Monday, April 18, 2016

Guru Madrasah Ini Terlibat Program Digitalisasi Majalah dengan 36 Negara

Tak pernah terbayangkan bahwa MAN 1 Jember Jawa Timur akan memperoleh penghargaan dalam event bertaraf internasional (2014). Proyek kolaborasi pembuatan majalah digital mendapatkan apresiasi luar biasa. Jember adalah kota biasa yang tiada apa-apanya jika dibandingkan dengan kemajuan teknologi kota-kota-kota peserta kegiatan yang melibatkan 36 negara Asia dan Eropa tersebut.

[caption id="attachment_1103" align="aligncenter" width="300"]Pak Tugi, pelopor pemanfaatan IT di lingkungan madrasah Pak Tugi, pelopor pemanfaatan IT di lingkungan madrasah[/caption]

Tugi Hartono membuktikan bahwa sekolah yang berbasis agama (MAN) mampu bersaing bahkan unggul dari sekolah-sekolah umum dari manca negara dalam bidang yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan pelajaran agama yang dipahami oleh masyarakat umum. MAN 1 Jember dapat meraih Gold Award iMagz-Making Myself Heard.’

“Tentu saya bangga selaku pembimbing bisa mengantarkan anak-anak meraih prestasi tingkat dunia,” ujar guru berkacamata ini.

Kebanggaan yang dirasakan Pak Tugi –sapaan akrabnya--  cukup beralasan. Sebab, selama ini madrasah kerap kali dikesankan sebagai sekolah kelas dua. Madrasah dinilai kurang prospektif karena  yang dipelajari lebih banyak soal agama, sehingga kurang diminati dunia kerja. Madrasah seolah-olah terisolasi di tengah kian menjamurnya sekolah-sekolah umum. Namun dengan prestasi yang diraih Pak Tugi bersama siswa MAN 1 Jember, tentu  membelalakkan mata dunia bahwa madrasah tidak bisa dipandang sebelah mata. Madrasah juga punya kemampuan yang mumpuni di bidang teknologi informasi (IT).

Jember Fashion Carnival

Menurut Tugi Hartono, untuk mengikuti event dunia tersebut butuh waktu lama dan kerjasama tim yang bagus. Tahun 2012, Pak Tugi mulai melakukan rekruitmen anggota untuk masuk dalam tim pembuat majalah digital. Siswa yang ikut seleksi waktu  itu mencapai 50 orang. Setelah dilakukan seleksi menjadi 25 orang. Dari jumlah itu diciutkan lagi menjadi 5 orang. Materi-materi yang diajukan dalam tahapan seleksi itu semuanya menggunakan bahasa Inggris. “Akhirnya saya mantap dengan 5 orang itu,” ujarnya.

Tim tersebut lalu didaftarkan (via online)  di India sebagai  panitia pusat penyelenggara proyek. Sejak saat itu, tim tersebut aktif berkomuniksi dan berdiskusi dengan peserta lain dari 36 negara Asia dan Eropa untuk menggali dan tukar informasi seputar kebudayaan masing-masing negara. Setelah disaring, informasi tersebut lalu  diangkat sebagai berita di majalah digital yang mempunyai space 30 halaman tersebut. Untuk Jember sendiri, tim MAN 1 Jember mengangkat tema soal Jember Fashion Carnival (JFC), peniggalan batu-batu kuno di Bondowoso dan soal kehidupan masyarakat sebuah desa di Lumajang. Waktu pemuatannya sekaligus waktu pelaksanaan proyek berlangsung sejak Januari 2013 sampai dengan Juni 2013. Karena ini merupakan proyek  digital, penilaiannya juga via online dengan melibatkan para pakar dan juri internasional.

“Saya akhirnya mendapat email dari panitia di Singapura yang mengabarkan bahwa saya dan tim MAN 1 Jember  berhasil memperoleh penghargaan. Isi email tersebut merupakan tembusan dari panitia pusat di India. Sertifikat kita peroleh ketika tahun 2014, di mana mereka sudah duduk di kelas 11. Sekarang mereka sudah pada lulus,” kenang Pak Tugi.

