Thursday, May 5, 2016

Rohis juga Selfie dan Suka Musik

Seorang peserta Perkemahan Rohis Nasional sedang asyik memainkan kamera telpon genggamnya. Rupanya ia tertarik dengan tulisan-tulisan yang ada di beberapa spanduk yang berjajar di sepanjang arena Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta Timur, Rabu (3/5) pagi. Ia tidak hanya ingin mengabadikan slogan-slogan yang ada di spanduk-spanduk itu, tapi juga mengabadikan dirinya sendiri. Ia berfoto selfie bersama spanduk-spanduk itu. “Cekrik... Cekrik...!”

Sehari sebelumnya, menjelang acara pembukaan Perkemahan Rohis Nasional, beberapa siswa dari 33 provinsi mengenakan pakaian adat daerah masing-masing. Mereka yang terlihat cantik dan ganteng itu tak pelak menjadi sasaran target para peserta kemah rohis untuk berfoto selfie. Ternyata, tidak hanya para siswa anggota rohis, para guru pendamping atau pembimbing rohis juga ikut berselfie ria, bahkan rupanya ada yang sudah siap dengan tongkat bantu selfie, dan “cekrik... cekrik!”

Pada saat-saat dilaksanakan acara pembukaan perkemahan secara resmi, beberapa pejabat negara hadir, termasuk menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Ketika sang menteri hadir, spontan beberapa siswa anggota rohis memberanikan diri maju ke depan. Mereka tidak hanya mengambil gambar menteri, tetapi juga berfoto selfie dengan latar belakang pak menteri. “Cekrik... cekrik..!”

Lalu, usai acara pembukaan beberapa peserta anggota rohis terlihat terkejut dan histeris ketika tiba-tiba muncul seorang artis cewek pendatang baru. “Hahh...!” Dialah Lesti D'Academy  yang sempat mendapatkan pernghargaan sebagai Penyanyi Dangdut Wanita Paling Ngetop di salah satu stasiun TV swasta nasional. Ketika Lesti muncul, sebagian peserta rohis terlihat ikut larut bernyanyi bersama sang artis. Dan tidak ketinggalan, ada juga yang tidak menyia-nyikan kesempatan untuk berselfie. Mumpung ketemu. “Cekrik.. cekrik...”

Selfie RohisApa yang digambarkan di atas sekedar menunjukkan bahwa anggota rohis atau rohani Islam di sekolah-sekolah adalah siswa biasa, seperti siswa lainnya yang bukan anggota rohis. Mereka juga sedang gandrung dengan telepon genggam atau smart phone mereka dengan berbagai aplikasinya. Mereka juga menonton TV dan mempunyai artis-artis yang menjadi idola masing-masing.

Dalam hal bermusik para anggota Rohis juga tidak selalu identik dengan rebana, marawis atau nasyid. Pada saat pembukaan Perkemahan Rohis itu, utusan Rohis dari salah satu sekolah di Bandung membawakan lagu-lagu religi, shalawat dan lagu-lagu populer dengan musik khas sunda yang dipadu dengan alat-alat musik modern. Jadi selera musik para Rohis juga cukup lumayan. Bahkan pada saat menteri agama masih berada di areal pembukaan, mereka juga tidak ragu memutar musik "Gamnam Style" yang menghentak-hentak disertai gerakan mereka yang khas dan gaul.

Jadi para siswa anggota rohani Islam sebenarnya tidak “serem”, eksklusif, tertutup, pakem, “fanatik banget” seperti digambarkan sebagian orang. Mereka adalah para siswa biasa yang sedang ingin menambah wawasan agama bersama teman-teman mereka dalam perkumpulan rohis, atau organisasi keagamaan yang secara struktural menjadi bagian dari Organisasi Siswa Intra Sekolah atau OSIS.

