Showing posts with label Pendis. Show all posts
Showing posts with label Pendis. Show all posts

Wednesday, December 7, 2016

Darul Arqam, Universitas Rasulullah yang Pertama

naik-ontaRasulullah SAW adalah seorang Nabi yang Ummi, namun Beliau dikarunia kecerdasan yang luar biasa oleh Allah SWT. Selain itu Rasulullah juga adalah seorang pendidik yang sangat hebat. Terbukti kemudian, anak-anak didiknya tumbuh menjadi orang-orang yang hebat.

Rasulullah menanamkan pendidikanya kepada para pengikutnya, mula-mula secara terbatas dan sembunyi-sembunyi di Makkah. Setelah hijrah ke Madinah Rasulullah pertama kali memusatkan pendidikan untuk para sahabatnya di rumah (dar) Arqam, seorang sahabat Ansor. Karena itulah Darul Arqom (rumah Arqom) sering disebut-sebut sebagai universitas Rasulullah yang pertama.

Namun tentu saja Rasullullah tidak lantas membatasi pengajaran dan pendidikannya hanya pada rumah Arqom saja. Beliau juga senantiasa mengajarkan ilmu-ilmu dan keteladananya di manapun, bahkan ketika sedang berboncengan kendaraan sekalipun (naik onta berdua). Hingga pada suatu ketika Rasulullah sedang berboncengan berdua di atas kendaraannya dengan sahabat Ibnu Abbas yang adalah keponakannya.

Maka bersabdalah Rasulullah SAW,

 يَا غُلَامُ ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ


"Wahai ananda, aku akan mengajari engkau beberapa kalimat, Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Allah di hadapanmu." (HR Tirmidzi)

Mendengar sabda yang demikian maka sahabat yang bernama lengkap Abdullah bin Abbas ini pun terdiam khusyuk mendengarkan.

Menyaksikan ketertegunan keponakannya, lalu Rasulullah melanjutkan pelajarannya mengenai perkara-perkara tauhid (keyakinan seorang hamba kepada Tuhannya) ini.

Rasulullah bersabda, "Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah. Jika engkau meminta tolong, minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia) berkumpul untuk memberikan satu pemberian yang bermanfaat kepadamu, tidak akan bermanfaat hal itu bagimu, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan bermanfaat bagimu). Ketahuilah. kalaupun seluruh umat (jin dan manusia)berkumpul untuk mencelakakan kamu, tidak akan mampu mencelakakanmu sedikitpun, kecuali jika itu telah ditetapkan Allah (akan sampai dan mencelakakanmu). Pena telah diangkat, dan telah kering lembaran-lembaran." (HR Tirmidzi)

Demikianlah bagaimana Rasulullah memberikan pengajaran dan pendidikannya hanya kepada para muridnya. [Red: Anam]

Wednesday, November 9, 2016

Beasiswa Kampung Inggris Pare untuk Hafidz Al-Qur’an

informasi-kampung-inggrisKediri, PenddikanIslam.id - Sebuah lembaga yang bergerak di bidang pengembangan kemampuan bahasa Inggris Language Center (LC) yang berada di Pare Kediri, Jawa Timur, atau dikenal dengan Kampung Inggris membuka program beasiswa khusus untuk para penghafal Al-Qur'an. Tidak hanya besiswa, tersedia juga uang saku.

Fasilitas beasiswa hafidz di Kampung Inggris LC ini meliputi:
1) Program 6 kali sehari
2) Asrama English Area
3) Modul
4) Kaos LC Kampung Inggris
5) Tutor Camp di setiap asrama
6) Sertifikat
7) Uang saku 1.000.000 ( khusus bagi penghafal 30 juz)

Ketentuan Beasiswa Hafidz LC Kampung Inggris :
-) Hafal 30 Juz, bebas biaya kursus, fasilitas beasiswa, dan uang saku 1.000.000
-) Hafal 4 juz atau lebih, bebas biaya kursus dan semua fasilitas beasiswa.
-) Hafal 3 Juz, Diskon 75% biaya paket program + fasilitas beasiswa
-) Hafal 2 Juz, Diskon 50% biaya paket program + fasilitas beasiswa
-) Hal 1 juz, diskon 25% biaya paket program + fasilitas beasiswa.

Para calon peserta dapat mengirim surat permohonan beasiswa dan CV lengkap ke email  beasiswa.kampunginggris@gmail.com Surat permohonan dan CV akan diseleksi oleh tim LC. Mereka yang lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa harus menyatakansanggup mematuhi peraturan LC dan Camp.

Kelas beasiswa akan akan dibuka setiap bulan, di periode tanggal 10. Jangan terlambat karena kuota setiap bulan hanya untuk 15 pendaftar.

Informasi lengkap silahkan dibaca di website Official Kampung Inggris LC : http://kampunginggris.id/beasiswa-hafidz-kampung-inggris-lc/

Informasi dan pertanyaan bisa langsung menghubungi telp 0354 396561 atau sms/whatsapp ke 08523 111 1117 [Red: Anam]

 

Thursday, October 20, 2016

Keberhasilan MAN Insan Cendekia Mengadopsi Keungulan Pesantren

Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia adalah lembaga pendidikan yang sejak awal telah mengambil keunggulan-keunggulan yang ada di pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia. Penanaman akhlaq dan nilai-nilai keislaman terintegrasi dalam proses pembelajaran.

Demikian disampaikan Joko Miranto, guru senior yang pernah menjadi kepala sekolah MAN Insan Cendekia di Gorontalo, kepada pendidikanislam.id beberapa waktu lalu.

Lalu, apa yang membedakan MAN Insan Cendekia dengan pesantren? Menurut Joko, di MAN Insan Cendekia, aspek akademik diperketat. Para gurunya harus memenuhi kualifikasi tertentu. Lalu tradisi juara juga ditanamkan kepada siswa. Semua tidak berjalan begitu saja. Berbagai proses dan strategi dilakukan untuk mewujudkan semua tujuan.

[caption id="attachment_2786" align="aligncenter" width="620"]Pagi-pagi selepas shalat subuh, seorang siswa MAN Insan Cendekia Gorontalo sedang duduk santai sendiri di depan ruang administrasi sambil membaca Al-Quran Gambar: Pagi-pagi selepas shalat subuh, seorang siswa MAN Insan Cendekia Gorontalo sedang duduk santai sendiri di depan ruang administrasi sambil membaca Al-Quran[/caption]

Pada saat pertama didirikan tahun 1990-an, Insan Cendekia masih berada di bawah naungan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi).

“Saya belum seperti apa model pendidikannya. Namun yang pasti waktu itu sekolah ini akan merekrut anak pesantren supaya dapat pengetahuan sekolah umum,” kata Joko.

Semangat awal Insan Cendekia waktu itu adalah menampung anak-anak yang potensial dari pesantren. Menurut Joko, jumlah siswa  yang belajar di pesantren sangat besar, berkisar 60-70 persen dari total jumlah siswa yang belajar di seluruh Indonesia. Hampir semua pesantren merupakan inisiatif dari masyarakat dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah.

Sementara di sisi lain, pesantren diakui mempunyai banyak keunggulan.”Justru pendidikan yang terbaik adalah pesantren. Insan Cendekia sebenarnya meniru modelnya pesantren, bukan bikin sendiri. BPPT waktu itu secara khusus mempelajari kelebihan pesantren. Kemudian kelebihan itu digabungkan dengan   kelebihan yang ada di sekolah umum sehingga jadilah Insan Cendekia ini,” katanya.

Keunggulan pesantren adalah keberhasilannya menanamkan sikap dan prilaku. Itu terintegrasi dalam semua aspek pembelajaran, dari mulai bangun pagi, sampai tidur kembali. Penanaman akhlak dan nilai-nilai kegamaan diajarkan secara praktis ketika berada di lingkungan pesantren. Para siswa juga tinggal di asrama sehingga fokus kepada pendidikan.

“Tapi pesantren memang kan fokusnya di situ. Untuk akademiknya memang perlu ditingkatkan. Saya juga paham karena di pesantren SDM-nya terbatas. Misal guru yang mengajar matematika asalnya bukan orang matematik. Tapi secara umum sampai sekarang yang terbaik itu sistem pesantren,” katanya.

Menurut Joko, MAN Insan Cendekia ini mengambil keunggulan pesantren itu dengan menutup kekurangannya. [Anam]

 

Wednesday, October 5, 2016

Padang dan Penajam Paser Utara, Dua Daerah yang Sangat Perhatian Terhadap Pendidikan Islam

[caption id="attachment_2724" align="aligncenter" width="620"]Ilustrasi: Siswa madrasah mengejar impian Ilustrasi: Siswa madrasah mengejar impian[/caption]

Sementara ini dana yang digelontorkan untuk pendidikan Islam hampir selalu berupa dana bantuan sosial atau hibah pemerintah daerah yang jumlah dan periode penyalurannya tidak pasti.

Kota Padang yang memperoleh penghargaan Apresiasi Pendidikan Islam (API) 2015 dari Kementerian Agama adalah contoh pemerintah daerah yang mengalokasikan dana bantuan sosial cukup besar untuk penyeleggaraan pendidikan Islam.

Dari total dana hibah Pemerintah Kota Padang sebesar Rp. 30,982 miliar di awal tahun 2015, hampir separuhnya dikeluarkan untuk pembiayaan pengembangan pendidikan Islam, seperti untuk pengadaan buku panduan pendidikan keagamaan, sertifikasi guru, pelatihan managemen, dan bantuan untuk madrasah. Sebanyak 3.700 guru Taman Pendidikan A-Qur’an (TPQ) juga mendapatkan insentif total sebesar Rp 9 miliar lebih.

Berbagai produk regulasi dikeluarkan oleh Pemerintah Kota Padang untuk penyeleggaraan dan pengembangan pendidikan Islam. Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah juga menjadi salah satu kepala daerah yang sangat memperhatikan pendidikan Al-Qur’an dan pengamalan ajaran Islam di daedahnya. Untungnya, pemerintah Kota Padang mendapatkan dukungan yang sepadan dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) setempat.

Belanja Rutin

Selain Kota Padang, Kabupaten Penajam Paser Utara Kalimantan Timur adalah salah satu daerah yang patut dijadikan contoh. Tahun 2015 lalu pemerintah kabupaten setempat menggelontorkan dana hibah dalam bentuk uang sebesar Rp. 28 miliar lebih. Kabupaten ini termasuk yang paling royal membelanjakan dana hibahnya untuk kepentingan keagamaan. Dana hibah paling besar diberikan untuk 73 sarana ibadah. Sebagai kapupaten berpenduduk mayoritas Muslim, mencapai 94%, bisa dipastikan hibah itu lebih banyak ditujukan untuk sarana ibadah umat Islam.

Dalam SK Bupati Penajam Paser Utara tertanggal 27 Februari 2015 tentang pemberian dana hibah itu, Bupati H Yusron Aspar juga menandatangani penyaluran dana Rp. 9 miliar lebih untuk lembaga pendidikan dari mulai tingkat TK/RA sampai SMA/MA/SMK. Tercatat ada 153 yang menerima dana hibah ini. Besaran dana yang dihibahkan beragam, berkisar antara puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Menariknya, Bupati tidak membedakan antara lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kementerian Agama, juga antara lembaga pendidikan yang berstatus negeri atau swasta. Beberapa Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) tercatat mendapatkan dana hibah di atas angka Rp.100 juta rupiah. Seperti MTs Al-Amin mendapatkan dana hibah Rp. 137 juta, MTs MTS Binaul Muhajirin mendapatkan Rp.114 juta, MA Darul Ulum Rp.150 juta, dan MA Al-Falah sebesar Rp.154 juta.

penajam-paser-utaraDari 153 lembaga pendidikan di Kabupaten Penajam Paser Utara yang mendapatkan dana hibah ini, memang tercatat hanya sekitar 20 lembaga pendidikan Islam atau madrasah. Ini bisa dimaklumi karena lembaga pendidikan yang ada di sana di dominasi oleh lembaga pendidikan umum atau sekolah. Lebih dari separuh dari jumlah itu yang mendapatkan dana paling kecil adalah pendidikan setingkat PAUD dan TK. Sementara tidak tercatat ada Raudlatul Atfal (RA). Namun yang patut diapreasiasi dari daerah ini adalah perkuan yang sama terhadap semua lembaga pendidikan.

