Showing posts with label MAN. Show all posts
Showing posts with label MAN. Show all posts

Friday, September 2, 2016

Kemenag Beri Beasiswa 817 Mahasiswa ke Timur Tengah

[caption id="attachment_2570" align="aligncenter" width="800"]Menag Lukman Hakim Saifuddin Melepas 817 Mahasiswa Ke Timur Tengah Menag Lukman Hakim Saifuddin Melepas 817 Mahasiswa Ke Timur Tengah[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.ID - Proses akhir dari 4.511 murid yang mendaftar untuk belajar di sejumlah universitas di negara-negara Timur Tengah, akhirnya Kementerian Agama meluluskan 817 orang sebagai mahasiswa baru.


Mahasiswa baru tersebut selanjutnya akan belajar di dengan beasiswa Kemenag di Universitas Al Azhar, Mesir sebanyak 20 orang. Penerima beasiswa Tamsil dengan rincian di Sudan 20 orang, Maroko 15 orang, Lebanon 20 orang, Kuwait 8 orang, sisanya yakni mahasiswa non beasiswa sebanyak 734 orang. Seleksi telah dilaksanakan dan berlangsung di Aceh, Riau, Sumbar, Sumatera, Jakarta, Sumsel, Lampung, Jogja, Sulteng, Sulbar, Sulut, Pekanbaru, Palembang, Malang, dan Makassar.


Dalam pelepasan yang dilakukan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, kepada mahasiwa baru tersebut, Menag Lukman yang didampingi Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, Sesditjen Pendis Ishom Yusqi meminta agar kesempatan untuk belajar di luar negeri ini harus senantiasa disyukuri. Sebab, ujar Menag, ada banyak siswa-siswa dari negeri ini yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar negeri.


"Oleh karenanya, siswa-siswa yang terpilih saat ini sudah selayaknya meningkatkan rasa syukurnya hingga terpilih sebagai mahasiswa di Timur Tengah. Sebab, Timur Tengah masih menjadi negara yang baik untuk tempat menimba ilmu, akan tetapi, kondisinya, peluang yang ada tidak sebesar animo yang begitu banyak," ujar Menag di Kemenag, Jl. Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta Pusat (1/9).


Syukur, lanjut Menag, harus dimaknai dengan bijak dan arif, karena masih banyak saudara-saudara kita, belum berkesempatan seperti yang siswa-siswi miliki saat ini.


"Kita yang hadir disini adalah orang-orang pilihan, bahkan sudah melalui seleksi yang begitu beragam dan cukup panjang serta tidak sederhana, hingga bisa melanjutkan pendidikan di negara-negara tersebut", tambah Menag.


Menag minta kepada mahasiswa baru tersebut untuk meneguhkan niat, bahwa perjalanan dan keberadaan di negara orang nanti semata-semata untuk menimba ilmu. Dalam artian luas, menuntut ilmu tidak hanya berarti dalam bangku kuliah, akan tetapi menuntut ilmu hidup, sebab, dengan berada di negera orang akan mendapatkan banyak ilmu, pengembangan wawasan pemikiran dan juga pengalaman.


"Yang tidak kalah penting adalah ilmu hidup. Kita akan menjalani kehidupan di negera orang, dengan kedaan berbeda adat dan budaya yang tentu tidak sama dan dialami di negeri in, pasang niat yang baik, untuk apa berada di negara orang", tambah Menag sebagaiman dilansir pada laman kemenag.go.id.


Selain pesan syukur, Menag juga mengharapkan siswa-siswa yang akan menjadi mahasiswa Timur Tengah tersebut harus fokus dan serius untuk menyelesaikan program studinya. Sebab, biaya yang digunakan adalah biaya milik kita bersama, biaya yang berasal dari negera (rakyat Indonesia). (@viva_tnu)

Thursday, March 24, 2016

Alumni Madrasah Ini Sekarang Menjadi Engineer di Tokyo

[caption id="attachment_809" align="alignnone" width="300"]Sahrul Pasisingi bersama profesor pembimbing sewaktu wisuda kuliah S2 di Jepang tahun 2012. Sahrul Pasisingi bersama profesor pembimbing sewaktu wisuda kuliah S2 di Jepang tahun 2012.[/caption]

Lulus dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Gorontalo 2003 terbang ke Jepang melalui program beasiswa Monbusho atau Kementrian Pendidikan Jepang. Pihak madrasah dan guru-gurunya mencarikan informasi dan membantu proses pendaftaran. Kini ia telah menyelesaikan pendidikan D3, S1 dan S2 di Jepang dan sedang berkarir di salah satu perusahaan komunikasi terkemuka di Tokyo.

