Showing posts with label Perkemahan Rohis. Show all posts
Showing posts with label Perkemahan Rohis. Show all posts

Monday, June 13, 2016

Direktur PAI: Kedepankan Pendidikan Islam yang Ramah dan Humanis

[caption id="attachment_1986" align="aligncenter" width="640"]Para peserta Sarasehan Nasional Instruktur PAI. Para peserta Sarasehan Nasional Instruktur PAI.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama kembali memperkuat basis pendidikan Islam ramah, damai dan manusiawi dengan memberikan wawasan kebangsaan dan pemahaman Islam inklusif kepada para instruktur PAI nasional.

Direktur PAI H Amin Haedari menegaskan kepada para instruktur PAI nasional yang terdiri dari unsur guru, kepala sekolah, dan pengawas agar selalu mengedepankan Pendidikan Islam yang ramah dan humanis kepada para siswa di sekolah sehingga moderatisme Islam dapat terus terawat.

Hal ini ditegaskan Amin Haedari dalam kegiatan Sarasehan Nasional bertajuk Potensi Pendidikan Islam menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara, Ahad-Selasa (12-14/6).

Dalam kegiatan yang diikuti oleh sekitar 400 instruktur PAI nasional ini, Amin menerangkan bahwa saat ini wajah Islam telah ternodai dengan ekstremisme. Hal ini menimbulkan citra bahwa Islam identik dengan kekerasan dan terorisme.

“Sebab itu peran para guru, kepala sekolah, dan pengawas sangat penting untuk memberikan pemahaman Islam yang sejuk, ramah, dan humanis kepada siswa,” tegas Amin.

Nuansa pendidikan Islam ramah ini bukan hanya pada tataran pemahaman atau ideologi saja, tetapi juga pada tataran praktik. Sehingga dalam hal ini, Amin menekankan kepada guru bahwa pemahaman Islam yang damai harus disampaikan.

“Begitu pula kepada kepala sekolah dan pengawas bagaimana menyusun kurikulum dan materi pembelajaran Islam yang penuh dengan kesejukkan dan menghargai sesama sehingga kekerasan tidak terjadi lagi di lingkungan sekolah dan hal ini harus dimulai dari pendidikan Agama Islam,” papar Amin Haedari. (Fathoni Ahmad)

Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Pendidikan Islam Moderat

[caption id="attachment_1977" align="aligncenter" width="640"]Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin saat memberi materi di Sarasehan Nasional Instruktur PAI. Dirjen Pendidikan Islam Kamaruddin Amin saat memberi materi di Sarasehan Nasional Instruktur PAI.[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Muslim di Indonesia merupakan jumlah terbanyak di dunia dalam sebuah negara. Kenyataan ini diikuti oleh jumlah lembaga pendidikan Islam yang angkanya juga mencapai jumlah terbanyak dibanding dengan negara-negara dengan mayoritas penduduk Islam di seluruh dunia.

“Namun kenyataan yang terjadi, hingga saat ini lembaga Pendidikan Islam di Indonesia belum menjadi tujuan utama bagi masyarakat dunia,” ujar Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin saat memberikan materi dalam kegiatan Sarasehan Nasional bertajuk Potensi Pendidikan Islam menjadi Rujukan Pendidikan Moderat Dunia di Hotel Mercure Ancol, Jakarta Utara.

Dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) ini, Kamaruddin juga menerangkan karakter moderatisme Islam Indonesia harus menjadi perhatian serius para guru agama Islam dengan mengembangkan pemikiran moderat kepada generasi muda.

“Cita-cita menjadi rujukan pendidikan moderat untuk warga dunia harus diikuti oleh peningkatan kualitas, baik sumber daya maupun infrastruktur,” tutur Kamaruddin di depan sekitar 400 stakeholder Pendidikan Agama Islam (PAI), meliputi guru, kepala sekolah, dan pengawas dari seluruh Indonesia.

Menurutnya, potensi sumber daya dan infarastruktur bangsa Indonesia sangat besar. Bangsa Indonesia saat ini sudah mempunyai kesadaran kolektif untuk mewujudkan Islam yang ramah dan toleran. Selai itu, lanjut Kamaruddin, Indonesia juga mempunyai infrastruktur sosial dengan hadirnya ormas-ormas Islam yang mempunyai visi sama terhadap tujuan bangsa dan negara.

Lebih jauh, Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini menegaskan kepada para stakeholder Pendidikan Agama Islam untuk merawat generasi muda dari penetrasi paham agama yang ekstrem dan radikal.

“Sebab, kantong-kantong kegiatan siswa di bidang keagamaan seperti Rohis di sekolah menjadi sasaran empuk paham ekstrem. Hal ini menjadi perhatian serius agar pemahaman Islam yang baik, ramah, toleran, dan damai dapat terus terawat,” tegas Kamaruddin. (Fathoni Ahmad)

Friday, May 6, 2016

Ribuan Rohis Berikrar Setia NKRI

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Perkemahan Rohis Nasional ke-2 yang dilaksanakan 2-6 Mei 2016 di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta menghasilkan Piagam Cibubur. Piagam ini diikrarkan oleh 2000 anggota Rohis di acara penutupan Perkemahan Rohis, Jumat (6/5).

Dengan nada tegas dan semangat, ke-12 siswa SMA/SMK yang mewakili ribuan Rohis tersebut memimpin pembacaan piagam sebagai ketua di masing-masing RW-nya.

Ke-12 siswa selaku Ketua RW tersebut yaitu, Chandra Nugraha Saputra (SMAN 3 Kota Sukabumi), Mustaqim (SMA Muhammadiyah Lhouksemawe, Aceh), Ahmad Fauzan Mustapa (SMKN 1 Palu), Ahmad Burhanuddin Zaka (SMK Al-Mujtama Pamekasan), Rizki Hidayat (SMAN 2 Sumbawa Besar, NTB), Diar Dwi Abriyanto (SMAN 7 Surakarta), Siti Lailatul Fadilah (SMAN 6 Depok), Annisa Larasati Pranadita (SMAN 3 Yogyakarta), Murti Marinah (SMAN 2 Jombang), Indi Paradise (SMAN 1 Manyar, Gresik), Isnaini Nur Fitriyani (SMAN 2 Wonosari, DIY), Regita Apriyanita (SMAN 1 Moga, Pemalang).

Berikut bunyi Piagam Cibubur hasil Perkemahan Rohis Nasional 2016:

Bahwa keberagaman adalah hakikat dari bangsa Indonesia. Dan kami sebagai anak bangsa bertanggung jawab untuk dapat mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Demi kokohnya bangsa Indonesia, kami Rohani Islam (Rohis) siswa SMA/SMK Indonesia dengan ini berkomitmen untuk:

1. Menjadikan Rohis sebagai wadah pembinaan yang memanfaatkan seluruh ruang, kreasi seni, bakat, dan keterampilan dalam mengembangkan kepribadian muslim yang damai dan toleran.

