SEMARANG, PENDIDIKANISLAM.ID - Kementerian Agama menggelar Workshop Diversifikasi Madrasah. Selain membahas berbagai persoalan aktual seputar pendidikan madrasah, ajang ini menjadi sosialiasi kebijakan Kementerian Agama terkait diversifikasi madrasah sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Agama No 60 tahun 2015.
Direktur Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam M. Nur Kholis Setiawan mengatakan, beranekaragamnya madrasah dari sisi jumlah, jenjang, jenis dan potensinya, mendorong Kemenag mengarahkan fokus kebijakannya pada diversifikasi atau penganekaragaman madrasah ke dalam empat tipologi, yakni Madrasah Akademik, Madrasah Kejuruan, Madrasah Keagamaan, dan Madrasah Reguler.
"Salah satu alasan munculnya kebijakan diversifikasi madrasah ini adalah jumlah siswa-siswi Madrasah Aliyah relatif lebih kecil bila dibandingkan dengan jumlah siswa-siswi MTs dan MI. Dugaan sementara karena banyak orang tua yang belum yakin atau masih ragu dengan kualitas Madrasah Aliyah. Sehingga mereka lebih memilih lembaga pendidikan yang lain," terang Nur Kholis di hadapan 60 kepala madrasah yang mewakili empat tipologi tersebut.
Kebijakan diversifikasi madrasah, lanjut M. Nur Kholis, muncul untuk menggenjot madrasah-madrasah agar menemukan potensinya. Potensi-potensi tersebut dikelaskan dalam 1) Madrasah Akademik yang wujudnya adalah MAN Insan Cendekia dan Madrasah Riset; 2) Madrasah Keagamaan, wujudnya adalah revitalisasi MAN Program Khusus, dan 3) Madrasah Aliyah Kejuruan, wujudnya pembangunan MA Kejuruan di enam lokasi pada tahun 2016 dan juga peningkatan kualitas pada madrasah Aliyah yang memiliki program ketrampilan.
Menurutnya, kebijakan ini merupakan bagian tak terpisahkan dalam teori continuity and change. "Sistem birokrasi, program atau kebijakan yang baik dan konkret wajib dilanjutkan (continuity). Namun tidak boleh stagnan, harus ada perubahan, kreasi dan inovasi di dalamnya yang lebih baik (change) sebagai antisipasi atas perubahan zaman yang begitu cepat," jelasnya.
MAN IC, Madrasah Riset, MAN PK dan Madrasah Keterampilan merupakan program-program yang sudah ada sejak dulu. Semuanya baik, namun juga perlu disempurnakan dan disesuaikan dengan tuntutan zaman. Tiga MAN IC yang sudah ada, sudah mapan dan berprestasi perlu direplikasi di setiap provinsi. Kini yang sudah ada adalah 17 MAN IC.
Madrasah Riset yang sudah diluncurkan sejak tahun 2010 dan telah menghasilkan periset, menurut Nur Kholis juga perlu ditingkatkan dan didukung secara penuh. MAN PK yang telah nyata melahirkan para alumni-alumni dengan pemahaman Islam yang mendalam perlu direvitalisasi setelah sekian lama mati suri.
Mengutip muqaddimah Abu Bakar Asy-Syatha dalam Ianah at-Thalibin, Nur Kholis menyatakan, walam ayyuha al-waqif ala al-jami al-madzkur, annahu laisa li fihi illa an-naqlu min kalam al-jumhuri wa al-ityan fi dzalika bi asy-syai al-maqdur (Ketahuliah pada pembaca, bahwa tidak ada unsur saya di dalam kitab ini, kecuali hanya pengutipan-pengutipan gagasan para ulama jumhur dan menghadirkan di dalam kitab ini sesuatu yang terukur).
"Jadi, ulama-ulama terdahulu saja masih tetap melanggengkan gagasan-gagasan para pendahulunya sembari melakukan inovasi atas gagasan-gagasan tersebut," pungkasnya.
Workshop yang dilaksanakan selama tiga hari ini diharapkan mampu menghasilkan pedoman standar yang detail tentang pengembangan tipologi madrasah-madrasah tersebut. Sebanyak 600 kepala madrasah perwakilan dari empat tipologi madrasah ikut serta dalam workshop yang dibuka pada Rabu (10/8) malam. (Red: Fathoni Ahmad)
No comments:
Post a Comment