Showing posts with label PAI. Show all posts
Showing posts with label PAI. Show all posts

Monday, September 26, 2016

Guru PAI Didorong Terus Lakukan Pembelajaran Islam Damai di Sekolah

[caption id="attachment_2684" align="aligncenter" width="640"]Ilustrasi pembelajaran agama. Ilustrasi pembelajaran agama.[/caption]

SORONG, PENDIDIKANISLAM.ID - Kawasan Indonesia Timur memiliki teladan dalam dakwah Islam yang damai dan toleran. Salah satunya adalah Sultan Babullah. Sebagai Raja, Sultan Babullah dikenal sukses dalam dakwah karena pendekatannya yang mengedepankan cara-cara damai dan dialog antara Kesultanan Ternate dengan tokoh-tokoh Kristiani dan agama lainnya.

Karenanya, sudah semestinya para guru Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya di Ternate dan Papua untuk mencontoh pendekatan dakwah Sultan Babullah. Pesan ini disampaikan Pgs. Direktur Pendidikan Agama Islam pada Sekolah M. Nur Kholis Setiawan saat memberikan pembekalan kepada peserta Workshop Peningkatan Kompetensi Guru PAI di Sekolah di Sorong, Sabtu (24/9).

Diikuti para guru PAI di kawasan Indonesia Timur, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama dalam meningkatkan kompetensi Guru PAI, khususnya dalam memperkuat wawasan keagamaan yang damai sebagaimana dicontohan oleh para penyebar Islam di kawasan Papua dan Maluku.

Menurut Nur Kholis Setiawan, keberhasilan dakwah Islam Sultan Babullah tidak terlepas dari kesuksesannya dalam memadukan fiqih dan tasawuf. Dua entitas itu menjadi penentu, karena Islam yang sampai di sini adalah Islam yang bercorak fiqih dan tasawuf.

"Fiqih mengajarkkan cara berfikir kreatif dan memberi solusi atas berbagai masalah, sementara tasawuf mengajarkan tatanan masyarakat dan harmoni sosial," ujarnya dilansir laman kemenag.go.id.

Dalam tradisi literasi Muslim, pendekatan dakwah Sultan Babullah dapat ditelusuri rujukannya pada karya-karya ulama terdahulu, salah satunya kitab Sulamut Taufiq yang ditulis pada sekitar abad 16-17. Kitab Fiqih bercorak sufistik ini telah diberikan syarah oleh dua ulama nusantara yaitu Syaih Nawawi Al-Bantani (Mirqatu Su'udit-Tashdiq), dan Mbah Abdul Hamid Pasuruan (Nadzam Sulamut Taufiq). Kedua ulama tersebut juga dikenal sebagai tokoh sentral dalam membangun harmoni di nusantara ini. Lebih dari itu, keduanya adalah guru bagi ulama masa kini yang terus berproses dalam tradisi belajar, mengajar, dan mengamalkan.

"Fahadza juz'un latiifun yassarahu Allahu ta'ala fi-ma yajibu ta'allumuhu wa ta'limuhu wal-'amalu bihi lil 'aami wal khaasi (ini adalah bagian (kitab) sederhana. Semoga Allah memudahkan bagi orang yang mempelajari, mengajarkan, dan mengamalkan baik untuk kalangan umum dan kelompok khusus)," demikian M. Nur Kholis mengutip salah satu penggalan kalimat pada muqaddimah Kitab Syarah Sulamut Taufiq yang berjudul Mirqatu Su'udi Tashdiq karya Syeh Nawawi Al Bantani.

Menurutnya, kalimat tersebut mengandung pesan tentang kewajiban belajar, mengajar, dan mengamalkan. Ketiga terminologi itu terkait erat dengan dunia pendidikan, khususnya tugas bagi para pendidik (guru). Para Guru tidak mengkin bisa menjadi guru yang baik dan professional, jika ia tidak mempunyai tradisi belajar atau meningkatkan kapasitas dirinya.

"Guru tidak boleh berhenti untuk terus melakukan peningkatan kualitas, selalu mengupgrade pengetahuan, pengalaman dan ketrampilannya sehingga tidak ketinggalan zaman," katanya.