2. Mengantisipasi masuknya paham-paham yang akan merusak citra Rohis sebagai pejuang Islam Rahmatan lil ‘Alamin.

3. Menjadi pelopor bagi generasi muda untuk mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

4. Mengantisipasi dampak negatif modernisasi yang berupa hedonisme, pergaulan bebas, dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya.

5. Merevitalisasi tata kelola Rohis sebagai pokok utama Pembinaan Kesiswaan Bidang Ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di sekolah.

Piagam tersebut ditandatangani oleh Direktur PAI Kemenag RI H Amin Haedari tertanggal 6 Mei 2016 bertempat di Bumi Perkemahan Wisata Cibubur Jakarta. (Fathoni Ahmad)

Direktur PAI Resmi Tutup Perkemahan Rohis Nasional 2016

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama RI H Amin Haedari secara resmi menutup kegiatan Perkemahan Rohis Nasional ke-2 tahun 2016 di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta, Jumat (6/5).

Dalam momen penutupan yang dibarengi dengan pembacaan Piagam Cibubur tersebut, Amin Haedari berpesan kepada seluruh peserta yang berjumlah tak kurang dari 2000 anggota Rohis agar senantiasa meneguhkan kebersamaan di tengah perbedaan.

“Nilai-nilai Islam yang toleran harus terus dijaga oleh para anggota Rohis agar kalian menjadi generasi ramah sebagai wujud kebersamaan kita selama kegiatan perkemahan,” ujar Amin Haedari diikuti tepuk tangan meriah dari ribuan peserta.

Selanjutnya, pria asal Ciamis Jawa Barat ini berharap kegiatan serupa diadakan di setiap Kanwil Kemenag di Provinsi masing-masing. “Dan kalian yang sudah mengikuti Kemah Rohis tingkat nasional ini bisa menularkan pesan-pesan untuk mewujudkan generasi ramah, toleran, dan bermartabat,” tandasnya.

Kegiatan dua tahunan ini dilaksanakan selama 5 hari yakni tanggal 2-6 Mei 2016. Perkemahan Rohis kali ini mengambil tema besar Membangun Generasi Emas yang Ramah dan Bermartabat. Tema tersebut diambil dengan tujuan agara anggota Rohis dengan sadar keberagaman Indonesia agar menjadi generasi penerus bangsa yang ramah di tengah maraknya paham radikal yang kerap menyusup di Rohis. (Fathoni Ahmad)

Thursday, May 5, 2016

Sebagian Rohis Ada yang Berangkat secara Mandiri Ikut Perkemahan

[caption id="attachment_1404" align="aligncenter" width="640"]Para Rohis sedang mengikuti kegiatan di Perkemahan Rohis Nasional Para Rohis sedang mengikuti kegiatan di Perkemahan Rohis Nasional[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Kuota 8 kontingen per provinsi yang ditetapkan oleh panitia pusat Perkemahan Rohis Nasional II tahun 2016 pada Selasa-Jumat (2-6/5) di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta tidak menyurutkan langkah para pengurus Rohis di setiap provinsi untuk memutuskan ikut secara mandiri.

Mereka rela mengeluarkan biaya perjalanan sendiri demi ikut even dua tahunan tersebut. Delapan kuota yang dutentukan oleh panitia pusat terdiri dari 7 delegasi dan 1 pendamping. Panitia mempersilakan tamabahan kontingen per provinsi asal akomodasi transport ditanggung oleh masing-masing di luar kontingen yang ditetapkan oleh pusat.

Mengenai antusiasme tinggi para Rohis ini diungkapkan oleh Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenag RI H Amin Haedari. Hal ini dia sampaikan saat memberi pengarahan penutup kepada para pendamping dan pembina Rohis, Kamis (5/5) di Gedung Serba Guna Cut Nyak Dien Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta.

“Sebagian Rohis ada berangkat ke kegiatan ini secara mandiri. Antusiasme mereka dalam kebersamaan ini perlu diarahkan agar menjadi generasi ramah, cinta perbedaan, dan toleran. Ini harus menjadi perhatian para guru di setiap sekolah,” tegas Amin.

Di antara kontingen mnadiri terbanyak berasal dari Sulawesi Selatan. Mereka mengirimkan hingga 40 delegasi tambahan yang berangkat secara mandiri. “Saya lihat delegasi tambahan yang berangkat secara mandiri terbanyak dari Sulawesi Selatan, yakni 40 delegasi tambahan,” terang H Ibrahim Abu Bakar, pendamping kontingen Sulawesi Selatan.

Kepala Seksi (Kasi) PAI pada SMK di Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan ini menjelaskan bahwa dari aspek transport, mereka biaya mandiri. Biaya mandiri tersebut berasal dari bantuan sekolah maupun dari orang tua mereka sendiri.

“Sedangkan Kanwil menyediakan persediaan atribut perkemahan seperti kaos, dan lain-lain. Adapun persediaan makan, tenda, dan lain-lain tetap panitia pusat membantu,” terang Ibrahim.

Mengenai kontingen yang berangkat secara mandiri ini, dari Provinsi Nanggroe Aceh Darusslam (NAD) mengirimkan kontingen tambahan sejumlah 25 peserta. Begitu juga dengan provinsi lain, bisa menambah 5-8 delegasi tambahan. Banyak juga yang mematuhi kuota wajib dari panitia pusat seperti Provinsi Jawa Timur. (Fathoni Ahmad)

Anak Rohis; Pandai Bersosialisasi, Berprestasi apalagi Cuman Bernyanyi

[caption id="attachment_1398" align="aligncenter" width="960"]Perkemahan Rohis 2016, Kreatifitas Amal-anak Rohis Perkemahan Rohis 2016, Asah Kreatifitas Amak-anak Rohis[/caption]

Cibubur, PendidikanIslam.ID – Sebagaimana telah menjadi aturan dalam Perkemahan Rohis di Buperta Cibubur, bahwa seluruh peserta Rohis harus tinggal dalam satu tenda berbarengan dengan peserta dari daerah lain. Hal ini dimaksudkan agar mereka bisa saling mengenal. Dan lebih dari itu, bisa mengetahui karakter dan watak dari berbagai macam suku dan bahasa yang digunakannya.
“Disatukan dalam satu tenda dengan teman-teman dari propinsi lain bukan kemudian kita bersedih namun jutru kita senang dikarenakan bisa bertukar pikiran lintas suku dan pulau. Kami juga tidak pernah berkonflik sebab semuanya bisa diselesaikan dengan memahami watak dan karakter dari kita,” ungkap Ahmad Fauzi murid kelas XI SMK asal Sulawesi Selatan ini.

IMG_20160505_114330Kebersamaan Fauzi dan teman-teman setendanya setidaknya bisa dibuktikan dengan “jadi”nya  yel-yel/lagu tidak berjudul yang akan diperdengarkan dan dilombakan pada malam tabligh akbar menjelang penutupan. Inilah bait lagunya ;

Bait Lagu/Yel-YelKami anak Rohis
Selalu optimis
Kami memang manis
(Reff. 2x)

Kubuka sendok pagi
Rasakan hangatnya mentari
Mulai kulangkahkan kaki
Semangat tinggi di hati
Disekolah berprestasi
Tak lupa untuk mengaji
Sebagai bekal dunia akhirat nanti

 Kami aktifis
Benci anarkhis
Walau kantong tipis
Bukan teroris
Kami anak Rohis.

