Friday, September 30, 2016

IAIN Sultan Thaha Jambi Segera Bertransformasi Jadi UIN

[caption id="attachment_2706" align="aligncenter" width="640"]Kampus IAIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi. Kampus IAIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi.[/caption]

JAMBI, PENDIDIKANISLAM.ID - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Thaha Saifuddin Jambi bakal menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) yang peluncurannya direncanakan pada awal November 2016. Hal disampaikan oleh Wakil Rektor IAIN Sultan Thaha Jambi Dr H Suaidi Asyari.

“Saat ini dokumen perubahan status dari IAIN menjadi UIN Sultan Thaha Jambi sedang dalam proses, dan tinggal menunggu ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo,” katanya usai menjadi narasumber pada dialog publik yang diselenggarakan LPP RRI Jambi di Jambi, Kamis (29/9).

Bersamaan dengan IAIN Sultan Thaha Jambi, juga terdapat lima IAIN yang statusnya berubah menjadi UIN pada tahun 2016. "Yang jelas, semua syarat untuk menjadi UIN itu sudah kita penuhi, di antaranya jumlah mahasiswanya sudah lebih dari 10 ribu orang, program studi, areal kampus dan tenaga pengajar (dosen)," kata Suaidi menambahkan.

Prodi yang ada saat ini sebanyak 25 dan jika menjadi UIN akan ditambah lagi sebanyak 16 prodi umum. Selain itu, IAIN Sultan Thaha Saifuddin kini juga telah memiliki lahan lebih 80 hektare yang merupakan bantuan dari Pemerintah Provinsi Jambi.

Suaidi Asyari menjelaskan dengan peralihan status itu pada November itu maka diharapkan Maret 2017, UIN Sultan Thaha Saifuddin sudah bisa menerima mahasiswa baru. Di pihak lain, Wakil rektor menjelaskan setelah berubah status menjadi UIN dengan penambahan prodi baru maka konstribusi lembaga pendidikan ini nantinya akan mampu memberikan konstribusi lebih besar kepada daerah, termasuk pemerintah.

"Nanti kita memiliki prodi yang alumninya bisa mengisi peluang-peluang pekerjaan di Pemda, BUMN dan swasta lainnya, sebab UIN Sultan Thaha nantinya akan memiliki laboratorium yang lengkap atas bantuan Bank Pembangunan Islam," kata Suaidi Asyari menjelaskan.

Ia menandaskan, dengan berubahnya status dari IAIN menjadi UIN Sultan Thaha Saifuddin, maka kontribusi yang disumbangkan akan lebih besar ke daerah ini.

(Red: Fathoni Ahmad)

Source: Antara

Madrasah Ini Penuhi Kebutuhan Mengaji di Pedalaman Papua

mengaji-di-papuaBak rintik hujan di musim kering, begitulah gambaran kehadiran Madrasah Nigeiyah Ibadurrohman di Kampung Malakabu, Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Madrasah diniyah ini berdiri saat penduduk muslim setempat merindukan lembaga pendidikan agama bagi anak-anak yang belum pernah ada sejak kampung itu ada.

Madrasah Nigeiyah Ibadurrohman didirikan para aktivis NU tepat pada peringatan hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2015. Tak hanya dituntut mampu merangkul masyarakat adat setempat, mereka juga harus melewati tantangan sarana transportasi yang serba sulit karena letak kampung di pedalaman. Belum lagi fasilitas dan keterbatasan dana yang mereka miliki.

Koordinator aktivis NU di Papua Abdul Wahab mengatakan, madrasah tersebut dibangun dengan tujuan melayani warga untuk bisa belajar dan berkembang untuk meningkatkan martabat dan mutu kehidupanya. Madarasah itu juga menjadi jalan untuk memenuhi kebutuhan belajar masyarakat yang tidak dipenuhi dalam jalur pendidikan sekolah.

Gayung bersambut. Upaya mendirikan madrasah mendapat dukungan penuh dari tokoh dan warga lokal. Mereka yang memang sejak lama merindukan kehadiran lembaga pendidikan agama membuka diri seluas-luasnya dan berbondong-bondong mendorong putra-putrinya belajar di madrasah baru itu. Bahkan, kepala kampung dan pemuka agama setempat hadir dalam acara peresmian madrasah.

Dengan berbagai keterbatasan yang ada para aktivis NU pun memulai pendidikan diniyah di masjid kampung yang masih terbuat dari papan kayu. Di dalam masjid sederhana ini anak-anak pedalaman Papua belajar mengaji al-Qur’an, fiqih, tauhid, dan lainnya.

Mengakomodasi Lokalitas

Sejak awal madrasah ini sengaja diberi nama “Nigeiyah Ibadrurrohman”. Nigeiyah yang berarti cahaya diperoleh dari tokoh setempat di Suku Kokoda. Sedangkan "Ibadurrohman" diberikan Gus Munawir Bogor. Nigeiyah Ibadurrohman kira-kira memiliki arti cahaya hamba-hamba Dzat Yang Maha Pengasih. Pengambilan nama Nigeiyah merupakan usaha untuk mendekatkan madrasah dengan masyarakat sekitar.

Sebagai awal Madrasah Nigeiyah Ibadrurrohman memiliki kurang lebih 30 santri dan dua tenaga pendidik yang merupakan aktivis kiriman dua komunitas NU, Persaudaraan Profesional Muslim Aswaja dan Sarkub. Saat ini mereka juga tengah berusaha melibatkan warga lokal sebagai pengajar. Dengan demikian madrasah diniyah itu akan menjadi milik kampung.

Kurikulum ngaji rencananya juga diterapkan secara bertahap, fleksibel dan akomodatif. Kitab dan proses pembelajaran mengacu pada pendidikan di Pesantren, dengan menyesuaikan pola pikir dan budaya peserta didik secara perlahan. Materi-materi dasar Islam tetap menjadi prioritas ilmu yang diajarkan.

Kepala Kampung Malakabu Sudin Simurut memberi penghargaan yang tinggi atas kehadiran madrasah diniyah itu. Ungkapan syukur dan terima kasih mengalir deras dari mulutnya. Madrasah Nigeiyah Ibadurrohman menjadi jawaban atas masalah pendidikan agama di kampungnya yang lama tak terpenuhi.

“Kami punya anak ditinggal begitu saja, tidak tahu mengaji, tidak tahu ilmu shalat, maka kami sangat berterima kasih dengan dibukanya madrasah ini," ucapnya saat acara peresmian, sembari mengimbau puluhan anak yang hadir dapat membagi waktu dengan baik antara jadwal sekolah dan mengaji.

Sementara Abdul Ghani Tagate, tokoh agama setempat, menceritakan bagaimana sulitnya dirinya sekolah dan mengaji pada masa lalu. Untuk bisa mengaji, ia harus berjalan kaki dengan jarak cukup jauh. Kehadiran Madrasah Nigeiyah Ibadrurrohman melipat jarak itu menjadi sesuatu yang kini ada bersebelahan dengan rumah penduduk.

"Oleh karena itu, saya berharap agar kalian (anak-anak) memanfaatkan betul madrasah ini. Kalian (anak-anak) tak perlu menempuh jalan kaki yang jauh terlebih dahulu untuk bisa mengaji seperti saya. Saya berharap kalian bisa lebih pintar dari saya," tutur pria yang pernah menjuarai MTQ se-Kabupaten Sorong itu.

Madrasah diharapkan lebih hidup dan ramai santri sebagaimana kemeriahan yang tergambar pada acara pembukaan pertama. Saat itu sekitar 40 anak antusias datang ke masjid, mendengarkan kasidah dan shalawat yang didendangkan grup hadrah dari para aktivis NU, serta menyerap motivasi untuk tak henti mencari ilmu. Mereka juga bersama-sama menyayikan lagu Indonesia Raya dengan khusuk di ujung acara.

Hingga saat ini, madrasah digerakkan secara swadaya dengan semangat gotong-royong. Sumber dana diperoleh dari usaha sendiri dan sumbangan para donatur. Dengan berbagai minimnya fasilitas sebagai lembaga pendidikan rintisan, Madrasah Nigeiyah Ibadurrohman terus dipupuk agar berkembang subur. Sesuai dengan namanya, Madrasah Nigeiyah Ibadurrohman diharapkan menjadi penerang bagi warga sekitar. Cahaya yang membuat mereka hidup dalam ketercerahan dan saling kasih sayang. (Mahbib/NU Online)

Thursday, September 29, 2016

Memetik Hikmah dari Tahun Baru Hijriah

[caption id="attachment_2703" align="aligncenter" width="640"]Ilustrasi Tahun Baru Hijriah. Ilustrasi Tahun Baru Hijriah.[/caption]

Tahun baru hijriah yang kita peringati setiap tahun mengandung sejarah dan nilai-nilai yang terus relevan hingga kini. Nabi sendiri tak pernah menetapkan kapan tahun baru Islam dimulai. Begitu pula tidak dilakukan oleh khalifah pertama, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq. Awal penanggalan itu resmi diputuskan pada era khalifah kedua, Sayyidina Umar bin Khathab, sahabat Nabi yang terkenal membuat banyak gebrakan selama memimpin umat Islam.

Keputusan itu diambil melalui jalan musyawarah. Semula muncul beberapa usulan, di antaranya bahwa tahun Islam dihitung mulai dari masa kelahiran Nabi Muhammad. Ini adalah usulan yang cukup rasional. Rasulullah adalah manusia luar biasa yang melakukan revolusi ke arah peradaban yang lebih baik masyarakat Arab waktu itu. Karena itu kelahiran beliau adalah monumen bagi kelahiran perdaban itu sendiri. Tahun baru Masehi pun dimulai dari masa kelahiran figur yang diyakini membawa perubahan besar, yakni Isa al-Masih.

Yang menarik, Umar bin Khatab menolak usulan ini. Singkat cerita, forum musyawarah menyepakati momen hijrah Nabi dari Makkah menuju Madinah sebagai awal penghitungan kalender Islam atau kalender qamariyah yang merujuk pada perputaran bulan (bukan matahari). Karenanya kelak dikenal dengan tahun hijriah yang berasal dari kata hijrah (migrasi, pindah).

Memilih momen hijrah daripada momen kelahiran Nabi yang dilakukan Umar dan para sahabat lainnya mengandung makna yang sangat dalam. Kelahiran yang dialami manusia adalah peristiwa alamiah yang tak bisa ditolaknya. Nabi Muhammad pun saat lahir tak serta merta diangkat menjadi nabi kecuali setelah berusia 40 tahun. Beliau kala itu hanyalah bayi putra Abdullah bin Abdul Muthalib. Hal ini berbeda dari hijrah yang mengandung tekad, semangat perjuangan, perencanaan, dan kerja keras ke arah tujuan yang jelas: terealisasinya nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil ‘alamin).

Nabi memutuskan hijrah setelah melalui proses panjang selama 13 tahun di Makkah dengan berbagai tantangan dan jerih payahnya. Mula-mula beliau berdakwah secara tersembunyi, dimulai dari keluarga, orang-orang terdekat, dan pelan-pelan lalu kepada masyarakat luas secara terbuka. Selama itu, Rasulullah mendapat cukup banyak rintangan, mulai dari dicaci-maki, dilempar kotoran unta, kekerasan fisik, hingga percobaan pembunuhan. Semua dilalui dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaan. Modal utama hingga hingga beliau berhasil menyadarkan sejumlah orang adalah akhlak mulia.

Rasulullah tampil sebagai agen perubahan di tengah masyarakat Arab yang begitu bejat. Asas tauhid melenceng jauh karena menganggap berhala sebagai Tuhan. Nilai-nilai kemanusiaan juga nyaris tak ada lantaran masih maraknya perbudakan, fanatisme suku, harta riba, penguburan hidup-hidup bayi perempuan, dan lain-lain. Rasulullah yang hendak mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat jahiliyah mesti berhadapan para pembesar suku yang iri dan tamak kekuasaan, termasuk dari paman beliau sendiri, Abu Jahal dan Abu Lahab. Pengikut Islam bertambah, dan secara bersamaan bertambah pula tekanan dari musyrikin Quraisy. Hingga akhirnya atas perintah Allah, Nabi Muhammad bersama para sahabatnya berhijrah dari Makkah ke kota Yatsrib yang kelak dikenal dengan sebutan Madinah.

Perjalanan hijrah dilakukan di malam hari dengan cara sembunyi-sembunyi dan penuh kecemasan, menghindari kejaran kaum musyrikin Quraisy. Beruntung kala di kota Yatsrib, Rasulllah bersama sahabat-sahabatnya disambut positif penduduk setempat. Sebagian dari mereka mengenal Islam dan bahkan sudah beraiat kepada Nabi saat di Makkah. Di sinilah Nabi membangun peradaban Islam yang kokoh. Jumlah penganut semakin banyak, semangat persaudaraan antara Muhajirin dan Anshor dipupuk, dan kesepakatan-kesepakatan dengan kelompok di luar Islam diciptakan, demi terwujudnya kehidupan masyarakat yang damai.

Mula-mula yang dilakukan Nabi setelah hijrah adalah mengubah nama dari Yatsrib menjadi Madinah. Mengapa Madinah (yang sekarang dimaknai sebagai “kota”)? Secara bahasa madînah berarti tempat peradaban. Perubahan nama ini memberi pesan tentang pergeseran pola perjuangan Nabi yang semula di Makkah banyak dipusatkan pada penyadaran pribadi-pribadi, menuju dakwah dalam konteks sosial yang terorganisisasi dalam negara Madinah.

Di sini konstitusi (mitsaq al-madinah atau Piagam Madinah) dibangun, struktur pemerintahan disusun, dan aturan-aturan Islam seputar muamalah (hubungan antarsesama) banyak dikeluarkan di sana. Tentang Piagam Madinah, Nabi menjadikannya sebagai titik temu dari masyarakat Madinah yang plural saat itu, yang meliputi orang Muslim, orang Yahudi, suku-suku di Madinah, dan lain-lain. Demikianlah hijrah Nabi yang monumental itu seperti mendapatkan momentum puncaknya, yakni terwujudnya masyarakat yang beradab.

