Showing posts with label Santri. Show all posts
Showing posts with label Santri. Show all posts

Monday, October 24, 2016

Puluhan Ribu Santri Terima Manfaat Kartu Indonesia Pintar

[caption id="attachment_2819" align="aligncenter" width="590"]Foto ilustrasi santri. Foto ilustrasi santri.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, H Mohsen mengatakan bahwa sebanyak 55.689 santri sudah menerima penyaluran dana manfaat Program Indonesia Pintar (PIP).

Menurutnya, angka ini adalah yang sudah tercatat sampai dengan pertengahan Oktober 2016 dan jumlahnya akan terus meningkat bersamaan dengan progres pencairan anggaran.

Tahun ini, Kementerian Agama telah mengalokasikan anggaran manfaat Program Indonesia Pintar (PIP) untuk santri pondok pesantren sebesar Rp. 159.921.500.000,-. Anggaran ini diperuntukan bagi 190.000 santri yang tersebar di seluruh Indonesia.

“Anggaran manfaat PIP yang sudah disalurkan berjumlah Rp. 42.496.500.000,- dan akan terus meningkat bersamaan dengan progres pencairan anggaran,” terang Mohsen seperti diberitakan Antara mengutip keterangan tertulis Kementerian Agama, Sabtu (22/10).

Mantan Kakanwil Sulawesi Tengah ini menambahkan bahwa saat ini pihaknya terus memperbarui informasi penyaluran anggaran manfaat PIP untuk santri Pondok Pesantren karena sebagian anggaran berada di Kanwil Kemenag Provinsi dan Kantor Kemenag Kabupaten/Kota.

Menurut Mohsen, penerima manfaat PIP ini adalah para santri pondok pesantren yang telah memenuhi kriteria sebagai berikut: [1] Santri pada pondok pesantren; [2] tidak sedang mengikuti layanan pendidikan formal, seperti sekolah (SD/SMP/SMA/SMK) dan madrasah (MI/MTs/MA); [3] berasal dari keluarga miskin.

“Persyaratan untuk membuktikan ketiga kriteria itu didukung dengan sejumlah data dan bukti-bukti otentik, seperti Nomor Kartu Keluarga, Nomor KTP, penghasilan orang tua dan data-data keluarga lainnya serta surat keterangan miskin, untuk menghindari penyalahgunaan anggaran negara,” ujarnya.

42.593 Kartu Indonesia Pintar

Seiring dengan penyaluran manfaat PIP, Kementerian Agama juga terus memproses pencetakan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Sebanyak 727 KIP sudah tercetak dan secara simbolis akan diserahkan Sabtu ini kepada santri, bersamaan dengan peringatan Hari Santri dan gelaran Pekan Olah Raga dan Seni Pondok Pesantren Nasional (Pospenas) VII di Serang, Banten.

“Sebanyak 41.866 KIP diperkirakan akan selesai pada akhir Oktober 2016 untuk kemudian langsung didistribusikan ke para santri penerima,” jelasnya.

Mohsen mengakui bahwa proses penerbitan KIP ini sedikit terlambat. Pasalnya, KIP baru bisa diterbitkan setelah diverifikasi dengan Basis Data Terpadu yang dimiliki oleh Tim TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan).

Selain itu, proses pendataan juga terkendala karena santri pondok pesantren sebagian besar berjauhan dari tempat tinggal orang tua, bahkan sampai beda provinsi. Komunikasi antar santri dan orang tua terbatas, apalagi di sebagian besar pondok pesantren santri memang dilarang menggunakan handphone atau alat komunikasi.

Meski demikian, proses pencetakan KIP terus dilakukan hingga baik kartu maupun manfaatnya bisa disalurkan secara optimal dan penuh tanggung jawab.

Berdasarkan data EMIS (Education Management Information System) Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI tahun 2015/2016, di Indonesia terdapat 28.961 pondok pesantren. Sebanyak 15.057 (51.99%) disebut pesantren salafiyah (santri hanya mengaji saja). Sisanya, 13.904 (48.01%), merupakan pesantren yang selain pengajian, juga mengadakan pendidikan formal dan nonformal.

Adapun total santri pondok pesantren berjumlah 4.028.668 orang. Sebanyak 1.858.352 santri (46.13 %) mengikuti layanan pendidikan Madrasah (MI/MTs/MA), 1.343.230 santri (33.34 %), mengikuti layanan pendidikan Sekolah (SD/SMP/SMA/SMK).

Selain itu, 67.320 santri (1.67 %) mengikuti layanan perguruan tinggi. 82.046 santri (2.04 %) mengikuti layanan Pendidikan Kesetaraan (Program Wajar Dikdas Salafiyah Ula/Wustha, Paket A/B/C). Dan, sebanyak 677.712 santri (16.82 %) hanya mengaji kitab saja.

Red: Fathoni Ahmad

Friday, October 21, 2016

Apa Itu Hari Santri? Mengapa Diperingati 22 Oktober?

[caption id="attachment_2792" align="aligncenter" width="620"]Ilustasi: Para santri mengikuti upacara bendera 17 Agustus 2016 Ilustasi: Para santri mengikuti upacara bendera 17 Agustus 2016[/caption]

Presiden Joko Widodo secara resmi menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Penetapan yang dilakukan di Masjid Istiqlal Jakarta, pada hari Kamis tanggal 22 Oktober tahun 2015 lalu. Apa itu hari santri dan kenapa diperingati pada tanggal 22 Oktober?

Tanggal 22 Oktober merujuk pada satu peristiwa bersejarah yakni seruan yang dibacakan oleh Pahlawan Nasional KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Seruan ini berisikan perintah kepada umat Islam untuk berperang (jihad) melawan tentara Sekutu yang ingin menjajah kembali wilayah Republik Indonesia pasca-Proklamasi Kemerdekaan. Sekutu ini maksudnya adalah Inggis sebagai pemenang Perang Dunia II untuk mengambil alih tanah jajahan Jepang. Di belakang tentaran Inggris, ada pasukan Belanda yang ikut membonceng.

Maka keluarlah seruan itu. Seruan yang dikenal dengan “Resolusi Jihad” itu memicu perlawanan umat Islam di sejumlah daerah, terutama di Surabaya pada 10 November 1945.

Menurut Presiden Jokowi, penetapan hari santri dimaksudkan untuk meneladani semangat jihad keindonesiaan yang digelorakan para ulama.

“Para santri selalu ingat untuk berjihad untuk bangsa, untuk Tanah Air dan tumpah darah Indonesia kita tercinta. Untuk itu, dengan seluruh pertimbangan, pemerintah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional,” kata Presiden Jokowi di Masjid Istiqlal Jakarta, kala itu.

Ada beberapa ulama masyhur lainnya yang membantu penguatan resonansi Resolusi Jihad. Mereka antara lain KH A Wahab Chasbullah (Jombang) yang pada tahun lalu juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Lalu ada juga KH Bisri Syamsuri (Jombang), KH M Dahlan (Surabaya), KH Tohir Bakri (Surabaya), KH Ridwan Abdullah, KH Sahal Mansur, KH Abdul Djalil (Kudus), KH M Ilyas (Pekalongan) KH Abdul Halim Siddiq (Jember), dan KH Saifudin Zuhri (Jakarta).

Bersama para ulama tersebut, KH Hasyim Asy’ari terus memperkuat fatwa Resolusi Jihad dan menggerakkan kaum santri dari berbagai daerah termasuk dari Cirebon Jawa Barat untuk berjuang ke Surabaya melalui barisan paramiliter Hizbullah, Sabilillah dan Mujahidin.

