JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Perkemahan Rohis Nasional ke-2 yang dilaksanakan 2-6 Mei 2016 di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta menghasilkan Piagam Cibubur. Piagam ini diikrarkan oleh 2000 anggota Rohis di acara penutupan Perkemahan Rohis, Jumat (6/5).
Dengan nada tegas dan semangat, ke-12 siswa SMA/SMK yang mewakili ribuan Rohis tersebut memimpin pembacaan piagam sebagai ketua di masing-masing RW-nya.
Ke-12 siswa selaku Ketua RW tersebut yaitu, Chandra Nugraha Saputra (SMAN 3 Kota Sukabumi), Mustaqim (SMA Muhammadiyah Lhouksemawe, Aceh), Ahmad Fauzan Mustapa (SMKN 1 Palu), Ahmad Burhanuddin Zaka (SMK Al-Mujtama Pamekasan), Rizki Hidayat (SMAN 2 Sumbawa Besar, NTB), Diar Dwi Abriyanto (SMAN 7 Surakarta), Siti Lailatul Fadilah (SMAN 6 Depok), Annisa Larasati Pranadita (SMAN 3 Yogyakarta), Murti Marinah (SMAN 2 Jombang), Indi Paradise (SMAN 1 Manyar, Gresik), Isnaini Nur Fitriyani (SMAN 2 Wonosari, DIY), Regita Apriyanita (SMAN 1 Moga, Pemalang).
Berikut bunyi Piagam Cibubur hasil Perkemahan Rohis Nasional 2016:
Bahwa keberagaman adalah hakikat dari bangsa Indonesia. Dan kami sebagai anak bangsa bertanggung jawab untuk dapat mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Demi kokohnya bangsa Indonesia, kami Rohani Islam (Rohis) siswa SMA/SMK Indonesia dengan ini berkomitmen untuk:
1. Menjadikan Rohis sebagai wadah pembinaan yang memanfaatkan seluruh ruang, kreasi seni, bakat, dan keterampilan dalam mengembangkan kepribadian muslim yang damai dan toleran.
2. Mengantisipasi masuknya paham-paham yang akan merusak citra Rohis sebagai pejuang Islam Rahmatan lil ‘Alamin.
3. Menjadi pelopor bagi generasi muda untuk mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
4. Mengantisipasi dampak negatif modernisasi yang berupa hedonisme, pergaulan bebas, dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.
5. Merevitalisasi tata kelola Rohis sebagai pokok utama Pembinaan Kesiswaan Bidang Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di sekolah.
Piagam tersebut ditandatangani oleh Direktur PAI Kemenag RI H Amin Haedari tertanggal 6 Mei 2016 bertempat di Bumi Perkemahan Wisata Cibubur Jakarta. (Fathoni Ahmad)
Showing posts with label rohis. Show all posts
Showing posts with label rohis. Show all posts
Friday, May 6, 2016
Direktur PAI Resmi Tutup Perkemahan Rohis Nasional 2016
JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama RI H Amin Haedari secara resmi menutup kegiatan Perkemahan Rohis Nasional ke-2 tahun 2016 di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta, Jumat (6/5).
Dalam momen penutupan yang dibarengi dengan pembacaan Piagam Cibubur tersebut, Amin Haedari berpesan kepada seluruh peserta yang berjumlah tak kurang dari 2000 anggota Rohis agar senantiasa meneguhkan kebersamaan di tengah perbedaan.
“Nilai-nilai Islam yang toleran harus terus dijaga oleh para anggota Rohis agar kalian menjadi generasi ramah sebagai wujud kebersamaan kita selama kegiatan perkemahan,” ujar Amin Haedari diikuti tepuk tangan meriah dari ribuan peserta.
Selanjutnya, pria asal Ciamis Jawa Barat ini berharap kegiatan serupa diadakan di setiap Kanwil Kemenag di Provinsi masing-masing. “Dan kalian yang sudah mengikuti Kemah Rohis tingkat nasional ini bisa menularkan pesan-pesan untuk mewujudkan generasi ramah, toleran, dan bermartabat,” tandasnya.
Kegiatan dua tahunan ini dilaksanakan selama 5 hari yakni tanggal 2-6 Mei 2016. Perkemahan Rohis kali ini mengambil tema besar Membangun Generasi Emas yang Ramah dan Bermartabat. Tema tersebut diambil dengan tujuan agara anggota Rohis dengan sadar keberagaman Indonesia agar menjadi generasi penerus bangsa yang ramah di tengah maraknya paham radikal yang kerap menyusup di Rohis. (Fathoni Ahmad)
Dalam momen penutupan yang dibarengi dengan pembacaan Piagam Cibubur tersebut, Amin Haedari berpesan kepada seluruh peserta yang berjumlah tak kurang dari 2000 anggota Rohis agar senantiasa meneguhkan kebersamaan di tengah perbedaan.
“Nilai-nilai Islam yang toleran harus terus dijaga oleh para anggota Rohis agar kalian menjadi generasi ramah sebagai wujud kebersamaan kita selama kegiatan perkemahan,” ujar Amin Haedari diikuti tepuk tangan meriah dari ribuan peserta.
Selanjutnya, pria asal Ciamis Jawa Barat ini berharap kegiatan serupa diadakan di setiap Kanwil Kemenag di Provinsi masing-masing. “Dan kalian yang sudah mengikuti Kemah Rohis tingkat nasional ini bisa menularkan pesan-pesan untuk mewujudkan generasi ramah, toleran, dan bermartabat,” tandasnya.
Kegiatan dua tahunan ini dilaksanakan selama 5 hari yakni tanggal 2-6 Mei 2016. Perkemahan Rohis kali ini mengambil tema besar Membangun Generasi Emas yang Ramah dan Bermartabat. Tema tersebut diambil dengan tujuan agara anggota Rohis dengan sadar keberagaman Indonesia agar menjadi generasi penerus bangsa yang ramah di tengah maraknya paham radikal yang kerap menyusup di Rohis. (Fathoni Ahmad)
Thursday, May 5, 2016
Sebagian Rohis Ada yang Berangkat secara Mandiri Ikut Perkemahan
[caption id="attachment_1404" align="aligncenter" width="640"]
Para Rohis sedang mengikuti kegiatan di Perkemahan Rohis Nasional[/caption]
JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Kuota 8 kontingen per provinsi yang ditetapkan oleh panitia pusat Perkemahan Rohis Nasional II tahun 2016 pada Selasa-Jumat (2-6/5) di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta tidak menyurutkan langkah para pengurus Rohis di setiap provinsi untuk memutuskan ikut secara mandiri.
Mereka rela mengeluarkan biaya perjalanan sendiri demi ikut even dua tahunan tersebut. Delapan kuota yang dutentukan oleh panitia pusat terdiri dari 7 delegasi dan 1 pendamping. Panitia mempersilakan tamabahan kontingen per provinsi asal akomodasi transport ditanggung oleh masing-masing di luar kontingen yang ditetapkan oleh pusat.
Mengenai antusiasme tinggi para Rohis ini diungkapkan oleh Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenag RI H Amin Haedari. Hal ini dia sampaikan saat memberi pengarahan penutup kepada para pendamping dan pembina Rohis, Kamis (5/5) di Gedung Serba Guna Cut Nyak Dien Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta.
“Sebagian Rohis ada berangkat ke kegiatan ini secara mandiri. Antusiasme mereka dalam kebersamaan ini perlu diarahkan agar menjadi generasi ramah, cinta perbedaan, dan toleran. Ini harus menjadi perhatian para guru di setiap sekolah,” tegas Amin.
Di antara kontingen mnadiri terbanyak berasal dari Sulawesi Selatan. Mereka mengirimkan hingga 40 delegasi tambahan yang berangkat secara mandiri. “Saya lihat delegasi tambahan yang berangkat secara mandiri terbanyak dari Sulawesi Selatan, yakni 40 delegasi tambahan,” terang H Ibrahim Abu Bakar, pendamping kontingen Sulawesi Selatan.
Kepala Seksi (Kasi) PAI pada SMK di Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan ini menjelaskan bahwa dari aspek transport, mereka biaya mandiri. Biaya mandiri tersebut berasal dari bantuan sekolah maupun dari orang tua mereka sendiri.
“Sedangkan Kanwil menyediakan persediaan atribut perkemahan seperti kaos, dan lain-lain. Adapun persediaan makan, tenda, dan lain-lain tetap panitia pusat membantu,” terang Ibrahim.
Mengenai kontingen yang berangkat secara mandiri ini, dari Provinsi Nanggroe Aceh Darusslam (NAD) mengirimkan kontingen tambahan sejumlah 25 peserta. Begitu juga dengan provinsi lain, bisa menambah 5-8 delegasi tambahan. Banyak juga yang mematuhi kuota wajib dari panitia pusat seperti Provinsi Jawa Timur. (Fathoni Ahmad)
JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Kuota 8 kontingen per provinsi yang ditetapkan oleh panitia pusat Perkemahan Rohis Nasional II tahun 2016 pada Selasa-Jumat (2-6/5) di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta tidak menyurutkan langkah para pengurus Rohis di setiap provinsi untuk memutuskan ikut secara mandiri.