Menurut Pak Tugi, untuk mengikuti proyek kolaborasi dan berhasil memperoleh penghargaan bertaraf internasional tersebut cukup sulit. Selain membutuhkan kemampuan berkomunikasi dengan bahasa Inggris juga memerlukan kecakapan dalam bidang TI. Yang juga penting adalah kerjasama antara guru (pembimbing) dan anggota tim. Untuk tim yang ikut dalam event  internsional tersebut, seleksinya dilakukan sejak mereka masih duduk di bangku kelas 10 semester awal. Kegiatan baru dimulai pada semester kedua. Mereka adalah anak-anak yang hebat, sehingga bisa bersaing, bahkan mengungguli teman-teman sebayanya dari manca negara. Namun kehebatan mereka,  tentu tak lepas dari besutan tangan dingin Pak Tugi.

Siapa Pak Tugi?


[caption id="attachment_1107" align="alignnone" width="300"]Tugi Hartono Tugi Hartono[/caption]

Pak Tugi lahir di Desa Kemuningsari Kidul  (Jember) ketika kalender menunjuk pada angka 26 Agustus 1963. Ia anak anak pertama dari 5 bersaudara pasangan M. Ibrahim dan Ninik Supiah. Kemuningsari Kidul adalah sebuah desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Jenggawah, sekitar 20 kilometer kearah barat daya kota Jember.

Walaupun tinggal di desa, namun keluarga Tugi cukup perhatian terhadap pendidikan. Maklum, ayahnya, M. Ibrahim adalah PNS yang bekerja di Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Dari sisi ekonomi, keluarga Tugi tergolong lumayan. Selain Tugi, adik-adiknya saat ini menjadi “orang” semua. Dua orang  menjadi guru dan dua lainnya bekerja di Puskesmas.

Pendidikan dasar Tugi dilalui di SDN Tegalgayam. Tegalgayam sendiri adalah nama dusun di Desa Kemuningsari Kidul. Atas permintaan masyarakat, akhirnya Desa Kemuningsari Kidul dipecah menjadi dua, yaitu Kemuningsari Kidul dan Kertonegoro. Pada saat itulah SDN Tegalgayam ”dilikuidasi” dan diganti nama  menjadi SDN Kemuningsari Kidul 02 hingga sekarang.

Setelah lulus dari SD, Tugi lalu melanjutkan ke SMP Islam, Ambulu. Ambulu adalah nama kecamatan yang terletak bersebelahan (di sebelah selatan) dengan Jenggawah. Di Ambulu juga, Tugi menyelesaikan pendidikan SMA-nya, yaitu SMA Negeri Ambulu.

Sesungguhnya,  menjadi guru,  tak pernah terpikirkan di benak Tugi sejak kecil. Cita-citanya juga tidak tinggi. Ia hanya senang dan ingin menekuni bidang elektronik. Oleh karena itu, setelah lulaus SMA, Tugi muda ikut tes masuk di Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK) IKIP Surabaya, jurusan teknik elektro. (sejak tahun 1999, FPTK IKIP Surabaya berubah menjadi Fakultas Teknik, Universitas Negeri Surabaya). Tahun 1988, Tugi berhasil meraih sarjana di perguruan tinggi yang sekarang berubah nama menjadi Unesa tersebut.

Menjadi PNS

Menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), bukan cita-cita Tugi. Jalan hidupnya layaknya air. Bedanya kalau air mengalir, mencari tempat yang lebih rendah. Tapi kalau nasib Tugi, mengalir ke tempat yang lebih tinggi.

Saat itu, pekerjaan masih gampang. Indonesia masih kekurangan SDM yang memadai untuk berbagai formasi di birokrasi. Begitu lulus FPTK IKIP Surabaya, Tugi lalu mengajar di SMA Muhammadiyah, Ambulu. Tak lama setelah itu, Tugi ditarik ke SMAN Ambulu. Pada saat yang sama, Tugi juga membantu mengajar di SMA PGRI dan MAN 1 Jember. Dari dulu, Tugi memang type pekerja keras. Bayangkan, ketika itu Tugi mengajar di empat sekolah menengah atas yang berbeda dalam kurun waktu bersamaan, yaitu dari tahun 1988 hingga 1989.

