Tuesday, June 14, 2016

Kepada Guru PAI, Menteri Agama: Cerahkan Makna Perbedaan kepada Siswa

[caption id="attachment_2011" align="aligncenter" width="640"]Salah satu peserta saat memaparkan problem pendidikan kepada Menag. Salah satu peserta saat memaparkan problem pendidikan kepada Menag.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Di zaman yang semakin kompleks dan nilai-nilai yang semakin banyak bergeser, guru Pendidikan Agama Islam (PAI) mempunyai peran penting dalam memberikan makna keragaman dan perbedaan sehingga pengetahuan siswa menjadi komprehensif.

Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Selasa (14/6) dalam kegiatan Sarasehan Nasional bertajuk Potensi Pendidikan Islam menjadi Rujukan Pendidikan Moderat di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara.

“Tugas guru mencerahkan terhadap perbedaan yang ada secara komprehensif sehingga akan berdampak pada sikap terbuka dan tidak mudah menyalahkan terhadap berbagai perbedaan,” ujar Menag di hadapan sekitar 400 instruktur PAI nasional yang meliputi unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas dari seluruh Indonesia.

Menag tidak memungkiri bahwa tantangan guru saat ini semakin kompleks karena dihadapkan kepada siswa yang mempunyai pengetahuan luas sebab kemajuan teknologi dan informasi.

“Oleh karena itu, guru harus membekali diri dan mengembangkan wawasan yang terkait langsung dengan kehidupan siswa di era modern ini. Jangan sampai guru kalah dalam pengayaan informasi dibanding yang akan berdampak pada menurunnya kredibilitas di hadapan siswa,” papar Lukman yang didamping Direktur PAI Amin Haedari sebagai moderator.

Dalam menutup Sarasehan Nasional instruktur PAI ini, Menag memanfaatkan kesempatan dengan memberi ruang seluas-luasnya kepada para instruktur untuk mengungkapkan persoalan yang terjadi di daerah dan sekolah masing-masing secara interaktif. Kemudian ditanggapi langsung oleh dirinya sebagai pengambil kebijakan.

Cara ini memunculkan antusiasme luar biasa dari para guru, kepala sekolah, dan pengawas. Mereka betul-betul menggunakan kesempatan tersebut untuk menyampaikan berbagai problem krusial yang terjadi dari aspek lembaga pendidikan, siswa, problem guru, dan lain-lain. Setiap dibuka termin pertanyaan, tak kurang dari 10 peserta secara bersamaan mengangkat tangan ke atas. (Fathoni Ahmad)

Guru Harus Teladani Imam Nawawi Al Bantani

[caption id="attachment_2005" align="aligncenter" width="269"]Nur Kholis Setiawan Nur Kholis Setiawan[/caption]

Bekasi, PendidikanIslam.ID – Bagi kalangan pesantren Syaikh Nawai Al Bantani tentu tidak asing lagi dikarenakan kitab karangannya dikaji dan menjadi rujukan. Sebut saja misalnya Tafsir Munir, Bahjatul Wasail, dan Nashoihul Ibad. Setidaknya ada 38 kitab yang terlacak. Oleh karena itu, para guru madrasah harus meneladani penulis Kitab Tafsir Munir ini. Demikian kata Direktur Pendidikan Madrasah M. Nur Kholis Setiawan.


“Salah satu keteladanan Syekh Nawawi adalah ketawadluannya. Selain itu, sebagai penulis kitab, Syekh Nawawi juga memahami segmen pembacanya sehinga karyanya diterima luas di masyarakat,” jelas alumnus Pesantren Tebuireng-Jombang ini sebagaimana dilansir di laman kemenag.go.id


Ketawadluan Syekh Nawawi, lanjut besar UIN Sunan Kalijaga ini, antara lain tercermin dalam ungkapannya di Muqaddimah Tafsir Munir yang mengatakan wa laisa ‘ala fi’lii maziidun wa lakin li kulli zamanin tajdiidun, sebenarnya, apa yang saya tulis dalam Tafsir Munir ini tidak ada yang baru. Tapi ingat walau demikian, di setiap masa pasti ada pembaharu.


