ujarnya mantap.

Awal mula yang memiliki ide tersebut adalah guru Ekonomi SMA Widya. “Orang asli Ngagel namanya Pak Agus Miftah. Itu guru Ekonomi saya. Beliau lalu mengajak saya. Ayo nduk, kita kalau njagakke dari Depag (Kemenag-red) nggak bakalan ada. Anggotanya sekitar 16 orang. Saya selama ini ikut MGMP Diknas,” tuturnya.

Selama di Malang, Widya memiliki banyak kegiatan yang sangat berpengaruh di kemudian hari. “Saya anggota teater, forum kajian islam masjid (kisma), anggota himpunan mahasiswa jurusan (MHJ) ekonomi, juga di senatnya. Jadi, di macam-macam tempat dan wahana organisasi,” ungkapnya.

Bahkan, di dunia olahraga pun Widya bergabung di klub voli. Meski multitalent tapi tidak ada yang menonjol. “Saya lebih senang menjadi inspirator dan motivator saja,” katanya sambil tersipu malu.

Widya menceritakan, untuk lomba tingkat provinsi, merupakan inovasi dalam pembelajaran. “Metode pembelajaran itu kan banyak sekali. Saya membuat metode pembelajaran yang belum pernah ada. Inovasi saya, yaitu saya melakukan Study Excursion, yakni belajar di luar kelas. Karena materinya memang tentang koperasi, anak-anak saya beri surat tugas mendatangi koperasi di sekitar Kecamatan Margoyoso, Trangkil, dan Tayu,” ujarnya.

Karena para siswinya merupakan anak pondok, jadi areanya terbatas maksimal Kecamatan Trangkil untuk selatan dan tayu untuk daerah utara. Mereka mendatangi koperasi-koperasi itu hanya Jumat (hari libur) secara berkelompok.

“Tiap kelompok beranggotakan enam orang. Mereka ke sana sendiri. Saya tidak mengikuti mereka. Tapi saya berikan gambaran kepada mereka terkait informasi yang harus ditanyakan untuk membuat laporan yang nanti akan dipresentasikan di kelas dan dilanjutkan pembahasan materi. Jadi, mereka langsung visitiasi ke koperasi lalu wawancara dengan pengelola atau manajer lembaga terkait,” kata dia.

Sebelumnya, Widya menghubungi para manajer itu baik dengan surat maupun menelpon melalui ponselnya. “Yang saya punya nomor kontaknya langsung saya hubungi biar segera tahu maksud saya,” ujar Master Managemen jebolan Universitas Sebelas Maret Surakarta ini.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa studi lapangan ini hanya berlaku untuk anak kelas III MA yang ia ajar. “Kelas I pun juga saya berlakukan metode yang sama ketika saya mengajar mereka. Tapi mereka ke bank, lebih parah lagi. Jadi, saya sesuaikan dengan materi. Kelas III pernah dua kali. Sebelumnya ke pasar. Karena materinya akuntansi dagang. Jadi, mereka ke pasar langsung,” tutur Widya.

Ia mengaku menggunakan metode tersebut supaya para siswi setidaknya mendapatkan dua hal: refreshing keluar, dan materi lebih mengena karena langsung ke objek. “Jadi, kalau saya memberi contoh mereka langsung memahaminya dengan baik,” ujarnya bangga.

Widya melihat respon anak-anak senang sekali. Pasalnya, anak pondok bisa jalan keluar. “Mereka benar-benar mendapatkan pengalaman baru, ternyata dunia usaha dan dunia kerja seperti itu yaa. Terus mereka pun punya harapan bahwa besok saya pengen kerja seperti ini. Besok kalau misalnya saya nggak bisa kuliah bisa melamar di sini atau kalau saya kuliah saya mau ambil jurusan ini dan ini,” paparnya.

Yang paling membuat Widya bangga adalah, akhirnya sekolah mendirikan koperasi yang baru diresmikan tahun ini. Ditanya soal seberapa persen keberhasilan pembelajaran metode ini, jika dilihat dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM)-nya mereka tuntas semua. “Jadi, batas minimal nilai itu 82. Mereka tuntas semua, rata-rata 85 ke atas. Bahkan, ada yang dapat nilai 90. Kalau presentasinya bagus otomatis bisa tembus angka itu,” ujarnya sembari tersenyum.