Setidaknya ada dua poin yang perlu digarisbawahi dari ulasan tersebut. Pertama, tahun baru hijriah harus dimaknai dalam kerangka perjuangan Nabi dalam merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan universal yang berlandaskan asas ketuhanan dalam Islam (rahmatan lil ‘alamin). Nabi sebagai sosok—termasuk momen kelahirannya—memang layak dihormati, tapi ada yang lebih penting lagi yakni spirit dan prestasi beliau sepanjang periode risalah. Dalam perjuangan itu ada ikhtiar, pengorbanan, keteguhan prinsip, keseriusan, kesabaran, dan keikhlasan.

Nabi dan para sahabatnya menunjukkan ketulusan yang luar biasa semata hanya untuk jalan Allah. Namun justru karena niat seperti inilah mereka mendapatkan banyak hal, termasuk persaudaraan, keluarga baru, hingga kekayaan dan kesejahteraan selama di Madinah. Keikhlasan dan kerja kerasa dalam membangun masyarakat berketuhanan sekaligus berkeadaban berbuah manis meskipun tantangan akan selalu ada. Inilah teladan yang berikan Nabi dari hasil berhijrah.

Poin kedua adalah kenyataan bahwa Nabi tidak membangun negara berdasarkan fanatisme kelompok atau suku. Rasulullah menginisasi terciptanya kesepakatan bersama kepada seluruh penduduk Yatsrib untuk kepentingan jaminan kebasan beragama, keamanan, penegakan akhlak mulia, dan persaudaraan antaranggota masyarakat. Tujuan dari kesepakatan tersebut masih relevan kita terapkan hingga sekarang.

Inilah hijrah yang tak hanya bermakna secara harfiah “pindah tempat”, melainkan juga pindah orientasi: dari yang buruk menjadi yang baik, dari yang baik menjadi lebih baik. Dan Rasulullah meneladankan, perubahan tersebut tak hanya untuk dirinya sendiri tapi juga untuk masyarakat secara kolektif.***

Source: NU Online

MAN di Jombang Ini Berhasil Kembangkan Jiwa Wirausaha Siswa

wirausaha-man-1-jombangMadrasah Aliyah Negeri 1 Jombang berhasil mengembangkan jiwa kewirausahaan siswanya. Atas prestasinya, madrasah dibawah naungan Kantor Kementrian Agama yang memiliki siswa sebanyak 1400 anak ini bahkan menjadi juara tingkat nasional.

“Kita memang menanamkan jiwa wirausaha kepada anak didik sejak di sekolah, sehingga mereka tidak malu untuk melakukan usaha,” ujar Syamsul Ma’arif Kepala MAN 1 Jombang Jawa Timur ditemui di sekolah.

Salah satu wujud usaha yang dilakukan siswanya, adalah dengan berjualan secara mandiri, nasi bungkus di sekolah untuk sarapan atau makan siang. Para siswa yang memiliki usaha ini biasanya membawa nasi bungkusan, kue di depan kelas saat istirahat sekolah.

”Mereka tidak malu, menjual nasi bungkus di depan kelas masing masing. Dan ternyata memang peminatnya banyak,” imbuhnya seraya mengatakan meski sekolah juga menyediakan kantin untuk ‘jajan’ anak didik mereka.

Menurut Syamsul, untuk Kantin, sekolah memberikan kebebasan kepada keluarga pengajar dan pegawai untuk berjualan. Namun Madrasah mensyaratkan, makanan yang dijual harus sehat dan tidak membahayakan siswa. ”Seperti tidak boleh pakai Saos dan bahan pengawet lainnya,” tuturnya.

Kantin atau warung yang disediakan sekolah, terlihat sangat luas layaknya warung lesehan. Dengan jumlah penjual sebanyak 4 ruangan. Mereka adalah keluarga pegawai dan pengajar MAN 1 Jombang.

Disamping usaha makanan sebagai pemenuhan kebutuhan siswa sehari hari, MAN 1 Jombang juga memiliki usaha mandiri, yakni membuat minuman sehat yang berbahan jahe. Kegiatan kewirausahaan di Madrasah yang pernah mengantarkan sebagai Juara Tingkat Nasional ini diantaranya adalah Koperasi Madrasah, Unit Usaha Minuman Sehat, Kantin Sehat, Rumah Komposting, Bank Sampah, dan 3R (Pengolahan barang bekas menjadi produk seni bernilai jual).

“Dengan unit unit usaha yang ada, madrasah ini dapat memberikan pendidikan dan pelatihan kewirausahaan bagi seluruh peserta didiknya karena semua unit melibatkan guru dan peserta didik dalam penyelenggaraannya,” imbuhnya.

Bahkan, untuk usaha minuman dari jahe, ada lahan khusus yang disediakan madrasah untuk membudidaya  dilingkungan sekolah. Madarasah juga memberikan kebebasan kepada siswa atau orang tua siswa untuk menjual hasil produksi minuman sehat.

”Kalau permintaan banyak, siswa dan orang tua siswa juga bisa ikut berperan membuat di rumah masing masing dan dipasarkan,” tandas Syamsul mengatakan hal ini sebagai bentuk membangun jiwa kewirausahaan siswa.

Bank Sampah

Dalam pengelolaan Bang Sampah, Madrasah yang memiliki wawasan lingkungan dan menjadi rujukan sekolah Adiwiyata ini berhasil mengelola sampah basah menjadi bahan pupuk organik.

“Untuk setiap hari sampah dikumpulkan di lahan yang telah disediakan dan selanjutnya di pilah antara sampah organik, kita juga kerjasama dengan petani bunga untuk distribusi pupuk ini,” tambah Syamsul membeberkan.

Sedangkan untuk plastik dan yang lainnya dikumpulkan tersendiri, oleh masing masing siswa setiap kelasnya. Hasilnya dapat menopang dan menjadi sumber dana untuk kegiatan-kegiatan di Madrasah.” Hasil penjualan di Bang Sampah uangnya bisa masuk kas setiap kelas yang menyetorkan, dan bisa digunakan untuk kebutuhan masing masing kelas yang menyetorkan,” tandasnya.

Prestasi Akademik

MAN 1 Jombang berada di pusat kota yang menjadi pusat kawasan pendidikan di Kota santri. Meski harus bersaing dengan beberapa SMAN di bawah naungan Dinas Pendidikan,  Madrasah di bawah naungan Kemenag ini prestasinya bisa diandalkan. Buktinya, dalam bidang akademik, salah satu siswanya berhasil menjadi Juara II lomba bidang Kimia tingkat regional di Jawa Timur.

Bahkan, MAN 1 Jombang ini menjadi sekolah pilihan nomor satu saat penerimaan siswa baru. Sehingga saat penerimaan siswa baru terpaksa harus banyak yang ditolak.

”Tahun (2015) ini yang daftar saja mencapai 760 pendaftar, namun yang kita terima hanya 450 siswa, atau 11 kelas saja,” ungkap Syamsul menyampaikan.

Pihaknya tidak takut untuk bersaing dengan sekolah umum lain, meskipun keberadaannya berhadapan dengan sekolah paling favorit di Jombang, yakni SMAN 2 Jombang. Karena dari sisi akedemik, dikatakannya sebanyak 47 siswanya bisa diterima di PTN melalui jalur undangan.

”Ada yang di UGM, ITS, Unaer, UI dan beberpa PTN lain. Untuk totalnya lulusan kemarin ada sekitar 171 yang diterima di PT baik umum maupun agama,” tambahnya seraya mengatakan banyak putra putri pengajar SMAN dan pegawai di lingkungan pemkab Jombang yang memilih sekolah di MAN Jombang. (Muslim Abdurrahman/NU Online

Tuesday, September 27, 2016

Daya Tarik Pesantren Amtsilati Jepara

pesantren-amtsilatiTerlihat sekilas dari depan, Pesantren Darul Falah Amtsilati sepertinya adalah pesantren kecil yang stagnan dan tidak berkembang. Namun setelah masuk ke dalamnya, pesantren ini sangat luas. Pesantren ini memiliki luas sekitar 5 hektar. Padahal, awal berdiri pesantren ini hanya berukuran 10x10. Bagaimana kisahnya?

Terletak di desa Sidorejo Kecamatan Bangsri Kabupaten Jepara Jawa Tengah, keunikan dari pesantren Darul Falah ini adalah pembangunan fisik pesantren yang tiada henti. Terhitung sudah sekitar 13 tahun –berdiri tahun 2002- Pengasuh Pesantren Darul Falah, KH Taufiqul Hakim, terus berjuang membangun pesantren seluas-luasnya. Namun bangunan fisik hanya menjadi sesuatu yang terlihat sekilas saja oleh pandangan mata, sebenarnya apa yang dimiliki oleh Pesantren Darul Falah ?

Pesantren ini termasuk salah satu pondok pesantren yang terus berkembang karena memiliki suatu karakteristik yang berbeda dengan pesantren lain dengan keunggulan metode Amtsilati yang ditemukan oleh pengasuhnya sendiri.

Metode Amtsilati menjadi daya tarik tersendiri bagi pesantren ini. Metode ini merupakan sebuah metode pembelajaran kitab kuning dengan pembelajaran yang praktis dan cepat. Di tengah anggapan masyarakat bahwa belajar kitab kuning dengan nahwu-sharafnya adalah ilmu yang menakutkan karena harus bertahun-tahun mempelajarinya, Amtsilati menghadirkan akselerasi yang menjadi solusi atas pembelajaran nahwu-sharaf tradisional yang stagnan.

Kiai taufiqul hakim, penulis Amtsilati sekaligus pengasuh pesantren Darul Falah ini juga termasuk kiai muda yang produktif. Semenjak menulis Amtsilati dari tahun 2002 sampai sekarang 2015, dia sudah menulis kurang lebih 150 kitab. Selain menulis, ia juga membangun percetakannya sendiri dan memasarkannya sendiri dibantu dengan koordinator di setiap daerah di Indonesia.

Sejarah Amtsilati

Amtsilati lahir, berawal dari kegundahan seorang Taufiq muda yang merasa sulit membaca kitab kuning meskipun ia sudah menghafal Alfiyyah. Di saat itu juga lahir sebuah metode Qiraati, metode yang mengupas cara membaca yang ada harokatnya, terinspirasi dari Qiraati, ia juga ingin menulis yang bisa digunakan untuk membaca yang tidak ada harokatnya. Terbetiklah nama Amtsilati yang berarti beberapa contoh dari saya yang sesuai dengan akhiran ‘ti’ dari Qiroati.

Mulai tanggal 27 Rajab, tahun 2001 M., Kiai Taufiq mulai merenung dan muncul pemikiran mujahadah. Setiap hari dia melakukan mujahadah terus-menerus sampai tanggal 17 ramadhan. Hari itu, seakan-akan ada dorongan kuat untuk menulis. Siang malam ia ikuti dorongan tersebut dan akhirnya tanggal 27 ramadhan selesailah penulisan Amtsilati dalam bentuk tulisan tangan. Amtsilati tertulis hanya sepuluh hari.

Subhanallah, saat itu kisah lahirnya Amtsilatinya saja menjadi kisah menarik dan inspiratif. Amtsilati lahir dari sebuah kejernihan hati seorang penulisnya. Dari seorang santri yang mengikuti thariqat di Pesantren Al-Manshur Klaten dan menyelesaikan thariqotnya hanya 100 hari, lahir Amtsilati, sebuah kitab fenomenal.

Perjalanan Amtsilati sedikit-demi sedikit menampakan hasilnya yang brilian. Semenjak muncul Amtsilati dengan pesantrennya, Darul Falah, dari tahun 2002 sampai tahun 2015 ini, banyak sekali prestasi yang dicapai baik oleh Pengasuhnya, santrinya maupun pesantrennya.

Amtsilati Saat Ini

Dalam kurun waktu sekitar 13 tahun –berdiri tahun 2002- Darul Falah Amtsilati terus mengembangkan jati dirinya baik itu dari segi fisik bangunan, tingkat pendidikan, metode pembelajaran, maupun dari kuantitas santri. Seperti yang dikatakan oleh Kiai Taufiqul Hakim bahwa saat ini Pesantren Darul Falah sudah memiliki sekitar 2500 santri baik putra maupun putri. Luas pesantrennya sudah mencapai 5 hektar. Pencapaian ini didukung oleh manajemen dalam mengelola pesantren dengan baik.

Bahkan pembangunan pesantren Darul Falah seperti tiada henti. Saking herannya, para ustadz, santri dan masyarakat keheranan dapat uangnya dari mana. Pendapat itu seakan wajar saja dikatakan, melihat pembangunan Darul Falah yang cepat. Padahal jika diamati dari pemasukan biaya yang masuk ke Pesantren Darul Falah bisa dianggap cukup wajar jika pembangunan pesantren bisa maksimal. Pemasukan utama pesantren yaitu dari sodaqoh santri baru, syahriyah santri, koperasi pesantren dan percetakan Amtsilati.

Tidak hanya dari fisik pesantren, Kiai Taufiqul Hakim terus berinovasi dalam memajukan pendidikan pesantren. Terbukti Amtsilati memiliki tingkat pendidikan yang bisa dikata lengkap. Mulai dari jalur formal yaitu, MI (Madrasah Ibtidaiyyah) Tahfidz Amtsilati, SMP IT (Islam Terpadu) Amtsilati sampai MA (Madrasah Aliyah) Amtsilati. Dari jalur non-formal, yaitu progam metode Amtsilati, kemudian  progam pasca Amtsilati yang terdiri dari komunikasi bahasa Arab-Inggris dan Madin Wustho dan Ulya Amtsilati.

Dari segi prestasi yang diperoleh santrinya, sekitar 50 lebih piala yang berhasil dibawa pulang ke Darul Falah. Diantaranya, Mas Agus Azro Halim mendapatkan juara II Bidang Tafsir Ulya dalam Mufakat (Musabaqah Fahmil Kutub Turats) tahun 2011. Kabar terbaru, bulan April 2015 lalu santri Amtsilati memborong 20 piala dari beragam bidang kategori dalam MQK Kabupaten Jepara. (Sabiq Al-Aulia Zulfa/NU Online)

Monday, September 26, 2016

Guru PAI Didorong Terus Lakukan Pembelajaran Islam Damai di Sekolah

[caption id="attachment_2684" align="aligncenter" width="640"]Ilustrasi pembelajaran agama. Ilustrasi pembelajaran agama.[/caption]

SORONG, PENDIDIKANISLAM.ID - Kawasan Indonesia Timur memiliki teladan dalam dakwah Islam yang damai dan toleran. Salah satunya adalah Sultan Babullah. Sebagai Raja, Sultan Babullah dikenal sukses dalam dakwah karena pendekatannya yang mengedepankan cara-cara damai dan dialog antara Kesultanan Ternate dengan tokoh-tokoh Kristiani dan agama lainnya.