Menurut Presiden, kesejarahan santri dalam menjaga NKRI menjadi pertimbangan pemerintah dalam menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri.

Selain KH Hasyim Asy’ari yang juga dikenal dengan sebutan “Sang Kiai” atau Hadratus Syaikh, Presiden juga tidak lupa mengapresiasi sejumlah ulama yang memiliki peran penting dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), A Hassan (Persis), Ahmad Syurkati (Al-Irsyad) dan Mas Abdul Rahman (Mathla’ul Anwar).

Point penting catatan singkat ini adalah bahwa penetapan Hari Santri Nasional merupakan pengakuan resmi pemerintah Indonesia atas peran besar umat Islam dalam berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan serta menjaga NKRI. Ini sekaligus merevisi beberapa catatan sejarah nasional, terutama yang ditulis pada masa Orde Baru, yang hampir tidak menyebut peran ulama dan kaum santri. [Red: Anam]

Thursday, August 18, 2016

Metamorfosis Pesantren

[caption id="attachment_2459" align="aligncenter" width="465"]Para Santri Sedang Menghafal Nadzam Para Santri Sedang Menghafal Nadzam[/caption]


Berbagai studi tentang pesantren menunjukkan, meski pelan pesantren senantiasa mengalami perubahan. Namun karena sangat pelan, perubahan-perubahan itu baru bisa dikenali melalui waktu yang panjang. Dalam ilmu sejarah hal demikian dikenal sebagai longe-durée, yaitu sejarah jangka panjang terkait dengan perubahan struktural yang lambat sekali. Di sini diperlukan ketelitian dan ketelatenan dalam mengikuti denyut-denyut kecil perubahan itu.


Perubahan dalam pesantren senantiasa dikaitkan dengan figur kiai. Dalam studinya Manfred Ziemek (1983) misalnya, membuktikan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berpengaruh penting bagi perubahan sosial masyarakat desa. Demikian juga dengan Hiroko Horikoshi (1987) menyoroti peran kiai sebagai aktor penting dalam perubahan sosial. Menurutnya, kiai berperan penting sebagai penyaring informasi untuk memacu perubahan pesantren dan masyarakat sekitarnya. Kiai juga bertindak sebagai mediator dan cultural broker (makelar budaya).


Meski peneliti-peneliti tersebut berhasil membuktikan perubahan-perubahan di pesantren dan peran kiai dalam proses perubahan itu, namun perubahan itu tetap dalam konteks pengembangan peran pesantren. Aspek-aspek ideologis pesantren masih tetap dalam bingkai kulturalnya.


Namun, dalam waktu yang panjang perubahan dalam pesantren tidak selalu menuju ke arah yang dikehendaki. Ada perubahan-perubahan menuju ke arah yang mengkhawatirkan, yaitu metamorfosis sejumlah pesantren menjadi kekuatan wahabisme. Hal ini diamati secara cermat dalam disertasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ditulis M. Suparta, sekarang menjabat sebagai Irjen Depag RI. Disertasi ini diujikan pada akhir Agustus 2008 lalu.


Studi tentang perubahan orientasi pesantren ini mengambil fokus dua pesantren, yaitu Maskumambang Gresik dan al-Fatah Magetan. Disertasi yang diujikan 20/9/08 lalu itu memperlihatkan bahwa perubahan orientasi keilmuan kiai mempunyai pengaruh besar untuk mengubah wajah pesantren yang pada gilirannya mempengaruhi wajah keagamaan masyarakat.


Dua pesantren yang distudi disertasi ini termasuk pesantren tua. Pesantren Maskumambang berdiri tahun 1859 oleh Kiai Abdul Jabbar (w. 1907), dan pesantren al-Fatah didirikan pada 1912 oleh Kiai Siddiq (w. 1950). Pada awalnya dua pesantren ini dapat dikatakan sebagai tipikal pesantren NU yang mengembangkan paham ahl al-sunnah wa al-jama’ah (aswaja).


Namun dalam perjalanannya, kedua pesantren tersebut berganti wajah. Pesantren Maskumambang berganti wajah dari pesantren salafiyah-aswaja menjadi modern-wahabi. Sedang al-Fatah Magetan berubah dari salafiyah-tarekat-aswaja menjadi pesantren berwajah majlis tabligh.


Perubahan itu merupakan hasil dari interaksi dua pesantren ini dengan dunia luar. Pesantren Maskumambang bergerak ke arah wahabi pada generasi ke dua, yang diwakili figur Kiai Ammar Faqih (w.1965) setelah dia belajar ke Mekah dan Madinah dan persentuhannya dengan karya Muhammad bin Abdul Wahab, Kitab al-Tauhid ketika menjalankan ibadah haji. Perubahan orientasi Pesantren Maskumambang semakin jelas ketika Kiai Nadjih Ahjad mengganti posisi Kiai Ammar Faqih.


Sedang pesantren al-Fatah Magetan berubah wajah menjadi majlis tablig setelah pengasuhnya, Kiai Uzairon belajar ke Mesir dan Kiai Noor Tohir belajar ke Mekah. Kedua pengasuh al-Fatah tersebut berkenalan dengan majlis tablig yang didirikan Maulana Muhammad Ilyas bin Muhammad Ismail al-Kandahlawi (w. 1944). Hubungan itu dilanjutkan dengan kunjungan jama’ah tablig dari India dan Pakistan ke al-Fatah Magetan pada 1984 dan 1988.


Peristiwa ini pada 1989 sempat memunculkan ketegangan antara Pesantren al-Fatah dengan PC NU Magetan. Ketika itu, Kiai Uzairon menjabat sebagai Rais Syuriah, dan Kiai Noor Tohir sebagai Katib Syuriyah PC NU Magetan. Forum tabayyun itu ternyata tidak menemukan titik temu. Kiai Uzairon dan Kiai Noor Tohir akhirnya menyatakan keluar dari NU dan memilih mengembangka majlis tablig. Sejak itu, Pesantren al-Fatah semakin menjauh dari komunitas NU dan semakin mantap mengembangkan karakter keberagamaan majlis tablig dengan khuruj (keluar menyebarkan agama) menjadi ciri khasnya.


Karena peristiwa ini, banyak wali santri yang berontak. Wali santri banyak yang tidak bisa menerima pilihan pengelola Pesantren al-Fattah. Akhirnya, sekitar 500 santri ditarik orang tuanya dan dipindahkan ke pesantren lain.


Penulis.....




[caption id="attachment_2460" align="aligncenter" width="670"]Para Santri Selesai Mengaji Para Santri Selesai Mengaji[/caption]

Penulis yakin, metamorfosis dan perubahan orientasi pesantren demikian tidak hanya dialami Maskumambang Gresik dan al-Fatah Magetan. Masih banyak sejumlah pesantren NU yang ikut tergerus gelombang wahabisme. Kalau Ketua Umum PB NU, Hasyim Muzadi, menyatakan Islam Indonesia diserang ideologi trans-nasional, kasus Maskumabang dan al-Fatah bisa menjadi contoh riil.


Bahkan, kini medan pertarungan itu tidak hanya melalui pesantren. Masjid-masjid sebagai basis kehidupan sosial keagamaan masyarakat juga menjadi ajang kontestasi. Dari berbagai informasi yang penulis peroleh, masjid-masjid yang dikelola warga NU banyak sekali yang “diserobot” kelompok wahabi dan aliran puritan lainnya.