Tak heran jika fakta tersebut membuat ibu tiga anak ini bangga dan bahagia. Ia mengaku sangat puas ketika terobosan pembelajarannya menjadi inspirasi bagi para siswinya.

Study Excursion

Terobosan demi terobosan Widya lakukan sejak dirinya pertama kali masuk Salafiyah pada 2005. “Ini ada sejarahnya lho. Yang jelas, saya prihatin sekali dengan kondisi mereka. Karena apa, anak sini tidak pernah lihat kota Pati. Alun-alun Pati saja mereka belum pernah lihat. Bahkan, pasar juana pun tidak pernah. Saya sungguh sangat prihatin,” ungkap Widya.

Akhirnya waktu itu Widya meminta izin kepada kepala sekolah untuk mengajak para siswi untuk belajar di luar kelas. Beruntung, kepala sekolah akhirnya mengizinkan. “Lalu, saya datang ke BPR Artha Huda Abadi untuk minta izin kunjungan ke sana. Semua anak saya ajak ke sana. Waktu itu saya ngajar Ekonomi kelas III saja. Mereka takjub luar biasa. Baru kali itu masuk sebuah bank,” ceritanya.

Yang membuat dirinya tertegun, pertanyaan-pertanyaan para siswi ke pihak bank sangat mengagetkan sekaligus menyedihkan. “Ya Allah, pertanyaan kayak gitu kok ditanyakan. Misalnya, syarat jadi pegawai bank itu apa? Lucu banget kan. Saya prihatin sekali. Memang, akses mereka keluar sangat terbatas sekali. Maklum, anak pondok. Tapi sebetulnya nggak masalah. Yang penting itu kan wawasan. Nah, wawasan mereka itu minim sekali,” ujar Widya.

Untuk menambah wawasan anak didiknya, Widya akhirnya membawa koran atau majalah setiap pelajaran yang ia ampu. Karena saat itu google masih sangat terbatas sehingga ia menjadikan media cetak sebagai bahan bacaan para siswa.

Setahun kemudian, pada 2006, Widya mengajak anak-anak ke BPR Artha Huda Abadi lagi. Tahun berikutnya, pada 2007, ia mengajak mereka ke pabrik Kacang Dua Kelinci di kota Pati. “Saat itu mereka senang sekali. Ke Kacang Dua Kelinci saja mereka senangnya luar biasa. Mereka bisa melihat langsung bagaimana kacang itu bisa berjalan sendiri mulai proses awal hingga pengepakan,” kenangnya.

Semenjak itu, setiap ada kegiatan yang bernama study excursion yang menggantikan study tour di Madrasah Salafiyah menjadi identik dengan dirinya. “Jadi, tiap ada kegiatan belajar di luar itu pasti taunya dari saya. Sebab, yang menciptakan pertama kali di situ saya. Nah, sejak itu, tiap tahun kami mengadakan study excursion. Paling jauh, kami mengunjungi Bursa Efek Indonesia yang ada di Surabaya,” ujarnya bangga.

Ditanya siapa yang menginspirasi ide tersebut, Widya mengatakan saat kuliah di Malang, Jawa Timur, ia pernah menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas Ekonomi Widya Gama Malang. Sebagai elit kampus, ia sering melakukan kegiatan seperti itu. Bahkan, aktivitas model itu sudah dimulainya sejak masih menjadi mahasiswa jurusan akhirnya menjadi Ketua BEM Fakultas.

“Saya pikir, itu merupakan satu langkah yang bagus yang menambah wawasan anak-anak. Daripada sekedar study tour, mereka kalau study excursion selalu ada ilmu yang dibawa pulang. Mereka harus bikin laporan, dan sesuai dengan materinya itu nanti mereka presentasi. Pada akhirnya tidak hanya materi Ekonomi. Ada juga materi Bahasa Indonesia juga untuk penyusunan laporannya. Di dalamnya juga Kimia, Fisika, untuk anak IPA. Kalau untuk ada IPS arahnya ke Ekonomi, Sosiologi, dan Geografi,” tuturnya.