Karenanya, sudah semestinya para guru Pendidikan Agama Islam (PAI), khususnya di Ternate dan Papua untuk mencontoh pendekatan dakwah Sultan Babullah. Pesan ini disampaikan Pgs. Direktur Pendidikan Agama Islam pada Sekolah M. Nur Kholis Setiawan saat memberikan pembekalan kepada peserta Workshop Peningkatan Kompetensi Guru PAI di Sekolah di Sorong, Sabtu (24/9).

Diikuti para guru PAI di kawasan Indonesia Timur, kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Agama dalam meningkatkan kompetensi Guru PAI, khususnya dalam memperkuat wawasan keagamaan yang damai sebagaimana dicontohan oleh para penyebar Islam di kawasan Papua dan Maluku.

Menurut Nur Kholis Setiawan, keberhasilan dakwah Islam Sultan Babullah tidak terlepas dari kesuksesannya dalam memadukan fiqih dan tasawuf. Dua entitas itu menjadi penentu, karena Islam yang sampai di sini adalah Islam yang bercorak fiqih dan tasawuf.

"Fiqih mengajarkkan cara berfikir kreatif dan memberi solusi atas berbagai masalah, sementara tasawuf mengajarkan tatanan masyarakat dan harmoni sosial," ujarnya dilansir laman kemenag.go.id.

Dalam tradisi literasi Muslim, pendekatan dakwah Sultan Babullah dapat ditelusuri rujukannya pada karya-karya ulama terdahulu, salah satunya kitab Sulamut Taufiq yang ditulis pada sekitar abad 16-17. Kitab Fiqih bercorak sufistik ini telah diberikan syarah oleh dua ulama nusantara yaitu Syaih Nawawi Al-Bantani (Mirqatu Su'udit-Tashdiq), dan Mbah Abdul Hamid Pasuruan (Nadzam Sulamut Taufiq). Kedua ulama tersebut juga dikenal sebagai tokoh sentral dalam membangun harmoni di nusantara ini. Lebih dari itu, keduanya adalah guru bagi ulama masa kini yang terus berproses dalam tradisi belajar, mengajar, dan mengamalkan.

"Fahadza juz'un latiifun yassarahu Allahu ta'ala fi-ma yajibu ta'allumuhu wa ta'limuhu wal-'amalu bihi lil 'aami wal khaasi (ini adalah bagian (kitab) sederhana. Semoga Allah memudahkan bagi orang yang mempelajari, mengajarkan, dan mengamalkan baik untuk kalangan umum dan kelompok khusus)," demikian M. Nur Kholis mengutip salah satu penggalan kalimat pada muqaddimah Kitab Syarah Sulamut Taufiq yang berjudul Mirqatu Su'udi Tashdiq karya Syeh Nawawi Al Bantani.

Menurutnya, kalimat tersebut mengandung pesan tentang kewajiban belajar, mengajar, dan mengamalkan. Ketiga terminologi itu terkait erat dengan dunia pendidikan, khususnya tugas bagi para pendidik (guru). Para Guru tidak mengkin bisa menjadi guru yang baik dan professional, jika ia tidak mempunyai tradisi belajar atau meningkatkan kapasitas dirinya.

"Guru tidak boleh berhenti untuk terus melakukan peningkatan kualitas, selalu mengupgrade pengetahuan, pengalaman dan ketrampilannya sehingga tidak ketinggalan zaman," katanya.

Pesan kedua dari kitab itu adalah keharusan guru untuk mengajarkan ilmu pengetahuan dengan kreatif dan inovatif. Karena menurut Nur Kholis Setiawan, para siswa/i sekarang tentu berbeda dari pada masa ketika bapak-ibu pertama kali menjadi guru. Sekarang sudah banyak teknologi informasi. Indonesia menjadi pengguna sepuluh besar pengguna medsos di dunia. Anak-anak kita bisa jadi fisiknya ada di Sorong, tetapi imajinasinya sedang di New York atau belahan dunia lainnya.

Di siniah diperlukan perubahan paradigmatik tentang cara menyampaikan (mengajarkan). "Makanya guru wajib selalu meningkatkan kapasitas diri, bagaimana cara mengajarnya sehingga tantangan yang dihadapi anak-anak hari ini dapat diimbangi dengan baik," ujarnya.

Kewajiban guru ketiga adalah mengamalkan ilmunya. Guru PAI tidak semata berada dalam level kognitif tetapi juga harus menguasai domain afeksi dan psikomotorik. "Seorang pendidik dituntut menjadi uswah hasanah, role model bagi para murid bahkan masyarakatnya," tandas Nur Kholis.

"Peran bapak dan ibu Guru PAI adalah menjadikan mereka menjadi muslim yang beneran, makanya harus upgrading (knowledge), menyampaikan (mengajarkan), dan memberikan uswah hasanah atau teladan yang baik," tambahnya.

Sementara itu, Abdul Rumkel, Kepala Bidang Pendidikan Islam Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua Barat, menyambut baik prakarsa Direktorat PAIS dalam menyelenggarakan kegiatan peningkatan kompetensi Guru PAI di Sekolah, khususnya di wilayah Papua Barat dan Papuan. Bagi Rumkel, "Guru harus selalu disegarkan pengetahuan dan ketrampilannya dalam menghadapi tantangan global".

Senada dengan hal itu, Unang Rahmat, Kasubdit PAI pada SMA bertekad agar guru-guru PAI termasuk di Papua Barat dan Papua harus mendapatkan perlakuan yang sama dalam hal meningkatkan kualitas diri dengan wilayah Indonesia lainnya. Agar bisa melibatkan lebih banyak peserta, lanjutnya, lokasi kegiatan sengaja diselenggarakan di Sorong. "Kalau diselenggarakan di Jakarta tentu tidak akan banyak guru yang terlibat di Papua Barat ini dan biayanya juga tidak sedikit," tandasnya. (Red: Fathoni Ahmad)

Source: Kemenag

Saturday, September 24, 2016

Pesantren Mahasiswa Ini Jadikan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan

al-hikam-malangPondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam yang dipimpin oleh KH A Hasyim Muzadi resmi berdiri pada tanggal 3 Juli 1989 berdasarkan dengan akte notaris NO 47/ 1989 atas nama Yayasan Al Hikam Malang. Kemudian Pesantren Mahasiswa Al Hikam sendiri secara resmi berdiri pada tanggal 17 Ramadlan 1413 H/ 21 Maret 1992.

Pesantren Mahasiswa (Pesma) Al Hikam yang beralamatkan di Jl. Cengger Ayam No. 25 Lowokwaru Kota Malang bercita-cita untuk menggabungkan sisi positif perguruan tinggi dan pesantren untuk mewujudkan generasi yang mempunyai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbudi pekerti luhur serta memiliki kepribadian dengan tetap memegang budaya dan semangat keIndonesiaan. Selain itu, Pesma Al-Hikam yang biasa disebut oleh para santri memiliki Motto “Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, dan Kesiapan Hidup

Untuk sampai kepada tujuan pendidikan di Pesma Al Hikam. Santri diberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan minat dan bakatnya di berbagai media aktivitas yang ada di pesantren Mahasiswa Al Hikam. Media-media aktivitas tersebut antara lain : Organisasi Santri Pesantren Mahasiswa Al Hikam (Ospam), KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Al Hikam, Taman Pendidikan Al-Qur’an Al Hikam, Mini Market Al Hikam, dan Unit Teknologi Informasi (UTI).

Diharapkan dengan berbagai aktivitas positif di dalam masing-masing unit tersebut santri yang aktif akan memiliki keterampilan dan pengetahuan praktis dalam mengelola lembaga, mengenal, melayani orang lain dan lingkungan, menyusun program, pengalaman kepemimpinan, dan keterampilan teknis tertentu yang mungkin tidak didapat secara langsung dari kelas baik di kampus maupun di pesantren.

Pengembangan perpustakaan 

Keberadaan perpustakaan dan pusat informasi berawal adanya taman bacaan, dimana koleksinya masih berupa kumpulan koleksi milik pengasuh yakni KH A Hasyim Muzadi yang dimanfaatkan oleh para santri untuk kebutuhan pengkayaan ilmu pengetahuan dan penumbuhan daya pikir santri. Pada saat itu koleksi perpustakaan masih belum dikelola secara profesional.

Sesuai dengan perkembangan waktu, keberadaan taman bacaan semakin dirasakan sebagai kebutuhan untuk mendukung kegiatan lembaga induknya, yaitu Pesma Al Hikam, STAI Ma’had Aly (STAIMA), maka sejak tahun 2003 bersamaan dengan berdirinya STAI Ma’had Aly (STAIMA), unit tersebut menjadi unit perpustakaan dan pusat informasi yang dikelola secara profesional oleh para pustakawan ahli yang terdiri dari 2 orang sarjana perpustakaan, 1 orang tenaga teknisi perpustakaan, 2 orang tenaga bantu yang memiliki kualifikasi kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Pada tahun 2011 koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan mencapai 5850 judul, 15.992 eksemplar yang dilengkapi dengan barkode dan terekam dalam pangkalan data (database) dan dilengkapi dengan opac (online public acces catalogue) dan jaringan internet. Disamping itu memiliki koleksi virtual library yang berjumlah 68 judul dengan subyek Al-Qur’an, Tafsir, Hadits, bahasa Arab, bahasa Inggris, kajian keislaman. Koleksi tersebut terpasang dalam OPAC (Online Public Acces Catalouge) atau AISAL (Al-Hikam Integreted Self Access Learning). Untuk mengetahui koleksi buku dan kitab yang dimiliki oleh perpustakaan al-Hikam dapat diakses di: http://al-hikam.ddns.net/

Sedangkan terkait akses ilmu pengetahuan, menurut Wakil Pengasuh Pesma Al-Hikam, KH Muhammad Nafi’ perpustakaan Al Hikam juga sudah sangat representatif. Dari data perpustakaan Al Hikam, terdapat 6.704 judul buku dengan total 17.304 eksemplar. Selain itu, terdapat sekitar 5.000 judul kitab berupa e-Book.

”Kita sadar akan pentingnya perpustakaan, apalagi pesantren kita khusus untuk mahasiswa,” tandas pengurus PCNU Kota Malang yang juga menantu Mbah Muhith Muzadi. (Ahmad Rosyidi/NU Online)

 

Friday, September 23, 2016

Kiai Google

kiai-googleRevolusi komunikasi terjadi setelah teknologi telepon genggam yang pengirimkan paket suara dengan jaringan nirkabel dan terhubung melalui satelit meningkat pada tahun 1960-an menjadi pengiriman citra dan paket data. Teknologi baru ini disebut internet. Awalnya internet hanyalah merupakan jaringan longgar dari ribuan jaringan komputer di berbagai belahan dunia yang menyediakan sarana bagi para peneliti untuk mengakses data dari sejumlah daya perangkat-keras komputer yang mahal dan terbatas. Namun tidak lama berselang, internet telah berkembang menjadi wahana komunikasi yang sangat cepat dan efektif dan menjangkau jutaan orang di seleuruh dunia. Sistem komunikasi lewat internet menyebabkan dunia terhubung tanpa ada sekat ruang dan waktu.

Perkembangan teknologi selalu berlangsung cepat. Revolusi komunikasi berikutnya terjadi setelah ditemukannya mesin pencari otomatis yang bisa menjangkau data dari berbagai situs internet di berbagai belahan dunia dalam waktu sekejap. Mesin pencarian (search engine) yang paling populer dan sudah digunakan di berbagai belahan dunia adalah Google. David A. Vise, penulis Kisah Sukses Google bahkan menyejajarkan penemuan Google oleh Larry dan Sergey dengan penemuan mesin cetak modern oleh Gutenberg pada 500 tahun silam.

Pada saat pertama kali diperkenalkan pada tahun 1996 dengan nama BackRub, Google sudah bisa menjelajah dan men-download kira-kira 100 halaman perdetik. “Belum ada temua sedahsyat Google yang memungkinkan permberdayaan begitu banyak orang, serta memudahkan akses mereka kepada informasi,” tulisnya.

Google adalah mesin pencari di Internet yang berbasis di Amerika Serikat. Dengan tampilan dan warna yang kanak-kanak itu, saat ini Google sudah menjadi mesin pencari paling populer di web dan menerima setidaknya 200 juta permintaan pencarian setiap hari melalui berbagai situs internet. Misi Google adalah, “untuk mengumpulkan informasi dunia dan menjadikannya dapat diakses secara universal dan berguna.” Filosofi Google meliputi slogan seperti “Don`t be evil”, dan “Kerja harusnya menatang dan tantangan itu harusnya menyenangkan”, menggambarkan budaya perusahaan yang santai.

Saat ini sebenarnya sudah semakin banyak mesin pencarian di internet dan gratis. Para “santri virtual” di Indonesia juga membuat search engine Aswaja dengan model dan sistem filterisasi khusus. Namun lagi-lagi Google sudah selangkah di depan dan menambah berbagai fasilitas pencarian. Sebagian besar orang menjadikan Google sebagai alamat pertama yang dituju ketika berselancar mencari berbagai informasi di internet, termasuk ketika ingin mencari berbagai informasi mengenai agama Islam.

Sekarang ini orang tidak akan bersusah payah mendatangi rumah kiai atau ustadz, atau membuka-buka lembaran kitab yang rumit ketika mereka menemukan problem atau berbagai pertanyaan mengenai agama Islam. Mereka cukup berselancar dengan internet atau mencari jawaban dengan mengetikkan satu-dua kata di Google atau mesin pencarian lain di internet.

Para pengguna internet juga sudah dimanjakan dengan teknologi layar sentuh (touch screen) dan dipandu dengan fitur dan gambar-gambar. Anak-anak atau orang yang awam dengan komputer pun bisa memanfaatkan fasilitas teknologi ini dibanding dengan zaman dulu yang masih menggunakan tombol dan huruf. Tanpa panduan, kursus atau belajar secara khusus pun anak-anak TK pun sudah bisa menggunakan fasilitas internet dengan sendirinya.

