Showing posts with label Ditjen Pendis. Show all posts
Showing posts with label Ditjen Pendis. Show all posts

Tuesday, November 22, 2016

Dirjen Pendis: Pesantren Alternatif Pendidikan Terbaik Saat Ini

[caption id="attachment_2924" align="aligncenter" width="612"]Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Kamaruddin Amin. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Kamaruddin Amin.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Prof (Phil) Kamaruddin Amin menyatakan pendidikan di pesantren adalah alternatif pendidikan terbaik saat ini, karena meski sebagai lembaga dakwah dan pendidikan, pesantren sangat mungkin memberikan kompetensi keterampilan lain.

Keterangan tertulis dari Kementerian Agama yang diterima di Jakarta, Senin menyebutkan, pernyataan Dirjen Pendidikan Islam itu dikemukakan dalam kegiatan "Evaluasi Program Pengembangan Pesantren Maritim" di Serpong, Tangerang, Jawa Barat akhir pekan lalu.

Menurut Prof Kamaruddin, para santri sangat mungkin diberikan tambahan kompetensi berupa keterampilan lain atau keterampilan khusus karena sistem pendidikan di pesantren berlangsung 24 jam.

Tambahan kompetensi keterampilan itu sangat penting, sebab tidak semua lulusan pesantren menjadi ulama atau ustadz. Mereka bisa dibekali dengan beragam keterampilan seperti agribisnis, teknologi informasi (IT), dan kemaritiman.

Dalam upaya mewujudkan pendidikan tambahan itu, ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, pesantren harus merevitalisasi dirinya menjadi pendidikan yang cocok atau "match" dengan industri. Kemana kecenderungan industri mendatang, pendidikan di pesantren harus dikembangkan mendukung "trend" tersebut.

Kedua, pesantren harus bisa bersinergi dengan lembaga keuangan dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Pesantren perlu bisa membaca kemana arah investasi, sehingga bisa memperiapkan SDM ke arah itu.

Kerja sama

Sementara itu dari sisi kebijakan, Kementerian Agama harus bekerja sama dengan berbagai kementerian lainnya dalam mengembangkan pesantren. Nota Kesepahaman (MoU) dengan beberapa kementerian dan instansi perlu direvitalisasi.

Dalam hubungan ini, Kemenag akan lebih proaktif bekerja sama dan berdiskusi dengan kementerian-kementerian lainnya, dengan harapan beragam kerja sama tersebut dapat direfleksikan secara nyata dalam bentuk tersedianya anggaran.

Dirjen Pendidikan Islam juga mengemukakan, jumlah pesantren secara nasional saat ini mencapai 28.961 unit dengan 322.328 tenaga pendidik dan 4.028.660 peserta didik (santri).

Dari jumlah pesantren seperti itu, sebanyak 15.057 (51,99 persen) hanya menyelenggarakan pengajian kitab saja (tradisional), sedangkan sisanya sebanyak 13.904 (48.01 persen), selain menyelenggarakan pengajian, juga memberikan layanan pendidikan lainnya (modern).

Ada pun syarat terpenuhinya sebagai pesantren adalah memiliki lima unsur, yaitu ada kiayi, santri, asrama (pondok), tempat ibadah (mushola atau masjid) dan pengajian kitab kuning. Jika salah satu unsur tidak ada, maka belum bisa disebut sebagai pesantren.

Selain itu, menurut Prof Kamaruddin, saat ini identitas kesantrian berupa kopiah dan sarungan bukan lagi merupakan identitas marjinal, namun sudah menjadi komunitas yang bergengsi.

Ia menambahkan, kondisi lembaga pendidikan saat ini mengalami tantangan diskoneksitas signifikan berupa terjadinya keterputusan dan ketidaksambungan antara yang dipelajari di sekolah dengan persoalan yang terjadi di masyarakat. Akibatnya, terjadi pengangguran banyak lulusan sarjana.

Hal yang sama terjadi pada level sekolah menengah kejuruan (SMK) dan madrasah aliyah kejuruan (MAK). Ternyata tingkat tidak terserapnya tenaga kerja lulusan SMK dan MAK lebih tinggi ketimbang lulusan SMA dan Aliyah.

Fakta itu terjadi karena tidak matchnya antara apa yang diajarkan oleh guru dengan tantangan di masyarakat saat ini. Problem itu terjadi akibat guru yang mengajar adalah alumnus jurusan kependidikan dan bukan lulusan dari politeknik dengan bidang ilmu yang sesuai dengan yang dibutuhkan di masyarakat.

"Guru hanya memahami paedagogi, namun tidak menguasai konten materi secara maksimal. Oleh sebab itu, tantangan pendidikan sekarang adalah bagaimana mengoneksikan antara dunia pendidikan dengan dunia industri," kata Prof Kamaruddin.

Sumber: Antara

[Red: Fathoni Ahmad]

Thursday, November 17, 2016

Pendidikan Islam Kemenag Bertekad Lakukan Publikasi Masif di 2017

[caption id="attachment_2910" align="aligncenter" width="640"]Gambar ilustrasi. Gambar ilustrasi.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama tahun depan berkomitmen akan melakukan program besar-besaran dalam bidang publikasi. Dirjen Pendis Kamaruddin Amin bahkan mencanangkan 2017 sebagai tahun Pendis Goes to Media.

Hal ini dilakukan Pendis untuk menjawab kajian media bahwa sebagai lembaga yang menangani sektor pendidikan di Kementerian Agama, isu pemberitaan terkait Ditjen Pendidikan Islam masih menempati urutan keempat.

Berdasarkan hasil analisis media monitoring yang dilakukan oleh tim Pusat Informasi dan Humas (Pinmas), isu pendidikan Islam menempati urutan keempat dengan 934 berita, masih kalah dengan isu kerukunan (972), kehidupan beragama (1616), dan haji (4102). Padahal, dengan anggaran paling besar, mencapai 83 persen dari total anggaran Kementerian Agama, tentu banyak yang sudah dilakukan oleh Ditjen Pendidikan Islam.

Apa sebab, menurut Dirjen Pendis Kamarudin Amin, ada dua faktor penghambat publikasi. Secara eksternal, Pendis masih dipersepsikan sebagai makmum dari Kemendikbud dalam mengelola pendidikan di Indonesia. "Sebagaiman kita ketahui, ada dua lembaga yang menangani pendidikan, yaitu Kemendikbud dan Kemenristek Dikti," katanya saat acara Pendidikan Islam di Mata Media, di Gedung Kementerian Agama, Rabu (16/11).

Lalu hambatan internalnya ialah struktur dan sumber daya manusia belum mendukung. Namun, lanjut Kamarudin, terbitnya Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 42 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama memberi angin segar. Saat ini, sudah ada Satuan Kerja setingkat Eselon III yang nantinya akan mengurus masalah informasi dan kehumasan di lingkungan Pendis.

"Saat ini tidak ada orang yang menangani Humas. Dengan struktur baru ini kita cari orang yang pas dan menjadi yang terbaik. Dengan struktur baru ini kita bisa," tukasnya.

Untuk itu, pada tahun 2017 Pendis akan melakukan beberapa langkah yang sudah disiapkan dalam mendukung publikasi program Pendidikan Islam, diantaranya: publikasi prestasi yang dihasilkan dari para guru, dosen, dan tenaga kependidikan. "Kita punya distingsi, atau karakter yang tidak dimiliki oleh orang lain. Itu bisa kita sampaikan dan kemas secara baik nanti," tutur Kamaruddin.

