Sunday, May 8, 2016

Saat Tari Bugis Tampil di Kemah Rohis

 

[caption id="attachment_1438" align="aligncenter" width="1280"]Direktur PAI Amin Haedari (tengah) foto bareng dengan para penari Paduppa dan Kontingen Sulsel Direktur PAI Kemenag RI H Amin Haedari (tengah) foto bersama dengan para penari Paduppa dan kontingen Sulawesi Selatan di arena kemah Rohis Nasional[/caption]

Jakarta, PendidikanIslam.id

Kemah organisasi Rohani Islam (Rohis) Nasional yang digelar Selasa hingga Jumat, 2-6 Mei 2016 di Bumi Perkemahan dan Wisata (Buperta) Cibubur Jakarta masih menyisakan kesan mendalam bagi para peserta. Salah satunya penari yang menampilkan Paduppa, tarian legendaris khas Bugis.

Menurut salah satu penari, Astriyanti (16), Tari Paduppa merupakan sebuah tari tradisional Bugis, Sulawesi Selatan, yang ditujukan untuk menyambut tamu atau pejabat yang hadir dalam suatu acara. Tim tari yang berkekuatan empat personel sengaja menampilkan tarian tersebut untuk memperkenalkan kekayaan budaya republik ini.

“Alhamdulillah, tampilan tarian kami berjalan lancar dan sukses. Kami bangga dan puas karena para penonton yang menyaksikan kami menyambut antusias,” ujarnya kepada PendidikanIslam.id melalui telepon seluler, Sabtu (7/5).

Didampingi dua rekannya, Fadhilla Ibrahim (siswi SMK Tri Dharma), dan Nur Ukhty Hakim (siswi SMA 3 Lau), Astriyanti yang kini duduk di bangku Kelas XI SMA Angkasa Maros ini menampilkan tarian khas Bugis itu penuh percaya diri. Ketiga gadis ini diiringi Syam, seorang pemain putra yang bertugas sebagai Angngaru.

Menurut Astri, sebagai salah satu tarian kreasi asal Sulsel, Angngaru selalu dikolaborasikan dengan tarian Paduppa. “Budaya ini sakral sekali di kalangan para bangsawan (karaeng) karena menjadi tradisi lokal dalam pernikahan. Selain itu, ia juga digunakan dalam penyambutan tamu penting di kalangan para raja, karaeng dan andi,” tuturnya.

Selain berfungsi sebagai alat komunikasi, Angngaru juga berisi sejumlah pesan moral, penjagaan terhadap bahaya, dan kesiagaan perlindungan yang terkandung dalam gerakan tarian disertai ucapan lantang yang menarik urat leher. Budaya Angngaru telah ada sejak zaman kerajaan. Ia menjadi semacam ikrar bagi para ksatria kepada para karaeng (raja). Bahkan para karaeng pun turut serta mengucapkan ikrar tersebut.

Bangga Ikuti Kemah Rohis

Kesan pertama saat diberi tahu bahwa dirinya ikut dalam kemah Rohis ke-2 Nasional, Astri mengaku bahagia, kaget, dan bangga. Rasanya campur aduk menjadi satu. Di Cibubur kemarin, ia dan teman-teman barunya dari seluruh penjuru Nusantara saling bersosialisasi satu sama lain.

“Ada yang pakai Bahasa Jawa, Madura, dan masih banyak yang lain. Pokoknya seru. Kami dinasihati Bapak Kasi PAIS Kemenag Kabupaten Maros agar persiapkan mental dan jaga kesehatan. Kami juga harus unjuk gigi di sana,” ungkapnya.

Dara yang kerap mendapat juara 1 di SMP Angkasa ini juga sering ikut lomba baik di sekolah, maupun antarsekolah. Lomba tersebut antara lain debat PAI, lomba musikalisasi puisi, lomba pidato dan kultum. “Dulu sempat mau ikut Lomba OSN Teknologi dan Informasi. Tapi karena waktu itu lagi kurang sehat, jadinya saya diganti siswa lain,” kenangnya.

Saat ditanya tentang cita-cita, gadis kelahiran Maros, Sulawesi Selatan, 14 Juni 1999 ini menjawab, ingin menjadi guru agama. “Nah, dari Guru Agama nanti bisa jadi Menteri Agama kayak Pak Lukman Hakim Saifuddin,” ucap Astri bersemangat.

Untuk meraih cita-citanya tersebut, setelah lulus SMA nanti, Astri berencana melanjutkan kuliah di Fakultas Tarbiyah UIN Alauddin Makassar. “Sebenarnya, ingin juga kuliah di Jawa, tapi karena nggak ada keluarga di sana, takut kesasar aja,” pungkas Astri diiringi derai tawa. (Musthofa Asrori)

No comments:

Post a Comment