Tuesday, November 15, 2016

Siswa Madrasah Aliyah Nuris Jember Juara KTI Nasional di Bali

nuris-menang-ktiMadrasah Aliyah (MA) Unggulan Nurul Islam (Nuris) Jember Jawa Timur menorehkan tinta emas pada ajang LKTI (Lomba Karya Tulis Ilmiah) VIII Tingkat Nasional di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, Bali  pada 5 November 2016 lalu. Mereka berhasil meraih juara pertama, mengungguli 92 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Tim KTI Nuris terdiri dari Afaf Mutia Zahwa, Kavilatul Bariroh dan Muhammad Kholid. Tiga siswa kelas XI IPA MA Unggulan Nuris berhak memboyong tropi juara, tropi bergilir Ganesha, serftifikat, dan uang pembinaan senilai 2 juta rupiah.

“Saya sangat bahagia dan bangga sekali karena akhirnya mampu menjuarai lomba ini dan membawa nama almamater Pesantren Nuris Jember ke kancah nasional,” kata Kholid seperti dikutip http://pesantrennuris.net.

Beberapa waktu lalu, SMA Nuris Jember meraih juara ke-2 di Unibraw Malang, SMK Nuris Jember juara 3 di Pondok Pesantren Al Amien Sumenep Madura. “Akhirnya, MA Unggulan Nuris juga mampu meraih prestasi nasional bahkan juara 1. Kami bersyukur ekskul KIN (Karya Ilmiah Nuris) mendapat perhatian respektasi yang besar,” kata Kholid.

Afaf Mutia Zahwa, ketua tim KTI MA Unggulan Nuris mengatakan, awalnya mereka mengirimkan abstrak dan karya melalui email ke panitia LKTI VIII di Undiksha Bali itu, yang bertema “Kenakalan Remaja”.

“Ternyata karya kami dinilai layak presentasi di babak final, mengalahkan total 92 peserta dan dipilih 10 peserta terbaik berkat gagasan implementatif yakni, Aprengers atau Aplication of Reproductive for Teenagers yaitu  Sistem Informasi Kesehatan Reproduksi Berbasis Mobilephone Aplication dalam Mengurangi Triad KRR pada Remaja. Karya ini dinilai panitia sebagai gagasan yang kreatif dan inovatif,” kata Afaf.

Rochmati, Pembina dan pendamping LKTA MA Unggualn Nuris dan Ning Balqis Al Humairo, kepala MA Unggulan Nuris turut menyampaikan apresiasi mereka atas keberhasilan anak didiknya.

“Merasa bersyukur atas capaian Kholid, Afaf, dan Kavila. Semoga bisa menginspirasi adik-adiknya di masa mendatang dan terus meningkatkan prestasi, serta tetap menjadi seseorang yang rendah hati,” kata Rochmati  bangga.

Menurut Rochmati , tim KTI MA Unggulan Nuris kembali akan tampil di final LKTI di UGM (Universitas Gadjah Mada) Yogyakarta pekan ini. "Mohon doanya," tambahnya. [Red: Anam]

Monday, November 14, 2016

Terungkap! Inilah Asbabun Nuzul Surat Al-Maidah 51

[caption id="attachment_2897" align="aligncenter" width="640"]Gambar ilustrasi. Gambar ilustrasi.[/caption]

Memahami konteks turun ayat, atau lazim disebut asbabul nuzul, penting untuk memahami keutuhan makna ayat. Apalagi sebagian ayat diturunkan pada konteks tertentu dan spesifik, sekalipun kandungannya bersifat global, universal, dan tidak hanya diperuntukkan pada masa itu saja.