Mereka rela mengeluarkan biaya perjalanan sendiri demi ikut even dua tahunan tersebut. Delapan kuota yang dutentukan oleh panitia pusat terdiri dari 7 delegasi dan 1 pendamping. Panitia mempersilakan tamabahan kontingen per provinsi asal akomodasi transport ditanggung oleh masing-masing di luar kontingen yang ditetapkan oleh pusat.
Mengenai antusiasme tinggi para Rohis ini diungkapkan oleh Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenag RI H Amin Haedari. Hal ini dia sampaikan saat memberi pengarahan penutup kepada para pendamping dan pembina Rohis, Kamis (5/5) di Gedung Serba Guna Cut Nyak Dien Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta.
“Sebagian Rohis ada berangkat ke kegiatan ini secara mandiri. Antusiasme mereka dalam kebersamaan ini perlu diarahkan agar menjadi generasi ramah, cinta perbedaan, dan toleran. Ini harus menjadi perhatian para guru di setiap sekolah,” tegas Amin.
Di antara kontingen mnadiri terbanyak berasal dari Sulawesi Selatan. Mereka mengirimkan hingga 40 delegasi tambahan yang berangkat secara mandiri. “Saya lihat delegasi tambahan yang berangkat secara mandiri terbanyak dari Sulawesi Selatan, yakni 40 delegasi tambahan,” terang H Ibrahim Abu Bakar, pendamping kontingen Sulawesi Selatan.
Kepala Seksi (Kasi) PAI pada SMK di Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan ini menjelaskan bahwa dari aspek transport, mereka biaya mandiri. Biaya mandiri tersebut berasal dari bantuan sekolah maupun dari orang tua mereka sendiri.
“Sedangkan Kanwil menyediakan persediaan atribut perkemahan seperti kaos, dan lain-lain. Adapun persediaan makan, tenda, dan lain-lain tetap panitia pusat membantu,” terang Ibrahim.
Mengenai kontingen yang berangkat secara mandiri ini, dari Provinsi Nanggroe Aceh Darusslam (NAD) mengirimkan kontingen tambahan sejumlah 25 peserta. Begitu juga dengan provinsi lain, bisa menambah 5-8 delegasi tambahan. Banyak juga yang mematuhi kuota wajib dari panitia pusat seperti Provinsi Jawa Timur. (Fathoni Ahmad)
Direktur PAI: Penting Membangun Empati dan Kepedulian untuk Para Rohis
JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI H Amin Haedari menegaskan bahwa salah satu tujuan utama kegiatan Perkemahan Rohis Nasional ke-2 di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta, Senin-Jumat (2-6/5) adalah untuk membangun empati dan kepedulian generasi muda khususnya para Rohis.
Hal ini disampaikan Amin Haedari dalam pengarahan penutup kepada para pendamping dan pembina Rohis, Kamis (5/5) di Gedung Serba Guna Cut Nyak Dien Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta.
Amin meyakini bahwa dengan orientasi demikian, para aktivis dan pengurus Rohis akan lebih terbangun karakternya sebagai manusia yang mempunyai empati dan kepedulian dengan sesama meski berbeda suku, bangsa, maupun bahasanya.
“Aspek itulah yang ingin kita bangun dalam kebersamaan. Sebab itu, dalam kegiatan perkemahan ini, kami sengaja membaurkan para peserta yang berasal dari berbagai daerah dan provinsi agar mereka terbuka dan mengenal satu sama lain sehingga timbul rasa peduli dan empati,” ujar pria kelahiran Ciamis Jawa Barat ini.
Amin juga menegaskan bahwa kegiatan ini tidak diarahkan pada kompetensi kognitif. Karena menurutnya, sisi tersebut sudah ada wadahnya sendiri yaitu Pentas PAI, di mana ajang tersebut melombakan berbagai cabang keilmuan dan keterampilan di bidang agama Islam.
Hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting mengingat para Rohis yang mudah disusupi oleh paham-paham radikal dan intoleran. Sehingga menurut Amin, sisi empati dan kepedulian menjadi orientasi yang sangat perlu dan penting.
“Saya tidak menafikan sisi pemahaman agama, karena hal itu saya yakin mereka sedikit banyak sudah paham, empati dan kepedulianlah yang perlu ditekankan,” tuturnya.
Kendati demikian, pemahaman agama para Rohis banyak yang perlu diluruskan dan diarahkan ke pemahaman agama yang baik dan benar. Amin juga menekankan kepada Rohis bahwa penguatan wawasan kebangsaan menjadi penting di tengah keberagaman bangsa Indonesia sehingga menumbuhkan cinta tanah air. (Fathoni Ahmad)
Hal ini disampaikan Amin Haedari dalam pengarahan penutup kepada para pendamping dan pembina Rohis, Kamis (5/5) di Gedung Serba Guna Cut Nyak Dien Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta.
Amin meyakini bahwa dengan orientasi demikian, para aktivis dan pengurus Rohis akan lebih terbangun karakternya sebagai manusia yang mempunyai empati dan kepedulian dengan sesama meski berbeda suku, bangsa, maupun bahasanya.
“Aspek itulah yang ingin kita bangun dalam kebersamaan. Sebab itu, dalam kegiatan perkemahan ini, kami sengaja membaurkan para peserta yang berasal dari berbagai daerah dan provinsi agar mereka terbuka dan mengenal satu sama lain sehingga timbul rasa peduli dan empati,” ujar pria kelahiran Ciamis Jawa Barat ini.
Amin juga menegaskan bahwa kegiatan ini tidak diarahkan pada kompetensi kognitif. Karena menurutnya, sisi tersebut sudah ada wadahnya sendiri yaitu Pentas PAI, di mana ajang tersebut melombakan berbagai cabang keilmuan dan keterampilan di bidang agama Islam.
Hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting mengingat para Rohis yang mudah disusupi oleh paham-paham radikal dan intoleran. Sehingga menurut Amin, sisi empati dan kepedulian menjadi orientasi yang sangat perlu dan penting.
“Saya tidak menafikan sisi pemahaman agama, karena hal itu saya yakin mereka sedikit banyak sudah paham, empati dan kepedulianlah yang perlu ditekankan,” tuturnya.
Kendati demikian, pemahaman agama para Rohis banyak yang perlu diluruskan dan diarahkan ke pemahaman agama yang baik dan benar. Amin juga menekankan kepada Rohis bahwa penguatan wawasan kebangsaan menjadi penting di tengah keberagaman bangsa Indonesia sehingga menumbuhkan cinta tanah air. (Fathoni Ahmad)
Bagaimana Menumbuhkan Budaya Toleran kepada Para Rohis?
JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Di waktu siang yang cukup terik dan menyengat kulit, sekitar 2000 para aktivis Rohis di tingkat SMA/SMK, Rabu (4/5) dalam kegiatan Perkemahan Rohis Nasional ke-2 di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta menerima berbagai materi peningkatan kapasitas pribadi dan orgnaisasi ke arah yang lebih baik.
Format pembagian kelompok atau grup dalam perkemahan bertajuk Membangun Generasi Emas, Ramah, dan Bermartabat ini menggunakan Rukun Warga (RW) yang terbagi dalam 12 RW. RW tersebut menggabungkan aktivis dan pengurus Rohis dari berbagai satuan sekolah di seluruh daerah dan provinsi di Indonesia. 1 RW yang terdiri dari 5 Rukun Tetangga (RT) tersebut saling berbaur dan mengenal satu sama lain.
Mereka saling menyapa dan tersenyum untuk mengawali proses perkenalan mereka. Hal ini berlangsung sebelum mereka menerima materi yang bertempat di setiap balai RW. Di balai RW tersebut, mereka tidak hanya dikelompokkan per jenis kelamin yakni siswa perempuan saja, tetapi forum di setiap RW juga melibatkan peserta laki-laki sehingga interaksi sosial lintas jender pun terjadi. Namun demikian, bumi perkemahan mereka tetap terpisah.
Konsep perkemahan yang melibatkan siswa dari berbagai daerah ini sengaja dilakukan agar para Rohis sadar bahwa mereka berinteraksi dalam keberagaman suku, budaya, bahasa, dan lain sebagainya. Dengan ikatan iman yang sama, tetapi mereka juga mesti memahami bahwa perbedaan di antara para aktivis Rohis justru memperkuat identitas keindonesiaan sehingga terbangun budaya toleransi.
Dari pengalaman ini, para pemateri di setiap RW juga menekankan keberagaman keyakinan di Indonesia sehingga berangkat dari pemikiran yang sama terkait dengan perbedaan suku, budaya, adat, tradisi, bahasa, dan lain sebagainya, mereka juga hendaknya bersikap toleran dan ramah terhadap saudara setanah air meski berbeda keyakinan. Di titik inilah keterbukaan pemikiran dan wawasan kebangsaan harus dipahami oleh para Rohis sehingga stigma Rohis sebagai organisasi tertutup tidak lagi beredar.