Tidak hanya dari layar komputer, internet bisa diakses dengan smartphone dengan fasilitas layar sentuh, dan tidak selalu berbandrol mahal. Jasa penyedia layanan paket data juga sangat banyak sekarang dan cukup aktif melakukan promosi.

Generasi muslim yang kajian komunikasi modern disebut Generasi Y (young generation) atau anak-anak di Indonesia yang baru lahir pada tahun 2000-an adalah generasi yang hidup dengan fasilitas internet di depan mata. Mereka sudah mengenal dan memanfaatkan teknologi informasi dengan baik. Generasi baru ini juga lebih sering berkomunikasi dengan dunia internet dari pada dengan sekolah atau keluarga. Sebagian orang tua mereka juga telah mempunyai kesibukan rutin yang tidak dapat diganggu gugat. Generasi baru ini yang mendominasi kelompok “bargain hunter” yang rela berjam-jam untuk bermain dan berselancar dengan internet, bermain dan mencari informasi dan menambah ilmu pengetahuan.

Generasi Y inilah yang perlu mendapatkan perhatian lebih terkait perkembangan teknologi komunikasi. Merekalah yang terutama ingin mencari atau secara tidak sengaja mendapatkan berbagai hal mengenai keislaman dari internet. Anak-anak kecil dan para pemuda yang mulai tumbuh seringkali mengutarakan berbagai pertanyaan tentang Islam. Dan berbeda dengan prosedur konvensional, dengan bertanya atau membaca buku, melalui internet yang dipandu dengan mesin pencarian seperti Google, dalam sekejap mereka akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang mereka ajukan –entah jawaban yang mereka temukan benar atau bahkan mungkin menyesatkan.

Lebih praktis

Bukan rahasia lagi, trend belajar dan mencari informasi keislaman lewat internet tidak hanya merambah kalangan awam dan anak-anak. Para cendekiawan dan akademisi Muslim juga menjadikan internet sebagai jalan pintas untuk memperoleh berbagai sumber rujukan. Para dosen dan mahasiswa Islam justru menjadi kelompok terdepan dalam memanfaatkan mesin pencari Google untuk mendapatkan berbagai materi yang akan dikajinya, paling tidak sebagai informasi awal untuk masuk ke dalam kajian yang bahkan belum pernah dikaji sebelumnya. “Mbah Google” disebut-sebut sebagai narasumber yang serba tahu dan bisa memberikan informasi keislaman apa pun yang dibutuhkan. Mesin pencarian otomatis yang terkoneksi dengan jaringan internet di berbagai belahan dunia memang beberapa langkah lebih canggih dari pada perpustakaan selengkap apapun.

Pencarian informasi keislaman melalui internet apalagi dioperasikan lewat smartphone itu itu sangat mudah, tinggal pencet seketika waktu ketika orang membutuhkan informasi. Cara ini tentu lebih mudah dibanding bertamu atau menghubungi kiai atau ustadz penyuluh, dan juga lebih mudah dibanding membuka halaman perhalaman kitab kuning untuk mencari sendiri penjelasan yang dimaksud.

Alasan berikutnya mengapa orang lebih suka belajar agama lewat internet karena ia selalu bisa menjawab apapun pertanyaan yang diajukan, meskipun tidak selalu jawaban yang disampaikan internet itu benar dan sangat tergantung dari mana penjelasan itu berasal. Istilah kita, “Mbah Google selalu bisa menjawab pertanyaan betapun sulitnya”. Dengan hanya mengetikakkan kata-kata yang sedang dicari mereka yang sedang mendalami agama Islam akan memperoleh penjelasan yang mereka inginkan. Mereka juga bisa memilih informasi mana yang akan diambil atau dirujuk yang paling meyakinkan dari sekian banyak informasi yang ada.

Belajar agama lewat internet juga lebih bersifat privat. Memang salah satu karakter yang ditularkan oleh teknologi informasi adalah orang semakin sibuk dengan dirinya sendiri, tepatnya dengan hanphonenya dari pada dengan lingkungan sekitarnya. Dalam hal belajar agama, di dunia nyata mereka mungkin sungkan atau malu menanyakan berbagai persoalan agama kepada orang lain, misalnya kepada ustadz atau penyuluh. Namun melalui hanphone mereka sendiri, mereka bisa bertanya mengenai ha-hal yang paling mendasar sekalipun tentang agama, bahkan sampai hal yang paling tabu sekalipun.

Satu lagi karakter penyebaran informasi melalui internet adalah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Berbagai informasi yang diupload di internet bisa diakses kapan saja dan dari mana saja. Sehingga peran para kia, dai, ustadz atau penyuluh agama tidak dibatasi oleh daerah dimana mereka berdomisili. Jadi pesan dakwah yang disampaikan penyuluh di satu daerah bisa diakses oleh masyarakat yang tinggal di daerah lain, begitu juga sebaliknya.

Sekarang tidak ada pilihan. Perkembangan teknologi informasi harus disikapi secara optimistis. Internet harus dimanfaatkan dengan baik untuk kepentingan penyebaran berbagai macam informasi keislaman yang benar. Aktivitas yang bisa dilakukan adalah secara serentak mengembangkan sebanyak mungkin website yang menyajikan konten-konten keislaman. Secara teoritik, semakin banyak konten tertentu tersebar di internet maka konten tersebut akan dominan di Google dan mesin pencarian informasi internet lainnya.

Tentu, aktifitas produksi konten-konten keislaman di internet dalam berbagai sajian kreatif (narasi, audio, video, atau grafis) juga harus diimbangi dengan seni penyebaran informasi yang memadai; sesuai dengan trend perkembangan media sosial yang terus berubah. Insyaallah, bisa! [A. Khoirul Anam]

*Artikel ini dimuat di Majalah Pendis Edisi VI 2016

Kitab Kuning dan Pengembangan Keilmuan Pesantren

kitab-kuning

Jauh sebelum Indonesia telah lahir sebagai negara merdeka dan berdaulat pada 17 Agustus 1954, pesantren sudah terbentuk. Eksistensi pesantren sejatinya tak bisa begitu saja dipinggirkan dalam kancah pendidikan di Indonesia. Nurcholis Madjid mengindentifikasi bahwa seandainya Bangsa kita tidak pernah dijajah Belanda, maka barangkali tak pernah berdiri universitas-universitas besar seperti UGM, UI, ITB, yang ada adalah Pesantren-pesantren seperti Lirboyo, Jampes, Cirebon, dan lain-lain.

Apa yang dikatakan oleh Cak Nur tadi hendak menegaskan kembali peran dan sumbangsih pesantren dalam mendidik anak-bangsa. Pendidikan ala pesantren memiliki kekhasan tersendiri, bagaimana ia membentuk jati-diri keilmuan, khazanah intelektual serta beragam sejarah dan tradisi yang melingkupinya sepanjang zaman.

Pesantren sebagai garda depan kawah candradimuka, ruang di mana pengajaran tentang keislaman diajarakan, dipraktikkan dan ditransformasikan. Ada satu pertanyaan mendasar, yang mewakali kegelisahan sebagian pihak, betapa merefleksikan sebuah nilai penting yang sampai hari ini masih dipertahankan oleh pesantren: Aswaja (ahlussunnah wal jamaah).

Apakah aswaja yang ada di pesantren-pesantren di Indonesia dipahami sebagai sebuah doktin atau kemudian mengalami perkembangan menjadi sebuah disiplin ilmu, ini yang akan dianalisa agar bagaimana pranata-pranata keilmuan di dalam pesanteran itulah, didesiminasikan dan diproduksi lagi oleh Prof. DR. K.H. Chozin Nasuha, dalam buku terbarunya, “Diskursus Kitab Kuning: Pesantren dan Pengembangan Ahlussunah Wal Jamaah”, yang diterbitkan oleh Institut Study Islam Fahmina (ISIF) Cirebon.

Aswaja sebagai Ilmu

Ahlussunnah wal-Jamaah (Aswaja) sebagai paham keislaman yang lahir pada abad ke-7 dan mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-13, memiliki nilai dasar dan ajaran filosofis yang, di satu sisi dari konteks kesejerahannya, berkembang pesat dan banyak dianut oleh umat Islam di dunia, kemudian menjadi sebuah doktrin keagamaan yang menubuh dalam tradisi masyarakat hingga ke Nusantara, dan di sisi lain, dalam konteks budaya mengalami tantangan, bagaimana ia mampu menjawab problematika umat dari fase zaman ke zaman lainnya, yang kian mengalami perubahan secara gradual.

K.H Chozin mendapati dewasa ini Aswaja mengalami kemunduran, yang dalam tahap tertentu bisa dikatakan kritis. Asumsi tersebut berangkat dari sudut historis-antropologis melihat telah terjadi kesenjangan antara “Aswaja ideal” dengan “Aswaja Realitas” (Halaman 54-55). Secara lebih sederhana “Aswaja Ideal” merupakan kondisi ketika pemikiran tentang aswaja berhenti sebatas menjadi doktrin belaka, yang menyebabkan Praktik-praktik amaliyah-nya terjadi diferensiasi yang begitu tajam. Hal ini bisa dilihat dari praktik penganut Syiah, Mu’tazilah, ‘Ibadliyah dan Tasawuf modern yang secara pengamalannya mengalami kontradiksi dengan ajaran ulama aswaja terdahulu.

Sedangkan aswaja realitas lebih ingin melihat bagaimana umat Islam khususnya merespons berbagai probelmatika kekinan, dengan cara pandang transformatif dan futuristik. Doktrin-doktrin aswaja, dengan begitu, dikombinasikan dengan berbagail ilmu seperti politik, ekonomi, budaya dan sosial. Ketidakmampuan umat Islam merespons problematika tadi melahirkan kondisi kritis. Meski hal demikian dikatakan wajar, akan tetapi akan lebih penting melihat secara komperhensif lagi, bagaimana signifikansi Ahlussunnah wal-Jamaah (Aswaja) sebagai ilmu, salah satunya melalui metedologi yang terdapat dalam Kitab Kuning.

Buku ini mencakup keseluruhan dinamika yang menjadi diskurus panjang yang dilakukan komunitas Nahdliyin. Sebut saja, di awal pembahasannya, Kyia Khozin menarasikan seputar genealogi keilmuan aswaja. Tokoh-tokoh seperti Syekh Ahmad Zaini Dahlan dan Syaikh Ibn Hasan al-Dimyati menempati posisi yang cukup sentral, mengingat kedua tokoh itu menancapkan pengaruh besar dalam perkembangan aswaja, untuk selanjutnya, dilanjutkan oleh ulama-ulama Nusantara, di antaranya Syeikh Nawawi al-Bantani, Kyia Kholil Bangkalan, Kyia Shaleh Darat Semarang (lihat ulasan di halaman 41).

Kalangan pesantren (baca: santri) patut diakui merupakan gerbang penjaga terakhir untuk keberlangsungan aswaja. Ilmu dan pengetahuan yang didapat dari ngaji kitab-kita kuning (turats) memang sebagian besarnya adalah diskursus tentang aswaja. Apakah hal tersebut akan justru berhenti pada tataran dogmatis (amaliyah aswaja), atau senantiasa direproduksi ulang menjadi konstruksi keilmuan yang kokoh, ini menjadi pertanyaan yang memantik banyak kalangan. Sebagaimana model yang dipelajari kalangan santri masih dominan dalam dua model, menurut Kiai Chozin sendiri, yaitu al-bayani (analitik) dan al-irfani (intuitif) dalam berargumen soal aswaja.

Praktis, kondisi demikian menjadi kegelisahan yang menjadi landasan dalam buku ini. Oleh karenanya, ke depan aswaja perlu dikembangkan dengan model keilmuan yang lebih sistematis dan transformatif, dengan mengembangkan model aswaja sebagai ilmu, meliputi (1) dasar-dasar ilmu (fann) terdapat, definisi (had) 2) tema obyek kaji (maudlu’)3) hasil kaji (tsamaroh), dalam hal ini berorientasi pada faidah dan praktik, atau aksiologi 4) keutamaan atau keunggulan (fad) 5) hubungan dengan ilmu lain (nisbah) 6) tokoh peletak dasar (wadli’) 7) nama ilmu (‘ism), 8) sandaran berfikirnya (istimdad) 9) hukum syara’ (sebagai pendukung ilmu tadi) dan 10) permasalahan yang dipecahkan secara parsial (halaman 56)

Kesepuluh metedologi pengembangan aswaja sebagai ilmu dipaparkan Kiai Chozin dalam buku ini, tentu saja, dengan pola sangat sederhana, berisikan metanarasi keilmuan aswaja dari segi sejarah, budaya, sosial dan hukum. Sederhana karena ia dekat dengan wilayah praksis kehidupan kita. Tidak melulu bicara ranah teoritis. Di tambah lagi, problematika seputar pembacaan teks-teks keislaman yang jumud dan rigid, yang acapkali, hanya berlandaskan sumber-sumber sekunder, bagi saya sendiri, kajian ini menambah wawasan dalam dua arah sekaligus: menggali sumber-sumber masa lampau, tanpa menghakimi masa kini. Artinya, saat aswaja dipandang sebagai sebuah metoda keilmuan, ia akan mampu menjawab persoalan keberagaman, sumberdaya alam, lingkungan, bahkan dalam taraf yang melampui masalah tata-kelola kebijakan. Dan abah Chozin sudah memulai langkah ini.

Kitab Kuning dan Pesantren

Kitab kuning dan Pesantren ibarat dua mata uang yang sama. Kitab kuning yang diajarkan di pesantren itu unik. Keunikan itu dicontohkan K.H Chozin dalam buku ini misalnya soal pola penulisannya, yang tanpa tanda baca titik (.). Tidak hanya seputar cara penulisan di kitab kuning, yang menarik, buku ini juga mengulas eksistensi pesantren-pesantren di Cirebon dalam kaitannya dengan diskursus aswaja.

Pada bagian akhir buku ini, pesantren-pesantren di Cirebon banyak dibahas dari segi sejarah dan praktik pengetahuan aswaja. Pesantren Babakan Ciwaringin, Buntet, Kempek, Palimanan, dan juga Pesantren Jatisari yang mungkin saat ini sudah terlupakan oleh banyak orang. Selain itu, penulis juga mengungkapkan perjumpaannya dengan guru-guru dengan penuh rasa takjub dan takdim. Salah satunya mengenai K.H. Ahmad Syatori dari pesantren Babakan yang merupakan salah satu guru yang istimewa baginya.

