Saturday, July 16, 2016

Cara Ibu Guru Ini Hidupkan Sekolah yang Hampir Mati

16 Najmah KatsirPada 2005, dalam Ujian Nasional MTs Nahdlatul Ulama (NU) di Pakis Malang hanya bisa meluluskan hanya 8 siswa dari 55 siswa kelas IX. Di puncak krisis kepercayaan masyarakat akan MTs inilah, Naj’mah hadir menjadi kepala madrasah? Apa yang akan dilakukan Naj’mah?

Kala itu, MTs NU Pakis memiliki label kuat “La yamutu wala yahya. Tidak bermutu dan tidak memiliki biaya?”. Naj’mah yang baru beberapa bulan menjadi guru bantu atau DPK tidak putus arang saat mengetahui dirinya secara aklamasi terpilih sebagai Kepala Sekolah.

Satu hal yang membuat Naj’mah masih optimis kala itu. MTs NU Pakis sudah cukup tua sejak beroperasi tahun 1967 dan berada di lingkungan warga NU (Nahdliyin). Sebenarnya madrasah ini sudah memiliki hati di tengah masyarakat.

“MTs NU memiliki potensi untuk berbenah bahkan berprestasi di kemudian hari.”  Keyakinan itulah yang terus memacu Naj’mah untuk terus meningkatkan kapasitas dan kualitas siswa yang hanya tinggal 152 orang.

Tak mudah memang di akui Naj’mah berbenah dari mulai administrasi yang tidak tertata, semangat siswa yang tinggal sisah karena harus masuk siang (harus berbagi tempat dengan MI), dan guru-guru yang hanya menerima apadanya. Langkah pertama yang dibangun Naj’mah di kalangan guru dan siswa ada tiga hal; keyakinan, percaya diri dan semangat.

Memuai Gebrakan

Langkah kongkrit Naj’mah terlihat dari group drum band beberapa bulan kemudian yang berkeliling kampung, berbarengan dengan launching seragam baru para siswa. Setelah itu, tidak boleh ada siswa yang datang kesiangan. Rupanya di sinilah kecerdikan Naj’mah. Para siswa tidak akan malas-malas lagi jika mereka memiliki kegiatan yang disukai dan membuat mereka sibuk. Yang lebih penting dari berbagai kegiatan adalah membuat anak-anak percaya diri.

Satu tahun berlalu, dimulailah event kompetisi pertama ajang pramuka se-Malang Raya. Tak banyak yang dituntut Naj’mah pada siswanya. Tak harus menang katanya. Cukup mereka tahu bagaimana berhadapan dengan sekolah-sekolah lain. Praktis, event pertama itu tak membuahkan apa-apa.

Namun jangan salah, pada ajang-ajang yang sama berikutnya pantang MTs NU Pakis tak membawa Tropi piala. Hingga saat ini sosok kepala sekolah yang dicintai siswa dan masyarakat itu menargetkan 100 tropi dalam setahun.

Menciptakan Lingungan yang Clean dan Hygienis

Naj’mah adalah sosok guru yang sedari awal sudah mempunyai mental disiplin. Langkah berikutnya yang ia lakukan adalah membereskan kamar kecil. Jagan sampai ada toilet yang kotor dan Bau. Tukang kebun dengan gaji diatas Kepala Sekolah mungkin baru bisa ditemui di MTs NU Pakis ini. Praktis setelah itu, tag lines: Clean dan hygienis menjadi sakral di lingkungan keluarga besar MTs NU Pakis itu.

Tak berhenti disitu, tak puas dengan bersih, revolusi hijau dilakukan oleh Naj’mah. “Saya tidak ingin ya, identik hijau NU itu hanya dalam cat tembok sekolah ini. Gerakan hijau harus benar-benar disuguhkan oleh tumbuhan dengan back to natural,” katanya. Ia sukses  meramaikan lingkungan madrasah dengan aneka tumbuhan.

Target berikutnya adalah menghilangkan prilaku warga MTs NU “semau gue” atau seenaknya sendiri, dalam hal apapun tanpa terkecuali. Merokok dalam hal ini yang paling tidak disuka oleh Naj’mah. Sukar dan sulit memang.

