Usianya baru 14 tahun. Namua ia kelihatan lebih dewasa. Ia juga selalu nyambung ketika diajak ngobrol mengenai banyak hal. Ia sangat supel meski terkadang kelihatan agak pemalu. Zayda bercerita banyak hal mengenai dirinya, keluarganya, prestasinya, serta cita-citanya.
Nama lengkapnya Zayda Shafira Ramahanty, lahir di Kediri 20 November 2001. Semasa kecil ia dipanggil Dhanty. Kemudian selepas SD guru-gurunya lebih suka memanggil dengan sebutan Zayda. Namun sampai sekarang tetap banyak teman-temannya yang memanggil dengan panggilan Dhanty.
Berdasarkan cerita ibunya, awalnya ia bernama Zayda Ramadhanty saja tanpa Shafira. Oleh ibunya, “zayda” diartikan bertambahnya keberuntungan. Sedangkan nama Ramadhanty itu diberikan untuknya sebagai pengingat karena ia lahir tepat di bulan Ramadhan. Lalu ditambahkanlah Shafira, alasannya sederhana, supaya namanya tidak terlalu pendek. Dengan memberikan nama itu orang tuanya berhrap kelak Zayda tumbuh menjadi anak yang terus bertambah keberuntungannya dan selalu mendapat prestasi.
Zayda berasal dari keluarga cukup mampu. Ayahnya bernama Achmad Saifuddin, seorang PNS di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten Kediri dan ibunya bernama Rara Indah Palupi juga seorang pegawai PNS di kecamatan Ngandat.
Zayda merupakan anak tunggal, saat ditanya apakah ia ingin punya adik? Zayda yang bercita-cita ingin menjadi seorang guru itu mengiyakan sambil tersipu malu.
Pilih Melanjutkan ke Madrasah
Semenjak dudu di kelas 4 SD, teman-teman Zayda sudah banyak yang membicarakan kelanjutan studi mereka. Dari perbincangan itulah Zayda memperoleh banyak informasi tentang sekolah lanjutan tingkat pertama, khsusunya tentang Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 2 Kediri.
MTs negeri ini berada di Jalan Sunan Ampel No. 12 Kelurahan Ngronggo kota Kediri. Nur Salim, kepala madrasah bercerita, MTsN 2 Kediri sempat berada di masa-masa sulit. Para orang tua kebanyakan lebih tertarik menyekolahkan anaknya ke madrasah dari pada sekolah umum. Namun dengan kegigihan para guru dan pengelola madrasah, nilai tawar MTsN berangsur-angsur naik. Banyak prestasi yang dicapai oleh sekolah ini. Jumlah siswanya pun terus bertambah.
Saat itu, ketika ditanya hendak melanjutkan sekolah ke mana, Zayda masih bingung. Tetapi, karena banyak teman-temannya yang memilih melanjutkan di MTsN 2 Kediri, ia pun akhirnya ikut. Sebenarnya Zayda punya dua pilihan sekolah, di SMP 1 dan MTsN 2, setelah melalui proses pertimbangan yang cukup matang akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan di MTsN 2. Mengapa lebih memilih melanjutkan ke MTs dari pada SPM? “Sebab di madrasah porsi ilmu agamanya lebih banyak,” kata Zayda. Barangkali itulah rata-rata alasan orang tua lebih meilih anaknya belajad di madrasah dari pada sekolah umum.
Cinta dengan Matematika
Informasi pertama tentang MTsN 2 Kediri malah ia dapatkan dari guru Matematikanya di SD. Gurunya bilang ke Zayda bahwa di MTsN 2 ada pembinaan bakat dan minat siswa, khususnya bakat matematika yang ia miliki. Gurunya pun menyarankan untuk melanjutkan di MTsN 2.
Kecintaannya pada matematika muncul sejak dini. Sejak duduk di kelas 1 SD bakat matematikanya sudah terlihat, nilai pelajaran hitung-menghitungnya selalu bagus. Sedari kecil ia memang suka berhitung. Saat kelas 3 pun ia sudah diutus untuk mengikuti lomba Matematika, namun pada waktu itu ia hanya sebagai partisipan saja belum sampai mendapatkan juara.
Padahal pelajaran matematika dikesankan oleh banyak siswa sebagai pelajaran yang sulit. Ini tidak berlaku buat Zayda. Ia sudah terlanjur cita dengan matematika. Cintanya kepada matematika tak luntur sedikit pun meskipun teman-temannya bilang matematika itu sulit. Karena sudah terlanjur cinta, maka tak ada lagi kata sulit atau susah dalam Matematika.
Kalau mau jujur, sebenarnya Zayda terbilang anak yang agak susah untuk belajar secara continue. Ia mengaku memang agak susah kalau disuruh belajar. “Jadi memang harus dipaksa oleh orang tua,” katanya malu-malu.
Karena itu, Saat SD, orang tuanya mewajibkan dirinya untuk ikut les Matematika secara rutin hari Senin sampai Jum’at di rumah. Saat menempuh belajar di MTsN 2 les Matematikanya hanya di hari Jum’at, Sabtu dan Ahad.