Tahun 1990, Pak Tugi ikut tes  CPNS di Departemen Agama RI untuk formasi guru, dan lulus. Jadilah, Pak Tugi mengajar di MAN 1 Jember.

Namun mata pelajaran yang dipegang Pak Tugi bukan keterampilan elektronik, karena mata pelajaran yang satu ini sudah ada gurunya. Lelaki yang hobi membaca ini mengajar fisika dan matematika di sekolah yang terletak di Jalan Imam Bonjol Nomor 50, Kaliwates tersebut. Beberapa tahun kemudian, Pak Tugi “nyambi” mengajar di MA Annuriyah, Rambipuji.

Tahun 1996, Pak Tugi mengikuti pelatihan di Bandung, bersama guru-guru keterampilan seluruh Indonesia. Pelatihan tersebut boleh dikata merupakan momentum kebangkitan Pak Tugi. Sebab, sejak saat itulah ia menemukan “dunia baru” hingga mengantarkannya  menjadi Pak Tugi yang sekarang. Setelah pelatihan itu, Pak Tugi lalu ditempatkan di Kediri. Bersamaan dengan tahun ajaran baru (1996/1997), Pak Tugi mendapat tugas baru, yaitu sebagai guru di MAN 2 Kota  Kediri, dengan mata pelajaran keterampilan elektronik.

Di kota tahu tersebut, kesibukan Pak Tugi semakin meningkat. Dasar memang rajin, saat itu ia masih menyempatkan diri mengajar di beberapa sekolah dan memberikan les privat di kota Kediri. Pak Tugi mulai dikenal sebagai guru keterampilan elektronik yang lumayan. Kemampuannya di bidang yang satu itu terus diasah. Selama di Kediri, ia beberapa  KALI mewakili lembaganya untuk mengikuti pelatihan keterampilan di Bandung, Surabaya  dan sebagainya. Termasuk, selama 3 bulan ia pernah mengikuti  magang industri di Batam. Dalam perjalanan karirnya yang belum begitu lama itu, (2004), Pak Tugi sudah menjadi pemakalah dalam simposium nasional Inovasi pembelajaran dan pengelolaan sekolah tingkat nasional ke-2 di Bogor. Aktifitas Pak Tugi di Kediri berakhir tahun 2006.

Awal tahun 2007, Pak Tugi “pulang kampung”. Ia dipindah tugas di MAN 1 Jember. Di sekolah tersebut ia mengajar mata pelajaran kesenangannya, yaitu keterampilan elektronik.   Di situ, karir Pak Tugi semakin moncer. Lingkungannya juga kondusif, dekat dengan keluarga lagi. Walaupun mata pelajaran yang dipegang Pak Tugi adalah keterampilan elektronik, namun ia secara spesifik IA mendalami TI, dan mengajarkannya kepada murid-muridnya. Kalau keterampilan elektronik, penekanannya lebih kepada hardware, tapi kalau TI lebih banyak bicara soal software. Pak Tugi bertekad bahwa anak-anak didiknya bisa “melek” TI. Sebab, era sekarang dan kedepan adalah era yang serba digital dan  internet. Informasi lowongan kerja, sekarang sudah banyak yang diumumkan melalui internet. Lamaran kerja juga sudah bisa dilakukan jarak jauh melalui internet. Dan segudang informasi penting, juga sudah bisa diunggah melalui internet. “Dengan kenyataan itu, saya semakin terlecut untuk mengembangkan TI di sekolah saya,” ucapnya.

