Tuesday, November 22, 2016

Dirjen Pendis: Pesantren Alternatif Pendidikan Terbaik Saat Ini

[caption id="attachment_2924" align="aligncenter" width="612"]Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Kamaruddin Amin. Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI, Kamaruddin Amin.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama Prof (Phil) Kamaruddin Amin menyatakan pendidikan di pesantren adalah alternatif pendidikan terbaik saat ini, karena meski sebagai lembaga dakwah dan pendidikan, pesantren sangat mungkin memberikan kompetensi keterampilan lain.

Keterangan tertulis dari Kementerian Agama yang diterima di Jakarta, Senin menyebutkan, pernyataan Dirjen Pendidikan Islam itu dikemukakan dalam kegiatan "Evaluasi Program Pengembangan Pesantren Maritim" di Serpong, Tangerang, Jawa Barat akhir pekan lalu.

Menurut Prof Kamaruddin, para santri sangat mungkin diberikan tambahan kompetensi berupa keterampilan lain atau keterampilan khusus karena sistem pendidikan di pesantren berlangsung 24 jam.

Tambahan kompetensi keterampilan itu sangat penting, sebab tidak semua lulusan pesantren menjadi ulama atau ustadz. Mereka bisa dibekali dengan beragam keterampilan seperti agribisnis, teknologi informasi (IT), dan kemaritiman.

Dalam upaya mewujudkan pendidikan tambahan itu, ada dua hal yang harus dilakukan. Pertama, pesantren harus merevitalisasi dirinya menjadi pendidikan yang cocok atau "match" dengan industri. Kemana kecenderungan industri mendatang, pendidikan di pesantren harus dikembangkan mendukung "trend" tersebut.

Kedua, pesantren harus bisa bersinergi dengan lembaga keuangan dan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Pesantren perlu bisa membaca kemana arah investasi, sehingga bisa memperiapkan SDM ke arah itu.

Kerja sama

Sementara itu dari sisi kebijakan, Kementerian Agama harus bekerja sama dengan berbagai kementerian lainnya dalam mengembangkan pesantren. Nota Kesepahaman (MoU) dengan beberapa kementerian dan instansi perlu direvitalisasi.

Dalam hubungan ini, Kemenag akan lebih proaktif bekerja sama dan berdiskusi dengan kementerian-kementerian lainnya, dengan harapan beragam kerja sama tersebut dapat direfleksikan secara nyata dalam bentuk tersedianya anggaran.

Dirjen Pendidikan Islam juga mengemukakan, jumlah pesantren secara nasional saat ini mencapai 28.961 unit dengan 322.328 tenaga pendidik dan 4.028.660 peserta didik (santri).

Dari jumlah pesantren seperti itu, sebanyak 15.057 (51,99 persen) hanya menyelenggarakan pengajian kitab saja (tradisional), sedangkan sisanya sebanyak 13.904 (48.01 persen), selain menyelenggarakan pengajian, juga memberikan layanan pendidikan lainnya (modern).

Ada pun syarat terpenuhinya sebagai pesantren adalah memiliki lima unsur, yaitu ada kiayi, santri, asrama (pondok), tempat ibadah (mushola atau masjid) dan pengajian kitab kuning. Jika salah satu unsur tidak ada, maka belum bisa disebut sebagai pesantren.

Selain itu, menurut Prof Kamaruddin, saat ini identitas kesantrian berupa kopiah dan sarungan bukan lagi merupakan identitas marjinal, namun sudah menjadi komunitas yang bergengsi.

Ia menambahkan, kondisi lembaga pendidikan saat ini mengalami tantangan diskoneksitas signifikan berupa terjadinya keterputusan dan ketidaksambungan antara yang dipelajari di sekolah dengan persoalan yang terjadi di masyarakat. Akibatnya, terjadi pengangguran banyak lulusan sarjana.

Hal yang sama terjadi pada level sekolah menengah kejuruan (SMK) dan madrasah aliyah kejuruan (MAK). Ternyata tingkat tidak terserapnya tenaga kerja lulusan SMK dan MAK lebih tinggi ketimbang lulusan SMA dan Aliyah.

Fakta itu terjadi karena tidak matchnya antara apa yang diajarkan oleh guru dengan tantangan di masyarakat saat ini. Problem itu terjadi akibat guru yang mengajar adalah alumnus jurusan kependidikan dan bukan lulusan dari politeknik dengan bidang ilmu yang sesuai dengan yang dibutuhkan di masyarakat.