Perhatian khusus Kabupaten Penajam Paser Utara juga ditujukan pada guru TK Al Quran dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA). Pada 13 Juli 2015, Bupati Yusran Aspar menandatangani surat keputusan pemberian penghargaan dalam bentuk uang sebesar Rp. 5,74 miliar kepada 1.196 guru TKA/TPA yang tersebar di empat kecamatan setempat. Masing-masing guru TKA/TPA mendapatkan uang sebesar Rp. 4,8 juta rupiah. Dana sebesar itu cukup membuat para guru mengaji merasa bahagia.

Dana BOSDA atau Bantuan Operasional Sekolah Daerah juga diberikan secara merta kepada sekolah maupun madrasah.  Data alokasi BOSDA dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara Kalimantan Timur untuk tahun 2014, misalnya, untuk SD dan MI sama besarnya, Rp.282 ribu perpeserta didik, untuk SMP dan MTs sebesar Rp486 ribu per peserta didik, dan untuk SMA dan MA sebesar Rp.900 ribu per peserta didik.

Jadi anggaran pemerintah daerah untuk pendidikan Islam sebenarnya tidak hanya berupa bantuan atau hibah yang jumlahnya dan periode penyalurannya tidak tetap. Semestinya lembaga pendidikan Islam masuk ke dalam mata anggaran pendidikan pemerintah daerah, baik berupa Dana Alokasi Umum (DAU) maupun Dana Alokasi Khusus (DAU) baik fisik maupun non fisik seperti Dana Tambahan Penghasilan Guru (DTPG), Tunjangan Profesi Guru (TPG), Bantuan Operasional Sekolah, Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP), sampai Dana Peningkatan Pengelolaan Koperasi, UKM, dan Ketenagakerjaan seperti pada lembaga pendidikan umum.

Jika lembaga pendidikan Islam semakin berdaya di semua daerah maka mungin tidak hanya Bupati Tanah Laut Bambang Alamsyah tadi yang ingin anaknya belajar di lembaga pendidikan Islam. Jika negara hadir, maka geliat dan prestasi lembaga pendidikan Islam akan meningkat. Jika negara tanpa pilih kasih dalam memberdayakan semua lembaga pendidikan, maka kita pantas berharap akan segera menyongsong masa depan generasi bangsa Indonesia yang lebih sumringah. (*)

*Disarikan dari Artikel Utama, Majalah Pendis Edisi VI 2016

Tuesday, October 4, 2016

Menanti Kontribusi Daerah untuk Pendidikan Islam

12-foto-kenangan-siti-aminah-dan-teman-temannya-di-insan-cendekiaLembaga pendidikan Islam yang berada di bawah naungan Kementerian Agama menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional yang sah dan diakui oleh negara. Berbagai produk hukum dari tingkat pusat hingga daerah secara eksplisit juga menyebutkan bahwa Madasah Ibtidaiyah (MI) setara dengan SD, Madrasah Tsanawiyah (MTs) setara dengan SMP dan Madrasah Aliyah (MA) setara dengan SMA. Lulusan lembaga pendidikan Islam juga berhak menduduki jabatan publik atau pekerjaan yang mempersyaratkan harus berijazah formal.

Artinya tidak ada persolan dari sisi legalitas negara. Namun ketika berbicara tentang sistem penganggaran, lembaga pendidikan Islam mendapatkan perlakuan yang tidak sama dengan lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Lembaga pendidikan Islam berada di bawah Kementerian Agama yang disebut sebagai institusi vertikal, sebagaimana kejaksaan dan kepolisian. Anggaran untuk instansi vertikal hanya berasal dari pusat. Namun di sinilah letak ketidakadilannya. Padahal dana pendidikan yang disalurkan melalui transfer daerah, jumlahnya sangat besar, mencapai lebih dari separuh total anggaran pendidikan nasional.

Besaran anggaran pendidikan yang disalurkan melalui pemerintah daerah mencapai angka 63,9% dari total anggaran pendidikan nasional, mencapai Rp.267,887 triliun. Dana sebesar ini mestinya harus bisa disalurkan untuk lembaga pendidikan Islam.

Alokasi Anggaran

Persoalan alokasi anggaran pemerintah daerah untuk instansi vertikal mestinya sudah selesai menyusul keluarnya Surat Edaran (SE) Menteri dalam Negeri nomor 2667 Tahun 2007. Melalui SE ini, Kementerian Agama yang merupakan salah satu dari Instansi vertikal sebagaimana Kejaksaan dan Kepolisian behak mendapatkan dana hibah dari pemerintah daerah.

anggaran-pendidikan-melalui-transfer-daerahDalam SE tersebut disebutkan bahwa transfer berupa barang atau dana dilakukan “langsung” kepada penerima hibah, yakni instansi vertikal yang mengajukan proposal hibah kepada Pemda. Dengan aturan tersebut tentunya bisa menjadikan dua institusi Pemerintah Daerah dan Instansi vertikal bisa melakukan sharing dan sinergitas program.

Sementara dalam SE Mendagri Nomor 903/210/BKAD tanggal 27 Februari 2006 terkait dengan pembiayaan di lembaga pendidikan Islam lainnya seperti di Madrasah Ibtidaiyah, Tsanawiyah dan Aliyah, pemerintah daerah juga bisa mendanai kegiatan proses belajar di satker Kementerian Agama tersebut.

Tidak hanya sebatas mengacu SE Mendagri saja. Lebih tinggi dari itu adalah UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan, yang menyatakan bahwa pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat.

Persoalan lainnya yang sering diangkat adalah terkait persoalan duplikasi penganggaran. Pada masa pemerintahan periode lalu, kebijakan anggaran masih berpedoman pada prinsip money follow function. Anggaran digelontorkan begitu saja kepada sesuai dengan jumlah yang telah dianggarkan. Namun era pemerintahan Presiden Joko Widodo sekarang berubah menjadi money follow program. Karena pendidikan adalah salah satu program pemerintah pusat dan daerah, maka dengan perubahan prinsip ini Kemenag berhak dan bisa atas Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) sehingga tidak ada lagi istilah duplikasi penganggaran.

Jadi sebenarnya persoalannya bukan pada regulasi, tapi pada soal komitmen pemerintah daerah untuk mendanai pelaksanaan pendidikan Islam. Langkah membangun pendidikan Islam bukan persoalan ada atau tidaknya payung hukum, tetapi pada persoalan komitmen dan keberanian seorang kepala daerah dalam mengambil kebijakan. (*)

*Disarikan dari Artikel Utama, Majalah Pendis Edisi VI 2016

Tuesday, September 27, 2016

Daya Tarik Pesantren Amtsilati Jepara

pesantren-amtsilatiTerlihat sekilas dari depan, Pesantren Darul Falah Amtsilati sepertinya adalah pesantren kecil yang stagnan dan tidak berkembang. Namun setelah masuk ke dalamnya, pesantren ini sangat luas. Pesantren ini memiliki luas sekitar 5 hektar. Padahal, awal berdiri pesantren ini hanya berukuran 10x10. Bagaimana kisahnya?

Terletak di desa Sidorejo Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Jawa Tengah, keunikan dari pesantren Darul Falah ini adalah pembangunan fisik pesantren yang tiada henti. Terhitung sudah sekitar 13 tahun –berdiri tahun 2002- Pengasuh Pesantren Darul Falah, KH Taufiqul Hakim, terus berjuang membangun pesantren seluas-luasnya. Namun bangunan fisik hanya menjadi sesuatu yang terlihat sekilas saja oleh pandangan mata, sebenarnya apa yang dimiliki oleh Pesantren Darul Falah ?

Pesantren ini termasuk salah satu pondok pesantren yang terus berkembang karena memiliki suatu karakteristik yang berbeda dengan pesantren lain dengan keunggulan metode Amtsilati yang ditemukan oleh pengasuhnya sendiri.

Metode Amtsilati menjadi daya tarik tersendiri bagi pesantren ini. Metode ini merupakan sebuah metode pembelajaran kitab kuning dengan pembelajaran yang praktis dan cepat. Di tengah anggapan masyarakat bahwa belajar kitab kuning dengan nahwu-sharafnya adalah ilmu yang menakutkan karena harus bertahun-tahun mempelajarinya, Amtsilati menghadirkan akselerasi yang menjadi solusi atas pembelajaran nahwu-sharaf tradisional yang stagnan.

Kiai taufiqul hakim, penulis Amtsilati sekaligus pengasuh pesantren Darul Falah ini juga termasuk kiai muda yang produktif. Semenjak menulis Amtsilati dari tahun 2002 sampai sekarang 2015, dia sudah menulis kurang lebih 150 kitab. Selain menulis, ia juga membangun percetakannya sendiri dan memasarkannya sendiri dibantu dengan koordinator di setiap daerah di Indonesia.

Sejarah Amtsilati

Amtsilati lahir, berawal dari kegundahan seorang Taufiq muda yang merasa sulit membaca kitab kuning meskipun ia sudah menghafal Alfiyyah. Di saat itu juga lahir sebuah metode Qiraati, metode yang mengupas cara membaca yang ada harokatnya, terinspirasi dari Qiraati, ia juga ingin menulis yang bisa digunakan untuk membaca yang tidak ada harokatnya. Terbetiklah nama Amtsilati yang berarti beberapa contoh dari saya yang sesuai dengan akhiran ‘ti’ dari Qiroati.

Mulai tanggal 27 Rajab, tahun 2001 M., Kiai Taufiq mulai merenung dan muncul pemikiran mujahadah. Setiap hari dia melakukan mujahadah terus-menerus sampai tanggal 17 ramadhan. Hari itu, seakan-akan ada dorongan kuat untuk menulis. Siang malam ia ikuti dorongan tersebut dan akhirnya tanggal 27 ramadhan selesailah penulisan Amtsilati dalam bentuk tulisan tangan. Amtsilati tertulis hanya sepuluh hari.

Subhanallah, saat itu kisah lahirnya Amtsilatinya saja menjadi kisah menarik dan inspiratif. Amtsilati lahir dari sebuah kejernihan hati seorang penulisnya. Dari seorang santri yang mengikuti thariqat di Pesantren Al-Manshur Klaten dan menyelesaikan thariqotnya hanya 100 hari, lahir Amtsilati, sebuah kitab fenomenal.

Perjalanan Amtsilati sedikit-demi sedikit menampakan hasilnya yang brilian. Semenjak muncul Amtsilati dengan pesantrennya, Darul Falah, dari tahun 2002 sampai tahun 2015 ini, banyak sekali prestasi yang dicapai baik oleh Pengasuhnya, santrinya maupun pesantrennya.

Amtsilati Saat Ini

Dalam kurun waktu sekitar 13 tahun –berdiri tahun 2002- Darul Falah Amtsilati terus mengembangkan jati dirinya baik itu dari segi fisik bangunan, tingkat pendidikan, metode pembelajaran, maupun dari kuantitas santri. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Taufiqul Hakim bahwa saat ini Pesantren Darul Falah sudah memiliki sekitar 2500 santri baik putra maupun putri. Luas pesantrennya sudah mencapai 5 hektar. Pencapaian ini didukung oleh manajemen dalam mengelola pesantren dengan baik.

Bahkan pembangunan pesantren Darul Falah seperti tiada henti. Saking herannya, para ustadz, santri dan masyarakat keheranan dapat uangnya dari mana. Pendapat itu seakan wajar saja dikatakan, melihat pembangunan Darul Falah yang cepat. Padahal jika diamati dari pemasukan biaya yang masuk ke Pesantren Darul Falah bisa dianggap cukup wajar jika pembangunan pesantren bisa maksimal. Pemasukan utama pesantren yaitu dari sodaqoh santri baru, syahriyah santri, koperasi pesantren dan percetakan Amtsilati.

Tidak hanya dari fisik pesantren, Kiai Taufiqul Hakim terus berinovasi dalam memajukan pendidikan pesantren. Terbukti Amtsilati memiliki tingkat pendidikan yang bisa dikata lengkap. Mulai dari jalur formal yaitu, MI (Madrasah Ibtidaiyyah) Tahfidz Amtsilati, SMP IT (Islam Terpadu) Amtsilati sampai MA (Madrasah Aliyah) Amtsilati. Dari jalur non-formal, yaitu progam metode Amtsilati, kemudian  progam pasca Amtsilati yang terdiri dari komunikasi bahasa Arab-Inggris dan Madin Wustho dan Ulya Amtsilati.