Terkait Surah Al-Maidah 51, penulis kitab Ma’alimul Tanzil fi Tafsiril Qur’an, Al-Baghawi (wafat 510 H), menyebutkan beberapa riwayat yang berkaitan dengan penyebab turun ayat ini. Riwayat pertama mengisahkan bahwa ayat ini diturunkan pada saat ‘Ubadah bin Shamit dan Abdullah bin Ubay bin Salul tengah bertengkar. Mereka berdebat terkait siapa yang pantas dijadikan tempat berlindung. Pertengkaran mereka itu akhirnya terdengar oleh Nabi SAW. Berikut petikan kisahnya:

نزلت في عبادة بن الصامت وعبد الله بن أبي ابن سلول، وذلك أنهما أختصما، فقال عبادة: إن لي أولياء من اليهود كثير عددهم شديدة شوكتهم، وإني أبرأ إلى الله وإلى رسوله من ولايتهم وولاية اليهود، ولا مولى لي إلا الله ورسوله، فقال عبد الله: لكني لا أبرأ من ولاية اليهود لأني أخاف الدوائر ولا بد لي منهم، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: يا أبا الحباب ما نفست به من ولاية اليهود على عبادة بن الصامت فهو لك دونه. قال: إذا أقبل، فأنزل الله تعالى بهذ الآية

Artinya: "Ayat ini diturunkan pada saat ‘Ubadah bin Shamit dan Abdullah bin Ubay bin Salul bertengkar: ‘Ubadah berkata, ‘Saya memiliki banyak ‘awliya’ (teman/sekutu/pelindung) Yahudi, jumlah mereka banyak, dan pengaruhnya besar. Tapi saya melepaskan diri dari mereka dan mengikuti Allah SWT dan Rasul-Nya. Tiada pelindung bagi saya, kecuali Allah dan Rasul-Nya’."

Abdullah bin Ubay berkata, "Saya lebih memilih berlindung kepada Yahudi karena saya takut ditimpa musibah. Untuk mengindarinya saya harus bergabung dengan mereka’. Nabi SAW berkata, ‘Wahai Abul Hubab, keinginanmu tetap dalam perlindungan (kekuasaan) Yahudi adalah pilihanmu, tidak baginya’. Ia menjawab, ‘Baik, saya menerimanya’. Karenanya, turunlah ayat ini.”

Riwayat kedua, As-Suddi mengatakan, ayat ini diturunkan ketika terjadi serangan yang sangat kuat terhadap suatu kelompok pada perang Uhud. Mereka takut bila orang kafir menyiksa mereka. Berkata salah seorang Muslim, “Saya bergabung dengan orang Yahudi dan menjadikan mereka sebagai tempat berlindung, karena saya khawatir orang-orang Yahudi menyiksa saya”. Sementara seorang lagi berkata, “Saya bergabung dengan orang Nasrani dari Syam dan menjadikannya pelindung.” Maka turunlah ayat ini sebagai larangan terhadap mereka berdua. Ini kutipan redaksi Arabnya:

قال السدي: لما كانت وقعة أحد اشتدت على طائفة من الناس وتخوفوا أن يدل عليهم الكفار. فقال رجل من المسلمين: أنا ألحق بفلان اليهودي وآخذ منه أمانا إني أخاف أن يدال علينا اليهود، وقال رجل آخر: أما أنا فألحق النصراني من أهل الشام وآخذ منه أمانا، فأنزل الله تعالى هذه الآية ينهماهما

Selain dua riwayat di atas, terdapat beberapa riwayat lain yang berkaitan dengan konteks turunnya surah Al-Maidah 51. Tentu semua riwayat itu tidak mungkin disebutkan di sini semuanya. Dari dua riwayat tersebut dapat diperhatikan bahwa ayat ini turun pada saat konflik umat Islam dengan non-Muslim sedang memanas.

Dalam situasi konflik, berpihak pada kelompok musuh, pada waktu itu orang kafir, dianggap sebagai sebuah pengkhianatan dan merusak persatuan umat Islam. Bahkan orang yang bersekutu dengan musuh dinilai sudah menjadi bagian dari mereka. Karenanya, ketika ada orang yang meminta perlindungan atau berkoalisi dengan orang Yahudi dan Nasrani, ayat ini diturunkan sebagai larangan. Wallahu a’lam.