Pesan kedua dari kitab itu adalah keharusan guru untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dengan kreatif dan inovatif. Karena menurut Nur Kholis Setiawan, para siswa/i sekarang tentu berbeda dari pada masa ketika bapak-ibu pertama kali menjadi guru. Sekarang sudah banyak teknologi informasi. Indonesia menjadi pengguna sepuluh besar pengguna medsos di dunia. Anak-anak kita bisa jadi fisiknya ada di Sorong, tetapi imajinasinya sedang di New York atau belahan dunia lainnya.

Di siniah diperlukan perubahan paradigmatik tentang cara menyampaikan (mengajarkan). "Makanya guru wajib selalu meningkatkan kapasitas diri, bagaimana cara mengajarnya sehingga tantangan yang dihadapi anak-anak hari ini dapat diimbangi dengan baik," ujarnya.

Kewajiban guru ketiga adalah mengamalkan ilmunya. Guru PAI tidak semata berada dalam level kognitif tetapi juga harus menguasai domain afeksi dan psikomotorik. "Seorang pendidik dituntut menjadi uswah hasanah, role model bagi para murid bahkan masyarakatnya," tandas Nur Kholis.

"Peran bapak dan ibu Guru PAI adalah menjadikan mereka menjadi muslim yang beneran, makanya harus upgrading (knowledge), menyampaikan (mengajarkan), dan memberikan uswah hasanah atau teladan yang baik," tambahnya.

Sementara itu, Abdul Rumkel, Kepala Bidang Pendidikan Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua Barat, menyambut baik prakarsa Direktorat PAIS dalam menyelenggarakan kegiatan peningkatan kompetensi Guru PAI di Sekolah, khususnya di wilayah Papua Barat dan Papuan. Bagi Rumkel, "Guru harus selalu disegarkan pengetahuan dan ketrampilannya dalam menghadapi tantangan global".

Senada dengan hal itu, Unang Rahmat, Kasubdit PAI pada SMA bertekad agar guru-guru PAI termasuk di Papua Barat dan Papua harus mendapatkan perlakuan yang sama dalam hal meningkatkan kualitas diri dengan wilayah Indonesia lainnya. Agar bisa melibatkan lebih banyak peserta, lanjutnya, lokasi kegiatan sengaja diselenggarakan di Sorong. "Kalau diselenggarakan di Jakarta tentu tidak akan banyak guru yang terlibat di Papua Barat ini dan biayanya juga tidak sedikit," tandasnya. (Red: Fathoni Ahmad)

Source: Kemenag

Thursday, September 22, 2016

Menengok “Kurikulum Kepondokan” di SMPN 3 Peterongan Jombang

SMP Negeri 3 Peterongan terletak di sisi bagian timur pondok pesantren Darul Ulum, bersebelahan dengan Asrama Bilqis-Sulaiman dan Asrama Pondok Tinggi Darul Ulum. Di sebelah timurnya terdapat gedung Islamic Centre dan di sebelah utara terdapat stasiun kereta api. Lokasi SMPN 3 Peterongan Jombang cukup strategis dan dapat dijangkau dengan mudah karena terletak tidak jauh dari jalan raya propinsi.

Salah satu ciri khas SMPN ini adalah “kurikulum kepondokan” yang merupakan pengembangan dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Materi disusun sendiri oleh Tim Pengembang Kurikulum Majelis Pondok Pesantren Darul Ulum beserta tim pengembang kurikulum sekolah. Mata pelajarannya mengacu kepada standar kompetensi baku dari BSNP dengan pengembangan indikator dan pelaksanaan di lapangan sesuai dengan visi dan misi SMP Negeri 3 Peterongan. Termasuk dalam kategori ini adalah mata pelajaran PAI.

Mata pelajaran PAI yang sesuai standar BSNP diperkaya dengan muatan kurikulum kepondokan sehingga tampak seperti struktur kurikulum yang ada di Madrasah Tsanawiyah. Bedanya, kata Yusuf Suharto, seorang guru PAI di sekolah ini, materi yang diajarkan tidak mengacu pada Kementerian Agama, tetapi lebih kepada khazanah kitab kuning yang dajarkan di pesantren. “Misalnya untuk aqidah kita memakai kitab Aqidatul Awwam dan fikih kita memakai kitab Taqrib,” katanya.