Guru-gurunya di MAN Insan Cendekia Gorontalo mengatakan, “Sahrul sekarang sudah mirip sekali dengan orang Jepang.” Mungkin karena ia berada di Negeri Sakura selama bertahun-tahun, lebih dari 10 tahun, dan jarang sekali pulang ke Gorontalo.

Ceritanya panjang sekali sampai akhirnya Sahrul berhasil menyelesaikan pendidikan di Jepang dan berkarir di sana. Menyelesaikan jenjang pendidikan D3, S1 dan S2 di Jepang juga bukan perkara mudah.

Fokus kajian dan keahliannya adalah teknologi wireless. Tugas akhir D3-nya kajian “Cancellation untuk Sinyal CDMA”. Lalu tugas akhir S1-nya masih seputar teknologi wireless yakni “Propagation Channel Teknologi Multiantena.” Sampai jenjang S2, ia fokus pada teknologi wireless communication 4G. Iklim pendidikan di Jepang memang mendorong para pelajar dan mahasiswanya menjadi pakar dan spesialis.

Awalnya, saat masih di MAN Insan Cendekia Gorontalo, ia sering mendengar cerita guru-gurunya tentang kakak kelasnya yang kuliah di Jepang. Ia tertarik ingin ikut kuliah di sana juga.

“Saya ikut seleksi beasiswa Monbusho. Guru-guru saya membantu mencarikan informasi tentang prosedur beasiswa Monbusho, sampai proses pendaftaran pun banyak dibantu oleh pihak MAN Insan Cendekia,” katanya.

Ia memulai persiapan dengan mengerjakan latihan soal-soal Monbusho yang sudah diujikan tahun-tahun sebelumnya. Lalu Sahrur ikut ujian tertulis di Makassar.  Kemudian ia mengikuti ujian wawancara di Jakarta.

“Alhamdulillah saya lulus seleksi, dan berangkat ke Jepang tahun 2004 mengikuti program D3 Monbusho,” katanya.

Selalu Ada Jalan


Sahrul menjalani masa kuliah D3 di kampus Hachinohe National College of Technology

Tema tugas akhirnya tentang noice cancellation untuk sinyal CDMA (wireless communication 3G). Setelah lulus D3 tahu 2007 ia ingin melanjutkan setahap lagi ke Jenjang S1.

“Waktu D3, saya merasa tertarik dengan teknologi wireless dan ingin lebih mendalami bidang tersebut. Saya memutuskan untuk mencoba lanjut ke S1 di universitas,” katanya.

Namun untuk melanjutkan S1 tentu perlu biaya yang tidak sedikit. Waktu itu, kata Sahrul, uang masuknya saja setara dengan 125 juta rupiah, belum lagi biaya hidup sehari-hari. ““Mustahil bisa bayar sendiri,” katanya.

Selalu saja ada jalan. Ia mengajukan permohonan perpanjangan beasiswa Monbusho. “Namun Syaratnya, nilai selama kuliah D3 harus A  semua atau  juara 1 atau minimal juara 2 di kelas yang isinya orang Jepang dan kuliah pakai bahasa Jepang. Ini yang dirasa paling berat. Namun bukan Sahrur namanya kalau mudah menyerah.

“Alhamdulillah rejeki, dapat perpanjangan beasiswa, dan diterima juga di universitas tempat saya ingin melanjutkan studi,” katanya.

Ia menamatkan S1 di University of Electro Communication. Tugas akhirnya tentang propagation channel teknologi Multiantena (teknologi wireless communication 4G).

Setelah lulus S1 tahun 2010, ia masih ingin belajar lagi. Ia mencoba melanjutkan studi S2  di bidang yang sama. Namun syarat perpanjangan beasiswa Monbusho ke S2 lebih berat lagi, yaitu ia harus mendapatkan nilai tertinggi diantara penerima beasiswa Monbusho lain.