Lalu, dalam pemaparannya, Dirjen Pendis akan melakukan publikasi dalam bentuk video dan quote yang berisi gambar tokoh yang disertai dengan pandangannya. "Selain itu, ada souvenir dalam bentuk digital," katanya. Juga, lanjutnya lagi, Pendis akan melakukan publikasi yang dikemas dalam bentuk talkshow di televisi dan di radio.

Di acara yang dihadiri juga Menteri Agama Lukman Hakim ini, selain akan melakukan publikasi, Kamarudin berkomitmen mengundang para Indonesianis dan para Peneliti internasional agar masuk ke lembaga Pendidikan Islam. "Nanti akan saya panggil teman-teman Direktur di lingkungan Pendis, semua harus memaparkan desain dan harus punya. 2017, Pendis goes to media. Harus menjadi nomor satu," pungkasnya.

(Red: Fathoni Ahmad)

Sumber: Portal Kementerian Agama

Thursday, October 20, 2016

UIN Walisongo Pioner Fasilitator Perdamaian di Asia

uin-walisongo-di-aiua
Malaysia, PendidikanIslam.ID  - Baru-baru ini, di Ipoh, Perak-Malaysia digelar pertemuan ke-4 Asian Islamic Universities Association (AIUA). Pertemuan kali ini dalam rangka melihat fenomena peningkatan perilaku radikal dan intoleran dalam kehidupan masyarakat. Seharusnya, perbedaan agama, etnik, kultur dan kepentingan politik dirayakan sebagai berkah dari Tuhan namun justru sebaliknya, kerap menjadi sumber kekisruhan yang mengarah pada konflik. Inilah salah satu ide adanya AIUA dengan portal http://www.aiua.asia ini.


Mewakili dari Indonesia, tepatnya dari delegasi UIN Walisongo Semarang-Rektornya, Muhibbin, memimpin langsung dalam pertemuan ini. Menurutnya peran universitas Islam untuk merawat kemajemukan semakin mendesak dilakukan.


“Perguruan tinggi perlu melakukan berbagai upaya untuk menebarkan perilaku positif terhadap kemajemukan. Usaha ini bisa melalui riset, publikasi ilmiah, seminar dan pelatihan, terutama untuk generasi muda dan mahasiswa,” paparnya sebagaimana dilansir dalam laman suaramerdeka.com


Sementara itu Wakil Rektor I UIN Walisongo, Musahadi, dalam pleno yang membahas Work Plan 2017 Asosiasi Universitas Islam Asia, ia memberikan pemaparan mengenai pengalaman WMC (Walisongo Mediation Center) UIN Walisongo dalam kerja-kerja mendiseminasi perilaku positif terhadap kemajemukan masyarakat untuk mengembangkan harmoni dan perdamaian melalui kegiatan riset, penelitian, training dan pembelajaran serta praktek mediasi konflik.


“Jika dibutuhkan tentu saja kami bersedia untuk memfasilitasi training mediasi dan resolusi konflik secara rutin dan berkelanjutan bagi aggota asosiasi,” terang Musahadi.


Tawaran ini disambut baik dan memperoleh dukungan dari para anggota asosiasi. Sekretaris Jenderal AIUA, Tan Sri Nordin Bin Kardi menyatakan ketertarikannya pada inisiatif UIN Walisongo dan pihaknya akan menindaklanjuti dengan persiapan yang lebih teknis. Tan Sri menggarisbawahi pentingnya usaha-usaha strategis membekali mahasiswa dan generasi muda dengan nilai-nilai kebersamaan, toleransi dan kesiapan menghadapi kemajemukan melalui kerjasama.


Selain Work Plan 2017, pertemuan ke-4 asosiasi yang dituanrumahi oleh USAS (Universitas Sultan Azlan Shah) Perak Darul Ridzuan ini juga menghasilkan dokumen AIUA Quality Assessment and Assessor Guidelines untuk akreditasi Universitas Islam di Asia.


Pertemuan sekaligus meresmikan masuknya beberapa Universitas Islam sebagai anggota baru, seperti UiTM Melaka Malaysia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, IAIN Jambi dan IAIN Bukit Tinggi. Dalam kesempatan yang sama para anggota AIUA dijamu oleh Sultan Perak Malaysia, Duli Yang Teramat Mulia Sultan Dr Nazrin Shah bin Sultan Azlan Muhibbuddin Shah dalam sebuah makan siang yang ramah. (@viva_tnu)

Friday, September 2, 2016

Kemenag Beri Beasiswa 817 Mahasiswa ke Timur Tengah

[caption id="attachment_2570" align="aligncenter" width="800"]Menag Lukman Hakim Saifuddin Melepas 817 Mahasiswa Ke Timur Tengah Menag Lukman Hakim Saifuddin Melepas 817 Mahasiswa Ke Timur Tengah[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID - Proses akhir dari 4.511 murid yang mendaftar untuk belajar di sejumlah universitas di negara-negara Timur Tengah, akhirnya Kementerian Agama meluluskan 817 orang sebagai mahasiswa baru.


Mahasiswa baru tersebut selanjutnya akan belajar di dengan beasiswa Kemenag di Universitas Al Azhar, Mesir sebanyak 20 orang. Penerima beasiswa Tamsil dengan rincian di Sudan 20 orang, Maroko 15 orang, Lebanon 20 orang, Kuwait 8 orang, sisanya yakni mahasiswa non beasiswa sebanyak 734 orang. Seleksi telah dilaksanakan dan berlangsung di Aceh, Riau, Sumbar, Sumatera, Jakarta, Sumsel, Lampung, Jogja, Sulteng, Sulbar, Sulut, Pekanbaru, Palembang, Malang, dan Makassar.


Dalam pelepasan yang dilakukan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, kepada mahasiwa baru tersebut, Menag Lukman yang didampingi Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, Sesditjen Pendis Ishom Yusqi meminta agar kesempatan untuk belajar di luar negeri ini harus senantiasa disyukuri. Sebab, ujar Menag, ada banyak siswa-siswa dari negeri ini yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri.


"Oleh karenanya, siswa-siswa yang terpilih saat ini sudah selayaknya meningkatkan rasa syukurnya hingga terpilih sebagai mahasiswa di Timur Tengah. Sebab, Timur Tengah masih menjadi negara yang baik untuk tempat menimba ilmu, akan tetapi, kondisinya, peluang yang ada tidak sebesar animo yang begitu banyak," ujar Menag di Kemenag, Jl. Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta Pusat (1/9).


Syukur, lanjut Menag, harus dimaknai dengan bijak dan arif, karena masih banyak saudara-saudara kita, belum berkesempatan seperti yang siswa-siswi miliki saat ini.


"Kita yang hadir disini adalah orang-orang pilihan, bahkan sudah melalui seleksi yang begitu beragam dan cukup panjang serta tidak sederhana, hingga bisa melanjutkan pendidikan di negara-negara tersebut", tambah Menag.