Selain full mengajar di MA Salafiyah, Widya juga masih bisa membagi waktu mengajar di kelompok belajar dari STIE Semarang. “Saya diminta untuk membantu teman-teman mengajar di sana. Dulu, pernah ngajar di STAIMAFA selama dua tahun sampai akhirnya mendapatkan beasiswa S2 di Universitas Sebelas Maret Surakarta karena saya ngajar di STAIMAFA,” ungkapnya.

Namun, karena Widya tidak bisa lagi membagi waktu lantaran dituntut sebagai dosen tetap, sementara di Salafiyah sudah penuh mulai Sabtu hingga Kamis, ia pun berhenti mengajar di kampus Kiai Sahal tersebut. “Waktu itu bisa di STAIMAFA juga karena dulu di Salafiyah pulangnya setengah satu. Nah, sekarang sudah setengah tiga. Akhirnya, saya pun nggak bisa memilih. Sedih sekali memang,” ujarnya berkaca-kaca.

Di Madrasah Salafiyah, Widya menjadi guru tetap kelas II dan III di MA untuk mapel Ekonomi selama 32 jam pelajaran. Ibu muda kelahiran Pati, 28 Agustus 1977, ini juga masih bisa mengajar di Universitas Wahid Hasyim cabang Asempapan khusus hari Jumat untuk mata kuliah Manajemen Keuangan.

Senam Perut di Sekolah

Di sekolah, Widya memiliki ide gerakan senam perut untuk pelajar putri. Kenapa harus melakukan senam perut? Diam-diam ia menyiapkan satu “senjata” untuk testimoni keperawanan bagi para siswinya. “Sebulan sekali para siswi mesti saya kejutkan dengan senam perut. yuk persiapan senam perut. Jilbab pun disingkap ke samping. Tangannya ditaruh di atas perut. Tarik nafas, tahan, terus lepaskan pelan-pelan. Terus seperti itu hingga sepuluh kali,” paparnya.

Menurut dia, fungsi senam ini untuk mengetahui siswi yang hamil. “Itu adalah cara saya untuk membenamkan anak supaya malu kalau berbuat seperti itu. Pasti dia akan berpikir, kalau Bu Wid ngajak senam perut nanti pasti ketahuan. Sehingga dia akan berfikir. Jangan sampai terjadi begitu,” kata dia.

Widya sangat prihatin. Pasalnya, ia mengaku pernah mendapati beberapa siswi yang ketahuan hamil setelah senam perut. Tidak hanya di Salafiyah, tapi juga di beberapa madrasah lainnya. Ironisnya, mereka ada yang masih duduk di tsanawiyah. “Jadi, cara saya untuk mengantisipasi dengan cara demikian. Jadi kalau saya datang di kelas 1 saya juga begitu. Mulai saya perkenalkan cara itu seperti anak kelas 2 dan 3,” ujarnya.

Dengan posisi berdiri, Widya mendeteksi jika mereka sedang hamil pasti nggak kuat hitungan kelima. Ketika ia hamil, ia lalu mempraktikkan senam tersebut ternyata ia tidak kuat. Saat menjumpai yang begitu, perasaannya hancur berkeping-keping. Sakit sekali. Widya lalu mengambil tindakan dengan cara pemanggilan khusus sembari dialog dengan yang bersangkutan di sekolahan.

“Saya tanya siapa pelakunya, berapa kali dilakukan. Akhirnya saya tahan untuk tidak membocorkannya kepada siapapun karena ujian tinggal sebulan. Saya harus menyelamatkan anak itu. Setelah ujian selesai, baru saya melakukan tindakan lebih lanjut. Sakit banget. Jadi guru tidak hanya sebagai orang yang mentransfer ilmu. Tapi, harus all out seluruh jiwa raganya, seluruh mindset dan pengetahuannya, serta wawasan harus kita berikan,” ujar Widya bersemangat.