Selain itu, mata pelajaran PAI yang sesuai standar BSNP, juga dikembangkan menjadi beberapa macam aspek, yakni fiqh, aqidah/akhlak, nahwu shorof, Bimbingan Membaca Kitab, SKI/Aswaja, tafsir, hadits, Baca Tulis Al-Qur’an. kurikulum-kepondokan-di-smpn-3-peterongan

Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Karyono mengatakan, sekolah yang dipimpinnya memadukan antara kurikulum nasional dan kurikulum kepesantrenan. “Ini ciri khas kami, yakni mencetak para siswa yang unggul dan berkarakter,” katanya.

Menurutnya, karakter ini mengacu pada nilai-nilai utama pesantren, antara lain adalah tawadlu (rendah hati). Jadi siswa tak hanya unggul dalam bidang akademik, tapi juga berkarakter, berakhlak mulia. “Internalisasi pendidikan karakter pada peserta didik tercantum dalam visi pondok Darul Ulum yang mengacu pada Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 18,” tambahnya.

Separated Curriculum

Pengorganisasian kurikulum PAI di SMPN 3 Peterongan menggunakan model separated curriculum, di mana selain pelajaran PAI yang sesuai kurikulum BSNP masih ada lagi mata pelajaran yang lainnya sebagaimana di atas. Sejak tahun pelajaran 2012-2013 sudah dicanangkan bahwa mata pelajaran PAI terdiri dari PAI muatan nasional (2 jam pelajaran), Fiqh (2 jam pelajaran) dan 1 jam pelajaran Akhlaq (untuk kelas VII, sedangkan kelas VIII 1 jam pelajaran Aqidah, Kelas IX 1 jam pelajaran SKI/Aswaja).

Dengan demikian mata pelajaran PAI menjadi 5 jam pelajaran, sementara untuk kurikulum PAI yang dikembangkan (BTA, BMK, Tafsir, Hadith, Nahwu Shorof) selama 6 jam pelajaran. Dengan demikian jam pelajaran PAI secara keseluruhan adalah 11 jam pelajaran perminggu.

Selain mata pelajara PAI yang terintegrasi dalam kurikulum, para siswa yang juga sekaligus santri ini dibimbing langsung untuk menjalankan berbagai ritual sebelum jam sekolah. Pelaksanaan pendidikan agama di SMP Negeri 3 Peterongan dimulai pada pukul 06.45 – 07.15 WIB dengan istilah aplikasi keagamaan. Sedangkan kurikulum kepondokan dimasukkan ke dalam jadwal pelajaran yang dipadu dengan kurikulum nasional mulai jam 07.15 – 16.00 WIB.

Materi yang diterapkan dalam aplikasi keagamaan ditekankan pada kemampuan membaca Al-Qur’an berikut tajwidnya. Jadwal dirancang dengan sangat rapi. Selama enam semester pada kelas VII, VIII dan IX ditargetkan semua siswa telah menghatamkan 30 juz dengan sempurnya. Tidak cukup di situ, para siswa juga dibekali dengan tafsir Al-Qur’an serta diperkaya dengan materi hadits.

Ada pemandangan yang sangat menyejukkan. Setiap pagi mulai jam 06.45 – 07.00 WIB para siswa mengikuti shalat dhuha di Musholla SMP Negeri 3 Peterongan. Para siswa didampingi bapak atau ibu guru pembimbing yang sekaligus menjadi imam shalat dhuha. Jadwal pembimbing telah disusun rapi. Program ini bertujuan untuk melatih siswa supaya biasa istiqomah melaksanakan shalat dhuha setiap hari. Di samping itu program ini juga bertujuan melatih siswa menyampaikan dakwah karena setelah shalat dhuha siswa dilatih untuk menyampaikan dakwah tujuh menit (kultum).