 “Ungkapan di atas mereperesentasikan kerendahan hati dan kewiraiyan Syekh Nawawi Al-Bantani. Nilai yang menurutnya perlu dimiliki oleh para guru serta kepala madrasah dalam mendidik siswa. Seberapapun tinggi prestasi siswa dan madrasah yang berhasil diraih, hal itu tidak  menjadikan para guru dan kepala madrasah menjadi sombong,” sindir Nur Kholis Setiawan di hadapan para Kepala Raudlatul Athfal dan Calon Kepala Madrasah MAN Insan Cendekia di Bekasi, Senin (13/06).


Teladan lain dari Mbah Nawawi Al Bantani menurut Nur Kholis adalah kemampuannya menjelaskan ilmu sesuai dengan segmen pembacanya. Karangan Syekh Nawawi dikenal mudah dibaca dan dipahami sehingga banyak menjadi rujukan para pencari ilmu. Sebagai pengajar, Syekh Nawawi seakan mengajarkan pentingnya guru untuk memahami alam pikiran muridnya, potensi yang mereka miliki, serta tantangan yang akan mereka hadapi.


 “Guru, Kepala Madrasah dan Kepala Raudlatul Athfal memegang tanggung jawab yang besar karena merekalah yang berada digaris terdepan bagi pengembangan Madrasah. Oleh karena itu, para pendidik harus dapat mengubah mindset-nya dalam dalam mengembangkan Madrasah dan RA,” tegas Nur Kholis Setiawan. (ruchman, @viva_tnu, ed)

Ramadhan, Bulan Festival Kitab Kuning



[caption id="attachment_1980" align="aligncenter" width="592"]Para Santri mengaji Kitab Kuning Para Santri mengaji Kitab Kuning[/caption]

KETIKA Ramadhan datang, saya selalu diliputi rasa ”romantisme” yang begitu mendalam. Romantisme itu meliputi banyak hal, dari mulai perilaku atau sikap hingga suasana ”alam”. Misalnya, saya merasakan ”suhu udara” di masjid-masjid atau di langgar-langgar, dan bahkan di pasar-pasar, ”mengingkat”. Atau saya dengan gembira berkumpul setelah shalat tarawih untuk tadarus. Atau saya ingat misalnya, saat Ramadhan tiba, sebulan penuh saya tidur di masjid. Saat tengah malam tiba, saya dan belasan teman berebut menabuh kentongan: membagikan waktu untuk warga. Dan tak lupa, ini yang agak aneh tapi nikmat sekaligus, Ramadhan atau bulan Puasa melahirkan makanan dan minuman khas.


Romantisme Ramadhan semacam ini, saya kira telah menjadi ingatan kolektif bagi setiap Muslim di manapun berada. Saat ini, romantisme tersebut telah mengalami komodifikasi, dijual di pelbagai media massa. Ramadhan dalam ilustrasi seperti ini tampak seperti karnaval rutin, sebulan dalam setahun.


Dari segala suasana Ramadhan di manapun yang pernah saya alami, yang paling mengesankan dan meninggalkan atsar yang tak terlupakan bagi saya adalah suasana Ramadhan di pesantren. Di pesasntren, kebersamaan dan kesederhanaan, serta aktitivitas-aktifitas yang sarat makna, dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekedar slogan yang gegap-gempita. Di sana, ingatannya bukan saja pada sesuatu yang bersifat trivial seperti ilustrasi di atas. Ada apakah Ramadhan di pesantren?


Sewaktu saya mesantren di Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta (1996-2000) misalnya, saya merasakan suasana Ramadhan yang lebih ngeh ketimbang di tempat manapun. Lampu di tempat-tempat pengajian menyala sampai tengah malam. Begitu juga lampu yang ada di bilik-bilik pesantren, hampir tidak ada yang mati. Di siang hari, suasana kesibukan dan ghirah para santri lebih terasa lagi. Hal ini menandakan aktivitas pengajian atau kegiatan belajar mengajar meningkat tajam, baik pengajian umum yang diikuti belasan hingga ratusan santri ataupun tadarus Al-Quran atau muthola’ah kitab kuning yang bersifat individu. Kesan pertama saya menjalani Ramadhan di pondok sangat melelahkan, tapi sekaligus merasa produktifitas saya sebagai santri mengingkat secara signifikan.


