Siti Adijatiningsih Wanggita Sierfefa membuat catatan sejarah baru bagi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia Serpong, Banten. Ia adalah siswa asal Papua pertama yang belajar dan tinggal di asrama salah satu madrasah favorit di Indonesia itu.
Tita keturunan asli Papua karena ayahnya berasal Papua Barat. Kaimana termasuk kabupaten berbatas laut yang meliputi wilayah datar hingga berbukit-bukit, bahkan bergunung dengan kemiringan lereng bervariasi. Kaimana berada di sepanjang pantai yang berbatasan langsung dengan bukit tinggi yang berbaris memanjang. Adat istiadat masyarakat juga masih cukup kuat, kendati belakangan lebih cair akibat hadirnya budaya luar lewat pelabuhan.
Tita memang terlahir di Jakarta pada tahun 1999. Namun demikian, orang tua berasal dari sebuah kampung kecil bernama Wanggita, sekarang termasuk wilayah Kabupaten Kaimana, Provinsi Papua Barat. Tita dibesarkan dari keluarga muslim yang taat, meskipun kakek dan neneknya masih menganut kepercayaan animisme dan dinamisme.
“Sampai saat ini (2014, red), kampung kakek saya belum ada penerangan listrik dan jalan beraspal. Orang di kampung jika menyaksikan tayangan TV harus numpang di rumah warga yang punya antena parabola atau rumah Bapak Camat. Karena itu saya harus belajar giat, agar kelak bisa membangun Papua, saya ingin menjadi ahli matematika dan ekonomi,” tutur Tita.
Ia mengaku sangat jarang pulang ke kampung halaman di Papua lantaran letaknya yang sangat jauh dan berbiaya tinggi. Ongkos hidup di sana pun di atas rata-rata kota/kabupaten lainnya sebagai imbas dari infrastruktur dan transportasi yang belum sepenuhnya memadai. Tita terakhir ke sana pada tahun 2010 saat sekolah libur panjang.
Kondisi sosial ekonomi penduduk wilayah Kabupaten Kaimana umumnya bergerak dalam bidang perikanan dan pertanian yang sifatnya subsistem, perkebunan tradisional, buruh bangunan dan buruh pelabuhan.
Menembus Seleksi Ketat
MAN IC Serpong yang sebelumnya bernama SMU Insan Cendekia didirikan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) atas prakarsa BJ Habibie yang kala itu menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi sekaligus kepala BPPT. Sekolah ini digadang menjadi lembaga pendidikan menengah ke atas unggulan yang memadukan etos mendalami ilmu agama (Imtak) dan dunia sains (Iptek).
Tak mudah untuk masuk ke madrasah ini. Begitu juga dengan Siti A. Wanggita Sirfefa atau yang akrab disapa Tita. Ia mesti bersaing dengan ratusan, bahkan mungkin ribuan, calon siswa dalam tes ketat yang digelar Kementerian Agama. Proses seleksi tergolong sulit karena sedari awal madrasah ini diperuntukkan untuk para siswa pilihan dengan potensi akademik di atas rata-rata.
Menurut Tita, soal yang diujikan untuk masuk MAN IC Serpong levelnya tiga kali lebih tinggi dari soal Ujian Nasional (UN). Dengan standar seperti itu persaingan dipastikan menegangkan. Namun melalui kerja keras dan persiapan yang matang, Tita diumumkan lolos pada tes seleksi MAN IC Serpong 2014. Hatinya gembira. Dan di titik inilah babak baru pengalamannya dimulai.
Kebanggaan dirasakan oleh sang ayah, Moksen Idris Sirfefa. Dia merasa haru dan bahagia karena perjuangan yang dilakukan anakanya dengan belajar tekun salama di MTs telah membuahkan hasil. “Saya selalu berpesan agar anak saya tetap menjaga akhlak, mengejar prestasi dan tetap semangat karena MAN IC itu bukan tujuan akhir melainkan gerbang menuju cita-cita sesungguhnya. MAN IC adalah kawah candradimuka yang akan menggodok anak saya menjadi manusia bertaqwa, berprestasi, menguasai sains teknologi dan berakhlak mulia,” jelas Mohsen Sirfefa.
Lingkungan Baru, Tantangan Baru
MAN IC dibangun dalam bentuk boarding school atau madrasah berasrama. Para peserta didik di pagi hari menjalani rutinitas belajar formal di kelas-kelas hingga pukul sekitar 15.00 WIB. Di samping kultur religius yang begitu kental, di madrasah ini yang terasa adalah kompetisi akademik sesama siswa. Sebagaimana siswanya, guru-guru juga terdiri dari orang-orang pilihan hasil seleksi ketat dari berbagai daerah.
Di MAN IC Serpong, Tita bertemu dengan orang-orang dengan latar belakang ekonomi dan budaya yang beragam. Ia mesti bergaul dengan teman-teman baru yang mungkin tak selaras dengan gaya hidupnya selama ini. Di luar hubungan pertemanan, suasana berbeda juga dirasakannya dari berbagai kebijakan institusi sekolah yang ia singgahi.