Guyup-rukunannya para peserta juga dirasakan sejak pertama kali mereka menginjakkan kaki di Buperta Cibubur.

“Begitu sudah beres administras,i para peserta Kemah Rohis tanpa canggung langsung berbaur dengan teman-temannya, bahu-membahu menata perbekalan yang telah disiapkan dari daerah asal. Bahkan sampai sekarang pun mereka saling menjaga satu sama lain. Tidak ada barang yang hilang baik Handphone, dompet maupun uang. Sungguh mereka benar-benar dapat dijadikan pioner sebagai duta Rohis di daerah asalnya,” kata Abbas, guru SMK 2 Semarang yang memonitoring tiap-tiap kontingen khususnya dari Jawa Tengah di setiap tenda. (@viva_tnu)

Adu Kreatifitas Anak-Anak Rohis

[caption id="attachment_1394" align="aligncenter" width="960"]Pentras Kreasi Anak-anak Rohis. Perkemahan Rohis 2016. 2-6 Mei 2016 Pentras Kreasi Anak-anak Rohis. Perkemahan Rohis 2016. 2-6 Mei 2016[/caption]

Jakarta, Pendidikanislam.id- Memasuki hari ketiga, Kamis (5/5), salah satu agenda utama peserta Perkemahan Rohis Nasional II di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta adalah persiapan Pameran Seni dan Kreasi PAI (Pendidikan Agama Islam). Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyalurkan kreatifitas anak-anak, dalam bidang seni kreatif.

Kreasi ini dibuat oleh setiap kelompok yang disebut RT (Rukun Tetangga) untuk kemudian dilombakan di tingkat RW (Rukun Warga). Masing-masing RW terdiri dari lima RT. Sedangkan satu RT terdiri dari 5 tenda, di mana satu tenda dihuni oleh 8 peserta yang berasal dari sekolah yang berbeda.

“Kami sedang membuat wayang muslimah,” kata salah seorang peserta dari RT 43. Lho, bukannya wayang biasanya tokohnya dari Mahabharata tau Ramayana? “Iya Pak. Tapi ini beda, kita bikin yang muslimah,” jelasnya. Sedangkan untuk lakon dan jalan ceritanya, “Masih rahasia.”

Peserta lain tidak kalah kreatifnya.  Ada yang membuat miniature masjid, kreasi bunga dengan origami dan botol air mineral, peta dari kertas dan dus, kaligrafi dengan kertas karton, kaligrafi dengan kulit kacang, kreasi tulisan dengan daun dan ranting pohon, ikat kepala unik dari daun, poster dengan tema pemikiran positif, kartun, alat-alat rumah tangga seperti tisu dengan bahan dus, daun-daun kering, dan kertas warna, serta ada pula yang setiap orang membikin kreasinya sendiri untuk nanti disatukan. Ini Bhineka Tunggal Ika, katanya.

Sedangkan untuk seni, peserta ada yang memilih membentuk group vocal dengan lagu andalan yang masih hit, yaitu Kun Anta yang dipopulerkan oleh penyanyi asal Kuwait, Humood Alkhuder. Peserta lain membentuk nasyid, akan menyanyikan lagu dari penyanyi Indonesia, Opiq. Tak ketinggalan, puisi juga menjadi pilihan penampilan lain yang disiapkan.

Kerjasama, kekompakkan, dan semangat anak-anak begitu terasa, meski kadang bagi ketua kelompoknya perlu lihai membagi tugas anggotanya. Misalnya, ada saja persoalan muncul, di antaranya ada beberapa peserta yang belum sempat menjemur pakaiannya pagi ini. “Bagi yang mau mengambil jemuran, dipersilahkan. Tetapi sebagian tetap di sini, menyelesaikan kreasi kita,” ujar ketua kelompoknya.

Bukan soal mudah membangun kerjasama. Tetapi di Perkemahan Nasional II ini anak-anak dilatih, dibiasakan, dan dipadupadankan dengan peserta lain yang beda sekolah, beda provinsi, bahkan beda suku budayanya. Dan ternyata, kekompakkan terjadi dengan sendirinya hingga menghasilkan kreasi yang aneka rupa. (Fathuri)

Direktur PAI: Penting Membangun Empati dan Kepedulian untuk Para Rohis

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID – Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI H Amin Haedari menegaskan bahwa salah satu tujuan utama kegiatan Perkemahan Rohis Nasional ke-2 di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta, Senin-Jumat (2-6/5) adalah untuk membangun empati dan kepedulian generasi muda khususnya para Rohis.

Hal ini disampaikan Amin Haedari dalam pengarahan penutup kepada para pendamping dan pembina Rohis, Kamis (5/5) di Gedung Serba Guna Cut Nyak Dien Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta.

Amin meyakini bahwa dengan orientasi demikian, para aktivis dan pengurus Rohis akan lebih terbangun karakternya sebagai manusia yang mempunyai empati dan kepedulian dengan sesama meski berbeda suku, bangsa, maupun bahasanya.

“Aspek itulah yang ingin kita bangun dalam kebersamaan. Sebab itu, dalam kegiatan perkemahan ini, kami sengaja membaurkan para peserta yang berasal dari berbagai daerah dan provinsi agar mereka terbuka dan mengenal satu sama lain sehingga timbul rasa peduli dan empati,” ujar pria kelahiran Ciamis Jawa Barat ini.

Amin juga menegaskan bahwa kegiatan ini tidak diarahkan pada kompetensi kognitif. Karena menurutnya, sisi tersebut sudah ada wadahnya sendiri yaitu Pentas PAI, di mana ajang tersebut melombakan berbagai cabang keilmuan dan keterampilan di bidang agama Islam.

Hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting mengingat para Rohis yang mudah disusupi oleh paham-paham radikal dan intoleran. Sehingga menurut Amin, sisi empati dan kepedulian menjadi orientasi yang sangat perlu dan penting.

“Saya tidak menafikan sisi pemahaman agama, karena hal itu saya yakin mereka sedikit banyak sudah paham, empati dan kepedulianlah yang perlu ditekankan,” tuturnya.

Kendati demikian, pemahaman agama para Rohis banyak yang perlu diluruskan dan diarahkan ke pemahaman agama yang baik dan benar. Amin juga menekankan kepada Rohis bahwa penguatan wawasan kebangsaan menjadi penting di tengah keberagaman bangsa Indonesia sehingga menumbuhkan cinta tanah air. (Fathoni Ahmad)

Bagaimana Menumbuhkan Budaya Toleran kepada Para Rohis?

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Di waktu siang yang cukup terik dan menyengat kulit, sekitar 2000 para aktivis Rohis di tingkat SMA/SMK, Rabu (4/5) dalam kegiatan Perkemahan Rohis Nasional ke-2 di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta menerima berbagai materi peningkatan kapasitas pribadi dan orgnaisasi ke arah yang lebih baik.