Setiap bulan sekali pada hari Sabtu pada pukul 06.45 – 07.15 para siswa mengikuti istighotsah yang bertempat di Islamic Center SMPN 3 Peterongan Darul ‘Ulum. Program ini bertujuan untuk  memberikan bekal kerohanian kepada siswa; memberikan siraman rohani kepada siswa terutama dalam hal akhlakul karimah; dan mempersiapkan siswa untuk menguasai ketrampilan bermasyarakat sehingga siap menjadi pemimpin dalam masyarakat. [A. Khoirul Anam]

Tuesday, June 14, 2016

Ini Pesan KH Hasyim Muzadi untuk Guru PAI se-Indonesia

[caption id="attachment_1994" align="aligncenter" width="300"]KH Hasyim Muzadi didampingi Prof Ishom Yusqi KH Hasyim Muzadi didampingi Prof Ishom Yusqi[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.id - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres KH Hasyim Muzadi memberikan pembekalan kepada para guru dan pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) dari 33 provinsi di Indonesia. Ia hadir dalam dalam kegiatan sarasehan nasional yang diseleggrakan oleh Direktorat PAI Kementerian Agama di Jakarta, Senin (13/6).

Kepada para guru dan pengawas PAI Kiai Hasyim berpesan, fokus pendidikan agama Islam tidak hanya memberikan informasi mengenai ajaran agama. Namun lebih dari itu adalah pengamalan ajaran agama dan penanaman akhlak.

“Jangan sampai pendidikan agama Islam itu hanya jadi berita agama, bukan amal dan akhlak," pesannya di hadapan sekitar 400 perwakilan guru dan pengawas PAI se-Indonesia dari mulai tingkat TK, SD, SMP dan SMA/SMK.

Menurutnya, para guru PAI tidak boleh jam hanya mengandalkan pertemuan dengan para siswa di kelas dengan jam atau waktu yang terbatas. Para guru perlu mengawal perilaku keseharian siswa di luar jam berlajar PAI. Lebih dari itu para guru PAI harus bisa menjadi acuan para siswa dalam hal pengamalan agama dan akhlak.

Dalam kesempatan itu, mantan ketua umum PBNU itu juga mengingatkan bahwa jam pelajaran agama yang terbatas tidak bisa hanya diisi dengan olah pikir atau mengasah otak saja, karena di luar materi agama otak para siswa sudah berisi materi pelajaran yang lain.

Menurut Kiai Hasyim, para siswa perlu dibekali dengan olah rasa melalui diversifikasi pengajaran agama. “Sekalipun otak mereka terisi tapi hati mereka kosong. Nah yang kosong itu kita isi, karena otak mereka sudah penuh,” katanya.

Salah satu metode mengisi hati siswa yang kosong itu adalah dengan membiasakan mereka melakukan shalat-sahal sunnah dan membaca Al-Qur’an meskipunr mereka tidak mengetahui maknanya. “Dibaca saja Al-Qur’annya, lama-lama di hati mereka akan ada rasa. Setelah itu baru (otak) mereka kita isi,” kata Kiai Hasyim.

Pertemuan singkat dengan KH Hasyim itu dimanfaatan oleh para guru PAI untuk berdialog mengenai berbagai hal, antara lain mengenai pola pemahaman keagamaan masyarakat, pengembangan paham-paham transnasional, kondisi terkini di Timur Tengah, sampai respon umat Islam terhadap persolan pemilihan kepala daerah serentak terutama untuk DKI Jakarta. (Anam)

 

Monday, June 13, 2016

Tangkal Bibit Terorisme, Anak Didik Tidak Boleh Diarahkan Menjadi Ekslusif

Abdul Mu'tiJakarta, PendidikanIslam.id - Sekretaris PP Muhammadiyah Abul Mu’ti mengatakan, salah satu penyebab berkembangnya radikalisme dan terorisme adalah pengajaran agama yang segregatif atau ekslusif. Sifat ekslusif akan menyebabkan siswa mudah merasa benar sendiri dan suka mengkafirkan.

Hal tersebut disampaikan oleh Abdul Mu’ti dalam kegiatan sarasehan nasional guru dan pengawas PAI di Jakarta, Senin (13/6).

Menurutnya, sifat ekslusif di kalangan siswa akan memunculkan perasaan terpinggirkan, aspirasinya tidak ditampung, dan dalam hal pergaulan akan menybabkan mereka mempunyai sedikit teman. “Ketika tidak punya teman, maka anak akan mudah memberontak,” tambahnya.

Kelompok ekstrimis dan teroris tidak akan banyak dan akan selalu menjadi minoritas karena sifat ekslusif dan membatasi diri dari orang lain itu. Namun, Abdul Mu’ti mengingatkan, keberadaan mereka tidak bisa diremehkan. “Mereka itu kecil tapi nekat,” katanya.