Dari segi prestasi yang diperoleh santrinya, sekitar 50 lebih piala yang berhasil dibawa pulang ke Darul Falah. Diantaranya, Mas Agus Azro Halim mendapatkan juara II Bidang Tafsir Ulya dalam Mufakat (Musabaqah Fahmil Kutub Turats) tahun 2011. Kabar terbaru, bulan April 2015 lalu santri Amtsilati memborong 20 piala dari beragam bidang kategori dalam MQK Kabupaten Jepara. (Sabiq Al-Aulia Zulfa/NU Online)

Tuesday, September 20, 2016

SK Beban Kerja Dosen PTKIN 2011 Dicabut!

beban-kerja-dosen-2
Jakarta, PendidikanIslam.ID – Setelah 5 (lima) berlaku, maka Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor : Dj.I/DT.I.IV/1591.A/2011 tentang Beban Kerja Dosen dan Evaluasi Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi Bagi Dosen Di Lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) secara resmi dicabut. SK yang dikeluarkan pada masa Dirjen Mohammad Ali dan Direktur Diktis Dede Rosyada tersebut kemudian dihentikan secara subtantif oleh Dirjen Pendis Kamaruddin Amin (29/08/2016) dengan Surat Edaran (SE) tertanggal 8 September 2016.


 “SK tahun 2011 tersebut sudah tidak relevan dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur ketentuan mengenai beban kerja dosen,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin dalam keterangan tertulisnya.


Akhir September 2016 Harus Ada Pengganti
Setelah SK tahun 2011 tersebut dicabut, lanjut Guru Besar UIN Alaudin ini, maka langkah selanjutnya adalah bahwa setiap seluruh pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) baik UIN, IAIN dan STAIN serta ketua Kopertais (Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta) untuk segera menerbitkan keputusan tentang beban kerja dosen pada PTKIN dan Kopertais masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


 “Mengacu pada UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mneyebutkan bahwa beban kerja dosen diatur oleh setiap satuan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, PTKIN dan Kopertais diharapkan sudah memiliki pedoman beban kerja dosen yang ditandatangani masing-masing PTKIN dan ketua Kopertais paling lambat akhir bulan September 2016,” tegas Kamaruddin Amin.


Sebagaimana diketahui, dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi, dosen dikenai beban kerja 12-16 SKS (Sistem Kredit Semester) pada setiap semester yang terdiri atas pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan penulisan karya ilmiah, serta pengabdian pada masyarakat. Laporan beban kerja dosen ini disusun untuk merekam kinerja dosen sebagai seorang pendidik profesional dan ilmuwan. Rekaman tersebut sebagai bentuk akuntabilitas publik sebagai imbas atas dana tunjangan profesi/sertifikasi yang sudah diterima. (@viva_tnu)


Silahkan Download :
SE Pencabutan tentang Beban Kerja Dosen

Monday, September 5, 2016

Pertama di Indonesia, Sekolah Tinggi Ilmu Fiqih Hadir di Banten

[caption id="attachment_2588" align="aligncenter" width="640"]Dr KH Ma'ruf Amin, Ketua Dewan Pembina STIF SYENTRA Serang, Banten. Dr KH Ma'ruf Amin, Pendiri sekaligus Ketua Dewan Pembina STIF SYENTRA Serang, Banten.[/caption]

SERANG, PENDIDIKANISLAM.ID - Sekolah Tinggi Ilmu Fiqih (STIF) yang pertama kali di Indonesia, hadir di Pondok Pesantren Annawawi di Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Banten. Secara resmi Sekolah Tinggi Ilmu Fiqih Syeikh Nawawi Tanara (STIF SYENTRA) yang digagas Ketua Umum MUI Pusat KH Ma’ruf Amin tersebut, diluncurkan di Kampus Kompleks Pesantren Annawawi Tanara di Serang, Sabtu (4/9).

KH Maruf Amin yang juga Ketua Dewan Pembina STIF Syeh Nawawi Tanara tersebut mengatakan, sekolah tinggi ilmu Fiqih Syeikh Nawawi Tanara merupakan satu-satunya sekolah tinggi ilmu fiqih yang ada di Indonesia.

"Ini merupakan program menyeluruh dari program pendidikan di pesantren Annawawi Tanara. Kami mencita-citakan pesantren 12 tahun, untuk melahirkan pada calon ulama dan kiai," kata KH Makruf Amin saat Launching sekolah tinggi tersebut dilansir Antara.

Ia berharap, dengan adanya sekolah tersebut bisa melahirkan para calon ulama dan kiai, yang bisa berfikir global dan internasional untuk menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.

"Kami mendirikan perguruan tinggi ilmu Fiqih karena masih jarang ahli Fiqih. Kami terinspirasi dengan kebesaran nama Syeikh Nawawi Al-Bantani yang sudah mendunia," jelas Rais Aam PBNU ini.

Ia mengatakan, ilmu yang dikembangkan di perguruan tinggi ilmu Fiqih tersebut yakni Fiqih muamalah yakni hukum ekonomi syariah dan hukum keluarga atau akhwal syahsiyyah. "Karena perkembangan kehidupan sangat dinamis, sehingga perlu ada penyegaran dan ijtihad baru. Ini adalah inovasi, selama ini banyak persoalan yang berkembang dan kekinian membutuhkan fatwa ulama dan penguatan," kata Kiai Ma’ruf.

Koordinator Kopertais Wilayah II Jawa Barat dan Banten Prof Dr H Mahmud mengatakan dengan adanya Sekolah Tinggi Ilmu Fiqih tersebut diharapkan menjadi inspirasi dan pendorong bagi pihak lain untuk mendirikan sekolah tinggi yang memiliki kekhususan atau lebih spesifik seperti sekolah tinggi ilmu tafsir, hadis dan lainnya. Bahkan, jika memungkinkan bisa ada Fiqih lalu-lintas untuk mengurangi kemacetan di perkotaan.

Pihaknya juga berharap sekolah tersebut tidak hanya pada jenjang S1 tapi bisa terus ditingkatkan sampai S3. "Dari perguruan tinggi ilmu Fiqih ini, mudah-mudahan ke depan akan lahir Nawawi-Nawawi muda yang siap berkontribusi untuk membangun negeri ini," kata Mahmud. (Red: Fathoni Ahmad)

Friday, September 2, 2016

Proses Sertifikasi 500 Dosen PTKI Tahun 2016

serdos 2016_1
Jakarta, PendidikanIslam.ID – Sertifikasi dosen (serdos) adalah salah satu upaya meningkatkan kreatifitas dan kualitas kinerja dosen serta mewujudkan quality assurance (penjamin mutu) dosen Indonesia dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan tinggi Indonesia. Untuk mendapatkan sertifikat pendidik dari pemerintah, seorang dosen harus mengikuti prosedur penilaian yang ada. Dan dalam rangka menindaklanjuti SK Dirjen Pendis No. 4562 Tahun 2016, Diktis mengeluarkan ketentuan pelaksanaan sertifikasi dosen PTKI tahun 2016 berupa distribusi portofolio tertanggal 01 Agustus 2016, awal bulan ini.


“Dari 500 (lima ratus) portofolio yang ada di Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, akan didistribusikan kepada 12 perguruan tinggi penyelenggara (penguji),” terang Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Amsal Bakhtiar.


Perguruan Tinggi Penguji (PTP) dan jumlah portofolio serdos yang akan diuji tersebut adalah UIN Maulana Malik Ibrahim (20 Portofolio dengan 4 PT pengusul), UIN Syarif Hidayatullah (79 dengan 2 PT pengusul), UIN Alauddin (55 dengan 5 PT pengusul), UIN Ar Raniry (44 dengan 1 PT pengusul, UIN Sunan Kalijaga (55 dengan 2 PT pengusul), UIN Sunan Gunung Djati (50 dengan 7 PT pengusul), UIN Sunan Ampel (55 dengan 5 PT pengusul), UIN Raden Fatah (21 dengan 6 PT pengusul), IAIN Antasari (24 dengan 1 PT pengusul)), UIN Syarif Kasim (22 dengan 8 PT pengusul), dan UIN Sumatera Utara (40 portofolio dengan 4 PT pengusul).


Mengenai penyelenggaraan serdos tahun 2016 ini, lanjut Amsal, dilaksanakan dengan sistem online dan sedangkan pengiriman portofolio untuk peserta PTKIS dikoordinasi oleh Kopertais setempat.


“Pengisian portofolio secara online harus disosialisasikan oleh PT pengusul dan diharapkan peserta serdos segera melengkapi data dengan mengacu kepada buku pedoman serdos. Validasi data, menghimpun, mengelola hasil penyusunan portofolio serta koordinasi dengan PTP serdos demi kelancaran pelaksanaan penilaian portofolio,” jelas Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah ini.


Bagi PT penyelenggara serdos diharuskan berkoordinasi dengan PT Pengusul. Ia juga wajib sosialisasi dan pembekalan kepada Asesor. Dan yang tak kalah penting dari tugas PT Penyelenggara adalah : 1) Melakukan penilaian secara objektif dan akuntabel; 2) Melakukan dan mengelola kompilasi data dan menetapkan kelulusan; 3) Mengikuti sidang kelulusan nasional dan melaporkan hasil ke Dirjen Pendis; 4) Dan menerbitkan sertifikat pendidik bagi dosen yang telah lulus sertifikasi setelah mendapatkan nomor registrasi dari Dirjen Pendis. (@viva_tnu)


Silahkan Download
SE Ketentuan Pelaksanaan Serdos PTKI 2016

Tuesday, August 16, 2016

Singapore International Mathematic Olympiad Challenge; Murid Madrasah Raih 5 Medali

[caption id="attachment_2443" align="aligncenter" width="600"]Murid Madrasah Raih 5 Medali di Singapura Murid Madrasah Raih 5 Medali di Singapura[/caption]

Yogyakarta, PendidikanIslam.ID - Anisa Hayati (MA Matholibul Huda Mlonggo-Jepara) meraih medali Emas, Septiana Rohmawati (MA Abadiyah Pati-Jawa Tengah) meraih medali Perak, M. Ulin Nuha (MTs Abadiyah Pati-Jawa Tengah) meraih medali Perak, Kholida Nailil Muda (MAN Wonokromo-Yogyakarta) meraih medali Perak, dan Dedi Wahyudi (MTs Matholibul Huda Mlonggo, Jepara-Jawa Tengan) meraih medali Perunggu.


Lima siswa madrasah tersebut berhasil mengharumkan nama bangsa dengan menjuarai ajang kompetisi Matematika internasional,  Singapore International Mathematic Olympiad Challenge (SIMOC), yang diselenggarakan di Singapura pada 12 - 15 Agustus 2016.


“SIMOC tersebut diikuti oleh 15 negara, yaitu: Singapore, Malaysia, Indonesia, Myanmar, Bulgaria, Vietnam, Uzbekistan, Hongkong, Cambodia, Brunei, Indoa, Laos, Mongolia, dan Russia. Sedikitnya ada 700 peserta yang mengikuti ajang ini. Indonesia sendiri mengirim 97 siswa terbaiknya, “ terang Ali Asmui, Kepala MAN Wonokromo Bantul-DIY


Para peserta SIMOC merupakan perwakilan dari tiap negara yang telah mengikuti seleksi SASMO (Singapore and Asian Schools Math Olympiad) dan telah meraih juara. Seleksi tersebut diikuti oleh ribuan peserta yang diadakan di negara masing-masing pada bulan April lalu.


"Kelima siswa-siswi tersebut dan sejumlah rombongan lainnya akan sampai di bandara Djuanda Surabaya Senin (15/08) malam," kata Ali Asmui. (hamam/mkd/@viva_tnu)

8 Alumnus Madrasah Studi ke Luar Negeri atas Beasiswa Kemenag RI

[caption id="attachment_2439" align="aligncenter" width="600"]Alumnus Madrasah Pamitan dengan Setditjen Pendis Alumnus Madrasah Pamitan dengan Setditjen Pendis[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID - Kementerian Agama memberikan bantuan beasiswa kepada 8 lulusan madrasah untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri. Mereka adalah orang-orang terpilih dari 71 siswa yang mengikuti proses seleksi, mulai dari verifikasi dokumen, ujian tertulis, dan wawancara.