Sadar akan keberagaman budaya dan agama inilah yang menjadi alasan kuat Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenag RI H Amin Haedari untuk menampilkan berbagai pakaian dan tarian adat serta keragaman seni dan budaya di dalam acara pembukaan Perkemahan Rohis Selasa (3/5) lalu.
“Mereka harus sadar bahwa mereka hidup dalam keberagaman budaya sehingga harus menjadi generasi ramah terhadap perbedaan budaya maupun keyakinan,” ujar Amin Haedari sesaat setelah acara pembukaan selesai.
Untuk mewujudkan generasi ramah dan toleran di antara para aktivis Rohis, setiap pembina dan guru di sekolah juga harus paham betul kegiatan para Rohis. Hal ini seperti yang ditekankan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan pidato pembukaan Perkemahan Rohis ini.
“Jangan sampai para guru dan pihak-pihak terkait di sekolah tidak membimbing kegiatan mereka ke arah pemahaman yang lebih baik. Lebih dari itu, guru dan pembina Rohis juga harus selalu memperbarui informasi terkini soal perkembangan terbaru tentang pemikiran, pemahaman, dan konflik dunia Islam,” ujar Menag. (Fathoni Ahmad)
Format pembagian kelompok atau grup dalam perkemahan bertajuk Membangun Generasi Emas, Ramah, dan Bermartabat ini menggunakan Rukun Warga (RW) yang terbagi dalam 12 RW. RW tersebut menggabungkan aktivis dan pengurus Rohis dari berbagai satuan sekolah di seluruh daerah dan provinsi di Indonesia. 1 RW yang terdiri dari 5 Rukun Tetangga (RT) tersebut saling berbaur dan mengenal satu sama lain.
Mereka saling menyapa dan tersenyum untuk mengawali proses perkenalan mereka. Hal ini berlangsung sebelum mereka menerima materi yang bertempat di setiap balai RW. Di balai RW tersebut, mereka tidak hanya dikelompokkan per jenis kelamin yakni siswa perempuan saja, tetapi forum di setiap RW juga melibatkan peserta laki-laki sehingga interaksi sosial lintas jender pun terjadi. Namun demikian, bumi perkemahan mereka tetap terpisah.
Konsep perkemahan yang melibatkan siswa dari berbagai daerah ini sengaja dilakukan agar para Rohis sadar bahwa mereka berinteraksi dalam keberagaman suku, budaya, bahasa, dan lain sebagainya. Dengan ikatan iman yang sama, tetapi mereka juga mesti memahami bahwa perbedaan di antara para aktivis Rohis justru memperkuat identitas keindonesiaan sehingga terbangun budaya toleransi.
Dari pengalaman ini, para pemateri di setiap RW juga menekankan keberagaman keyakinan di Indonesia sehingga berangkat dari pemikiran yang sama terkait dengan perbedaan suku, budaya, adat, tradisi, bahasa, dan lain sebagainya, mereka juga hendaknya bersikap toleran dan ramah terhadap saudara setanah air meski berbeda keyakinan. Di titik inilah keterbukaan pemikiran dan wawasan kebangsaan harus dipahami oleh para Rohis sehingga stigma Rohis sebagai organisasi tertutup tidak lagi beredar.
Sadar akan keberagaman budaya dan agama inilah yang menjadi alasan kuat Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenag RI H Amin Haedari untuk menampilkan berbagai pakaian dan tarian adat serta keragaman seni dan budaya di dalam acara pembukaan Perkemahan Rohis Selasa (3/5) lalu.
“Mereka harus sadar bahwa mereka hidup dalam keberagaman budaya sehingga harus menjadi generasi ramah terhadap perbedaan budaya maupun keyakinan,” ujar Amin Haedari sesaat setelah acara pembukaan selesai.
Untuk mewujudkan generasi ramah dan toleran di antara para aktivis Rohis, setiap pembina dan guru di sekolah juga harus paham betul kegiatan para Rohis. Hal ini seperti yang ditekankan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan pidato pembukaan Perkemahan Rohis ini.
“Jangan sampai para guru dan pihak-pihak terkait di sekolah tidak membimbing kegiatan mereka ke arah pemahaman yang lebih baik. Lebih dari itu, guru dan pembina Rohis juga harus selalu memperbarui informasi terkini soal perkembangan terbaru tentang pemikiran, pemahaman, dan konflik dunia Islam,” ujar Menag. (Fathoni Ahmad)
Rohis juga Selfie dan Suka Musik
Seorang peserta Perkemahan Rohis Nasional sedang asyik memainkan kamera telpon genggamnya. Rupanya ia tertarik dengan tulisan-tulisan yang ada di beberapa spanduk yang berjajar di sepanjang arena Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta Timur, Rabu (3/5) pagi. Ia tidak hanya ingin mengabadikan slogan-slogan yang ada di spanduk-spanduk itu, tapi juga mengabadikan dirinya sendiri. Ia berfoto selfie bersama spanduk-spanduk itu. “Cekrik... Cekrik...!”
Sehari sebelumnya, menjelang acara pembukaan Perkemahan Rohis Nasional, beberapa siswa dari 33 provinsi mengenakan pakaian adat daerah masing-masing. Mereka yang terlihat cantik dan ganteng itu tak pelak menjadi sasaran target para peserta kemah rohis untuk berfoto selfie. Ternyata, tidak hanya para siswa anggota rohis, para guru pendamping atau pembimbing rohis juga ikut berselfie ria, bahkan rupanya ada yang sudah siap dengan tongkat bantu selfie, dan “cekrik... cekrik!”
Pada saat-saat dilaksanakan acara pembukaan perkemahan secara resmi, beberapa pejabat negara hadir, termasuk menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Ketika sang menteri hadir, spontan beberapa siswa anggota rohis memberanikan diri maju ke depan. Mereka tidak hanya mengambil gambar menteri, tetapi juga berfoto selfie dengan latar belakang pak menteri. “Cekrik... cekrik..!”
Lalu, usai acara pembukaan beberapa peserta anggota rohis terlihat terkejut dan histeris ketika tiba-tiba muncul seorang artis cewek pendatang baru. “Hahh...!” Dialah Lesti D'Academy yang sempat mendapatkan pernghargaan sebagai Penyanyi Dangdut Wanita Paling Ngetop di salah satu stasiun TV swasta nasional. Ketika Lesti muncul, sebagian peserta rohis terlihat ikut larut bernyanyi bersama sang artis. Dan tidak ketinggalan, ada juga yang tidak menyia-nyikan kesempatan untuk berselfie. Mumpung ketemu. “Cekrik.. cekrik...”
Apa yang digambarkan di atas sekedar menunjukkan bahwa anggota rohis atau rohani Islam di sekolah-sekolah adalah siswa biasa, seperti siswa lainnya yang bukan anggota rohis. Mereka juga sedang gandrung dengan telepon genggam atau smart phone mereka dengan berbagai aplikasinya. Mereka juga menonton TV dan mempunyai artis-artis yang menjadi idola masing-masing.
Dalam hal bermusik para anggota Rohis juga tidak selalu identik dengan rebana, marawis atau nasyid. Pada saat pembukaan Perkemahan Rohis itu, utusan Rohis dari salah satu sekolah di Bandung membawakan lagu-lagu religi, shalawat dan lagu-lagu populer dengan musik khas sunda yang dipadu dengan alat-alat musik modern. Jadi selera musik para Rohis juga cukup lumayan. Bahkan pada saat menteri agama masih berada di areal pembukaan, mereka juga tidak ragu memutar musik "Gamnam Style" yang menghentak-hentak disertai gerakan mereka yang khas dan gaul.
Jadi para siswa anggota rohani Islam sebenarnya tidak “serem”, eksklusif, tertutup, pakem, “fanatik banget” seperti digambarkan sebagian orang. Mereka adalah para siswa biasa yang sedang ingin menambah wawasan agama bersama teman-teman mereka dalam perkumpulan rohis, atau organisasi keagamaan yang secara struktural menjadi bagian dari Organisasi Siswa Intra Sekolah atau OSIS.
Rohis adalah organisasi keagamaan Islam untuk para siswa yang belajar di sekolah-sekolah umum, baik di SMP atau SMA dan SMK. Perkumpulan Rohis ini melengkapi materi pendidikan Agama Islam (PAI) yang mereka dapatkan di sekolah. Di dalam Rohis meraka tidak sekedar belajar agama, tetapi juga berekspresi dan menyalurkan bakat dan minat bersama teman-teman mereka serta melakukan berbagai aktivitas sosial dan keagamaan.