Dalam buku ini penulis memaparkan pemikirannya nyaris tanpa celah kekurangan. K.H A. Chozin Nasuha adalah seorang pemikir besar yang hidup pada zaman modernitas, menulis dengan jujur, tanpa menggurui, dan yang paling penting: berlandasakan argumentasi dan metedologi yang kuat. Saat pesantren sudah mulai ada sinyalemen kemundurunnya pada bidang pengembangan Aswaja, ketika problematika yang dihadapi oleh kaum Nahdliyin terus melingkupi tanpa henti, maka buku ini sangat dianjurkan untuk dibaca, dikaji dan dikritisi, secara mendalam oleh siapa saja. Dengan harapan bahwa keilmuan Islam sejatinya berangkat dan berkembang dari dan untuk nurani, akal sehat dan keilmuan yang matang, juga teliti dan sabar, setabah dan tawadhu penulis buku ini: K.H. Chozin Nasuha.***

Judul: Diskursus Kitab Kuning: Pesantren dan Pengembangan Ahlu as-Sunnah wa al-Jamaah
Penulis: Prof. Dr. KH A. Chozin Nasuha
Penerbit: Institut Studi Islam Fahmina (ISIF) dan Pustaka Sempu
ISBN: 978-602-8384-97-1
Edisi: Pertama, Februari 2015
Tebal: 14,5x21cm; xvi + 190 halaman
Peresesensi: Abdurahman Sandriyani

Source: cirebontrust

Thursday, September 22, 2016

Menengok “Kurikulum Kepondokan” di SMPN 3 Peterongan Jombang

SMP Negeri 3 Peterongan terletak di sisi bagian timur pondok pesantren Darul Ulum, bersebelahan dengan Asrama Bilqis-Sulaiman dan Asrama Pondok Tinggi Darul Ulum. Di sebelah timurnya terdapat gedung Islamic Centre dan di sebelah utara terdapat stasiun kereta api. Lokasi SMPN 3 Peterongan Jombang cukup strategis dan dapat dijangkau dengan mudah karena terletak tidak jauh dari jalan raya propinsi.

Salah satu ciri khas SMPN ini adalah “kurikulum kepondokan” yang merupakan pengembangan dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Materi disusun sendiri oleh Tim Pengembang Kurikulum Majelis Pondok Pesantren Darul Ulum beserta tim pengembang kurikulum sekolah. Mata pelajarannya mengacu kepada standar kompetensi baku dari BSNP dengan pengembangan indikator dan pelaksanaan di lapangan sesuai dengan visi dan misi SMP Negeri 3 Peterongan. Termasuk dalam kategori ini adalah mata pelajaran PAI.

Mata pelajaran PAI yang sesuai standar BSNP diperkaya dengan muatan kurikulum kepondokan sehingga tampak seperti struktur kurikulum yang ada di Madrasah Tsanawiyah. Bedanya, kata Yusuf Suharto, seorang guru PAI di sekolah ini, materi yang diajarkan tidak mengacu pada Kementerian Agama, tetapi lebih kepada khazanah kitab kuning yang dajarkan di pesantren. “Misalnya untuk aqidah kita memakai kitab Aqidatul Awwam dan fikih kita memakai kitab Taqrib,” katanya.

Selain itu, mata pelajaran PAI yang sesuai standar BSNP, juga dikembangkan menjadi beberapa macam aspek, yakni fiqh, aqidah/akhlak, nahwu shorof, Bimbingan Membaca Kitab, SKI/Aswaja, tafsir, hadits, Baca Tulis Al-Qur’an. kurikulum-kepondokan-di-smpn-3-peterongan

Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Karyono mengatakan, sekolah yang dipimpinnya memadukan antara kurikulum nasional dan kurikulum kepesantrenan. “Ini ciri khas kami, yakni mencetak para siswa yang unggul dan berkarakter,” katanya.

Menurutnya, karakter ini mengacu pada nilai-nilai utama pesantren, antara lain adalah tawadlu (rendah hati). Jadi siswa tak hanya unggul dalam bidang akademik, tapi juga berkarakter, berakhlak mulia. “Internalisasi pendidikan karakter pada peserta didik tercantum dalam visi pondok Darul Ulum yang mengacu pada Al-Qur’an surat Ali Imron ayat 18,” tambahnya.

Separated Curriculum

Pengorganisasian kurikulum PAI di SMPN 3 Peterongan menggunakan model separated curriculum, di mana selain pelajaran PAI yang sesuai kurikulum BSNP masih ada lagi mata pelajaran yang lainnya sebagaimana di atas. Sejak tahun pelajaran 2012-2013 sudah dicanangkan bahwa mata pelajaran PAI terdiri dari PAI muatan nasional (2 jam pelajaran), Fiqh (2 jam pelajaran) dan 1 jam pelajaran Akhlaq (untuk kelas VII, sedangkan kelas VIII 1 jam pelajaran Aqidah, Kelas IX 1 jam pelajaran SKI/Aswaja).

Dengan demikian mata pelajaran PAI menjadi 5 jam pelajaran, sementara untuk kurikulum PAI yang dikembangkan (BTA, BMK, Tafsir, Hadith, Nahwu Shorof) selama 6 jam pelajaran. Dengan demikian jam pelajaran PAI secara keseluruhan adalah 11 jam pelajaran perminggu.

Selain mata pelajara PAI yang terintegrasi dalam kurikulum, para siswa yang juga sekaligus santri ini dibimbing langsung untuk menjalankan berbagai ritual sebelum jam sekolah. Pelaksanaan pendidikan agama di SMP Negeri 3 Peterongan dimulai pada pukul 06.45 – 07.15 WIB dengan istilah aplikasi keagamaan. Sedangkan kurikulum kepondokan dimasukkan ke dalam jadwal pelajaran yang dipadu dengan kurikulum nasional mulai jam 07.15 – 16.00 WIB.

Materi yang diterapkan dalam aplikasi keagamaan ditekankan pada kemampuan membaca Al-Qur’an berikut tajwidnya. Jadwal dirancang dengan sangat rapi. Selama enam semester pada kelas VII, VIII dan IX ditargetkan semua siswa telah menghatamkan 30 juz dengan sempurnya. Tidak cukup di situ, para siswa juga dibekali dengan tafsir Al-Qur’an serta diperkaya dengan materi hadits.

Ada pemandangan yang sangat menyejukkan. Setiap pagi mulai jam 06.45 – 07.00 WIB para siswa mengikuti shalat dhuha di Musholla SMP Negeri 3 Peterongan. Para siswa didampingi bapak atau ibu guru pembimbing yang sekaligus menjadi imam shalat dhuha. Jadwal pembimbing telah disusun rapi. Program ini bertujuan untuk melatih siswa supaya biasa istiqomah melaksanakan shalat dhuha setiap hari. Di samping itu program ini juga bertujuan melatih siswa menyampaikan dakwah karena setelah shalat dhuha siswa dilatih untuk menyampaikan dakwah tujuh menit (kultum).

Setiap bulan sekali pada hari Sabtu pada pukul 06.45 – 07.15 para siswa mengikuti istighotsah yang bertempat di Islamic Center SMPN 3 Peterongan Darul ‘Ulum. Program ini bertujuan untuk  memberikan bekal kerohanian kepada siswa; memberikan siraman rohani kepada siswa terutama dalam hal akhlakul karimah; dan mempersiapkan siswa untuk menguasai ketrampilan bermasyarakat sehingga siap menjadi pemimpin dalam masyarakat. [A. Khoirul Anam]

Tuesday, September 20, 2016

Shalat Ghaib Dalam Dan Luar Negeri Iringi Kepergian Mantan Menag, Dr. Maftuh Basyuni










Ketua PBNU KH Hasib Wahab memimpin Sholat Jenazah Untuk Almarhum KH Maftuh Basyuni di kediaman Jl. Pengadegan Barat Raya No.12 Jaksel, Selasa (20/09/2016)

Pendidikan Islam, Jakarta - Kabar duka bagi keluarga besar Kementerian Agama datang dari Tanah Air. Menteri Agama periode 2004 2009, Muhammad Maftuh Basyuni wafat di RSPAD Gatot SubrotoJakarta, Selasa (20/9) Pukul 18.30 WIB, setelah sempat menjalani perawatan selama beberapa hari.

Jenazah saat ini berada di rumah duka, Jalan Pengadegan Barat No 12 Kecamatan Pancoran, Jakarta dan rencananya akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Rabu (21/9).

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menghimbau umat Islam shalat Ghaib untuk Dr. KH. Maftuh Basyuni.

"Pengurus Besar Nahdlatul Ulama telah menghimbau umat Islam dan menginstruksikan seluruh jajaran kepengurusan untuk melaksanakan shalat Ghaib untuk Bapak Dr. KH. Maftuh Basyuni." ujar Dr. Helmi Faisal Zaini, Sekjen PBNU, Selasa Malam (20/09/2016).


Dilansir Arrahmah.co.id, nampak jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama berdatangan ke rumah duka, melakukan shalat Jenazah untuk almarhum. Nampak Ketua PBNU KH Hasib Wahab memimpin Sholat Jenazah di rumah duka di Pangadegan. 

Sementara itu di tempat terpisah, PPIH Daker Makkah juga melakukan hal serupa, akan melakukan shalat Ghaib serentak di Mekkah.

"PPIH Daker Makkah mengucapkan bela sungkawa yang sedalam dalamnya atas wafatnya Dr. KH Maftuh Basyuni, Mantan Menag RI. Mudah-mudahan seluruh amal kebaikan, baik fisik atau non fisik, diterima Allah dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kesabaran," ujar Kepala Daker Makkah Arsyad Hidayat, Selasa (209) malam.

Menurutnya, PPIH Daker Makkah akan melakukan salat gaib secara serentak setelah Salat Magrib baik di Kantor Daker maupun Sektor sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada mantan pimpinan tertinggi di Kementerian Agama. "Kita tahu betul bahwa beliau banyak jasa-jasanya untuk pengembangan dan peningkatan pelayanan bagi jemaah haji," tegasnya.

Hal sama ditegaskan oleh Kepala Bidang Bimbingan Ibadah Ali Rohmad. Dia telah meminta Kasi Bimbingan Ibadah dan Pengawasan Kelompok Bimbingan untuk membuat surat edaran ke seluruh pembimbing di masing-masing sektor untuk melaksanakan salat gaib.

"Teknisnya, sebelum kegiatan penyampaian ceramah pada kegiatan visitasi bimbingan ibadah, dilaksanakan salat gaib berjamaah dan doa bersama," tuturnya. Selama penyelenggaran ibadah haji, Seksi Bimbingan Ibadah Daker Makkah secara berkala melakukan visitasi kepada jemaah. Kegiatan visitasi yang dilakukan pra dan pasca Arafah, 

Muzdalifah, dan Mina (Armina) ini diisi dengan bimbingan ibadah.

Tempatnya di setiap pemondokan jemaah haji, setelah Salat Dzuhur dan Salat Magrib. Kegiatan ini diampu oleh 6 orang konsultan bimbingan ibadah yang terdiri dari para dosen di UIN dan IAIN. "Jadwal salat gaib menyesuaikan dengan jadwal visitasi," tandasnya.

Muhammad Maftuh Basyuni lahir di Rembang, Jawa Tengah, pada 4 November 1939. Lulusan Universitas Islam Madinah Arab Saudi ini pernah pula menjabat sebagai Sekretaris Negara di era Pemerintahan Presiden Gus Dur.

Maftuh Basyuni meninggal setelah dilakukan penyinaran penyakit kanker di sekitar paru-paru. Maftuh Basyuni juga mempunyai gangguan ginjal dan sebelumnya pernah melakukan cuci darah dan opname di Malaysia.

Sebelum dimakamkan di TMP Kalibata, jenazah akan di-Salat Jenazah-kan di Masjid At-Tin, Komplek TMII, Jakarta Timur. 

Muhammad Maftuh Basyuni tercatat sebagai Menteri Agama pada Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Salah satu tugasnya sebagai Menteri Agama adalah mensukseskan penyelenggaraan ibadah haji. (Cep Suryana)

 

Sumber: Arrahmah.co.id

SK Beban Kerja Dosen PTKIN 2011 Dicabut!

beban-kerja-dosen-2
Jakarta, PendidikanIslam.ID – Setelah 5 (lima) berlaku, maka Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor : Dj.I/DT.I.IV/1591.A/2011 tentang Beban Kerja Dosen dan Evaluasi Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi Bagi Dosen Di Lingkungan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI) secara resmi dicabut. SK yang dikeluarkan pada masa Dirjen Mohammad Ali dan Direktur Diktis Dede Rosyada tersebut kemudian dihentikan secara subtantif oleh Dirjen Pendis Kamaruddin Amin (29/08/2016) dengan Surat Edaran (SE) tertanggal 8 September 2016.


 “SK tahun 2011 tersebut sudah tidak relevan dengan peraturan perundang-undangan yang mengatur ketentuan mengenai beban kerja dosen,” kata Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin dalam keterangan tertulisnya.


Akhir September 2016 Harus Ada Pengganti
Setelah SK tahun 2011 tersebut dicabut, lanjut Guru Besar UIN Alaudin ini, maka langkah selanjutnya adalah bahwa setiap seluruh pimpinan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) baik UIN, IAIN dan STAIN serta ketua Kopertais (Koordinator Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta) untuk segera menerbitkan keputusan tentang beban kerja dosen pada PTKIN dan Kopertais masing-masing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


 “Mengacu pada UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mneyebutkan bahwa beban kerja dosen diatur oleh setiap satuan pendidikan tinggi. Oleh karena itu, PTKIN dan Kopertais diharapkan sudah memiliki pedoman beban kerja dosen yang ditandatangani masing-masing PTKIN dan ketua Kopertais paling lambat akhir bulan September 2016,” tegas Kamaruddin Amin.