Suasana lain yang lebih menyegarkan lagi adalah banyaknya santri dari luar kota masuk ke Krapyak. Mereka datang dari Jakarta, Cirebon, Tegal, Purworejo, Kebumen, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Semarang, Solo, Kediri, dan kota-kota lain di Jawa, bahkan dari Madura. Pertama kali saya menyangka kedatangan mereka untuk mendaftar dan kemudian menjadi santri dalam jangka waktu yang lama (menetap), tapi ternyata tidak. Mereka datang hanya untuk mengikuti pengajian selama Ramadhan. Lebih khusus, kebanyakan dari mereka mengikuti pengajian-pengajian di mana risalah-risalah almaghfurlah KH. Ali Maksum (Pengsuh Pondok Pesantren Krapyak setelah almaghfurlah KH. Munawir) dibaca Memang, tiap Ramadhan pesantren Krapyak mem-balah (membaca) karya-karya Mbah Ali –begitu KH Ali Maksum dipanggil- hingga khatam. Saya masih ingat, ada tiga judul risalah Mbah Ali yang populer dan saya pernah mengikuti pengajiannya, yaitu Hujjah Ahlissunnah Wal Jama’ah, Risalah Shiyam, dan Jawami’ul Kalim. ”Ngalap berkah Mbah Ali,” begitu jawaban yang selalu saya dengar ketika ditanya apa tujuan ngaji Ramadhan di Krapyak.


Suasana yang sama saya rasakan ketika saya mesantren di Nurul Ummah, Yogyakarta (2000-2005). Berbeda dengan di Krapyak yang khas dengan risalah-risalah Mbah Ali Maksum, di pesantren yang berlokasi di Kotagede ini menggelar karya agungnya Imam Al-Ghozali, Ihya Ulumiddin. Sewaktu saya di sana, kitab fiqh-sufistik ini langsung diampu almaghrulah KH. Asyhari Marzuki. Sama dengan di Krapyak, animo untuk mengikuti pengajian tidak hanya datang dari santri tetap, tapi juga santri luar yang datang dari berbagai daerah.


Di Cirebon Jawa Barat, tepatnya di Pondok Pesantren Darut Tauhid Arjawinangun, saya mendengar di sana digelar kitab Kutubus Sittah (enam judul kitab hadits) secara ”estafet” saat Ramadhan datang. Saya katakan secara ”estafet” karena enam judul itu tidak dibaca semuanya dalam satu bulan, melainkan nyicil, satu judul per Ramadhan. Misalkan, Ramadhan tahun ini dibaca Jami’ush Shahih Bukhori, Ramadhan tahun berikutnya Shahih Muslim, Ramadhan setelahnya Sunan Nasai, dan secara berturut turut, Sunan Trimidzi, Sunan Abu Daud, dan Sunan Ibnu Majjah. Jadi, Kutubus Sittah baru selesai dibaca setelah melewati enam kali Ramadhan. Dan menginjak tahun ketujuh, akan dimulai dari awal lagi, Jami’ush Shahih Bukhori, Shahih Muslim, dan begitu seterusnya. Kutubus Sittah di-balah oleh KH. Ibnu Ubaidillah, atau populer dengan panggilan.


Tiga...
TIGA tradisi pesantren saat Ramadhan yang saya kisahkah di atas hanyalah contoh kecil saja. Di pesantren lain (yang jumlahnya mencapai belasan ribu) di seluruh penjuru negeri ini juga berlangsung tradisi semacamnya, tentu dengan suguhan dan model yang beraneka ragam. Kalau boleh saya menamakan, Ramadhan di pesantren layaknya sebuah fesitival keagamaan dan kebudayaan sekaligus. Ya, Ramadhan adalah festival: Festival Kitab Kuning. Di pesantren-pesantren Jawa, tradisi Ramadhan dikenal dengan sebutan Pasaran. Mungkin karena situasinya seperti pasar, minus komersialisasi. Di pesantren saat Ramadhan terdapat lapak-lapak atau warung-warung, berupa halqoh-halqoh pengajian, yang menyajikan aneka jajanan atau barang-barang, berupa kitab-kitab kuning yang judulnya beraneka ragam.