Pasalnya, kata dia, murid tersebut dititipkan oleh orang tuanya begitu saja kepada guru. Orang tua di rumah yakin bahwa anaknya akan diajari kebaikan oleh gurunya. “Jadi, apapun kebaikan yang saya miliki akan saya berikan kepada mereka. Kalaupun kita harus menyelamatkan anak itu dengan cara apapun harus kita lakukan,” tandasnya.

Karena kalau ketahuan, tambahnya, pasti akan ramai. Orang tuanya pasti sakit, sudah begitu anaknya akan dikeluarkan dari sekolah. Sudah aib, rugi, pengorbanan selama tiga tahun tidak ada artinya. “Jadi, kalau kita masih bisa berbuat sesuatu untuk orang lain apa salahnya,” sergah Widya.

Memang, ketegasan pihak sekolah dengan mengeluarkan anak tersebut sangat wajar. “Tapi kita kan punya hati. Jadi kita lihat kalau masanya memang masih jauh dengan ujian ya kita bisa lakukan yang terbaik bagi semua. Tapi kalau waktunya tinggal sebulan bagaimana. Meski secara nurani tidak bisa membenarkan tapi saya antisipasi seperti sejak dini,” tambahnya.

Senam perut itu merupakan pendidikan seks sejak dini bagi siswi yang menginjak usia remaja. Ia katakan kepada mereka bahwa anak usia di bawah usia 16 tahun yang sudah melakukan hubungan seksual itu sangat berbahaya karena bisa kena kanker serviks.

“Senam perut ini kan sebenarnya ilmu meditasi dari aktivis teater. Kalau mereka nggak dikasih tau begitu tentu masih menganggap bahwa pendidikan seks itu tabu. Nah, saya mencoba mendobrak itu. Sehingga karena ketidaktahuannya mereka jatuh ke lubang kesalahan,” kata Widya.

13 Widya Lestari

Pencetus “Akar Ilalang”

Di luar sekolah dan kampus, Widya juga masih meluangkan waktu untuk anak-anak sekitar rumahnya belajar. Anak-anak asuhnya ini diberi nama “Akar Ilalang”. Bercerita tentang aktivitas anak-anak Akar Ilalang, mereka belajarnya usai Maghrib. “Jika mereka mau pentas, maka saya suruh datang lebih awal,” ujar ibu yang enerjik ini.

Widya yang memiliki tiga anak: Jelang Sasi Siam (10 tahun) kelas V SD, Juang Anugrah Langit (4,5 tahun), dan ini merasa anak-anak tetangganya itu memiliki kemampuan untuk maju.

“Rumah Akar Ilalang itu merupakan satu impian saya. Saya pengen memiliki lembaga pendidikan yang diperuntukkan bagi anak-anak miskin dan mereka bisa sekolah gratis tanpa harus membayar apapun dan direpoti dengan apapun. Itu masih impian saya. Tapi untuk mencapai impian itu kan nggak mudah. Sebab, kita harus punya gedung, harus punya sumber daya dan lain sebagainya,” ujarnya.

Nah, karena keterbatasan-keterbatasan itu akhirnya Widya berpikir apakah dengan keterbatasan yang ada ini apakah ia tidak bisa berbuat apa-apa? Can’t do something? “Akhirnya saya berfikir gini, anak saya itu kalau saya tinggal, jam setengah lima sore belum juga mandi. Masih maen ke mana-mana. Nah, terus saya berpikir ini bagaimana caranya, sudahlah gini aja, saya bawa mereka ke musholla dulu di depan rumah. Berarti, anak saya harus sudah mandi,” kata dia.

Widya lalu menyuruh anaknya ke musholla bersama teman-temannya. Jadi tidak ada yang main-main lagi. Semula ia juga melibatkan anak-anak remaja untuk gabung. Di musholla itu ia buat jadwal. Misalnya, hari senin cerita tentang kisah nabi, lalu selasa membaca cerita tentang orang-orang hebat. Rabu, belajar mewarnai. Trus hari kamis, belajar lain lagi atau hafalan surat pendek, sambil nyanyi-nyanyi ‘Tepuk Anak Sholeh’, misalnya. “Ada sekitar 40 anak yang aktif di situ,” kata Widya.

