Dinda Al Anshori lahir di Tanjungbalai Sumatera Utara, 11 Desember 1997 dari pasangan Radmuddin dan Efrida. Ia lahir dari keluarga berpendidikan. Ayahnya lulus S-2 di Institut Pertanian Bogor (IPB) pada jurusan biologi. Ibunya lulusan S-1 jurusan tarbiyah di IAIN Sumatera Utara. Kedua orang tuanya mengajar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Natal, salah satu kecamatan di Mandailing Natal, Sumatera Utara.
Anshori pertama kali mendapatkan informasi mengenai MAN Insan Cendekia Gorontalo dari orang tuanya. Orang tuanya yang juga Kepala Madrasah mengadakan psikotes dan ia diikutkan.
“Hasilnya lumayan untuk saya. Orang psikotesnya menyarankan saya masuk MAN Insan Cendekia Gorontalo. Waktu itu saya masih duduk di kelas 3 SMP menjelang pelaksanaan Ujian Nasional. Saya coba-coba dan alhamdulillah lulus. Selain Insan Cendekia, saya juga mendaftar di salah satu sekolah di Sumatera Utara, dan lulus juga. Tetapi saya lebih memilih di sini (Insan Cendekia Gorontalo),” katanya.
Di MAN Insan Cendekia Gorontalo, ia bertemu dengan banayk teman baru dari berbagai daerah di Indonesia. “Saya merasa seneng karena mendapat banyak temen baru dari seluruh Indonesia. Awalnya ia sempat merasa tidak bisa menyesuaikan dengan temen-teman banyak, tapi alhamdulillah bisa. Setidaknya saya bisa sejalan dengan mereka,” katanya.
Sistem belajar di Insan Cendekia menggunakan model asrama seperti layaknya pesantren. Para siswa bisa benr-benar fokus belajar. Anshori paling-paling pulang ke Sumatera Utara pada musim lebaran. “Bahkan lebaran pertama saya tidak pulang karena masih baru. Waktu itu saya berlebaran di Gorontalo,” kenangnya.
Pengalaman Berkompetisi di OSN
Dinda Al Anshori menjadi salah satu peserta OSN untuk tingkat SMA yang diadakan di Mataram, Nusa Tenggara Barat pada 1-7 September 2014.
OSN adalah ajang kompetisi dalam bidang sains bagi para siswa pada jenjang SD, SMP, dan SMA di Indonesia, atau atau yang sederajat. Siswa yang mengikuti OSN adalah siswa yang telah lolos seleksi tingkat kabupaten dan provinsi. Mereka adalah siswa-siswa terbaik dari provinsinya masing-masing.
Pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional ini didasarkan pada kesuksesan Indonesia sebagai tuan rumah Olimpiade Fisika Internasional (IPhO - International Physics Olympiad) yang diselenggarakan di Bali pada tahun 2002. OSN diadakan setiap tahun di kota yang berbeda-beda.
Ansori berngkat mewakili madrasahnya sekaligus mewakili provinsi Gorontalo. Ia berhasil memboyong medali emas untuk bidang geografi.
OSN XIII Tahun 2014 di Mataram untuk tingkat SMA mempertandingkan sembilan mata pelajaran yakni Matematika, Fisika, Biologi, Kimia, Astronomi, Komputer, Ekonomi, Kebumian, dan Geografi. Khusus untuk bidang georafi ini baru dipertandingkans sejak OSN 2013.
Awalnya Ansori tidak memilih geografi. Pada tahap seleksi awal tingkat sekolah, sebenarnya ia memilih fisika dan biologi.
“Saya tidak lolos di fisika tapi berpeluang di biologi. Namun ada guru geografi saya menyarankan saya di geografi. Saat itu masih ada pelajaran geografi di kelas XI,” kata Ansori. Saat ini ia duduk di kelas XII jurusan IPA dan sudah tidak mendapatkan pelajaran geografi.
Menurut Joko Miranto, M.Pd., Guru Senior MAN Insan Cendekia yang juga mantan kepala MAN Insan Cendekia Gorontalo, para siswa yang punya potensi disebar di berbagai bidang.
“Anak yang punya potensi kita sebar. Kadang-kadang mereka ngumpul di fisika dan matematika saja. Karena itu, kita ambil beberapa yang punya potensi di situ (matematika dan fisika), dan selebihnya kita sebar. Justru mereka malah berprestasi di bidang yang lain-lain. Strateginya begitu,” katanya.
Strategi yang diterapkan MAN Insan Cendekia Gorontalo ternyata berhasil, dan Dinda Al Anshori justru mendapatkan medali di bidang georafi, meskipun geografi bukan pilihan awalnya.
Para siswa MAN Insan Cendekia yang mengikuti OSN mengikuti bimbingan khusus. Anshori bercerita, dia bahkan mengikuti pelatihan khusus atau semacam karantina selama setengah semester. Waktu itu ia duduk di semester 3 atau kelas XI. “Saya nggak masuk kelas, fokus OSN. Jadi tiga bulan saya tidak di IC,” katanya.
Untuk bidang geografi, ada beberapa materi yang dilombakan. “Ada tes tulis. Materinya seperti biasa, cuma yang diujikan itu materi tingkat atas yang tidak diajarkan di SMA. Ada praktikum dan multi media. Untuk perlombaban multi media itu, kita dikasih gambar power point, misalnya kita dikasih ciri-ciri bangunan gereja. Lalu ditanyakan itu landmark kota apa dan terletak dimana?” kata Ansori.
“Alhamdulillah akumulasi nilai saya dapat medali emas. Saya juga mendapatkan penghargaan best multimedia dan best map skill,” tambahnya.
