Sunday, January 17, 2016

20 Alumni Madrasah Dapat Beasiswa Studi S1 Di Jepang

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Sudah bukan mimpi lagi bila alumni madrasah bisa melanjutkan studi S1 ke luar negeri. Direktorat Pendidikan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam telah membuka ‘kran’ kerjasama beasiswa dengan sejumlah perguruan tinggi di Jepang.




[caption id="attachment_60" align="alignright" width="360"]20 Alumni Madrasah Dapat Beasiswa Studi Ke Jepang 20 Alumni Madrasah Dapat Beasiswa Studi Ke Jepang[/caption]

Hingga saat ini sudah dilakukan penyeleksian secara ketat dan sudah dikirim secara bertahap para alumni yang lolos seleksi.  Sebanyak 11 alumni madrasah telah dikirim untuk studi S1 ke Jepang pada gelombang pertama. Gelombang kedua 6 alumni madrasah juga sudah berangkat.  Selasa (15/9), Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan secara resmi melepas tiga alumni madrasah lagi untuk belajar ke Jepang. “Total sudah ada 20 alumni madrasah yang memperoleh beasiswa studi S1 di Jepang,” terangnya.


Tiga alumni madrasah tersebut adalah Muthi’a Cahyaningsukma (alumni MTsN 2 Kediri dan MAN Insan Cendekia Serpong), Siti Zulfa Azzahra (alumni MAN 4 Jakarta), dan Fadheel Muhammad Ibadurrahman (alumni MAN 13 Jakarta).


“Mereka menerima beasiswa  Living Cost dari Kementerian Agama. Adapun untuk biaya kuliah, mereka difasilitasi oleh Lembaga Nan Unggul Indonesia yang dipimpin Junaidi Gafar,” tambahnya.


Sebelum dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa, siswa-siswi tersebut telah lebih dahulu melewati proses seleksi yang berlangsung selama satu setengah bulan. Pada tahap awal, Direktorat Pendidikan Madrasah bekerjasama dengan Lembaga Nan Unggul Indonesia mengadakan test di beberapa kota diikuti oleh 181 siswa/i asal madrasah. Dari hasil test tahap I dan II, sebanyak 10 siswa/i dinyatakan  berhak melanjutkan sampai tahap wawancara dengan Universitas di Jepang.


Hasil akhir tahap wawancara, sebanyak 3 orang lolos tes dan diterima di Ritsumeikan Asia Pacific University. Bahkan, satu orang siswa asal MAN Insan Cendekia Serpong mencatat prestasi sehingga mendapat kesempatan untuk menerima beasiswa penuh (Tuition Fee dan Living Cost) dari pemerintah Jepang untuk melanjutkan studi di Tohoku University.


Para penerima beasiswa akan menerima beasiswa living cost selama 4 tahun (September 2015 s/d Agustus 2019) seperti tertuang dalam Kontrak antara mahasiswa dengan Kementerian Agama RI. Dalam masa studi nanti, siswa dituntut untuk menunjukkan prestasi yang maksimal dan dapat membawa harum nama Madrasah.




  1. Nur Kholis Setiawan secara khusus menekankan pentingnya siswa menjaga identitas Keislaman, menunjukkan prestasi sehingga mampu menciptakan image yang positif di luar negeri tentang siswa-siswi yang berlatar belakang pendidikan madrasah. Selain itu, M. Nur Kholis juga menggagas untuk menulis buku tentang keberhasilan siswa/i asal madrasah di berbagai bidang dalam kancah internasional agar menjadi penyemangat dan inspirasi bagi siswa/I lainnya.


Sementara itu,  Kasubdit Kelembagaan, Syafiuddin, berpesan agar  para siswa  selalu bersemangat dalam belajar dan berprestasi semaksimal mungkin.  Acara Pelepasan ini ditutup dengan ramah tamah dengan siswa dan orang tua mereka. (hamam/mkd/mkd/hamam)

Saturday, January 16, 2016

Amal Ahsan: Siswa Madrasah Ngobrol dengan Presiden

[tps_header]Amal Ahsan: Siswa Madrasah Ngobrol dengan Presiden[/tps_header]


[tps_title]Siswa Madrasah Aliyah Muara Taweh[/tps_title]


Amal Ahsan adalah salah satu dari siswa madrasah yang terpilih sebagai anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Negara tanggal 17 Agustus 2015 lalu. Ia juga bisa bertemu langsung dengan presiden dan menyampaikan aspirasinya kepada orang nomor satu di Indonesia itu.


Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Muara Teweh Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah itu mempunyai tinggi badan 177 cm. Ia bersama 67 siswa lainnya mewakili 34 provisi seluruh Indonesia berhasil melewati beberapa tahap.


Perawakannya tegap, penampilan simpatik, tinggi dan berat badan ideal, dan satu lagi ganteng. Amal Ahsan lahir di Muara Lahai, 30 November 1998. Ayahnya Syarifuddin (53) adalah anggota TNI berpangkat Pembantu Letnan Dua (Pelda). Ibunya bernama Nurmawati (47). Mereka tinggal di asrama Kodim yang berjarak 2-3 km dari MAN Muara Teweh.


Sebelum masuk ke MAN ia juga juga sudah memilih belajar di sekolah berbasis agama, tepatnya di MTsN Muara Teweh. Kata Amal, pendidikan agama sangat penting dan diperlukan bagi generasi bangsa. Agama memberikan batasan-batasan yang mengatur manusia agar menjadi yang terbaik.


Setelah lulus MTsN, Amal memantabkan diri melanjutkan belajar di MAN Muara Teweh. Selain ingin mengenal ilmu agama lebih dalam di madrasah ini, sebelumnya ia juga telah memperoleh banyak informasi mengenai MAN ini sebelumnya. MAN Muara Teweh mempunyai catatan prestasi cukup bagus baik secara akademik maupun non akademik.



[tps_title]Paskibraka 2015[/tps_title]


Sabtu 15 Agustus 2015, Presiden Joko Widodo, mengukuhkan para anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) di Istana Negara, Jakarta. Mereka akan bertugas saat upacara detik-detik Proklamasi dan ucapara penurunan Bendera Merah Putih saat HUT Kemerdekaan RI, Senin 17 Agustus 2015.


"Dengan ini saya mengukuhkan saudara-saudara menjadi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka 2015. Semoga saudara dapat melaksanakan tugas dengan baik," kata Presiden Jokowi.


68 siswa itu menjalani pelatihan sebagai anggota Paskibraka Nasional 2015. Mereka berasal dari 34 provinsi di Indonesia. Masing-masing provinsi mendelegasikan dua pemuda terbaiknya, satu putra dan satu putri. Mereka adalah Siswa Kelas X SMA/SMK/MA dan berusia 16 sampai dengan 18 tahun pada saat diselenggarakannya tahapan seleksi.


Amal Ahsan, salah satu dari 68 siswa yang beruntung itu berangkat dari Kalimantan Tengah bersama Kalteng Nova Andini Putri, siswi SMAN 1 Muara Teweh.


Pembentukan Paskibraka diawali dengan seleksi dari tingkat Kota/Kabupaten. “Alhamdulilah pada seleksi kabupaten saya terpilih. Lalu seleksi tingkat provinsi saya terpilih. Kemudian asaya berangkat ke Jakarta 4 orang dari Kalimantan Tengah. Dari empat orang itu dambil dua, satu putra dan satu putri,” kata Amal.


“Ada perasaan bangga bisa terpilih diantara beberapa ratus siswa seluruh Indonesia,” tambahnya.


Ia masuk dalam kelompok 17. Kelompok ini berada di bagian paling depan yang bertugas sebagai pemandu/pengiring dengan dipimpin oleh suatu Komandan Kelompok  atau Danpok.



[tps_title]Berbincang dengan Presiden[/tps_title]


Pengalaman yang tidak kalah pentingnya bagi Amal Akhsan sebagai anggota Paskibraka adalah ketika dia mendapatkan kesempatan bertemu dan berbincang dengan presiden.


“Ini pengalaman yang luar biasa. Kami ngobrol satu meja dengan presiden. Tidak tanggung-tanggung kita bisa berbicara dengan orang nomor satu di Indonesia. Agak gugup juga sebenarnya,” kata Amal.


Presiden Joko Widodo begitu akrab dengan semua siswa. Presiden mengajak bicara kepada para siswa satu persatu, terutama terkait masalah kepemudaan. Salah satu pertanyaan presden waktu itu adalah terkait rencana diadakannya program wajib militer di kalangan pelajar.