Format pembagian kelompok atau grup dalam perkemahan bertajuk Membangun Generasi Emas, Ramah, dan Bermartabat ini menggunakan Rukun Warga (RW) yang terbagi dalam 12 RW. RW tersebut menggabungkan aktivis dan pengurus Rohis dari berbagai satuan sekolah di seluruh daerah dan provinsi di Indonesia. 1 RW yang terdiri dari 5 Rukun Tetangga (RT) tersebut saling berbaur dan mengenal satu sama lain.

Mereka saling menyapa dan tersenyum untuk mengawali proses perkenalan mereka. Hal ini berlangsung sebelum mereka menerima materi yang bertempat di setiap balai RW. Di balai RW tersebut, mereka tidak hanya dikelompokkan per jenis kelamin yakni siswa perempuan saja, tetapi forum di setiap RW juga melibatkan peserta laki-laki sehingga interaksi sosial lintas jender pun terjadi. Namun demikian, bumi perkemahan mereka tetap terpisah.

Konsep perkemahan yang melibatkan siswa dari berbagai daerah ini sengaja dilakukan agar para Rohis sadar bahwa mereka berinteraksi dalam keberagaman suku, budaya, bahasa, dan lain sebagainya. Dengan ikatan iman yang sama, tetapi mereka juga mesti memahami bahwa perbedaan di antara para aktivis Rohis justru memperkuat identitas keindonesiaan sehingga terbangun budaya toleransi.

Dari pengalaman ini, para pemateri di setiap RW juga menekankan keberagaman keyakinan di Indonesia sehingga berangkat dari pemikiran yang sama terkait dengan perbedaan suku, budaya, adat, tradisi, bahasa, dan lain sebagainya, mereka juga hendaknya bersikap toleran dan ramah terhadap saudara setanah air meski berbeda keyakinan. Di titik inilah keterbukaan pemikiran dan wawasan kebangsaan harus dipahami oleh para Rohis sehingga stigma Rohis sebagai organisasi tertutup tidak lagi beredar.

Sadar akan keberagaman budaya dan agama inilah yang menjadi alasan kuat Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kemenag RI H Amin Haedari untuk menampilkan berbagai pakaian dan tarian adat serta keragaman seni dan budaya di dalam acara pembukaan Perkemahan Rohis Selasa (3/5) lalu.

“Mereka harus sadar bahwa mereka hidup dalam keberagaman budaya sehingga harus menjadi generasi ramah terhadap perbedaan budaya maupun keyakinan,” ujar Amin Haedari sesaat setelah acara pembukaan selesai.

Untuk mewujudkan generasi ramah dan toleran di antara para aktivis Rohis, setiap pembina dan guru di sekolah juga harus paham betul kegiatan para Rohis. Hal ini seperti yang ditekankan oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat memberikan pidato pembukaan Perkemahan Rohis ini.

“Jangan sampai para guru dan pihak-pihak terkait di sekolah tidak membimbing kegiatan mereka ke arah pemahaman yang lebih baik. Lebih dari itu, guru dan pembina Rohis juga harus selalu memperbarui informasi terkini soal perkembangan terbaru tentang pemikiran, pemahaman, dan konflik dunia Islam,” ujar Menag. (Fathoni Ahmad)

Rohis juga Selfie dan Suka Musik

Seorang peserta Perkemahan Rohis Nasional sedang asyik memainkan kamera telpon genggamnya. Rupanya ia tertarik dengan tulisan-tulisan yang ada di beberapa spanduk yang berjajar di sepanjang arena Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta Timur, Rabu (3/5) pagi. Ia tidak hanya ingin mengabadikan slogan-slogan yang ada di spanduk-spanduk itu, tapi juga mengabadikan dirinya sendiri. Ia berfoto selfie bersama spanduk-spanduk itu. “Cekrik... Cekrik...!”

Sehari sebelumnya, menjelang acara pembukaan Perkemahan Rohis Nasional, beberapa siswa dari 33 provinsi mengenakan pakaian adat daerah masing-masing. Mereka yang terlihat cantik dan ganteng itu tak pelak menjadi sasaran target para peserta kemah rohis untuk berfoto selfie. Ternyata, tidak hanya para siswa anggota rohis, para guru pendamping atau pembimbing rohis juga ikut berselfie ria, bahkan rupanya ada yang sudah siap dengan tongkat bantu selfie, dan “cekrik... cekrik!”

Pada saat-saat dilaksanakan acara pembukaan perkemahan secara resmi, beberapa pejabat negara hadir, termasuk menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Ketika sang menteri hadir, spontan beberapa siswa anggota rohis memberanikan diri maju ke depan. Mereka tidak hanya mengambil gambar menteri, tetapi juga berfoto selfie dengan latar belakang pak menteri. “Cekrik... cekrik..!”

Lalu, usai acara pembukaan beberapa peserta anggota rohis terlihat terkejut dan histeris ketika tiba-tiba muncul seorang artis cewek pendatang baru. “Hahh...!” Dialah Lesti D'Academy  yang sempat mendapatkan pernghargaan sebagai Penyanyi Dangdut Wanita Paling Ngetop di salah satu stasiun TV swasta nasional. Ketika Lesti muncul, sebagian peserta rohis terlihat ikut larut bernyanyi bersama sang artis. Dan tidak ketinggalan, ada juga yang tidak menyia-nyikan kesempatan untuk berselfie. Mumpung ketemu. “Cekrik.. cekrik...”

Selfie RohisApa yang digambarkan di atas sekedar menunjukkan bahwa anggota rohis atau rohani Islam di sekolah-sekolah adalah siswa biasa, seperti siswa lainnya yang bukan anggota rohis. Mereka juga sedang gandrung dengan telepon genggam atau smart phone mereka dengan berbagai aplikasinya. Mereka juga menonton TV dan mempunyai artis-artis yang menjadi idola masing-masing.

Dalam hal bermusik para anggota Rohis juga tidak selalu identik dengan rebana, marawis atau nasyid. Pada saat pembukaan Perkemahan Rohis itu, utusan Rohis dari salah satu sekolah di Bandung membawakan lagu-lagu religi, shalawat dan lagu-lagu populer dengan musik khas sunda yang dipadu dengan alat-alat musik modern. Jadi selera musik para Rohis juga cukup lumayan. Bahkan pada saat menteri agama masih berada di areal pembukaan, mereka juga tidak ragu memutar musik "Gamnam Style" yang menghentak-hentak disertai gerakan mereka yang khas dan gaul.

Jadi para siswa anggota rohani Islam sebenarnya tidak “serem”, eksklusif, tertutup, pakem, “fanatik banget” seperti digambarkan sebagian orang. Mereka adalah para siswa biasa yang sedang ingin menambah wawasan agama bersama teman-teman mereka dalam perkumpulan rohis, atau organisasi keagamaan yang secara struktural menjadi bagian dari Organisasi Siswa Intra Sekolah atau OSIS.