Seiring berjalannya waktu, anak-anak di situ makin rajin belajar hinggga maghrib menjelang. “Mereka terus sholat maghrib. Lalu, ngaji kepada kiainya musholla. Nah, yang selesai ngaji belajar sama saya tentang pelajaran sekolah. Tapi lama-lama, itu ternyata tidak disukai para orang tua. Alasannya, musholla tidak boleh digunakan untuk kegiatan selain mengaji dan ibadah,” kata Widya menirukan warga.

Daripada terjadi konflik dengan warga, Widya lalu melapor ke Pak RT untuk memindahkan belajar anak-anak ke rumahnya. “Saya bilang ke beliau, lebih baik saya pindah ke rumah saja belajarnya. Terus, kegiatan itu pindah ke sana semua, tepatnya rumah ibu saya. Akhirnya, guru ngajinya juga mutung ngajari ngaji. Malah sekarang guru ngaji tersebut pergi dari desa ini,” tuturnya.

Lalu, anak-anak ngaji di luar. Ke sininya usai maghrib. Mereka tidak lagi seperti yang sebelumnya. Mereka kalau usai maghrib belajar semua. Untuk hari Jumat dan Ahad mereka latihan menari, baca puisi, drama.

Ditanya soal nama Akar Ilalang, Widya menjelaskan sebenarnya yang memberi nama adalah teman-temannya dari perkumpulan pecinta seni dan sastra se-Margoyoso bernama “Gandrung Sastra”. Beberapa waktu lalu, saat ia mendirikan kegiatan ini mereka ramai-ramai datang ke sini.

“Ini mestinya kamu kasih nama gitu. Nama apa yaa?! Ya apa aja lah. Lalu adik saya usul gini, Akar Ilalang aja. Kenapa akar ilalang? Itu kan mereka anak kecil dari kalangan tidak mampu. Jadi, kami berharap akar ilalang itu kan nggak kepakai. Apalagi akarnya, lha wong ilalangnya aja nggak kepakai kok. Betul nggak? Tapi, kita buat supaya kepakai,” ungkapnya.

Terbukti, anak-anak asuhnya itu termasuk golongan orang miskin, kelihatan tidak pandai dan kumel. Rerata mereka tidak pernah diberi kesempatan oleh pihak sekolah untuk berprestasi. Sebab, yang diberi kesempatan pasti anak yang cantik, ganteng, bersih, pinter, atau anaknya orang kaya. Lalu, anak-anak yang kebetulan tidak seperti kategori ini tidak akan pernah dapat kesempatan untuk menunjukkan talentanya.

“Di sini, mereka kami beri kebisaan. Mereka pun lalu bisa mementaskan kebisaan mereka di beberapa tempat. Dan itu menjadi kebanggaan yang besar bagi mereka dan orang tua mereka. Contohnya anak saya, saya kan tidak pernah menunjukkan jati diri saya kepada pihak sekolah. Anak saya tidak pernah diberi kesempatan untuk berprestasi apapun. Lomba apapun tidak pernah diikutkan. Begitu mengetahui anak saya pernah pentas di beberapa kesempatan di kecamatan, akhirnya diberi kesempatan,” ujarnya bangga.

Bahkan, kemarin anaknya diminta melatih kawan-kawan sekelasnya belajar tari saman untuk pentas Hardiknas. Di situ diumumkan bahwa ini adalah kreasi dari  Mbak Sasi dari akar ilalang. Dan ini membanggakan bagi semua. “Bahkan, anak-anak MI di desa saya ini lulus dengan NEM terbaik dan bisa melanjutkan dan diterima di SMP favorit di kecamatan ini,” kata dia.

Biasanya, nilai anak-anak MI di daerahnya rendah. Banyak orang tua yang tidak percaya, kok bisa ya anak itu diterima di SMP 1 Margoyoso?! “Kan nggak mungkin nyogok karena anaknya orang miskin. Jadi, kalau nggak cerdas nggak mungkin keterima kan?! Kan ada tuh yang keterima di Mathole’ (Matholi’ul Falah) juga tanpa tes,” ungkapnya.