Namun beberapa waktu belakangan ini, Rohis tertimpa isu yang tidak menguntungkan. Rohis disinyalir menjadi salah satu tempat menyemai bibit-bibit radikalisme yang berujung pada aksi teror dan tindak kekerasan atas nama agama Islam. Alasannya, para anggota rohis ini sangat militan, sementara mereka berada pada usia labil dan gampang dipengaruhi untuk kepentingan tertentu atas nama agama Islam. Tak ayal, anggapan miring itu membuat khawatir sebagian orang tua yang anak-anak mereka aktif dalam organisasi rohis.
Maka salah satu tujuan diadakannya Perkemahan Rohis Nasional kali ini adalah menunjukkan kepada masyarakat bahwa rohis bukanlah tempat menanamkan benih-benih radikalisme dan terorisme. Namun rohis adalah tempat berkumpul para siswa untuk belajar agama bersama teman-teman mereka yang didampingi oleh kakak-kakak senior dan guru agama mereka.
Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Amin Haedari mengatakan, kesan bahwa rohis adalah tertutup itu harus dihilangkan. Bukan saja untuk mengantisipasi masuknya berbagai pemikiran-pemikiran radikal yang biasanya cenderung tertutup dan mengisolasi diri dari masyarakat, namun juga untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para siswa untuk belajar agama. Rohis harus terbuka.
“Kita ingin mewujudkan Rohis ini sebagai organisasi terbuka agar semakin banyak siswa yang ikut. Belajar agama kan tidak perlu ditutup-tutupi. Selain itu, kalau bersifat terbuka maka para guru bisa lebih mudah melakukan pendampingan, dengan tetap memberikan ruang kepada mereka untuk melakukan aktualisasi diri,” kata Amin.
Untuk memberikan kesan terbuka itu, para peserta Perkemahan Rohis Nasional kali ini juga tidak dibagi berdasarkan provinsi. Mereka dibiarkan berbaur agar saling mengenal antar daerah satu provinsi dengan provinsi lainnya, berdiskusi dan berbagi informasi satu sama lain, dan mengenal tradsi keislaman di daerah lain.
Melalui rohis, para siswa juga diajarkan untuk menyelami ajaran Islam yang mendalam, ramah, damai dan saling menghormati perbedaaan pendapat, terutama di kalangan umat Islam sendiri. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam pidato pembukaan Perkemahan Rohis Nasional mengingatkan, para anggota Rohis jangan sampai terjebak ke dalam pemahaman agama yang sempit, kaku dan mudah menghakimi orang lain yang berbeda sebagai sesat atau kafir. Karena menyesatkan dan mengkafirkan orang lain itulah sebenarnya permulaan radikalisme.
“Negeri kita ini bisa berdiri dengan kokoh dan rukun karena masing-masing tidak saling menyalahkan yang lainnya. Sikap menghargai keragaman itulah yang harus diteadani di tengah masyarakat kita yang majemuk,” pesan menteri agama.
Ketika berkumpul dan berdialog dengan para anggota rohis unggulan dari berbagai daearah ini, kita membayangkan masa depan generasi muslim Indonesia yang cerah. Mereka adalah generasi emas yang akan membangun bangsa Indonesia ke depan. Mereka adalah generasi cinta Indonesia yang pintar secara intelektual, tetapi juga secara mapan spiritual karena telah dibekali dengan pengetahuan agama Islam yang mendalam.
Maka ayo para siswa menambah pengetahuan agama Islam melalui Rohis. Gabung Rohis? Kenapa tidak!? [A. Khoirul Anam]
Sehari sebelumnya, menjelang acara pembukaan Perkemahan Rohis Nasional, beberapa siswa dari 33 provinsi mengenakan pakaian adat daerah masing-masing. Mereka yang terlihat cantik dan ganteng itu tak pelak menjadi sasaran target para peserta kemah rohis untuk berfoto selfie. Ternyata, tidak hanya para siswa anggota rohis, para guru pendamping atau pembimbing rohis juga ikut berselfie ria, bahkan rupanya ada yang sudah siap dengan tongkat bantu selfie, dan “cekrik... cekrik!”
Pada saat-saat dilaksanakan acara pembukaan perkemahan secara resmi, beberapa pejabat negara hadir, termasuk menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Ketika sang menteri hadir, spontan beberapa siswa anggota rohis memberanikan diri maju ke depan. Mereka tidak hanya mengambil gambar menteri, tetapi juga berfoto selfie dengan latar belakang pak menteri. “Cekrik... cekrik..!”
Lalu, usai acara pembukaan beberapa peserta anggota rohis terlihat terkejut dan histeris ketika tiba-tiba muncul seorang artis cewek pendatang baru. “Hahh...!” Dialah Lesti D'Academy yang sempat mendapatkan pernghargaan sebagai Penyanyi Dangdut Wanita Paling Ngetop di salah satu stasiun TV swasta nasional. Ketika Lesti muncul, sebagian peserta rohis terlihat ikut larut bernyanyi bersama sang artis. Dan tidak ketinggalan, ada juga yang tidak menyia-nyikan kesempatan untuk berselfie. Mumpung ketemu. “Cekrik.. cekrik...”
Dalam hal bermusik para anggota Rohis juga tidak selalu identik dengan rebana, marawis atau nasyid. Pada saat pembukaan Perkemahan Rohis itu, utusan Rohis dari salah satu sekolah di Bandung membawakan lagu-lagu religi, shalawat dan lagu-lagu populer dengan musik khas sunda yang dipadu dengan alat-alat musik modern. Jadi selera musik para Rohis juga cukup lumayan. Bahkan pada saat menteri agama masih berada di areal pembukaan, mereka juga tidak ragu memutar musik "Gamnam Style" yang menghentak-hentak disertai gerakan mereka yang khas dan gaul.
Jadi para siswa anggota rohani Islam sebenarnya tidak “serem”, eksklusif, tertutup, pakem, “fanatik banget” seperti digambarkan sebagian orang. Mereka adalah para siswa biasa yang sedang ingin menambah wawasan agama bersama teman-teman mereka dalam perkumpulan rohis, atau organisasi keagamaan yang secara struktural menjadi bagian dari Organisasi Siswa Intra Sekolah atau OSIS.
Rohis adalah organisasi keagamaan Islam untuk para siswa yang belajar di sekolah-sekolah umum, baik di SMP atau SMA dan SMK. Perkumpulan Rohis ini melengkapi materi pendidikan Agama Islam (PAI) yang mereka dapatkan di sekolah. Di dalam Rohis meraka tidak sekedar belajar agama, tetapi juga berekspresi dan menyalurkan bakat dan minat bersama teman-teman mereka serta melakukan berbagai aktivitas sosial dan keagamaan.
Namun beberapa waktu belakangan ini, Rohis tertimpa isu yang tidak menguntungkan. Rohis disinyalir menjadi salah satu tempat menyemai bibit-bibit radikalisme yang berujung pada aksi teror dan tindak kekerasan atas nama agama Islam. Alasannya, para anggota rohis ini sangat militan, sementara mereka berada pada usia labil dan gampang dipengaruhi untuk kepentingan tertentu atas nama agama Islam. Tak ayal, anggapan miring itu membuat khawatir sebagian orang tua yang anak-anak mereka aktif dalam organisasi rohis.
Maka salah satu tujuan diadakannya Perkemahan Rohis Nasional kali ini adalah menunjukkan kepada masyarakat bahwa rohis bukanlah tempat menanamkan benih-benih radikalisme dan terorisme. Namun rohis adalah tempat berkumpul para siswa untuk belajar agama bersama teman-teman mereka yang didampingi oleh kakak-kakak senior dan guru agama mereka.
Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Amin Haedari mengatakan, kesan bahwa rohis adalah tertutup itu harus dihilangkan. Bukan saja untuk mengantisipasi masuknya berbagai pemikiran-pemikiran radikal yang biasanya cenderung tertutup dan mengisolasi diri dari masyarakat, namun juga untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para siswa untuk belajar agama. Rohis harus terbuka.
“Kita ingin mewujudkan Rohis ini sebagai organisasi terbuka agar semakin banyak siswa yang ikut. Belajar agama kan tidak perlu ditutup-tutupi. Selain itu, kalau bersifat terbuka maka para guru bisa lebih mudah melakukan pendampingan, dengan tetap memberikan ruang kepada mereka untuk melakukan aktualisasi diri,” kata Amin.
Untuk memberikan kesan terbuka itu, para peserta Perkemahan Rohis Nasional kali ini juga tidak dibagi berdasarkan provinsi. Mereka dibiarkan berbaur agar saling mengenal antar daerah satu provinsi dengan provinsi lainnya, berdiskusi dan berbagi informasi satu sama lain, dan mengenal tradsi keislaman di daerah lain.
Melalui rohis, para siswa juga diajarkan untuk menyelami ajaran Islam yang mendalam, ramah, damai dan saling menghormati perbedaaan pendapat, terutama di kalangan umat Islam sendiri. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam pidato pembukaan Perkemahan Rohis Nasional mengingatkan, para anggota Rohis jangan sampai terjebak ke dalam pemahaman agama yang sempit, kaku dan mudah menghakimi orang lain yang berbeda sebagai sesat atau kafir. Karena menyesatkan dan mengkafirkan orang lain itulah sebenarnya permulaan radikalisme.