"Guru hanya memahami paedagogi, namun tidak menguasai konten materi secara maksimal. Oleh sebab itu, tantangan pendidikan sekarang adalah bagaimana mengoneksikan antara dunia pendidikan dengan dunia industri," kata Prof Kamaruddin.

Sumber: Antara

[Red: Fathoni Ahmad]

Monday, November 21, 2016

Belajar Efektif dengan Metode Cooperative Learning

[caption id="attachment_2921" align="aligncenter" width="640"]Foto ilustrasi belajar kelompok. Foto ilustrasi belajar kelompok.[/caption]

Dalam proses belajar mengajar, berbagai model bisa diterapkan. Salah satunya adalah model pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Apa itu? Model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja kelompok dalam memecahkan suatu masalah secara bersama-sama.

Manfaatnya, menurut Stahl (Wardani, 2001:7), dapat meningkatkan sikap tolong menolong dalam perilaku sosial. Tim MKPBM mengemukakan model pembelajaran ini akan lebih dapat melatih para peserta didik untuk mendengarkan pendapat orang lain dan merangkum pendapat atau temuan-temuan dalam bentuk tulisan.

Pembelajaran kooperatif ditunjukkan adanya kolaborasi antara beberapa pemikiran sehingga diperoleh pemahaman yang lebih baik. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Robert E. Slavin.

Metode pembelajaran kooperatif ini contohnya Student Teams Achievement Division (STAD), yang dikembangkan oleh Slavin sendiri.

Dalam satu kelas peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok dengan anggota empat sampai lima orang, setiap kelompok haruslah heterogen.

Jumlah peserta didik bekerja dalam kelompok harus dibatasi, agar kelompok yang terbentuk menjadi efektif, karena ukuran kelompok akan berpengaruh pada kemampuan kelompoknya.

Ukuran kelompok yang ideal untuk pembelajaran kooperatif tipe STAD adalah empat sampai lima orang. Kelebihan kelompok berempat menurut Lie, Anita (2007:47) antara lain:
1. Mudah dipecah menjadi berpasangan
2. Lebih banyak ide muncul
3. Lebih banyak tugas yang bisa dilakukan
4. Guru mudah memonitor

Bagaimana tahapan belajar dengan metode STAD? Berikut ini penuturan Slavin:

1. Tahap Penyajian Materi
Pada tahap ini, guru mulai dengan menyampaikan tujuan pembelajaran umum dan khusus serta memotivasi rasa keingintahuan peserta didik mengenai topik/materi yang akan dipelajari. Dilanjutkan dengan memberikan apersepsi yang bertujuan mengingatkan peserta didik terhadap materi prasyarat yang telah dipelajari agar peserta didik dapat menghubungkan meteri yang akan diberikan dengan pengetahuan yang dimiliki. Teknik penyajian materi pelajaran dapat dilakukan dengan cara klasikal ataupun melalui diskusi. Mengenai lamanya presentasi dan berapa kali harus dipresentasikan bergantung kepada kekompleksan materi yang akan dibahas.

2. Tahap kerja Kelompok
Pada tahap ini peserta didik diberikan lembar tugas sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok ini, peserta didik saling berbagi tugas dan saling membantu penyelesaian agar semua anggota kelompok dapat memahami materi yang akan dibahas dan satu lembar dikumpulkan sebagai hasil kerja kelompok. Pada tahap ini guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator kegiatan tiap kelompok.

3. Tahap Tes Individual
Untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan belajar yang akan dicapai diadakan tes secara individual mengenai materi yang telah dibahas, tes individual biasanya dilakukan setiap selesai pembelajaran setiap kali pertemuan, agar peserta didik dapat menunjukkan apa yang telah dipelajari secara individu selama bekerja dalam kelompok Skor perolehan individu ini dikumpulkan dan diarsipkan untuk digunakan pada perhitungan perolehan skor kelompok.

4. Tahap Perhitungan Skor Perkembangan Individu
Skor perkembangan individu dihitung berdasarkan skor awal. Perhitungan skor perkembangan individu dimaksudkan agar peserta didik terpacu untuk memperoleh prestasi terbaik sesuai dengan kemampuannya.