“Beliau meminta pendapat kami tentang program wajib militer. Kami setuju adanya program ini, karena sekarang ini banyak hal yang bisa merusak perilaku siswa, terutama dari internet. Program wajib militer ini akan bisa menjadikan siswa lebih baik dan disiplin,” katanya.


Dalam kesempatan itu, Amal juga menyampaikan kepada presiden mengenai kondisi infrastruktur di daerahnya, terutama di Kabupaten Barito Utara. “Saya menyampaikan kepada presiden, bahwa sarana di daerah kami masih betuh adanya pembenahan,” katanya.


Setelah menjalankan tugas atau Purna Paskibraka, Amal kembali ke madrasahnya di Muara Teweh dan disambut oleh para guru dan teman-temannya dengan bangga. Ia telah mengharumkan nama MAN Muara Teweh khususnya dan madrasah di Indonesia pada umumnya.


Saat ini Amal duduk di kelas XI jurusan IPA, sekaligus menjadi ketua OSIS di MAN Muara Tewe. Lulus dari MAN Muara Teweh ia ingin mengikuti jejak ayahnya. Ia ingin menjadi anggota TNI Angkatan Darat.


“Saya ingin masuk Akademi Miiter di Magelang. Dari kecil hidup di lingkungan militer karena tinggal di asrama miiter, jadi saya sudah suka. Namun keinginan menjadi naggota TNI adalah keinginan saya sendiri.  Saya ingin ngin mengabdi negara,” katanya.


Dengan postur tubuh sekarang saja sudah 177 cm dan pernah menjadi anggota Paskibraka, Amal Ahsan pasti diterima di Akademi Militer. “Siap! Amiiin,” ujarnya bersemangat. (*)

Madrasah Lebih Baik

Para Pejuang Pendidikan Islam, Inspirasi Tiada Henti

Identitas buku:

Judul                     : Mendidik Tanpa Pamrih: Kisah Para Pejuang Pendidikan Islam (Jilid 1)

Penulis                 : Mahbib Khoiron, dkk

Editor                   : Abi S Nugroho, Hamzah Sahal

Penerbit              : Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI

Tebal                    : 364 halaman

Cetakan               : I, Desember 2014

Peresensi            : Fathoni Ahmad

Pendidikan bukan soal kelas. Pendidikan juga bukan soal materi dan tetek bengeknya. Tetapi pendidikan merupakan jalan bagi para generasi muda dalam menatap masa depan. Artinya, pendidikan para generasi muda tidak boleh terhenti hanya karena alasan tak ada biaya, tak ada kelas, hal-hal teknis lainnya.


Dengan cara pandang bahwa pendidikan harus tetap dijalankan untuk menggelorakan energi masa depan anak bangsa, tak sedikit di negeri ini yang rela tanpa diberi fasilitas negara tetapi teguh dalam mendidik para muridnya. Terutama para guru ngaji dan guru madrasah di berbagai pelosok di Indonesia seperti kisah para pejuang pendidikan Islam dalam tajuk mendidik tanpa pamrih yang diurai secara apik dalam buku yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI ini.


Di buku jilid 1 setebal 364 halaman ini diceritakan, para pejuang pendidikan Islam yang aktif memberikan pendidikan agama kepada kelompok-kelompok tertentu, bahkan di tempat prostitusi sekalipun seperti yang dilakukan oleh Ajengan Mamad (halaman 91). Di sebuah gang yang sangat populer di negeri ini bernama Saritem, Ajengan Mamad sejak 2003 ada di tengah-tengah kawasan bisnis ‘perlendiran’ tersebut. Pas di samping kawasan tersebut, Mamad mendirikan sebuah pesantren bernama Darun Ni’mah. Lewat Gerakan Moralnya (Germo), ia tak henti-hentinya mengajak masyarakat untuk memperbaiki akhlak.