“Negeri kita ini bisa berdiri dengan kokoh dan rukun karena masing-masing tidak saling menyalahkan yang lainnya. Sikap menghargai keragaman itulah yang harus diteadani di tengah masyarakat kita yang majemuk,” pesan menteri agama.
Ketika berkumpul dan berdialog dengan para anggota rohis unggulan dari berbagai daearah ini, kita membayangkan masa depan generasi muslim Indonesia yang cerah. Mereka adalah generasi emas yang akan membangun bangsa Indonesia ke depan. Mereka adalah generasi cinta Indonesia yang pintar secara intelektual, tetapi juga secara mapan spiritual karena telah dibekali dengan pengetahuan agama Islam yang mendalam.
Maka ayo para siswa menambah pengetahuan agama Islam melalui Rohis. Gabung Rohis? Kenapa tidak!? [A. Khoirul Anam]
Wednesday, May 4, 2016
Para Rohis Diberikan Pemahaman Mengenai Fungsi Masjid
JAKARTA, PendidikanIslam.id - Selain materi-materi umum tentang pendalaman ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, para peserta Perkemahan Rohis Nasiona di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, 2-5 Mei 2016 juga beberapa materi khusus yang dipilih oleh mereka masing-masing sesuai keingainan, seperti leadership, jurnalistik dan penulisan karya ilmiah, dan public speaking. Materi khusus lainnya adalah seputar manajemen masjid.
Khusus materi yang terakhir ini dinilai sangat penting karena basis utama kegiatan kegiatan Rohani Islam (Rohis) adalah di masjid atau musholla sekolah.
Ustadz Ali Shobirin yang menjadi narasumber materi managemen masjid mengatakan, para anggota Rohis yang peserta perkemahan telah mempunyai kesepahaman mengenai peran dan fungsi masjid untuk umat Islam. Mereka juga telah mempunyai pengalaman dalam hal memakmurkan masjid. “Kalu dinilai, sudah mencapai angka 7 – 8,” kata Ali.
Pada kesempatan itu ia menyampaikan, fungsi utama masjid adalah memberikan bimbingan agama Islam, terutama berkaitan dengan hal-hal yang pokok dalam agama Islam. Para rohis tidak perlu ragu untuk mengadakan training sholat, termasuk syarat dan rukun dan hal-hal lain berkaitan dengan shalat.
Selain ilmu agama, menurut Ali, masjid juga bisa menjadi sarana untuk mengembangan disiplin keilmuan lain yang penting bagi umat Islam.
“Ini misalnya bisa dimuai oleh para Rohis dengan mendata jamaah di lingkungan rumahnya masing-masing, siapa saja anak yang belum lulus SMP. Selanjutnya para anggota Rohis bisa mengajak pihak-pihak tertentu untuk melakukan kegiatan bimbingan belajar,” jelasnya.
Selain fungsi pendidikan, masjid juga bisa memerankan fungsi untuk pengembangan ekonomi umat. Hal yang paling sederhana adalah mengelola dana umat yang disalurkan melalui masjid untuk pinjaman lunak tanpa bunga atau menjalankan usaha ekonomi yang bisa menyejahterakan ekonomi masyarakat sekitar.
Pada prinsipnya, masjid bisa menjadi pusat dakwah umat Islam yang meliputi berbagai aspek. Beberapa kegiatan yang berupa tradisi keagamaan seperti tahlilan, pembacaan surat Yasin dan shalawat, atau peringatan Maulid Nabi dan hari-hari besar keagamaan lainnya dapat menjadi sarana berkumpulnya umat. Selanjutnya berbagai program bisa dicencanakan dan dibicarakan dengan warga masyarakat sekitar masjid atau musholla.
Pada kesempatan itu Ustadz Ali Shobirin yang juga seorang motivator juga melakukan hipnotrapi untuk para peserta agar cinta terhadap masjid. Para peserta diajak menarik nafas dan melalukan rileksasi, kemudian mereka menunduk tenang dan membayangkan masjid di tempat mereka masing-masing. Setelah mereka sudah dapat berhasil membayangkan masjid, maka kemudan mereka diminta untuk memeluk masjid mereka masing-masing. “Ini salah satu trik hipnotrapi untuk memunculkan rasa cinta kepada masjid,” kata Ustadz Ali Shobirin. [A. Khoirul Anam]
Khusus materi yang terakhir ini dinilai sangat penting karena basis utama kegiatan kegiatan Rohani Islam (Rohis) adalah di masjid atau musholla sekolah.
Ustadz Ali Shobirin yang menjadi narasumber materi managemen masjid mengatakan, para anggota Rohis yang peserta perkemahan telah mempunyai kesepahaman mengenai peran dan fungsi masjid untuk umat Islam. Mereka juga telah mempunyai pengalaman dalam hal memakmurkan masjid. “Kalu dinilai, sudah mencapai angka 7 – 8,” kata Ali.
Pada kesempatan itu ia menyampaikan, fungsi utama masjid adalah memberikan bimbingan agama Islam, terutama berkaitan dengan hal-hal yang pokok dalam agama Islam. Para rohis tidak perlu ragu untuk mengadakan training sholat, termasuk syarat dan rukun dan hal-hal lain berkaitan dengan shalat.
Selain ilmu agama, menurut Ali, masjid juga bisa menjadi sarana untuk mengembangan disiplin keilmuan lain yang penting bagi umat Islam.
“Ini misalnya bisa dimuai oleh para Rohis dengan mendata jamaah di lingkungan rumahnya masing-masing, siapa saja anak yang belum lulus SMP. Selanjutnya para anggota Rohis bisa mengajak pihak-pihak tertentu untuk melakukan kegiatan bimbingan belajar,” jelasnya.
Selain fungsi pendidikan, masjid juga bisa memerankan fungsi untuk pengembangan ekonomi umat. Hal yang paling sederhana adalah mengelola dana umat yang disalurkan melalui masjid untuk pinjaman lunak tanpa bunga atau menjalankan usaha ekonomi yang bisa menyejahterakan ekonomi masyarakat sekitar.
Pada prinsipnya, masjid bisa menjadi pusat dakwah umat Islam yang meliputi berbagai aspek. Beberapa kegiatan yang berupa tradisi keagamaan seperti tahlilan, pembacaan surat Yasin dan shalawat, atau peringatan Maulid Nabi dan hari-hari besar keagamaan lainnya dapat menjadi sarana berkumpulnya umat. Selanjutnya berbagai program bisa dicencanakan dan dibicarakan dengan warga masyarakat sekitar masjid atau musholla.
Pada kesempatan itu Ustadz Ali Shobirin yang juga seorang motivator juga melakukan hipnotrapi untuk para peserta agar cinta terhadap masjid. Para peserta diajak menarik nafas dan melalukan rileksasi, kemudian mereka menunduk tenang dan membayangkan masjid di tempat mereka masing-masing. Setelah mereka sudah dapat berhasil membayangkan masjid, maka kemudan mereka diminta untuk memeluk masjid mereka masing-masing. “Ini salah satu trik hipnotrapi untuk memunculkan rasa cinta kepada masjid,” kata Ustadz Ali Shobirin. [A. Khoirul Anam]
Rohis Bukan Organisasi Eksklusif
JAKARTA, PendidikanIslam.id - Rohis atau singkatan dari Rohani Islam merupakan lembaga atau perkumpulan para siswa untuk memperkuat dan memperdalam agama Islam. Rohis menjadi organisasi ekstrakurikuler di sekolah yang menjadi bagian dari Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).
Fungsi Rohis selain sebagai forum pertemuan, juga sebagai wahana pengajaran, dakwah, dan berbagi pengetahuan Islam. Adapun susunan dalam Rohis layaknya OSIS, organisasi induknya.
Direktur Pendidikan Islam (PAI) Kementerian Agama, Amin Haedari di sela Pelaksanaan Perkemahan Rohis Nasional di Cibubur Jakarta, Selasa (3/5) mengatakan, selama ini ada kesan bahwa Rohis adalah organisas tertutup dan ekslusif.
Kesan tertutup itu harus dihilangkan. Bukan saja untuk mengantisipasi masuknya berbagai pemikiran-pemikiran radikal yang biasanya cenderung tertutup dan mengisolasi diri dari masyarakat, namun juga untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para siswa untuk belajar agama.
“Kita ingin mewujudkan Rohis ini sebagai organisasi terbuka agar semakin banyak siswa yang ikut. Belajar agama kan tidak perlu ditutup-tutupi. Selain itu, kalau bersifat terbuka maka para guru bisa lebih mudah melakukan pendampingan, dengan tetap memberikan ruang kepada mereka untuk melakukan aktualisasi diri,” kata Amin.