Sebagaimana diketahui, dalam melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi, dosen dikenai beban kerja 12-16 SKS (Sistem Kredit Semester) pada setiap semester yang terdiri atas pelaksanaan pendidikan dan pengajaran, penelitian dan penulisan karya ilmiah, serta pengabdian pada masyarakat. Laporan beban kerja dosen ini disusun untuk merekam kinerja dosen sebagai seorang pendidik profesional dan ilmuwan. Rekaman tersebut sebagai bentuk akuntabilitas publik sebagai imbas atas dana tunjangan profesi/sertifikasi yang sudah diterima. (@viva_tnu)


Silahkan Download :
SE Pencabutan tentang Beban Kerja Dosen

Perjuangan Ajengan Mamad Dirikan Pesantren di Kompleks Lokalisasi

ajengan-mamadSalah satu gang di jalan Gardujati, Kota Bandung, itu tak ada bedanya dengan gang mana pun di dunia ini. Di sekitar mulutnya ada warung kecil menjual rokok, makanan ringan, dan warung-warung makan yang mekar tiap menjelang malam. Masuk ke gang, berderet rumah-rumah penduduk. Jika lewat gang itu menjelang Isya, akan bertemu dengan beberapa orang tua yang berkumpul di beranda rumah.

“Bos, parkir di sini. Bos, parkir di sini,” ajak mereka sembari tetap duduk seraya tangan melambai. Anda sudah masuk kawasan Saritem!

Menurut Sekretaris RW 7, Acep (bukan nama sebenarnya), nama Saritem sudah muncul sejak zaman penjajahan Belanda. Sebagaimana asal-usul nama sebuah kampung kecil, hampir tidak diketahui tanggal dan tahun persisnya. Ia mengaku mendapat cerita dari neneknya. Alkisah, di gang tersebut ada penjual jamu keliling bernama Sari. Ia tidak menyebut asal-usulnya, tapi sebab kulitnya hitam, perempuan itu sering disapa Sari Item.

Salah seorang Belanda, suatu hari, menyarankan satu hal kepadanya. Daripada Sari capek keliling menjual jamu, mending ”melayani” teman-temannya. Karena Sari mengamini, berkembanglah praktik-praktik “melayani”. Kemudian “melayani” menjadi bisnis yang mengundang pihak-pihak lain untuk mengambil keuntungan dari usaha itu. Terkait nama, orang tak melupkan asal-usulnya, disebut dengan mapan hingga kini, Saritem. Satu “i” disatukan kala diucapakan, tanpa spasi saat dituliskan.

Dua RW yang masuk wilayah Kelurahan Kebon Tangkil tersebut bercampur-baur penduduk Tionghoa, Sunda, dan berbagai etnis lain. Kini di sekitar mereka terdapat 200 penjaja cinta atau disebut Pekerja Seks Komersial (PSK). Beberapa tahun sebelumnya bisa mencapai 700-an lebih. sementara calo praktik itu sekitar 400 orang. Penduduk setempat merasa tak rugi dengan praktik itu, malah kecipratan rezeki hasil menjajakan makanan dan minuman.

Ajengan Mamad

Pada tahun 2003, Kang Mamad hadir di tengah-tengah Saritem. Padahal sejak kecil hidup di lingkungan pesantren. Tentu tak pernah berharap dan mimpi untuk tinggal di situ. Tapi karena taat pada orang tuanya, ia menjadi “germo” di situ. “Germo” di sini bukan berarti mucikari, induk semang PSK atau calo, melainkan “gerakan moral” melalui pesantren bernama Darut Taubah. Letak pesantren berimpitan dengan “Darun Ni’mah”, istilah dia untuk kamar-kamar praktik para PSK.

Sebelumnya bangunan Darut Taubah juga merupakan tempat Darun Ni’mah. Dulu kamar-kamar tempat tinggal santri atau kobong itu tinggal para PSK. Ketika tempat itu menjadi kobong, masih satu dinding dengan “Darun Ni’mah” di sampingnya. Karena sering terdengar suara-suara “aneh” yang tak mesti didengar para santri, tembok Darut Taubah dipertebal untuk meredamnya.

Di depan pesantren, akan mudah sekali mendapati perempuan berrok di atas lutut, berbaju ketat dan pendek, bergincu tajam, bercelak tebal. Jika jalan-jalan ke sebalah kiri pesantren, lirikkan saja mata pada bangunan-bangunan seperti salon dengan kaca tanpa gorden. Di situ, perempuan muda berpakaian serba minim tampak duduk berjajar di sofa dengan kaki disilangkan. Entah dari mana, lelaki hidung belang dengan ragam usia, mondar-mandir di sekitarnya. Tak habis-habisnya sehingga kedua belah laiknya baud ketemu mur.

Darut Taubah didirikan Ajengan Sonhaji pada tahun 1999 dan diresmikan 2 Mei tahun 2000 atas  bantuan Wali Kota Bandung waktu itu, AA Tarmana. Ajengan Sonhaji adalah tokoh agama dari Pesantren Sukamiskin dan pernah menjabat Rais Syuriyah PCNU Kota Bandung empat periode sampai wafatnya. Ia berasal dari daerah Subang yang diambil menantu salah satu pesantren tertua di Kota Bandung tersebut. Setelah meninggal, Ajengan Sonhaji menitipkan Darut Taubah pada anak sulungnya, Ahmad Haedar yang akrab disapa Kang Mamad tersebut. “Sebelum meninggal, ayah saya berpesan, ‘sing bisa gaulna’ (harus pandai bergaul dengan mereka),” katanya.

Gerakan moral pria beranak tiga tersebut memang melalui pergaulan dengan mengedepankan akhlak. Kang Mamad mengajarkan ilmu-ilmu agama pada anak-anak Saritem. Putra-putri calo dan mucikari. Tidak ada santri anak PSK karena mereka datang atau didatangkan dari daerah lain tanpa membawa anak.

Orang tua mereka mengizinkan anaknya belajar di situ. Pada dasarnya, menurut Kang Mamad, mereka ingin memiliki anak-anaknya tidak mengikuti pekerjaan orang tua. Seperti diakui salah seorang mucikari, anaknya sejak TK disuruhnya belajar di Darut Taubah sehingga bisa mengaji.

Mulanya tiga sampai empat tahun Darut Taubah didirikan, penduduk sekitar tidak suka dengan kehadiran lembaga pendidikan itu. Imtihan (kenaikan kelas santri) saja pernah dijaga Banser dari Gerakan Pemuda Ansor NU. Menurut Kang Mamad, hal itu sangat wajar. Sebagai pendatang dengan 60 persen di dua RW tersebut nonmuslim, tentu sedikit banyak mereka merasa terusik.

Berada di tempat seperti itu, pria kelahiran Oktober 1968 tersebut melancarkan siasat pendidikan dan sikap hidup pesantren yang pernah dijalaninya di Priangan Timur. Ia nyantri 6 tahun di Cipasung, 6 tahun di Manonjaya (Tasikmalaya). Kemudian ngaji keliling tabarukan ke pesantren-pesantren lain seperti Sadang (Garut), ke Petir (Ciamis), Awi Pari (Tasikmalaya) selama 3 tahun.

Di pesantren, kata dia, santri berasal dari berbagai daerah hidup bersama. Santri dengan alamiah belajar saling memahami sesama mereka. Pesantren juga membebaskan santri untuk bergaul dengan masyarakat sekitar. “Saya juga dulu senang bergaul dengan masyarakat, bagaimana melihat kondisi masyarakat. Jadi sekarang tidak kaku. Saya banyak mendengar dari guru-guru saya harus tasamuh (toleransi),” terangnya.

Berdasarkan pengalaman itu, gerakan moral yang dilakukannya sedikit demi sedikit, meski risikonya membutuhkan waktu panjang. Ia melakukan pendekatan menyeluruh dari segala arah, mulai dari segi agama, sosial, hukum, budaya.

Kemudian berbaur dengan kehidupan masyarakat. Ia turut serta dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Pada umumnya kebiasaan muslim di Saritem sama dengannya. Misalkan kalau ada yang meninggal, mereka ingin ditahlilkan karena mati tanpa prosesi itu dalam pandangan mereka, seperti mati kucing. “Itu kita urus, kita bantu. Baik germonya, PSK-nya, calonya,” katanya. Ia juga mengikuti kebiasaan mereka dalam bidang olah raga seperti turut serta main bulutangkis serta meigikuti pertemuan-pertemuan warga.

Lama-kelamaan bergaul keduanya saling menerima. Sebagian dari mereka ada yang hadir ke pengajian umum pesantren dan mengikuti istigotsah malam Jumat. Ketika berceramah, Kang Mamad pun sangat hati-hati dalam menyampaikan pesan-pesan agama. Dalam istilah dia, dengan cara tidak “memukul”, tapi merangkul. Ia mengikuti cara ayahnya, Ajengan Sonhaji, tidak memberikan roti dengan cara dilempar.

Saat berceramah ia sangat memperhitungkan dampaknya. Jika bertemu ayat Al-Qur’an yang mengharamkan judi, minuman keras, zina, tidak disampaikan dengan vulgar. Karena penduduk di situ tahu hukumnya haram. Ia lebih percaya seperti yang telah dianjurkan dalam Al-Qur’an sendiri, Ud’u ila sabili robbiika bil-hikmah wal mauidhlitil hasanah, yaitu dakwah dengan bijaksana dan tutur kata baik.

Dengan cara itu, kedua belah pihak semakin memahami dan saling menghargai keberadaan masing-masing. Kemudian melakukan pertemuan-pertemuan santai seperti ziarah pada ulama Jawa Barat, touring ke tempat wisata atau sekadar jalan-jalan. Padahal awalnya, menurut Kang Mamad, jangankan ada yang mau datang ke pesantren, malah jika teler sengaja datang ke pesantren. Kini mereka paham bahwa pesantren tidak ingin memusuhi mereka.

Diantara mereka kadang membantu, baik makanan atau alat-alat kebutuhan pesantren. Kang Mamad menerimanya. Karena ia juga sebagai Katib Syuriyah PCNU Kota Bandung, hal itu jadi pembicaraan di tingkatan PCNU. Para ajengan kota kembang itu kemudian membuka kitab-kitab kuning untuk mencari hukum menerima uang pemberian dari hasil tidak dihalalkan agama tersebut. Mereka membahasnya melalui forum bahsul matsail.

Keputusan para ajengan menyebut sumbangan tersebut boleh diterima, tapi dengan catatan harus disalurkan lagi kepada yang membutuhkan, misalnya para santri. Di Darut Taubah, santri-santri tidak dipungut biaya sepeser pun. Bahkan makan dan minum ditanggung pesantren. Ajengan Sonhaji sudah menyediakan sawah wakaf untuk makan mereka. Kang Mamad tinggal mengelola dan menyedikan lauknya saja.

Kang Mamad yakin dengan menerima pemberian dari mereka adalah sebagian dakwah dengan baik. Memanusiakan mereka. Jika tidak diterima, tentu mercederai niat baik mereka.

Ia juga tidak yakin dengan dakwah menggunakan kekerasan sebagai solusi. Malah bisa menimmbulkan masalah. “Kalau dengan kekerasan akan semakin semrawut,” tegasnya.

Itu bukan omong kosong, tapi berdasar pengalaman. Darut Taubah pernah mengundang mubaligh “keras” dalam pengajian peringatan hari besar Islam. Besoknya diprotes masyarakat. Kemudian ia tak lagi mengundang mubaligh berkarakter seperti itu. Mau tidak mau mereka juga memiliki perasaan. Mereka punya hati.

Kini santri Darut Taubah bisa memukul rebana dengan keras. Azan setiap waktu disambungkan melalui pengeras suara. “Kalau sekarang, setiap waktu pengajian bebas. Azan Subuh melalui speaker pun bebas. Sebelumnya ada protes warga, ada yang langsung telepon,” terangnya.

Dengan apa yang dilakukannya, ia tidak berharap muluk, sebab yang mengubah jalan hidup tidak ada jalan lain selain mereka sendiri dan hidayah Allah. Kang Mamad  hanya ingin memotong generasi, mengurus anak-anaknya supaya tidak mengikuti orang tuanya yang sudah terlanjur masuk dalam dunia mucikari dan calo.

Ia berpendapat, perubahan untuk Saritem bisa dengan cara menyiapkan pekerjaan yang jelas. Pemerintah tidak boleh menutupnya tanpa memikirkan hal itu. Karena pendekatan menutup tanpa solusi sebagaimana yang terjadi tahun 2007 sudah terbukti gagal. Mereka bukan tidak mengerti agama, halal dan haram -beberapa diantara mucikari pun seorang haji- tapi karena memang sudah mengakar dalam kebiasaan mereka.

Di lain pihak, Kang Mamad juga menjaga santri-santri yang berasal dari luar daerah, supaya tidak terpangaruh kehidupan Saritem. Ia menggunakan jargon, jangan melawan arus, tidak terbawa arus dan menyikapi dengan cerdas takdir yang sedang berjalan. Ia mencontohkan ikan di laut. Meski hidup di tempat asin, tubuhnyan tidak lantas menjadi asin.

Apa yang dilakukan Kang Mamad, diamini pengasuh pesantren Darut Taubah yang lebih muda, Kang Ubed. Menurutnya, Kang Mamad melakukan dakwah dengan lemah lembut. Lebih banyak dakwah dengan perbuatan. Tujuannya memutus kebiasaan generasi tua dengan melahirkan generasi baru dengan pendidikan agama dengan model pesantren salaf, yang mengajarkan santri-santri tentang akhlak melalui tasawuf, disamping ilmu nahwu, saraf, fiqih, hadits.

Kini jumlah santri Darut Taubah yang menetap sekitar 90 putra dan putri. Sementara anak-anak Saritem sendiri, karena dekat dengan rumah, mereka cuma santri kalong. [Abdullah Alawi/NU Online]

Konsep "Charter School" Solusi Pendidikan di Indonesia, Apa Itu?

siswa

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Pemerhati pendidikan Indra Charismiadji mengatakan konsep charter school atau sekolah swasta yang didanai pemerintah dapat menjadi solusi pendidikan di Indonesia yang memiliki wilayah yang luas.

"Dengan konsep ini, pemerintah mengalokasikan anggaran, dan swasta yang menjalankan sistemnya," ujar Indra di Jakarta, Senin (19/9) dilansir Antara.