Berbeda dengan Ajengan Mamad, Rohmawati (halaman 153), guru ngaji kelahiran Banten, 20 Desember 1982 ini tetap teguh membina pengajian ibu-ibu di tengah krisis dan kemiskinan. Namun demikian, hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi ibu tiga anak ini. Perjuangan membangun pendidikan Islam berbasis majlis taklim ini tak mudah bagi Rohmawati. Mulai dari membangun tempat ngaji sendiri di tempat Kiai Dimyati, tokoh kampung kemudian pindah di rumahnya sendiri yang pernah terjadi musibah kebakaran hingga melalap semua isi rumah termasuk kitab-kitab materi ngaji.


Rohmawati yang tak lulus sekolah dasar (SD) ini mengajar fikih, tauhid, dan hadits kepada ibu-ibu majlis taklim. Setelah terjadi musibah tersebut, ia kembali ke tempat semula. Adapun operasional pengajian tak jarang diambil dari kantong pribadi jika iuaran dari para jamaah tidak mencukupi untuk membayar listrik, dan lain-lain. Dengan kondisi yang tidak ringan ini, Rohmawati tetap teguh membina masyarakat di kampungnya untuk tetap ngaji sehingga ruh spiritualitas tidak lepas di tengah kehidupan warga yang serba kekurangan secara materi.


Lain Ajengan dan Rohmawati, lain pula dengan Nur Husin (halaman 17), satu-satunya guru ngaji di Dusun Kwangenrejo, Desa Leran, Kecamatan Kalitidu yang berjarak belasan kilometer dari Kota Bojonegoro, Jawa Timur. Kawasan di mana Nur Husin ini lebih populer disebut “Kampung Kristen” daripada nama administratifnya. Ia tak kenal lelah mengajar ngaji di kampung kristennya. Karena sebelum mengajar ngaji, ia setiap hari berjualan es keliling dan mencari kayu bakar.


Perjuangan Nur Husin tidak mudah. Ia mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) ketika ia sendiri belum bisa sepenuhnya mandiri. Dengan pendapatan seadanya untuk kebutuhan keluarganya, tak jarang Husin juga harus menanggung sendiri kebutuhan santri-santri di TPQ-nya. Semngat Husin untuk menetap dan mengajar ngaji di Kwangenrejo sempat patah arang. Karena tidak kerasan, Husin membawa anak dan istrinya ke kampung halaman orang tuanya di Kepohbaru. Namun di luar dugaan, belum lama ia pindah, rombongan satu mobil warga muslim Kwangenrejo datang ke Kepohbaru dan memintanya kembali. “Kami butuh sampean. Siapa lagi yang mengajar ngaji kalau bukan sampean?” ujar rombongan tersebut.


Tiga kisah dari perjuangan para guru ngaji tersebut merupakan gambaran dari 29 sembilan pejuang pendidikan Islam lain yang dijelaskan dalam buku ini. Secara umum, buku ini mengulas perjuangan para guru pendidikan Islam dalam berbagai indikator. Indikator tersebut dapat dipilah yaitu, guru ngaji yang menginspirasi meski dalam kondisi kekurangan ekonomi. Selain itu, para guru tersebut juga tetap berjuang meneguhkan pendidikan Islam di kawasan rawan sekalipun. Buku ini juga menjelaskan para guru ngaji dan madrasah yang selalu menjadi pelopor di tengah krisisnya pendidikan agama di kampungnya masing-masing.


Di dalam buku, secara khusus Kementerian Agama RI yang memfasilitasi gagasan untuk mempublikasikan peran para guru agama di berbagai pelosok daerah, yaitu agar para guru tersebut mendapat perhatian pemerintah secara luas. Bahwa mereka tetap berjuang mendidik anak bangsa dan menyiapkan generasi emas nan berkualitas meski tanpa berbagai tunjangan layaknya banyak guru di luar sana. Mereka tidak mau terhimpit keribetan birokrasi, untuk mengurus sertifikasi, dan lain-lain. Mereka bukannya tidak berharap kesejahteraan sebagai seorang guru. Tetapi birokrasi dalam sertifikasi menjadikan profesi guru menjadi komersil sehingga mendidik pun tanpa ruh yang akan menghasilkan generasi tak berakhlak.