Direktur Pendidikan Madrasah M Nur Kholis Setiawan, Senin (15/08), menyebutkan bahwa kedelapan lulusan madrasah berprestasi ini akan melanjutkan studinya di Jepang, Jerman, Turki, Thailand, dan Malaysia.


Menurut M. Nur Kholis, program beasiswa ini telah berjalan sejak tahun 2014. Awalnya, negara yang menjadi destinasi belajar lulusan terbaik madrasah hanya ke Jepang. Mulai tahun ini, destinasi beasiswa bukan hanya ke Jepang saja tapi juga untuk wilayah Asia Tenggara, Eropa, dan Timur Tengah.


Adapun kedelapan lulusan madrasah tersebut adalah: 1) Farah Fairuz Zahira (MAN IC Serpong), ke Automotive Engineering, Nagoya University-Japan; 2) Muhammad Izzat Nugraha (MAN IC Serpong) ke Applied Marine Biology, Tohoku University-Japan; 3) Qatrunnada Hamparan Melati (MAN IC Jambi) ke College of Asia Pacific Studies, Ritsumeikan Asia Pacific University (APU)-Japan; 4) Fathi Thooriq BZ (MAN I Cianjur) ke Mechanical of Engineering, University of Applied Science Kaiserslautern-Jerman; 5) Syauqi Alfiandi (MAN 4 Jakarta) ke International Business Management-Universiti Utara Malaysia; 6) Frisca Intan Luzia (MAN IC Serpong) ke Communication Arts-Bangkok University International College; 7) Ahmad Ghufron Taqiyuddin (MA Daar El Qolam Tangerang) - World Islamic Science & Education University (WISE) - Amman Jordan; dan 8) Abiesa Analistiana (MAN Parakan Temanggung) ke Universitas Kastamonu-Turki.

Nur Kholis berharap, para peraih beasiswa program prestasi ini kelak menjadi intelektual, saintis dan teknokrat, serta menjadi bagian penting yang akan membawa bangsa Indonesia ke tingkat yang lebih maju dalam berbagai bidang kehidupan.


Adapun beasiswa yang diberikan berupa biaya transportasi ke luar negeri dan biaya hidup di luar negeri dalam jangka waktu 4 (empat) tahun. Syarat utama penerima beasiswa, harus mempunyai LoA (Letter of Acceptance) atau telah terdaftar di perguruan tinggi luar negeri.


Sebelum berangkat ke luar negeri, para penerima beasiswa ini diterima oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Isom Yusqi. Jadilah duta bangsa yang membawa harum nama Indonesia ke luar negeri dan mampu beradaptasi sehingga tidak mengalami culture shock, pesannya.


Isom berharap, setelah menyelesaikan jenjang S1, para penerima beasiswa ini bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi dan kemudian mengabdi kepada negara. (hamam/mkd/@viva_tnu)

Thursday, July 28, 2016

Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin Akan Selenggarakan Pendidikan Diniyah Formal

[caption id="attachment_2271" align="aligncenter" width="630"]Santri PP. Minhaajurrosyidin Santri PP. Minhaajurrosyidin[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID - Kementerian Agama RI membuka ruang baru dan memberikan pilihan kepada masyarakat untuk mendidik putera puterinya menjadi kader ulama melalui layanan Pendidikan Diniyah Formal (PDF). Layanan PDF ini tunduk atas Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam, yang merupakan turunan atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, yang merupakan implementasi dari Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


Menyambut PDF yang telah diatur Kemenag, Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, Lubang Buaya, Jakarta Timur akan dinobatkan sebagai satu dari 12 penyelenggara Pendidikan Diniyah Formal (PDF) di tingkat nasional.   Ketua Harian PP. Minhaajurrosyidin, Muh Asy’ari Akbar, mengatakan PDF merupakan program pendidikan yang memiliki nilai plus yaitu perpaduan ilmu umum dan agama.


Dengan demikian, lanjt Asy’ari, siswa tidak akan rendah diri lagi berkompetisi dengan pelajar umum lainnya. Bahkan, mereka memiliki kelebihan berupa kemandirian lantaran tinggal di pesantren dan bekal agama sebagai landasan karakter. “PDF adalah salah satu jawaban krisi di dunia pendidikan kita,” tegasnya di laman republika.co.id.


Di satu sisi, ujar dia, dengan program ini  siswa akan lebih mudah meneruskan ke jenjang pendidikan umum yang lebih tinggi. Pelajar dari luar negeri juga tak ragu sebab ijazah yang dikeluarkan sudah diakui pemerintah RI.


Dia menjelaskan, jenjang PDF Minhaajurrosyidiin yang dibuka tahun ini adalah untuk tingkat wustha setara SMP, ulya setara SMA dan tahun depan merencanakan tingkat Ma’had Ali atau perguruan tinggi.


Acara serah terima SK PDF kepada PP. Minhaajurrosyidiin direncanakan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, pada awal Agustus 2016 nanti. (@viva_tnu)

Sunday, June 26, 2016

Aziza, Siswi Madrasah Berprestasi dari Indonesia Timur

22 Nur Aziza (2)Saat mengikuti ajang Kompetisi Sanis Madrasah (KSM) tingkat Nasional tahun 2015 Nur Aziza sebenarnya tidak mentargetkan dirinya harus menjadi juara. Ia hanya berharap bisa`berbuat yang terbaik untuk madrasah dan tanah kelahirannya Kalikur. Namun ternyata ia berhasil menjadi salah satu juara, berhadapan dengan siswa madrasah favorit seluruh Indonesia. Ia meraih Juara III KSM Tingkat Nasional untuk bidang kimia. Pada tahun yang sama ia juga berhasiil merih juara Juara I Kimia pada ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Kabupaten Lembata.

Menjadi adalah kebanggaan bagi semua siswa. “Perasaan saya tentu senang tetapi tidak lupa saya selalu mengucapkan beribu syukur kepada Allah SWT. Kemudian terima kasih tak terhingga kepada orang tua, teman-teman, serta warga masyarakat Kalikur yang sudah mensupport saya,” katanya.

“Tanpa keikhlasan dan doa mereka tentu saya bukan apa-apa dan terkhusus buat ibunda saya yang kini terbaring dialah yang telah berjasa selama ini,” kata gadis kelahiran Kalikur, 18 Juli 1999 ini.

Namun kenangan yang paling diingat Azizh adalah saat bertemu dengan siswa madrasah lain seluruh Indonesia. Berangkat dari Indonesia Timur, ia merasa nenag bisa bertukar cerita dengan teman-teman madrasah yang lain.

Keluarga Sederhana

Aziza adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya Supratman Abbas (45) bekerja sebagai petani sambil menjadi tokang ojek. Ibu atau Mama’nya Siti Nadra sebelum meninggal dunia bekerja sebagai penjual kue.

Pendidikan orang tuanya juga tidak tinggi. Penddikan terakhir ayahnya Madrasah Aliyah (MA), sementara almarhumah ibunya tidak tamat Sekolah Dasar. Namun Aziza bertekad melanjutkan kuliah sampai ke jenjang perguruan tinggi. Ia bercita-cita menjadi dosen kimia.

Sejak kecil Aziza hidup dalam suasana keagamaan. Ia selalu dibimbing oleh ayah dan ibu untuk mengenal abjad dan bimbingan doa-doa harian

Pendidikan formal Aziza sejak kecil diperolehnya di madrasah, dimulai dari Raudlatul Athfal (RA) Nursalam, kemudian melanjutkan ke Madrsah Ibtidaiyah (MI) Swasta Kalikur, lalu Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Nuba Tukan. Selain pendidikan formal di madrasah, setiap sore ia mengaji Al-Qur’n pada seorang ustaz, Abdulhakim Suaib namanya, sampai tamat membaca Al-Qur’an, termasuk menghafal beberapa Juz Al-Quran.

“Kampung kami Kalikur adalah pusat dakwah sejak  dulu. Kehidupan keislaman adalah corak dari sisi kehidupan kami. Saya memilih madrasah karena madrasah lebih dari sekolah pengetahuan Umum sama tetapi pengetahuan agama lebih dari sekolah. Dengan Madrasah kami dapat mengaplikasikan ilmu agama kepada masyarakat lewat kegiatan  dakwah yang menjadi kegiatan rutin madrasah di desa kalikur termasuk MAN Kedang,” demikian Aziza bercerita.

MAN Kedang

Lulus dari (MTs) Negeri Nuba Tukan, tahun 2013, Aziza tak ragu lagi melanjutkan  pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Kedang. Informasi awal mengenai keberadaan madrasah sudah lama ia ketahui, karena ia dibesarkan oleh keluarga madrasah dan juga lingkaran Kalikur yang sangat kental dan dikenal sebagai “desa madrasah”. Karena letak rumahnya di Kalikur tidak terlalu jauh, dari rumahnya ia jalan kaki ke madrasah.

Guru di MAN Kedang sangat penuh dengan keakraban. Selain bertindak sebagai pendidik, orang tua, guru juga bertindak sebagai teman yang memahami, mendampingi serta mengetahui situasi dan kondisi siswa. Para siswa juga hidup dalam suasana kekeluargaan.

“Saya bersama teman yang penuh keakraban tetapi saling berkompetisi jika berada di kelas, hal itu dikarenakan kami ada dilingkungan desa Kalikur sebuah desa yang penuh dengan kedamaian dan kehangatan,” kata Aziza.

Para guru mengajar dengan berbagai metode yang menarik sehingga membuat pra siswa merasa bergairah  dan semangat dari dalam diri yang memiliki daya juang yang tinggi.

“Fasilitas penunjang di MAN Kedang masih banyak keterbatasan, tetapi kami tidak menganggap itu bagian dari masalah, yang terpenting bagi kami adalah semangat dan daya juang yang tinggi dari kami sehingga prestasi demi prestasi telah kami raih,” katanya.

“Kelasku Tempat Shalatku”

Di MAN Kedang, para siswa sudah hadir di sekolah sebelum pukul 06.30. Pembelajaran di Sekolah dimulai tepat pukul 07.00. Sebelum memulai Pembelajaran semua siswa dari kelas X sampai kelas XII berdo’a di kelasnya masing-masing. Pukul 10.15 semua warga MAN Kedang melakukan sholah sunnah Dhuha dan pada Pukul 12.00 siang semuanya bergegas melaksakan sholat Zuhur secara berjamaah.

Setiap ruangan kelas dibersihkan dan dijadikan sebagai tempat sholat dengan imamnya adalah wali kelas/guru yang mengajar di kelas tersebut sehingga tercipta semboyan “Kelasku adalah Tempat Shalatku”.

Setiap kelas selalu dikontrol oleh guru piket. Bagi kelas yang gurunya tidak hadir selalu diberi tugas oleh guru yang bersangkutan dan diarahkan menuju perpustakaan. Semua siswa di MAN Kedang memiliki kartu perpustakaan yang selalu difungsikan untuk meminjam buku.

Siswa pulang pada pukul 14.30 dan pada pukul 15.30 bimbingan sore dilaksanakan dan berakhir pada pukul 17.30.

Bagi siswa kelas XII yang dipersiapkan untuk mengikuti Ujian Nasional, diadakan bimbingan belajar tambahan lagi pada malam hari dimulai pukul 19.15 sampai pukul 21.00.

Sebelum siswa dibimbing, dilakukan pemetaan siswa/siswi yaitu yang memiliki kemampuan menangkap materi lebih cepat (kelompok mahir), yang berkemampuan sedang (kelompok menengah) dan kemampuan lambat menangkap materi (kelompok rendah) masing-masing kelompok berdasarkan jurusannya.

Karena guru mata pelajaran UN di MAN Kedang berbentuk tim maka diberi tugas oleh pimpinan untuk membimbing masing-masing kelompok belajar tersebut sesuai dengan zona masing-masing.

“Kami siswa-siswi yang masuk dalam area kepercayaan guru selalu hadir bersama bapak ibu guru. Selesai dari kegiatan kami diantar pulang oleh guru pembimbing laki-laki,” kata Aziza.

Kegiatan Pembelajaran maupun bimbingan tidak selamanya di dalam ruang kelas, namun kadang-kadang di emperan kelas bahkan ada yang diajak untuk meninggalkan madrasah dan dibawa ketempat yang sepi daari aktifitas pembelajaran. Bagi siswa yang lambat belajar dilakukan penganganan khusus dan hasilnya akan sgera di evaluasioleh tim penjaminan mutu yang ada di MAN Kedang.

