Thursday, August 25, 2016

Belajar Kebenaran kepada Gajah

belajar pada gajahAlkisah, penduduk  suatu kota  itu ingin sekali melihat seekor gajah perkasa yang ikut serta bersama rombongan raja. Mereka merasa penasaran ingin menyaksikan seperti apa si gajah yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Konon gajah itu menjadi andalan dalam mengalahkan musuh-musuh kerajaan.

Beberapa pemuda diizinkan mendekati gajah. Syaratnya, mata mereka harus tertutup. Mereka mengelilingi si gajah perkasa.

Karena  sama  sekali tidak mengetahui bentuk dan ujud gajah, mereka pun meraba-raba sekenanya, mencoba membayangkan  gajah dengan menyentuh bagian tubuhnya.  Masing-masing berpikir telah mengetahui sesuatu, sebab telah menyentuh bagian tubuh tertentu.

Ketika mereka kembali ke tengah-tengah kota,  orang-orang pun  berkerumun di sekeliling mereka. Kerumunan  orang itu bertanya tentang bentuk dan ujud gajah: dan mendengarkan segala yang diberitahukan kepada mereka.

Orang yang tangannya menyentuh telinga gajah ditanya tentang bentuk  gajah. Jawabnya, "Gajah itu lebar, kasar, besar, dan luas, seperti babut."

Orang yang meraba belalainya berkata, "Saya tahu keadaan sebenarnya.  Gajah  itu bagai pipa lurus dan kosong, dahsyat dan suka menghancurkan".

Orang yang menyentuh kakinya  berkata,  "Gajah  itu  perkasa kokoh, bagaikan tiang."

Masing-masing  telah  meraba satu bagian saja.

Tiba-tiba sang raja datang membawa gajah kesayangannya. Para penduduk kota terkejut. Rupanya bentuk gajah tidak seperti yang mereka kira.

Sang raja yang juga seorang ulama sufi kemudian mengatakan, bahwa sesungguhnya panca indra dan akal kita mempunyai keterbatasan dalam mengetahui kebenaran sejati. [Khoirul Anam]

No comments:

Post a Comment