Dari kenyataan tersebut, ada beberapa hal yang layak dicatat. Pertama, jika selama ini NU mengklaim mempunyai soko guru yang kokoh, yaitu pesantren, ternyata kini pesantren telah mengalami metamorfosis yang melahirkan wajah baru pesantren yang jauh dari karakter ke-NU-an. Meski saya tidak percaya semua pesantren NU akan terbawa arus ini, namun jika tidak diwaspadai bukan tidak mungkin paham keagamaan NU akan semakin dipandang asing di negerinya sendiri. NU juga akan semakin kehilangan legitimasi pesantren.


Kedua, pelajaran berharga dari Pesantren Maskumambang dan al-Fatah adalah ternyata jaringan tokoh-tokoh pesantren yang dibangun melalui belajar di luar negeri, terutama Mekah dan Madinah mempunyai pengaruh besar dalam mengubah wajah pesantren. Memang tidak sumua alumni Mekah dan Madinah menjadi wahabi, namun mengabaikan hal ini juga bukan sikap yang baik.


Ketiga, NU memang punya lembaga yang secara khusus membidangi soal pesantren, yaitu Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyah (RMI). Lembaga ini perlu diorientasikan untuk melihat perkembangan pesantren-pesantren NU dari sisi orientasi ideologisnya. Hal ini memang bukan perkara mudah. Meski NU mengklaim mempunyai basis pesantren, tapi pesantren di lingkungan NU mempunyai otonomi penuh yang tidak bisa dicampuri dan diintervensi pengurus struktural NU. Pesantren NU lebih bisa digerakkan melalui hubungan guru-murid, daripada hubungan struktur NU.


Memang, perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak. Arus perubahan terkadang juga tidak terduga. Dan kini, pesantren di hadapkan pada berbagai pilihan perubahan. Harus diakui, di sini umat Islam, termasuk warga NU dan pesantren, sering tergagap dalam menghadapi berbagai arus perubahan. Saya yakin, pesantren memang tidak akan bisa hilang dari bumi Indonesia. Masalahnya adalah pesantren jenis apa yang akan hidup. Inilah tantangan yang harus dihadapi.

*oleh Rumadi; Dosen FSH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komisioner Informasi Pusat (KIP)

Friday, August 5, 2016

Program PBTQ Berangkatkan 173 Santri Tahfidz ke Turki

[caption id="attachment_2355" align="aligncenter" width="600"]Konjen Istambul dan Perwakilan dari Ditjen Pendis Kemenag RI Konjen Istambul dan Perwakilan dari Ditjen Pendis Kemenag RI[/caption]

Istambul PendidikanIslam.ID – setelah beberapa hari lalu diwisuda oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, kini 173 santri program PBTQ (UICCI-Kemenag RI) telah tiba di Istanbul Turki untuk melanjuutkan studi al Qur’annya (04/08/2016). Ikut mengantar para santri, Direktur Pendidikan Pondok Pesantren Mohsen, Kepala Biro Umum Syafrizal, dan Kasubdit Pendidikan Al Quran Nanang Fatkhurrahman.


Setibanya di Istambul, sebagaiman disebutkan di laman kemenag.go.id, rombongan melakukan pertemuan dengan Konjen RI di Istambul Harlan H. Hakim. Selain melaporkan kedatangan Rombongan ke Turki, rombongan juga menggali informasi seputar kondisi keamanan di Turki.


Harlan Hakim menjelaskan bahwa pendidikan di Turki aman, terutama untuk lembaga yang tidak terkait dengan Fetullah Gullen. Kepada tim Indonesia, Harlan juga menjelaskan bahwa fasilitas di Ponpes Sulaimaniah yang menjadi tempat belajar para santri, sangat bagus seperti hotel bintang 3. Gedungnya dilengkapi lift dengan kamar, ruangan makan, dan kamar mandi yang bersih.


Konjen mengaku siap membimbing dan memfasilitasi anak anak Indonesia yang belajar di Turki terkait dengan pembinaan karakter ke-Indonesiaan. Dalam pertemuan itu dibahas juga pola pembinaan yang efektif bagi mahasiswa di Turki yang jumlahnya antara 350 - 400 org agar terjaga dari pengaruh gerakan Radikal.


Khusus untuk santri tahfidz Al Quran di Sulaimaniah, Konjen setuju dengan saran Menag Lukman Hakim bahwa pembinaan dilakukan dua kali, sebelum keberangkatan dan sepulang dari Turki. (@viva_tnu)

Gebyar Hari Santri 2016 : Kemenag Selenggarakan Lomba Foto & Cerpen

Gebyar Hari Santri 2016
Jakarta, PendidikanIslam.ID – Dalam rangka menyambut Hari Santri ke-2 pada 22 Oktober 2016 mendatang, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam, Kemenag RI menggelar rangkaian “Gebyar Hari Santri 2106”.  Salah satu event rangkaian acara akbar tersebut diantaranya adalah lomba foto dan cerpen dengan hadoah total 200juta.


“Dengan mengambil tema “Dari Pesantren untuk Indonesia”, lomba foto dan cerpen yang tidak dipungut biaya alias gratis ini dibagi menjadi dua kategori, yakni umum dan santri. Khusus peserta santri wajib menyertakan fotokopi kartu santri atau surat keterangan dari pondok pesantren,” kata Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Mohsen, dalam rilisnya (04/08/2016).


Ketentuan khusus lomba foto adalah mengirimkan 2 (dua) foto berukuran @2048 pixel karya orisini tanpa adanya editing (apa adanya), sesuai tema dan tidak mengandung unsur pornografi, kekerasan dan unsur SARA. Disamping itu peserta juga bebas menggunakan kamera apapun termasuk kamera telephone genggam (HP). Dalam bentuk digital, karya dikirimkan ke lombafotosantrikemenag2016@gmail.com. Sedangkan hard copynya dicetak ukuran 10R kemudin dikirim via post ke “Panitia Pelaksana Lomba Cerpen Gebyar Hari Santri 2016”.


Sedangkan ketentuan khusus lomba cerpen adalah mengirimkan 1 (satu) tulisan dengan 10-15ribu karakter (dengan spasi),  di-print out dengan A4 spasi 1,5 memakai font Times New Romas 12. Penilaiannya adalah kreativitas, kesesuaian dengan tema, serta kekuatan pesan yang disampaikan dalam cerpen serta tidak ada unsur SARA dan pornografi. Naskah soft copy dikirim via email ke lombacerpensantrikemenag2016@gmail.com. Sedangkan untuk hard copynya dikirim ke “Panitia Pelaksana Lomba Cerpen Gebyar Hari Santri 2016”.


Dengan menyesuaikan keikutsertaan kategori lomba, Hard copy dikirim via post paling lambat tanggal 26 September 2016 ke Subag Tata Usaha / TU Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pesantren, Kementerian Agama Republik Indonesia, Lantai 6 Jl. Lapangan Banteng Barat no.3-4 Jakarta Pusat 10710. Pemenang akan diumumkan di www.ditpdpontren.kemenag.go.id pada  tanggal 05 Oktober 2016.


Para Juri untuk kedua lomba tersebut diisi para profesional skala nasional. Untuk juri lomba foto adalah Oscar Motuloh (Kurator Galeri Foto Antara), Tubagus P. Svarajati (Kritikus Foto), dan Rukardi Achmadi (Redaktur Pelaksana Suara Merdeka). Dewan juri lomba cerpen adalah KH. A. Mustofa Bisri (Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin Rembang), Triyanto Triwikromo (Cerpenis), dan Putu Fajar Arcana (Redaktur Kompas).