5. Tahap Penghargaan Kelompok
Pada tahap ini perhitungan skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan masing-masing skor perkembangan individu kemudian dibagi sesuai jumlah anggota kelompoknya. Pemberian penghargaan diberikan berdasarkan perolehan rata-rata, penghargaan dikategorikan kepada kelompok baik, kelompok hebat dan kelompok super.

Dengan proses pembelajaran yang berlangsung tersebut semoga pelajar merasa senang dalam mengikuti materi yang diberikan guru, sehingga siswa siswi kita menjadi anak yang terampil dan cerdas untuk mengisi hari hari dengan baik.

Sumber: cnnindonesia

[Red: Fathoni Ahmad]

Saring Pesan di Media Sosial Sebelum Ikut Menyebarkan

[caption id="attachment_2918" align="aligncenter" width="640"]Gambar ilustrasi media sosial. Gambar ilustrasi media sosial.[/caption]

MEDAN, PENDIDIKANISLAM.ID - Kemajuan teknologi mengantarkan manusia pada kemudahan untuk saling berkomunikasi dan bertukar informasi. Media sosial berkembang demikian pesat membongkar sekat komunikasi umat.

"Di era globalisasi, tiada lagi batasan dalam berkomunikasi. Tanpa adanya filter konten, ini berpotensi memicu masalah baru," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam diskusi publik Umat Beragama Mencegah Konflik SARA pada Media Sosial dan Informasi Transaksi Elektronik, Medan (18/11).

Di depan 152 orang peserta gelaran Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumatera Utara itu, Lukman mengajak pemuka agama dan umat beragama agar memiliki filter dalam menyikapi konten yang beredar di media sosial.

Menurutnya melalui media sosial, banyak konten negatif dan ujaran kebencian beredar bahkan dibagikan tanpa lagi filter atau pun verifikasi kebenarannya. Hal itu diperlukan kearifan dan sikap bijak sebelum menjadi bagian yang ikut menyebarluaskan.

Menag berharap umat beragama dapat menyaring (filter) informasi di media sosial yang diterimanya sebelum ikut menyebarluaskan. Hal itu penting dalam rangka meminimalisir potensi terjadinya konflik SARA yang bersumber dari informasi yang berkembang di media sosial.

"Perubahan akan semakin cepat lima sepuluh tahun ke depan. Ini jadi tantangan para pemuka agama dalam memberikan pemahaman keagamaan pada umat," tutur Lukman.

Menag menjelaskan paling tidak ada dua tantangan yang dihadapi pemuka agama dan umat beragama saat ini. Pertama, bagaimana mereka tetap menjaga hakikat misi agama itu sendiri, yakni mengembalikan esensi agama yang memanusiakan manusia.

Banyak konflik yang terjadi saat ini, menjadikan agama sebagai alat pembenaran bagi pihak yang sedang berkonflik. Maka umat beragama haruslah jadi pihak yang ikut menyejukan dan meredam konflik itu sendiri.

Kedua, terkait soal agama. Seringkali nilai agama dijadikan sebagai parameter atau tolok ukur perilaku orang lain berdasarkan agama yang kita anut atau yang kita yakini. Hal ini sering menghakimi orang lain yang tidak sepaham dengan kita.

Lebih baik jadikan Agama sebagai alat ukur perilaku diri kita sendiri terhadap orang lain. Hal ini tentunya akan meminimalkan kesalahfahaman yang ada.

"Pada masyarakat yang sangat religius di Indonesia, agama menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita. Makanya agama menempati posisi yang luar biasa dalam tatanan sosial kehidupan," tandas Lukman.

Sumber: Portal Kementerian Agama

[Red: Fathoni Ahmad]

Friday, November 18, 2016

Mengharukan, Kisah 3 Santri Pencari Ilmu dan Sopir Mobil Sayur

[caption id="attachment_2915" align="aligncenter" width="640"]Foto ilustrasi santri. Foto ilustrasi santri.[/caption]

Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga." (HR Muslim).

Kiranya, bukan hanya jalan ke surga yang dimudahkan oleh Allah. Percayalah, Allah juga akan memudahkan jalan kita saat akan berangkat menuju tempat mencari ilmu.