“Kali ini saingannya lebih jago lagi. Salah satunya adalah kawan sendiri, salah satu wakil Indonesia di Olimpiade Fisika Asia tahun 2002. Saya ketemu beliau pertama kali di olimpiade fisika itu, dan sampe sekarang jagonya nggak luntur-luntur,” katanya tertawa.

Sadar dengan kemampuan sendiri dan sambil membaca peluang, ia kemudian mencoba mencari sponsor beasiswa di tempat lain dan ... “Alhamdulillah, Allah kasih rejeki lagi lewat SISF (Sato International Scholarship Foundation),” kata Sahrur.

Ia menempuh pendidikan S2 di University of Electro Communication, masih di bidang dan fokus yang sama. Tema tesisnya tentang propagation channel teknologi Multiantena (teknologi wireless communication 4G).

Bersyukur Bisa Belajar di Madrasah


Sahrur lahir di Gorontalo, bulan Mei 1985. Ayahnya bernama Hamdun Pasisingi, dan ibunya Ratna Hulukati. Pekerjaan orang tuanya adalah guru Pegwai Negeri Sipil (PNS). Mereka tinggal di Kabila, Bonebolango, Gorontalo.

Ia menamatkan pendidikan dasar di SDN Tumbihe, lalu berlanjut di SMP 1 Kabila, masih di wilayah Gorontalo.

Saat di SMP itulah ia mendapat informasi dari gurunya kalau ada sekolah unggulan yang baru dibangun di tanah kelahirannya Gorontalo. Namun susah untuk bisa masuk sekolah ini karena seleksi cukup ketat. “Saya mencoba dan alhamdulillah diterima,” katanya.

Sejak di Insa Cendekia, Sahrur sudah mengatur jam belajar dengan baik, dan sangat membantu ketika ia berada di Jepang yang menerapkan disiplin waktu cukup ketat.

“Di Insan Cendekia Gorontalo, saya berusaha sebisa mungkin mendengarkan baik-baik penjelasan guru di kelas. Kalau materinya terlalu sulit, minimal ngerti garis besarnya saja, sisanya ntar di baca lagi,” katanya.

Saat jam bebas, pukul 16.00 sampai 18.00 WITA, ia manfafatkan betul untuk menikmati hobi. “Saya main gitar, ngobrol dengan kawan-kawan, atau main di lab komputer. Kadang main voli atau sekedar jalan keliling lapangan tanpa tujuan. Atau terpaksa mencuci pakaian kalau cucian udah numpuk,” katanya.

“Di asrama IC pada pukul 20.00 sampai 22.00 WITA saya menggunakan jam belajar mandiri untuk membaca kembali materi di kelas yang dirasa kurang jelas. Atau saya pakai buat latihan menjawab soal-soal matematika, fisika, kimia, biologi. Kalau ada kawan yang minta diajarin, saya coba jelaskan dengan cara saya sendiri sekalian buat mengecek kalau saya sudah paham betul atau tidak,” tambahnya.

Ia merasa beruntung bisa mendapatkan kesempatan belajar di madrasah. Ia mempunyai kesempatan yang jauh lebih banyak dibandingkan teman-teman di sekolah umum untuk mengenal Sang Pemilik Ilmu Allah SWT, katanya.

Ini juga yang dipesankan Sahrul kepada adik-adiknya yang sekarang sedang belajar di madrasah. “Pertama, syukuri bahwa adik-adik bisa menenuntut ilmu madrasah,” katanya.

“Kedua, mulailah mencoba membuat visi hidup kedepan dari sekarang, supaya adik-adik akan punya standar yang jelas untuk menentukan langkah-langkah nanti, seperti saat memilih bidang yang akan ditekuni saat kuliah, bekerja dan seterusnya. Tentu visi ini pun bisa adik-adik ubah sesuka hati, yang terpenting adalah ‘punya’ visi-nya dulu,” katanya.

Sahrul berasal dari daerah yang sama dengan tokoh yang dikaguminya B.J. Habibie, presiden ketiga Republik Indonesia yang juga menjadi pelopor pendirian Insan Cendekia.

“Saya sangat mengagumi Bapak BJ Habibie sebab beliau adalah sosok teknokrat yang sukses di bidangnya, sekaligus sosok negarawan yang tulus berkarya untuk memajukan bangsa dan negaranya. Sepak terjang beliau adalah inspirasi buat para teknokrat dan para calon teknokrat Indonesia,” katanya.