Menag minta kepada mahasiswa baru tersebut untuk meneguhkan niat, bahwa perjalanan dan keberadaan di negara orang nanti semata-semata untuk menimba ilmu. Dalam artian luas, menuntut ilmu tidak hanya berarti dalam bangku kuliah, akan tetapi menuntut ilmu hidup, sebab, dengan berada di negera orang akan mendapatkan banyak ilmu, pengembangan wawasan pemikiran dan juga pengalaman.


"Yang tidak kalah penting adalah ilmu hidup. Kita akan menjalani kehidupan di negera orang, dengan kedaan berbeda adat dan budaya yang tentu tidak sama dan dialami di negeri in, pasang niat yang baik, untuk apa berada di negara orang", tambah Menag sebagaiman dilansir pada laman kemenag.go.id.


Selain pesan syukur, Menag juga mengharapkan siswa-siswa yang akan menjadi mahasiswa Timur Tengah tersebut harus fokus dan serius untuk menyelesaikan program studinya. Sebab, biaya yang digunakan adalah biaya milik kita bersama, biaya yang berasal dari negera (rakyat Indonesia). (@viva_tnu)

Proses Sertifikasi 500 Dosen PTKI Tahun 2016

serdos 2016_1
Jakarta, PendidikanIslam.ID – Sertifikasi dosen (serdos) adalah salah satu upaya meningkatkan kreatifitas dan kualitas kinerja dosen serta mewujudkan quality assurance (penjamin mutu) dosen Indonesia dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan tinggi Indonesia. Untuk mendapatkan sertifikat pendidik dari pemerintah, seorang dosen harus mengikuti prosedur penilaian yang ada. Dan dalam rangka menindaklanjuti SK Dirjen Pendis No. 4562 Tahun 2016, Diktis mengeluarkan ketentuan pelaksanaan sertifikasi dosen PTKI tahun 2016 berupa distribusi portofolio tertanggal 01 Agustus 2016, awal bulan ini.


“Dari 500 (lima ratus) portofolio yang ada di Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, akan didistribusikan kepada 12 perguruan tinggi penyelenggara (penguji),” terang Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Amsal Bakhtiar.


Perguruan Tinggi Penguji (PTP) dan jumlah portofolio serdos yang akan diuji tersebut adalah UIN Maulana Malik Ibrahim (20 Portofolio dengan 4 PT pengusul), UIN Syarif Hidayatullah (79 dengan 2 PT pengusul), UIN Alauddin (55 dengan 5 PT pengusul), UIN Ar Raniry (44 dengan 1 PT pengusul, UIN Sunan Kalijaga (55 dengan 2 PT pengusul), UIN Sunan Gunung Djati (50 dengan 7 PT pengusul), UIN Sunan Ampel (55 dengan 5 PT pengusul), UIN Raden Fatah (21 dengan 6 PT pengusul), IAIN Antasari (24 dengan 1 PT pengusul)), UIN Syarif Kasim (22 dengan 8 PT pengusul), dan UIN Sumatera Utara (40 portofolio dengan 4 PT pengusul).


Mengenai penyelenggaraan serdos tahun 2016 ini, lanjut Amsal, dilaksanakan dengan sistem online dan sedangkan pengiriman portofolio untuk peserta PTKIS dikoordinasi oleh Kopertais setempat.


“Pengisian portofolio secara online harus disosialisasikan oleh PT pengusul dan diharapkan peserta serdos segera melengkapi data dengan mengacu kepada buku pedoman serdos. Validasi data, menghimpun, mengelola hasil penyusunan portofolio serta koordinasi dengan PTP serdos demi kelancaran pelaksanaan penilaian portofolio,” jelas Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah ini.


Bagi PT penyelenggara serdos diharuskan berkoordinasi dengan PT Pengusul. Ia juga wajib sosialisasi dan pembekalan kepada Asesor. Dan yang tak kalah penting dari tugas PT Penyelenggara adalah : 1) Melakukan penilaian secara objektif dan akuntabel; 2) Melakukan dan mengelola kompilasi data dan menetapkan kelulusan; 3) Mengikuti sidang kelulusan nasional dan melaporkan hasil ke Dirjen Pendis; 4) Dan menerbitkan sertifikat pendidik bagi dosen yang telah lulus sertifikasi setelah mendapatkan nomor registrasi dari Dirjen Pendis. (@viva_tnu)


Silahkan Download
SE Ketentuan Pelaksanaan Serdos PTKI 2016

Thursday, September 1, 2016

500 Dosen PTKI Layak Ikuti Program Sertifikasi

sertifikasi dosen 1
Jakarta,PendidikanIslam.ID – Sesuai dengan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, maka sertifikasi adalah amanah yang harus dilaksanakan 10 Tahun setelah diundangkan. Amanah itu harus selesai ditunaikan pada tahun 2015 yang lalu. Namun sudah lewat tahun, ternyata amanah tersebut belum 100% dilaksanakan. Maka dalam rangka mempercepat amanah sertifikasi dosen di lingkungan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di lingkungan Ditjen Pendidikan Islam Kemenag RI, atas nama Dirjen Pendis, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam mengeluarakan Surat Keputusan (SK) Peserta Sertifikasi untuk Dosen PTKI Tahun 2016, pada 16 Agustus 2016 minggu lalu.


 “Ada 500 (lima ratus) orang dosen PTKI baik yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan swasta yang memenuhi syarat dan layak untuk mengikuti program sertifikasi pendidik untuk dosen PTKI,” terang Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Amsal Bakhtiar.


Kelimaratus pengajar PTKI tersebut, terang Amsal, terdiri atas; 184 (seratus delapan puluh empat dari dosen PTKIN yang berstatus PNS dan 316 (tiga ratus enam belas) non PNS yang mengajar di berbagai STAI, STIT, IAI, STEI, STIA, dan berbagai kampus/PTS lainnya.


Ke-316 Dosen PTKI swasta tersebut tesebar ke beberapa Kopertais; Kopertais I DKI Jakarta 19 (sembilan belas) orang, Kopertais II Jawa Barat dan Banten 66 (enam puluh enam), Kopertais II Yogyakarta 7 (tujuh), Kopertais IV Surabaya 51 (lima puluh satu), Kopertais IV Aceh 14 (empat belas), Kopertais VI Sumatera Barat 24 (dua puluh empat), Kopertais VII Palembang 37 (tiga pulh tujuh), Kopertais VIII Makassar 12 (dua belas), Kopertais IX Medan 22 (dua puluh dua), Kopertais X Semarang 24 (dua puluh empat), Kopertais X Kalimantan 15 (lima belas), Kopertais XII Pekanbaru 11 (sebelas), dan Kopertais XIII Jambi 16 (enam belas).


Sertifikasi pendidik untuk dosen PTKI tersebut, dilaksamnakan oleh Perguruan Tinggi Penyelenggara (PTP) sertifikasi dosen agama yang terdiri atas PTP Pembina 6 (enam) kampus, PTP Mandiri 10 (sepuluh) kampus, dan PTP Binaan 10 (sepuluh) kampus. (@viva_tnu)

Silahkan Download untuk lebih jelasnya:
Daftar Perguruan Tinggi Penyelenggara (PTP)
SK Peserta Serdos PTKI 2016

Tuesday, August 23, 2016

Test Agama Islam di KSM V 2016, Ini Alasan Kemenag

KSM V 2016 Pontianak
Jakarta, PendidikanIslam.ID – Seperti yang telah diberitakan sebelumnya bahwa Kompetisi Sains Madrasah (KSM) V 2016 yang berlangsung di Pontianak-Kalimantan Barat, 23-27 Agustus 2016 ini, disamping bidang/mata pelajaran sains yang akan dilombakan, melekat dalam masing-masing bidang tersebut adalah materi Agama Islam.