Mengorbankan Pelajaran
Memenangkan OSN, memperoleh medali emas dan mengharumkan nama madrasah bukan tanpa risoko. Butuh konsentrasi dan fokus, serta butuh waktu yang tidak sedikit. Bagi Ansori, yang terkadang menjadi beban adalah ia harus meningkalkan kelas untuk beberapa waktu lamanya. Konsekuensinya nilai sekolahnya turun drastis.
“Untuk menggapai prestasi di OSN saya mengorbankan pelajaran. Selama mengikuti OSN nilai saya untuk semester 3 dan 4 turun jauh. Waktu semester 1 saya masih di peringkat ke-11, lalu semester ke-2 ada OSK (OSN tingkat kabupaten) sama OSP (tingkat provinsi) saya turun peringkat ke-30, dan semester tiganya saat mengikuti Pelatnas peringkat saya jatuh lagi sampai ke tingkat 70-an. Kalau untuk OSN bukan hanya usaha dan latihan tapi harus ada yang dikorbankan,” katanya.
Sementara itu MAN Insan Cendekia menerapkan standar akademis yang ketat. “Di Insan Cendekia kita tidak bisa santai, selalu ada tugas, dan ulangan segala macam,” kata Ansori.
“Jadi kalau saya hitung-hitung, saya tidak ada di sini (kelas) selama enam bulan. Padahal enam-bulan itu sangat-sangat penting banyak materi yang saya tinggalkan,” katanya. Ia mengikuti tahap-tahap seleksi dan pelatihan ITB Bandung. Ia juga sempat mengikuti kompetisi di UGM Yogyakarta.
Pihak madrasah sebenarnya memberikan perlakukan khusus bagi para siswa yang mengikuti OSN dan beberapa even pertandingan di luar sekolah. Menurut Joko Miranto, guru senior di MAN Insan Cendekia Gorotalo, para guru Insan Cendekia sudah bersepakat bahwa siswa yang mengikuti lomba akan mendapatkan materi tambahan untuk mengejar ketertinggalan selama mereka latihan dan mengikuti kompetisi di luar madrasah.
“Kebanyakan sekolah-sekolah, ketika ada lomba langsung comot anaknya. Nah kita (MAN Insan Cedekia) mempersiapkan dari awal. Beberapa eksperimen yang kita lakukan minimal pelatihan itu tiga minggu. Anak-anak yang akan ikut lomba dibebaskan dari pelajaran sementara waktu,” katanya.
Setelah mengikuti berbagai proses OSN para siswa diberikan perhatian khusus untuk mengejar ketertinggalan. Standar penilaian tetap seperti biasa. Perhatian khusus diberikan dlam bentuk materi tambahan untuk materi yang terlewatkan.
Meski demikian, Ansori masih tetap khawatir. “Meskipun saya mendapatkan medali belum menjamin saya lolos di PTN dengan jalur undangan,” katanya. “Soalnya ada teman saya ikut OSN dan pelatnas tapi tidak diterima di PTN,” katanya khawatir.
“Saya berupaya mengejar materi yang dikorbankan. Saya membenahi diri, melihat yang masih kurang dan ktinggalan. Di situ saya kejar. Saya mencari tutor terutama dari teman-teman saya lebih jago. Bagi saya belajar tidak perlu gengsi. Kalu tidak bisa kita bertanya,” katanya.
Ansori membesarkan hatinya sendiri. Bahwa mengikuti OSN tentu menjadi kebanggan tersendiri buat semua siswa, meskipun risikonya ia ketinggalan pekajaran. Ia dan siwa lainnya yang bisa mewakili sekolah ke OSN akan lebih percaya diri karena sering tampil di luar, apalagi jika sampai juara. Wawasan akan bertambah. Selain itu mereka akan bersosialisasi dengan siswa-siswa pintar lainnya dari berbagai daerah. Banyak informasi penting dan pengalaman yang didapat.
Ingin jadi Pengusaha di Bidang Perminyakan
Bidang geografi yang mengantarkannya mendaptkan medali emas di OSN sebenarnya hanyalah hobi. Dari geografi, ia belajar banyak hal mengenai dunia. “Jika ia serching internet saya cari berita internasional yang ada wawasan geografinya,” katanya.
Konsentrasi Ansori di kelas lebih ke materi-materi jurusan IPA, seperti biologi, fisika dan kimia. Terbesit cita-cita kelak ia ingin menjadi pengusaha di bidang perminyakan. Kenapa tertarik di bidang perminyakan dan pertambangan? “Saya ingin mengoptimalkan minyak Indonesia,” kataya.
Ada persolaan energi di Indonesia, kata Ansori. “Kita lihat sumber daya alam Indonesia itu belum teroptimalkan secara sempurnya. Banyak kilang-kilang minyak yang dikuasai asing. Berarti dibutuhkan orang Indonesia atau pribumi yang mengolah kilang sendiri.”
Menurut Ansori, persoalan SDM orang Indonesia dalam hal perminyakan sebenarnya sudah lumayan bagus, hanya saja masih kurang memadai. Di sisi lain, SDM yang mengerti soal perminyakan banyak lari keluar negeri.
“Mereka melihat peluang kerja di Indonesia itu kecil, dan gajianya tidak seberapa. Jadi mereka lebih suka bekerja di luar negeri, seperti Timur Tengah, atau Qatar. Jadi SDM yang bagus-bagus itu banyak kerja di luar negeri,” katanya.
“Saya ingin bikin perusahaan di bidang perminyakan, dan yang bekerja di situ orang-orang Indonesia sendiri. Jadi kita tidak tergantung sama luar negeri,” pungkasnya. (A. Khoirul Anam)
No comments:
Post a Comment