Tertarik Industri Komunikasi


Saat ini Sahrur tinggal di Kawaguchi, Saitama-pref, Jepang. Ia bekerja sebagai Engineer di NTT Communications Corp Tokyo. Ia belum membuat planning lebih jauh karena sedang fokus meniti karir di perusahaan tempat bekerja sekarang.

Banyak hal yang menyebabkan ia memilih belajar dan berkarir di Jepang. Pertama karena negara ini terkenal dengan kemajuan industri elektroniknya, dan ia merasa tertarik ingin menekuni bidang tersebut.

“Saya pun memlilih berkarir di Jepang karena saya merasa ada peluang untuk menerapkan ilmu yang saya tekuni, serta dapat menimba pengalaman bekerja di lingkungan budaya orang Jepang,” katanya.

Dalam hal pendidikan, dibandingkan dengan Indonesia, secara umum materi pelajaran lebih di Jepang lebih fokus dan proporsi membahas konsep lebih banyak dibandingkan latihan soal.

Dalam hal karir, di Jepang dituntut untuk disiplin waktu, sehingga ia terbiasa bekerja di bawah tekanan dan dengan jam kerja yang relatif panjang.Tapi penghargaan atas kinerja sebanding dengan kerja keras yang sudah dilakukan.

Ia bercerita, menjelang akhir masa studi ia mencoba berpikir kembali tentang apa cita-citanya sebenarnya.

“Ada dua jalan yang bisa ditempuh setelah S2. Jalan pertama, lanjut S3 jadi ilmuwan, peneliti atau dosen. Jalan kedua, terjun ke dunia kerja, jadi engineer di perusahaan Jepang. Saya memilih jalan kedua karena merasa lebih pas dengan cita-cita saya,” kata Sahrur..

“Mulailah saya ikut seminar-seminar di perusahaan-perusahaan Jepang. Di Jepang banyak sekali pilihan tempat kerja, perusahaan-perusahaan tersohor, seperti Toyota, Nissan, Mazda, Honda, Sony, toshiba, hitachi, fujitsu NEC, sharp dan seterusnya. Mereka membuka peluang besar untuk para calon fresh graduate,” katanya.

Ia sendiri lebih tertarik dengan industri telekomunikasi karena sejalur dengan bidang yang ia tekuni sewaktu kuliah. Ia bertemu dengan NTT Communications, anak perusahaannya NTT, grup perusahaan telekomunikasi terbesar di Jepang. Perusahaan ini sedang gencarnya membuka peluang masuk pegawai asing dalam rangka memacu expansi globalnya.

“Karena tertarik dengan peluang bekerja di perusahaan multinasional, saya pun mencoba melamar , ikut seleksi (ujian berkas, tertulis, wawancara) dan alhamdulillah diterima,” ujarnya.

Meski sudah menjalani “masa kemapanan” di Jepang, Sahrul masih berpikir akan pulang dan berkarir di Indonesia. “Saya punya rencana pulang ke Gorontalo dan membuka lapangan kerja baru sekaligus menerapkan ilmu dan pengalaman yang saya dapat selama berada di Jepang,” pungkasnya. [A. Khoirul Anam]

Friday, March 18, 2016

Karena Ibu Guru Ini, MAN Limboto Gorontalo Lebih Diminati daripada SMA dan SMK

[caption id="attachment_736" align="alignleft" width="300"]Sarkiah Hasiru Sarkiah Hasiru[/caption]

Pada 2005, Ibu Sarkiah Hasiru mulai memimpin MAN Limboto. Waktu itu madrasah aliyah ini belum banyak diminati. MAN Limboto diapit dua sekolah, satu SMA dan satu lagi SMK. Para siswa yang mendaftar ke madrasah ini adalah mereka yang tidak diterima di dua sekolah umum itu. MAN Limboto hanya menerima sisa-sisa.