“Jadi pembeda KSM V 2016 ini adalah terletak pada Mapel Agama Islam yang dilombakan dan juga sekaligus bentuk kepedulian terhadap ciri khas madrasah sebagaimana diamanatkan dalam UU dan PP 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan. MI, MTs, dan MA adalah SD, SMP, dan SMA yang 100% plus 5 (lima) mapel keislaman,” jelas Direktur Pendidikan Madrasah, Nur Kholis Setiawan dalam jumpa pers dengan awak media (19/08/2016).


Maksud selanjutnya penambahan mapel agama Islam untuk dilombakan, kata Alumnus Fakultas Syariah IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga ini adalah dalam rangka mengukur kualitas murid madrasah, paling tidak pada dimensi kognitif terhadap pendidikan agama Islam yang meliputi Al Qur’an-Hadits, Aqidah-Akhlaq, Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), Fiqh, dan Bahasa Arab.


“Harapannya ketika PAI menjadi mapel yang dilombakan, ada keseimbangan pada tataran idealitas ketika mereka masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.  Di jenjang Perguruan Tinggi, paradigma Interkoneksi keilmuan keislaman dengan non keislaman yang sedang digarap Kemenag dimana basisnya adalah murid madrasah,” sitir Nur Kholis atas pernyataan Dirjen Pendis, Kamaruddin Amin.


Pertimbangan selanjutnya, tambah alumnus Pesantren Tebuireng Jombang-Jatim, kombinasi sains dan Agama Islam pada KSM ini adalah memberikan added values (nilai tambah) dari mapel keislaman untuk menjadi salah satu bahan sebagai bahan evaluasi terhadap efektivitas 5 mata pelajaran yang diajarkan di madrasah.


Sebagai informasi, KSM V 2016 ini akan diikuti oleh 865 (delapan ratus enam puluh lima) orang yang terdiri atas peserta dan pendamping. Untuk peserta sendiri berjumlah 374 (tiga ratus tujuh puluh empat) yang terdiri atas utusan dari 34 propinsi dimana per propinsinya mengutus 11 (sebelas) peserta pemenang KSM tingkat Propinsi. Ditambah Peserta dari 17 MAN IC (Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia) dan siswa sekolah.


“Disamping peserta dan pendamping yang akan hadir, pada upacara pembukaan yang digelar pada 23 Agustus ini, akan dimeriahkan dengan kedatangan dari seluruh elemen masyarakat dan murid madrasah tentunya dengan jumlah 3.500 (tiga ribu lima ratus orang),” kata Direktur Madrasah. (@viva_tnu)

Monday, August 22, 2016

KSM V 2016, Kemenag Gandeng Surya University

[caption id="attachment_2486" align="aligncenter" width="650"]Konferensi Pers KSM V 2016 Konferensi Pers KSM V 2016[/caption]


Jakarta, PendidikanIslam - Untuk kali keduanya, Kompetisi Sains Madrasah (KSM) V 2016 yang akan digelar di Kota Pontianak Kalimantan Barat akan melibatkan secara penuh Surya University dibawah kepemimpinan Yohanes Surya, fisikawan pelatih Tim Oliampade Fisika Indonesia (TOFI).


"Keterlibatan Surya University sebagai pendamping dan pembuat soal KSM dimulai sejak KSM tingkat propinsi sampai ke tingkat nasional. Bahkan Surya University juga menyelenggarakan kegiatan Surya Game Online dan Matematika Gasing," kata Dirjen Pendidikan Islam, Kamaruddin Amin ketika Konferensi Pers di Lantai 2 Kementerian Agama RI (19/08/2016).


Dengan metode Matematika Gasing; Gampang Asyik dan menyenangkan lanjut Kamaruddin, matematika tidak akan lagi menjadi momok bahkan menyenangkan. "Menumbuhkan dan mencintai sains bagi murid madrasah serta menumbuhkan bakat dan minta dibidang sains adalah salah satu tujuan KSM ini," kata alumnus Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universitat Bonn-Jerman ini.


Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya bahwa peserta KSM kali ini juga diikuti siswa sekolah dibawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Direktur Pendidikan Madrasah Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa teknis rekrutmen peserta KSM V ini, siswa sekolah mengikuti penjaringan/seleksi sejak di kabupaten/kota bersama dan bertanding dengan murid madrasah lainnya.


"Setelah mereka dinyatakan menang di tingkat kabupaten/kota dan kemudian di tingkat propinsi, maka para siswa sekolah bersama murid madrasah yang juga juara di tingkat propinsi bisa melaju ke tingkat nasional dengan rekomendasi dari Kanwil Kemenag Propinsi setempat," terang Nur Kholis.


Dan yang menarik juga pada event KSM kali ini adalah keikutsertaan murid MAN IC yang `bertanding`nya tidak akan di`lawan`kan dengan MAN Model ataupun MA biasa.


"Belajar dari KSM sebelumnya, Murid MAN IC selalu mendominasi juara di semua lini dikarenakan memang MAN IC diproyeksikan sebagai MAN berbasis sains. Maka bukan berarti mendikotomi madrasah namun agendanya adalah akselerasi untuk 14 MAN IC baru yang telah beroperasi pada 2015 dan 2016 agar sepadan dengan 3 MAN IC sebelumnya," terang Nur Kholis. (@viva_tnu)

Tuesday, August 16, 2016

Singapore International Mathematic Olympiad Challenge; Murid Madrasah Raih 5 Medali

[caption id="attachment_2443" align="aligncenter" width="600"]Murid Madrasah Raih 5 Medali di Singapura Murid Madrasah Raih 5 Medali di Singapura[/caption]

Yogyakarta, PendidikanIslam.ID - Anisa Hayati (MA Matholibul Huda Mlonggo-Jepara) meraih medali Emas, Septiana Rohmawati (MA Abadiyah Pati-Jawa Tengah) meraih medali Perak, M. Ulin Nuha (MTs Abadiyah Pati-Jawa Tengah) meraih medali Perak, Kholida Nailil Muda (MAN Wonokromo-Yogyakarta) meraih medali Perak, dan Dedi Wahyudi (MTs Matholibul Huda Mlonggo, Jepara-Jawa Tengan) meraih medali Perunggu.


Lima siswa madrasah tersebut berhasil mengharumkan nama bangsa dengan menjuarai ajang kompetisi Matematika internasional,  Singapore International Mathematic Olympiad Challenge (SIMOC), yang diselenggarakan di Singapura pada 12 - 15 Agustus 2016.


“SIMOC tersebut diikuti oleh 15 negara, yaitu: Singapore, Malaysia, Indonesia, Myanmar, Bulgaria, Vietnam, Uzbekistan, Hongkong, Cambodia, Brunei, Indoa, Laos, Mongolia, dan Russia. Sedikitnya ada 700 peserta yang mengikuti ajang ini. Indonesia sendiri mengirim 97 siswa terbaiknya, “ terang Ali Asmui, Kepala MAN Wonokromo Bantul-DIY


Para peserta SIMOC merupakan perwakilan dari tiap negara yang telah mengikuti seleksi SASMO (Singapore and Asian Schools Math Olympiad) dan telah meraih juara. Seleksi tersebut diikuti oleh ribuan peserta yang diadakan di negara masing-masing pada bulan April lalu.