“Setiap hari kami selalu diberi tugas untuk dikerjakan di rumah baik secara kelompok maupun individual. Hasil pekerjaan dipajangkan pada Mading Kelas selama 3 hari dan dinilai oleh tim penjaminan mutu madrasah,” kata Aziza bercerita.

Tahap Seleksi Calon Juara

Para calon siswa MAN Kedang mengikuti seleksi akademik, baca tulis Al-Qur’an dan wawancara langsung dengan tim akademisi. Pada saat itu juga sudah dibuat peta kompentensi oleh madrasah. Sebulan kemudian seluruh peserta didik baru diuji berdasarkan rekaman pembelajaran khusus beberapa mata lomba yang sering dilombakan.

Tahap mid semester pertama, seluruh siswa telah dibagi dalam tiga kemampuan kompetensi. Hasilnya diumumkan oleh kesiswaan dan kurikulum.

“Pada tahap ini saya sudah ditetapkan untuk dilatih secara spesifik pada mata pelajaran kimia, biologi dan matematika karena setiap siswa yang masuk dalam kelompok siswa dengan nilai diatas 80 boleh memilih 3 mata pelajaran untuk dibimbing pada kegiatan bimbingan sore dan bahkan malam hari,” kata Aziza.

Berikutnya adalah tahap seleksi OSN dan KSM. Pada tahap ini para siswa dan siswi MAN Kedang mulai dari kelas 10 dan 11 diuji berasarkan jumlah siswa yang telah dikelompokan. Untuk satu mata pelajaran OSN/KSM ditetapkan sebanyak 10 anak  setiap anak dapat memilih 3 mata pelajaran yang dibimbing.

“Pada tahap ini kami sudah diseleksi untuk mendapatkan peserta 5 terbaik untuk masing masing mata pelajaran. Saya pernah merai 3 mata pelajaran  dalam ukurun 5 besar. Pada tahap ini saya masih dibimbing pada mata pelajaran itu hanya jumlah pesertanya sudah mulai mengalami pengurangan,” ujar Aziza.

5 peserta lainya dibimbing lagi untuk tim 2 yang menangani kelompok yang nilainya dibawah 80 dan diseleksi terus sampai menghasilkan 3 terbaik untuk satu tahun pelajaran.

Pada tahap akhir, setelah diseleksi dan masuk dalam kategori peserta lomba para siswa diwawancarai khusus oleh kepala madrasah. Kemudian mereka diberikan pengetahuan agama oleh Ustaz Usman Ismail berkaitan dengan siswa yang akan dititipkan pada beberapa guru yang ditetapkan oleh madrasah sebagai bapak asuh.

“Kami Tinggal bersama mereka di rumah mereka selama2 bulan Sebelum diberangkatkan ketingkat kabupaten.Tradisi berdoa dengan mengahdirkan imam masjid  dan orang tua anak lomba selalu dilakukan,” kata Aziza.

Berikutnya adalah tahap membangun kegairahan menjadi anak madrasah berprestasi. Setiap kegiatan lomba pada tingkat apapun selalu dipromosikan dengan tradisi penjemputan mulai dari kota kabupaten sampai ke madrasah. Semua orang dihadirkan pengumuman lewat masjid-masjid termasuk hasil kegiatan juga diinformasikan lewat masjid omasjid di wilyah Kedang.

Beasiswa Prestasi

Sebelum masuk MAN Kedang Aziza sudah beberapa kali mendpatkan juara dalam beberapa ajang kompetisi yang berbeda. Ia tercatat sebagai Juara 3 Lomba Baca Puisi Tingkat Kabupaten Lembata, Juara 2 MTQ cabang Fahm Al-Quran Tingkat Provinsi NTT, Juara 4 MTQ cabang Hifdz Al-Quran Tingkat Provinsi Tahun 2008, dan Juara 4 MTQ cabang Hifdz Al-Quran Tingkat Provinsi Tahun 2012

Selain dibiayai oleh orang tua, Aziza juga menjadi salah satu penerima beasiswa bantuan siswa miskin (BSM) sekaligus siswa yang berprestasi di madrasah.

Sebelum masuk MAN Kedang, ia mengataan kepada orang tuanya, bahwa ia akan melnjutkan sekolah sampai tingkt yang lebih tinggi dan akan melanjutkan mengukir prestasi.

Terbutkti, Aziza mengukit banyak prestasi selama di MAN Kedang. Ia menjadi Juara I dalam OSN Kimia tingkat kabupaten lembata tahun 2015. Ia juga menjadi Juara II MTQ cabang Fahmil Al-Quran tingkat propinsi NTT tahun 2014. Untuk KSM tingkat Nasional tahun 2015 i berhasil merih juara III pada bidang kimia.

Yang saya harapkan waktu mengikuti kompetisi adalah bisa`berbuat yang terbaik untuk “madrasah dan tanah kalikur tercinta. Saya tidak berharap harus menjadi juara tetapi bagaimana saya mengerahkan kemampuan terbaik saya untuk membuat nama lembaga dan Kalikur menjadi harum,” katanya.

Aziza mengaku bersyukur telah menjalani masa pendidikan di madrasah. Baginya, belajar di madrasah adalah pilihan terbaik. “Setiap ilmu harus diimbangi iman. Kita (madrasah) mempunyai kelebihan dibanding siswa sekolah yang lain yakni materi-materi agama,” katanya.

Untuk materi-materi selain agama, kata Aziza, siswa siswa umum dan siswa madrasah belajar materi yang sama. Pengetahuan mereka sama, tergantung tingkat ushanya.

“Dalam hal prestasi, bagi saya tidak ada beda antara siswa madrasah dan siswa umum, siswa laki-laki atau perempuan. Semua mendapat materi yang sama. Sebenarnya keberhasilan itu didukung 99% dan 1 %  pengetahuan,” katanya mengutip kata-kata terkenal dari Thomas Alfa Edison. (Red: Anam)

Friday, June 24, 2016

Kampus Ini Didatangi Mahasiswi dari Afganistan dan Thailand

Mahasiswa Afganistan UnwahasSebanyak 23 mahasiswi dari Afganistan menjalani masa kuliah di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang sejak tahun ajaran 2013/2014 lalu. Mereka masuk sejumlah prodi seperti, hukum, hubungan internasional, farmasi, ilmu politik, dan ekonomi. Para mahasiswa Afganistan akan menempati asrama atau pondok pesantren Unwahas.

Unwahas di tahun akademik 2013/2014 juga menerima 48 mahasiswa dari Thailand untuk studi di salah satu universitas unggulan NU tersebut.

Mahasiswa asal Afganistan Thailand dan Thaland sudah merasa enjoy tinggal di Asrama Unwahas. Karena jauh dari kampung halaman, bulan Lebaran Idul Fitri pun mereka tidak pulang.

Mereka sudah hampir dua tahun di Indonesia. Banyak kegiatan  ke-Islaman yang dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan pengalaman ke-Islaman mahasiswa asing ini.

Di antaranya, pengajian kitab kuning di Pondok Pesantren Luhur Wahid Hasyim, seminar ke-Islaman maupun pengetahuan umum oleh lembaga Universitas Wahid Hasyim dengan kerjasama PBNU,  dan  terakhir  adalah wisata religi dan budaya Indonesia di  Pondok Sunan Pandanaran dan API Yogyakarta.

Melalui pondok pesantren tersebut, mahasiswa Thailand dan Afganistan diperkenalkan pada kultur salaf yang mengemban misi ahlussunnah waljamaah. Misalnya sistem tahfidzul Quran, sistem pembelajarn di pesantrenm dan sistem lingkungan pesantren yang penuh kesederhanaan.

Harun Niam Kabag Kemahasiswaan yang juga menjadi pengasuh santri mancanegara ini menegaskan perlunya santri-santri untuk membangun jaringan, memperbanyak pengalaman, dan memperlajari ke-Islaman  sebanyak mungkin. Ia berharap sepulang dari Indonesia nantinya memudahkan mereka dalam mengimplementasikan nilai-nilai terbaik Islam di Indonesia untuk diterapkan di Thailand dan Afganistan

Akreditasi

Pertegahan 2014 lalu Unwahas telah dikunjungi oleh Tim Asesor dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), akhirnya Universitas Wahid Hasyim Semarang (Unwahas) berstatus sebagai PT yang terakreditasi dengan nilai B.

Status itu berdasarkan surat keputusan (SK) Badan Akreditasi Nasional PerguruanTinggi (BAN-PT) Nomor: 310/ SK/ BAN-PT/ Akred/ PT/ VIII/ 2014.

“Ini adalah hasil yang sangat membanggakan bagi Unwahas terimakasih kepada seluruh civitas akademika Unwahas, para alumni dan mitra yang telah menyukseskan kegiatan akreditasi ini,” ujar Rektor Unwahas Dr. H. Noor Achmad, MA, mengaku puas dengan hasil ini.

Noor Ahmad menambahkan, sesuai keputusan akreditasi dari BAN PT ini, berarti Unwahas telah memenuhi tujuh standar kelayakan meliputi standar tentang Visi, Misi dan sasaran serta strategi pencapaian, standar tata pamong, kepemimpinan, sistem pengelolaan dan penjaminan mutu, standar  mahasiswa dan lulusan, standar sumber daya manusia, standar kurikulum, pembelajaran, dan suasana akademik, standar pembiayaan, prasarana, sarana dan sistem informasi, dan terakhir standar penelitian, pelayanan/ pengabdian kepada masyarakat.

“Alhamdulillah ketujuh standar tersebut mendapatkan nilai yang baik pada saat visitasi oleh tim asesor BAN-PT,” tandasnya.

Menurutnya, dengan memperoleh predikat “B”, Unwahas terus berupaya untuk melengkapi segala kekurangan yang ada dan mengembangkan kampus berbasis NU ini menjadi kampus rakyat yang menjagat sesuai dengan visinya yaitu menjadi universitas yang unggul ditingkat nasional dan internasional dalam mentransformasikan dan merintis penemuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni dengan nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). (Red: Anam)

Monday, June 6, 2016

Puasa Harus Dapat Tingkatkan Produktivitas dan Kinerja

[caption id="attachment_1884" align="aligncenter" width="640"]Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, H Kamaruddin Amin. Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, H Kamaruddin Amin.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Pemerintah melalui Kementerian Agama RI telah menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada 6 Juni 2016 hari ini. Terkait hadirnya bulan puasa di tahun 1437 H ini, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag H Kamaruddin Amin berpesan agar puasa bisa dijadikan momentum muhasabah nasional menuju kebaikan bangsa melalui pekerjaan dan berbagai aktivitas.

“Puasa yang tulus akan melahirkan cinta dan dedikasi pada profesi dan pekerjaan kita. Sebab itu, puasa harusnya berkorelasi dengan produktivitas dan kinerja,” ujar Kamaruddin, Senin (6/6) di Jakarta.

Muhasabah nasional, lanjutnya, juga dalam rangka menuju peningkatan mental spiritualitas untuk tujuan transformasi fundamental sekaligus revolusi mental seperti yang dicita-citakan bersama.

Dalam momen bulan berkah dan suci ini, Kamaruddin juga mengaskan bahwa puasa merupakan instrumen spiritual bagi pola pikir sekaligus pola hidup dari orientasi dunia menuju capaian Ridho Allah SWT.

“Mari menjalankan puasa yang bermutu agar kita dapat menggapai The Ultimate Goal yakni pribadi yang bertaqwa,” tandas Kamaruddin. (Fathoni Ahmad)

Monday, May 23, 2016

Can Indonesian Islam be a Model for the Rest of the Muslim World?

Kamaruddin Amin
Director General for Islamic Education Ministry of Religious Affairs

Islam has been implemented around the Muslim world through a dynamic range of distinctive reflections and articulations, ranging from moderate to extremely radical. These various local articulations of Islam are believed to be a reflection of the flexibility and the universal values of Islam. To put it differently, it is unrealistic, if not infeasible, to expect one homogeneous, universally implemented Islam. Islam in Saudi Arabia is different, or has to be different, from Islam in other parts of the Muslim world, including Indonesia. However, Islam has to contribute to civilization, no matter how and where it is implemented. Can Indonesian Islam be a model for the rest of the Muslim world?

