Beberapa pemuda diizinkan mendekati gajah. Syaratnya, mata mereka harus tertutup. Mereka mengelilingi si gajah perkasa.
Karena sama sekali tidak mengetahui bentuk dan ujud gajah, mereka pun meraba-raba sekenanya, mencoba membayangkan gajah dengan menyentuh bagian tubuhnya. Masing-masing berpikir telah mengetahui sesuatu, sebab telah menyentuh bagian tubuh tertentu.
Ketika mereka kembali ke tengah-tengah kota, orang-orang pun berkerumun di sekeliling mereka. Kerumunan orang itu bertanya tentang bentuk dan ujud gajah: dan mendengarkan segala yang diberitahukan kepada mereka.
Orang yang tangannya menyentuh telinga gajah ditanya tentang bentuk gajah. Jawabnya, "Gajah itu lebar, kasar, besar, dan luas, seperti babut."
Orang yang meraba belalainya berkata, "Saya tahu keadaan sebenarnya. Gajah itu bagai pipa lurus dan kosong, dahsyat dan suka menghancurkan".
Orang yang menyentuh kakinya berkata, "Gajah itu perkasa kokoh, bagaikan tiang."
Masing-masing telah meraba satu bagian saja.
Tiba-tiba sang raja datang membawa gajah kesayangannya. Para penduduk kota terkejut. Rupanya bentuk gajah tidak seperti yang mereka kira.
Sang raja yang juga seorang ulama sufi kemudian mengatakan, bahwa sesungguhnya panca indra dan akal kita mempunyai keterbatasan dalam mengetahui kebenaran sejati. [Khoirul Anam]
No comments:
Post a Comment