Untuk hadiah dengan 2 kategori sebagaimana keterangan diatas, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren menyediakan 10 pemenang. Pemenang I (15juta), Pemenang II (10juta), Pemenang III  (7,5juta), Pemenang Harapan I (5juta) dan Pemenang Harapan II (3juta). (@viva_tnu)


Keterangan lebih lanjut, lihat brosurnya;
Brosur Lomba Cerpen
Brosur Lomba Foto

Thursday, August 4, 2016

Metode Turki Usmani; Cara Santri PBTQ Menghafal Al-Quran

[caption id="attachment_2346" align="aligncenter" width="600"]Menghafal Al Qur'an dengan Sistem Usmani Menghafal Al Qur'an dengan Sistem Usmani[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID – Program Beasiswa Tahfidz al Qur’an (PBTQ) kerjasama antara Direktorat Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) dengan United Islamic Cultural Centre of Indonesia (UICCI) Turki telah mewisuda santrinya untuk angkatan ke-9 sebanyak 173 orang.


Menurut pengelola program PBTQ, Direktur UICCI Indonesia Hakan Soydemir, durasi menghafal Al Quran antar santri beragam, ada yang cukup 5 bulan, 8 bulan, 9 bulan, 1 tahun, 15 bulan, 2 tahun, dan paling lama 3 tahun. Waktu yang terbilang relatif singkat untuk menghafal 29 Juz Al Quran.


"Setiap santri wajib menghafal Al-Quran mulai dari halaman 20 pada setiap juznya. Setelah halaman 20 dari tiap juz tersebut hafal dan dinyatakan lulus, maka santri melanjutkan hafalan pada halaman 18 dari setiap juz pula. Pola ini terus berlanjut hingga santri hafal semua juz," kata salah satu pengajar di Program PBTQ kepada jurnalis kemenag.go.id


Menurut salah satu santri Salsabila Nur Indrastata (17) gadis asal Sidoarjo Jawa Timur ini mengaku kalau metode Turki Usmani membantunya menghafal dengan cepat dan tidak mudah lupa. Salsabila sendiri berhasil menghafal selama 2 tahun 7 bulan.
Hal sama disampaikan Zaqiyah Alison (16) yang berhasil menghafal Al-Quran dalam waktu kurang dari 2 tahun.


Rahmatullah (19), santri asal Sukabumi Jawa Barat ini mampu menghafal 1,3 tahun. Sedang Deden Suhendar (18) hafal dalam waktu 11 bulan. Menurut santri berkacamata asal Bogor ini, metode Turki Usmani sangat cocok dan memudahkannya dalam menghafal, disamping arahan dan lecutan semangat dari ustadz. (@viva_tnu)

Menag Wisuda Khafidz Program UICCI Angkatan ke-9




[caption id="attachment_2342" align="aligncenter" width="600"]Santri PBTQ di Wisuda Menteri Agama Santri PBTQ di Wisuda Menteri Agama[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID –  Program beasiswa tahfidz al Qur’an (PBTQ) kerjasama antara Direktorat Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) dengan United Islamic Cultural Centre of Indonesia (UICCI) Turki yang telah berlangsung selama 6 tahun sejak 2010. Pada kesempatan wisuda tahfidz kali ini, sebanyak 173 santri penghafal Al-Quran diwisuda oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Auditorium HM Rasjidi, Gedung Kemenag MH Thamrin Jakarta, Selasa (02/08).


Mereka yang terdiri dari 143 santri laki-laki dan 30 santri perempuan. Di antara mereka, ada yang berhasil menghafal dalam 5 bulan, dan yang paling lama adalah 3 tahun. Setelah diwisuda, para santri akan mendapat kesempatan belajar mendalami Al-Quran di Istambul Turki dalam waktu 2 - 3 tahun.


Menurut Menag, aktivitas menghafal Al-Quran, terkait dengan membaca, merenungkan, menyimak, dan mengkaji. Ini merupakan aktivitas komplek yang membutuhkan perjuangan dan komitmen tinggi, sehingga membutuhkan tempaan intelektual, mental, dan spiritual.


"Alhamdulillah, proses pertama telah dilalui dengan baik, hingga anak-anak sekalian terpilih untuk berangkat ke Turki," terang Menag kepada santri angkatan ke-9 Tahun Ajaran 2015/2016 ini.


Kepada wisudawan tahfiz Al-Quran, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberi pesan khusus. "Pertama, kesempatan menimba ilmu di luar negeri, adalah dambaan hampir sebagian besar santri dan siswa. Karenanya, manfaatkan dengan baik. Belajar lah dengan giat, manfaatkan kesempatan yang ada untuk melahap semua ilmu," tuturnya sebagaimana di laman kemenag.go.id


"Pusat-pusat ilmu pengetahuan di Turki harus kalian kunjungi. Setelah pulang, amalkan untuk memajukan pendidikan tanah air," imbuhnya.


Pesan kedua, Menag meminta para santri menjadi duta bangsa, pondok pesantren, dan duta masyarakat yang baik. "Jagalah nama baik Indonesia, nama baik pesantren dan nama baik masyarakat. Caranya, dengan menunjukkan prestasi demi prestasi, baik intelektual, moral maupun spiritual," katanya.


"Tetaplah berkomitmen pada perjuangan NKRI. Tanamkan dan jaga komitmen kebangsaan dan NKRI agar tetap tejaga di hati," tuturnya lagi.


Hal ketiga yang dipesankan Menag, para santri agar berjuang untuk dapat menunjukkan kepada dunia, bahwa mereka adalah muslim moderat, inklusif, toleran dan damai. "(Ini) sebagaimana karakter Islam Indonesia, juga Islam yang telah dikembangkan di pondok pesantren," ujarnya.


Sebagaimana diketahui pada informasi pada pendaftaran program PBTQ, untuk bisa menjadi santri di UICII, para santri minimal lulus MTs/sederajat dan maksimal berusia 19 tahun dan telah hafal juz amma (Juz 30). (@viva_tnu)

Saturday, July 30, 2016

01 Agustus 2016, 12 SK Pendidikan Diniyah Formal akan Diserahkan

[caption id="attachment_2282" align="aligncenter" width="650"]Santri Pendidikan Diniyah Formal Santri Pendidikan Diniyah Formal[/caption]

Jakarta,PendidikanIslam.ID – Setelah Tahun 2015 melaunching 14 (empat belas) penyelenggaraan Pendidikan Diniyah Formal pada 6 (enam) propinsi, pada tahun 2016 ini Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kembali memberikan ijin operasioanl bagi 12 (dua belas) pondok pesantren sebagai penyelenggara layanan Pendidikan Diniyah Formal (PDF).


“Pada Tanggal 01 Agustus 2016 bertempat di Pondok Pesantren Minhajurrasyidiin, Jl. SPG No. 17 Lubang Buaya Jakarta Timur, Insyaallah Menteri Agama akan memberikan langsung Surat Keputusan Ijin Operasional bagi 12 lembaga penyelenggara Pendidikan Diniyah Formal,’ terang Kepala Sub Direktorat Pendidikan Diniyah, Ahmad Zayadi (29/07/2016).


Dalam catatan pada leading sector Sub Direktorat (Subdit) Pendidikan Diniyah, Direktorat Jenderal Pendidika Diniyah Dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam,  12 PDF yang akan diberikan ijin operasional itu terdiri atas 7 (tujuh) PDF Wustha dan 5 (lima) PDF Ulya yang tersebar pada 5 (lima) propinsi.