As the second largest religion, and the one predicted to be the largest by 2050, Islam has shown spectacular, impressive and continuous growth, not only in the Muslim world but also, significantly, in the West, including Europe and the US. The growth has been accompanied by Islam’s specific and dynamic problems. Islam in Europe is colored with problems around cultural integration and assimilation, often based on mutual fear, which results in the appearance of Islamophobia on the one hand, and a serious suspicion of Western culture on the other hand.

Islam in Africa is characterized by poverty, backwardness, short life expectancies, low income per capita and gender disparities in every aspect of life. In Asia, Islam is colored with other distinctive problems, ranging from its relationship to the state and its interaction with modernity to its exploitation in socio-political life.

Kamaruddin AminThe Muslim world has its shared characteristics such as history, culture, civilization and a tradition of scholarship. Saudi Arabia, for instance, besides being the birthplace of Islam and having the cultural and historical legacy, it has the iconic religious symbol of Ka'bah, the mosque and the cemetery of the prophet. Moreover, Saudi used to be the hub of Islamic scholarship. However, Saudi’s socio-political life, its tradition of scholarship and its religious characteristics that tend to be rigid, tough and black-and-white, make it difficult for Saudi to be the reference point for the Muslim world.

Likewise, the Arab spring that arose independently and spread across the Arab world in 2011 through Egypt, Libya, Syria, Yemen, Bahrain, Saudi Arabia and Jordan, uprooting some autocratic regimes, though not creating democratic government, let alone enhancing living standards, has left little space for those countries to be referred to as models for Islamic civilization.

Opportunity, Potential and Challenges for Indonesia

Is it feasible for Indonesia to become a prospective model for the rest of the Muslim world, in terms of both Islamic civilization and Islamic study? The following are Indonesia’s areas of potential that need to be taken into account:

First, Indonesia has a great wealth of Islamic educational institutions, among them some of the world’s largest, that promote a moderate Islam, democracy and tolerance. This system plays a strategic role in the creation of an educated and critical middle-class Muslim society that is appreciative of modernity without losing their Islamic identity.

Secondly, Indonesia has an unshakable social infrastructure that strengthens the foundation of Indonesian ideology, protecting it from any foreign radical ideas. NU, Muhammadiyah, PERSIS, Matlaul Anwar and other moderate Islamic mass organizations, play a pivotal role in maintaining, nurturing and protecting Indonesian Islam from penetration by any radical or extremist ideology.

Third, Indonesian Islam is democratic, tolerant, moderate, indigenous and appreciative of a diversity of cultures, ethnicities and religions. It is true that sporadic communal conflicts over religious nuances still happen in Indonesia, but they are few and far between, given the fact that Indonesia is a hugely diverse country in terms of demography, geography, religion and culture.

Fourth, the structure of Indonesian demography is unique – 43 percent of the population is under 25 years old, which means that Indonesia has an enormous demographic dividend, or demography bonus.

Fifth, as the strongest ASEAN economy and the 16th largest economy in the world, Indonesia has abundant natural and human resources. The challenge is to increase national competitiveness through human capacity improvement, which will come through quality education.

The above mentioned points merely showcase Indonesia’s potential to become the Muslim world’s model for the future. Realizing this will be heavily dependent on how Indonesia manages this great potential. It will require quality education, professional governance, integrity, sincere dedication and nurturing and the maintenance of a moderate Islam amid various global influences. Wallahu Alam

* The Jakarta Post, Fri, May 20 2016

Tuesday, March 29, 2016

Teladan Umar bin Abdul Aziz

[caption id="attachment_881" align="aligncenter" width="300"]ilustrasi ilustrasi[/caption]

SIAPA yang tidak kenal Umar bin Abdul Aziz. Beliau adalah salah satu sultan terbaik sepanjang sejarah Islam pada masa Bani Umayyah. Ia adalah pemimpin yang besar kekuasaannya dan sangat dimuliakan oleh para sahabat dan pengawalnya.

Pada suatu malam, sang sultan menerima seorang tamu bernama Raja’ bin Haywah.  Tiba-tiba di tengah obrolan mereka berdua, lampu ruangan meredup, karena nyalanya semakin kecil.

Raja’pun segera mengambil tangga dan melompat untuk membetulkan lampu itu. Namun dengan cepat sultan mencegahnya. Ia sendirilah yang turun tangan membetulkan lampu itu sendiri.

Maka Raja’ bin Haywah berkata: “Ya Amiral Mukminin! Apakah orang sebesar Tuan pantas naik tangga membetulkan lampu?”

Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun menjawab, “Aku naik tangga dan membetulkan lampu. Aku Umar bin Abdul Aziz, setelah turun aku tetap Umar bin Abdul Aziz.” [Fathuri]

Monday, March 28, 2016

Kepala MTs Ini Patenkan 9 Penemuan Madrasahnya

[caption id="attachment_849" align="alignleft" width="300"]Nursalim, Kepala MTsN 2 Kediri Nursalim, Kepala MTsN 2 Kediri[/caption]

Beberapa tahun, memimpin MTsN 2 Kediri, Nursalim telah mengantarkan madrasah ini sebagai pelopor madrasah berbasis riset. Para siswanya difasilitasi untuk menemukan hal-hal baru. Hasil karya siswa diikutkan dalam ajang kompetisi sampai tingkat nasional. 9 karya dari MTsN 2 Kediri kini telah dipatenkan.

Bernama lengkap Nursalim M.Pd, saat ini ia tinggal di Jl. Masjid al-Huda Kota Kediri. Ia berasal dari keluarga sederhana, lahir pada tanggal 1 Januari 1966 di Desa Balai Turi Kecamatan Prambon Kabupaten Nganjuk.

Ustawun Hasanah

Pagi-pagi sekali sebelum para siswanya datang, Drs. H. Nursalim, M.Pd.I, Kepala MTsN 2 Kediri sudah berada di madrasah. Dialah orang pertama kali yang menyambut siswa-siswi MTsN 2 Kediri yang datang untuk belajar. Dia tidak mau kalau siswa-siswinya datang ke madrasah disambut oleh satpam. Kata Nursalim, kunci sukses untuk mencetak murid berprestasi adalah uswatun hasanah dari guru.

Pada tahun 1986 setelah lulus dari PGA, tepatnya saat berusia 20 tahun, Nursalim diterima untuk menjadi salah satu guru di MtsN 2 Kediri. Tahun 1991 diangkat jadi PNS golongan II A (ijazah PGA) di lingkungan Kementerian Agama. Awalnya, Ia ditugaskan di MI Miftahul Falah, tetapi kemudian dipindahtugaskan ke MtsN 2 Kediri.

Pengabdiannya di MTsN 2 Kediri dimulai sejak tahun 1986 itu. Dalam jangka waktu kurang lebih 29 tahun itu (terhitung sampai pertengahan tahun 2015) hampir seluruh jabatan pernah dipegangnya, kecuali jabatan bendahara. Ia pernah menjadi wali kelas, pembina pramuka, pembina OSIS, pembina jurnalistikhingga menjadi kepala madrasah. Ia memegang amanat sebagai kepala madrasah sejak 2011 hingga 2015 ini, dan pernah meraih penghargaan sebagai guru terbaik di tingkat Jawa Timur.

Baginya, pengalaman yang paling berkesan dalam perjalanannya menempuh pendidikan dasar sampai perguruan tinggi adalah pendidikan karakter dan uswatun hasanah yang diberikan guru-gurunya. Inilah yang kemudian diamalkannya ketika aktif menjadi pendidik dan kepala madrasah.

Sejak aktif menjadi guru madrasah, ia punya mimpi bahwa suatu saat pendidikan madrasah harus lebih baik daripada sekolah-sekolah umum. Dan, setelah sekian tahun, apa yang diimpikannya telah menjadi kenyataan. Ia mampu mengangkat derajat madrasah menjadi penuh prestasi, khususnya MTsN 2 Kediri yang sebelumnya dipandang sebelah mata dan dianggap sebagai pendidikan kelas pinggiran.

Madrasah Unggulan


[caption id="attachment_850" align="alignnone" width="300"]Nursalim bersama siswinya Zayda Safira, juara olimpiade matematika di China 2014 Nursalim bersama siswinya Zayda Safira, juara olimpiade matematika di China 2014[/caption]

Awalnya, MTsN 2 Kediri merupakan bagian dari PGA. Kemudian pada tahun 1987 dilakukan relokasi ke Jalan Sunan Ampel No. 12 Kelurahan Ngronggo kota Kediri. Di masa-masa awal, MTsN 2 Kediri pernah mengalami masa-masa sulit. Jumlah siswa saat itu masih terbilang sedikit dan tenaga pendidiknya pun sangat kurang, hingga pernah meminjam tenaga pendidik dari sekolah umum untuk menjadi pembimbing pada saat EBTANAS.

Dengan kenyataan seperti itu, praktis MTsN 2 Kediri belum mampu menarik perhatian masyarakat secara umum.

Kondisi demikian membuat Nursalim dan teman-teman guru yang lain berpikir untuk menjadikan MTsN 2 Kediri lebih baik lagi. Ia mengenang saat itu masyarakat dan pemerintah belum bisa bersikap fair.

Terbukti, di saat kondisi madrasah sudah cukup baik, masyarakat tak lantas memandangnya baik. Mereka baru akan bilang madrasah itu baik jika kenyataannya madrasah sudah sangat baik. Pemerintah pun sama. Ketidakadilan dari pemerintah saat itu terlihat ketika menganakemaskan pendidikan sekolah umum dengan memberikan fasilitas gedung belajar yang representative dan mengabaikan madrasah-madrasah yang masih menggunakan serambi masjid sebagai tempat belajar.

Karena itulah Nursalim bertekad menjadikan MTsN 2 Kediri sebagai madrasah unggulan dan berkualitas. Ia ingin membuktikan bahwa madrasah juga tidak kalah dan mampu bersaing dengan sekolah-sekolah umum. Seiring dengan berjalannya waktu, apa yang dicitacitakannya terwujud. Berbagai macam prestasi diraih oleh madrasah yang memiliki jumlah siswa kurang lebih 1136 ini. Prestasi nasional hingga internasional sudah diraih. Di antaranya; mendapat penghargaan sebagai madrasah terbaik nasional pada tahun 2004 dan 2010, Juara 1 Lomba Sekolah Sehat Nasional yang diadakan oleh kemendikbud pada tahun 2004.

Dua prestasi awal itu pada gilirannya menjadi pemicu madrasah untuk selalu meraih prestasi berikutnya, baik prestasi kelembagaan maupun prestasi individu siswa atau guru.

Prestasi antara lain datang dari salah satu siswinya yang bernama Zayda Shafira Ramdhanty dengan meraih medali perunggu pada AIMO atau Asian International Mathematic Olympiad di China 2014. Secara kelembagaan, MTsN 2 Kediri sendiri meraih penghargaan sebagai madrasah berintegritas tingkat nasional.

Prestasi-prestasi itu pada akhirnya mampu membuat masyarakat tidak lagi memandang sebelah mata. Antusias masyarakat untuk menyekolahkan anak-anak ke MTsN 2 Kediri semakin hari semakin tinggi.

Nursalim juga telah mengantarkan MTsN 2 Kediri sebagai madrasah dengan indeks integritas terbaik karena telah menyelenggarakan UN 2015 dengan CBT (Computer Based Test).

Hampir-hampir tidak ada problem yang tidak bisa diatasi. Bagi Nursalim, secara umum bahkan ia tidak merasa menemukan problem yang berarti di madrasahnya. Semua tahapan pengembangan bisa dijalankan dengan baik.

Memanage Potensi Siswa


Untuk menemukan bibit-bibit siswa berprestasi, MTsN 2 Kediri sudah mengadakan kegiatan seleksi sebelum penerimaan siswa baru, misalnya melalui Olimpiade MIPA untuk anak-anak tingkat SD atau sederajat. Dari kompetisi inilah kemudian madrasah mendapatkan siswa-siswa berpotensi. Selanjutnya madrasah memberikan fasilitas untuk mengembangkan bakat dan minat masing-masing siswa, mulai dari minat di bidang olahraga hingga KIR atau riset. Semuanya disediakan dan dibina di madrasah ini.

