Showing posts with label Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. Show all posts
Showing posts with label Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren. Show all posts

Thursday, August 18, 2016

Metamorfosis Pesantren

[caption id="attachment_2459" align="aligncenter" width="465"]Para Santri Sedang Menghafal Nadzam Para Santri Sedang Menghafal Nadzam[/caption]


Berbagai studi tentang pesantren menunjukkan, meski pelan pesantren senantiasa mengalami perubahan. Namun karena sangat pelan, perubahan-perubahan itu baru bisa dikenali melalui waktu yang panjang. Dalam ilmu sejarah hal demikian dikenal sebagai longe-durée, yaitu sejarah jangka panjang terkait dengan perubahan struktural yang lambat sekali. Di sini diperlukan ketelitian dan ketelatenan dalam mengikuti denyut-denyut kecil perubahan itu.


Perubahan dalam pesantren senantiasa dikaitkan dengan figur kiai. Dalam studinya Manfred Ziemek (1983) misalnya, membuktikan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang berpengaruh penting bagi perubahan sosial masyarakat desa. Demikian juga dengan Hiroko Horikoshi (1987) menyoroti peran kiai sebagai aktor penting dalam perubahan sosial. Menurutnya, kiai berperan penting sebagai penyaring informasi untuk memacu perubahan pesantren dan masyarakat sekitarnya. Kiai juga bertindak sebagai mediator dan cultural broker (makelar budaya).


Meski peneliti-peneliti tersebut berhasil membuktikan perubahan-perubahan di pesantren dan peran kiai dalam proses perubahan itu, namun perubahan itu tetap dalam konteks pengembangan peran pesantren. Aspek-aspek ideologis pesantren masih tetap dalam bingkai kulturalnya.


Namun, dalam waktu yang panjang perubahan dalam pesantren tidak selalu menuju ke arah yang dikehendaki. Ada perubahan-perubahan menuju ke arah yang mengkhawatirkan, yaitu metamorfosis sejumlah pesantren menjadi kekuatan wahabisme. Hal ini diamati secara cermat dalam disertasi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ditulis M. Suparta, sekarang menjabat sebagai Irjen Depag RI. Disertasi ini diujikan pada akhir Agustus 2008 lalu.


Studi tentang perubahan orientasi pesantren ini mengambil fokus dua pesantren, yaitu Maskumambang Gresik dan al-Fatah Magetan. Disertasi yang diujikan 20/9/08 lalu itu memperlihatkan bahwa perubahan orientasi keilmuan kiai mempunyai pengaruh besar untuk mengubah wajah pesantren yang pada gilirannya mempengaruhi wajah keagamaan masyarakat.


Dua pesantren yang distudi disertasi ini termasuk pesantren tua. Pesantren Maskumambang berdiri tahun 1859 oleh Kiai Abdul Jabbar (w. 1907), dan pesantren al-Fatah didirikan pada 1912 oleh Kiai Siddiq (w. 1950). Pada awalnya dua pesantren ini dapat dikatakan sebagai tipikal pesantren NU yang mengembangkan paham ahl al-sunnah wa al-jama’ah (aswaja).


Namun dalam perjalanannya, kedua pesantren tersebut berganti wajah. Pesantren Maskumambang berganti wajah dari pesantren salafiyah-aswaja menjadi modern-wahabi. Sedang al-Fatah Magetan berubah dari salafiyah-tarekat-aswaja menjadi pesantren berwajah majlis tabligh.


Perubahan itu merupakan hasil dari interaksi dua pesantren ini dengan dunia luar. Pesantren Maskumambang bergerak ke arah wahabi pada generasi ke dua, yang diwakili figur Kiai Ammar Faqih (w.1965) setelah dia belajar ke Mekah dan Madinah dan persentuhannya dengan karya Muhammad bin Abdul Wahab, Kitab al-Tauhid ketika menjalankan ibadah haji. Perubahan orientasi Pesantren Maskumambang semakin jelas ketika Kiai Nadjih Ahjad mengganti posisi Kiai Ammar Faqih.