Keduabelas Pendidikan Diniyah Formal itu adalah ; 1) PDF Wustha Walindo Manbaul Falah Pekalongan-Jawa Tengah; 2) PDF Wustha Al Munawwarah Pekanbaru-Riau; 3) PDF Wustha APIK Kaliwungu Kendal-Jawa Tengah; 4) PDF Wustha Minhajurrosyidin Lubang Buaya-DKI Jakarta; 5)PDF Ulya Salafiyyah Parappe Polewali Mandar-Sulbar; 6) PDF Ulya Al falah Jepara-Jawa Tengah; 7) PDF Ulya Minhajurrosyidin Lubang Buaya-DKI Jakarta; 8) PDF Ulya Al Munawwarah Pekanbaru-DKI Riau; 9) PDF Ulya Walindo Manbaul Falah Pekalongan-Jawa Tengah; 10) PDF Wustha Al Fithrah Surabaya-Jawa Timur; 11) PDF Wustha Nurul Qadim Probolinggo-Jawa Timur; dan 12) PDF Wustha Al Mubaarok Wonosobo-Jawa Tengah.


Sebagaimana diketahui, jelas Zayadi, layanan PDF ini diselenggarakan dengan mengacu kepada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam, yang merupakan turunan atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, yang merupakan implementasi dari Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


Sedangkan 14 (empat belas) PDF yang telah dilaunching pada tahun 2015 tahun lalu adalah; 1) PDF Doktren Nurul Qodim Probolinggo Jawa Timur; 2) PDF Doktren al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri-Jawa Timur; 3) PDF Doktren Cokrokertopati Takeran Magetan-Jawa Timur; 4) PDF Doktren as-salafi al-Fithrah Surabaya-Jawa Timur; 5) PDF Doktren Zainul Hasan Genggong Probolinggo-Jawa Timur; 6) PDF Nurul Kholil Bangkalan-Jawa Timur; 7) PDF Doktren APIK Kaliwungu Kendal-Jawa Tengah; 8) PDF Doktren al-Mubarok Manggisan Wonosobo-Jawa Tengah; 9) PDF Doktren al-Masturiyah Sukabumi Jawa Barat; 10) PDF Doktren Darussalam Ciamis Jawa Barat; 11) PDF Doktren Nahdlatul Ulum Maros-Sulawesi Selatan; 12) PDF Doktren As’adiyah Sengkang Wajo-Sulawesi Selatan; 13) PDF Doktren al-Khairaat Tanjung Selor-Kalimantan; dan 14) PDF Dayah Babussalam Aceh Utara-Aceh. (@viva_tnu)

Friday, July 29, 2016

Program Indonesia Pintar (PIP) Tahun 2017 Bagi Santri Sulteng Akan Ditambah

[caption id="attachment_2286" align="aligncenter" width="407"]Program Indonesia Pintar Program Indonesia Pintar[/caption]

Palu,PendidikanIslam.ID -  Tahun 2016 ini penerima Program Indonesia Pintar (PIP) di Sulawesi Tengah sekitar 583 Santri yang terdiri atas 388 orang tingkat Wustha dan 195 tingkat Ula.

"Angka ini termasuk masih kurang, karena belum semua pondok pesantren mengusulkan PIP. Kita upayakan tahun depan penerimanya akan bertambah," kata Kepala Seksi Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tengah, Abdul Haris, di kantornya, Kamis (28/07/2016) sebagaimana disebutkan di laman antaranews.com.

Abdul Haris menjelaskan, penyelenggaraan PIP merupakan komitmen Pemerintah di bidang Pendidikan dalam hal mewujudkan pendidikan tanpa diskriminasi dan pendidikan untuk semua.

“Hal ini, sejalan dengan 9 agenda prioritas (nawa cita) pemerintah Presiden RI Joko Widodo yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, dan melakukan revolusi karakter bangsa,” tandasnya.

Upaya pemerintah, lanjutnya, dalam hal memberikan kemudahan mengakses pendidikan kepada masyarakat terus digulirkan diantaranya melalui beasiswa siswa berprestasi dan bantuan bagi siswa dari keluarga tidak mampu.

“Pemerintah melalui Kementerian Agama dalam penyelenggaraan Pendidikan Islam melaksanakan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk santri,” tukasnya. (@viva_tnu)

Thursday, July 28, 2016

Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin Akan Selenggarakan Pendidikan Diniyah Formal

[caption id="attachment_2271" align="aligncenter" width="630"]Santri PP. Minhaajurrosyidin Santri PP. Minhaajurrosyidin[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID - Kementerian Agama RI membuka ruang baru dan memberikan pilihan kepada masyarakat untuk mendidik putera puterinya menjadi kader ulama melalui layanan Pendidikan Diniyah Formal (PDF). Layanan PDF ini tunduk atas Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam, yang merupakan turunan atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, yang merupakan implementasi dari Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


Menyambut PDF yang telah diatur Kemenag, Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, Lubang Buaya, Jakarta Timur akan dinobatkan sebagai satu dari 12 penyelenggara Pendidikan Diniyah Formal (PDF) di tingkat nasional.   Ketua Harian PP. Minhaajurrosyidin, Muh Asy’ari Akbar, mengatakan PDF merupakan program pendidikan yang memiliki nilai plus yaitu perpaduan ilmu umum dan agama.


Dengan demikian, lanjt Asy’ari, siswa tidak akan rendah diri lagi berkompetisi dengan pelajar umum lainnya. Bahkan, mereka memiliki kelebihan berupa kemandirian lantaran tinggal di pesantren dan bekal agama sebagai landasan karakter. “PDF adalah salah satu jawaban krisi di dunia pendidikan kita,” tegasnya di laman republika.co.id.


Di satu sisi, ujar dia, dengan program ini  siswa akan lebih mudah meneruskan ke jenjang pendidikan umum yang lebih tinggi. Pelajar dari luar negeri juga tak ragu sebab ijazah yang dikeluarkan sudah diakui pemerintah RI.


Dia menjelaskan, jenjang PDF Minhaajurrosyidiin yang dibuka tahun ini adalah untuk tingkat wustha setara SMP, ulya setara SMA dan tahun depan merencanakan tingkat Ma’had Ali atau perguruan tinggi.


Acara serah terima SK PDF kepada PP. Minhaajurrosyidiin direncanakan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, pada awal Agustus 2016 nanti. (@viva_tnu)

Tuesday, July 12, 2016

Idul Fitri dan Pembebasan

[caption id="attachment_2174" align="alignright" width="250"]Isom El Saha Isom El Saha[/caption]

Selama satu bulan penuh, kita sebagai umat Islam telah menabur benih-benih kesalehan dengan menjalani seluruh rangkaian ibadan Ramadhan. Mulai dari puasa di siang harinya, tarawih dan qiyam al-lail di malam harinya, tadarus al-Qur’an di waktu selanya, memperbanyak i’tikaf di sepuluh hari akhirnya serta berzakat di penghujung bulannya.


Kini telah tiba saatnya kita memetik hikmahnya dengan menggenggam kemenangan yang dijanjikan Allah SWT dalam momentum Idul Fitri yang dirayakan umat Islam se-dunia. Min al-‘idin wa al-faizin fi kulli ‘am wa antum bi khair, semoga kita tergolong umat yang kembali kepada fitrahnya dan mendapatkan keberuntungan yang tiada tara serta memperoleh hidup sentosa di kemudian harinya.


Harapan ini tentunya tidak berlebihan, sebab selama bulan Ramadhan kita telah memuasakan diri kita, baik jasmani maupun rohani. Allah SWT sesungguhnya juga Maha Tahu begitu beratnya manusia menjalankan puasa. Sebab puasa mengajarkan sesuatu yang bertolak belakang dari keinginan manusia yang selalu berusaha memenuhan kebutuhan dasar hidup (hajat dharuriyat)-nya, seperti makan dan minum.