"Kelima siswa-siswi tersebut dan sejumlah rombongan lainnya akan sampai di bandara Djuanda Surabaya Senin (15/08) malam," kata Ali Asmui. (hamam/mkd/@viva_tnu)

8 Alumnus Madrasah Studi ke Luar Negeri atas Beasiswa Kemenag RI

[caption id="attachment_2439" align="aligncenter" width="600"]Alumnus Madrasah Pamitan dengan Setditjen Pendis Alumnus Madrasah Pamitan dengan Setditjen Pendis[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID - Kementerian Agama memberikan bantuan beasiswa kepada 8 lulusan madrasah untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Mereka adalah orang-orang terpilih dari 71 siswa yang mengikuti proses seleksi, mulai dari verifikasi dokumen, ujian tertulis, dan wawancara.


Direktur Pendidikan Madrasah M Nur Kholis Setiawan, Senin (15/08), menyebutkan bahwa kedelapan lulusan madrasah berprestasi ini akan melanjutkan studinya di Jepang, Jerman, Turki, Thailand, dan Malaysia.


Menurut M. Nur Kholis, program beasiswa ini telah berjalan sejak tahun 2014. Awalnya, negara yang menjadi destinasi belajar lulusan terbaik madrasah hanya ke Jepang. Mulai tahun ini, destinasi beasiswa bukan hanya ke Jepang saja tapi juga untuk wilayah Asia Tenggara, Eropa, dan Timur Tengah.


Adapun kedelapan lulusan madrasah tersebut adalah: 1) Farah Fairuz Zahira (MAN IC Serpong), ke Automotive Engineering, Nagoya University-Japan; 2) Muhammad Izzat Nugraha (MAN IC Serpong) ke Applied Marine Biology, Tohoku University-Japan; 3) Qatrunnada Hamparan Melati (MAN IC Jambi) ke College of Asia Pacific Studies, Ritsumeikan Asia Pacific University (APU)-Japan; 4) Fathi Thooriq BZ (MAN I Cianjur) ke Mechanical of Engineering, University of Applied Science Kaiserslautern-Jerman; 5) Syauqi Alfiandi (MAN 4 Jakarta) ke International Business Management-Universiti Utara Malaysia; 6) Frisca Intan Luzia (MAN IC Serpong) ke Communication Arts-Bangkok University International College; 7) Ahmad Ghufron Taqiyuddin (MA Daar El Qolam Tangerang) - World Islamic Science & Education University (WISE) - Amman Jordan; dan 8) Abiesa Analistiana (MAN Parakan Temanggung) ke Universitas Kastamonu-Turki.

Nur Kholis berharap, para peraih beasiswa program prestasi ini kelak menjadi intelektual, saintis dan teknokrat, serta menjadi bagian penting yang akan membawa bangsa Indonesia ke tingkat yang lebih maju dalam berbagai bidang kehidupan.


Adapun beasiswa yang diberikan berupa biaya transportasi ke luar negeri dan biaya hidup di luar negeri dalam jangka waktu 4 (empat) tahun. Syarat utama penerima beasiswa, harus mempunyai LoA (Letter of Acceptance) atau telah terdaftar di perguruan tinggi luar negeri.


Sebelum berangkat ke luar negeri, para penerima beasiswa ini diterima oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Isom Yusqi. Jadilah duta bangsa yang membawa harum nama Indonesia ke luar negeri dan mampu beradaptasi sehingga tidak mengalami culture shock, pesannya.


Isom berharap, setelah menyelesaikan jenjang S1, para penerima beasiswa ini bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dan kemudian mengabdi kepada negara. (hamam/mkd/@viva_tnu)

Monday, August 15, 2016

Bagi Guru Sertifikasi 2007-2008, Ada Perubahan Kode & Mapel Kesetaraan

sertifikasi guruJakarta, PendidikanIslam.ID - Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama RI telah menetapkan perubahan kesetaraan nomor kode dan nama bidang studi sertifiksi guru tersertifikasi tahun 2007-2008 di lingkungan Kementerian Agama.


“Kesetaraan kode mata pelajaran tersebut diimplementasikan melalui sistem pengelolaan tunjangan profesi guru berbasis SIMPATIKA sebagai dasar kesesuaian antara bidang studi yang diampu dengan sertifikat pendidik sebagai salah satu persyaratan pembayaran tunjangan profesi guru,” terang Pelaksana Harian (Plh) Dirjen Pendis, Isom Yusqi, dalam SE tertanggal 30 Mei 2016.


Sebagaimana dimaklumi, lanjut Isom yang juga sekretaris Ditjen Pendis, bahwa selama proses pelaksanaan sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2007 – 2011 telah terjadi perubahan nomor kode dan nama bidang studi sertifikasi guru sejak tahun 2009 sebagaimana tercantum pada Surat Kepala BPSDMPK-PMP Nomor : 26269/J/LL/2012 tertanggal 09 Oktober 2012 Tentang penyesuaian Kode dan Nama Bidang Studi Sertifikasi.


“Perubahan tersebut berkaitan dengan pelaksanaan program pengelolaan data peserta sertifikasi guru dalam jabatan dan tunjangan profesi guru dalam jabatan dan tunjangan profesi guru berbasis SIMPATIKA  yang akan dimulai pada semester tahun 2016/2017,” lanjut “pejabat sementara” Dirjen Pendis, Kamaruddin Amin, yang sedang mengikuti Pendidikan dan Latihan Kepemimpinan untuk eselon I (Diklat PIM I) sejak 29 Mei 2016 yang lalu.


Oleh karena itu, Isom menginstruksikan kepada seluruh Kepala Kanwil Kemenag Propinsi se-Indonesia melalui Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Madrasah/Pendidikan Islam agar segera menyampaikan SE ini kepada guru di wilayah masing-masing untuk dapat melaksnakan penyesuaian terhadap perubahan tersebut.


Sebagai informasi, SIMPATIKA (Sistem Informasi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Kemenag) merupakan lanjutan dari program Padamu Negeri yang dirintis oleh Kemdikbud sejak 20 Mei 2013 hingga Juni 2015. Mulai 17 Agustus 2015, Kemenag mengembangkan secara mandiri Layanan SIM PTK Online berbasis sistem SIAP Padamu Negeri bekerjasama dengan PT. Telkom Indonesia.


Melalui Layanan SIMPATIKA, Kemenag mengembangkan beragam program kerja untuk kepentingan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Kemenag, meliputi: Digitalisasi Portofolio, Bantuan/Beasiswa, Tunjangan, Diklat, Sertifikasi, Pemetaan Mutu, dan beragam program lainnya. Proses transaksi data pada Layanan SIMPATIKA akan melibatkan secara berjenjang mulai dari individu, Pimpinan Madrasah/Sekolah, Kantor Kemenag Kab/Kota, Kantor Wilayah Kemenag Provinsi, hingga Unit-Unit Kerja Kemenag Pusat dengan terpadu. (@viva_tnu)


Silahakan download Surat Edaran : disini

Friday, August 5, 2016

Gebyar Hari Santri 2016 : Kemenag Selenggarakan Lomba Foto & Cerpen

Gebyar Hari Santri 2016
Jakarta, PendidikanIslam.ID – Dalam rangka menyambut Hari Santri ke-2 pada 22 Oktober 2016 mendatang, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam, Kemenag RI menggelar rangkaian “Gebyar Hari Santri 2106”.  Salah satu event rangkaian acara akbar tersebut diantaranya adalah lomba foto dan cerpen dengan hadoah total 200juta.