Tahun pelajaran 2005/2006 itu hanya ada 80 siswa keseluruhan dari mulai kelas 1 sampai kelas 3 aliyah, atau kelas X, XI dan XII. Itu pun, untuk calon siswa kelas X Sarkiah harus mendatangi rumah mereka satu-persatu. Ia menjelaskan kepada orang tua mereka apa itu madrasah dan mengajak anak-anak mereka belajar di madrasah. Namun beberapa tahun kemudian keadaan berbalik. MAN Limboto menjadi favorit. Tidak lagi mendapatkan sisa-sisa. Madrasah ini bahkan berani membuka pendaftaran lebih awal dibanding dua sekolah umum di sampingnya. Catatan berikut ini adalah seputar rahasia sukses Sarkiah Hasiru dalam memimpin MAN Limboto mencapai puncak prestasi.

Waktu itu tidak banyak warga yang melirik madrasah. Malahan banyak juga yang tidak mengenal apa itu madrasah. Kebanyakan warga menyebut madrasah dengan sebutan “SMA madrasah”. Image madrasah masih kurang bagus.

Sarkiah mulai memperkenalkan madrasah kepada warga Limboto dan sekitarnya. Caranya, ia mengikutsertakan siswanya dalam berbagai perlombaan. Ia mendampingi siswa-siswinya sampai menjadi juara. Dari beberapa prestasi yang diraih siswa itulah madrasahnya mulai dikenal. “Kita memulai dengan prestasi. Kita promosi dengan prestasi. Kita lobi juga dengan prestasi,” kata Sarkiah.

Strategi Promosi


Menurut Sarkiah, salah satu indikator keberhasilan madrasah adalah ketika lembaga pendidikan Islam ini diminati oleh masyarakat. Atau ketika masyarakay berbondong-bondong menyekolahkan anaknya ke madrasah. Sementara prasyarat agar diminati, madrasah harus dikenal oleh masyarakat.

Ia mengaku terganggu kalau ada yang tidak mengenal madrasah atau salah menyebutkan istilah madrasah. “Kalau saya naik bentor (becak motor) saya selalu menyebutkan lengkap. Saya nanti turun di Madrasah Aliyah Negeri Limbito. Saya kasih lengkap sekalian untuk sosialisasi,” katanya.

Sarkiah, putri asli kelahiran Gorontalo 25 November 1965 mengaku dirinya adalah seorang pemalu. Ia tidak biasa tampil di depan umum. Namun demi untuk mengenalkan madrasah kepada masyarakat, ia belajar bernyanyi. Pada beberapa kegiatan yang dihadiri khalayak, ia memberanikan diri untuk tampil dan menyanyi sambil memperkenalkan madrasahnya.

Berikutnya, untuk mempromosikan madrasahnya, Sarkiyah melatih siswa-siswanya untuk berlatih tarian tradisional Gorontalo. Ia mendatangkan pelatih yang ahli di bidang itu. Saat hadir para tamu, entah pejabat setempat atau dari dinas pendidikan, siswa-siswinya memberikan sambutan dengan penampilan tarian tradisional. Awalnya memang canggung, namun selanjutnya para para siswa sudah terbiasa dan tampil percaya diri.

Tim penyambutan tamu dari MAN Limboto kemudian dilirik oleh Dinas Pariwisata setempat. Siswa-siswi MAN Limboto sampai dipercaya oleh kepala bagian pariwisata untuk menyambut tamu dari luar daerah dengan tarian tradisional.

“Awalnya banyak yang bertanya kenapa madrasah yang menyambut tamu? Tapi setelah tahu penampilan kita, mereka baru wawancara gimana latihannya. Sekarang Dinas Pariwisata selalu memanggil kita. Misalnya, kalau ada kunjungan DPR dari pusat, Bupati langsung menunjuk kita,” ” kata Sarkiah.

Dengan menampilkan siswa-siswinya dalam beberapa kegiatan di luar, Sarkiah juga ingin membuat mereka lebih percaya diri. Ia juga selalu mendampingi para siswa mengikuti berbagai perlombaan.

“Anak-anak selalu ikut lomba dan saya damping supaya mereka tidak takut. Setiap lomba selalu anak-anak saya wanti-wanti harus punya target. Jangan minder dengan anak-anak dari sekolah lain, termasuk dari Insan Cendekia,” kata Sarkiah dengan logat Gorontalo-nya yang khas.