Oleh sebab itulah Allah SWT sangat menyayangi umatnya yang berpuasa sehingga memanggil mereka dengan ungkapan yang sangat mesra (nida’ al-habib) yakni ya ayyuha allazdina amanu (Wahai orang-orang yang beriman). Panggilan ini hanya Allah SWT ungkapkan dalam hal ibadah puasa, tidak pada rukun Islam yang lainnya. Begitu juga derajat yang diberikan kepada manusia yang berpuasa yaitu muttaqin atau la’allakum tattaqun; di dalam al-Qur’an, Allah SWT hanya menggunakannya dua kali. Salah satunya dalam ayat mengenai puasa.


Ini artinya ibadah puasa sangat spesial di mata Allah SWT. Makanya tepat jika di dalam hadits Qudsi Rasulullah SAW menyatakan; “Setiap amal perbuatan manusia akan kembali kepada diri mereka terkecuali puasa. Sebab puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari).


‘Id Berarti…


‘Id Berarti Perayaan


idul fitri_2Secara bahasa Idul Fitri terbentuk dari dua kata; ‘id dan al-fithr. ‘Id sendiri asal artinya adalah “perayaan”, walaupun banyak juga yang mengartikan “kembali”. Pengertian terakhir ini umumnya merujuk kepada keterangan yang menyatakan bahwa kata ‘id berasal dari kata ‘aud yang terlebih dulu digantikan huruf wawu-nya dengan huruf ya’. Sedangkang al-fithr asalnya berarti “berbuka”, tapi oleh banyak kalangan sering diartikan dengan “kesucian” atau “asal kejadian”.


Perbedaan dalam memahami arti harfiyah ini tentu saja membawa pengertian yang berbeda satu sama lain. Jika Idul Fitri dimaknai sebagai “perayaan berbuka makan dan minum” maka pengertiaannya adalah 1 Syawal merupakan hari merayakan diperbolehkan kembali makan dan minum, yang sebelumnya selama sebulan peluh tidak diperkenankan di siang harinya. Namun jika Idul Fitri dimaknai sebagai “kembali suci” maka pengertiannya adalah terhitung sejak 1 Syawal orang Islam yang berpuasa bersih dari segala dosa dan alpa.


Pengertian pertama agaknya lebih berdasar, sebab dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah disebutkan, bahwa Rasulullah SAW telah melarang (umatnya) berpuasa pada dua hari, yaitu hari Idul Fitri dan Idul Adha. Larang berpuasa pada hari Idul Fitri dan Idul Adha serta hari Tasyriq disebabkan hari-hari itu merupakan hari raya. Perayaan hari besar Islam, seperti dijelaskan dalam hadits yang diriwayatkan Anas, dimulai ketika Rasulullah telah berhijrah di Madinah dan mendapati golongan Anshar sedang asyik merayakan sesuatu selama dua hari.


Rasulullah SAW bertanya kepada penduduk asli Madinah itu: “Dua hari, apa ini?” Merekapun menjawab: “Dua hari ini sejak dari zaman jahiliyah telah kami peringati sebagai hari raya.” Lalu Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari itu dengan (hari raya) yang lebih baik untuk kalian. Yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri.”


Dengan pendekatan hadits ini, ulama besar asal Mesir, Mahmud Syaltut dalam kitab “Min Taujihat al-Islam” menjelaskan bahwa penetapan dua hari raya Islam (Idul Adha dan Idul Fitri) merupakan bentuk akomoditas Islam terhadap warisan budaya masa lalu. Bagaimanapun ritual perayaan adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia sebab bersifat esensial (thabi’iyat). Karenanya semua peradaban manusia di muka bumi ini pasti mengenal ritual perayaan di hari-hari khusus mereka. Hanya saja dalam melakukan perayaan umumnya manusia bertindak sangat berlebihan.


Untuk itulah...
idul fitri 6Untuk itulah Islam hadir mengenalkan model perayaan yang lebih bermakna dengan nilai-nilai spiritual dan humanis dalam bentuk perayaan Idul Adha dan Idul Fitri yang dijatuhkan setelah umat Islam melakukan rangkaian ibadah haji dan puasa. Namun begitu, Islam juga tidak sepenuhnya mengahapus sisi-sisi perayaannya. Hal ini terbukti dengan penamaan kedua hari raya Islam itu; Idul Fitri yang identik dengan ‘id al-ka’k wa al-hulw (perayaan makan kue dan manisan) dan Idul Adha yang identik dengan ‘id al-lahm wa al-maraq (perayaan makan daging dan kuah).

Bahkan dalam salah satu riwayat Aisyah disebutkan, bahwa pada suatu hari raya Abu Bakar berkunjung ke kediaman Rasulullah dan mendapati putrinya (Aisyah) ditemani oleh dua orang wanita yang bernyanyi layaknya dilakukan masyarakat Madinah ketika memperingati yaum ba’ats (hari kebangkitan).


Melihat sesuatu yang ganjil itu, Abu Bakar berteriak: “Menyingkirlah dari rumah Rasulullah, wahai pemimpin syetan!” Mendengar teriakan mertuanya itu, Rasulullah SAW menegurnya: “Wahai Abu Bakar! Setiap kaum memiliki perayaan, dan sekarang ini adalah hari raya kita, agar orang-orang Yahudi tahu bahwa dalam agama kita ada waktu rehat (fushat), dan aku sesungguhnya diutus membawakan agama yang toleran.”


Meski demikian kesenangan dan kegembiraan dalam merayakan Idul Fitri jangan hanya dinikmati oleh segelintir orang. Rasulullah SAW telah bersabda; “ jangan ada di hari Idul Fitri orang yang tidak tercukupi kebutuhan makannya.” Ini artinya meski Islam memberi toleransi kepada umatnya untuk bergembira dan bersenang-senang di hari Idul Fitri, namun jangan ada diantara mereka, seperti sahabat, kerabat, dan tetangga yang tidak turut bergembira di hari itu. Inilah letak perbedaan perayaan hari besar Islam dengan perayaan lainnya.


Idul Fitri adalah hari pertama setiap insan beriman merasakan dua kebahagiaan sekaligus. Kebahagiaan pertama berupa rasa bahagia mampu menjalani kewajiban puasa, dan kebahagiaan kedua berupa rasa bahagia sebab yakin medapatkan balasan yang baik dari Allah SWT. Dua kebahagiaan ini tercermin dalam hadits Rasulullah SAW; “Ada dua kebahagiaan tersendiri bagi orang-orang yang berpuasa, yaitu; bahagia ketika telah berbuka puasa dan bahagia ketika bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari)


Memaknai…


idul fitri
Memaknai Idul Fitri


Idul Fitri juga merupakan hari pertama kembalinya kebebasan manusia (hurriyah syakhshiyah) untuk merasakan makan dan minum. Mereka memperoleh kembali hak kebebasan setelah sebulan lamanya diserahkan kepada Dzat yang memberi penghidupan manusia, sebagai bentuk ketaatan mereka. Karena itulah Mahmud Syaltut menyebut Idul Fitri sebagai nikmat kemerdekaan dan kebebasan (ni’mat hurriyah). Sebagai suatu nikmat, kemerdekaan adalah tujuan agung yang tidak bisa digadaikan dengan suatu apapun, terkecuali untuk tujuan yang mulai juga, yakni mencari ridha Allah SWT.


Mengingat Idul Fitri sama artinya dengan nikmat kemerdekaan, maka hendaknya ia dijadikan sebagai dasar untuk membangun tatanan hidup manusia yang bersatu dan damai, tatanan negara yang kokoh berdaulat, serta tatanan budaya dan peradaban yang bermartabat. Ibarat sekelompok orang yang bepergian jauh dan kelelahan sehingga mereka berteduh mengumpulkan tenaga dan menyiapkan bekal di “bulan Ramadhan”, sudah saatnya seusai rehat mereka bangkit kembali bahu-membahu meneruskan perjalanan agar sampai ke tempat tujuan.