Sedang pesantren al-Fatah Magetan berubah wajah menjadi majlis tablig setelah pengasuhnya, Kiai Uzairon belajar ke Mesir dan Kiai Noor Tohir belajar ke Mekah. Kedua pengasuh al-Fatah tersebut berkenalan dengan majlis tablig yang didirikan Maulana Muhammad Ilyas bin Muhammad Ismail al-Kandahlawi (w. 1944). Hubungan itu dilanjutkan dengan kunjungan jama’ah tablig dari India dan Pakistan ke al-Fatah Magetan pada 1984 dan 1988.


Peristiwa ini pada 1989 sempat memunculkan ketegangan antara Pesantren al-Fatah dengan PC NU Magetan. Ketika itu, Kiai Uzairon menjabat sebagai Rais Syuriah, dan Kiai Noor Tohir sebagai Katib Syuriyah PC NU Magetan. Forum tabayyun itu ternyata tidak menemukan titik temu. Kiai Uzairon dan Kiai Noor Tohir akhirnya menyatakan keluar dari NU dan memilih mengembangka majlis tablig. Sejak itu, Pesantren al-Fatah semakin menjauh dari komunitas NU dan semakin mantap mengembangkan karakter keberagamaan majlis tablig dengan khuruj (keluar menyebarkan agama) menjadi ciri khasnya.


Karena peristiwa ini, banyak wali santri yang berontak. Wali santri banyak yang tidak bisa menerima pilihan pengelola Pesantren al-Fattah. Akhirnya, sekitar 500 santri ditarik orang tuanya dan dipindahkan ke pesantren lain.


Penulis.....




[caption id="attachment_2460" align="aligncenter" width="670"]Para Santri Selesai Mengaji Para Santri Selesai Mengaji[/caption]

Penulis yakin, metamorfosis dan perubahan orientasi pesantren demikian tidak hanya dialami Maskumambang Gresik dan al-Fatah Magetan. Masih banyak sejumlah pesantren NU yang ikut tergerus gelombang wahabisme. Kalau Ketua Umum PB NU, Hasyim Muzadi, menyatakan Islam Indonesia diserang ideologi trans-nasional, kasus Maskumabang dan al-Fatah bisa menjadi contoh riil.


Bahkan, kini medan pertarungan itu tidak hanya melalui pesantren. Masjid-masjid sebagai basis kehidupan sosial keagamaan masyarakat juga menjadi ajang kontestasi. Dari berbagai informasi yang penulis peroleh, masjid-masjid yang dikelola warga NU banyak sekali yang “diserobot” kelompok wahabi dan aliran puritan lainnya.


Dari kenyataan tersebut, ada beberapa hal yang layak dicatat. Pertama, jika selama ini NU mengklaim mempunyai soko guru yang kokoh, yaitu pesantren, ternyata kini pesantren telah mengalami metamorfosis yang melahirkan wajah baru pesantren yang jauh dari karakter ke-NU-an. Meski saya tidak percaya semua pesantren NU akan terbawa arus ini, namun jika tidak diwaspadai bukan tidak mungkin paham keagamaan NU akan semakin dipandang asing di negerinya sendiri. NU juga akan semakin kehilangan legitimasi pesantren.


Kedua, pelajaran berharga dari Pesantren Maskumambang dan al-Fatah adalah ternyata jaringan tokoh-tokoh pesantren yang dibangun melalui belajar di luar negeri, terutama Mekah dan Madinah mempunyai pengaruh besar dalam mengubah wajah pesantren. Memang tidak sumua alumni Mekah dan Madinah menjadi wahabi, namun mengabaikan hal ini juga bukan sikap yang baik.


Ketiga, NU memang punya lembaga yang secara khusus membidangi soal pesantren, yaitu Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyah (RMI). Lembaga ini perlu diorientasikan untuk melihat perkembangan pesantren-pesantren NU dari sisi orientasi ideologisnya. Hal ini memang bukan perkara mudah. Meski NU mengklaim mempunyai basis pesantren, tapi pesantren di lingkungan NU mempunyai otonomi penuh yang tidak bisa dicampuri dan diintervensi pengurus struktural NU. Pesantren NU lebih bisa digerakkan melalui hubungan guru-murid, daripada hubungan struktur NU.