Berbeda dengan festival kebanyakan yang terjadi di negeri ini yang tinggal rutinitas, rangkaian seremoni, tontonan/hiburan atau bahkan klangenan semata, dangkal, dan tidak lebih sebagai bagian dari ”pasar”. Ramadhan menjadi momen terjadinya persilangan budaya antarpesantren. Pesantren melepas para santrinya untuk pergi ke pesantren lain dan membebaskan santrinya memilih kajian kitab kuning yang dikehendakinya. Dan pada saat yang sama, pesantren membuka diri untuk didatangi santri dari pesantren lain. Menjadi jelaslah, Ramadhan di pesantren tidak sekedar mengisi waktu luang, melainkan untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Dan menjadi jelas pula bahwa Ramadhan di pesantren, bukan untuk menunggu bedug Maghrib, melainkan momentum untuk memenuhi salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar, yaitu berjumpa secara utuh dan sungguh-sungguh.


Festival Kitab Kuning menawarkan kedalaman makna pada kehidupan beragama dan berbudaya di masyarakat Muslim Indonesia, lebih-lebih pada saat derasnya serangan budaya global, lengkap dengan hedonisme, individualisme, konsumerisme, dan rivalisme, seperti sekarang ini. Tradisi Ramadhan di pesantren menjaga budaya yang mengedepankan substansi bukan seremoni, berbasis kebersamaan (berjamaah), bukan individualisme apalagi rivalitas, serta menggerakkan spiritualisme dan kesederhanaan yang produktif bagi kehidupan manusia, bukan hedonisme dan konsumerisme.


Akhirul kalam, selama menjalani sepuluh kali Ramadhan di pesantren, saya berkesimpulan bahwa aktivitas-aktivitas Ramadhan di pesantren, dari pagi, siang, sore, hingga malam hari betul-betul memiliki taste yang tak ada bandingnya. Kelemahan? Sudah barang tentu ada. Salah satunya tidak menghasilkan uang. (Hamzah Sahal, Pengurus Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI-NU)

Ini Pesan KH Hasyim Muzadi untuk Guru PAI se-Indonesia

[caption id="attachment_1994" align="aligncenter" width="300"]KH Hasyim Muzadi didampingi Prof Ishom Yusqi KH Hasyim Muzadi didampingi Prof Ishom Yusqi[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.id - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres KH Hasyim Muzadi memberikan pembekalan kepada para guru dan pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) dari 33 provinsi di Indonesia. Ia hadir dalam dalam kegiatan sarasehan nasional yang diseleggrakan oleh Direktorat PAI Kementerian Agama di Jakarta, Senin (13/6).

Kepada para guru dan pengawas PAI Kiai Hasyim berpesan, fokus pendidikan agama Islam tidak hanya memberikan informasi mengenai ajaran agama. Namun lebih dari itu adalah pengamalan ajaran agama dan penanaman akhlak.

“Jangan sampai pendidikan agama Islam itu hanya jadi berita agama, bukan amal dan akhlak," pesannya di hadapan sekitar 400 perwakilan guru dan pengawas PAI se-Indonesia dari mulai tingkat TK, SD, SMP dan SMA/SMK.

Menurutnya, para guru PAI tidak boleh jam hanya mengandalkan pertemuan dengan para siswa di kelas dengan jam atau waktu yang terbatas. Para guru perlu mengawal perilaku keseharian siswa di luar jam berlajar PAI. Lebih dari itu para guru PAI harus bisa menjadi acuan para siswa dalam hal pengamalan agama dan akhlak.

Dalam kesempatan itu, mantan ketua umum PBNU itu juga mengingatkan bahwa jam pelajaran agama yang terbatas tidak bisa hanya diisi dengan olah pikir atau mengasah otak saja, karena di luar materi agama otak para siswa sudah berisi materi pelajaran yang lain.

Menurut Kiai Hasyim, para siswa perlu dibekali dengan olah rasa melalui diversifikasi pengajaran agama. “Sekalipun otak mereka terisi tapi hati mereka kosong. Nah yang kosong itu kita isi, karena otak mereka sudah penuh,” katanya.