Rohis adalah organisasi keagamaan Islam untuk para siswa yang belajar di sekolah-sekolah umum, baik di SMP atau SMA dan SMK. Perkumpulan Rohis ini melengkapi materi pendidikan Agama Islam (PAI) yang mereka dapatkan di sekolah. Di dalam Rohis meraka tidak sekedar belajar agama, tetapi juga berekspresi dan menyalurkan bakat dan minat bersama teman-teman mereka serta melakukan berbagai aktivitas sosial dan keagamaan.

Namun beberapa waktu belakangan ini, Rohis tertimpa isu yang tidak menguntungkan. Rohis disinyalir menjadi salah satu tempat menyemai bibit-bibit radikalisme yang berujung pada aksi teror dan tindak kekerasan atas nama agama Islam. Alasannya, para anggota rohis ini sangat militan, sementara mereka berada pada usia labil dan gampang dipengaruhi untuk kepentingan tertentu atas nama agama Islam. Tak ayal, anggapan miring itu membuat khawatir sebagian orang tua yang anak-anak mereka aktif dalam organisasi rohis.

Maka salah satu tujuan diadakannya Perkemahan Rohis Nasional kali ini adalah menunjukkan kepada masyarakat bahwa rohis bukanlah tempat menanamkan benih-benih radikalisme dan terorisme. Namun rohis adalah tempat berkumpul para siswa untuk belajar agama bersama teman-teman mereka yang didampingi oleh kakak-kakak senior dan guru agama mereka.

Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Amin Haedari mengatakan, kesan bahwa rohis adalah tertutup itu harus dihilangkan. Bukan saja untuk mengantisipasi masuknya berbagai pemikiran-pemikiran radikal yang biasanya cenderung tertutup dan mengisolasi diri dari masyarakat, namun juga untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para siswa untuk belajar agama. Rohis harus terbuka.

“Kita ingin mewujudkan Rohis ini sebagai organisasi terbuka agar semakin banyak siswa yang ikut. Belajar agama kan tidak perlu ditutup-tutupi. Selain itu, kalau bersifat terbuka maka para guru bisa lebih mudah melakukan pendampingan, dengan tetap memberikan ruang kepada mereka untuk melakukan aktualisasi diri,” kata Amin.

Untuk memberikan kesan terbuka itu, para peserta Perkemahan Rohis Nasional kali ini juga tidak dibagi berdasarkan provinsi. Mereka dibiarkan berbaur agar saling mengenal antar daerah satu provinsi dengan provinsi lainnya, berdiskusi dan berbagi informasi satu sama lain, dan mengenal tradsi keislaman di daerah lain.

Melalui rohis, para siswa juga diajarkan untuk menyelami ajaran Islam yang mendalam, ramah, damai dan saling menghormati perbedaaan pendapat, terutama di kalangan umat Islam sendiri. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam pidato pembukaan Perkemahan Rohis Nasional mengingatkan, para anggota Rohis jangan sampai terjebak ke dalam pemahaman agama yang sempit, kaku dan mudah menghakimi orang lain yang berbeda sebagai sesat atau kafir. Karena menyesatkan dan mengkafirkan orang lain itulah sebenarnya permulaan radikalisme.

“Negeri kita ini bisa berdiri dengan kokoh dan rukun karena masing-masing tidak saling menyalahkan yang lainnya. Sikap menghargai keragaman itulah yang harus diteadani di tengah masyarakat kita yang majemuk,” pesan menteri agama.

Ketika berkumpul dan berdialog dengan para anggota rohis unggulan dari berbagai daearah ini, kita membayangkan masa depan generasi muslim Indonesia yang cerah. Mereka adalah generasi emas yang akan membangun bangsa Indonesia ke depan. Mereka adalah generasi cinta Indonesia yang pintar secara intelektual, tetapi juga secara mapan spiritual karena telah dibekali dengan pengetahuan agama Islam yang mendalam.

Maka ayo para siswa menambah pengetahuan agama Islam melalui Rohis. Gabung Rohis? Kenapa tidak!? [A. Khoirul Anam]

Wednesday, May 4, 2016

Agar Nama Abadi, Anak Rohis Musti Jadi Penulis

Yudhistira M Massardi paparkan materi fiksi ilmiah

Jakarta, PendidikanIslam.id

Hari kedua, Selasa (4/5), pelaksanaan kemah Rohis dipenuhi berbagai kegiatan. Antara lain, penyampaian materi kepenulisan. Salah satu narasumber karya fiksi ilmiah dan cerita islami, Yudhistira M Massardi, mengatakan agar nama kita abadi maka jadilah seorang penulis.

“Apakah adik-adik Rohis yang hadir di sini siap jadi penulis,” tanya Yudhistira mengawali presentasinya. Sontak, ratusan peserta Rohis yang duduk lesehan di RW 12 Ibu Fatmawati Buperta Cibubur menjawab dengan semangat. "Siaaaap," jawab ratusan peserta serempak.

“Resepnya satu. Menulis itu tidak sulit. Tetapi tidak pernah menjadi lebih mudah. Satu resep yg bisa dilakukan semua orang agar bisa menjadi penulis, yaitu terus membaca lalu menuliskan hasil bacaannya tersebut,” ujar kakak kandung mantan Jubir Presiden Gus Dur, Adhi M Massardi ini.

Paling tidak, lanjutnya, enam buku dalam enam bulan. Artinya, tiap bulan mengkhatamkan satu buku. “Dan ini harus kontinu. Lalu, hasil bacaan tersebut ditulis ulang. Nah, hasil bacaan ini akan menjadi sebuah tulisan baru yang lebih menarik,” papar wartawan senior yang telah pensiun ini.

Saat ditanya seorang peserta, bagaimana cara mendapatkan inspirasi untuk menulis, Yudhistira menjawab bahwa inspirasi paling mudah didapat dari kehidupan diri penulis. “Tema nulis itu tidak jauh dari kehidupan kita. Cinta, misalnya. Siapapun pasti mengalami yang namanya cinta,” ujarnya disambut riuh peserta.

Menurut Yudhistira, membaca novel tentang cinta menjadi kesukaan para siswa. Saat pernyataan tersebut dilempar ke peserta Rohis, mereka pun membenarkan. Satu per satu lalu mengacungkan jari untuk menyampaikan buku dan novel apa saja yang telah dibaca masing-masing peserta.

Pemaparan materi diselingi tanya jawab berlangsung seru dan menggembirakan. Materi dan praktik menulis karya fiksi ilmiah dijadwalkan hingga menjelang dhuhur. Di tempat terpisah, beberapa materi juga disampaikan. Antara lain, karya jurnalistik, kemasjidan, kepemimpinan, dan public speaking. (Musthofa Asrori)

Pembimbing Rohis Harus Pikirkan Indonesia

[caption id="attachment_1356" align="aligncenter" width="1028"] KH A Moqsith Ghazali didampingi Muhtadin AR memaparkan Islam dan Keindonesiaan[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.id

Melihat situasi mutakhir dunia, khususnya di belahan Timur Tengah, yang penuh dengan tindak kekerasan, umat Islam di republik ini harus memikirkan keutuhan Tanah Air Indonesia.