Memang, perubahan adalah keniscayaan yang tidak bisa ditolak. Arus perubahan terkadang juga tidak terduga. Dan kini, pesantren di hadapkan pada berbagai pilihan perubahan. Harus diakui, di sini umat Islam, termasuk warga NU dan pesantren, sering tergagap dalam menghadapi berbagai arus perubahan. Saya yakin, pesantren memang tidak akan bisa hilang dari bumi Indonesia. Masalahnya adalah pesantren jenis apa yang akan hidup. Inilah tantangan yang harus dihadapi.

*oleh Rumadi; Dosen FSH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Komisioner Informasi Pusat (KIP)

Friday, August 5, 2016

Program PBTQ Berangkatkan 173 Santri Tahfidz ke Turki

[caption id="attachment_2355" align="aligncenter" width="600"]Konjen Istambul dan Perwakilan dari Ditjen Pendis Kemenag RI Konjen Istambul dan Perwakilan dari Ditjen Pendis Kemenag RI[/caption]

Istambul PendidikanIslam.ID – setelah beberapa hari lalu diwisuda oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, kini 173 santri program PBTQ (UICCI-Kemenag RI) telah tiba di Istanbul Turki untuk melanjuutkan studi al Qur’annya (04/08/2016). Ikut mengantar para santri, Direktur Pendidikan Pondok Pesantren Mohsen, Kepala Biro Umum Syafrizal, dan Kasubdit Pendidikan Al Quran Nanang Fatkhurrahman.


Setibanya di Istambul, sebagaiman disebutkan di laman kemenag.go.id, rombongan melakukan pertemuan dengan Konjen RI di Istambul Harlan H. Hakim. Selain melaporkan kedatangan Rombongan ke Turki, rombongan juga menggali informasi seputar kondisi keamanan di Turki.


Harlan Hakim menjelaskan bahwa pendidikan di Turki aman, terutama untuk lembaga yang tidak terkait dengan Fetullah Gullen. Kepada tim Indonesia, Harlan juga menjelaskan bahwa fasilitas di Ponpes Sulaimaniah yang menjadi tempat belajar para santri, sangat bagus seperti hotel bintang 3. Gedungnya dilengkapi lift dengan kamar, ruangan makan, dan kamar mandi yang bersih.


Konjen mengaku siap membimbing dan memfasilitasi anak anak Indonesia yang belajar di Turki terkait dengan pembinaan karakter ke-Indonesiaan. Dalam pertemuan itu dibahas juga pola pembinaan yang efektif bagi mahasiswa di Turki yang jumlahnya antara 350 - 400 org agar terjaga dari pengaruh gerakan Radikal.


Khusus untuk santri tahfidz Al Quran di Sulaimaniah, Konjen setuju dengan saran Menag Lukman Hakim bahwa pembinaan dilakukan dua kali, sebelum keberangkatan dan sepulang dari Turki. (@viva_tnu)

Gebyar Hari Santri 2016 : Kemenag Selenggarakan Lomba Foto & Cerpen

Gebyar Hari Santri 2016
Jakarta, PendidikanIslam.ID – Dalam rangka menyambut Hari Santri ke-2 pada 22 Oktober 2016 mendatang, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam, Kemenag RI menggelar rangkaian “Gebyar Hari Santri 2106”.  Salah satu event rangkaian acara akbar tersebut diantaranya adalah lomba foto dan cerpen dengan hadoah total 200juta.


“Dengan mengambil tema “Dari Pesantren untuk Indonesia”, lomba foto dan cerpen yang tidak dipungut biaya alias gratis ini dibagi menjadi dua kategori, yakni umum dan santri. Khusus peserta santri wajib menyertakan fotokopi kartu santri atau surat keterangan dari pondok pesantren,” kata Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Mohsen, dalam rilisnya (04/08/2016).