“Dengan mengambil tema “Dari Pesantren untuk Indonesia”, lomba foto dan cerpen yang tidak dipungut biaya alias gratis ini dibagi menjadi dua kategori, yakni umum dan santri. Khusus peserta santri wajib menyertakan fotokopi kartu santri atau surat keterangan dari pondok pesantren,” kata Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Mohsen, dalam rilisnya (04/08/2016).


Ketentuan khusus lomba foto adalah mengirimkan 2 (dua) foto berukuran @2048 pixel karya orisini tanpa adanya editing (apa adanya), sesuai tema dan tidak mengandung unsur pornografi, kekerasan dan unsur SARA. Disamping itu peserta juga bebas menggunakan kamera apapun termasuk kamera telephone genggam (HP). Dalam bentuk digital, karya dikirimkan ke lombafotosantrikemenag2016@gmail.com. Sedangkan hard copynya dicetak ukuran 10R kemudin dikirim via post ke “Panitia Pelaksana Lomba Cerpen Gebyar Hari Santri 2016”.


Sedangkan ketentuan khusus lomba cerpen adalah mengirimkan 1 (satu) tulisan dengan 10-15ribu karakter (dengan spasi),  di-print out dengan A4 spasi 1,5 memakai font Times New Romas 12. Penilaiannya adalah kreativitas, kesesuaian dengan tema, serta kekuatan pesan yang disampaikan dalam cerpen serta tidak ada unsur SARA dan pornografi. Naskah soft copy dikirim via email ke lombacerpensantrikemenag2016@gmail.com. Sedangkan untuk hard copynya dikirim ke “Panitia Pelaksana Lomba Cerpen Gebyar Hari Santri 2016”.


Dengan menyesuaikan keikutsertaan kategori lomba, Hard copy dikirim via post paling lambat tanggal 26 September 2016 ke Subag Tata Usaha / TU Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pesantren, Kementerian Agama Republik Indonesia, Lantai 6 Jl. Lapangan Banteng Barat no.3-4 Jakarta Pusat 10710. Pemenang akan diumumkan di www.ditpdpontren.kemenag.go.id pada  tanggal 05 Oktober 2016.


Para Juri untuk kedua lomba tersebut diisi para profesional skala nasional. Untuk juri lomba foto adalah Oscar Motuloh (Kurator Galeri Foto Antara), Tubagus P. Svarajati (Kritikus Foto), dan Rukardi Achmadi (Redaktur Pelaksana Suara Merdeka). Dewan juri lomba cerpen adalah KH. A. Mustofa Bisri (Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin Rembang), Triyanto Triwikromo (Cerpenis), dan Putu Fajar Arcana (Redaktur Kompas).


Untuk hadiah dengan 2 kategori sebagaimana keterangan diatas, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren menyediakan 10 pemenang. Pemenang I (15juta), Pemenang II (10juta), Pemenang III  (7,5juta), Pemenang Harapan I (5juta) dan Pemenang Harapan II (3juta). (@viva_tnu)


Keterangan lebih lanjut, lihat brosurnya;
Brosur Lomba Cerpen
Brosur Lomba Foto

Thursday, August 4, 2016

Metode Turki Usmani; Cara Santri PBTQ Menghafal Al-Quran

[caption id="attachment_2346" align="aligncenter" width="600"]Menghafal Al Qur'an dengan Sistem Usmani Menghafal Al Qur'an dengan Sistem Usmani[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID – Program Beasiswa Tahfidz al Qur’an (PBTQ) kerjasama antara Direktorat Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) dengan United Islamic Cultural Centre of Indonesia (UICCI) Turki telah mewisuda santrinya untuk angkatan ke-9 sebanyak 173 orang.


Menurut pengelola program PBTQ, Direktur UICCI Indonesia Hakan Soydemir, durasi menghafal Al Quran antar santri beragam, ada yang cukup 5 bulan, 8 bulan, 9 bulan, 1 tahun, 15 bulan, 2 tahun, dan paling lama 3 tahun. Waktu yang terbilang relatif singkat untuk menghafal 29 Juz Al Quran.


"Setiap santri wajib menghafal Al-Quran mulai dari halaman 20 pada setiap juznya. Setelah halaman 20 dari tiap juz tersebut hafal dan dinyatakan lulus, maka santri melanjutkan hafalan pada halaman 18 dari setiap juz pula. Pola ini terus berlanjut hingga santri hafal semua juz," kata salah satu pengajar di Program PBTQ kepada jurnalis kemenag.go.id


Menurut salah satu santri Salsabila Nur Indrastata (17) gadis asal Sidoarjo Jawa Timur ini mengaku kalau metode Turki Usmani membantunya menghafal dengan cepat dan tidak mudah lupa. Salsabila sendiri berhasil menghafal selama 2 tahun 7 bulan.
Hal sama disampaikan Zaqiyah Alison (16) yang berhasil menghafal Al-Quran dalam waktu kurang dari 2 tahun.


Rahmatullah (19), santri asal Sukabumi Jawa Barat ini mampu menghafal 1,3 tahun. Sedang Deden Suhendar (18) hafal dalam waktu 11 bulan. Menurut santri berkacamata asal Bogor ini, metode Turki Usmani sangat cocok dan memudahkannya dalam menghafal, disamping arahan dan lecutan semangat dari ustadz. (@viva_tnu)

Monday, August 1, 2016

PTKIN Favorit Masuk Daftar 4ICU

[caption id="attachment_2302" align="aligncenter" width="380"]4icu.org 4icu.org[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID - International Colleges & Universities atau 4ICU, 4icu.org, adalah suatu mesin pencari dan direktori yang melakukan penilaian berdasarkan kepopuleran situs yang dimiliki oleh 12.273 perguruan tinggi di seluruh dunia yang telah terakreditasi dan tersebar dalam 200 negara. Peringkat ini telah dipublikasikan sejak Mei 2005. Sejak itu metodologi penilaian telah diatur secara periodik untuk memberikan hasil yang lebih baik.


Dalam penilaiannya 4ICU didasarkan pada algoritma dengan memasukkan 4 web metric independen dan objektif dari 3 search engine yang berbeda  yaitu ; Google Page Rank, Alexa Global Rank, Majestic Referring Subnets dan Majestic Trust Flow. Mungkin kelemahan dari pemeringkatan ini dimana penggunaan webmaster tool yang baik bisa merubah posisi peringkat google rank dan alexa rank.


Langah penilaiannya adalah data metric dikumpulkan pada hari yang sama, sehingga tidak menimbulkan fluktuasi. Selanjutnya filterisasi untuk mengidentifikasi keberadaan data yang nilainya sangat jauh dari data lain yang ada (data outliers). Kemudian Review data dari Alexa Traffic Rank, untuk menyeleksi perguruan tinggi yang masih menggunakan subdomain sebagai halaman utama yang resmi.