Untuk memberikan kesan terbuka itu, para peserta Perkemahan Rohis Nasional kali ini juga tidak dibagi berdasarkan provinsi. Mereka dibiarkan berbaur agar saling mengenal antar daerah satu provinsi dengan provinsi lainnya, berdiskusi dan berbagi informasi satu sama lain. Hanya saja untuk siswa laki-laki dan perempuan tetap terpisah.
Dari segi materi, Perkemahan Rohis kali ini lebih beragam juga. Ada materi wajib atau MKDU yang keseluruhannya harus diikuti oleh semua peserta. Materi wajib ini adalah tentang Islam yang damai dan Islam yang ramah. “Kita menyiapkan generasi emas yang penuh keramahan dan kedamaian,” kata Amin.
Ada juga beberapa materi yang tidak harus diikuti keseluruhannya atau MKDK, seperti materi mengenai leadership, jurnalistik, public speaking, dan manajemen masjid. Materi yang terakhir ini sangat penting karena basis utama kegiatan Rohis adalah di masjid atau musholla sekolah. [A. Khoirul Anam]
Fungsi Rohis selain sebagai forum pertemuan, juga sebagai wahana pengajaran, dakwah, dan berbagi pengetahuan Islam. Adapun susunan dalam Rohis layaknya OSIS, organisasi induknya.
Direktur Pendidikan Islam (PAI) Kementerian Agama, Amin Haedari di sela Pelaksanaan Perkemahan Rohis Nasional di Cibubur Jakarta, Selasa (3/5) mengatakan, selama ini ada kesan bahwa Rohis adalah organisas tertutup dan ekslusif.
Kesan tertutup itu harus dihilangkan. Bukan saja untuk mengantisipasi masuknya berbagai pemikiran-pemikiran radikal yang biasanya cenderung tertutup dan mengisolasi diri dari masyarakat, namun juga untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para siswa untuk belajar agama.
“Kita ingin mewujudkan Rohis ini sebagai organisasi terbuka agar semakin banyak siswa yang ikut. Belajar agama kan tidak perlu ditutup-tutupi. Selain itu, kalau bersifat terbuka maka para guru bisa lebih mudah melakukan pendampingan, dengan tetap memberikan ruang kepada mereka untuk melakukan aktualisasi diri,” kata Amin.
Untuk memberikan kesan terbuka itu, para peserta Perkemahan Rohis Nasional kali ini juga tidak dibagi berdasarkan provinsi. Mereka dibiarkan berbaur agar saling mengenal antar daerah satu provinsi dengan provinsi lainnya, berdiskusi dan berbagi informasi satu sama lain. Hanya saja untuk siswa laki-laki dan perempuan tetap terpisah.
Dari segi materi, Perkemahan Rohis kali ini lebih beragam juga. Ada materi wajib atau MKDU yang keseluruhannya harus diikuti oleh semua peserta. Materi wajib ini adalah tentang Islam yang damai dan Islam yang ramah. “Kita menyiapkan generasi emas yang penuh keramahan dan kedamaian,” kata Amin.
Ada juga beberapa materi yang tidak harus diikuti keseluruhannya atau MKDK, seperti materi mengenai leadership, jurnalistik, public speaking, dan manajemen masjid. Materi yang terakhir ini sangat penting karena basis utama kegiatan Rohis adalah di masjid atau musholla sekolah. [A. Khoirul Anam]
Tuesday, May 3, 2016
Kegiatan Perkemahan Rohis 2016 Begitu Padat, Ini Gambarannya
[caption id="attachment_1319" align="aligncenter" width="960"]
Shalat Jamaah- di Perkemahan Rohis 2016hi[/caption]
JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Shalat Subuh berjamaah, tahsin Al-Qur’an, kultum, diskusi keagamaan, dan silaturrahmi antar peserta adalah di antara agenda yang dilaksanakan dalam Perkemahan Rohis Nasional II di Bumi Perkemahan Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur. Kegiatan yang dimaksudkan sebagai wadah peningkatan silaturahim, wawasan, dan pengetahuan pengurus Rohis nilai-nilai islami ini memang dimaksudkan agar pengurus atau anggota Rohis memiliki kompetensi yang cukup untuk mendinamisasikan nuansa-nuansa keislaman di sekolah.
Meski pembukaan acara dilaksanakan pada Selasa, 3 Mei 2016, tetapi berbagai kegiatan sudah dimulai dari Senin pagi, 2 Mei, sebelumnya. Mulai dari registrasi, ta’aruf antar peserta, dan musyawarah antar kelompok. Tak ketinggalan shalat jamaah, bersih-bersih lingkungan, dan makan bersama menjadi agenda rutin.
Usai pembukaan kegiatan padat tapi sangat bermanfaat sudah menunggu. Materi Islam Rahmatan lil ‘alamin di antaranya. Tak ketinggalan materi keorganisasian, muraja’ah dan kajian keagamaan. Sebelum istirahat tidur, masing-masing kelompok akan melakukan evaluasi kegiatan selama satu hari ini.
Pukul 04.00 seluruh peserta sudah dibangunkan, agenda shalat Tahajjud berjamaah segera dilaksanakan dan ini adalah agenda wajib setiap pagi hari. kegiatan ini dirangkai dengan shalat Subuh berjamaah, tahsin Al-Qur’an, kultum dan berdiskusi dalam halaqah. Waktu pagi sangat tepat dengan materi-materi ini karena kondisi badan dan otak yang masih fresh. Selesai semua kegiatan ini dilanjutkan dengan materi yang tidak kalah menariknya: public speaking, leadership, manajemen masjid, jurnalistik, penulisan karya ilmiah, dan penulisan fiksi islami.
Hari berikutnya, giliran materi tentang Manasik Haji dipraktekkan, juga wawasan kebangsaan. Tak hanya teori, tetapi pelaksanaan langsung amal juga dilakukan, yaitu dengan bakti sosial di lingkungan sekitar.
Tentu masih banyak lagi agenda lain hingga Jumat sore, 6 Mei 2016, yang semakin memperkaya peserta dengan pengetahuan, pengalaman, dan pengamalan. Dengan harapan berbagai bekal ini mampu membantu peserta untuk menularkan hal yang sama kepada pengurus atau anggota Rohis yang tak turut serta. (Fathuri)
JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Shalat Subuh berjamaah, tahsin Al-Qur’an, kultum, diskusi keagamaan, dan silaturrahmi antar peserta adalah di antara agenda yang dilaksanakan dalam Perkemahan Rohis Nasional II di Bumi Perkemahan Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur. Kegiatan yang dimaksudkan sebagai wadah peningkatan silaturahim, wawasan, dan pengetahuan pengurus Rohis nilai-nilai islami ini memang dimaksudkan agar pengurus atau anggota Rohis memiliki kompetensi yang cukup untuk mendinamisasikan nuansa-nuansa keislaman di sekolah.
Meski pembukaan acara dilaksanakan pada Selasa, 3 Mei 2016, tetapi berbagai kegiatan sudah dimulai dari Senin pagi, 2 Mei, sebelumnya. Mulai dari registrasi, ta’aruf antar peserta, dan musyawarah antar kelompok. Tak ketinggalan shalat jamaah, bersih-bersih lingkungan, dan makan bersama menjadi agenda rutin.
Usai pembukaan kegiatan padat tapi sangat bermanfaat sudah menunggu. Materi Islam Rahmatan lil ‘alamin di antaranya. Tak ketinggalan materi keorganisasian, muraja’ah dan kajian keagamaan. Sebelum istirahat tidur, masing-masing kelompok akan melakukan evaluasi kegiatan selama satu hari ini.
Pukul 04.00 seluruh peserta sudah dibangunkan, agenda shalat Tahajjud berjamaah segera dilaksanakan dan ini adalah agenda wajib setiap pagi hari. kegiatan ini dirangkai dengan shalat Subuh berjamaah, tahsin Al-Qur’an, kultum dan berdiskusi dalam halaqah. Waktu pagi sangat tepat dengan materi-materi ini karena kondisi badan dan otak yang masih fresh. Selesai semua kegiatan ini dilanjutkan dengan materi yang tidak kalah menariknya: public speaking, leadership, manajemen masjid, jurnalistik, penulisan karya ilmiah, dan penulisan fiksi islami.
Hari berikutnya, giliran materi tentang Manasik Haji dipraktekkan, juga wawasan kebangsaan. Tak hanya teori, tetapi pelaksanaan langsung amal juga dilakukan, yaitu dengan bakti sosial di lingkungan sekitar.
Tentu masih banyak lagi agenda lain hingga Jumat sore, 6 Mei 2016, yang semakin memperkaya peserta dengan pengetahuan, pengalaman, dan pengamalan. Dengan harapan berbagai bekal ini mampu membantu peserta untuk menularkan hal yang sama kepada pengurus atau anggota Rohis yang tak turut serta. (Fathuri)
Rohis “GUE BANGET”
[caption id="attachment_1293" align="aligncenter" width="775"]
Rohis Gue Banget[/caption]
Jakarta, Pendidikan.Islam.id – Hari ini, Selasa, 3 Mei 2016, perhelatan Perkemahan Rohis Nasional II yang diikuti perwakilan dari SMA dan SMK seluruh Indonesia di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta Timur resmi dibuka. Acara ini akan berlangsung hingga Jumat, 6 Mei 2016.