Salah satu metode mengisi hati siswa yang kosong itu adalah dengan membiasakan mereka melakukan shalat-sahal sunnah dan membaca Al-Qur’an meskipunr mereka tidak mengetahui maknanya. “Dibaca saja Al-Qur’annya, lama-lama di hati mereka akan ada rasa. Setelah itu baru (otak) mereka kita isi,” kata Kiai Hasyim.

Pertemuan singkat dengan KH Hasyim itu dimanfaatan oleh para guru PAI untuk berdialog mengenai berbagai hal, antara lain mengenai pola pemahaman keagamaan masyarakat, pengembangan paham-paham transnasional, kondisi terkini di Timur Tengah, sampai respon umat Islam terhadap persolan pemilihan kepala daerah serentak terutama untuk DKI Jakarta. (Anam)

 

Monday, June 13, 2016

Tangkal Bibit Terorisme, Anak Didik Tidak Boleh Diarahkan Menjadi Ekslusif

Abdul Mu'tiJakarta, PendidikanIslam.id - Sekretaris PP Muhammadiyah Abul Mu’ti mengatakan, salah satu penyebab berkembangnya radikalisme dan terorisme adalah pengajaran agama yang segregatif atau ekslusif. Sifat ekslusif akan menyebabkan siswa mudah merasa benar sendiri dan suka mengkafirkan.

Hal tersebut disampaikan oleh Abdul Mu’ti dalam kegiatan sarasehan nasional guru dan pengawas PAI di Jakarta, Senin (13/6).

Menurutnya, sifat ekslusif di kalangan siswa akan memunculkan perasaan terpinggirkan, aspirasinya tidak ditampung, dan dalam hal pergaulan akan menybabkan mereka mempunyai sedikit teman. “Ketika tidak punya teman, maka anak akan mudah memberontak,” tambahnya.

Kelompok ekstrimis dan teroris tidak akan banyak dan akan selalu menjadi minoritas karena sifat ekslusif dan membatasi diri dari orang lain itu. Namun, Abdul Mu’ti mengingatkan, keberadaan mereka tidak bisa diremehkan. “Mereka itu kecil tapi nekat,” katanya.

Karena itu, ia berpesan kepada para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk senantiasa melakukan monitoring kepada para siswanya. Tidak hanya cukup ditanyakan apakan mereka sudah shalat, tetapi juga ditanyakan dengan siapa saja mereka bergaul dan bagaimana pemahaman mereka terkait hal-hal tertentu, kemudian para guru memberikan feed back atau umpan balik dengan proses dialog.

Ia mengingatkan, para guru perlu menenanamkan sikap besar hati dan percaya diri kepada siswa dalam bergaul dengan siswa dan masyarakat luar. Perlu juga ditanamkan dalam dri para siswa bahwa diri mereka bermakna dan berarti di tengah masyarakat.

“Kalau dalam bahasa Melayu dikatakan ‘Kehadirannya menggenapkan ghaibnya mengganjilkan’,” katanya. Dengan merekatkan siswa dengan masyarakat dan menguatkan peran mereka di tengah masyarakat, maka mereka akan terhindar dari bibit-bibit terorisme. (Khoirul Anam)

Presiden dan Wapres Dukung Pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia

Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin saat memberi materi di Sarasehan Nasional Instruktur PAI.

Jakarta, PendidikanIslam.id – Tidak lama lagi pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia akan segera terwujud. Pendirian universitas yang akan menjadi sarana penyebaran Islam moderat ke dunia ini didukung sepenuhnya oleh Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Rencana pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia ini telah mendapatkan dukungan dari RI-1 dan RI-2. Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa di-launching,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin dalam kegiatan sarasehan nasional guru dan pengawas PAI di Jakarta, Senin (13/6).

Menurut Kamaruddin, Universitas Islam Internasional Indonesia ini akan menjadi bagian dari diplomasi Indonesia di bidang pendidikan dan kebudayaan. Universitas ini kan menjadi sarana untuk mempromosikan Islam moderat ke seluruh dunia.