Pak Tugi semakin tertantang karena madrasah selama ini sudah kadung terstigma negatif sebagai sekolah kelas dua, yang seolah-olah siswanya tidak bisa apa-apa soal TI. Stigma tersebut secara umum bisa dilhat dari pilihan sekolah yang dilakukan oleh para orang tua. Mereka mengutamakan memilih sekolah umum yang favorit dulu, kemudian kalau tidak lulus, baru mendaftar di madrasah. Seolah-olah madrasah, hanya menerima limpahan murid yang sudah tersortir dari sekolah-sekolah umum. Stigma tersebut sampai saat ini masih dirasakan oleh Pak Tugi. Buktinya, kalau suami Gifi Riyani itu mengikuti seminar atau pelatihan di kota-kota besar, banyak yang mengira bahwa dia adalah guru SMA atau SMK. “Itu artinya, ‘kan mereka masih punya anggapan bahwa yang bisa ikut pelatihan soal TI hanya guru sekolah umum. Padahal kenyataannya tidak,” terangnya.

[caption id="attachment_1104" align="aligncenter" width="300"]Tugi Hartono menggelar workshop pemanfaatan konten digital untuk menunjang pembelajaran Tugi Hartono menggelar workshop pemanfaatan konten digital untuk menunjang pembelajaran[/caption]

Tak Pernah Patah Semangat


Namun demikian, jauh di lubuk hati Pak Tugi, muncul keyakinan bahwa madrasah juga bisa berbuat sesuatu. Ia ingin membuktikan bahwa madrasah juga sama dengan sekolah umum, bahkan bisa jauh lebih hebat. Ia punya keyakinan anak-anak madrasah juga punya talenta dan kecerdasan. Tinggal memoles dan mengembangkannya ke arah yang lebih tinggi. “Saya yakin Allah memberikan otak sama kepada manusia. Cuma  tingkat kapasitas dan kecerdasannya yang berbeda, ada yang lambat, ada yang cepat,” urai Pak Tugi.

Kendati demikian, untuk mewujudkan mimpinya, Pak Tugi bukan tanpa kendala. Sebagian rekan-rekannya (guru) menganggap bahwa apa yang dilakukan Pak Tugi dengan memacu dan mengembangkan TI di MAN, terlalu tinggi. Tidak bisa dijangkau oleh siswa. Belum lagi, sikap siswa yang kadang acuh tak acuh terhadap mata pelajaran yang satu itu. Namun Pak Tugi tak pernah patah semangat. Ia terus berusaha meyakinkan  segenap civitas MAN 1 Jember tentang betapa pentingnya TI. “Saya bilang ke anak-anak, kalau kalian cuma belajar apa adanya, ya hanya dapat apa adanya. Ya, pintar sesuai teks book. Tapi kalau belajar TI bisa lebih dari  itu. Dunia bisa dalam genggaman,” kata Pak Tugi kepada murid-muridnya waktu itu.

Pak Tugi tak pernah menyerah. Ia tak bosan menyosialisasikan pentingnya TI di dunia pendidikan, baik secara formal maupun non formal. Bersamaan dengan itu, nama Pak Tugi semakin dikenal sebagai “pecinta” TI yang handal yang mempunyai jaringan luas. Maka iapun sering kali mendapat undangan untuk mengikuti seminar, simposium dan sebagainya soal bidang yang terkait dengan TI. Semua itu tentu kian menambah wawasan Pak Tugi tentang dunia maya. Dalam kurun waktu yang hampir bersamaan, Pak Tugi secara pribadi kerap mengikuti berbagai kegiatan nasional bahkan internasional secara online, dan sering menjadi juara di event yang diikutinya.

Misalnya tahun 2011, Pak Tugi menjadi pemenang  pertama tingkat nasional “Action Plan Project Based Approaches”. Ia memerlukan persiapan selama 3 bulan untuk mengikuti lomba yang diselenggarakan oleh Intel Education Indonesia dan Kemendikbud RI tersebut. Ia harus merancang rencana pembelajaran, pemilihan proyek, time schedule, pembuatan instrumen penilaian, pembentukan kelompok dengan proyek yang berbeda. Porfolionya dikirim ke panitia. Tidak sekedar konsep  di atas kertas, tapi juga digelar lomba implementasi dari portofolio tersebut (2012). Dan Pak Tugi tetap menjadi  yang  terbaik (pemenang pertama) dalam lomba yang diikuti oleh seluruh alumni   “Action Plan PBA “ yang sudah di-approve oleh mentor dari Intel Indonesia tersebut.