Selain berbagai acara yang digelar selama tidak kurang 4 hari ini, yang tidak kalah menariknya adalah spanduk-spanduk yang terpampang di sepanjang sudut lokasi acara. Spanduk-spanduk ini menggoda mata saat memasuki Bumi Perkemahan Cibubur dari jarak 300 meter.
Di antara spanduk yang paling mengesankan berbunyi “ROHIS, GUE BANGET”. Rasanya Rohis menjadi sesuatu yang dimiliki yang membacanya. Ada pula “MAU EKSIS, MASUK ROHIS” atau “ROHIS, OK”, “ROHIS EKSKULKU”. Tema-tema spanduk ini jelas menggunakan bahasa anak-anak sekarang, sehingga gaya dan suara siswa-siswi SMA dan SMK terwakili di sini. Suasana bangga dan nyaman terasa dari tema-tema yang dituliskan.
Selain spanduk-spanduk yang menunjukkan eksistensi para siswa, tema lain juga dimaksudkan memperjelas tema Perkemahan Rohis tahun ini, yaitu Membangun Generasi Emas, Ramah, dan Bermartabat. “ROHIS: RAHMAT, OPEN, HUMANIS, ISLAMI, SANTUN” atau “ROHIS PEJUANG ISRA, ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN”. Ada lagi spanduk yang begitu terangnya menjadi semangat, “ROHIS UNTUK INDONESIA, ROHIS UNTUK DUNIA” “MARI WUJUDKAN ISLAM DAMAI”. Dengan bunyi spanduk ini Rohis menegaskan akan memperjuangkan benar-benar nilai Islam yang mengayomi semua, hingga rasa Islam terasa bagi sesama.
Namun, di luar spanduk- spanduk di atas, ada pula bunyi spanduk yang mengundang senyum. Apa itu? “ORANG BEJO, PILIH ROHIS”. Meski seperti iklan, tapi jika dibaca pelan-pelan terasa pesan mendalam di dalamnya. Spanduk ini menegaskan bahwa dengan belajar di Rohis, diharapkan para siswa dapat menjalankan pendidikan dan kehidupannya nanti untuk tujuan tak sekedar di dunia, tapi di akhirat. Untuk meraih kebahagiaan di sini dan setelah mati.
Komplit sudah spanduk-spanduk itu menyuguhkan apa dan bagaimana Perkemahan Rohis kali ini. Cukup dengan membaca tulisan-tulisannya, orang mudah menangkap maksudnya. Memang, Rohis Gue Banget. (Fathuri)
Jakarta, Pendidikan.Islam.id – Hari ini, Selasa, 3 Mei 2016, perhelatan Perkemahan Rohis Nasional II yang diikuti perwakilan dari SMA dan SMK seluruh Indonesia di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta Timur resmi dibuka. Acara ini akan berlangsung hingga Jumat, 6 Mei 2016.
Selain berbagai acara yang digelar selama tidak kurang 4 hari ini, yang tidak kalah menariknya adalah spanduk-spanduk yang terpampang di sepanjang sudut lokasi acara. Spanduk-spanduk ini menggoda mata saat memasuki Bumi Perkemahan Cibubur dari jarak 300 meter.
Di antara spanduk yang paling mengesankan berbunyi “ROHIS, GUE BANGET”. Rasanya Rohis menjadi sesuatu yang dimiliki yang membacanya. Ada pula “MAU EKSIS, MASUK ROHIS” atau “ROHIS, OK”, “ROHIS EKSKULKU”. Tema-tema spanduk ini jelas menggunakan bahasa anak-anak sekarang, sehingga gaya dan suara siswa-siswi SMA dan SMK terwakili di sini. Suasana bangga dan nyaman terasa dari tema-tema yang dituliskan.
Selain spanduk-spanduk yang menunjukkan eksistensi para siswa, tema lain juga dimaksudkan memperjelas tema Perkemahan Rohis tahun ini, yaitu Membangun Generasi Emas, Ramah, dan Bermartabat. “ROHIS: RAHMAT, OPEN, HUMANIS, ISLAMI, SANTUN” atau “ROHIS PEJUANG ISRA, ISLAM RAHMATAN LIL ‘ALAMIN”. Ada lagi spanduk yang begitu terangnya menjadi semangat, “ROHIS UNTUK INDONESIA, ROHIS UNTUK DUNIA” “MARI WUJUDKAN ISLAM DAMAI”. Dengan bunyi spanduk ini Rohis menegaskan akan memperjuangkan benar-benar nilai Islam yang mengayomi semua, hingga rasa Islam terasa bagi sesama.
Namun, di luar spanduk- spanduk di atas, ada pula bunyi spanduk yang mengundang senyum. Apa itu? “ORANG BEJO, PILIH ROHIS”. Meski seperti iklan, tapi jika dibaca pelan-pelan terasa pesan mendalam di dalamnya. Spanduk ini menegaskan bahwa dengan belajar di Rohis, diharapkan para siswa dapat menjalankan pendidikan dan kehidupannya nanti untuk tujuan tak sekedar di dunia, tapi di akhirat. Untuk meraih kebahagiaan di sini dan setelah mati.
Komplit sudah spanduk-spanduk itu menyuguhkan apa dan bagaimana Perkemahan Rohis kali ini. Cukup dengan membaca tulisan-tulisannya, orang mudah menangkap maksudnya. Memang, Rohis Gue Banget. (Fathuri)
Menag Pimpin Para Rohis Ucapkan Ikrar Kebangsaan Sebarkan Islam Damai
[caption id="attachment_1290" align="aligncenter" width="960"]
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin Tiba di Bumi Perkemahan Cibubur untuk Membuka Perkemahan Rohis Nasional 2016. Selasa, (3/5/2016)[/caption]
JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memimpin lebih dari dua ribu pengurus Rohani Islam (Rohis) seluruh Indonesia untuk mengucapkan ikrar kebangsaan guna menyebarkan ajaran Islam yang damai, toleran dan cinta tanah air. Para Rohis itu hadir dari SMA/SMK seluruh Indonesia untuk mengikuti Perkemahan Rohis Nasional II di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta Timur, 2-3 Mei 2016.
Ikrar itu disampaikan di tengah-tengah pidato sambutan menteri agama pada acara pembukaan Perkemahan Rohis Nasional II, Selasa (3/5). Ia menyampaikan tiga pertanyaan kepada lebih dari dua ribu pengurus rohis yang hadir.
“Bersediakah anak-anakku para Rohis menjadikan Rohis sebagai wadah untuk menumbuhkembangkan Islam yang damai dan toleran? Bersediakah anak-anakku para Rohis menjadi pelopor dalam mengampanyekan Islam yang rahmatan lil ‘alamin? Bersediakan anak-anakku para Rohis menjadi pelopor bagi generasi muda untuk mencintai negeri kita ini?” Spontan para rohis menjawab, “Bersedia!”
“Anak-anakku para Rohis dari seluruh Indonesia, pertanyaan tersebut sengaja saya sampaikan karena saya ingin memastikan bahwa anak-anak Rohis adalah anak-anak yang cerdas, cinta damai, cinta tanah air, dan pelopor Islam yang memberikan rahmat kepada semua,” kata Menag.
Ia menyampaikan, pihaknya seringkali mendengar informasi miring yang menyebutkan bahwa Rohis adalah tempat yang mudah untuk disusupi oleh gerakan-gerakan Islam yang tidak toleran, dan anti NKRI. Kecintaan anak-anak Rohis pada agama, dan kepribadian yang masih labil adalah alasan mereka menarget para Rohis ini sebagai wadah gagasan intoleran mereka
Karena itu ia meminta para Rohis untuk benar-benar serius dalam mempelajari agama, jangan cepat puas dengan ilmu yang diperoleh, dan jangan mudah larut dengan pengajaran agama yang sempit, kaku, dan mudah menghakimi orang lain yang berbeda sebagai sesat atau kafir.
“Ingatlah, bahwa ilmu Allah itu luas. Bahkan jika air laut dijadikan tinta untuk menulis ilmu Allah tidak akan pernah cukup menuliskan ilmu Allah yang tanpa batas itu,” tegasnya.
Ditambahkan, para pendiri bangsa ini seperti Bung Karno, Mohammad Hatta, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan dan yang lainnya telah memberikan contoh kepada kita semua, bahwa mereka adalah pribadi yang sangat menghargai keragaman.
“Negeri kita ini bisa berdiri dengan kokoh dan rukun karena mereka tidak mudah menyalahkan yang lainnya. Sikap menghargai keragaman itulah yang harus diteladani di tengah masyarakat kita yang majemuk,” tambahnya.