Hal tersebut disampaikan intelektual muda NU KH Abdul Moqsith Ghazali saat didaulat menjadi narasumber di hadapan ratusan guru pembimbing Rohis PAI yang digelar di Aula Serbaguna Cut Nyak Dien, Bumi Perkemahan dan Wisata (Buperta) Cibubur, Jakarta, Rabu (4/5).

Hari kedua pelaksanaan kemah Rohis Nasional, tak hanya siswa yang padat kegiatan. Para guru pembimbing juga memiliki agenda sendiri, yakni koordinasi pelaksanaan Rohis Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Indonesia dengan pembicara kunci KH Abdul Moqsith Ghazali.

Dalam paparan bertema “Islam dan Keindonesiaan” ini, Moqsith mengatakan, Pancasila sebagai ideologi bangsa telah sesuai ajaran Islam. Ketuhanan YME disepakati warga NU pada Muktamar ke-27 NU di Situbondo sesuai aqidah Tauhid tentang keesaan Tuhan.

“Para kiai yang tergabung dalam Jamiyyah NU menerima asas tunggal Pancasila sebagai ideologi negara. Artinya, mereka telah menyakini bahwa ada titik temu antara Pancasila dengan Islam. Jadi, keduanya tidak perlu dipertentangkan,” ujar Moqsith.

Nama-nama seperti KH M Hasyim Asy'ari, KH Ahmad Dahlan, merupakan tokoh pendiri Republik yang tidak diragukan lagi komitmennya kepada bangsa, negara, dan Tanah Air ini. “Tokoh pendiri NU dan pendiri Muhammadiyah ini sangat berjasa dalam menjaga keberlangsungan Indonesia,” tandasnya.

Jika kita tiap hari sujud, makan, dan tidur di negeri ini, maka kita harus berjuang untuk Tanah Air ini. Bagi pihak yang tidak mengetahui sejarah bangsa, tentu tidak menyetujuinya. “Jadi, kalau ada berpikir bahwa Pancasila tidak sesuai dengan syariat, wajar. Karena mereka bukan pendiri sekaligus perancang negara ini,” tukas Moqsith disambut aplaus para guru PAI.

Menurut Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini, jika terjadi perang saudara, misalnya, apa yang akan terjadi di negeri ini bukan tidak mungkin mirip yang terjadi di Suriah. “Sudah ratusan ribu orang tewas sia-sia. Mereka terlibat perang saudara antarumat Islam,” tegasnya.

Organisasi-organisasi seperti Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan Front Pembela Islam (FPI), lanjut dia, yang selama ini terang-terangan menyoal Pancasila sebagai ideologi negara kendati FPI sudah mulai menerimanya.

“Faktanya, Negara-negara di Timur Tengah, tidak bisa menerima Hizbut Tahrir dan Ahmadiyah. Keduanya justru bermarkas di Inggris. Nah, di Indonesia HTI justru diberi ruang atas nama demokrasi itu sendiri,” papar Moqsith. (Musthofa Asrori)

Rohis Bukan Organisasi Eksklusif

JAKARTA, PendidikanIslam.id - Rohis atau singkatan dari Rohani Islam merupakan lembaga atau perkumpulan para siswa untuk memperkuat dan memperdalam agama Islam. Rohis menjadi organisasi ekstrakurikuler di sekolah yang menjadi bagian dari Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).

Fungsi Rohis selain sebagai forum pertemuan, juga sebagai wahana pengajaran, dakwah, dan berbagi pengetahuan Islam. Adapun susunan dalam Rohis layaknya OSIS, organisasi induknya.

Direktur Pendidikan Islam (PAI) Kementerian Agama, Amin Haedari di sela Pelaksanaan Perkemahan Rohis Nasional di Cibubur Jakarta, Selasa (3/5) mengatakan, selama ini ada kesan bahwa Rohis adalah organisas tertutup dan ekslusif.

Kesan tertutup itu harus dihilangkan. Bukan saja untuk mengantisipasi masuknya berbagai pemikiran-pemikiran radikal yang biasanya cenderung tertutup dan mengisolasi diri dari masyarakat, namun juga untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para siswa untuk belajar agama.

“Kita ingin mewujudkan Rohis ini sebagai organisasi terbuka agar semakin banyak siswa yang ikut. Belajar agama kan tidak perlu ditutup-tutupi. Selain itu, kalau bersifat terbuka maka para guru bisa lebih mudah melakukan pendampingan, dengan tetap memberikan ruang kepada mereka untuk melakukan aktualisasi diri,” kata Amin.

Untuk memberikan kesan terbuka itu, para peserta Perkemahan Rohis Nasional kali ini juga tidak dibagi berdasarkan provinsi. Mereka dibiarkan berbaur agar saling mengenal antar daerah satu provinsi dengan provinsi lainnya, berdiskusi dan berbagi informasi satu sama lain. Hanya saja untuk siswa laki-laki dan perempuan tetap terpisah.

Dari segi materi, Perkemahan Rohis  kali ini lebih beragam juga. Ada materi wajib atau MKDU yang keseluruhannya harus diikuti oleh semua peserta. Materi wajib ini adalah tentang Islam yang damai dan Islam yang ramah. “Kita menyiapkan generasi emas yang penuh keramahan dan kedamaian,” kata Amin.

Ada juga beberapa materi yang tidak harus diikuti keseluruhannya atau MKDK, seperti materi mengenai leadership, jurnalistik, public speaking, dan manajemen masjid. Materi yang terakhir ini sangat penting karena basis utama kegiatan Rohis adalah di masjid atau musholla sekolah. [A. Khoirul Anam]

Direktur PAI: Rohis Harus Sadar Keberagaman dan Perkuat Wawasan Kebangsaan

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementarian Agama RI H Amin Haedari menegaskan bahwa keterbukaan Rohis sebagai sebuah organisasi keagamaan di kalangan siswa di sekolah merupakan hal penting.

Oleh karena itu, lanjut Amin, pihaknya menyelenggarakan kegiatan Perkemahan Rohis Nasional untuk kedua kalinya dengan mengangkat tema besar Islam ramah guna mewujudkan generasi yang bermartabat.

“Kami mengaharapkan oraganisasi Rohis ini lebih terbuka, belajar agama tidak usah ditutup-tutupi sehingga dapat menciptakan generasi ramah terhadap perbedaan dan keberagaman,” ujar Amin Haedari sesaat setelah acara pembukaan Perkemahan Rohis Nasional, Selasa (3/5) di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta.

Amin menjelaskan, konsep pembukaan yang dikemas dengan berbagai pakaian dan tarian adat daerah yang dibawakan oleh para siswa sendiri ini ingin menunjukkan bahwa keberagaman yang justru menciptakan persatuan ini bisa mewujudkan harmoni.

“Mereka perlu menyadari bahwa mereka hidup dalam keberagaman budaya sehingga sikap saling menghargai dan menghormati akan mewujudkan bangsa dan negara yang kuat, diperlukan wawasan kebangsaan” ucapnya.

Pria kelahiran Ciamis Jawa Barat ini berharap bahwa even nasional dengan semangat dan visi yang sama, yaitu menyebarkan Islam damai dan membangun generasi ramah di kalangan Rohis perlu dilaksanakan.