Ketentuan khusus lomba foto adalah mengirimkan 2 (dua) foto berukuran @2048 pixel karya orisini tanpa adanya editing (apa adanya), sesuai tema dan tidak mengandung unsur pornografi, kekerasan dan unsur SARA. Disamping itu peserta juga bebas menggunakan kamera apapun termasuk kamera telephone genggam (HP). Dalam bentuk digital, karya dikirimkan ke lombafotosantrikemenag2016@gmail.com. Sedangkan hard copynya dicetak ukuran 10R kemudin dikirim via post ke “Panitia Pelaksana Lomba Cerpen Gebyar Hari Santri 2016”.


Sedangkan ketentuan khusus lomba cerpen adalah mengirimkan 1 (satu) tulisan dengan 10-15ribu karakter (dengan spasi),  di-print out dengan A4 spasi 1,5 memakai font Times New Romas 12. Penilaiannya adalah kreativitas, kesesuaian dengan tema, serta kekuatan pesan yang disampaikan dalam cerpen serta tidak ada unsur SARA dan pornografi. Naskah soft copy dikirim via email ke lombacerpensantrikemenag2016@gmail.com. Sedangkan untuk hard copynya dikirim ke “Panitia Pelaksana Lomba Cerpen Gebyar Hari Santri 2016”.


Dengan menyesuaikan keikutsertaan kategori lomba, Hard copy dikirim via post paling lambat tanggal 26 September 2016 ke Subag Tata Usaha / TU Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pesantren, Kementerian Agama Republik Indonesia, Lantai 6 Jl. Lapangan Banteng Barat no.3-4 Jakarta Pusat 10710. Pemenang akan diumumkan di www.ditpdpontren.kemenag.go.id pada  tanggal 05 Oktober 2016.


Para Juri untuk kedua lomba tersebut diisi para profesional skala nasional. Untuk juri lomba foto adalah Oscar Motuloh (Kurator Galeri Foto Antara), Tubagus P. Svarajati (Kritikus Foto), dan Rukardi Achmadi (Redaktur Pelaksana Suara Merdeka). Dewan juri lomba cerpen adalah KH. A. Mustofa Bisri (Pengasuh Ponpes Raudlatut Thalibin Rembang), Triyanto Triwikromo (Cerpenis), dan Putu Fajar Arcana (Redaktur Kompas).


Untuk hadiah dengan 2 kategori sebagaimana keterangan diatas, Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren menyediakan 10 pemenang. Pemenang I (15juta), Pemenang II (10juta), Pemenang III  (7,5juta), Pemenang Harapan I (5juta) dan Pemenang Harapan II (3juta). (@viva_tnu)


Keterangan lebih lanjut, lihat brosurnya;
Brosur Lomba Cerpen
Brosur Lomba Foto

Thursday, August 4, 2016

Metode Turki Usmani; Cara Santri PBTQ Menghafal Al-Quran

[caption id="attachment_2346" align="aligncenter" width="600"]Menghafal Al Qur'an dengan Sistem Usmani Menghafal Al Qur'an dengan Sistem Usmani[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID – Program Beasiswa Tahfidz al Qur’an (PBTQ) kerjasama antara Direktorat Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) dengan United Islamic Cultural Centre of Indonesia (UICCI) Turki telah mewisuda santrinya untuk angkatan ke-9 sebanyak 173 orang.


Menurut pengelola program PBTQ, Direktur UICCI Indonesia Hakan Soydemir, durasi menghafal Al Quran antar santri beragam, ada yang cukup 5 bulan, 8 bulan, 9 bulan, 1 tahun, 15 bulan, 2 tahun, dan paling lama 3 tahun. Waktu yang terbilang relatif singkat untuk menghafal 29 Juz Al Quran.


"Setiap santri wajib menghafal Al-Quran mulai dari halaman 20 pada setiap juznya. Setelah halaman 20 dari tiap juz tersebut hafal dan dinyatakan lulus, maka santri melanjutkan hafalan pada halaman 18 dari setiap juz pula. Pola ini terus berlanjut hingga santri hafal semua juz," kata salah satu pengajar di Program PBTQ kepada jurnalis kemenag.go.id


Menurut salah satu santri Salsabila Nur Indrastata (17) gadis asal Sidoarjo Jawa Timur ini mengaku kalau metode Turki Usmani membantunya menghafal dengan cepat dan tidak mudah lupa. Salsabila sendiri berhasil menghafal selama 2 tahun 7 bulan.
Hal sama disampaikan Zaqiyah Alison (16) yang berhasil menghafal Al-Quran dalam waktu kurang dari 2 tahun.