Kejadian menarik dikisahkan keponakan saya yang bernama Heru. Dia nyantri di salah satu pesantren di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Saat itu, dia bersama kedua teman kobongnya yang bernama Azis dan Jalal ingin sekali menghadiri pengajian di pesantren KH. Uci Turtusi, Cilongok, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang. Kebetulan di pengajian Ki Uci juga akan digelar haulan Syekh Abdul Qodir Jailani. Keinginan mereka bertiga pun kian membuncah. Namun apa daya, mereka hanya santri bale rombeng yang tidak punya banyak uang dan tidak punya kendaraan.

Namun, keterbatasan fasilitas dan biaya ternyata tidak menyurutkan langkah mereka. Ketiganya tetap nekat berangkat ke pengajian Ki Uci meski hanya bermodalkan uang Rp10 ribu. Uang itu tentu tidak cukup untuk sekadar ongkos. Apalagi jarak pesantren mereka dengan pesantren Ki Uci sangat jauh. Tapi begitulah, kekuatan hati mengalahkan segalanya. Bakda Isya, mereka pun berangkat.

Cukup jauh mereka berjalan kaki. Cucuran keringat sudah berkali-kali mereka seka dengan sarung. Tidak terasa 3 jam sudah mereka berjalan kaki. Salah satu dari mereka usul agar uang Rp 10 ribu dibelikan air minum. Wajar, berjalan kaki selama lebih kurang 3 jam pasti membuat dahaga.

Namun sayang seribu sayang, uang Rp 10 ribu hilang entah kemana. Mungkin jatuh saat Heru berkali-kali menyeka keringat dengan sarung. Persoalannya, uang itu dia simpan di gulungan sarung. Alih-alih menghardik Heru, kedua temannya justru tertawa atas kejadian raibnya uang. Seketika itu haus mereka hilang. Mereka pun melanjutkan perjalanan.

Ujian dimulai, menjelang tengah malam, tiba-tiba turun hujan. Posisi mereka yang sudah berada di jalan raya menyulitkan mereka mencari tempat berlindung dari hujan. Kendaraan yang lalu lalang pun semakin jarang. Terpaksa, di bawah guyuran hujan, mereka terus melanjutkan perjalanan. Beruntung, beberapa saat kemudian mereka menemukan tempat berteduh.

Di sebuah bangunan tua tak berpenghuni mereka istirahat sambil menunggu hujan minggat. Rokok yang tinggal sebatang mereka nikmati bersama. Mereka mengisi waktu dengan membaca solawat. Tidak ada sedikit pun niat mereka menghentikan perjalanan. Meski diakui posisi yang sudah di tengah menjadi salah satu pertimbangan. "Mau gimana lagi? Balik lagi ke kobong juga sudah sangat jauh. Duit juga sudah hilang. Ya sudah pasrah saja sama Allah," kata Heru bercerita.

Setelah satu jam, hujan reda. Perjalanan kembali dimulai. Jalanan becek dan beberapa genangan air diakui membuat perjalanan mereka kian melelahkan. Apalagi angin kencang membuat mereka menggigil kedinginan. Sebab, baju mereka memang sudah kebasahan.

Tiba-tiba lewat mobil pick up warna hitam. Mobil itu berhenti di depan mereka. Sang sopir keluar lalu menghampiri ketiganya. Sopir bertanya kepada mereka tentang tujuan mereka. Setelah diceritakan, sang sopir memberi mereka tumpangan. Sebelumnya sang sopir meminta maaf karena hanya bisa memberi tumpangan di bak barang. Karena di depan sudah ada beberapa karung kentang.

Meski duduk di belakang dan digabungkan dengan aneka sayuran, ketiga santri itu tetap bersyukur. Mereka yakin pertolongan Allah telah datang.

Tidak berapa lama, sopir menghentikan mobilnya di sebuah minimarket 24 jam. Sang sopir masuk ke minimarket dan belanja beberapa barang. Tidak disangka, ternyata sopir juga membelikan santri itu banyak makanan dan minuman. Bukan main senangnya santri-santri itu. Setelah dari minimarket sopir melanjutkan perjalanannya. Sementara ketiga santri menikmati perjalanan sambil menikmati makanan. Tidak lupa mereka tetap membaca solawat sepanjang perjalanan.

Tiba di persimpangan, sopir kembali menghentikan laju kendaraannya. Sopir turun dan menghampiri tukang ojek. Sedangkan ketiga santri hanya duduk di bak mobil menunggu apa yang akan selanjutnya terjadi.