“Saya tidak melarang, cukup tidak merokok didepan saya dan murid. Tapi setiap saat saya keliling,” ungkapnya sebarengi tawa. Jelas saja, No Smoking kemudian menjadi budaya dengan sendirinya. Bagaimana tidak, merokok di depan kepala sekolah tidak mudah bagi guru-guru cowok karena hampir tiap menit Kepala sekolah satu ini keliling.

Anakonda, Pakis Jingga dan “Kyai Madu”

Lingkungan yang kondusif sudah terbangun, selanjutnya prestasi harus terukur. Begitulah target sosok Naj’mah Katsir.

Pengalaman-pengalaman sebelumnya selalu dimanfaatkan Naj’mah dalam mengembangkan MTs NU Pakis ini. Dia menghubungi kolega lamanya Ahmad Mubarok yang memang sudah teruji menangani Pramuka. Terbentuklah kelompok putra bernama Anakonda dan kelompok putri Pakis Jingga yang kelak dua nama ini akan dikenal MTsNUEPA. Buah pun tak lama dipetik oleh Naj’mah. Usaha kerasnya, memboyong Tropi lomba baik tingkat regional malang, Jawa-Bali, hingga kancah Nasional.

Bersamaan dengan itu drum band dikembangkan lebih serius lagi. Naj’mah menghubungi pelatih yang sudah tersihor dikawasan itu. Terbentuklah sesuai harapan Naj’mah hingga grup drum band dari madrasah ini kualahan jadwal “manggung” dalam acara-acara besar.

Uniknya, meskipun sudah terkenal, kegelisahan justru muncul. Grup drum band MTs NU Pakis tidak puas karena hampir semua lagu sama dengan drum band lainnya. Disinilah cerita sosok kuli menjadi sukses muncul. Naj’mah teringat akan muridnya dulu di SMP NU yang mahir sekali dalam musik. Abdul Rokim namanya. Sosok satu ini terkatagori kurang mampu dalam hal ekonomi, hingga semua bakat musiknya harus mandek dan dia bekerja sebagai kuli tukang gali gorong-gorong pinggir jalan.

Saat dipanggil dan ditawari untuk menjadi team Naj’mah, guru musik di MTs NU Pakis, dia langsung menerima meski Naj’mah sudah memarparan diawal jika gaji hanya 70 ribu sebulan.

Disinilah Rokim dengan bakatnya membuat drum band “Kyai Madu” memasuki puncak karirnya yang ingin mengejar tropi-tropi yang telah diperoleh Anakonda dan Pakis Saji. Dan hal ini rupanya bukan bualan semata, sekarang Drum Band ini tak hanya jago panggung namun juga mampu menciptakan Himne dan Mars MTs NU Pakis, Malang. Mimpi Naj’mah benar-benar tergandakan sekarang.

Revolusi Pembangunan

Mimpi yang dibarengi usaha menjadi keyakinan tersendiri bagi Naj’mah bahwa Tuhan akan selalu mewujudkannya. Tak pelak, hari yang penting yang membawa ekspansi wilayah MTs NU pun tak akan pernah dilupakan Naj’mah dan team guru. Tamu bule tiba-tiba mendatangi MTs NU yang tak lain dari Bank Pembangunan Asia, Asia Development Bank (ADB). Belakangan Naj’mah tau, ADB bekerja sama dengan Departemen Agama (sekarang kementrian Agama) meluncurkan program Madrasah Education Development Project (MEDP).

Bagai pemain bola Arema, Naj’mah menendang bola pada sasaran yang tepat. Dengan kerja smart bantuan yang dikucurkan sebesar 1,250 Milyar digunakannya se-efisien mungkin tanpa tergoda korupsi.

Namun justru pada tahap inilah, Naj’mah, para guru dan pengurus MTs NU diuji, keikhlasan dan ketulusannya dalam mengabdi. Sebelum pencairan dana, semua guru sepakat untuk ekspansi wilayah, namun uang siapa yang akan dibuat untuk membeli tanah? Mengingat dana bantuan tidak bisa dipergunakan membeli tanah.