Rohis adalah organisasi keagamaan Islam untuk para siswa yang belajar di sekolah-sekolah umum, baik di SMP atau SMA dan SMK. Perkumpulan Rohis ini melengkapi materi pendidikan Agama Islam (PAI) yang mereka dapatkan di sekolah. Di dalam Rohis meraka tidak sekedar belajar agama, tetapi juga berekspresi dan menyalurkan bakat dan minat bersama teman-teman mereka serta melakukan berbagai aktivitas sosial dan keagamaan.

Namun beberapa waktu belakangan ini, Rohis tertimpa isu yang tidak menguntungkan. Rohis disinyalir menjadi salah satu tempat menyemai bibit-bibit radikalisme yang berujung pada aksi teror dan tindak kekerasan atas nama agama Islam. Alasannya, para anggota rohis ini sangat militan, sementara mereka berada pada usia labil dan gampang dipengaruhi untuk kepentingan tertentu atas nama agama Islam. Tak ayal, anggapan miring itu membuat khawatir sebagian orang tua yang anak-anak mereka aktif dalam organisasi rohis.

Maka salah satu tujuan diadakannya Perkemahan Rohis Nasional kali ini adalah menunjukkan kepada masyarakat bahwa rohis bukanlah tempat menanamkan benih-benih radikalisme dan terorisme. Namun rohis adalah tempat berkumpul para siswa untuk belajar agama bersama teman-teman mereka yang didampingi oleh kakak-kakak senior dan guru agama mereka.

Direktur Pendidikan Agama Islam (PAI) Kementerian Agama Amin Haedari mengatakan, kesan bahwa rohis adalah tertutup itu harus dihilangkan. Bukan saja untuk mengantisipasi masuknya berbagai pemikiran-pemikiran radikal yang biasanya cenderung tertutup dan mengisolasi diri dari masyarakat, namun juga untuk memberikan kesempatan yang lebih luas kepada para siswa untuk belajar agama. Rohis harus terbuka.

“Kita ingin mewujudkan Rohis ini sebagai organisasi terbuka agar semakin banyak siswa yang ikut. Belajar agama kan tidak perlu ditutup-tutupi. Selain itu, kalau bersifat terbuka maka para guru bisa lebih mudah melakukan pendampingan, dengan tetap memberikan ruang kepada mereka untuk melakukan aktualisasi diri,” kata Amin.

Untuk memberikan kesan terbuka itu, para peserta Perkemahan Rohis Nasional kali ini juga tidak dibagi berdasarkan provinsi. Mereka dibiarkan berbaur agar saling mengenal antar daerah satu provinsi dengan provinsi lainnya, berdiskusi dan berbagi informasi satu sama lain, dan mengenal tradsi keislaman di daerah lain.

Melalui rohis, para siswa juga diajarkan untuk menyelami ajaran Islam yang mendalam, ramah, damai dan saling menghormati perbedaaan pendapat, terutama di kalangan umat Islam sendiri. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dalam pidato pembukaan Perkemahan Rohis Nasional mengingatkan, para anggota Rohis jangan sampai terjebak ke dalam pemahaman agama yang sempit, kaku dan mudah menghakimi orang lain yang berbeda sebagai sesat atau kafir. Karena menyesatkan dan mengkafirkan orang lain itulah sebenarnya permulaan radikalisme.

“Negeri kita ini bisa berdiri dengan kokoh dan rukun karena masing-masing tidak saling menyalahkan yang lainnya. Sikap menghargai keragaman itulah yang harus diteadani di tengah masyarakat kita yang majemuk,” pesan menteri agama.

Ketika berkumpul dan berdialog dengan para anggota rohis unggulan dari berbagai daearah ini, kita membayangkan masa depan generasi muslim Indonesia yang cerah. Mereka adalah generasi emas yang akan membangun bangsa Indonesia ke depan. Mereka adalah generasi cinta Indonesia yang pintar secara intelektual, tetapi juga secara mapan spiritual karena telah dibekali dengan pengetahuan agama Islam yang mendalam.

Maka ayo para siswa menambah pengetahuan agama Islam melalui Rohis. Gabung Rohis? Kenapa tidak!? [A. Khoirul Anam]

No comments:

Post a Comment