Menurut Nursalim, memberikan ruang seluas-luasnya terhadap bakat dan minat siswa inilah yang menjadi kunci untuk mencetak generasi muda yang berprestasi. MTsN 2 Kedri mengembangkan prinsip obyektif, terbuka dan pembinaan maksimal.

Jika disimpulkan dalam satu kalimat, kata Nursalim, sebenarnya kunci sukses dalam mengantarkan muridmuridnya berprestasi adalah uswatun hasanah dari guru, apapun bentuknya baik dari komitmen maupun kerja kerasnya.

Madrasah Riset


Salah satu trademark MTsN 2 Kediri adalah di bidang riset. Nursalim berhasil membawa madrasahnya sebagai pelopor “madrasah riset”. Para siswanya difasilitasi untuk melakukan penelitian sesuai bakat dan minat dan tidak harus mengeluarkan biaya mahal.

Menurut Nursalim, program riset di MTsN 2 Kediri melengkapi kegiatan ekstrakurikuler yang sudah ada. Program riset sudah berlangsung selama 10 tahun, dan minat para siswa di bidang riset terus meningkat dari tahun-ke tahun. Pihak madrasah menyeleksi bakat dan minat para siswa dan mendatangkan guru pembimbing yang kompeten di bidangnya.

Saat ini sudah ada sembilan hasil riset atau penemuan para siswa madrasah yang telah dipatenkanke HKI. Kesembilan penemuan itu adalah:

  1. Manfaat Lendir Bekicot (Achatina fulica) sebagai Obat Luka Lama (Pencipta: Risma Nailul Amalia)

  2. Pemanfaatan Tulang Ayam Boiler sebagai Bubur Yang Bergizi dan Bernilai Ekonomis (Pencipta: Fahril Haikal Ilmi Sihabuddin)

  3. Fermentasi Sampah Sayuran Pasar Grosir Kota Kediri sebagai Pakan Ternak untuk Meningkatkan Hasil Pertenakan Sapi di Kota Kediri dan Sekitarnnya (Pencipta: Muhammad Rofiqul Ilmi)

  4. Kopi Biji Pepaya untuk Menurunkan Kadar Kolesterol (Pencipta: Astrid Rizkiya Sally)

  5. Roti Sukun untuk Diet Rendah Kalori (Pencipta: Astrik Rizkya Sally)

  6. Pemanfaatan Sarang Telur Laba-laba (Cocoon) dari Ordo Araneae Sebagai Bahan Alami Alternatif Penutup Luka (Pencipta: Rezza Putri Mahartika)

  7. Pengaman Rumah Penggerak Solenoid dengan Koder Morse (Pencipta: Aufa Millatul Haqq)

  8. Potensi Biofungisida dari Jahe, Lengkuas Merah,Kunyit dan Labu Siam untuk Mencegah dan Membasmi Jamur pada Tanaman Sawi (Pencipta: Rahmah Nur Diana)

  9. Nasi Gadung (Dioscorea hipsida Dennst) sebagai Substitusi Nasi Jagung (Zae mays) sebagai Makanan Rendah Kalori bagi Penderita Obesitas.


Mengapa merasa perlu mematenkan hasil temuan?“Alasannya simpel, sebab ini adalah karya anak yang perlu dilindungi agar tidak disalahgunakan oleh orang lain yang tak bertanggungjawab. Dengan mengandalkanjaringan alumni dan relasi di Jakarta akhirnya terbitlah hak paten tersebut,” kata Nursalim.

Ia berharap, kelak karya-karya MTsN 2 Kediri tersebut bisa dikembangkan oleh para siswanya dalam bentuk sikripsi, tesis maupun disertasi di kemudian hari ketika menempuh pendidikan tinggi. (Red: A. Khoirul Anam)

 

Wednesday, March 23, 2016

Kisah Zaid bin Tsabit, Berjihad dengan Menjadi Ahli Bahasa

[caption id="attachment_801" align="alignnone" width="300"]gambar sekedar ilustrasi gambar sekedar ilustrasi[/caption]

Tahun 2 Hijriyah, kota Madinah semakin sesak dipenuhi oleh manusia yang bersiap-siap untuk menyambut perang Badar. Nabi Muhammad SAW melakukan cek akhir pada pasukan pertama yang akan berangkat di bawah komandonya sendiri untuk berjihad di jalan Allah dan menegakkan kalimat-Nya di muka bumi.

Terlihat di sana, ada seorang anak kecil yang belum genap berusia 12 tahun yang nampak memiliki kecerdasan dan kemuliaan diri. Di tangannya terdapat sebilah pedang yang sama panjangnya dengan tubuh bocah tadi atau lebih panjang dari tubuhnya. Ia mendekat ke arah Rasul SAW lalu berkata:

“Aku akan menjadi pelindungmu, ya Rasulallah. Izinkanlah aku untuk turut serta bersamamu dan berperang melawan musuh-musuh Allah di bawah panjimu.”

Rasulullah SAW lalu melihat anak ini dengan perasaan senang dan kagum. Kemudian Beliau menepuk pundak anak ini dengan lembut dan penuh perasaan sayang. Beliau menghibur anak ini, kemudian menyuruhnya pulang karena ia masih berusia dini.

Pulanglah bocah kecil tadi dengan menyeret pedangnya ke tanah  dengan perasaan kesal dan sedih, sebab ia dilarang untuk menemani Rasulullah SAW dalam peperangan pertama yang Beliau lakukan. Di belakang langkahnya juga turut pulang ibunya yang bernama An-Nawar binti Malik, yang juga tidak kalah bersedih dan kesal. Ibunya telah berharap bahwa matanya akan berbinar-binar saat melihat anaknyaberjalan bersama rombongan pria dewasa untuk berjihad di bawah komando Rasulullah SAW.

Ibunya berharap bahwa bocahnya dapat menempati posisi yang diharapkan yang dapat diisi oleh ayahnya kalau saja ia masih hidup. Akan tetapi bocah Ansor ini saat ia tidak berhasil untuk mendekatkan diri kepada Rasulullah SAW dalam bidang ini karena usianya yang masih kecil, akan tetapi kecerdasannya –yang tidak berhubungan dengan umur- membuat dirinya dapat berhubungan dengan Nabi SAW. Bidang itu adalah: ilmu pengetahuan dan hapalan.

Kemudian bocah tadi menceritakan ide ini kepada ibunya. Maka senang dan gembiralah ibunya, dan ia semangat untuk mewujudkan ide anaknya. An Nawar menceritakan keinginan anaknya kepada para pria dari kaumnya. Maka beberapa pria tadi berangkat untuk menemui Rasulullah SAW dan berkata kepada Beliau:

“Ya Nabi Allah, ini adalah seorang dari anak kami yang bernama Zaid bin Tsabit yang mampu menghapal 17 surat dari kitab Allah. Ia membacanya dengan benar persis seperti yang diturunkan kepada hatimu.

Lebih dari itu, ia adalah anak yang cerdas yang pandai menulis dan membaca. Ia ingin sekali dengan potensi yang ada dapat mendekatkan diri kepadamu dan mendampingimu... Jika engkau berkenan, silahkan dengarkan penuturannya!”

Rasulullah SAW lalu mendengarkan dari bocah Zaid bin Tsabit beberapa ayat Al Qur’an yang ia hapalkan. Rupanya bocah ini mampu membacanya dengan begitu baik, dan pelafalannya pun sempurna. Kalimat Al-Qur’an keluar dari kedua bibirnya seperti bintang di langit yang menyala.

Bacaannya begitu memberikan ilustrasi akan apa yang sedang ia baca. Setiap tanda waqaf di mana ia berhenti, menandakan bahwa ia amat mengerti akan hal yang dibacanya. Maka gembiralah hati Nabi SAW karena mendapati bahwa bocah ini memiliki potensi yang lebih dari apa yang mereka katakan. Hal yang membuat Rasul lebih gembira adalah karena bocah ini amat pandai menulis... maka Rasulullah SAW melihat ke arah bocah ini dan bersabda:

“Ya Zaid, pelajarilah untukku tulisan bangsa Yahudi. Sebab aku tidak mempercayai mereka atas apa yang aku katakan!” Maka Zaid menjawab: “Baik, ya Rasulullah!”

Maka mulailah Zaid mempelajari bahasa Ibrani sehingga ia menguasai bahasa tersebut dalam waktu singkat saja. Kemudian ia menuliskan bahasa tersebut kepada Rasulullah, jika ia berkeinginan untuk menulis surat buat bangsa Yahudi. Dan Zaid akan membacakan kepada Rasul, jika mereka mengirimkan surat kepada Beliau. Lalu ia juga mempelajari bahasa Suryani atas perintah Rasul, sebagaimana ia mempelajari bahasa Ibrani. Maka sejak saat itu pemuda yang bernama Zaid bin Tsabit menjadi penterjemah Rasulullah SAW. [Fathuri]

*Dikutip dari kitab Shuwar min Hayatish Shahabah

Monday, March 21, 2016

Luar Biasa, Pengasuh Pesantren di NTB Ini Hijaukan 33 Lahan Gundul

[caption id="attachment_764" align="aligncenter" width="300"]TGH Juaini (tengah berpeci putih) bersama para tamunya TGH Juaini (tengah berpeci putih) bersama para tamunya[/caption]

Namanya tidak hanya dikenal di Indonesia. Pada tahun 2011 TGH Hasanain Juaini memperoleh penghargaan Ramon Magsaysay. Salah satunya karena ia dinilai sukses mengembangkan pesantren yang peduli lingkungan. Namanya sejajar dengan tokoh-tokoh seperti Abdurrahman Wahid, Mochtar Lubis, atau Pramoedya Ananta Toer, yang juga pernah meraih penghargaan serupa.

Sebagai pempimpin pesantren dan madrasah, TGH Juaini juga mengembangkan banyak inovasi, antara lain dalam hal pemanfaatan teknologi untuk pembelajaran. Ada program Duku Sasak yakni “satu guru satu santri satu computer”. Jangan heran jika para guru dan santri di sana bisa merakit komputer sendiri.

Nama lengkapnya Hasanain Juaini, kelahiran 17 August 1964. Ia lebih dikenal dengan nama Tuang Guru Haji (TGH) Juaini, padahal Juaini adalah nama almarhum ayahnya. Menikah dengan Hj. Runiati Ilarti, ia dikaruniai empat putra, yakni Akhwaf Habiburrahman, Dzul Bashor, M. Husni Zayyadi, dan Annatiya Maesun. Putra tertuanya, Akhwaf Habiburrahman saat ini sedang menjalani masa kuliah di Universitas Al-Azhar Mesir.

Beberapa menit berbincang dengan TGH Juaini kita sudah mendapatkan kesimpulan begitu luasnya pergaulan tokoh satu ini. Sering terlontar istilah bahasa Inggris dan bahkan istilah bahasa komputer.

Ia juga menerangkan banyak hal mengenai konsep pendidikan yang dikembangkannya disertai dengan berbagai argumentasi dan dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits. Tidak hanya mengembangkan konsep, ia telah menerapkan apa yang digagasya secara riil dengan penuh ketekunan dan bahkan dengan mengorbankan harta bendanya.

Obesesi Menjadi Guru


Hasanain memperoleh pendidikan dasar di tanah kelahirannya. Tahun 1975 ia lulus Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Nahdlatul Wathan di Tanak Beak, Narmada, Lombok Barat, NTB. Tahun 1978 ia lulus Madrasah Tsanawiyah (MTs) di almamater yang sama.

Selanjutnya Hasanain Juaini merantau ke pulau Jawa. Ia belajar di Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur sembari mengikuti pendidikan tingkat SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) sampai tahun 1984. Dari Gontor, ia melanjutkan pendidikan S1 di Fakultas Hukum Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab atau LIPIA di Ibukota Jakarta sampai tahun 1995. Kemudian pendidikan S2 diperolehnya di Fakultas Hukum, Universitas Mataram di sela-sea kegiatannya. Ia memperoleh gelar magister di bidang ilmu hukum pada 2006 lalu.

Aktifitasnya mengajar sebenarnya telah dimulai sejak sejak ia tamat dari di Gontor tahun 1984. Dan sampai sekarang ia konsisten menjadi seorang sebagai seorang guru di sela kegiatannya sebagai aktivis sosial dan lingkungan, serta aktivitas di bidang bisnis. Menjadi guru adalah tuntutan hati nuraninya.

