Wednesday, October 26, 2016

Madrasah Ini Kembangkan Keterampilan Bahasa Korea

manu

Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) 1 Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah merupakan madrasah yang diajarkan supaya peserta didik mempunyai pemahaman agama yang baik dan benar, berakhlakul karimah, serta mandiri dalam berbagai hal. Madrasah ini juga terus berupaya agar peserta didiknya mempunyai daya kreatif dan inovatif. Hal ini dibuktikan dengan adanya kursus bercocok tanam, menjahit, dan menyulam.

Madrasah yang didirikan tahun 2000-an ini memfasilitasi siswa untuk merambah dunia kerja dan dunia usaha di negara Malaysia dan Korea Selatan. Untuk menunjang program tersebut, MANU 1 Losari mengadakan mata pelajaran Bahasa Korea. Bahasa ini diajarkan oleh guru yang sudah berpengalaman hidup di Korea.

Selain itu, untuk menunjang program ini, madrasah juga memfasilitasi siswanya dengan menggandeng Perbankan untuk membiayai sekolah ini supaya siswa mudah mendapatkan kesempatan bekerja di Korea tanpa biaya yang memberatkan. MANU 1 Losari telah menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan di Malaysia untuk menampung peserta didik yang mau bekerja di perusahaan Malaysia tersebut.

Komitmen ajarkan Islam moderat

Secara geografis, madrasah ini terletak di Kecamatan Losari tepatnya di belakang Polsek Losari. Letak madrasah ini cukup representatif untuk belajar mengajar karena agak jauh dari pemukiman warga. Namun demikian, MANU 1 Losari tidak lepas dari berbagai aktivitas yang terjadi di masyarakat sekitarnya.

Seperti sekolah-sekolah di Kecamatan Losari pada umumnya, MANU 1 Losari terletak di daerah pesawahan. Tempat ini sejuk, aman, dan tidak mengganggu masyarakat di sekitarnya. Begitu pula sebaliknya, masyarakat tidak terganggu oleh kebisingan siswa sedang belajar. Tetapi, peserta didik diajarkan komitmen tentang Aswaja NU sehingga siswa selalu siap berbaur dengan masyarakat untuk merawat dan tradisi dan budaya lokal.

Kepala MANU 1 Losari, Drs M Zaini yang juga Pengurus Pondok Pesantren Al-Mumajjad Losari Brebes menuturkan, hidup berkarya aja reka-reka (tidak perlu neko-neko) yang artinya siswa harus berkarya tanpa mengusik orang lain. Tapi tetap ikut berperan aktif di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

“MANU 1 Losari ini juga terintegrasi dengan Pesantren Al-Mumajjad. Peserta didik diwajibkan untuk ikut mengaji di pesantren. Artinya, peserta didik juga termasuk santri,” ujar Kiai Zaini, sapaan akrabnya.

Integrasi madrasah dengan pesantren ini dilakukan agar nilai-nilai Aswaja NU yang diberikan di sekolah bisa menjadi lebih kaya dengan aktif mengaji di pesantren. Artinya, peserta didik tidak cukup hanya belajar di madrasah, tetapi juga harus diperkaya dengan pemahaman agama yang baik dan benar sesuai prinsip-prinsip Aswaja NU.

Hal ini diamini oleh salah satu guru MANU 1 Losari, Khaerun Yongki, SpdI. Dia berpendapat dengan program integrasi ini, madrasah akan mampu mendidik siswanya agar memahami Aswaja NU seperti yang di anjurkan oleh para pendiri NU. Hal ini juga menjadi bagian untuk menjaga NU. “Pendiri NU, KH Hasyim Asy'ari dahulu telah mengatakan, bahwa ‘siapa yang mengurus dan menjaga NU, maka akan bertemu aku di akhirat sana’. Dengan adanya motivasi tersebut, peserta didik diharuskan mengetahui atau mendalami tentang Aswaja NU,” jelas Khaerun.

Sejarah singkat

Berangkat dari kegelisahan untuk merawat paham Aswaja NU di kalangan pelajar, para pengurus NU Losari bertujuan mendirikan Madrasah Aliyah, karena Madrasah Tsanawiyah sudah ada. Di awal pengesahannya menjadi madrasah, MANU 1 Losari masih menginduk di sekolah lain. Hal ini sempat menjadi keprihatinan warga NU di Losari sehingga mereka berduyun-duyun membantu pendanaan untuk membangun gedung secara mandiri.

Para pengurus NU di tingkat ranting yang telah mempunyai komitmen menjaga Aswaja NU di kalangan pelajar, mengadakan penggalangan dana. Sehingga satu-satunya MA NU di Brebes bagian barat ini berdiri di atas tanah warga NU yang diwakafkan untuk pendirian madrasah.

Setelah beberapa tahun sejak pendiriannya, madrasah NU kebanggaan warga Losari ini dikunjungi oleh Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj pada tahun 2010 di awal kepengurusannya sebagai Ketua Umum. Kang Said, sapaan akrabnya, memberikan taushiyah kepada warga NU yang berduyun-duyun datang dari berbagai penjuru. Acara yang diprakarsai oleh MWCNU dan MANU 1 Losari ini berhasil menyedot warga untuk tahu lebih jauh tentang keberadaan MANU.

Sumber: Buku Kekhasan Pendidikan Islam, Penerbit: Ditjen Pendis, 2015.

No comments:

Post a Comment