“Saya berharap kepada Kanwil Kemenag di seluruh provinsi dan kabupaten/kota untuk menjadikan kegiatan Perkemahan Nasional ini sebagai pendorong agar paham-paham radikal tidak mudah menyusup kepada mereka para Rohis,” tandasnya. (Fathoni Ahmad)

Tuesday, May 3, 2016

Kegiatan Perkemahan Rohis 2016 Begitu Padat, Ini Gambarannya

[caption id="attachment_1319" align="aligncenter" width="960"]Shalat Jamaah- di Perkemahan Rohis 2016 Shalat Jamaah- di Perkemahan Rohis 2016hi[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Shalat Subuh berjamaah, tahsin Al-Qur’an, kultum, diskusi keagamaan, dan silaturrahmi antar peserta adalah di antara agenda yang dilaksanakan dalam Perkemahan Rohis Nasional II di Bumi Perkemahan Cibubur, Ciracas, Jakarta Timur. Kegiatan yang dimaksudkan sebagai wadah peningkatan silaturahim, wawasan, dan pengetahuan pengurus Rohis nilai-nilai islami ini memang dimaksudkan agar pengurus atau anggota Rohis memiliki kompetensi yang cukup untuk mendinamisasikan nuansa-nuansa keislaman di sekolah.

Meski pembukaan acara dilaksanakan pada Selasa, 3 Mei 2016, tetapi berbagai kegiatan sudah dimulai dari Senin pagi, 2 Mei, sebelumnya. Mulai dari registrasi, ta’aruf antar peserta, dan musyawarah antar kelompok. Tak ketinggalan shalat jamaah, bersih-bersih lingkungan, dan makan bersama menjadi agenda rutin.

Usai pembukaan kegiatan padat tapi sangat bermanfaat sudah menunggu. Materi Islam Rahmatan lil ‘alamin di antaranya. Tak ketinggalan materi keorganisasian, muraja’ah dan kajian keagamaan. Sebelum istirahat tidur, masing-masing kelompok akan melakukan evaluasi kegiatan selama satu hari ini.

Pukul 04.00 seluruh peserta sudah dibangunkan, agenda shalat Tahajjud berjamaah segera dilaksanakan dan ini adalah agenda wajib setiap pagi hari. kegiatan ini dirangkai dengan shalat Subuh berjamaah, tahsin Al-Qur’an, kultum dan berdiskusi dalam halaqah. Waktu pagi sangat tepat dengan materi-materi ini karena kondisi badan dan otak yang masih fresh. Selesai semua kegiatan ini dilanjutkan dengan materi yang tidak kalah menariknya: public speaking, leadership, manajemen masjid, jurnalistik, penulisan karya ilmiah, dan penulisan fiksi islami.

Hari berikutnya, giliran materi tentang Manasik Haji dipraktekkan, juga wawasan kebangsaan. Tak hanya teori, tetapi pelaksanaan langsung amal juga dilakukan, yaitu dengan bakti sosial di lingkungan sekitar.

Tentu masih banyak lagi agenda lain hingga Jumat sore, 6 Mei 2016, yang semakin memperkaya peserta dengan pengetahuan, pengalaman, dan pengamalan. Dengan harapan berbagai bekal ini mampu membantu peserta untuk menularkan hal yang sama kepada pengurus atau anggota Rohis yang tak turut serta. (Fathuri)

Kemah Rohis Disambut Sukacita para Siswa

Peserta Kemah Rohis asal SMA 2 Solok, Sumbar

Jakarta, PendidikanIslam.id

Pelaksanaan perkemahan Rohis yang digelar Direktorat Pendidikan Agama Islam Ditjen Pendis Kemenag disambut sukacita. Para siswa-siswi dari berbagai wilayah seantero Republik mengaku gembira dan bangga menjadi peserta kemah nasional ini.

Menurut Febila Emirna, kegiatan ini sangat membahagiakannya. Pasalnya, ini merupakan pengalaman pertamanya untuk tingkat nasional. “Kami melihat bahwa kemah Rohis ini selain bisa menambah teman dan wawasan baru, bisa dapat mempertebal keislaman dan keimanan,” ujar siswi kelas X SMAN 2 Kota Solok, Sumatera Barat ini.

Gadis yang tampil dengan pakaian adat Minang ini melihat bahwa kegiatan kemah Rohis ini bisa memupuk peserta untuk mandiri, disiplin waktu, dan dapat bekerja sama dengan orang baru dikenal. “Saya berharap, kegiatan ini dapat memberikan kesan yang baik, bisa berbagi satu sama lain juga bisa kompak,” harapnya.

Saat ditanya tentang stigma miring sebagai organisasi yang mudah disusupi paham radikalisme, ia berpendapat bahwa hal itu tidak benar. “Pihak-pihak yang suka kekerasan atau tindak radikal itu orang yang tidak memahami agamanya,” tandasnya.

Senada dengan Febila, siswi kelas X SMA Bangka Belitung Ardina juga menyanggah jika Rohis mudah disusupi radikalisme. “Sebenarnya tidak, Rohis merupakan organisasi yang kuat dan sangat antiradikalisme. Rohis memiliki semangat luar biasa dan jauh dari tindak kekerasan. Kami sangat anti sikap ,” ujarnya.

Jika ada pihak yang suka kekerasan, bagi Ardina, mereka kurang mengenal ajaran agamanya. “Ada yang kurang dalam memahami pesan agamanya masing-masing,” tandasnya.

Sementara itu, siswi kelas XI SMA 5 Kota Jambi, Wirda Arneli, mengaku sangat bahagia bisa bertemu para aktivis Rohis dari seluruh Indonesia. Ia berharap kegiatan ini terus ditingkatkan di masa mendatang. “Hal ini kita gunakan agar Rohis makin the best,” ujarnya. (Musthofa Asrori)

Shalawat Badar Menggema di Perkemahan Rohis

Jakarta, PendidikanIslam.id - Shalawat Badar mengiringi pembukaan kegiatan Perkemahan Rohis II Tingkat SMA/SMK tahun 2016 yang diikuti oleh kurang lebih 2000 anggota Rohis, Selasa (3/5) di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta. Shalawat khas pesantren ini menggema dan menggetarkan suasana pembukaan yang juga menampilkan berbagai atraksi dan tarian, dan pakaian adat daerah.

Shalawat tersebut dikumandangkan setelah Qori bernama Nashoihul Ibad (SMAN 68 Jakarta) dan Qori’ah bernama Annisa Nur Lestari (SMAN 1 Bontang) selesai membaca ayat-ayat suci al-Qur’an. Dua siswa Juara Pentas PAI Nasional 2015 lalu ini memimpin ribuan aktivis Rohis beserta para pembinanya untuk mengumandangkan Shalawat Badar.

Para peserta mengikuti pembacaan shalawat itu dengan khidmat karena dibawakan oleh dua siswa teladan tersebut dengan suara yang khas dan menarik perhatian. Ribuan siswa dari 33 provinsi itu secara menggema dan khidmat mengalunkan shalawat yang mengandung semangat membuncah itu.