Di sinilah Najmah memberanikan diri mengajak para pengurus untuk iuran atau urunan. Niat baik Najmah tersebut disambut baik oleh dewan pengurus  salah satunya Bapak Lukman Hakim (Adik kandung Bapak Syamsul Hadi, yang sekarang menjadi ketua pengurus) memberi 25 juta. Pak Mahmud pun membayar iuran dengan jumlah yang sama. Sisanya adalah urunan para guru dan menggerakkan sadar infaq.

Sungguh upaya dan kekompakan yang luar biasa, terbelilah tanah warisan H. Rouf, yang tidak jauh dari Madrasah yang tidak lain waqaf dari beliau. Tanah seluas 750 meter persegi terbeli dengan lancar, dan Naj’mah hanya menunggu cairnya ADB untuk mewujudkan memiliki ruang terpisah dengan Madrasah dengan semangat memperbaiki semangat guru dan siswa didik nantinya.

Hari bahagia itu tiba, pencairan pertama sebesar 800 juta, digunakan untuk membangun 2 ruang kelas, 1 ruang laboratorium IPA, dan 1 ruang UKS. Gong pembangunan  itu dimulai dengan tumpengan, suasana haru, syukur, dan penuh harap itu dirasakan bersama. Dan tidak disangka-sangka Naj’mah diminta untuk melakukan ritual peletakan batu pertama, dia merasa tidak pantas tapi keadaan sudah mendesaknya, sambil menitikkan air mata bahagia, dia melaksanakan dengan penuh suka cita.

Diawali prestasi di setiap kompetisi, Naj’mah menumbuhkan rasa percaya diri dan menciptakan citran MTs NU yang baik di masyarakat. Keyakinan akan terus maju ahirnya menjadi keyakinan bersama dari rasa percaya diri tersebut, karyalah buah dari kerja keras Naj’mah yang tidak henti-henti mendapatkan penghargaan yang layak. Pengurus dan tenaga didik menjelma menjadi team hebat. Puncaknya, terhitung sejak 43 tahun berkiprah, madrasah yang merupakan ikhtiyar santri NU itu, lebih diseriusi dengan cara masuk pagi.

Tidak ada lagi murid tidur di kelas, tidak ada lagi guru kecapean karena harus berbagi tenaga sambi mengajar dipagi harinya. Semua serba fresh,  dari kerja keras inilah MTs NU berbenah dari sebelumnya terakreditasi B mendapatkan Akreditasi yang layak menjadi A. MTs ini tidak lagi menjadi second option. Hasil yang nyata telah dibuktikan Naj’mah, kualitas guru yang terus didorong prouktif menghasilkan lulusan-lulusan terbaik dan berprestasi, sungguh Cita yang mulanya adalah Mimpi, “Kenapa sih mbak takut bermimpi, toh bermimpi itu tidak bayar, baru setelah itu harus dibarengi dengan usaha” paparnya dengan senyum merekah.

Menyekolahkan Guru, Memenangkan Lomba Leadership Madrasah

Masa-masa berikutnya semakin mudah, hingga dana tahap ke tiga cair untuk menggenapi 1.250 Milyar, rupanya keberkahan atas kinerja team bbenar-benar menuai hasilnya.  Setelah tuntas terealisasikan semua penggunaan dana berikut perencanaan pembangunannya, MTs NU Pakis mendapatkan penilaian Excelent dari ADB, yang menyatakan terbaik nasional dari 500 Madrasah sasaran MEDP se-Indonesia, tak tanggung-tanggung hadiahnya 1 Milyar yang diperuntukkan untuk pembangunan fisik melengkapi fasilitas kelas berbasis tecno class,  pelatihan guru Matematika tingkat Nasional.

Keberkahan itu terus beruntun. Puncaknya, Najmah Katsir yang membawa MTs NU semakin di depan dan mendapatkan banyak penghargaan. Najmah sendiri memenangkan Lomba Leadership Madrasah Tingkat Nasional Tahun 2012, atas prestasi makalahnya berjudul Keniscahyaan MTs NU Pakis menuju Madrasah Kompetitif dan Saintifik Melalui Kepemimpinan yang Efektif.”