Tahun 20013, seharusnya Pak Tugi berangkat ke Thailand. Ia mendapat undangan dari Seamolec untuk menjadi trainer di Thailand Selatan. Ayah empat anak ini ditugasi memberi pelatihan terhadap murid dan para guru di beberapa sekolah/madrasah di situ tentang simulasi digital. Simulasi digital tersebut meliputi materi kelas virtual, pembuatan buku digital dan pembuatan video pembelajaran. Namun ternyata gagal berangkat ke Thailand karena undangan/pemberitahuan soal jadwal kegiatan terlalu mepet. Sebab, untuk pergi ke luar negeri harus memenuhi beberapa syarat administrasi, seperti paspor dan lain-lain. “Waktunya tidak mencukupi, undangannya terlalu mepet dengan jadwal pelaksanaan kegiatan,” ujarnya sedikit kecewa.

Pembelajaran Online

Kendati demikian, Pak Tugi tak perlu berlama-lama kecewa. Sebab, pihak Seamolec menggantikannya dengan kegiatan serupa via online dengan peserta siswa dan guru di Thailand Selatan. Selain itu, seabrek kegiatan juga sudah menunggunya. Yaitu menjadi fasilitator/pemateri workshop di Jombang, Banyuwangi, Ngawi, Mojokerto, Kediri dan  Demak (Jawa Tengah).  Semua workshop tersebut terkait dengan pembelajaran digital di sekolah.

Kegiatan demi kegiatan yang dilakukan Pak Tugi telah menempatkannya sebagai orang “populer” dalam bidang pembelajaran online. Karena itu, tidak heran jika akhirnya ia mendapatkan  penghargaan “Kelase Sertified Teaccher” dari Kelase.com  (2014). Dalam  kurun waktu yang sama, Pak Tugi  juga meraih “21st Century PBL Model (Across Subject) Certified Level  Excellent” dari Seamolec. Ini semacam penghargaan kepada Pak Tugi karena telah mengikuti pembelajaran online global selama sekitar 4 bulan. Pesertanya hanya sekitar 50 orang, yang berasal dari dari negara-negara Asean, Arab Saudi, Mesir, Nederland, Rusia,  Jepang serta kawasan Eropa lainnya.

Kendati rajin mengikuti lomba dan dan berkegiatan di jalur online, namun Pak Tugi termasuk orang yang disiplin. Aktifitasnya yang terkait dengan dunia maya, sebisa mungkin diusahakan tidak mengganggu tugasnya mengajar. Baginya, mengajar adalah merupakan kewajiban yang melekat dalam tugasnya. Walaupun aktifitas tersebut juga sangat berguna untuk menunjang keberhasilannya mengajar, tapi Pak Tugi tetap berusaha tidak mengganggu jam mengajarnya. Apalagi, kegiatan-kegiatan yang terkait dengan internet bisa dilakukan kapan saja, tidak terikat oleh waktu. “Yang saya ikuti itu yang sekiranya bisa dilakukan sendiri, tanpa melibatkan sekolah. Sehingga saya mengajar tetap jalan,” ucapnya.

Yang menarik, kendati Pak Tugi kerap mengikuti kompetisi online, namun sama sekali tak pernah menargetkan juara. Baginya, mengikuti lomba hanya sebagai perangsang untuk lebih tahu tentang sesuatu. Menambah wawasan, memperluas cakrawala, memperbanyak  jaringan dan tentu saja menambah ilmu adalah tujuan utama dari aktifitas Pak Tugi dari berbagai kompetisi online. Sikap bijak tersebut juga ditularkan kepada anak didiknya mana kala mengikuti satu event. “Kalau mau ikut (kompetisi) jangan memasang target menang. Yang penting bisa menambah wawasan. Jika kita punya target menang, kalau pas kalah, itu efeknya tidak bagus,” jelasnya.