Kebiasaan Tita sebagai “anak mama di rumah” membuatnya sedikit terkejut dengan suasana baru MAN IC yang mengharuskannya jauh dari rumah. Sempat terbesit perasaan tidak kerasan. Lebih-lebih beberapa rekannya yang berasal dari berbagai daerah pelan-pelan meminta pulang selamanya dari asrama karena tidak betah. Pulang dari asrama berarti keluar dari MAN IC. Putus belajar di tengah jalan semacam ini terjadi rutin tiap tahun di MAN IC. Karena didorong komitmennya untuk serius belajar, Tita berusaha tak merengek dan secara bertahap ia mulai beradaptasi.
Ketegarannya melawan ketidakerasanan sukses. Rasa penat berubah menjadi nikmat. Memang, sebelum masuk madrasah aliyah favorit ini, ia tidak sereligius sekarang. Ngaji di rumah hanya ia lakukan sesekali sehabis maghrib dan dilakukan sering tanpa pendampingan guru. Shalat dan serentetan ritual ibadah lainnya juga berlangsung longgar. Tapi justru di MAN IC lah ia menemukan oase baru, dan karenanya ia merasa senang dan tercerahkan.
Belum lagi ia mendapatkan kesempatan-kesempatan hebat di MAN IC ini, seperti KBS (Klub Bidang Studi) yang memungkinkan dirinya lebih fokus pada keahlian bidang tertentu, atau bahkan mengikuti kontes sains tingkat nasional maupun internasional. Di sekolah ini, Tita juga belajar melancarkan bahasa asing, terutama Arab dan Inggris. Setiap Rabu, Kamis, dan Jumat, seluruh pelajar di MAN IC Serpong diwajibkan berkomunikasi degan dua bahasa asing tersebut, di bawah pengawasan organisasi siswa intra sekolah (OSIS). Yang melanggar akan mendapat hukuman, biasanya dengan public speaking atau penampilan lain yang mendidik dan menantang.
Mendapatkan peringkat satu di MAN IC Serpong, bagi Tita tak semudah lagi ketika ia di MTs. Persaingan nilai tajam karena mesti berhadapan dengan para siswa di atas rata-rata. Standar belajar pun otomatis meningkat drastis dari pengalaman-pengalaman sebelumnya. Inilah mengapa Tita tak lagi juara 1 di kelas MAN IC, tapi cukup puas dalam 20 nilai teratas. Sebuah tantangan yang tak hanya memotivasinya untuk giat beribadah tapi juga kian rajin dan tekun berlipat-lipat dalam belajar.
Ingin Jadi Ekonom
Sejak awal Tita menggemari pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), meski dalam penjurusan di MAN IC ia akhirnya lolos sebagai siswa IPA (Ilmu Pengetahuan Alam). Namun hal tersebut tak menyurutkan kegemaran Tita pada mata pelajaran IPS ini, khususnya ekonomi. Bagi kakak perempuan dari dua bersaudara ini, bidang ekonomi adalah masa depan studinya.
Tita memendam cita-cita kelak menjadi pengacara dan pengamat ekonomi. Selepas dari MAN IC ia berniat melanjutkan kuliah di Universitas Indonesia (UI), salah satu perguruan tinggi favorit di Tanah Air. Jurusan yang hendak Tita ambil juga selaras dengan kecenderungan minatnya: ekonomi. Ia terlihat tak main-main dengan cita-citanya ini. Tita juga pernah aktif di pelatihan Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang ekonomi, sebuah wadah pendidikan bagi siswa yang dimungkinkan aktif di ajang olimpiade. Tapi Tita belum pernah tampil di olimpiade mana pun selama di MAN IC.
Mengapa tidak ingin kuliah di luar negeri saja? Menurut Tita, kampus di dalam negeri belum kalah mutu dengan dengan kampus luar negeri. Bahkan, kata dia, dengan kuliah di Indonesia jaringan di dalam negeri akan terbina dengan baik dan hal ini positif bagi masa depan karir kelak. Ia menilai ketika ia belajar di negara orang, bisa saja ia malah kehilangan relasi sekembalinya di Indonesia. Tapi ia pasrah soal karir ke depan. “Yang sekarang belajar, berusaha, dan berdoa,” tuturnya.
Dalam pandangan Kepala MAN IC Serpong, Dra. Persahini Sidik, Tita yang hobi membaca dan menggambar ini termasuk anak yang baik dan cekatan. Ia sanggup memimpin teman-temannya. Menurutnya, ia termasuk anak yang rajin dan bisa diandalkan untuk bidang-bidang tertentu. Di sekolah, Tita aktif di organisasi siswa intra sekolah (OSIS. Bagi Tita, OSIS menjadi tempat yang baik untuk melatih diri berorganisasi. Apalagi OSIS di MAN IC tergolong cukup otonom dalam memutuskan kebijakan-kebijakan internal sehingga bisa lebih berkreasi. Tita juga rajin dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga basket dan English Club. [Red: Anam]
No comments:
Post a Comment