Sumber: www.nu.or.id

PTKI Didorong Kembangkan Kecerdasan Spiritual dan Kultural Mahasiswa

[caption id="attachment_2894" align="aligncenter" width="640"]Ilustrasi mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Ilustrasi mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).[/caption]

MAJENE, PENDIDIKANISLAM.ID - Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) terus berkembang seiring laju perkembangan zaman. Tantangan yang dihadapi semakin kompleks. Sebagai calon pemimpin bangsa, mahasiwa tidak cukup berbekal kecerdasan intelektual dan emosional, tapi juga spiritual dan kultural.

Pesan ini disampaikan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat meresmikan pendirian STAIN Majene, Sulawesi Barat. PTKI Negeri kedua di Sulbar ini direncanakan akan mulai beroperasi pada tahun akademik 2017/2018 dengan membuka tiga jurusan, yaitu: Tarbiyah dan Kependidikan; Syariah dan Hukum; serta Ushuluddin, Adab dan Dakwah.

Menurut Menag, di tengah gempuran budaya pop, Indonesia membutuhkan ketahanan budaya untuk merawat kemajemukan bangsa. Apalagi, globalisasi telah menjadikan batas-batas negara menjadi cair dan maya. Persaingan antar peradaban tak terbendung. Di samping itu, kompetisi hidup semakin ketat dan tajam sehingga survival on the fittest tidak bisa dihindari.

"Tidak ada lagi batasan geografis apakah anda tinggal di Majene, Makasar, Jakarta, atau di Moskow dan Jepang sekalipun. Kini semua terhubung berkat teknologi informasi dan alat komunikasi yang pesat," papar Menag, Sabtu (12/11).

Hadir dalam kesempatan ini, Gubernur Sulbar Anwar Adnan Saleh dan wakilnya, DPRD Sulbar, Bupati Majene Fahmi Massiara dan wakil, DPRD Majene, para Bupati/Walikota se Sulbar, Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, Kakanwil Sulbar, Kakanwil Sulsel, para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh pendidikan, dan masyarakat umum.

Menag meminta, STAIN Majene yang baru saja diresmikan dan PTKI lainnya untuk membekali mahasiswa dengan empat kecerdasan sekaligus, baik intelektual, emosional, spiritual, maupun kecerdasan kultural.

"Ketajaman intelelektual perlu. Tapi kematangan emosional dan spiritual juga dibutuhkan menghadapi persaingan. Tapi tak kalah pentingnya kecerdasan budaya mesti diperkuat," sarannya. Menurutnya, STAIN harus diorientasikan pada pengembangan ilmu agama dan umum dalam satu kesatuan komprehensif.

Tantangan kehidupan, lanjut Menag, semakin kompleks. Dunia semakin terasa sempit seiring terus meningkatnya populasi manusia. Perubahan ekosistem dan kerusakan lingkungan semakin dirasakan, baik karena ulah tangan manusia atau perubahan lingkungan global.

Kepada para pengelola PTKI, Menag minta agar semua perubahan lingkungan strategis itu menjadi pemikiran dalam mengembangkan perguruan tinggi yang dicita-citakan.

(Red: Fathoni Ahmad)

Sumber: Portal Kementerian Agama

Friday, November 11, 2016

Kisah Seorang Guru Mimpi Melihat Gigi Nabi Muhammad SAW

[caption id="attachment_2890" align="aligncenter" width="640"]Gambar ilustrasi Nabi Muhammad SAW. Gambar Kaligrafi Nabi Muhammad SAW.[/caption]

Rasulullah SAW adalah manusia mulia, siapa pun yang ada di dekatnya pasti akan merasakan kebahagiaan dan ketenangan yang tiada terhingga. Maka tidak heran jika sebagian para sahabat rela tinggal di masjid karena ingin selalu dekat dengan Rasulullah.

Kemana pun Rasulullah pergi, para sahabat selalu mengikutinya. Karena bagi para sahabat, ada 'kenikmatan' tersendiri jika berada di dekat Rasulullah. Bahkan menjelang wafatnya Rasulullah, ada seorang sahabat yang bernama Ukasyah yang rela 'mengelabui' hanya karena ingin memeluk Rasulullah.

Suatu hari, Rasulullah ingin istirahat, karena bagaimana pun juga Rasulullah adalah seorang manusia yang membutuhkan istirahat. Namun saat Rasulullah hendak memasuki rumah, para sahabat tetap mengikutinya.