Karena itu, ia berpesan kepada para guru Pendidikan Agama Islam (PAI) untuk senantiasa melakukan monitoring kepada para siswanya. Tidak hanya cukup ditanyakan apakan mereka sudah shalat, tetapi juga ditanyakan dengan siapa saja mereka bergaul dan bagaimana pemahaman mereka terkait hal-hal tertentu, kemudian para guru memberikan feed back atau umpan balik dengan proses dialog.

Ia mengingatkan, para guru perlu menenanamkan sikap besar hati dan percaya diri kepada siswa dalam bergaul dengan siswa dan masyarakat luar. Perlu juga ditanamkan dalam dri para siswa bahwa diri mereka bermakna dan berarti di tengah masyarakat.

“Kalau dalam bahasa Melayu dikatakan ‘Kehadirannya menggenapkan ghaibnya mengganjilkan’,” katanya. Dengan merekatkan siswa dengan masyarakat dan menguatkan peran mereka di tengah masyarakat, maka mereka akan terhindar dari bibit-bibit terorisme. (Khoirul Anam)

Presiden dan Wapres Dukung Pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia

Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin saat memberi materi di Sarasehan Nasional Instruktur PAI.

Jakarta, PendidikanIslam.id – Tidak lama lagi pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia akan segera terwujud. Pendirian universitas yang akan menjadi sarana penyebaran Islam moderat ke dunia ini didukung sepenuhnya oleh Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Rencana pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia ini telah mendapatkan dukungan dari RI-1 dan RI-2. Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa di-launching,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin dalam kegiatan sarasehan nasional guru dan pengawas PAI di Jakarta, Senin (13/6).

Menurut Kamaruddin, Universitas Islam Internasional Indonesia ini akan menjadi bagian dari diplomasi Indonesia di bidang pendidikan dan kebudayaan. Universitas ini kan menjadi sarana untuk mempromosikan Islam moderat ke seluruh dunia.

“Kita berharap Indonesia menjadi destinasi untuk pendidikan Islam seluruh dunia. Target dari universitas ini paling tidak 75 persen adalah mahasiswa asing,” tambahnya.

Pekan kemarin perwakilan dari lima kementerian bersama utusan sekretariat negara, kantor kepresidenan, dan sekretariat wapres telah menggodok draft rancangan Peraturan Presiden tentang pendirian Universitas Islam Internasional Indonesia atau disingkat UIII. Kelima kementerian itu adalah Kementerian Agama, Keuangan, Hukum dan HAM, PAN dan RB, serta Ristek dan Dikti.

Pembahasan draft rancangan Perpres diadakan di Gedung Kemenag, Jakarta, Jumat (10/6) malam lalu. Langkah ini merupakan tindaklanjut dari pertemuan dua hari sebelumnya (Rabu, 08/06) di Istana Wapres yang dipimpin langsung Wapres Jusuf Kalla dan diikuti 5 menteri beserta para pejabat eselon I terkait.

UIII diharapkan dapat berperan aktif dalam pengembangan peradaban Islam dunia yang damai, ramah, demokratis dan berkeadilan. (Khoirul Anam)

 

Sunday, June 12, 2016

Dikumpulkan di Jakarta, para Guru PAI Akan Jadi Corong Islam Moderat Dunia

sarasehan PAIJakarta, PendidikanIslam.id – Kementerian Agama melalui direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) mengumpulkan sekitar 400 guru dan pengawas PAI dari 33 provinsi di Indonesia, Minggu-Selasa  12-14 Juni 2016 dalam kegiatan sarasehan nasional di Jakarta.

Kegiatan bertajuk “Potensi Pendidikan Agama Islam Menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia”. Direktur PAI Kementerian Agama Amin Haedari dalam pembukaan sarasehan, Minggu (12/6) malam mengatakan, pendidikan Islam yang moderat menjadi keunggulan di Indonesia. Sayangnya keunggulan ini belum bisa menjadi rujukan dunia.

“Model pendidikan agama Islam yang moderat ini tidak sampai ke dunia, terutama dunia Barat. Informasi yang diterima oleh orang barat, Islam itu intoleran, radikal, teroris dan sebagainya,” kata Amin.