Rahmatullah (19), santri asal Sukabumi Jawa Barat ini mampu menghafal 1,3 tahun. Sedang Deden Suhendar (18) hafal dalam waktu 11 bulan. Menurut santri berkacamata asal Bogor ini, metode Turki Usmani sangat cocok dan memudahkannya dalam menghafal, disamping arahan dan lecutan semangat dari ustadz. (@viva_tnu)

Menag Wisuda Khafidz Program UICCI Angkatan ke-9




[caption id="attachment_2342" align="aligncenter" width="600"]Santri PBTQ di Wisuda Menteri Agama Santri PBTQ di Wisuda Menteri Agama[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID –  Program beasiswa tahfidz al Qur’an (PBTQ) kerjasama antara Direktorat Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) dengan United Islamic Cultural Centre of Indonesia (UICCI) Turki yang telah berlangsung selama 6 tahun sejak 2010. Pada kesempatan wisuda tahfidz kali ini, sebanyak 173 santri penghafal Al-Quran diwisuda oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Auditorium HM Rasjidi, Gedung Kemenag MH Thamrin Jakarta, Selasa (02/08).


Mereka yang terdiri dari 143 santri laki-laki dan 30 santri perempuan. Di antara mereka, ada yang berhasil menghafal dalam 5 bulan, dan yang paling lama adalah 3 tahun. Setelah diwisuda, para santri akan mendapat kesempatan belajar mendalami Al-Quran di Istambul Turki dalam waktu 2 - 3 tahun.


Menurut Menag, aktivitas menghafal Al-Quran, terkait dengan membaca, merenungkan, menyimak, dan mengkaji. Ini merupakan aktivitas komplek yang membutuhkan perjuangan dan komitmen tinggi, sehingga membutuhkan tempaan intelektual, mental, dan spiritual.


"Alhamdulillah, proses pertama telah dilalui dengan baik, hingga anak-anak sekalian terpilih untuk berangkat ke Turki," terang Menag kepada santri angkatan ke-9 Tahun Ajaran 2015/2016 ini.


Kepada wisudawan tahfiz Al-Quran, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberi pesan khusus. "Pertama, kesempatan menimba ilmu di luar negeri, adalah dambaan hampir sebagian besar santri dan siswa. Karenanya, manfaatkan dengan baik. Belajar lah dengan giat, manfaatkan kesempatan yang ada untuk melahap semua ilmu," tuturnya sebagaimana di laman kemenag.go.id


"Pusat-pusat ilmu pengetahuan di Turki harus kalian kunjungi. Setelah pulang, amalkan untuk memajukan pendidikan tanah air," imbuhnya.


Pesan kedua, Menag meminta para santri menjadi duta bangsa, pondok pesantren, dan duta masyarakat yang baik. "Jagalah nama baik Indonesia, nama baik pesantren dan nama baik masyarakat. Caranya, dengan menunjukkan prestasi demi prestasi, baik intelektual, moral maupun spiritual," katanya.


"Tetaplah berkomitmen pada perjuangan NKRI. Tanamkan dan jaga komitmen kebangsaan dan NKRI agar tetap tejaga di hati," tuturnya lagi.


Hal ketiga yang dipesankan Menag, para santri agar berjuang untuk dapat menunjukkan kepada dunia, bahwa mereka adalah muslim moderat, inklusif, toleran dan damai. "(Ini) sebagaimana karakter Islam Indonesia, juga Islam yang telah dikembangkan di pondok pesantren," ujarnya.