Rasulullah mau melarang sahabat tapi tidak enak, sehingga yang melarangnya langsung oleh Allah, ‘Janganlah kalian masuk rumah Nabi tanpa izin’.

Mengenai hal ini, Kiai Nawawi mengisahkan mimpinya KH Sayuti Maksudi yang bertemu Rasulullah. Kiai Sayuti adalah mursyid tarekat Syattariyah dan Kiai Nawawi sendiri diberi amanat sebagai khalifahnya.

"Saat saya berkunjung ke rumahnya, beliau (Kiai Sayuti, red) sudah dua hari terbaring sakit dan tidak enak makan, sepertinya sakitnya karena pikiran dan keluarganya tidak ada yang tahu bahwa Kiai Sayuti sedang memikirkan sesuatu," jelas Kiai Nawawi

Saat ditanyakan, kata Kiai Nawawi, barulah diketahui bahwa dua hari sebelumnya Kiai Sayuti bermimpi melihat Rasulullah sedang tersenyum dan giginya terlihat, saat melihat mimpi tersebut, Kiai Sayuti merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa, sehingga mimpi tersebut selalu terbayang sampai tidak bisa merasakan kenikmatan yang lain, termasuk nikmatnya makan.

"Akhirnya setelah saya kasih nasihat, beliau baru mau makan dan tidak lama kemudian sembuh," tutur Kiai Nawawi.

(Red: Fathoni Ahmad)

Sumber: www.nu.or.id

Thursday, November 10, 2016

Satu Lagi Tokoh Pesantren Mendapat Gelar Pahlawan Nasional

[caption id="attachment_2887" align="aligncenter" width="620"]KHR. As'ad Syamsul Arifin mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional KHR. As'ad Syamsul Arifin mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional[/caption]

PESANTREN, PENDIDIKANISLAM.ID - Satu lagi tokoh pesantren mendapat gelar kehormatan sebagai Pahlawan Nasional. KHR. As'ad Syamsul Arifin karena jasa-jasanya untuk bangsa dan negara akhirnya resmi mendapatkan gelar pahlawan nasional. Pemberian gelar itu dilakukan secara langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Rabu, 9 November 2016.

KH R. As'ad adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur. Pengangkatan Raden As'ad menjadi pahlawan nasional dikuatkan dalam Keputusan Presiden Tanggal 3 November 2016.

Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan dalam siaran pers yang diterima Tempo menyatakan penetapan As'ad menjadi pahlawan nasional lantaran sudah memenuhi persyaratan Undang-undang tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Dalam aturan itu ada tujuh kriteria seseorang layak ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Salah satunya pernah memimpin dan berjuang mengangkat senjata pada masa kemerdekaan. Perjuangannya pun mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional. As'ad adalah seorang tokoh asal Jawa Timur.

Selain itu, Presiden Jokowi memberikan Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera kepada dua tokoh tersebut. Mereka adalah Mayjen TNI (purnawirawan) Andi Mattalatta dari Sulawesi Selatan dan Letkol Infanteri (anumerta) Sroedji, seorang tokoh dari Jawa Timur.

Pemerintah menilai kedua tokoh itu telah berjasa di berbagai bidang bagi kemajuan, kesejahteraan, dan kemakmuran bangsa dan negara. Pemberian gelar pahlawan nasional dihadiri sejumlah menteri Kabinet Kerja, pejabat negara, dan keluarga penerima gelar. (Tempo/Kay)

Wednesday, November 9, 2016

Beasiswa Kampung Inggris Pare untuk Hafidz Al-Qur’an

informasi-kampung-inggrisKediri, PenddikanIslam.id - Sebuah lembaga yang bergerak di bidang pengembangan kemampuan bahasa Inggris Language Center (LC) yang berada di Pare Kediri, Jawa Timur, atau dikenal dengan Kampung Inggris membuka program beasiswa khusus untuk para penghafal Al-Qur'an. Tidak hanya besiswa, tersedia juga uang saku.