Kegiatan Perkemahan Rohis Nasional kedua yang diselenggarakan oleh Direktorat PAI Ditjen Pendis Kemenag RI mengambil tema Membangun Generasi Emas, Ramah, dan Bermartabat. Tema ini diambil karena Kementerian Agama ingin mewujudkan generasi Islam yang ramah dan toleran di kalangan Rohis yang selama ini dinilai banyak disusupi oleh paham-paham radikal dan sikap intoleran.

Dalam acara pembukaan tersebut, hadir Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin, Direktur PAI H Amin Haedari, beserta jajaran pembina dan pegawai di lingkungan Kemenag dari seluruh provinsi. (Fathoni Ahmad)

Menag Pimpin Para Rohis Ucapkan Ikrar Kebangsaan Sebarkan Islam Damai

[caption id="attachment_1290" align="aligncenter" width="960"]Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin Tiba di Bumi Perkemahan Cibubur untuk Membuka Perkemahan Rohis Nasional 2016 Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin Tiba di Bumi Perkemahan Cibubur untuk Membuka Perkemahan Rohis Nasional 2016. Selasa, (3/5/2016)[/caption]

JAKARTA, PENDIDIKANISLAM.ID - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memimpin lebih dari dua ribu pengurus Rohani Islam (Rohis) seluruh Indonesia untuk mengucapkan ikrar kebangsaan guna menyebarkan ajaran Islam yang damai, toleran dan cinta tanah air. Para Rohis itu hadir dari SMA/SMK seluruh Indonesia untuk mengikuti Perkemahan Rohis Nasional II di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta Timur, 2-3 Mei 2016.

Ikrar itu disampaikan di tengah-tengah pidato sambutan menteri agama pada acara pembukaan Perkemahan Rohis Nasional II, Selasa (3/5). Ia menyampaikan tiga pertanyaan kepada lebih dari dua ribu pengurus rohis yang hadir.

“Bersediakah anak-anakku para Rohis menjadikan Rohis sebagai wadah untuk menumbuhkembangkan Islam yang damai dan toleran?  Bersediakah anak-anakku para Rohis menjadi pelopor dalam mengampanyekan Islam yang rahmatan lil ‘alamin? Bersediakan anak-anakku para Rohis menjadi pelopor bagi generasi muda untuk mencintai negeri kita ini?” Spontan para rohis menjawab, “Bersedia!”

“Anak-anakku para Rohis dari seluruh Indonesia, pertanyaan tersebut sengaja saya sampaikan karena saya ingin memastikan bahwa anak-anak Rohis adalah anak-anak yang cerdas, cinta damai, cinta tanah air, dan pelopor Islam yang memberikan rahmat kepada semua,” kata Menag.

Ia menyampaikan, pihaknya seringkali mendengar informasi miring yang menyebutkan bahwa Rohis adalah tempat yang mudah untuk disusupi oleh gerakan-gerakan Islam yang tidak toleran, dan anti NKRI. Kecintaan anak-anak Rohis pada agama, dan kepribadian yang masih labil adalah alasan mereka menarget para Rohis ini sebagai wadah gagasan intoleran mereka

Karena itu ia meminta para Rohis untuk benar-benar serius dalam mempelajari agama, jangan cepat puas dengan ilmu yang diperoleh, dan jangan mudah larut dengan pengajaran agama yang sempit, kaku, dan mudah menghakimi orang lain yang berbeda sebagai sesat atau kafir.

“Ingatlah, bahwa ilmu Allah itu luas. Bahkan jika air laut dijadikan tinta untuk menulis ilmu Allah tidak akan pernah cukup menuliskan ilmu Allah yang tanpa batas itu,” tegasnya.

Ditambahkan, para pendiri bangsa ini seperti Bung Karno, Mohammad Hatta, KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan dan yang lainnya telah memberikan contoh kepada kita semua, bahwa mereka adalah pribadi yang sangat menghargai keragaman.

“Negeri kita ini bisa berdiri dengan kokoh dan rukun karena mereka tidak mudah menyalahkan yang lainnya. Sikap menghargai keragaman itulah yang harus diteladani di tengah masyarakat kita yang majemuk,” tambahnya.

Kegiatan Perkemahan Rohis Nasional II dihadiri para pejabat di lingkungan Direkturat Jenderal Pendidikan Islam, kepala kantor wilayah kementerian agama provinsidan kabupaten/kota dari seluruh indonesia, para kepala dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota dari seluruh Indonesia dan para pembina dan pendamping rohis dari seluruh indonesia. (Anam)

Monday, May 2, 2016

Pesan Dirjen Pendis untuk Para Rohis

Jakarta, PendidikanIslam.id – Dalam rangka perhelatan Perkemahan Rohis Nasional II tingkat SMA/SMK yang diselenggarakan Senin-Jumat (2-6/5) di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Kamaruddin Amin menyampaikan pesannya untuk para anggota dan aktivis Rohis.

Dalam pesannya, Kamaruddin mengatakan bahwa para Rohis hendaknya menjadi pelopor generasi muda untuk mencintai negara Indonesia.

“Masa depan negeri ini ada di tangan Anda (para Rohis),” tegas Kamaruddin.

Pesan tersebut dia sampaikan melalui saluran media sosial Youtube yang diunggah oleh akun Pendidikan Islam. Berikut video selengkapnya:



(Fathoni Ahmad)

Sunday, May 1, 2016

Bangga! Kami Rohis Ramah, Bermartabat dan Cinta NKRI

Jakarta, PendidikanIslam.id – Dalam konferensi pers, Kamis (27/4) lalu, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag RI Kamaruddin Amin menanggapi isu bahwa organisasi Rohani Islam (Rohis) di sekolah sebagai wadah penanaman paham radikal.

“Ada isu negatif, Rohis dianggap menjadi bagian dari penyebaran paham-paham radikal, bahkan terorisme. Ini jangan sampai terjadi,” ucap Kamaruddin dalam konferensi pers tersebut di Kantor Kemenag RI Lapangan Banteng Jakarta Pusat terkait kegiatan Perkemahan Rohis yang akan dihelat Senin-Jumat (2-6/5/2016) di Buperta Cibubur, Jakarta.

Menurut Kamaruddin, kesan Rohis sebagai organisasi tertutup atau eksklusif harus dihilangkan. Bukan saja untuk mengantisipasi masuknya berbagai pemikiran-pemikiran radikal yang biasanya cenderung tertutup dan mengisolasi diri dari masyarakat, namun juga untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para siswa untuk belajar agama.

“Kita ingin mewejudkan Rohis ini sebagai organisasi terbuka agar semakin banyak siswa yang ikut. Belajar agama kan tidak perlu ditutup-tutupi. Selain itu, kalau bersifat terbuka maka para guru bisa lebih mudah melakukan pendampingan, dengan tetap memberikan ruang kepada mereka untuk melakukan aktualisasi diri,” kata Kamaruddin.

Terkait dengan apa dan bagaimana Rohis yang seharusnya, para siswa dalam video berikut berusaha memberikan ungkapannya. Klik link videonya berikut ini:


(Fathoni Ahmad)