Anak-anak Akar Ilalang biasanya belajar usai Maghrib. Selain menari, mereka juga latihan baca puisi dan bermain drama. Bagi Widya, pendidikan melalui seni sangat bermanfaat bagi perkembangan anak. “Saya hanya ingin memberi inspirasi bagi mereka, bahwa jika mereka memiliki satu keahlian yang bisa bisa dilihat banyak orang kan mereka seperti mendapatkan pengakuan,” ujarnya bangga.

Mengutip teori Maslow, Widya menyebut kebutuhan yang paling tinggi adalah aktualisasi diri. “Nah, ini lho saya. Kan bisa meningkatkan motivasi diri. Meski demikian, pinter nari dan puisi kalau tidak punya nilai tinggi di sekolah juga sama saja kosong. Setelah saya bilang begitu, mereka lalu tergerak dan bersemangat untuk belajar mata pelajaran sekolah. Kalian bisa lebih berprestasi tidak hanya pandai di satu bidang,” kata Widya suatu ketika.

Menjelang penampilan seni, anak-anak Akar Ilalang tetap semangat dan merasa tidak terbebani oleh padatnya jadwal latihan. Mereka tetap enjoy dan riang gembira. (Ali M. Asrori)

Mengapa Sistem Pendidikan Finlandia Terbaik di Dunia? Ini Rahasianya

[caption id="attachment_2125" align="aligncenter" width="569"]Gambar ilustrasi/cirebontrust Gambar ilustrasi/cirebontrust[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Finlandia adalah salah satu negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia dalam berbagai versi, termasuk versi World Economy Forum. Pada tahun 2000, negara ini bahkan berhasil mencapai tingkat Literacy (kemampuan baca) hingga 100 persen, yang artinya tidak ada satupun warganya yang buta huruf. Negara ini juga memakai sistem pendidikan yang sama sejak tahun 1970. Apa yang membuat pendidikan di negara yang ada di benua Eropa ini sangat maju? Berikut rahasianya!

Anak-Anak Tidak Boleh Sekolah Sebelum Berumur 7 Tahun. Di negara ini, tidak akan ada yang menerima murid jika umur murid tersebut belum genap 7 tahun. Semua anak yang berumur di bawah 7 tahun hanya diperbolehkan bermain, tanpa beban untuk sekolah. Hal ini diterapkan karena menurut pemerintah Finlandia, otak anak justru akan rusak jika diberikan pelajaran seperti membaca atau menghitung sebelum usia mereka cukup. Di umur-umur tersebut anak-anak sebaiknya dibiarkan lebih banyak bermain dan mengeksplorasi dunianya.

Setiap Kelas Hanya Boleh Diisi 16 Anak. Di Finlandia, tidak akan pernah menemukan kelas yang penuh sesak dengan murid. Di negara ini, setiap kelas dibatasi hanya untuk 16 murid saja. Ini membuat para murid memiliki ruang gerak yang lebih luas, sehingga mereka memiliki ruang untuk bereksperimen dan membuat alat-alat praktek dari apa yang telah mereka pelajari di kelas. Namun, ruang kelas bukanlah satu-satunya tempat belajar. Di negara ini, kebanyakan kegiatan belajar-mengajar dilakukan di luar ruangan agar suasana tidak membosankan bagi para murid.

Pendidikan 100 persen Dibiayai oleh Pemerintah. Finlandia adalah satu dari sedikit sekali negara yang memberikan pendidikan yang benar-benar gratis kepada rakyatnya. Seluruh jenjang pendidikan di negara ini tidak memungut bayaran apapun. Di sini, anda bisa mendapatkan pendidikan gratis mulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, Sekolah Menengah Atas, hingga kuliah. Bahkan jika anda sudah lulus kuliah, sudah bekerja dan memiliki anak, jika anda ingin mempelajari sesuatu, anda akan diberi sekolah lanjutan gratis sesuai minat anda. Lebih keren lagi, seluruh sekolah di Finlandia menyediakan makanan gratis bagi para muridnya setiap hari.