Setelah itu disaring maka dibuatlah skala 0 hingga 100 dengan bantuan Google Page Rank dan Alexa Traffic Rank guna mempertimbangkan data yang telah disaring. Akhirnya, nilai normalisasi dari ketiga data tersebut digabungkan dan kemudian dirata-rata untuk menghasilkan nilai akhir dan peringkat perguruan tinggi.


Tujuan adanya 4ICU adalah memberikan peringkat popularitas Universitas atau perguruan tinggi lainnya, dengan kualitas dan tingkat pelayanan yang berbeda dan juga membuat daya kompetisi antar universitas meningkat.


Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dibawah Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Ditjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI berjumlah 55 (Lima Puluh Lima) institusi. Namun ternyata menurut 4ICU, hanya 4 (empat) kampus yang masuk dalam catatan peringkatnya dari 411 (empat ratus empat belas) perguruan tinggi se-Indonesia (diambil per 29 Juli 2016)


Berikut Rangking PTKIN dibanding dengan peringkat kampus di Indonesia menurut 4icu.org ;
4icu PTKIN(@viva_tnu)

Saturday, July 30, 2016

16 PTKIN Masuk Peringkat Dunia Versi Webometrics 2016

Webometrics

Jakarta, PendidikanIslam.ID - Webometrics adalah adalah penilaian perguruan tinggi seluruh dunia berdasar website kampus tersebut. Webometric melakukan pemeringkatan terhadap lebih dari 22ribu perguruan tinggi seluruh dunia. Pemberian nilai itu diberikan oleh lembaga penelitian terbesar di Spanyol, Cybermetrics Lab. Update hasil pemeringkatan dirilis setiap bulan Januari dan Juli.


Terdapat empat indikator dalam penilaian/pemeringkatan webometrics; Presence (20%), Impact (50%), Openness (20%) dan Excellence (10%).


Pertama, presence adalah jumlah halaman website yang terekam pada mesin pencari Google. Kedua, impact, merupakan jumlah eksternal link yang diterima oleh domain web perguruan tinggi yang terekam Google. Ketiga, openness yang merupakan jumlah file dokumen Adobe Acrobat), Adobe PostScript, Microsoft Word dan Microsoft Powerpoint yang dapat diakses serta terhubung dengan domain website universitas yang terekam oleh search engine (Google Scholar). Dan keempat, excellence yaitu  jumlah artikel publikasi ilmiah karya sivitas akademika yang terindeks di Google Scholar.


Manfaat webometrics adalah mengetahui peringkat kampus di seluruh dunia, menjadi acuan untuk penilaian sebuah kampus, dan sebagai sarana promosi bagi kampus terkait. Sedangkan tujuannya adalah mempromosikan publikasi web (portal), mendukung inisiatif open access, serta mendukung akses elektronik untuk publikasi ilmiah dan materi akademik lainnya.


Jumlah Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dibawah Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Ditjen Pendidikan Islam, Kementerian Agama RI berjumlah 55 (Lima Puluh Lima) institusi. Namun menurut webometrics, hanya 16 (enam belas)/30% saja yang masuk daftar peniliaian per Bulan Juli 2016. Sedangkan kampus di Indonesia yang diperingkatkan  ada 480 (empat ratus delapan puluh) kampus, dimana PTKIN sudah termasuk di dalamnya.


Berikut Rangking PTKIN  dibanding dengan peringkat kampus di Indonesia dan dunia menurut Webometrics;




[caption id="attachment_2305" align="alignleft" width="652"]Webometrics PTKIN (@viva_tnu)[/caption]

Thursday, July 28, 2016

01-02 Agustus 2016, Tes Lanjutan Beasiswa LN Program 5ribu Doktor

beasiswa
Jakarta,PendidikanIslam.ID – Setelah dinyatakan lulus seleksi  dokumen (Seleksi Tahap I)  pada Program Beasiswa Studi Luar Negeri 5ribu Doktor, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Kementerian Agama RI Tahun 2016 mewajibkan bagi peserta tersebut untuk mengikuti tes lanjutan.


 “Test tersebut berupa tulis (esai), tes psikologi, Leaderless Group Discussion (LGD) dan  wawancara,” sebut Amsal Baktiar dalam lembar pengumannya.


Megenai waktu dan tempat pelaksanaannya, Guru Besar UIN Sayarif Hidayatullah ini menerangkan bahwa tes akan dilaksanakan pada Hari Senin-Selasa, tanggal 1 - 2 Agustus 2016 di  Ballroom Hotel Acacia  Jl. Kramat Raya No. 81, Jakarta.


“Sebelum pelaksanaan tes, peserta harus akan melaksankan daftar terlebih dahulu. Kemudian tes akan dilaksanakan pada 08.30 -  Selesai,” urai Amsal.


Waktu pendaftaran ulang, rinci Amsal, peserta yang terdiri atas Strata Tiga (S3) 85 orang dan Strata Dua (S2) 49 orang tersebut wajib membawa dan menunjukkan dokumen fisik asli persyaratan yang telah diupload dan kartu pendaftaran yang telah dicetak dan/atau identitas diri. Dan adapun mengenai akomodasi, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama tidak menanggung.


“Biaya transportasi dan akomodasi selama mengikuti seleksi tahap II ini ditanggung oleh masing-masing peserta,” sebut Amsal. (@viva_tnu)


Info Lebih Lengkap :
http://scholarship.kemenag.go.id/pdf/info.php?id=126&action=post
http://scholarship.kemenag.go.id/pdf/info.php?id=127&action=post

Tuesday, July 26, 2016

ICMI Apresiasi Berdirinya UIII

[caption id="attachment_2258" align="aligncenter" width="600"]Ikatan Cendekiawan se-Indonesia Ikatan Cendekiawan se-Indonesia[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID - Untuk meningkatkan pengakuan masyarakat akademik internasional atas Islam di Indonesia, dan menempatkannya sebagai salah satu unsur penting peradaban dunia,  ICMI memandang upaya pemerintah untuk menjadikan Islam di Indonesia sebagai pusat penelitian dan pengembangan, alternatif pemecahan masalah kemanusiaan, mozaik budaya dan peradaban dunia, serta inspirasi bagi terciptanya tata dunia baru yang damai, ramah, demoktratis, dan berkeadilan melalui pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII)


 “UIII harus mendapat dukungan penuh dari seluruh umat Islam, khususnya kaum cendekiawan,” katanya Sekjen ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia) Moh. Jafar Hafzah.


Sebagai cendekiawan muslim, lanjut Jafar, ICMI sangat mendukung dan mengapresiasi terbitnya Perpres pendirian UIII. Ini menunjukan bahwa pemerintah juga peduli terhadap kemajuan pendidikan umat Islam, hingga mendorongnya ke tingkat internasional.


 “Sebab, dengan langkah itu Indonesia dapat menjadi salah satu pusat peradaban Islam di dunia dan mengenalkannya kepada dunia internasional melalui jalur dan jenjang pendidikan tinggi yang memenuhi standar internasional, jadi upaya yang dilakukan tentu juga dengan bantuan yang maksimal pula,” tegas Jafar.


Melalui pendirian UIII itu, ICMI berharap akan muncul generasi cendekiawan muslim Indonesia yang baru dan lebih menguasai wawasan internasional namun berjiwa nasionalis tinggi, kata Jafar.