Kebebasan manusia yang dicapai tepat pada 1 Syawal mengajarkan kita tentang pengamalan nilai-nilai kemanusian universal. Tentu saja makna dan pengamalan nilai-nilainya tidak hanya terbatas pada persamaan nilai kemanusiaan. Lebih dari itu ia mencakup seperangkat nilai-nilai luhur yang seharusnya menghiasi jiwa pemiliknya. Ia bermula dari kesadaran akan fitrah (jati diri)-nya serta keharusan menyesuaikan diri dengan tujuan kehadiran di pentas bumi ini.


Kemanusiaan mengantarkan putra-putri Adam untuk menyadari arah yang dituju serta perjuangan mencapainya. Kemanusiaan menjadikan makhluk ini memiliki moral serta berkemampuan memimpin makhluk-makhluk lain dalam mencapai tujuan penciptaan. Kemanusiaan mengantarkannya untuk menyadari bahwa ia adalah makhluk dwi-dimensi yang harus melanjutkan evolusinya hingga mencapai titik akhir. Kemanusiaan mengantarkannya untuk sadar bahwa ia adalah makhluk social yang tidak dapat hidup sendirian dan harus bertenggang rasa dalam berinteraksi.


Betul, bahwa pemahaman semacam ini akan sulit diterapkan dalam tempo dua puluh empat jam di hari Idul Fitri. Makanya Mahmud Syaltut memberi catatan, bahwa Idul Fitri hanyalah pijakan awal memulai membangun (yaum al-bina’). Selebihnya pemahaman dan pengamalan nilai-nilai kemanusiaan itu harus diusahakan untuk dipupuk dan dilestarikan sehingga betul-betul menjelma secara sempurna pada perayaan Idul Adha (yaum al-ikmal wa al-itmam).


Hal ini juga yang dilakukan Rasulullah SAW, hingga akhirnya misi kemanusiaan itu betul-betul terwujud pada bulan Dzul Hijjah saat beliau beserta para sahabatnya melaksanakan haji Wada’. Hal ini tercermin dari ayat al-Qur’an yang menyatakan; “Hari ini telah Aku sempurnakan agamu dan telah Aku lengkapi nikmatmu dan Aku rela Islam menjadi agamamu.” (QS. Al-Maidah : 4).


Dengan demikian, alangkah indahnya jika silaturrahim dan semangat berbagi antar sesama tidak hanya terputus pada saat Idul Fitri saja. Namun lebih dari itu, pemanusiaan manusia yang melatarbelakangi semangat pembebasan sebagaimana terkandung dalam perayaan Idul Fitri semestinya harus digelorakan, dipupuk dan dipertahankan pada bulan-bulan berikutnya. Pada akhirnya, marilah Idul Fitri ini kita jadikan momentum untuk mempererat tali persaudaraan anak bangsa guna mewujudkan kemerdekaan yang betul-betul merdeka. Semoga Allah SWT meridhai niat tulus kita. [M. Ishom El-Saha, Alumnus PP. Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta / @viva_tnu, ed.]

Friday, July 1, 2016

Pesantren Khusus Guru Tahfidz Akan Segera Dibuka

daarul qur'an
Jakarta, PendidikanIslam.ID – Pada tahun-tahun ini pesantren tahfidz sudah mulai menjamur dan santrinya pun sudah semakin banyak. Dengan santri yang mulai bergairah tersebut, tentunya harus diiring tenaga pengajar yang memadai. Oleh karena itu, Program Pembibitan Penghafal Al Quran (PPPA) Daarul Quran asuhan Yusuf Mansyur akan membuka pesantren tahfidz bagi guru di Karawang, Jawa Barat.


Berdasarkan pantauan antaranews.com, Rabu (22/6), dengan mendapat dukungan dari Pertamina Gas, akan mendidik 50 anak muda penghafal Al Quran untuk menjadi guru.


"Pesantren ini nantinya akan menghasilkan guru-guru tahfidz untuk dikirim ke seluruh desa-desa di seluruh Indonesia," kata Ustadz Yusuf Mansur.

Berbeda dengan pesantren Daarul Quran yang menghasilkan para penghafal Al Quran, pesantren kali ini mensyaratkan para santrinya untuk hafal 30 juz Al Quran lebih dulu.


"Mereka nantinya akan dididik, mulai dari metodologi untuk menjadi guru-guru tahfidz," kata Yusuf.


Presiden Direktur Pertagas Hendra Jaya mewakili Badan Dakwah Islam (BDI) Pertagas menyatakan dukungan penuh pada pesantren khusus guru tahfidz tersebut.

"Keberadaan pesantren ini penting, karena bisa mencetak kader-kader yang berkualitas. Untuk itu BDI Pertamina Gas menyatakan dukungannya dalam mewujudkan generasi yang bermanfaat bagi bangsa dan agama," kata Hendra.

Pertamina akan memberikan dana bantuan sebesar Rp1 miliar untuk 50 santri selama lima tahun masa pendidikan. (@viva_tnu)

Friday, June 3, 2016

Digitalisasi Keuangan bagi Santri-Pesantren, Why Not?

Gerakan Ayo Mondok

Jakarta, PendidikanIslam.ID – Pada tahun 2014 yang lalu, digitalisasi keuangan bagi santri pondok pesantren telah dicanangkan oleh Kementerian Agama. Antusiasme yang cukup tinggi dirasakan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin saat melakukan sosialisasi digitalisasi keuangan pada saat itu.


Sebagaimana disebutkan di laman kompas.com, menurut Menteri Agama, Sampai saat ini hasil yang dapat dirasakan dari sosialisasi tersebut antara lain para santri telah mampu menciptakan kemandirian keuangan pondok pesantren yang berbasis syariah.


"Layanan keuangan digital atau transaksi non tunai menjadi solusi alternatif keuangan di pesantren-pesantren. Pesantren yang mayoritas di desa dan pedalaman menjadi pusat-pusat ekonomi desa," ujar Lukman di Gedung Bank Indonesia Jakarta akhir Mei 2016 lalu.


Selain menjadi pusat ekonomi desa, santri-santri yang mengelola keuangannya secara digital mampu menyelesaikan problem ekonomi dengan cara syariah.


"Selain menjadikan pesantren pusat kajian ilmu ekonomi syariah, para santri juga mampu menyelesaikan problem ekonomi yang ada saat ini," tutur Lukman.


Menurut alumnus Pesantren Darussalam ini, selain dibekali dengan digitalisasi keuangan, para santri juga harus dibekali pemahaman kewirausahaan untuk menciptakan lapangan kerja baru.


Pada tahun 2015 saja jumlah pondok pesantren mencapai 28.000 dengan jumlah santri mencapai empat juta santri.


"Dengan jumlah yang besar dan pengetahuan syariah, pesantren mampu menjadi pusat kajian ilmu ekonomi syariah dan menciptakan ahli keilmuan syariah," pungkas Lukman. (@viva_tnu)

Friday, February 19, 2016

Dilema Santri Urban

Oleh: Nur Khalik Ridwan


Kaum muda Nahdliyin yang ada di kota-kota besar saat ini, umumnya bisa disebut santri urban, berpindah dari desa ke kota. Oleh sebagian NU sendiri, eksistensi mereka dikritik karena dianggap tidak peduli dengan pesantren, bahkan berbeda dengan khazanah-khazanah pesantren sendiri. Pikiran-pikirannnya yang kritis, kadang malah berbenturan dengan dunia pesantren.