Setelah beberapa menit berbincang dengan tukang ojek, sopir menghampiri santri dan berkata "Maaf, saya tidak bisa mengantar sampai tujuan. Pesantren Ki Uci belok ke sana. Sedangkan saya lurus mau ke Pasar Cikupa. Naik ojek saja ya. Tenang, ojek sudah saya bayar semua," kata sang sopir.

Ketiga santri pun hanya bisa bengong. Mereka kagum dengan kemurahan hati sopir itu. Hanya ucapan terimakasih yang bisa mereka katakan.

Sebelum berpisah, sopir itu kembali menunjukkan kebaikannya. Sang sopir memberi uang kepada ketiga santri itu sebesar Rp 600 ribu. " Nih, buat makan. Kalau ojek mah sudah saya bayar," kata sopir itu sambil menyerahkan uang dengan cara bersalaman.

Kemurahan hati sang sopir membuat hati ketiga santri itu tergetar. Ketiganya tidak kuasa menahan air mata. Mereka semakin yakin, Allah bersama orang-orang yang mencari ilmu.

Sebelum berpisah, salah satu santri bertanya kepada sopir itu. "Mang, mamang ini siapa? Orang mana?," tanya santri.

Sopir hanya menjawab "Saya hanya sopir tukang sayur," ujarnya singkat sambil berlalu pergi. Santri pun akhirnya bisa mengikuti pengajian Ki Uci.

Sumber: www.nu.or.id

[Red: Fathoni Ahmad]

Thursday, November 17, 2016

Pentingnya Mendidik Hati

hatiDalam  Al-Quran  tidak  kurang sebelas kali disebut istilah ”fî qulubihim maradh.” Kata ”qalb” atau ”qulub” dipahami dalam dua makna, yaitu akal  dan hati. Sedang  kata ”maradh”  biasa diartikan sebagai "segala sesuatu yang mengakibatkan manusia melampaui batas keseimbangan/kewajaran  dan  mengantar  kepada terganggunya  fisik,  mental,  bahkan tidak sempurnanya amal seseorang."

 Mengapa hati sangat mendapatkan perhatian al-Qur'an? Jika akal merupakan potensi untuk memahami obyek pengetahuan yang sifatnya indrawi manusia untuk mengetahui hal-hal yang bersifat metafisik (ghaib). Jika kemampuan akal mengantarkan manusia kepada kebenaran pengetahauan yang bersifat nisbi (semu) maka hati dapat mengantarkan manusia kepada pengetahuan dapat mengantarkan manusia kepada pengetahuan hakiki (syahadah).

Oleh sebab itu kematangan spiritual dan kualitas keimanan kepada Allah dituntukan oleh kesehatan hati nurani manusia. Bahkan al-Qur'an mengungkapkan bahwa orang-orang yang dapat menerima peringatan al-Qur'an adalah orang yang memiliki hati yang selamat, ”Inna fî dzalika ladzikra li man kana lahu qalb". Sementara orang-orang yang lemah imannya dinilai sebagai orang yang memiliki penyakit di dalam dadanya (fî qulu bihim maradh).

Penyakit-penyakit hati tersebut bisa disebabkan karena kelebihan yang dirasakan pada diri seseorang maupun kekurangan yang dideritanya. Penyakit yang didasarkan pada kelebihan potensi manusia bisa berbentuk kelicikan, keangkuhan, fanatisme,kerakusan dan kikir. Sedangkan   rasa   takut,   cemas, pesimisme,   rendah   diri, iri hati dan   lain-lain   adalah karena kekurangannya.

Jika penyakit ini berkembang di sebuah, maka kerugian tidak hanya diderita oleh pribadi. Namun juga berimbas pada rusaknya sistem sosial, rubuhnya hukum, maraknya huru-hara serta munculnya anarkhi moral dan anomali sosial.

Seorang yang memiliki ilmu pengetahuan dapat menggunakan ilmu pengetahuannya untuk menipu dan merugikan orang lain. Sementara orang yang tidak memiliki ilmu akan tertipu dan seringkali melakukan hal-hal yang melanggar norma masyarakat dan ajaran agama sebab kebodohannya.

Orang yang memiliki kelebihan harta dapat menggunakan hartanya sebagai senjata untuk memenuhi seluruh keinginan syahwat dirinya dan menindas masyarakat yang kurang mampu. Sedangkan orang yang miskin dapat melakukan tindakan pencurian dan perampokan untuk memenuhi kebutuhannya. Begitu seterusnya jika hati telah sakit.