Kegiatan Perkemahan Rohis Nasional II dihadiri para pejabat di lingkungan Direkturat Jenderal Pendidikan Islam, kepala kantor wilayah kementerian agama provinsidan kabupaten/kota dari seluruh indonesia, para kepala dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota dari seluruh Indonesia dan para pembina dan pendamping rohis dari seluruh indonesia. (Anam)
JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memimpin lebih dari dua ribu pengurus Rohani Islam (Rohis) seluruh Indonesia untuk mengucapkan ikrar kebangsaan guna menyebarkan ajaran Islam yang damai, toleran dan cinta tanah air. Para Rohis itu hadir dari SMA/SMK seluruh Indonesia untuk mengikuti Perkemahan Rohis Nasional II di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta Timur, 2-3 Mei 2016.
Ikrar itu disampaikan di tengah-tengah pidato sambutan menteri agama pada acara pembukaan Perkemahan Rohis Nasional II, Selasa (3/5). Ia menyampaikan tiga pertanyaan kepada lebih dari dua ribu pengurus rohis yang hadir.
“Bersediakah anak-anakku para Rohis menjadikan Rohis sebagai wadah untuk menumbuhkembangkan Islam yang damai dan toleran? Bersediakah anak-anakku para Rohis menjadi pelopor dalam mengampanyekan Islam yang rahmatan lil ‘alamin? Bersediakan anak-anakku para Rohis menjadi pelopor bagi generasi muda untuk mencintai negeri kita ini?” Spontan para rohis menjawab, “Bersedia!”
“Anak-anakku para Rohis dari seluruh Indonesia, pertanyaan tersebut sengaja saya sampaikan karena saya ingin memastikan bahwa anak-anak Rohis adalah anak-anak yang cerdas, cinta damai, cinta tanah air, dan pelopor Islam yang memberikan rahmat kepada semua,” kata Menag.
Ia menyampaikan, pihaknya seringkali mendengar informasi miring yang menyebutkan bahwa Rohis adalah tempat yang mudah untuk disusupi oleh gerakan-gerakan Islam yang tidak toleran, dan anti NKRI. Kecintaan anak-anak Rohis pada agama, dan kepribadian yang masih labil adalah alasan mereka menarget para Rohis ini sebagai wadah gagasan intoleran mereka
Karena itu ia meminta para Rohis untuk benar-benar serius dalam mempelajari agama, jangan cepat puas dengan ilmu yang diperoleh, dan jangan mudah larut dengan pengajaran agama yang sempit, kaku, dan mudah menghakimi orang lain yang berbeda sebagai sesat atau kafir.
“Ingatlah, bahwa ilmu Allah itu luas. Bahkan jika air laut dijadikan tinta untuk menulis ilmu Allah tidak akan pernah cukup menuliskan ilmu Allah yang tanpa batas itu,” tegasnya.
Ditambahkan, para pendiri bangsa ini seperti Bung Karno, Mohammad Hatta, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan dan yang lainnya telah memberikan contoh kepada kita semua, bahwa mereka adalah pribadi yang sangat menghargai keragaman.
“Negeri kita ini bisa berdiri dengan kokoh dan rukun karena mereka tidak mudah menyalahkan yang lainnya. Sikap menghargai keragaman itulah yang harus diteladani di tengah masyarakat kita yang majemuk,” tambahnya.
Kegiatan Perkemahan Rohis Nasional II dihadiri para pejabat di lingkungan Direkturat Jenderal Pendidikan Islam, kepala kantor wilayah kementerian agama provinsidan kabupaten/kota dari seluruh indonesia, para kepala dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota dari seluruh Indonesia dan para pembina dan pendamping rohis dari seluruh indonesia. (Anam)
Monday, May 2, 2016
Perkemahan Rohis Siap Digelar
Jakarta, Pendidikan.Islam.id - Kegiatan Perkemahan Rohis Nasional di Bumi Perkemahan Cibubur yang diselengarakan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama siap digelar. Senin (2/5) para peserta sudah datang dari berbagai daerah di Indonesia. Diperkirakan 1800 siswa SMA dan SMK akan hadir dan bisa lebih dari itu.
Kalimantan Barat misalnya memberangkatkan sebanyak 2 regu, yang terdiri dari 1 regu putra dan 1 regu putri. Setiap regu terdiri dari 8 siswa dan 1 guru pendamping. Menurut Humas Kanwil Kementerian Agama Kalbar, Aris Sujarwono, pihaknya mengutus Catur Rokhman yang merupakan Guru PAI SMA 1 Pontianak sebagai pendamping regu putra, dan Hayatunnufus, Guru PAI SMK Muhammadiyah 1 Pontianak sebagai pendamping regu putri.
Senin sore diadakan gladi bersih untuk persiapan pembukaan acara. Direktur PAI Amin Haedari terlihat memantau dan memberikan pengarahan langsung. Menter Agama Lukman Hakim Saifuddin dipastikan akan hadir membuka secara resmi kegiatan Perkemahan Rohis Nasional yang dimulai pada pukul 08.00 WIB.
Even nasional untuk Rohis atau Rohani Islam yakni organisasi keagamaan di sekolah di bawah OSIS ini merupakan yang kedua setelah digelar pertama kali pada 11-15 November 2014 lalu di tempat yang sama. Kali ini jumah peserta yang terlibat lebih banyak dan berasal dari 33 provinsi yang ada di Indonesia
Perkemahan Rohis Nasional II mengambil tema “Membangun Generasi Muda yang Ramah dan Bermartabat”. Direktur PAI Kementerian Agama Amin Hedari mengatakan, Rohis memberikan warna yang berbeda di tengah belantika dunia remaja. Rohis merupakan salah satu penangkal terhadap berbagai peristiwa negatif yang menimpa remaca seperti pergaulan bebas dan pemakaian obat-obatan terlarang.
Akan tetapi keberadaan Rohis di sekolah sebagai forum belajar nilai-niai agama tidak bisa dihiraukan begitu saja. “Perlu adanya pendampingan, sehingga tidak ada penyimpangan seperti diberitakan selama ini. Ada isu negatif, Rohis dianggap menjadi bagian dari penyebaran paham-paham radikal, bahkan terorisme. Ini jangan sampai terjadi,” kata Amin Hedari.
Para siswa SMA atau SMK berada usia yang sangat rentan terhadap berbagai pengaruh. Apalagi saat ini mereka sudah begitu mudah mencari sumber-sumber pengetahuan agama melalui internet. [Anam]
Kalimantan Barat misalnya memberangkatkan sebanyak 2 regu, yang terdiri dari 1 regu putra dan 1 regu putri. Setiap regu terdiri dari 8 siswa dan 1 guru pendamping. Menurut Humas Kanwil Kementerian Agama Kalbar, Aris Sujarwono, pihaknya mengutus Catur Rokhman yang merupakan Guru PAI SMA 1 Pontianak sebagai pendamping regu putra, dan Hayatunnufus, Guru PAI SMK Muhammadiyah 1 Pontianak sebagai pendamping regu putri.
Senin sore diadakan gladi bersih untuk persiapan pembukaan acara. Direktur PAI Amin Haedari terlihat memantau dan memberikan pengarahan langsung. Menter Agama Lukman Hakim Saifuddin dipastikan akan hadir membuka secara resmi kegiatan Perkemahan Rohis Nasional yang dimulai pada pukul 08.00 WIB.
Even nasional untuk Rohis atau Rohani Islam yakni organisasi keagamaan di sekolah di bawah OSIS ini merupakan yang kedua setelah digelar pertama kali pada 11-15 November 2014 lalu di tempat yang sama. Kali ini jumah peserta yang terlibat lebih banyak dan berasal dari 33 provinsi yang ada di Indonesia
Perkemahan Rohis Nasional II mengambil tema “Membangun Generasi Muda yang Ramah dan Bermartabat”. Direktur PAI Kementerian Agama Amin Hedari mengatakan, Rohis memberikan warna yang berbeda di tengah belantika dunia remaja. Rohis merupakan salah satu penangkal terhadap berbagai peristiwa negatif yang menimpa remaca seperti pergaulan bebas dan pemakaian obat-obatan terlarang.
Akan tetapi keberadaan Rohis di sekolah sebagai forum belajar nilai-niai agama tidak bisa dihiraukan begitu saja. “Perlu adanya pendampingan, sehingga tidak ada penyimpangan seperti diberitakan selama ini. Ada isu negatif, Rohis dianggap menjadi bagian dari penyebaran paham-paham radikal, bahkan terorisme. Ini jangan sampai terjadi,” kata Amin Hedari.
Para siswa SMA atau SMK berada usia yang sangat rentan terhadap berbagai pengaruh. Apalagi saat ini mereka sudah begitu mudah mencari sumber-sumber pengetahuan agama melalui internet. [Anam]
Subscribe to:
Posts (Atom)