“Kita berharap Indonesia menjadi destinasi untuk pendidikan Islam seluruh dunia. Target dari universitas ini paling tidak 75 persen adalah mahasiswa asing,” tambahnya.

Pekan kemarin perwakilan dari lima kementerian bersama utusan sekretariat negara, kantor kepresidenan, dan sekretariat wapres telah menggodok draft rancangan Peraturan Presiden tentang pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia atau disingkat UIII. Kelima kementerian itu adalah Kementerian Agama, Keuangan, Hukum dan HAM, PAN dan RB, serta Ristek dan Dikti.

Pembahasan draft rancangan Perpres diadakan di Gedung Kemenag, Jakarta, Jumat (10/6) malam lalu. Langkah ini merupakan tindaklanjut dari pertemuan dua hari sebelumnya (Rabu, 08/06) di Istana Wapres yang dipimpin langsung Wapres Jusuf Kalla dan diikuti 5 menteri beserta para pejabat eselon I terkait.

UIII diharapkan dapat berperan aktif dalam pengembangan peradaban Islam dunia yang damai, ramah, demokratis dan berkeadilan. (Khoirul Anam)

 

KH Hasyim Muzadi Dorong Guru PAI Perkuat Paham Islam Moderat

[caption id="attachment_1990" align="aligncenter" width="640"]KH Hasyim Muzadi (kanan) bersama Sekretaris Ditjen Pendis H M. Isom Yusqi sebagai moderator. KH Hasyim Muzadi (kanan) bersama Sekretaris Ditjen Pendis H M. Isom Yusqi sebagai moderator.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Saat ini radikalisme sudah pada taraf menyasar anak-anak usia sekolah. Hal ini memberikan konsekuensi kepada guru agar lebih memperkuat dan membekali diri dengan pemahaman Islam moderat atau Al-Wasathiyah.

Hal ini disampaikan oleh Anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) KH Hasyim Muzadi dalam kegiatan Sarasehan Nasional bertajuk Potensi Pendidikan Islam menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia, Senin (13/6) di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara yang diselenggarakan oleh Direktorat PAI Kementerian Agama.

Kiai Hasyim yang didampingi Sekretaris Ditjen Pendis H M. Isom Yusqi sebagai moderator menjelaskan bahwa istilah moderat jika merujuk kepada Hadis yaitu Al-Hanifiyah Samhah. Istilah ini bisa diartikan sebagai agama yang baik dan lurus namun tidak meninggalkan identitas dan menolak tradisi.

“Rasulullah SAW diutus untuk membawa agama yang Al-Hanifiyah Samhah. Hal ini dipraktikkan oleh sahabat dan ulama-ulama terdahulu. Ulama dulu sangat Hanif, mendalam agamanya tetapi moderat dalam berdakwah,” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam ini di hadapan sekitar 400 instruktur PAI nasional.

Para ulama terdahulu, lanjut Hasyim, dalam berdakwah sangat terbuka. Jika ada perbedaan pendapat, mereka menyikapinya dengan arif dan bijak. Mereka melakukan dakwah dengan ramah dan sejuk, tidak memaksakan kehendak dalam masalah agama.

“Jika bisa ditarik syukur, tapi kalau tidak bisa ya tidak memaksakan kehendak. Jadi ulama zaman dulu itu banyak mengislamkan orang kafir dengan dakwah ramahnya. Tapi zaman sekarang kebalik, kelompok Islam tertentu malah mengafirkan sesama Islam. Inilah bedanya Waliyullah dengan Wali Jenggot,” ucap Hasyim diikuti riuh tawa peserta.

Lebih jauh, Ketua Umum PBNU periode 2000-2010 ini mendorong kepada seluruh instruktur PAI, baik dari unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas untuk memperkuat paradigma Al-Hanifiyah Samhah ini.

Hal ini, kata Hasyim, mengingat paham radikal telah sampai pada taraf aksi bukan lagi wacana. Dalam hal inilah menurutnya, guru harus mampu menjadi jembatan untuk para generasi muda untuk menyambungkan sumber-sumber hukum Islam dengan realitas zaman yang selalu berubah dengan tidak meninggalkan tradisi. (Fathoni Ahmad)