Mengapa ingin menjadi guru? Ia mengatakan, dengan menjadi guru ia akan memperoleh kepusan tersendiri, yaitu ketika ia bisa mengantarkan muridnya menjadi lebih maju. Dengan menjadi guru, ia berharap bisa membuat murid-muridnyanya penuh harapan menghadapi masa-masa depan.

Bagi para guru, masa depan sangatlah berarti. Para guru akan bahagia kalau muridnya itu optimis dalam menghadapi masa depanya, demikian kata TGH Juaini.

Pesantren Nurul Haromain

Tahun 1996 selepas pulang studi dari Jakarta ia mempimpin Pondok Pesantren Nurul Haramain Narmada di Lombok Barat. Pesantren ini merupakan peninggalan ayahnya Juaini Muchtar sejak 1952 yang tidak dikembangkan. Jumlah santri pada tahun 1996 dimulai dengan 7 orang, tahun berikutnya naik menjadi 14, berikutnya lagi 24 dan seterusnya.

“Saya kira ini penting untuk disadari bahwa kita harus bersyukur dengan kondisi yang seperti itu, dengan demikian kita menyadari bahwa sampai di sanalah keperacayaan yang diberikan Allah kepada kita,” kenangnya.

“Jadi kita tidak boleh minta melebihi dari kemampuan kita. Berdasarkan itu nanti kita bisa meniti, sesuai dengan kemampuan yang ada tentu akan bertambah.”

Kini Pondok Pesantren Nurul Haramain telah mempunyai ratusan santri yang mengikuti jenjang pendidikan Madrsah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

TGH Juaini bercita-cita agar pondok pesantren Nurul Harmain ini menjadi sebuah pendidikan Islam yang modern. Menurutnya, fungsi pondok pesantren atau lembaga pendidikan itu harus bisa mencerdasakan manusia, mendidik dan mengajarkan mereka-mereka (murid) hikmah-hikmah ke depan dia baik, dia benar dan dia bermanfaat. “Inilah yang saya inginkan di pondok pesantren Nurul Haramain,” kata suami dari Hj. Runiati Ilarti ini.

Ada perasaan bangga tersendiri jika masyarkat merasa senang dengan hasil-hasil pendidikan di pesantrennya. “Kita merasa senang misalnya ketika bertemu dengan anak-anak yang baik, berperstasi. Kita juga senang ketika masyarakat menghargai kegiatan-kegiatan pesantren yang dilaksanakan di luar seperti kegiatan lingkungan dan kegiatan bakti sosial, membersihkan pantai, menamam pohon di hutan yang rusak, atau membersihkan pasar,” ujarnya.

Pesantren Nurul Haramain mempunyai beberapa program sosial. Setiap tahun pesantren ini mengagendakan program haflah kurban. “Kita sama-sama motong daging qurban, memberikan uang santunan, memberikan pengajian dan mengundang orang-orang untuk bertemu bersama,” kata TGH Juaini.

Konsep Pendidikan Islam


Menurut TGH Juaini, pendidikan Islam itu harus sesuai dengan tuntunan dan ajaran Islam itu sendiri. Salah satu tuntutan pendidikan Islam adalah persiapkan anak-anak bangsa khususnya di Indonesia yang akan menampilkan Islam yang ramah bagi sekalian alam. Hal ini memerlukan manusia-manusia yang diistilahkan “insan kamil”.

“Insan kamil kalau mau lebih dielaborasikan adalah manusia-manusia yang baik, benar, indah bermanfaat, serta dia sendiri bisa makmur dalam hidupnya,” jelasnya.

Oleh sebab itu, perndidikan harus diupayakan sebuah lembaga pendidikan yang Islami dengan program-program yang komprehensif agar semua potensi dapat diimpelementasikan secara maksimal. Inilah menurut TGH Juaini maksud dari pada pendidikan Islam.

Menurut TGH Juaini, umat Islam wajib menjalankan Islam itu secara “kafah” baik zahiriyah maupun batiniyiah. Sekarang ini umat Isam pada umumnya cenderung mengapresiasi ajaran Islam hanya tataran batinyiahnya yang menyangkut persoalan iman dan Islam dalam pengertian yang sederhana.

“Kita percaya Islam mengajarkan kesabaran, kebersihan, keadilan dan sebagainya. Kita percaya bahkan kita sanggup bertaruh nyawa untuk mempertahankan keyakinan kita. Tetapi kita masih belum beranjak dari kondisi dan keberpihakan kepada tindakan-tindakan yang nyata terhadap masyarakat,” kata TGH Juaini menjelaskan maksud menjalankan Isam secarah lahiriyah.

Umat Islam saat ini cenderung masuk ke aspek batiniyah dari saja. Menurut TGH JUaini, mungkin hal itu terkait dengan shock karena peradaban Islam pernah dikalahkan. “Kita belum melembagakan (diri) dan membuat strategi. Tugas ke depan adalah belajar dan belajar lagi agar tahu caranya membumikan ajaran kita ini,” ujarnya.

Menghijaukan 33 Hektar Lahan

TGH Juwaini dikenal secara nasional sebagai seorang guru dan tokoh muslim di NTB yang telah berhasil mewujudkan pondok pesantren dan madrasahnya sebagai lembaga pendidikan yang ramah lingkungan.

Ia bercerita, semenjak awal bersama-sama dengan para aktivis lingkungan menerbitkan buku “Fiqih Lingkungan”. Ia juga membeli dan menyulap lahan gundul di kawasan hutan seluas lebih dari 33 hektar menjadi hijau dan berpohon lebat. Proses penghijauan itu memakan waktu lebih dari 9 tahun yang melibatkan santri serta warga sekitar. Dana yang dikeluarkannya tidak sedikit mencapai Rp 4,3 miliar lebih.

Terkait dengan berbagai langkah pelestarian  lingkungan sebenarnya ia ingin menyampaikan pesan bahwa melestarikan lingkungan itu adalah amanat, ciptaan manusia. Sama halnya dengan perintah untuk menyembah Allah. Jadi kita tidak akan bisa menyembah Allah, mengimplementasikan keimanan kita dalam kondisi lingkungan kita hancur. Apalagi kita dalam posisi masih bisa melakukan sesuatu, ajakan saya untuk melestarikan lingkungan itu semata-mata merupakan perintah Allah dan Rasulullah SAW.

Banyak yang bernggapan bahwa sebuah institusi pendidikan Islam umumnya hanya bergerak di bidang tafaqquh fiddin, atau pendidikan agama saja, dan acuh-tak acuh dengan kondisi lingkungan. Menurut TGH Juaini, ini tidak tepat. Menurutnya, melestarikan lingkungan adalah amanh ciptaan mansia. Kita sebagai individu pribadi baik sebagai kelompok sosial harus turut melestarikan lingkungan. Karena Rasulullah sendiri bersabda, “Berhati hatilah dengan bumi ini sesungguhnya dia adalah ibumu.”

“Jadi kita perlakukan bumi ini seperti bagaimana memperlakukan ibu kita. Memuliakannya. Karena jasa-jasanya kepada kita,” tambanya.

TGH Juaini, tidak sepakat pondok pesantren Nurul Haramain dikategorikan sebagai “pesantren yang pro lingkungan”. Karena seharusnya semua pondok pesantren itu harus pro lingkungan. Setiap orang itu juga harus pro lingkungan, katanya.

“Saya mengatakan hal itu (pro lingkungan) adalah sesuatu yang harus khusunya pondok pesantren yang selama ini dikenal oleh masyarakat. Jangan hanya nyaman di menara gading tapi tidak mau tahui urusan luar. Saya kira ini suatu kesalahan dalam konsep pendidikan islam yang selama ini dipahami banyak orang,” tambahnya.

Penghargaan Masyarakat dan Dunia


Puncak dari kiprahnya dalah hal pelestarian lingkungan, TGH Hasanain Juaini memperoleh penghargaan Ramon Magsaysay pada tahun 2011. Selain karena peduli lingkungan, penghargaan diberikan kepadanya terkait kiprahya dalam hal penghormatannya terhadap kaum perempuan, serta membangun kerukunan beragama.

Penghargaan Ramon Magsaysay sendiri sering disebut sebagai Nobel versi Asia ini. Pernghargaan itu diserahkan di Kota Manila, Filipina, Rabu 31 Agustus 2011. Dengan pemperoleh Ramon Magsaysay berarri TGH Juaini sejajar dengan tokoh dunia lainnya yang memperoleh penghargaan serupa.

Ramon Magsaysay Award adalah suatu hadiah penghargaan yang dibentuk pada bulan April 1957, oleh para wali amanat Rockefeller Brothers Fund (RBF) yang berpusat di Kota New York, Amerika Serikat. Dengan persetujuan dari pemerintah Filipina, hadiah ini diciptakan untuk mengenang Ramon Magsaysay, almarhum Presiden Filipina; dan untuk menyebar-luaskan keteladanan integritasnya dalam menjalankan pemerintahan, kegigihannya dalam memberikan pelayanan umum, serta idealisme pragmatisnya dalam suatu lingkungan masyarakat yang demokratis.

Setiap tahun Ramon Magsaysay Award Foundation memberikan hadiah bagi perorangan dan organisasi Asia atas pencapaian unggul mereka di bidangnya masing-masing. Dan TGH Juaini menjadi salah seorang yang telah mendapatkan pengehargaan level dunia ini.

Selain penghargaan internasional, TGH Juaini juga telah mendapatkanpengakuan dan penghargaan di tingkat lokas dan nasional. Tahun 2004 ia memperoleh Penghargaan dari Bupati Lombok Barat sebagai Pengasuh Pesantren yang konsisten terhadap kegiatan konservasi hutan dan air. Ia juga memperoleh penghargaan serupa dari Ma’arif Institut yang berpusat di Jakarta.

Pemanfaatan Teknologi

TGH Juaini juga dicatat telah berhasil memanfaatkan teknologi untuk menunjang proses pendidikan pondok pesantren atau madrasah. Banyak hal yang sudah dilakukannya dalam memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran sejak tahun 1998.

Pemanfaatan teknologi computer misalnya. “Kita sudah merakit sendiri computer kita, kita punya program namanya Duku Sasak (satu guru satu santri satu computer) itu sudah lama tercapai dari tahun 1998 dan kita sudah melakukan ujian semester on line sudah berjalan 7 yang lalu hingga kini,” ujarnya.

Berbeda dengan beberapa pesantren dan madrasah yang merasa khawatir dengan akses negatif internet, TGH Juaini sudah melakukan pembentengan sejak awal kepada para santri-santrinya. Di lingkungan pesantren dan madrasah telah disiapkan belasan spot akses internet untuk keperluan belajar mengajar serta utuk santri yang menggunakan laptop.

Pesan untuk Guru

Menurut TGH Juaini segala sesuatu, termasuk pengabdan diri di dunia pendidikan harus diniatkan semata-mata karena Alah SWT. “Inna sholati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi rabbil’alamin lasyarikalahu wabudza umirtu wa’ana ‘awalullmuslimin. Jadi kita sudah seranhkan perjuangan kita menjadi milik Allah. Nanti kita minta petunjuk kepada Allah bagaimana cara mengemban amanah,” katanya.

“Saya kira yang terpenting dan saya yakini adalah bahwa perjalan kita (mengelola pendidikan) ini sudah tepat. Kita banyak belajar dari orang lain dan selalu memberikan nasehat dan share pengalaman, diskusi-diskusi sehingga insyaallah Allah akan kita menyatukan dengan teman-teman yang lain,” tambahnya.

Ia berpesan kepada guru madrasah dan pesantren di  berbagai daerah di Indonesia bahwa guru adalah manusia yang paling bertanggung jawab terhadap kualitas pendidkan bangsa Indonesia. Maka guru harus terus-menerus meningkatkan diri.

“Teruslah membangunkan kesadaran bahwa sesungguhnya tugas guru belum akan memberikan kita kesempatan untuk tersenyum, saking beratnya. Marilah kita sama-sama bekerja keras,” katanya.

Menurut TGH Juaini, lembaga pendidikan harus mempunyai visi dan misi serta dilandasi dengan cita-cita. “Kalau sudah ada cita-cita, sudah ada harapan saya kira semua proses pendidikan itu tidak bisa dikatagorikan susah,” pungkasnya. [Red: Anam]