Menurutnya, pembangunan fisik harus sebangun dengan peningkatan kualitas guru, seketika tiga guru dikuliahkan S-I di Universitas Negeri Malang; Tri Agung Yoga Prasojo guru prodi Matematika, Nasai guru prodi Bahasa Indonesia dan Abdul Rokim guru prodi Bahasa Inggris, “Team itu harus kuat, sistem itu harus mantab dengan kualitas yang ter up-grade

Berani dan Visioner

Perjalanan panjang Naj’mah jelas penuh dengan aral, pengimplementasian dana block grant yang diperuntukkan (1) peningkatan fasilitas pembelajaran, Sumber Belajar, dan Materi Pembelajaran (2)Peningkatan Profesionalisme guru (3) peningkatan efisiensi kinerja internal dan (4) penguatan tata kelola, managemen dan keberlanjutan madrasah bukan semata-mata tanpa berpikir matang.

Dikenal sebagai ratu pemberani dalam hal pinjam uang sudah tidak dihiraukan lagi, karena nampaknya sosok Srikandi satu ini sudah tidak hitung-hitungan untuk mempertaruhkan apapun untuk pengembangan madrasah. Pembelian tanah yang kurang seringkali ia pinjamkan di koprasi tempat suaminya bekerja, pembayarannya dia lakukan dengan potong gaji, “Saya percaya, jika melakukan sesuatu itu dari hati, Tuhan akan mencukupiku bagaimanapun caranya, asal didapur sudah bisa beli tempe saya merasa aman” jelasnya saat diwawancarai.

Pernah suatu ketika guru Seni meminjam motor yang masih kredit, keteledoran guru tersebut menyuruh salah seorang muridnya yang tidak mempunyai SIM untuk membeli benang. Naas, di tengah jalan dia menabrak bocah SD hingga kakinya patah, diberi kabar tersebut Naj’mah tidak lantas memarahi guru yang meminjam motornya. Naj’mah menanggung semua biaya pengobatan hingga dua bulan masa berobat dan anak tersebut benar-benar pulih, “Bagaimana tidak berkah, sekarang bocah itu punya banyak kambing lantaran insident tersebut”, tuturnya sambil selalu tersenyum. “Jadi pas kecelakaan banyak saudara, dan tetangga yang memberinya uang, karena pengobatannya semua di tanggung, jadi uangnya dia belikan kambing dan sekarang beranak-pinak menjadi banyak,” sambungnya lagi. Jelas saja kami tertawa bersama setelah itu.

Menurut Naj’mah, sosok kepala sekolah itu harus visioner, dia harus mampu menwarkan konsep dan sistem yang berjalan. Agar jika suaktu-waktu Naj’mah tidak ada, sistem itu akan berjalan apik dengan sendirinya. Untuk membenahi MTs NU Pakis dari tidak memiliki apa-apa dengan guru yang minim semangat, siswa yang nyaris hanya mengincar Ijasah dan laporan-laporan yang tidak ada ujungnya alias amburadul tidak harus dipikir jelimet. Cukup memilih orang yang mau bekerja, membangun mental untuk terus berkarya itu sudah cukup. Sumberdaya manusianya dulu yang harus dibenahi terlebih dahulu menurutnya.

Ketegaran dan istiqomah Naj’mah sungguh bisa dibanggakan di kancah Nasional. Tidak banyak kata-kata kedisiplinan, kebersihan atau sebagainya di sekolah tersebut, namun semuanya terbangun atas kecenderungan pribadi masing-masing.

Slogan, Ubudiyah Istiqomah, Akademik Istimewa, Non Akademik Luar Biasa menjadi kekuatan dialam bawah sadar masing-masing insan di sekolah tersebut.