Dia menjelaskan pemerintah mendanai sekolah-sekolah swasta yang kekurangan dana dalam pengoperasiannya. Selama ini, banyak sekolah swasta yang akhirnya tutup karena kekurangan murid akibat kalah bersaing dengan sekolah gratis, bisa juga karena kualitas yang lebih rendah dibandingkan sekolah negeri.

"Sekolah dengan konsep seperti itu dapat menjadi solusi bagi Indonesia yang memiliki wilayah luas dan terpencil, serta dukungan anggaran pendidikan yang relatif besar," kata Direktur Utama PT Eduspec Indonesia itu.

Selama ini, sekolah negeri juga belum mampu menampung keberadaan jumlah murid. Dibandingkan harus membuat sekolah baru, lanjut dia, lebih baik mengembangkan konsep seperti itu.

Sejarah mencatat bahwa pendidikan swasta sudah ada sejak Negara Kesatuan Republik Indonesia terbentuk. Namun kini terjadi kesenjangan antara sekolah swasta yang selama ini memegang peranan penting dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Kondisi sekolah swasta akhir-akhir ini semakin menurun baik dari segi kualitas, maupun kuantitas.

Meskipun permasalahan tersebut telah diakomodir dalam peraturan UU Sistem Pendidikan Nasional 20/2003 namun masih belum terlaksana dan tersosialisasikan dengan baik.

"Pendidikan memegang bidang strategis dalam membangun dan mencerdaskan suatu bangsa, maka dari itu kelalaian dalam mengembangkan dan membangun suatu pendididkan yang berkualitas akan berakibat fatal dalam rangka mewujudkan sumber daya manusia yang diharapkan bagi kemajuan bangsa" kata Ketua Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) Ki Suparwanto. (Red: Fathoni Ahmad)

Monday, September 19, 2016

Tak Ada Anak Bodoh, Jadilah Guru Baik dengan Metode yang Benar

[caption id="attachment_2640" align="aligncenter" width="640"]Ilustrasi interaksi guru dengan para murid. Ilustrasi interaksi guru dengan para murid.[/caption]

Lagu Indonesia Raya berkumandang di Hanoi National University of Education, Vietnam pada Juli 2016. Di sana, Wilson Gomarga (18), pelajar SMA IPEKA, memperoleh medali emas di kompetisi International Biology Olympiad (IBO) ke-27. Masih pada Juli, Noval Ilham Arfiansyah dan Tangguh Achmad Fairuzzabady juga berhasil memperoleh medali perak dan perunggu Olimpiade Matematika di Singapura. Kedua siswa kelas 6 itu mengalahkan ribuan peserta lain di ajang internasional itu.

Memang, sudah banyak pelajar Indonesia yang berprestasi dan sukses menjuarai olimpiade. Namun, tak dapat dimungkiri banyak pula siswa yang berprestasi rendah di sini.

Studi International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) di Asia Timur, misalnya, memperlihatkan keterampilan membaca kelas 4 SD di Indonesia berada di peringkat terendah ketika dibandingkan dengan negara tetangga.

Rata-rata skor tes membaca tertinggi diraih Hongkong (75,5). Peringkat kedua diduduki oleh Singapura (74). Sementara itu, Thailand berada di posisi ketiga (65.1). Filipina satu peringkat lebih tinggi dari Indonesia (52.6). Adapun skor tes siswa Indonesia adalah 51,7. Mereka hanya mampu menguasai 30 persen materi bacaan.

Selain itu, pelajar Indonesia juga kesulitan menjawab soal-soal penalaran yang membutuhkan pemahaman. Hal ini disebabkan mereka terbiasa menghapal dan menjawab soal pilihan ganda.

Ada apa? Tak ada faktor tunggal. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa. Tantangannya, sistem pendidikan formal Indonesia cenderung memperlakukan siswa sama rata.

"Padahal, semua anak berbeda. Setiap anak punya kekhususan berbeda. Ketika diperlakukan sama, ada yang bisa mengikuti, ada yang tidak," ungkap Founder & CEO Elite Tutors Indonesia, Sumarsono di Jakarta, Rabu (7/9/2016).

Menurut Sumarsono, bisa jadi sistem pengajaran tersebut membuat sejumlah anak tak terseleksi. "Memiliki kekhususan tetapi tidak terlihat oleh sistem yang ada," ujar dia.

Ada beragam kondisi yang membuat pengajaran tak optimal terserap oleh siswa. Misalnya, anak kurang konsentrasi saat guru menjelaskan. Terkadang, anak-anak terlihat memperhatikan pelajaran tetapi sebenarnya mereka sedang melamun atau bahkan mengerjakan hal lain. Pelajar juga seringkali kurang minat dengan pelajarannya.

Atau, bisa jadi siswa tak suka dengan metode ajar gurunya. Kebanyakan guru mengajar dengan metode ceramah sehingga siswa merasa bosan. Bisa juga, fasilitas sekolah kurang menunjang. Minim perpustakaan atau alat ajar, bisa jadi di antaranya.

Kenali kebutuhan siswa

Dari fenomena-fenomena di atas, Sumarsono berpendapat setiap anak butuh dukungan untuk bisa mendapatkan potensi terbaik. Menurut Sumarsono, setiap anak punya kekhususan. “Anak biasanya mencari support dari luar dengan ikut bimbingan belajar (bimbel)," kata dia.

Sumarsono menambahkan, sebagian siswa ikut program belajar karena memang memiliki masalah belajar dan ingin mengatasinya. Namun, kata Sumarsono, anak yang pintar di sekolah juga bisa saja tetap mengikuti bimbel ntuk menambah lagi kepandaian

“Anak sukses maupun tidak sukses sama-sama ingin mengetahui kemampuan mereka yang masih terpendam," ungkap Sumarsono.

Dari semua fenomena tersebut, Sumarsono pun menggagas sistem tailor-made yang dikembangkan di lembaganya. "Sistem ini sudah banyak diterapkan sekolah dan lembaga pendidikan di luar negeri, tapi belum familiar di Indonesia," tutur Sumarsono.

Silabus dalam sistem ini dibuat berdasarkan kebutuhan dan tujuan anak. Di dalamnya tercakup mata pelajaran dan target nilai yang ingin dicapai siswa. “Tujuan anak ikut tambahan pelajaran macam-macam, (seperti) ingin masuk sekolah favorit, ingin masuk perguruan tinggi negeri, atau ingin kuliah di luar negeri,” sebut Sumarsono.

Selain silabus tersebut, sistem tailor-made juga merancang pola ajar yang menghibur. Saat murid sudah merasa nyaman dengan pendidik, mereka akan terbuka dengan sendirinya dan lebih mudah menerima pengajaran. Ibarat tabung keilmuan, kata Sumarsono, kenyamanan ini membuat tabungnya terbuka sehingga ilmu mudah masuk.

Terlebih lagi, kata Sumarsono, tantangan yang dihadapi pelajar sekarang teramat beragam, dari kurikulum sampai kemungkinan masalah domestik keluarga. "Di situ kami berperan, tutor menempatkan diri sebagai teman," tegas Sumarsono. "Di kami, chemistry antara peserta didik dan tutor sangat dijaga, karena usia peserta didik kami lebih mendengar teman daripada orangtua," imbuh dia.

Satu hal yang paling berbeda dari lembaganya dibandingkan bimbel pada umumnya, sebut Sumarsono, adalah sistem privat. Satu siswa ditangani oleh satu tim tutor yang membantu dan memantau kemajuan dan target belajarnya.

Sebelum silabus disusun, tambah Sumarsono, lembaganya membuat pula mekanisme one stop service. Mekanisme ini memastikan kebutuhan dan tujuan siswa belajar di lembaga ini. "Prosesnya sekitar dua pekan," sebut dia.

Masih berpikiran ada anak bodoh? Mulailah jadi guru yang baik dengan metode yang benar.

Source: kompascom 

(Red: Fathoni Ahmad)

Saturday, September 17, 2016

Pesantren: Ruh Pendidikan Sepanjang Hayat

[caption id="attachment_2637" align="aligncenter" width="640"]Ilustrasi: para santriwati sedang menelaah kitab kuning. Ilustrasi: para santriwati sedang menelaah kitab kuning.[/caption]

Oleh Fathoni Ahmad
Matahari tidak pernah berhenti menyinari alam semesta meskipun mendung. Jika pun alam bergerak menggelap, itu hanya tertutup mendung dan awan. Namun pada hakikatnya, matahari tetap bersinar. Semangat ini tidak pernah pudar bagi Pendidikan Islam untuk selalu menyinari dunia dengan mencetak manusia berakhlak mulia nan cerdas dari generasi ke generasi.

Pendidikan Islam berupaya mengangkat perjuangan para santri dan siswa madrasah untuk selalu memumpuk mimpi agar terus bersinar meskipun berbagai hambatan kerap kali datang. Ini membuktikan, selain memiliki kecerdasan akal dan nurani, generasi pendidikan Islam juga mempunyai mental kokoh untuk bergelut dengan perubahan zaman yang makin tak terbendung kemajuannya.

Potensi yang ada pada diri setiap santri dan siswa madrasah harus mampu menyinari diri di setiap usaha yang dibangun sehingga mimpi dapat mudah terwujud. Dalam hal ini, filosofi matahari yang tak pernah berhenti bersinar harus menjadi palu godam ampuh bagi generasi pendidikan Islam untuk meraih mimpi dan cita-cita setinggi langit demi mengabdi pada negeri.

Historisitas bangsa Indonesia tidak terlepas dari jasa menawan para generasi pendidikan Islam, terutama pesantren. Karena lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia ini terbukti mampu mencetak tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, sebut saja Pangeran Diponegoro, RA Kartini, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Abdul Wahab Chasbullah, KH Abdul Wahid Hasyim, HOS Tjokroaminoto, Buya Hamka hingga tokoh fenomenal KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal dengan Gus Dur.

Tokoh-tokoh tersebut tidak hanya para pemikir, tetapi juga penggerak perubahan di tengah masyarakat. Pandangan mereka mampu menembus batas tebalnya zaman yang kerap tidak pernah terpikirkan oleh orang pada umumnya. Di titik inilah membumikan mimpi mempunyai peran penting untuk mengikuti jejak para founding fathers dalam menuntun zaman ke arah yang lebih harmonis sekaligus humanis.

Para tokoh pendidikan Islam tidak hanya menginspirasi perjuangan para anak bangsa untuk meraih mimpi, tetapi juga menunjukkan bahwa pemerintah turut memiliki peran besar melalui berbagai layanan pendidikan dalam bentuk beasiswa yang dapat diakses oleh anak-anak negeri hingga meraih pendidikan setinggi-tingginya. Fasilitas pemerintah ini membutuhkan kerja keras dan cerdas dari para generasi muda untuk bisa mengaksesnya.

Cukuplah para pejuang dan generasi emas yang lahir dari pendidikan Islam dapat membumikan mimpi anak bangsa. Modal berharga yang amat dibutuhkan untuk membumikan mimpi tidaklah mudah, namun juga tidak sulit. Karena semangat dan kemauan yang tinggi untuk maju sangat diperlukan oleh generasi muda dalam rangka menyinari potensi menjadi kebanggaan negeri.

Pesantren: life long education

Pola pendidikan pesantren tidak terbatas waktu, karena ia memahami sekaligus menerapkan prinsip thuluz zaman (berkelanjutan). Dalam teori pendidikan modern, konsep ini dikenal dengan pendidikan sepanjang hayat (life long education). Konsep ini mempunyai makna bahwa pendidikan tidak sebatas yang ada di kelas, memahami materi pelajaran, dan mampu melahap soal-soal ujian.

Namun, pendidikan sepanjang hayat membuat anak didik tidak pernah berhenti belajar di mana pun ia berada dan kapan pun dia melihat peristiwa sebagai dasar pembangun rasionalitas-ilmiahnya. Anak didik mungkin dengan gampang memahami bahwa satu ditambah satu sama dengan dua. Tetapi, apakah mereka mengerti makna dari perhitungan ilmiah tersebut? Bagaimana guru atau pendidik agar fakta ilmiah tersebut bermakna (meaningful) bagi peserta didik?

Di titik itulah rasionalitas ilmiah harus dibangun dengan moral kokoh melalui pendidikan bermakna. Mereka harus dipahamkan bahwa dua merupakan hasil dari penjumlahan satu ditambah satu, tidak kurang atau pun lebih. Artinya, generasi bangsa perlu dididik kejujuran sehingga tidak mudah terpengaruh perilaku korup yang sering menambah atau mengurangi jumlah. Tentu ini karakter sederhana yang perlu terus menerus dievaluasi kepada anak didik, meskipun pada praktiknya banyak pendidik yang menemukan kesusahan.

Lalu, apa korelasinya dengan prinsip thuluz zaman-nya pesantren? Penulis ingin menyampaikan bahwa pendidikan pesantren tidak sebatas memahami kitab dan berbagai literatur klasik, tetapi juga mampu memberi makna dan mempraktikannya di tengah kehidupan masyarakat yang plural. Dalam hal ini, pesantren sering kali disebut sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang mampu mendidik santri akan keberagaman bangsanya sehingga muncul sikap toleransi tinggi dan nasionalisme yang kokoh.

Pesantren juga tidak memposisikan dirinya sebagai lembaga pendidikan menara gading, artinya tertutup bagi masyarakat dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan mereka. Pesantren membangun koloni dengan tradisi dan budaya masyarakat, tidak soliter sehingga lulusan pesantren tidak akan mudah tercerabut dari akar sosial masyarakatnya. Karakter ini diperlukan dalam dunia pembangunan karena sudah barang tentu lulusan pesantren akan dengan mudah membangun masyarakatnya sebab memiliki ikatan sosial yang kuat.

Itu bukti bahwa pendidikan pesantren mampu menciptakan generasi pembelajar sepanjang hayat sebagai buah dari konsep thuluz zaman. Belajar dari pesantren, dunia pendidikan Indonesia hendaknya tidak lepas dari akar tradisi dan budaya masyarakatnya. Ini penting untuk mewujudkan generasi yang mampu memberikan solusi konkret terhadap setiap persoalan yang melilit masyarakat. Tidak dengan konsep dan teori yang terlalu mengawang-awang. Apalagi dengan ceramah kosong yang hanya berisi hujatan dan larangan terhadap tradisi dan budaya yang jelas-jelas menciptakan harmoni di tengah kehidupan masyarakat.