Tidak Ada Sistem “Pintar” dan “Bodoh”. Setelah anak usia 7 tahun masuk di sekolah di Finlandia, pihak sekolah tidak akan melakukan tes apapun. Tugas mereka hanyalah belajar, dan tidak ada label “pintar” atau “bodoh”. Semua anak akan diarahkan menurut minat dan bakatnya masing-masing tanpa adanya pemaksaan. Setelah enam tahun berada di sekolah, barulah diadakan tes resmi untuk mengukur kemampuan si anak. Tes tersebut hanya bertujuan mengukur kemampuan, bukan untuk memberi rangking 1 dan seterusnya. Sehingga, tidak ada anak yang merasa dirinya “gagal” karena mendapat nilai buruk di kelas. Semua yang mendapat hasil tes kurang baik, akan dibimbing lebih intens.

Para Guru Diambil dari Kalangan Terbaik. Syarat menjadi guru di Finlandia cukuplah ketat. Mereka harus memiliki gelar master (S2) dan harus masuk dari jajaran 10 persen lulusan terbaik dari Universitasnya. Di negara ini menjadi guru adalah sebuah kehormatan. Menjadi guru di Finlandia adalah kebanggaan yang sama seperti menjadi dokter ataupun pengacara ternama. Guru-guru di sini juga dibayar dengan sangat baik oleh pemerintah dan tidak ada batasan maksimal bagi gaji guru. Wow! Sementara di Indonesia??? (Red: Fathoni Ahmad)

Source: cirebontrust

Friday, July 1, 2016

Pesantren Khusus Guru Tahfidz Akan Segera Dibuka

daarul qur'an
Jakarta, PendidikanIslam.ID – Pada tahun-tahun ini pesantren tahfidz sudah mulai menjamur dan santrinya pun sudah semakin banyak. Dengan santri yang mulai bergairah tersebut, tentunya harus diiring tenaga pengajar yang memadai. Oleh karena itu, Program Pembibitan Penghafal Al Quran (PPPA) Daarul Quran asuhan Yusuf Mansyur akan membuka pesantren tahfidz bagi guru di Karawang, Jawa Barat.


Berdasarkan pantauan antaranews.com, Rabu (22/6), dengan mendapat dukungan dari Pertamina Gas, akan mendidik 50 anak muda penghafal Al Quran untuk menjadi guru.


"Pesantren ini nantinya akan menghasilkan guru-guru tahfidz untuk dikirim ke seluruh desa-desa di seluruh Indonesia," kata Ustadz Yusuf Mansur.

Berbeda dengan pesantren Daarul Quran yang menghasilkan para penghafal Al Quran, pesantren kali ini mensyaratkan para santrinya untuk hafal 30 juz Al Quran lebih dulu.


"Mereka nantinya akan dididik, mulai dari metodologi untuk menjadi guru-guru tahfidz," kata Yusuf.


Presiden Direktur Pertagas Hendra Jaya mewakili Badan Dakwah Islam (BDI) Pertagas menyatakan dukungan penuh pada pesantren khusus guru tahfidz tersebut.

"Keberadaan pesantren ini penting, karena bisa mencetak kader-kader yang berkualitas. Untuk itu BDI Pertamina Gas menyatakan dukungannya dalam mewujudkan generasi yang bermanfaat bagi bangsa dan agama," kata Hendra.

Pertamina akan memberikan dana bantuan sebesar Rp1 miliar untuk 50 santri selama lima tahun masa pendidikan. (@viva_tnu)

Komunitas Santri Penerima Beasiswa Kemenag Dirikan Posko Mudik, Ini Lokasinya

[caption id="attachment_2120" align="aligncenter" width="640"]Posko Mudik Santri CSSMoRA tahun lalu. Posko Mudik Santri CSSMoRA tahun lalu.[/caption]

SEMARANG, PENDIDIKANISLAM.ID - Seperti tahun-tahun sebelumnya, Pengurus Nasional CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) pada 2016 ini kembali membuka layanan posko mudik di 3 kota, yakni Semarang, Pasuruan dan Makassar yang berlangsung tanggal 1-4 Juli 2016.