Fasilitas beasiswa hafidz di Kampung Inggris LC ini meliputi:
1) Program 6 kali sehari
2) Asrama English Area
3) Modul
4) Kaos LC Kampung Inggris
5) Tutor Camp di setiap asrama
6) Sertifikat
7) Uang saku 1.000.000 ( khusus bagi penghafal 30 juz)

Ketentuan Beasiswa Hafidz LC Kampung Inggris :
-) Hafal 30 Juz, bebas biaya kursus, fasilitas beasiswa, dan uang saku 1.000.000
-) Hafal 4 juz atau lebih, bebas biaya kursus dan semua fasilitas beasiswa.
-) Hafal 3 Juz, Diskon 75% biaya paket program + fasilitas beasiswa
-) Hafal 2 Juz, Diskon 50% biaya paket program + fasilitas beasiswa
-) Hal 1 juz, diskon 25% biaya paket program + fasilitas beasiswa.

Para calon peserta dapat mengirim surat permohonan beasiswa dan CV lengkap ke email  beasiswa.kampunginggris@gmail.com Surat permohonan dan CV akan diseleksi oleh tim LC. Mereka yang lolos seleksi dan mendapatkan beasiswa harus menyatakansanggup mematuhi peraturan LC dan Camp.

Kelas beasiswa akan akan dibuka setiap bulan, di periode tanggal 10. Jangan terlambat karena kuota setiap bulan hanya untuk 15 pendaftar.

Informasi lengkap silahkan dibaca di website Official Kampung Inggris LC : http://kampunginggris.id/beasiswa-hafidz-kampung-inggris-lc/

Informasi dan pertanyaan bisa langsung menghubungi telp 0354 396561 atau sms/whatsapp ke 08523 111 1117 [Red: Anam]

 

Tuesday, November 8, 2016

Ustadz Mukhlis Membangun Kampung Santri Tanpa Pesantren

[caption id="attachment_2876" align="aligncenter" width="640"]Ustadz Mukhlis. Ustadz Mukhlis.[/caption]

Bacaan 300 santri TPQ As-Sholihin Abror berkejaran dengan dengung mesin potong batu. Sejumlah bongkahan besar batu akik siap dipermak untuk menjadi buah batu mungil pemanis jari. Tiga santri remaja menghadapi mesin potong batu yang terus berputar.

“Alhamdulillah kita sudah punya 4 mesin. Buat nutupin pesanan kalau lagi banyak. Lumayan buat makan santri-santri di sini,” kata ustadz Mukhlis menjelaskan aktivitas tiga santrinya yang sedang menghaluskan batu di sore hari.

Sementara itu, 300 santri TPQ terus belajar membaca Al-Quran sejak pukul 14.00 hingga 17.00. Ustadz Muklis, kiai muda kelahiran 1975 yang sangat disegani di bilangan kelurahan Rorotan, kecamatan Cilincing, Jakarta Utara ini menyerahkan delapan dari mereka untuk dibimbing seorang guru perempuan yang pernah belajar kepadanya.

“Target kita, ketika duduk di kelas satu ibtidaiyah, para santri sudah bisa membaca Al-Quran. Alhamdulillah target 50 % tercapai,” ustadz Mukhlis menyebutkan perkembangan pesat 5 tahun terakhir TPQ yang dipimpinnya.

Semua pengajar TPQ perempuan. Mereka adalah murid yang pertama kali belajar sepulang ustadz Mukhlis dari sejumlah pesantren pada 2004. “Begitu pulang, saya melakukan kaderisasi guru. Ada yang kuliah, ada yang sudah berumah tangga mengabdi di sini. Mereka rata-rata orang sini. Ada juga orang Kediri, adik ipar saya sendiri.”

Sementara Ustadz Mukhlis mondok selama enam tahun di pesantren Raudlatul Ulum, Kencong, Pare, Kediri. Pria Betawi yang mengenyam pendidikan formal hingga Aliyah ini, melanjutkan mondoknya selama beberapa tahun di Papar, Kediri sebelum pulang ke Jakarta pada 2004.