“Posisi ICMI dalam hal ini sangat jelas, kita dukung sepenuhnya dan akan membantu jika diperlukan dalam proses lebih lanjut nantinya,” pungkas Jafar.


Terkait hal ini, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin tengah merancang naskah akademik pendirian UIII. Naskah tersebut sebagai panduan teknis penerapan Perpres.


“Naskah akademiknya sedang kami persiapkan. Naskah akademik itu sebagai bentuk implementasi Perpres ini,” kata Lukman, di Gedung Kemenag Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat, 15 Juli 2016.


Lukman mengatakan, UIII akan mengembangkan pengkajian Islam yang khas Indonesia. Pengkajian ini dianggap penting karena nilai-nilai Islam yang berkembang di Indonesia memiliki kekhasan yang dapat memberi sumbangsih positif bagi peradaban dunia.


“Sudah waktunya bagi Indonesia, yang punya jumlah umat Muslim terbesar di dunia, memiliki universitas bertaraf internasional yang secara khusus mengkaji, mendalami, sekaligus mengembangkan Islamic studies,” ucap dia.


Meski begitu, pendirian UIII hanya dikhususkan pada studi magister dan doktoral. Studi untuk sarjana, kata Lukman, akan menjadi wewenang Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).


“Untuk Strata-1 (S1) biarkan menjadi fokus dari PTKIN, seperti IAIN, STAIN dan UIN,” ucap dia.


UIII rencananya juga difokuskan untuk mahasiswa luar negeri. Lukman menjelaskan, tiga per empat kuota mahasiswa UIII akan diisi mahasiswa asing.


“75 persen total mahasiswa yang ada diperuntukkan untuk mahasiswa asing,” ujar dia.

Universitas...


icmiUniversitas bertaraf internasional


Dengan pertimbangan dalam rangka meningkatkan pengakuan masyarakat akademik internasional atas Islam di Indonesia, dan menempatkannya sebagai salah satu unsur penting peradaban dunia, pemerintah memandang perlu menjadikan Islam di Indonesia sebagai pusat penelitian dan pengembangan, alternatif pemecahan masalah kemanusiaan, mozaik budaya dan peradaban dunia, serta inspirasi bagi terciptanya tata dunia baru yang damai, ramah, demoktratis, dan berkeadilan.


Pemerintah memandang Indonesia perlu menjadi salah satu pusat peradaban Islam di dunia dan mengenalkannya kepada dunia internasional melalui jalur dan jenjang pendidikan tinggi yang memenuhi standar internasional.


Seperti diketahui, UIII merupakan perguruan tinggi yang berstandar internasional dan menjadi model pendidikan tinggi Islam terkemuka dalam pengkajian keIslaman strategis yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Agama, demikian Jafar mengutip bunyi Pasal 1 ayat (2) Perpres tersebut.


Menurut Perpres tersebut, UIII dikelola sebagai perguruan tinggi negeri badan hukum, dan pembinaannya dilakukan secara teknis akademis oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang agama dan kementerian yang terkait di bidang Pendidikan Tinggi.


Sementara dalam mewujudkan perguruan tinggi yang berstandar internasional sebagaimana dimaksud dan dalam diplomasi luar negeri, difasilitasi oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang hubungan luar negeri.


Perpres itu juga menegaskan, UIII mempunyai tugas utama menyelenggarakan program magister dan doktor bidang studi ilmu agama Islam.


Selain menyelenggarakan program pendidikan tinggi ilmu agama Islam sebagaimana dimaksud, menurut Perpres ini, UIII dapat menyelenggarakan program magister dan doktor bidang studi ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta sains dan teknologi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.


Adapun pendanaan penyelenggaraan UIII, menurut Perpres ini, bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Non Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum.


Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaraan dan pengelolaan UIII, menurut Perpres ini, diatur dengan peraturan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang Agama dan peraturan menteri lain/pimpinan lembaga pemerintah non kementerian yang terkait sesuai dengan kewenangannya.


“Peraturan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan,” bunyi Pasal 5 Peraturan Presiden Nomor 57 Tahun 2016 yang telah diundangkan oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna H. Laoly pada tanggal 29 Juni 2016 itu, demikian sumber di Sekretariat Kabinet menyebutkan (setkab.go.id/@viva_tnu)

“Behind The Scene” UIII. Teten : Presiden Ingin Ajaran Islam Moderat Dijaga

[caption id="attachment_2253" align="aligncenter" width="600"]Kepala Staf Presiden, Teten Masduki Kepala Staf Presiden, Teten Masduki[/caption]

“Perguruan tinggi Islam moderat  yang betul betul sebuah universitas yang besar, yang nanti akan menjadi kiblat perguruan tinggi Islam dunia.” Demikian kata Presiden Joko Widodo dalam pengantar rapat terbatas (ratas) yang diselenggarakan di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (5/6/2016) yang lalu


Hadir dalam ratas tersebut; Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Ketua MUI Din Syamsudin, serta beberapa Rektor Universitas Islam Negeri (UIN).


Tim Komunikasi Presiden Teten Masduki menjelaskan, Presiden Jokowi ingin agar ajaran Islam yang moderat perlu dijaga, sebab hal ini dapat memunculkan citra Islam di Indonesia yang cinta damai. Sehingga pemikiran bahwa Islam identik dengan terorisme dan anti demokrasi terpatahkan.


“Diharapkan perguruan tinggi Islam moderat yang bertaraf internasional tersebut dapat membuat terobosan dalam pola didiknya dengan materi ajaran tentang nilai-nilai keislaman yang moderat sesuai dengan Pancasila,” papar Teten dalam siaran persnya Jumat (5/6) sore.


Menurut Tim Komunikasi Presiden itu, Presiden Jokowi berharap dengan adanya perguruan tinggi Islam yang bertaraf internasional, maka di kemudian hari, Indonesia mampu melahirkan ilmuwan Islam, seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd, yang pemikiran dan ilmu pengetahuannya diakui dunia sampai saat ini.


Kekuatan Indonesia


Presiden Jokowi  dalam ratas tersebut mengemukakan, bahwa dalam pertemuanya dengan Kepala-Kepala Negara selalu ia menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara Islam terbesar di dunia. “Selalu itu saya awali dengan itu karena menurut saya itu kekuatan kita saat ini dalam geopolitik maupun geoekonomi dunia,” ungkap Jokowi.


Menurut Presiden, negara-negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) sekarang memberikan respek yang sangat besar kepada Indonesia karea kita dianggap sangat rukun, persatuan kita juga sangat bagus meskipun kita beragam agama dan beragam suku, dan juga ada 17.000 pulau.


Oleh karena itu, lanjut Presiden Jokowi, bersama-sama dengan Wapres Jusuf Kalla, ia merasa perlu menggagas mengenai sebuah perguruan tinggi Islam moderat di Indonesia yang betul-betul sebuah universitas yang besar, yang akan menjadi kiblat perguruan tinggi Islam dunia.


“Kalau memang ini disetujui, nanti konsep besarnya seperti apa, kemudian juga lokasinya, segera kita tentukan, dan segera kita putuska, dan tentu saja mengenai pendanaan akan segera kita carikan,” pungkas Presiden Jokowi. (ES/@viva_tnu)