Ikut Olympiade Matematika di China
Saat duduk di kelas 7 menjelang naik ke kelas 8, Zayda mendapat kabar kalau madrasahnya mendapatkan undangan mengikuti olympiade matamatika untuk pelajar tingkat internasional di China dan ia sendiri menjadi salah satu calon nominatornya.
“Perasaan saya waktu itu senang campur susah. Senangnya karena bisa keliling dunia, bisa jalan-jalan ke luar negeri, sedangkan susahnya karena dibebankan harus juara,” katanya.
Kedua orang tuanya saat itu sangat mendukung dan mensupport asalkan ia betul-betul niat dan serius. Orang tuanya berpesan, jangan menyia-nyiakan kesempatan, sebab kesempatan tak akan datang untuk kedua kalinya. Kalau tidak diambil sekarang mau kapan lagi, katanya menirukan pesan orang tuanya.
Olympiade matematika itu dilaksanakan oleh Asia International Mathematics Olympiad Union yang diberi nama Asia International Mathematical Olympiad Open Contest (AIMO). Kompetisi dimulai dengan seleksi "Asia International Mathematical Olympiad Open Trial" di negara masing-masing, termasuk Indonesia. Lomba ini dibagi dalam tujuh kelas yaitu kelas 3, 4, 5, 6 untuk SD dan 7, 8, 9 untuk SMP. Setiap tingkatan kelas akan memperoleh soal yang berbeda.
Peserta Asia International Mathematical Olympiad Open Contest (AIMO) terdiri dari beberapa negara-negara Asia atau wilayah seperti provinsi Cina Daratan, Hong Kong, Filipina, Malaysia, Makau, Taiwan, Korea, Singapura dan Indonesia.
Atas dukungan pihak madrasah dan kedua orang tuanya mantab untuk maju mengikuti kompetisi matematika tingkat internasional itu. Persiapan dilakukan sangat matang. Ia dibimbing secara khusus oleh seorang guru Matematika bernama ibu Siti Nur Hidayati. Di rumah pun Zayda tetap melakukan persiapan dan dibimbing oleh guru les privatnya. Selain itu, Zayda juga dibimbing oleh salah satu lembaga yang memberangkatkannya ikut lomba ke China. Selama kurang lebih sebulan segala persiapan sudah ia lakukan untuk berjuang membawa nama negaranya, dan tentunya juga nama madrasahnya.
Asia International Mathematical Olympiad dilaksanakan di Cheng Du pada 27-28 Juni 2014 dengan jumlah peserta sebanyak 1921.
Sampailah Zaida di China. Perasaannya yang jelas dag-dig-dug dan grogi waktu itu. Sebab ia tahu lawan-lawan dari negara lain punya kemampuan yang juga hebat di bidang Matematika. Zayda sempat minder. “Banyak peserta dari negara lain yang memakai kaca mata tebal,” katanya. Salah satu ciri orang pinter adalah mereka suka pakai kaca mata, kata Zayda.
Dengan tekad yang kuat dan penuh percaya diri Zayda mengikuti perlombaan. Dan sampailah pada memen penguuman yang mendebarkan. Zayda medali Perunggu pada Asia International Mathematic Olympiad di China 2014. “Waktu itu saya merasa terharu dan sangat bahagia,” kenangnya.
Jangan Underestimated
Yang paling berkesan bagi Zayda sebetulnya bukan hanya pada lombanya. Karena ia sudah berulang-ulang merasakan lomba matematika dengan format yang hampir sama, meski berbeda level. Justeru yang menarik dan memberikan kesan mendalam adalah jalan-jalan saat di negeri China, ia bisa melihat wujud asli binatang khas negeri itu, yakni panda. Selain itu, itu di sana temannya semakin bertambah. Ia jadi punya kenalan teman dari berbagai negara berkat kecintaan dan prestasinya di bidang matematika.
Semenjak SD zayda sudah sering mengikuti berbagai olimpiade matematika. Beranjak ke tingkat MTs Zayda juga sangat sering berpatisipasi dalam olimpiade Matematika maupun MIPA, baik di tingkat regional maupun nasional. Zayda diundang datang ke kampus UIN Jakarta, UIN Surabaya, UM Malang, UNESA, Universitas Brawijaya dan Kampus-kampus lainnya untuk mengikuti lomba Matematika dan MIPA.
“Intinya jangan underestimated, coba dulu! Jangan terpengaruh dengan ucapan orang-orang yang bilang bahwa Matematika itu susah,”katanya ketika ditanya pesan yang ingin disampaikannya kepada teman-temannya siswa madrasah.
“Teruslah mencoba, jika kalian biasa mengerjakan sesuatu maka kalian akan bisa, jadi bisa itu sebab sudah terbiasa. Itu kuncinya,” tambahnya.
Selepas lulus dari MTsN 2 Kediri nanti, Zayda ingin melanjutkan studi ke MAN Insan Cendekia Serpong. Madrasah Aliyah ini memang menjadi favorit nasional bagi para siswa dan siswi SMP dan MTs. Setelah itu, Zayda ingin melanjutkan kuliahnya ke luar negeri, tepatnya ke negeri Sakura Jepang. Ia juga ingin terus mengembangkan bakat matematikanya dan menjadi pendidik hebat. (Red: Anam)
No comments:
Post a Comment