Saat tampil bersama siswa-siswi sekolah unggulan, apalagi sampai juara, saat itulah kepercayaan diri siswa madrasah semakin tinggi. Pada tahun pertama Zarkiah menjabat sebagai Kepala Madrasah, MAN Limboto sudah mendapatkan predikat sebagai sekretariat pramuka terbaik. Madrasah ini juga berhasil menjadi juara dalam kegiatan Napak Tilas yang diselenggarakan oleh Gubernur. Siswa MAN Limboto juga menang dalam lomba cerdas cermat Tap MPR, dan masih banyak lagi.

Butuh 1 Tahun 8 Bulan


Setelah sosialisasi dan promosi madrasah dirasa sudah berhasil, berikutinya Sarkiah baru masuk kepada program-program penataan di dalam. “Saya butuh waktu sekitar 1 tahun 8 bulan,” katanya.

Selama 1,8 tahun itu ia memberi pengertian kepada siswa, guru dan para stakeholder, tentang bagamana menngelola sekolah yang bagus. Sarkiah mengaku banyak belajar dari “magnet school” MAN Insan Cendekia Gorontalo. Ia juga mengajak beberapa guru melakukan studi banding ke beberapa sekolah di Gorontalo, bahkan ke sekolah-sekolah unggulan di Jakarta.

“Biaya disihkan dari yang ada. Misalnya dari honor pengawas kita sisihkan dan kita kumpulkan untuk kita pakai studi banding,” kata ibu tiga anak itu.

“Kita sering menyelenggarakan rapat, kita sharing mau kita apakan sekolah ini? Banyak sekali masukan. Masing-masing kita memaparkan dari mulai bidang bidang laboratorium, perpustakaan, tata usaha, guru, sampai kepala sekolah sendiri menyampaikan rencananya ke depan. Kemudian yang lain memberikan tanggapan. Kita diskusi dan kita menghasilkan buku pintar dan SOP selama 3 bulan kita rapat.”

Menurut Sarkiah, selama 1,8 tahun itu madrasahnya baru bisa mengejar ketertinggalan dan menata semua bidang. “Kalau sekolah yang sudah stand by mestinya cukup 3 bulan beradaptasi dan mengejar program. Kalau kita butuh waktu satu tahun delapan bulan,” katanya.

Para guru juga dibuatkan portofolio, dan masing-masing portofolio telah ada di meja tugasnya sebagai kepala madrasah. Menurnya, waktu itu, tidak banyak sekolah yang tahu apa itu portfolio. Banyak guru yang tidak memperhatikan soal-soal penting seperti kehadiran, prestasi, dan nilai.

“Kalau ada portofolio saya tidak terlalu banyak menegur karena ada catatannya. Itu dari sisi kedisiplinan,” katanya.

Untuk para siswa juga dibutkan format-format yang berisi point-point yang harus dicapai. Jika siswa gagal mencapai target, pihak madrasah memberikan teguran secara administratif. Portofolio untuk para siswa yang isinya semacam “kartu kontrol” yang sudah berada di meja satpam ketika siswa keluar atau masuk madrasah.

“Semua itu saya rumuskan sendiri. Setiap malam saya merenung. Dari hasil  studi banding saya integrated, saya kombinasikan,” demikian Sarkiah.

Centre School


Untuk membenahi sarana dan fasilitas, Sarkiah menyusun masterplan khusus. “Saya desain seperti ini,” katanya sambil menunjukkan gamba-gambar dalam buku masterplan yang dicetak dalam kertas yang lux.

“Saya lihat banyak sekolah itu yang penting asal jadi. Tidak memikirkan estetikanya. Tidak memikirkan bagaimana ke depannya. Jadi begitu ada anggaran lagi, ini bongkar lagi. Padahal bagunannya masih layak. Banyak sekolah yang perencenaannya tidak terpola, sembarangan, sehingga menghabiskan anggaran. Padahal ada sekolah lain yang masih butuh,” katanya.

Untuk menyusun masterplan itu, ia mendatangkan konsultan khusus. Ide utama berasal dari pihak madrasah, sementara konsultan membantu menyusun gambar tata ruangnya.

Saya berpikir, kenapa anak-anak lebih nyaman dia ke mall? Kenapa nuansa itu tidak kita tarik ke sekolah. Maka madrasah ini saya desain ini supaya anak-anak betah,” kata Sarkiah.