Oleh karena itu, para guru PAI diharapkan memegang peran dalam menyebarkan informasi mengenai model pendidikan agama Islam yang moderat, cinta damai, ramah, dan saling menghargai di wilayah kerja masing-masing. Beberapa guru juga telah terlibat dalam program pertukaran guru dan shortcourse di Australia dan Inggris.

Sementara itu dalam sarasehan nasional itu para guru dan pengawas PAI mendapatkan pembekalan dari sejumlah tokoh agama Islam seperti KH Hasyim Muzadi, KH Ma’ruf Amin, dan Abdul Mu’ti serta motivator-budayawan Prie GS.

Para guru dan pengawas PAI yang dihadirkan ke Jakarta itu adalah guru dan pengawas pilihan yang berstatus sebagai Instruktur nasional dan narasumber nasional dari tingkat TK, SD, SMP hingga SMA/SMK.

Sebelumnya pihak panitia penyelenggara mengatakan, agenda mempertemukan para guru PAI pilihan dari seluruh Indonesia itu merupakan cita-cita lama dan baru terealisir para bulan Ramadhan tahun ini. Kegiatan diselenggarakan bersama oleh semua subdirektorat yang ada di bawah direktorat PAI dari mulai tingkat TK, SD, SMP hingga SMA/SMK. (Khoirul Anam)

Thursday, April 14, 2016

Kemenag Gelar Perkemahan Rohis Lagi, 2-6 Mei

Jakarta, PendidikanIslam.id - Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama akan kembali menggelar kegiatan Perkemahan Rohis Nasional di Bumi Perkemahan Cibubur pada 2-6 Mei 2016. Kegiatan ini akan diikuti sekitar 2000 siswa SMA dan SMK.

[caption id="attachment_1057" align="aligncenter" width="300"]Dokumentasi Perkemahan Rohis Nasional 2014 Dokumentasi Perkemahan Rohis Nasional 2014[/caption]

Even nasional untuk organisasi keagamaan di bawah OSIS ini merupakan yang kedua, setelah digelar pada pada 11-15 November 2014 lalu di tempat yang sama. Namun even kali ini agak berbeda dengan sebelumnya.

“Dulu karena yang pertama, maka lebih banyak diikuti siswa dari Jakarta dan sekitarnya. Sekarang diikuti sampai semua provinsi. Misalnya untuk Kalimantan Timur dan NTB juga sampai mengirimkan empat rombogan,” kata Direktur PAI Amin Haedari ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (14/4).

Para peserta untuk perkemahan kali ini tidak dibagi berdasarkan provinsi. Mereka dibiarkan berbaur agar saling mengenal antar daerah satu dengan lainnya. Hanya saja untuk siswa laki-laki dan perempuan tetap terpisah.

Dari segi materi, Perkemahan Rohis  kali ini lebih beragam juga. Ada materi wajib atau MKDU yang keseluruhannya harus diikuti oleh semua pesaerta. Materi wajib ini adalah tentang Islam yang damai dan Islam yang ramah.

“Kita menyiapkan generasi emas yang penuh keramahan dan kedamaian,” kata Amin.

Ada juga beberapa materi yang tidak harus diikuti keseluruhannya atau MKDK, seperti materi mengenai leadership, jurnalistik, public speaking, dan manajemen masjid. Materi yang terakhir ini sangat penting karena basis utama kegiatan Rohis adalah di masjid atau musholla sekolah.

Tentang Rohis

Rohis atau singkatan dari Rohani Islam merupakan lembaga atau perkumpulan para siswa untuk memperkuat dan memperdalam Islam. Rohis menjadi organisasi ekstrakurikuler di sekolah yang dibuat oleh pihak sekolah atau para siswa yang menggagas pembentukan rohis.

Rohis terkadang juga disebut Dewan Keluarga Masjid (DKM). Biasanya Rohis dikemas dalam bentuk ekstrakurikuler di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA), serta Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

Fungsi Rohis selain sebagai forum pertemuan, juga sebagai wahana pengajaran, dakwah, dan berbagi pengetahuan Islam. Adapun susunan dalam Rohis layaknya OSIS, organisasi induknya. [A. Khoirul Anam]