Pukul 06.30 pagi, semua siswa sudah berkumpul di Aula untuk sholat Dhuha, selepas itu satu hingga dua siswa naik ke podium untuk berkultum secara bergantian tiap harinya, siang sholat berjama’ah dilanjutkan hafalan ayat, Asar berjama’ah dan kemudian pulang membawa berkah. Itulah rutinitas yang dibangun yang sekarang tanpa aba-aba sudah langsung bisa bergerak dengan sendirinya, tidak perlu banyak peraturan namun kesadaran dan Inovasi sudah terbangun sedari awal. Tentu tanpa mengenyampingkan prestasi akademik dan non akademik.

Hingga tulisan ini diproses, sudah ratusan Tropi diperoleh oleh MTs NU, baik dalam olimpiade Matematika, Ipa, Dai tingkat Nasional, Mading Juara I Nasional, Pramuka yang tidak pernah ketinggalan hingga Music yang selalu menjadi unggulan. Maka bukan utopis sekarang Naj’mah selalu menyemangati siswa-siswi didiknya bahwa tiap tahun minimal harus 100 Tropi diperoleh.

Naj’mah memang tipikal akademik sejati yang tidak pernah puas akan pencapaian yang telah ia raih, kedepan mimpinya adalah membangun Asrama untuk siswa dan MA Hafidz, karena nampaknya sosok cantik satu ini melihat potensi-potensi itu ada dan patut dibina dengan baik untuk selanjutnya dikembangkan.

Penyusun Modul PKB-KS SMP/MTs

Najmah Katsir, Lahir di Malang Jawa Timur, 12 Juni 1968. Anak ketiga dari lima bersaudara, pasangan Anwar Katsir (alm) dan Siti Aisyah (alm). Seperti anak desa lainnya, ia mengawali pendidikan dasarnya di Sumber Pasir, Pakis, Malang, lulus 1981.

Ia melanjutkan belajar di SMP NU Pakis, Malang. Lulus tahun 1984, melanjutkan ke SMA Negeri Tumpang, Malang dan lulus taun 1987. Menyelesaikan program D2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Negeri Malang yang sekarang menjadi Universitas Negeri Malang (UM)

Menikah tahun 1992 dengan Drs. Suwarno, Putera Mukidi (alm) dan Djuminem (alm). Pasangan ini dikariniai anak perempuan Sofi Nur Fitria, yang sekarang mengenyam pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (UB). Putra ke dua Luhur Septiadi, Mahasiswa Biologi UIN Malang.

Pendidikan Najmah berlanjut, SI Sastra Indonesia di IKIP Malang, kemudian Program Magister Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Islam Malang tahun 2007, dan ditahun 2009 ia melanjutkan S3nya pada jurusan yang sama di UM.

Sejak 1988 hingga 2005 ia mengajar matapelajaran Bahasa Indonesia di SMP NU Pakis Malang. Tahun 2005 ia diangkat sebagai PNS /Guru Departemen Agama dan dipekerjakan (DPK) di MTs NU untuk mengajar matapelajaran yang sama. Hingga menjadi Kepala Sekolah dipertengahan 2005.

Di tengah kesibukannya  dinas sebagai guru dan kepala madrasah serta Studi S3. Dia diberi amanat untuk mengembangkan program pengembangan madrasah (MEDP-ADP kementria agama RI) di MTs NU Pakis Malang. Ia berhasil menyusun rencana pengembangan madrasah yang berbentuk Madrasah Development Plan (MDP) tahun 2009 sampai 2012 telah diberi predikat Excellent untuk implementasi program pengembangan dari 500 madrasah se-Indonesia oleh Asia Deveopment Bank (ADB).

Pada ahir 2012 Najmah menulis artikel berjudul Keniscayaan MTs NU Pakis menuju maadrasah kompetitif dan saintifik dengan kepemimpinan Efektif. Ia dinobatkan menjadi juara satu tingat nasional dalam lomba Leadership Madrasah oleh Kementrian Agama.pada tahun 2013 hingga 2015. Ia juga menjadi anggota tim penyusun modul untuk pengembangan keprofesionalan berkelanjutan kepala sekolah (PKB-KS SMP/MTs) di pusbangtendik kemendikbud Republik Indonesia. (Red: Anam)

No comments:

Post a Comment