Ia menambahkan, masterplan juga desain sedemikian rupa agar semua siswa, baik dari keluarga kaya maupun dari kelas menengah ke bawah bisa ikut menyesuaikan diri. Para siswa dibuat tidak kaku dengan fasilitas dan sarana yang disiapkan di madrasah.

Melalui Masterplan, ditambah dengan Standar Acuan Penyelenggaraan Kegiatan dan Smart Book of Madrasah Aliyah Negeri Limboto yang tersusun dengan rapi, Sarkia mencanangkan madrasahnya sebagai “Centre School”, atau pusat kemajuan sekolah-sekoah yang ada di sekitarnya.

Memang benar, pada saat ramai-ramai program sertifikasi, para guru dari sekolah lain datang ke MAN Limboto untuk belajar mengenai portofolio dan lain-lain agar lolos sertifikasi.

Kondisi Berbalik, Madrasah Jadi Idola


Seperti disinggung di atas. MAN Limboto berada di tengah-tengah antara SMA dan SMK. Kedua sekolah di bawah naungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini sudah mempunyai fasilitas yang memadai. Justru itulah yang membuat Sarkiah bersemangat. Apalagi MAN Limboto berada di pusat kota.

“Saya sampaikan ke guru-guru gimana ini kita ubah madrasah kita menjadi idola. Tapi kita harus kerja semua. Harus searah. Jangan saya ke sana kamu ke belakang. Kalau tidak searah sampai kapan pun tidak bisa,” katanya.

MAN Limboto sudah berdiri sejak tahun 1979. Sejak awal berdiri madrasah ini selalu dipimpin oleh bapak-bapak. Justsru pada saat dipimpin oleh Ibu Sarkiah itulah, madrasah mencapai puncak prestasi. Sarkiah sendiri sempat menjadi juara dalam kompetisi kepala SLTA tingkat nasional.

Di hadapan para guru dan pengelola MAN Limboto, Sarkiah dikenal sebagai sosok yang tegas. “Saya dianggap seperti hantu. Baru datang (terdengar) sepatu saya orang-orang sudah bubar,” katanya.

Sarkiah termasuk kepala sekolah yang sangat ketat dengan data. “Saya sampaikan, kalau kita bicara harus pakai data. Kalau tidak sia-sia saja. Awalnya tidak biasa, lama-lama mereka (para guru) sudah biasa,” katanya.

Masa-masa awal pembenahan madrasah adalah masa-masa yang berat. “Ada yang sampai menangis. Setiap hari kita bawa makanan secara bergantian, sekarang saya besok siapa, karena konsumsi untuk rapat tidak ada anggarannya. Sebelumnya, saya tanya semua, termasuk satpam, mau sekolah kita maju? Kita semua punya impian dan impian itu kita wujudkan. Kalau bicara pendidikan tapi hanya sekedar teori, jangan! Maka pendidikan itu butuh pengorbanan,” katanya.

Kini MAN Limboto sudah menjadi salah satu sekolah favorit di Gorontalo. “Dulu kita mendapat siswa sisa-sisa. Sekarang kita balik, kita yang membuka pendaftaran lebih dulu. Kita seleksi yang masuk. Sampai ada yang nangis anaknya tidak diterima,” katanya.

MAN Limboto hanya menerima separuh saja dari jumlah formulir yang diedarkan. Dari 3 kelas pada 2005, sekarang MAN Limboto mempuanya 12 kelas, masing-masing ada 4 kelas untuk kelas X, XI dan XII.

Sarkiah Hasiru, putri dari pasangan Ma’ani K Hasiru dan Amuri Abaidata kini sudah berusia hampir 50 tahun. Putrinya yang pertama sudah menempuh pendidikan S2. Namun parasnya masih terlihat segar dan cantik, serta penuh semangat.

Ia menjadi, CPNS sejak 1993. Pertama kali semenjak menjadi pegawai negeri sipil, ia ditugaskan di MAN Limboto, namun kemudian ia masih berpindah-pindah ke beberapa madrasah sesuai tugas yang diberikan oleh Kementerian Agama.

Pada saat ditugaskan sebagai Kepala MAN Limboto, waktunya habis untuk madrasah. Ia berangkat pagi dan sering pulang malam. Saat-saat musim banjir tiba, ia bahkan datang ke madrasah jam satu atau jam dua dini hari untuk melihat kondisi madrasahnya.