Dalam buku ini, pembaca juga akan dibawa ke dalam perjuangan kultural yang dilakukan oleh para guru agama. Melalui pendidikan, mereka mampu menjaga kearifan lokal (local wisdom) di tengah modernisasi pendidikan yang cenderung komersil. Mereka tetap teguh menjaga akhlak generasi muda dengan tetap mengaji dan sekolah di madrasah. Di dalam pendidikan agama tersebut, mereka juga menjaga tradisi sehingga identitas sebagai bangsa tidak tercerabut di tengah gempuran globalisasi yang semakin mengglobal. Selamat membaca! (Fathoni Ahmad)




Guru, Mendidik dengan Kasih Sayang- [Quote]


Guru tidak layak menyebarluaskan kekurangan dan kesalahan murid karena akan merangsang timbulnya protes murid secara demonstratif. Mereka akan dihantui rasa bersalah yang bias membuat mereka protes sebagai cara mempertahankan diri. Arahan, teguran, dan juga bimbingan guru dapat disampaikan dengan penuh kasih sayang tanpa emosi


KH. Sahal Mahfudz



Pendidikan Karakter [Quote]




Pendidikan Islam pada dasarnya adalah proses pembentukan watak, sikap, dan perilaku islami yang meliputi iman (akidah), Islam (syariat), dan ihsan (akhlak, etika, dan tasawuf).



- KH Sahal Mahfudz, Fiqh Sosial, h. 336

Tuesday, November 24, 2015

Menag: Sampaikan Pesan Damai Islam Melalui Kartun

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Kartun merupakan gambar ilustrasi yang bisa memberikan arti dalam kehidupan, Di zaman modern ini, kalangan santri masih konsisten menjaga tradisi dengan mengaji. Sementara kartun dimata santri adalah karya seni yang penuh candaan tapi penuh penghayatan imajinasi. Santri dan kartun bagi sebagian orang masih terdengar aneh dan memberi kesan tersendiri.


Lomba, Pameran dan Sarasehan kartun Santri Nusantara melalui Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama RI, kartun santri nusantara ini di bertujuan untuk memberikan ruang para santri terutamanya agar bisa berekpresi menelurkan ide dan gagasan melalui karya-karya kartun yang indah dan elegan. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan Dirjen Pendis sejak bulan september yang lalu.


Karya lomba kartun santri ini bertemakan “Bernegara dan beragama yang santun berakhlak”, hasil karya kartun ini di nilai langsung oleh dewan juri KH. Musthofa Bisri, Pramono R, Kus Indarto dan Abdullah ibnu Thalhah. Peserta lomba kartun santri nusantara di ikuti 750 peserta santri dan 1500 karya kartun yang terkumpul di panitia.


Launching Pameran dan Sarasehan Kartun Santri Nasional di Galeri Nasional, Jakarta, Selasa (24/11), Sarasehan yang di isi oleh KH. Zawawi Imran selaku kyai dan seniman ini juga mempersembahakan puisi yang berjudul “Ibu” untuk menteri Agama Lukman Hakim Saifudin.


Sejumlah kurator kartun nasional seperti Kuss Indarto ikut hadir dan memeriahkan  Acara yang akan berlangsung dari  24 – 30 November 2015, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin di Galeri Nasional, ikut hadir Sekjen Nursyam, Dirjen Pendis Kamaruddin Amin, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Mohsen, dan penanggungjawab acara kartun santri nusantara Abdul Rouf , serta tuan rumah Galeri Indonesia, Lempuk Setyanegara,


Menurut Lukman Hakim, banyak kesamaan antara seni kartun dan santri, 3 hal di antaranya adalah: pertama, kartun dan santri sama-sama memiliki ruh, memliki jiwa intelektual. “Kartun selalu merupakan artikulasi apa yang ada dalam fikiran yang dituangkan dalam bentuk lukisan,visual, dan gambar,” tambahnya.


Kedua, baik kartun dan santri selalu berupaya mengubah kehidupan sosial kemasyarakatan ke arah yang lebih baik melalui pesan kartun yang penuh pesan-pesan yang membangun. Ketiga, kartun dan santri, keduanya mengandung unsur homor, setidak-tidaknya suka dengan hal-hal yang humoris. Karya-karya kartun sangat kaya dengan nilai humor, santri juga kaya dengan humor. “Kalau tidak suka humor, kesantriannya dipertanyakan,” canda Menteri Agama.


“Dunia kartun merupakan media yang strategis untuk menyampaikan kedamaian, toleransi kesejukan, sehingga kehidupan keberagamaan kita semakin baik,” Tegas Menteri Agama.