Apakah sesederhana itu santri urban “dihakimi”? Ataukah sepicik itu jati diri kalangan santri urban? Menurut penulis, fenomena santri urban bukan suatu yang mudah dan sederhana untuk dihadapkan dengan desa/pesantren, hanya dengan bendasarkan kekesalan pada pikiran-pikiran mereka yang kritis, atau dianggap tidak lagi peduli dengan dunia pesantren.

Dalam hal ini, santri urban sendiri perlu dipahami bahwa memang mereka pernah dididik di pesantren dan berasal dari desa. Kalau tidak benar-benar dari desa, mereka berasal dari pinggiran kota, yang juga tetap pernah dididik di pesantren ataupun langgar. Ketika di kota besar mereka bermetamorfosis dalam dunia politik praktis (PKB,PPP, dan sejenisnya), NGO, dan profesi lain yang tidak terwadahi dalam keduanya.

Sebagai santri urban yang hidup di kota tetapi asal usulnya dari desa/pesantren,dalam dirinya tentu mengalami pergolakan batin dua dunia. Pergolakan batin ini, satu sisi mewadahi pertarungan dalam dirinya yang berasal dari desa yang agraris. Sisi lain, santri urban mengalami tantangan hidup di kota, pengetahuannya ditambah dari pendidikan tinggi dan pencarian-pencarian otodidak lain. Percampuran antara ta’limul muta`alim, dan khazanah pesantren lain, dengan bacaan teori-teori sosial kritis semacam marxisme, hermeneutika, teori globalisasi dan lain-lain, bukan suatu yang mudah untuk disintesakan.

Jauh lebih sederhana dari itu, sebenarnya pergolakan batin yang rumit dan keengganan kembali ke pesantren dan desa, juga disebabkan oleh kecenderungan didikan zamannya Soeharto yang mempengaruhi santri urban dalam bidang tani. Pada masa Soeharto, desa dan pertanian menghasilkan didikan bahwa menjadi petani itu hina, tidak cukup untuk hidup layak, dan harus ditinggalkan untuk mencari peruntungan di kota-kota besar.


Imajinasi orang-orang tua santri urban kadang juga mempersulit pengambilan posisi santri urban. Pada umumnya, orang-orang tua mereka lebih melihat bahwa “keberhasilan” ketika mereka pergi ke kota adalah menjadi semacam PNS, pulang harus membawa mobil, dan sejenisnya. Ini telah menyulitkan ruang santri urban untuk mengabdikan ilmunya di desa, meskipun sangat bisa dipahami karena orang tua berharap anaknya berhasil.

Di tengah situasi itu, hanya ada pilihan terbatas bila ingin kembali ke desa dan bisa diperhitungkan di dalam formasi social desa: membentuk pesantren juga, dan ini suatu yang tidak mudah baik dari sisi imajinasi kritis ataupun dari sisi kontestasi dengan pesantren yang hampir ada di setiap desa; membentuk NGO lokal, yang tentu tidak semua santri urban bisa melakukannya, baik karena alasan substansi gerakan atau jaringan, yang berarti ruang arenanya juga kecil; dan kalau tidak demikian, adalah kembali dengan sebuah keberhasilan sebagai pengusaha, dan pilihan dilematis lain.


Di tengah pilihan yang terbatas itu, bagi mereka yang hanya pernah dididik di pesantren, dan bukan bagian dari keluarga pesantren, jauh lebih sulit untuk kembali ke desa/pesantren. Kembali ke pesantren/desa, akan dengan jelas mempengaruhi kontestasi sosial justru dengan kiai-kiai pesantren dan kiai-kiai langgar, yang notabene adalah guru-guru mereka sendiri. Ada kesungkanan; ada persepsi di kalangan desa bahwa bukan keluarga darah biru pesantren tidak cukup banyak didengarkan suaranya; pikiran-pikiran kritis, meskipun disesuaikan dengan keadaan desa sekalipun, akan banyak berbenturan dengan kalangan pesantren sendiri.


Lagi-lagi, ini semua mempengaruhi pergolakan batin santri urban: antara mau kembali dan mewakili murni pesantren dan desa, ataukah tetap hidup di kota dengan konteks sosial di kota dan tantangan yang juga kompleks. Satu sisi, idealnya memang untuk memberdayakan Nahdliyin, harusnya berawal dari memberdayakan desa dan pesantren,dan itu berarti santri urban perlu ke desa dan kembali ke pesantren. Sisi lain, pertimbangan-pertimbangan yang telah disebutkan di atas menjadi titik krusial tersendiri.

Dengan krusial yang demikian, imajinasi bahwa di kota lebih banyak memberikan peluang, terutama bagi mereka yang sedikit memiliki kemampuan professional, tentu akan dilihat lebih menjanjikan. Santri urban jenis ini tidak memiliki harapan untuk kembali ke desa sebelum menunjukkan “keberhasilan” di kota. Mereka akan memilih jalan lain, yaitu menjadi elit menengah jenis lain di kalangan Nahdliyin selain elit kiai, yaitu elit muda.


Meski begitu harus diakui bahwa di kota yang menjadi pusat-pusat NGO, sumber-sumber (eksploitasi) ekonomi, pusat politik, dan pusat mobilitas sosial, bukan berarti pertarungan santri urban di kota menjadi mudah. Santri urban harus berhadapan dengan kelompok kepentingan lain yang jauh lebih kompleks daripada formasi sosial di desa: dengan kalangan santri non-NU yang bertradisi di kota; kalangan sosialis yang tradisi intelektualnya sudah diberikan landasan oleh para sesepuhnya sejak dahulu; kalangan nasionalis, dan kelompok-kelompok lain. Tapi bagi kaum muda ini menjanjikan dan menantang.


Di sinilah titik masalah akan muncul. Tantangan di kota yang kompleks itu, berarti santri urban tidak mungkin ngotot hanya berbasiskan khazanah pesantren. Ditambah pengetahuan yang didapatkan dari pendidikan tinggi, belajar otodidak, pertarungan sosial, dan konteks sosial di kota, jelas mensyaratkan adanya kemampuan yang harus melampui khazanah murni pesantren. Lalu, muncullah pikiran-pikiran kritis dari santri urban, yang sebagiannya digelisahkan oleh kalangan pesantren sendiri.


Perbenturan antara santri urban dengan dunia pesantren, kadang-kadang cukup tajam,terutama dalam soal pemikiran, meskipun tujuan mereka sama-sama ingin mengangkat derajat kaum Nahdliyin. Perbenturan itu diperparah karena kurang adanya saling percaya satu sama lain: mereka adalah sama-sama ingin mengembangkan dan membangun peradaban Nahdliyin.

Kalau santri urban dan pesantren bisa memahami kelebihan dan kelemahannya tentu perbenturan itu justru akan menimbulkan kreatifitas yang saling mengisi. Sebaliknya kalau keduanya tidak bisa memahami kelebihan/kekurangannya, hanya menghasilkan perbenturan tanpa kebijaksanaan: yang satu mengatakan konservatif, yang satunya mengatakan telah keluar dari pikiran Nahdliyin. Padahal mereka yang dianggap keluar itu, dalam bahasa Kang Thohari, yang penulis temui pada Mei lalu di Purwokerto ia menyebutkan: “mereka keluar dari Nahdliyin menuju Nahdliyin yang lain.”***


Nur Khalik Ridwan, pengarang buku NU dan Neoliberalisme dan beberapa buku lain, anak dari buruh tani NU di Banyuwangi.