Oleh sebab itu Rasulullah memperingatkan: "inna fîl jasad muthghah, idzha shaluhat shaluhat al-jasad wa idzha fasadat fasadat al-jasad, ala wahiyal qalb. Sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal darah. Jika segumpal darah tersebut sehat maka jasad menjadi sehat, jika segumpah darah tersebut sakit maka tubuh menjadi sakit. Ketahuilah! segumpal darah itu adalah hati."

Untuk menghindari hal tersebut hati harus senantiasa sehat. Kesehatan hati ini hanya dapat dengan cara penempaan secara disiplin dalam sebuah pendidikan yang bersendi pada keimanan. Karena hanya dengan melalui pendidikan yang mengingatkan seseorang kepada Tuhannya hati manusia dapat mencapai ketenangan dan keselamatan sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya dengan mengingat Allah jiwa akan memperoleh ketenangan (QS Ar-Ra'd [13]: 28).  [Red: Anam]

Pendidikan Islam Kemenag Bertekad Lakukan Publikasi Masif di 2017

[caption id="attachment_2910" align="aligncenter" width="640"]Gambar ilustrasi. Gambar ilustrasi.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Ditjen Pendis) Kementerian Agama tahun depan berkomitmen akan melakukan program besar-besaran dalam bidang publikasi. Dirjen Pendis Kamaruddin Amin bahkan mencanangkan 2017 sebagai tahun Pendis Goes to Media.

Hal ini dilakukan Pendis untuk menjawab kajian media bahwa sebagai lembaga yang menangani sektor pendidikan di Kementerian Agama, isu pemberitaan terkait Ditjen Pendidikan Islam masih menempati urutan keempat.

Berdasarkan hasil analisis media monitoring yang dilakukan oleh tim Pusat Informasi dan Humas (Pinmas), isu pendidikan Islam menempati urutan keempat dengan 934 berita, masih kalah dengan isu kerukunan (972), kehidupan beragama (1616), dan haji (4102). Padahal, dengan anggaran paling besar, mencapai 83 persen dari total anggaran Kementerian Agama, tentu banyak yang sudah dilakukan oleh Ditjen Pendidikan Islam.

Apa sebab, menurut Dirjen Pendis Kamarudin Amin, ada dua faktor penghambat publikasi. Secara eksternal, Pendis masih dipersepsikan sebagai makmum dari Kemendikbud dalam mengelola pendidikan di Indonesia. "Sebagaiman kita ketahui, ada dua lembaga yang menangani pendidikan, yaitu Kemendikbud dan Kemenristek Dikti," katanya saat acara Pendidikan Islam di Mata Media, di Gedung Kementerian Agama, Rabu (16/11).

Lalu hambatan internalnya ialah struktur dan sumber daya manusia belum mendukung. Namun, lanjut Kamarudin, terbitnya Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 42 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama memberi angin segar. Saat ini, sudah ada Satuan Kerja setingkat Eselon III yang nantinya akan mengurus masalah informasi dan kehumasan di lingkungan Pendis.

"Saat ini tidak ada orang yang menangani Humas. Dengan struktur baru ini kita cari orang yang pas dan menjadi yang terbaik. Dengan struktur baru ini kita bisa," tukasnya.

Untuk itu, pada tahun 2017 Pendis akan melakukan beberapa langkah yang sudah disiapkan dalam mendukung publikasi program Pendidikan Islam, diantaranya: publikasi prestasi yang dihasilkan dari para guru, dosen, dan tenaga kependidikan. "Kita punya distingsi, atau karakter yang tidak dimiliki oleh orang lain. Itu bisa kita sampaikan dan kemas secara baik nanti," tutur Kamaruddin.

Lalu, dalam pemaparannya, Dirjen Pendis akan melakukan publikasi dalam bentuk video dan quote yang berisi gambar tokoh yang disertai dengan pandangannya. "Selain itu, ada souvenir dalam bentuk digital," katanya. Juga, lanjutnya lagi, Pendis akan melakukan publikasi yang dikemas dalam bentuk talkshow di televisi dan di radio.