Adapun lokasinya, pertama di depan Masjid Jami’ Baitul Izzah, Ngilir Terboyo Wetan, Genuk, Semarang; depan Masjid Muhammad Cheng Ho, Petungsari, Pandaan, Pasuruan; depan Masjid Raya Makassar.

Sementara fasilitas yang disediakan oleh organisasi mahasiswa Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) ini di antaranya, cek kesehatan, tempat istirahat, konsultasi pendidikan perguruan tinggi dan pondok pesantren, wifi area, pembagian takjil berbuka dan hidangan sahur, dan lain-lain. Semua fasilitas diberikan secara gratis.

Menurut Ketua Umum CSSMoRA Nasional Muhammad Zidni Nafi', dari tahun ke tahun pelayanan posko mudik lebaran selalu dibuka lantaran kesadaran bersama dari anggota CSSMoRA untuk ikut berkontribusi dalam melancarkan tradisi mudik masyarakat.

"Ini bagian dari pelayanan serta pengabdian santri kepada masyarakat, sekaligus mempraktikkan ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi," kata Zidni melalui pers rilisnya, Kamis (30/6).

"Apalagi ada ratusan santri anggota CSSMoRA yang masih studi di bidang kesehatan, kedokteran, teknologi, dan lain-lain, sehingga sedikit banyak dapat diamalkan untuk melayani pemudik dan masyarakat sekitar lokasi posko," tambahnya.

Zidni menghimbau kepada masyarakat atau pemudik yang melewati ketiga lokasi posko tersebut untuk bisa mengunjungi stand posko yang dibuka oleh santri-santri CSSMoRA.

"Kami siap untuk melayani. Semoga berawal dari langkah kecil ini, banyak dari kalangan santri muda semakin memperluas jaringan pengabdiannya untuk kemaslahatan masyarakat luas," pungkas santri asal Kudus yang sedang menempuh studi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung itu. (Red: Fathoni Ahmad)

261 Pesantren se-Jabar, akan Andil Awasi Pilkada Serentak

[caption id="attachment_2109" align="aligncenter" width="600"]Tempat Pemungutan Suara Tempat Pemungutan Suara[/caption]

Bandung, PendidikanIslam.ID –  Peran serta masyarakat khususnya pesantren tidak terbatas pada dunia pendidikan belaka namun menyangkut sosial politik-kenegaraan sangat dibutuhkan. Oleh karena itu Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Jawa Barat melibatkan pondok pesantren yang berada di Jawa Barat melakukan pengawasan‎ terhadap pesta demokrasi di Jabar dalam waktu dekat ini. Salah satunya, dengan menggandeng 261 pesantren se-Jabar.


sebagaimana dibertitakan di republika.co.id, pada 2017 mendatang tiga daerah di Jawa Barat akan menggelar Pilkada serentak. Yakni, Kota Cimahi, Kota Tasikmalaya, dan Kabupaten Bekasi. Sementara pada 2018, akan digelar pemilihan gubernur Jabar.


"Untuk pesantren misalnya, santri-santri dilibatkan untuk pengawasan karena mereka netral dan berintegritas baik," ujar Ketua Bawaslu Jawa Barat, Harminus Koto, Selasa (28/6).


Menurut Harminus, pesantren ini tidak akan dukung mendukung. Pesantren, justru bisa bersikap netral sehingga pengawasan akan lebih baik. Semua elemen yang ada di pesantren, nantinya akan dilibatkan dalam pengawasan untuk pemilihan bupati/wali kota sampai gubernur.


"Bisa jadi pengawas, mengawasi masyarakat juga, ya kayak relawan," katanya.


Saat ini, kata dia, penjajakan ke pesantren sudah mulai dilakukan. Nantinya Bawaslu Jabar akan membuat kesepakatan kerja sama resmi dengan pesantren tersebut. Temasuk, memberikan pelatihan pada semua santri.


Selain mengambil relawan santri, kata Harminus, pihaknya dalam melakukan pengawasan pemilihan akan melibatkan masyarakat umum yang sudah memiliki hak pilih, ormas dan lembaga. Dengan catatan, pengawas partisipasi itu tidak memiliki kaitannya dengan partai politik. (@viva_tnu)