Sebagaimana diketahui pada informasi pada pendaftaran program PBTQ, untuk bisa menjadi santri di UICII, para santri minimal lulus MTs/sederajat dan maksimal berusia 19 tahun dan telah hafal juz amma (Juz 30). (@viva_tnu)

Saturday, July 30, 2016

01 Agustus 2016, 12 SK Pendidikan Diniyah Formal akan Diserahkan

[caption id="attachment_2282" align="aligncenter" width="650"]Santri Pendidikan Diniyah Formal Santri Pendidikan Diniyah Formal[/caption]

Jakarta,PendidikanIslam.ID – Setelah Tahun 2015 melaunching 14 (empat belas) penyelenggaraan Pendidikan Diniyah Formal pada 6 (enam) propinsi, pada tahun 2016 ini Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin kembali memberikan ijin operasioanl bagi 12 (dua belas) pondok pesantren sebagai penyelenggara layanan Pendidikan Diniyah Formal (PDF).


“Pada Tanggal 01 Agustus 2016 bertempat di Pondok Pesantren Minhajurrasyidiin, Jl. SPG No. 17 Lubang Buaya Jakarta Timur, Insyaallah Menteri Agama akan memberikan langsung Surat Keputusan Ijin Operasional bagi 12 lembaga penyelenggara Pendidikan Diniyah Formal,’ terang Kepala Sub Direktorat Pendidikan Diniyah, Ahmad Zayadi (29/07/2016).


Dalam catatan pada leading sector Sub Direktorat (Subdit) Pendidikan Diniyah, Direktorat Jenderal Pendidika Diniyah Dan Pondok Pesantren, Ditjen Pendidikan Islam,  12 PDF yang akan diberikan ijin operasional itu terdiri atas 7 (tujuh) PDF Wustha dan 5 (lima) PDF Ulya yang tersebar pada 5 (lima) propinsi.


Keduabelas Pendidikan Diniyah Formal itu adalah ; 1) PDF Wustha Walindo Manbaul Falah Pekalongan-Jawa Tengah; 2) PDF Wustha Al Munawwarah Pekanbaru-Riau; 3) PDF Wustha APIK Kaliwungu Kendal-Jawa Tengah; 4) PDF Wustha Minhajurrosyidin Lubang Buaya-DKI Jakarta; 5)PDF Ulya Salafiyyah Parappe Polewali Mandar-Sulbar; 6) PDF Ulya Al falah Jepara-Jawa Tengah; 7) PDF Ulya Minhajurrosyidin Lubang Buaya-DKI Jakarta; 8) PDF Ulya Al Munawwarah Pekanbaru-DKI Riau; 9) PDF Ulya Walindo Manbaul Falah Pekalongan-Jawa Tengah; 10) PDF Wustha Al Fithrah Surabaya-Jawa Timur; 11) PDF Wustha Nurul Qadim Probolinggo-Jawa Timur; dan 12) PDF Wustha Al Mubaarok Wonosobo-Jawa Tengah.


Sebagaimana diketahui, jelas Zayadi, layanan PDF ini diselenggarakan dengan mengacu kepada Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam, yang merupakan turunan atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, yang merupakan implementasi dari Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


Sedangkan 14 (empat belas) PDF yang telah dilaunching pada tahun 2015 tahun lalu adalah; 1) PDF Doktren Nurul Qodim Probolinggo Jawa Timur; 2) PDF Doktren al-Mahrusiyah Lirboyo Kediri-Jawa Timur; 3) PDF Doktren Cokrokertopati Takeran Magetan-Jawa Timur; 4) PDF Doktren as-salafi al-Fithrah Surabaya-Jawa Timur; 5) PDF Doktren Zainul Hasan Genggong Probolinggo-Jawa Timur; 6) PDF Nurul Kholil Bangkalan-Jawa Timur; 7) PDF Doktren APIK Kaliwungu Kendal-Jawa Tengah; 8) PDF Doktren al-Mubarok Manggisan Wonosobo-Jawa Tengah; 9) PDF Doktren al-Masturiyah Sukabumi Jawa Barat; 10) PDF Doktren Darussalam Ciamis Jawa Barat; 11) PDF Doktren Nahdlatul Ulum Maros-Sulawesi Selatan; 12) PDF Doktren As’adiyah Sengkang Wajo-Sulawesi Selatan; 13) PDF Doktren al-Khairaat Tanjung Selor-Kalimantan; dan 14) PDF Dayah Babussalam Aceh Utara-Aceh. (@viva_tnu)