Di acara yang dihadiri juga Menteri Agama Lukman Hakim ini, selain akan melakukan publikasi, Kamarudin berkomitmen mengundang para Indonesianis dan para Peneliti internasional agar masuk ke lembaga Pendidikan Islam. "Nanti akan saya panggil teman-teman Direktur di lingkungan Pendis, semua harus memaparkan desain dan harus punya. 2017, Pendis goes to media. Harus menjadi nomor satu," pungkasnya.

(Red: Fathoni Ahmad)

Sumber: Portal Kementerian Agama

Pesantren Walisongo Ini Berdakwah dengan Rebana

rebanaPondok Pesantren Walisongo Sragen, Jawa Tengah merupakan salah satu pesantren termasyhur dengan dakwah melalui seni rebana oleh para kiainya. Perkembangan pesantren yang berdiri tahun 1994 ini cukup pesat, yaitu dengan berdirinya Madin (Madrasaha Diniyah) pada tahun 1999, serta lembaga pendidikan lain di berbagai jenjang dalam rentang pembangunan antara tahun 2006 hingga 2008.

Namun di balik perkembangan pendidikan yang pesat serta di tunjang dengan fasilitas yang belajar yang lengkap tersebut, pesantren Walisongo ternyata memiliki ciri khas kesenian rebana yang mana dari awal berdirinya pesantren sampai saat ini. Grup rebana tersebut selalu memiliki jadwal dakwah yang padat, artinya seni rebana pesantren Walisongo selalu dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman dan teknologi dengan senantiasa berpegang pada ajaran agama, sehingga masyarakat selalu merindukan kehadiran nasihat bijak melalui syair shalawat yang dibawakan rebana walisongo.

Secara individu KH Ma’ruf Islamuddin yang merupakan pengasuh pesantren sekaligus penggagas seni rebana Walisongo, memang senang dengan seni, terutama seni tarik suara. Kiai Ma’ruf memiliki moto ‘Dengan ilmu hidup lebih mudah, dengan seni hidup lebih indah, dan dengan agama hidup jadi terarah’, dan moto tersebut juga tertuliskan di studio rekaman Al Muntaha Record milik pesantren Walisongo.

Merujuk dari ciri khas para ulama yang menggunakan seni sebagai media dakwah, Kiai Ma’ruf Islamuddin pun juga menggunakan pedekatan seni. Seni dalam berdakwah merupakan sarana menyebarkan agama Islam yang telah dijelaskan di atas merupakan warisan dari para wali yang telah terbukti telah mengislamkan hampir semua wilayah di Jawa.

Dakwah dengan Rebana

Hal yang melatar belakangi dipilihnya rebana sebagai sarana dalam berdakwah adalah karena jamaah yang dihadapi sangat heterogen dilihat dari segi keimanan, maka Kiai Ma’ruf menggagas bagaimana caranya dakwah itu disampaikan melalui seni dan bisa dikemas sedemikian rupa sehingga bisa diterima oleh masyarakat. Sehingga munculah ide itu berupa dakwah dengan kesenian musik rebana.

Seiring kemajuan teknologi dan pemenuhan kebutuhan dakwah di masyarakat, maka pesantren Walisongo melakukan upaya dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi kesenian rebana ini dengan beberapa cara. Diantaranya yaitu menjaring minat dan bakat santri serta siswa melalui kegiatan ektrakurikuler rabana, reorganisasi pemain rebana, mendirikan studio rekaman agar musik rebana bisa dinikmati orang setiap saat dengan kasetnya, dan mendirikan studio radio Walisongo Sragen agar masyarakat bisa mendengarkan ceramah Kiai Ma’ruf dan rebana tanpa melihat langsung.

Ternyata upaya mempertahankan eksistensi rebana tersebut secara tidak langsung juga bepengaruh terhadap meningkatnya jumlah santri. Hal tersebut dikarenakan dalam setiap dakwahnya, baik secara langsung maupun dalam kaset VCD yang diperjual belikan, keberadaan pesantren Walisongo turut serta dipromosikan. Dalam setiap penerimaan santri baru, banyak yang mengaku mengetahui pesantren Walisongo dari kaset maupun dari nada dan dakwah yang ditampilkan rebana Walisongo.

Tidak hanya grup seni rebana yang beranggotakan santri dewasa yang disibukan dengan padatnya jadwal, namun grup seni rebana Madrasah Integral Walisongo pun tahun ini meraih juara tingkat kabupaten dan prestasi itu diraih selama empat kali berturut-turut. [Rosyidi/NUOnline]