Pesantren dan pendidikan Islam pada umumnya memandang bahwa sasaran ilmu agama tidak lain adalah masyarakat sehingga pemahaman agama harusnya tidak bersifat tertutup (eksklusif) melainkan harus terbuka atau inklusif terhadap segala yang berkembang di tengah masyarakat. Eksklusivisme hanya akan membuat agama Islam sebagai rahmat dengan mudah akan tertolak oleh masyarakat. Sehingga alih-alih membuat masyarakat sadar akan limpahan rahmat Tuhannya, yang terjadi justru bersikap apatis terhadap agamanya. Ini poin penting agar lembaga pendidikan sebagai pencetak generasi masa depan agar tidak menjauhkan diri dari akar sosial masyarakatnya.***

Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta.

Source: NU Online 

Thursday, September 15, 2016

Tungku Sate Raksasa ala Santri Balekambang

[caption id="attachment_2633" align="aligncenter" width="640"]Suasana santri Balekambang Jepara saat bakar sate dari daging kurban. Suasana santri Balekambang Jepara saat bakar sate dari daging kurban.[/caption]

JEPARA, PENDIDIKANISLAM.ID - Pondok Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang, Nalumsari, Jepara merayakan hari raya idul adha dengan berbagai macam kegiatan. Kali ini Pesantren Roudlotul Mubtadiin menyembelih tujuh ekor sapi dan empat ekor kambing untuk santri pondok dan masyarakat sekitar.

Sholat ied memulai rangkaian acara tersebut, kemudian dilanjutkan pemotongan hewan kurban, dan pembagian daging kepada santri pondok dan masyarakat sekitar. Setelah pembagian daging selesai, proses selanjutnya adalah pembakaran sate. Tungku yang disediakan mencapai 120 Meter untuk santri putra dan 100 Meter untuk santri putri.

Di dalam pembagian daging terdapat bumbu serta bambu tusuk sate. Selain itu pondok juga menyediakan nasi dan es teh untuk santri sebagai pendamping makan sate.

Ratusan santri terlihat antusias dalam merayakan Idul Adha dan mengolah daging kurban untuk disantap bersama-sama. Santri putri kebagian tugas menyiapkan daging dalam tusuk sate sekaligus menyiapkan bumbu-bumbu yang diperlukan. Sebelumnya, mereka juga membantu proses pemotongan daging.

Sementara itu, santri putra mendapat giliran membakar sate secara beramai-ramai sehingga suasana terlihat guyub karena semua menikmati proses nyate tersebut. Semua santri nampak semangat meskipun terik matahari dan asap tungku satu mengepul tebal. (Red: Fathoni Ahmad)

Wednesday, September 14, 2016

Dana Pemda untuk Pendidikan Islam Legal!

pesantren-di-mojoagung-jombang* Ibnu Sholeh, Sekretaris Daerah Kabupaten Bangka Tengah, tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia mengungkapkan, pembangunan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia di daerahnya merupakan hadiah yang tak ternilai harganya dari Kementerian Agama RI.

Sejenak, saat menyampaikan kata sambutan, ia mengarahkan pandangan kepada para peserta didik baru yang telah berhasil lolos seleksi. “Kalian anak-anak hebat yang telah berhasil masuk madrasah unggulan nasional ini dengan persaingan yang sangat ketat,” ujarnya pada satu acara penerimaan peserta didik baru dan orang tua wali MAN Insan Cendekia Bangka Tengah.

Biro Kesra, Arsyad Nur Yadin atas nama Gubernur Kepulauan Bangka Belitung menyampaikan, pihaknya akan mendukung pengembangan lembaga pendidikan Islam itu. “Kami akan berbagi peran antara Pemerintah Pusat dalam hal ini Kemenag, Pemerintah Daerah Provinsi dan Bangka Tengah dalam mengembangkan MAN Insan Cendekia ini,” kata Arsyad.

Sementara itu di Tanah Laut, Kalimantan Selatan, Bupati Bambang Alamsyah tidak segan-segan mengungkapkan di muka umum, ia ingin anaknya bisa diterima di MAN Insan Cendekia.

“Saya bercita-cita, kelak anak saya akan saya masukan ke MAN Insan Cendekia di Tanah Laut ini,” katanya disambut tepuk tangan hadirin saat menyampaikan sambutan pada acara peresmian MAN Insan Cendekia Tanah Laut Jumat, (17/7).

Bambang mengatakan, pihaknya akan terus mendukung penuh keberadaan MAN Insan Cendekia Tanah Laut untuk melahirkan putra-putra bangsa yang berkualitas dan kompetitif.

Pembangunan MAN Insan Cendekia merupakan upaya kerjasama sinergis antara Kementerian Agama dengan sejumlah Pemerintah Daerah dalam rangka mengembangkan madrasah bermutu dan unggul.

Direktur Pendidikan Madrasah pada Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama M. Nur Kholis Setiawan mengatakan, sudah saatnya pemerintah daerah memberikan perhatian kepada madrasah, termasuk bantuan kepada madrasah swasta, dan tidak hanya fokus pada sekolah umum.

postur-anggaran-pendidikan-2016Porsi Anggaran

Saat meresmikan sekolah MAN Insan Cendekia di Kota Batam Kepulauan Riau, yang mulai beroperasi pada tahun ajaran 2016/2017, Nur Kholis mendorong DPRD Kepulauan Riau memperjuangkan madrasah, termasuk madrasah-madrasah swasta agar bisa mendapatkan perhatian anggaran, sehingga dapat menjadi madrasah yang ideal.

"Memang porsi anggaran bagi madrasah-madrasah swasta dirasa masih sangat kurang. Namun, bukan berarti mereka dianaktirikan dan tidak diperhatikan. Yang terpenting, kita terus memperjuangkan dengan argumentasi-argumentasi yang konkret dan data yang valid. Sehingga, madrasah yang ada bisa semakin baik," jelasnya.

Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak mendukung kehadiran Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia dengan berkomitmen untuk mengalokasikan anggaran pembangunan sekolah yang berlokasi di Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa.

“Apa saja yang kurang, yang perlu untuk di tingkatkan, segera sampaikan ke kami. Nanti akan kami susun dan anggarkan," kata Jumaga.

Harapan Nur Kholis agar madrasah mendapatkan porsi anggaran yang sepadan dari pemerintah daerah sangat beralasan jika melihat besaran anggaran pendidikan nasional yang disalurkan melalui transfer daerah. Jumlahnya cukup fantastis hingga mencapai angka 63,9% dari total anggaran pendidikan nasional.

Anggaran pendidikan nasional atau 20% dari total APBN Tahun 2016 Rp. 2 ribu triliun lebih itu sebesar Rp.419,173 triliun. 34,89 % dari anggaran pendidikan itu disalurkan melalui pemerintah pusat yang dibagi untuk Kementerian Pendidikan dan kebudayaan sebesar 11,74%, Kementerian Ristek dan Dikti 9,42%, dan Kementerian Agama 11,02%. Sisanya, 2,55% dibagi untuk sektor pendidikan di 17 kementerian negara/lembaga lainnya.

Besaran anggaran pendidikan yang disalurkan melalui pemerintah pusat itu tidak sebanding dengan 63,9% dari total anggaran pendidikan nasional 2016 yang disalurkan kepada pemerintah daerah yang mencapai RP.267,887 triliun. Kementerian Agama hanya mengelola dana Rp.46,84 triliun untuk lembaga pendidikan Islam di seluruh Indonesia, itu pun termasuk untuk perguruan tinggi Islam.

Sangat tidak adil jika dana pendidikan di daerah sebesar itu hanya disalurkan untuk lembaga pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan dan kebudayaan yang sudah mendapatkan alokasi dari pusat. Sangat tidak adil jika dana pendidikan di daerah tidak boleh disalurkan untuk lembaga pendidikan Islam yang legal dan diakui oleh negara.

Tidak Haram

Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin meminta para Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Provinsi untuk melakukan komunikasi intensif dengan para Pimpinan Daerah baik Gubernur, Bupati dan Walikota agar dana pendidikan di daerah bisa disalurkan untuk lembaga pendidikan Islam.

“Berkali-kali saya bicara dengan DPR, Bappenas, Kemendagri dan beberapa Kepala Daerah rata-rata mereka sangat antusias untuk membantu madrasah. Saya ingin mengajak teman-teman untuk melakukan komunikasi dengan teman-teman Pemda bahwa membantu madrasah boleh dan tidak haram,” katanya.

Kamaruddin meminta jajarannya memahami betul regulasi tentang kewenangan penganggaran pendidikan. Hasil kajian dengan Komisi VIII DPR RI, kata Kamaruddin, menunjukan bahwa Pemerintah Daerah tidak hanya boleh, bahkan harus membantu Madrasah karena lembaga ini telah berjasa meningkatkan APK pendidikan nasional.

Sebenarnya setelah terbitnya UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang kemudian disusul keluarnya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah sudah merupakan landasan hukum bagi pemerintah daerah dalam mengelola daerahnya secara otonom khususnya dalam konteks peningkatan mutu pendidikan di daerah. Peningkatan mutu tersebut bisa diejawantahkan dengan pengalokasian dana, infrastruktur (sarana/prasarana), tenaga pengajar serta akses pendidikan.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 itu sendiri telah mewajibkan Pemerintah daerah memberikan pendanan pendidikan untuk warganya (pasal 46 ayat 1 dan 2). Pada pasal 49 ayat 1 juga menyebutkan bahwa dana pendidikan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pemerintah daerah mengaloakasikan anggaran pendidikan, sedangkan pemerintah pusat selain anggaran juga berbertanggungjawab dalam menyiapkan norma, standar, prosedur dan kriteria (NSPK).

Dalam semua produk undang undang dan regulasi apapun yang menyinggung soal pendidikan dan kompetensi akademis, lembaga pendidikan Islam selalu disebutkan secara eksplisit dan setara serta diakui sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Lulusan lembaga pendidikan Islam berhak dan sah menduduki jabatan-jabatan publik, sama seperti lulusan lembaga pendidikan umum. Maka atas nama otonomi daerah pun tidak ada alasan bagi daerah untuk membeda-bedakan perlakukan kepada lembaga-lembaga pendidikan yang sah dan diakui oleh negara.

Apresiasi Kemenag

Sementara ini perlakuan terhadap lembaga pendidikan Islam tidak sama antar satu daerah dengan lainnya. Sumbangsih terhadap lembaga pendidikan Islam sangat tergantung pada pemerintah daerah setempat.

Akhir tahun 2015 lalu Kementerian Agama memberikan penghargaan kepada enam kepala daerah yang terdiri dari satu wali kota dan lima bupati yang dinilai memiliki kepedulian terhadap pengembangan pendidikan Islam di daerahnya. Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam acara Malam Apresiasi Pendidikan Islam (API) 2015 di Jakarta, Jumat (11/12/2015) lalu.

Enam kepala daerah yang mendapatkan penghargaan API 2015 ini adalah Mahyeldi Ansharullah (Wali Kota Padang), Syamsuar (Bupati Siak), Danar Rahmanto (Bupati Wonogiri), Anang Syakhfiyani (Bupati Tabalong), Zainuddin Hasan (Bupati Bulukumba) dan Jamaluddin Malik (Bupati Sumbawa).

API merupakan ajang yang diberikan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam kepada individu maupun institusi yang memberikan dedikasi luar biasa untuk pendidikan Islam. Selain kategori kepala daerah, Kemenag juga memberikan apresiasi kepada lembaga atau perseorangan yang dinilai berjasa dalam pengembangan pendidikan Islam..

Terkait pemberian penghargaan kepada para kepala daerah ini, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin mengatakan, banyak wali kota dan bupati yang berpendapat bahwa pendidikan Islam merupakan ranah dari Kementerian Agama karena kementerian ini dianggap bukan bagian dari desentralisasi.

Akibatnya, banyak madrasah di daerah-daerah yang terbengkalai bahkan roboh karena kurang perhatian dari kepala daerah. Bahkan robohnya madrasah itu terletak di dekat sekolah mewah yang dibangun wali kota atau bupati.

"Mereka menganggap pendidikan Islam bukan desentralisasi sehingga kurang terperhatikan karena pendidikan Islam dianggap urusan pusat yaitu Kemenag saja," kata Kamaruddin.

Karena itulah Kementerian Agama memberikan apresiasi kepada para kepala daerah yang memberikan perhatian lebih kepada lembaga pendidikan Islam.

Terpisah, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkot setempat, Al Amin di Padang, mengatakan, pihaknya merasa terhormat mendapatkan penghargaan dari Kementerian Agama.

"Penghargaan ini cukup luar biasa, sebab dari 340 kabupaten dan kota hanya enam daerah saja yang meraih penghargaan Apresiasi Pendidikan Islam se-Indonesia," katanya seperti dikutip kantor berita setempat, Kamis, sehari sebelum pelaksanaan API 2015 di Jakarta.

Penghargaan ini diraih karena kepedulian kepala daerah terhadap pendidikan Islam melalui kebijakan dan program kerja, yaitu aktivitas keagamaan berjalan semarak dan dukungan dana yang banyak untuk pendidikan Islam tersebut.

Ia menyebutkan Kota Padang memang telah benar-benar peduli dengan pendidikan, yaitu memberikan dana insentif pada guru mengaji se-Kota Padang sebanyak Rp.9 miliar per tahun.

Selain itu Pemkot juga memberikan perhatian dalam bentuk dana untuk pelaksanaan pesantren Ramadhan sebanyak Rp2,5 miliar.

"Masih banyak kepedulian terhadap pendidikan Islam, seperti sertifikasi guru mengaji TPQ/TPA dan bantuan yang diberikan kepada Madrasah Aliyah (MA) sebesar Rp1 miliar," jelasnya.

Sementara itu Kepala Kantor Kementerian Agama Padang, Japeri mengakui selama ini Pemkot telah banyak berkontribusi terhadap perkembangan dan jalannya roda pendidikan Islam di Padang.

Menurutnya penghargaan ini cukup pantas diterima Padang karena pendidikan agama tidak saja diberikan kepada anak-anak, akan tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat.

"Wali Kota cukup peduli terhadap perkembangan dan pengawasan keagamaan dan Wali Kota seperti ini tidak dimiliki oleh daerah lain," ujarnya bangga. (*)

* Artikel Utama I, Majalah Pendis Edisi VI 2016.