“Suami dan keluarga saya sempat protes. Awalnya mereka tidak begitu respek. Saya mengurusi madrasah sampai malam selama berbulan-bulan. Sudah dapat berapa miliar yang kau urusin sampai malam-malam, kata suami saya. Lalu bertahap keluarga saya libatkan. Saya ajak ikut kegiatan-kegiatan madrasah. Akhirnya mereka bisa memahami. Oh istri saya, ibu saya, begini pekerjaannya,” kata Sarkiah menirukan perkataan keluarganya.

Setelah sepuluh tahun menjabat, Sarkiah mengajukan surat pengunduran diri, dan ia kemudian ditugaskan sebagai Kasi Pendidikan Agama Islam oleh Kementerian Agama setempat. “Karena Limboto ke rumah saya itu dulu hanya 10 menit sampainya. Sekarang tidak bisa lagi secepat itu. Bagaimana saya menerapkan disiplin kalau saya sendiri terlambat,” katanya menjelaskan alasan pengunduran dirinya.

“Jadi ini sudah kita tinggalkan,” ujarnya sambil menunjuk buku Masterplan, Standar Acuan Penyelenggaraan Kegiatan dan Smart Book MAN Limboto yang dibawanya. “Kalau nawaitunya sama, ya tinggal diteruskan saja,” pungkasnya. [A. Khoirul Anam]

 

Wednesday, March 2, 2016

Kabar Gembira, Penerimaan Siswa Baru MAN Insan Cendekia Sudah Dimulai

[caption id="attachment_445" align="alignnone" width="300"]MAN Insan Cendekia MAN Insan Cendekia[/caption]

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia sudah dimulai. Seperti diberitakan sebelumnya, madrasah unggulan dengan sistem asrama MAN Insan Cendekia untuk tahun pelajaran 2016/2017 dibuka di 17 daerah seluruh Indonesia.

Berikut ini 17 MAN Insan Cendekia seluruh Indonesia berikut jumlah siswa baru yang diterima.


































































































  No.   Nama Madrasah   Jumlah
  1. MAN IC Serpong 144 siswa
  2. MAN IC Gorontalo 120 siswa
  3. MAN IC Jambi 120 siswa
  4. MAN IC Aceh Timur   96 siswa
  5. MAN IC Ogan  Komering Ilir   96 siswa
  6. MAN IC Siak   96 siswa
  7. MAN IC Paser   96 siswa
  8. MAN IC Kota  Pekalongan   96 siswa
  9. MAN IC Bangka  Tengah   96 siswa
  10. MAN IC Padang  Pariaman   96 siswa
  11. MAN IC Bengkulu  Tengah   96 siswa
  12. MAN IC Kota Batam   96 siswa
  13. MAN IC Tanah Laut   96 siswa
  14. MAN IC Sambas   96 siswa
  15. MAN IC Kota Kendari   96 siswa
  16. MAN IC Kota Palu   96 siswa
  17. MAN IC Sorong   96 siswa
          TOTAL1728siswa

Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Nomor 3192 Tahun 2013 Tentang Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia, dalam rangka memberi layanan pendidikan pada MAN Insan Cendekia yang berkeadilan, maka terhitung mulai tahun pelajaran 2015/2016 peserta didik baru MAN Insan Cendekia dikenakan biaya personal bulanan berupa biaya asrama, makan yang tidak dianggarkan dalam DIPA MAN Insan Cendekia sejumlah antara Rp.1.000.000 s.d Rp.1.500.000 dan biaya awal tahun meliputi pembiayaan seragam, kasur, bantal, biaya asuransi kesehatan, buku Masa Taaruf Siswa Madrasah (MATSAMA) disesuaikan pada masing masing provinsi,

Kecuali bagi peserta didik yang berasal dari keluarga kurang mampu yang dibuktikan dengan menyertakan Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau Kartu Perlindungan Sosial (KPS)/Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) atau kartu Program Keluarga Harapan (PKH) atau Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), Surat Keterangan Rumah Tangga Tidak Mampu (SKRTM), Surat Keterangan Keluarga Miskin (SKKM) dari Kelurahan/Desa. Lebih lanut mengenai mengenai ketentuan dan prosedur pendaftaran online, silakan buka situs penerimaan.ic.sch.id. [Khoirul Anam]