Arsitektur dan Lahan Pendidikan

Pesantren As-Sholihin Abror terletak di belakang Al-Abror, masjid peninggalan keluarga besar ustadz Mukhlis. Kalau menganggap pesantren terdiri atas sejumlah bangunan khusus yang diperuntukkan belajar dan asrama santri, maka As-Sholihin Abror ini sulit dicari. Pasalnya, pesantren ini tidak memiliki fisik bangunan khusus seperti pesantren pada umumnya.

Pesantren ini hanya memiliki sebuah aula majelis taklim berukuran 9 x 6 meter. Di sinilah 300 santri TPQ belajar hingga sore. Di sini pula 200 santri madrasah diniyah belajar mulai jam 19.00 hingga jam 22.00. Bagaimana bisa? Tentu hanya 30 santri. Selebihnya mereka menempati halaman 6 rumah kerabat ustadz Mukhlis yang berkenan pekarangan rumahnya dipakai untuk mengaji.

Aroma pesantren terasa kuat pada saat aktivitas TPQ dan Madrasah Diniyah berlangsung. Di luar jam itu, kampung di sekitar masjid Al-Abror tampak seperti perkampungan di Jakarta pada umumnya. Lengang. Lalu-lalang mobil besar sebentar sekali melintas menaikkan kembali endapan debu jalanan.

Sementara di selatan aula terdapat sejumlah makam yang dikelilingi 6 bangunan tradisional terbuat dari bambu. Rimbun oleh sejumlah pohon. Pohon delima salah satunya. Di sini sejumlah santri yang terdiri atas anak jalanan dan beberapa ustadz tinggal. “Komplet, ada masjid tempat ibadah. Ada majelis taklim tempat belajar. Nah ini di samping kita kuburan, semuanya bakalan ditanam,” ustadz Mukhlis mengumbar senyum.

Di salah satu dari enam saung bambu yang berukuran sebesar pos kamling di mana pun, ustadz Mukhlis tinggal sendiri. Terbentang sajadah di dalamnya dan satu lekar dengan tumpukkan sejumlah kitab. Cukup untuk tidur. Ustadz Mukhlis mewiridkan bait-bait Al-Hikam setiap malam bersama sedikitnya 100 warga dan santrinya.

Model arsitektur pesantren dibiarkan tanpa pagar. Tujuannya, agar tidak ada jurang pemisah antara pesantren dan masyarakat. Artinya, banyak pesantren yang sudah jadi seperti sekarang dengan bentuknya itu, nanti pada akhirnya orang masyarakat setempat pada tidak masuk. Seakan-akan ada pemisah.

“Seringkali terjadi di banyak pesantren, orang sekitar pesantren pada nggak ngaji. Ini sering saya temukan. Makanya kemudian saya berpikir bagaimana caranya orang sekitar pada mengaji. Kemudian format inilah yang saya temukan. Saya antara lain meniru keadaan pesantren Buya Dimyathi Banten. Perkampungan biasa,” ujar ustadz Mukhlis yang juga pengamal tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah.

Bangunan bukan masalah bagi mereka yang ingin membangun pesantren. Pesantren hadir agar masyarakat mengaji. Buat apa ada bangunan kalau pesantren justru menjauhkan masyarakat dari mengaji. Ustadz Mukhlis memaknai pesantren sebagai aktivitas mengaji, bukan bangunan atau administrasi. “Prinsip saya, yang penting masyarakat mengaji. Ngaji. Ngaji. Dan ngaji.”

Ia berpikir, kehadiran lembaga pendidikan ditujukan untuk masyarakat setempat. “Pesantren di sini didominasi masyarakat setempat. Rencana kami bikin pesantren, 70% untuk masyarakat setempat, 30% untuk orang luar.”

Diniyah dipegang jebolan beberapa pesantren seperti dari Kediri, Banten, Lamongan. Banyak dari ustadz di sini terutama santri pesantren sebelum pulang kampung, mengabdikan dirinya. Mereka tinggal bersama sejumlah santri anak jalanan di saung yang ada di kiri-kanan saung ustadz Mukhlis.

Sumber: Buku Kekhasan Pendidikan Islam, Penerbit: Ditjen Pendis, 2015.