Friday, July 29, 2016

Program Indonesia Pintar (PIP) Tahun 2017 Bagi Santri Sulteng Akan Ditambah

[caption id="attachment_2286" align="aligncenter" width="407"]Program Indonesia Pintar Program Indonesia Pintar[/caption]

Palu,PendidikanIslam.ID -  Tahun 2016 ini penerima Program Indonesia Pintar (PIP) di Sulawesi Tengah sekitar 583 Santri yang terdiri atas 388 orang tingkat Wustha dan 195 tingkat Ula.

"Angka ini termasuk masih kurang, karena belum semua pondok pesantren mengusulkan PIP. Kita upayakan tahun depan penerimanya akan bertambah," kata Kepala Seksi Pondok Pesantren Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tengah, Abdul Haris, di kantornya, Kamis (28/07/2016) sebagaimana disebutkan di laman antaranews.com.

Abdul Haris menjelaskan, penyelenggaraan PIP merupakan komitmen Pemerintah di bidang Pendidikan dalam hal mewujudkan pendidikan tanpa diskriminasi dan pendidikan untuk semua.

“Hal ini, sejalan dengan 9 agenda prioritas (nawa cita) pemerintah Presiden RI Joko Widodo yaitu meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia, dan melakukan revolusi karakter bangsa,” tandasnya.

Upaya pemerintah, lanjutnya, dalam hal memberikan kemudahan mengakses pendidikan kepada masyarakat terus digulirkan diantaranya melalui beasiswa siswa berprestasi dan bantuan bagi siswa dari keluarga tidak mampu.

“Pemerintah melalui Kementerian Agama dalam penyelenggaraan Pendidikan Islam melaksanakan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk santri,” tukasnya. (@viva_tnu)

Thursday, July 28, 2016

Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin Akan Selenggarakan Pendidikan Diniyah Formal

[caption id="attachment_2271" align="aligncenter" width="630"]Santri PP. Minhaajurrosyidin Santri PP. Minhaajurrosyidin[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID - Kementerian Agama RI membuka ruang baru dan memberikan pilihan kepada masyarakat untuk mendidik putera puterinya menjadi kader ulama melalui layanan Pendidikan Diniyah Formal (PDF). Layanan PDF ini tunduk atas Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 13 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Islam, yang merupakan turunan atas Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan, yang merupakan implementasi dari Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


Menyambut PDF yang telah diatur Kemenag, Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, Lubang Buaya, Jakarta Timur akan dinobatkan sebagai satu dari 12 penyelenggara Pendidikan Diniyah Formal (PDF) di tingkat nasional.   Ketua Harian PP. Minhaajurrosyidin, Muh Asy’ari Akbar, mengatakan PDF merupakan program pendidikan yang memiliki nilai plus yaitu perpaduan ilmu umum dan agama.


Dengan demikian, lanjt Asy’ari, siswa tidak akan rendah diri lagi berkompetisi dengan pelajar umum lainnya. Bahkan, mereka memiliki kelebihan berupa kemandirian lantaran tinggal di pesantren dan bekal agama sebagai landasan karakter. “PDF adalah salah satu jawaban krisi di dunia pendidikan kita,” tegasnya di laman republika.co.id.


Di satu sisi, ujar dia, dengan program ini  siswa akan lebih mudah meneruskan ke jenjang pendidikan umum yang lebih tinggi. Pelajar dari luar negeri juga tak ragu sebab ijazah yang dikeluarkan sudah diakui pemerintah RI.


Dia menjelaskan, jenjang PDF Minhaajurrosyidiin yang dibuka tahun ini adalah untuk tingkat wustha setara SMP, ulya setara SMA dan tahun depan merencanakan tingkat Ma’had Ali atau perguruan tinggi.


Acara serah terima SK PDF kepada PP. Minhaajurrosyidiin direncanakan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, pada awal Agustus 2016 nanti. (@viva_tnu)