Ibarat minum air laut, semakin banyak meminumnya, semakin terasa dahaga. Kalimat ini rasanya pas untuk menggambarkan petualangan Pak Tugi di belantara keilmuan di jalur dunia maya. Saat ini, lelaki yang tinggal di Perumahan Kodim Gang 4/2, Jubung, Kec. Sukorambi, Jember ini, tengah sibuk menggelar pelatihan  guru se-Indonesia (online) dengan materi Pengantar office 365. Bahkan saat ini sudah mencapai angkatan yang ke-6. Durasi pelatihan selama 1 bulan, dengan peserta 60-80 setiap angkatan. Hebatnya lagi, pelatihan ini tanpa dipungut biaya.

Bersamaan dengan penyelenggaraan pelatihan online untuk guru, pak Tugi juga mengikuti beberapa kursus singkat secara online yang diadakan oleh beberapa Universitas terkemuka di luar negeri. Kursus online yang berdurasi antara 4-8 minggu tersebut beberapa diantaranya telah berhasil diselesaikan dan memperoleh sertifikat yang diakui di tingkat Internasional. Tujuan keikutsertaan dalam kursus semacam itu hanya untuk menambah wawasan dan dapat berinteraksi dengan semua peserta dari seluruh dunia.

Riset Tenaga Surya


Saat ini Pak Tugi tengah melakukan riset tentang “penggunaan tenaga surya sebagai pengganti tenaga listrik di sekolah”. Riset ini dilatarbelakangi oleh kian meningkatnya penggunaan listrik seiring semakin membludaknya jumlah manusia. Sementara sumber-sumber atau bahan baku yang menghasilkan listrik, terus menyempit. Jika itu dibiarkan, pada saatnya nanti, bukan tidak mungkin dunia akan mengalami krisis listrik.  Tidak ada jalan lain untuk mengatasi itu semua kecuali berusaha menemukan sumber listrik baru atau penghematan dalam pengunaannya . Pak Tugi memilih yang terakhir, yaitu penghematan.

Kenyataannya, para pengguna listrik, baik perorangan apalagi lembaga, tidak sedikit yang cenderung menggunakan listrik semaunya. Misalnya menggunakan lampu kamar,  tenaga listrik untuk aquarimum dan sebagainya. Untuk penggunaan listrik yang kecil-kecil itu cenderung tidak ada kontrol. Kendati kecil, namun jika diakumulasikan dengan ribuan orang yang menggunakan listrik volume kecil, maka akhirnya bisa “jadi bukit”. Fokus riset Pak Tugi adalah bagaimana bisa melakukan penghematan pemakaian listrik di lingkungan sekolah, misalnya untuk aquarium, penyiraman bunga yang semuanya butuh pasokan listrik. “Itu sedang saya teliti, saya ingin ada penghematan,” tukas Pak Tugi.

Riset tersebut juga sebagai salah satu persyaratan bagi Pak Tugi untuk mengikuti forum pertemuan guru-guru internasional yang bakal digelar salah satu perusahaan Multinasional dari Amerika Serikat.

Pak Tugi tak pernah berhenti berkegiatan. Ia adalah sosok yang tak bisa  diam.  Diam baginya adalah sebuah kerugian. Sebab, waktu terus berjalan dengan pernak-pernik dinamikanya. Kemajuan teknologi informasi telah membuat waktu begitu berharga. Alpa sedikit saja, berarti kehilangan  begitu banyak informasi dan peluang. Di sisi lain, kemajuan teknologi informasi juga membuat dunia terasa sempit. Sekat-sekat geografis, seolah tak ada lagi. Apa yang terjadi di belahan dunia lain, pada saat yang sama kita juga bisa menyaksikan hal tersebut di Indonesia. Begitu juga, komunikasi dengan orang lain di lain negara, bisa dilakukan layaknya percakapan face to face. Inilah yang membuat Pak Tugi tak bisa diam. Ia terus berkelana mencari sesuatu yang baru lewat jaringan media online.

Penghargaan yang telah diterima Pak Tugi bersama kru majalah digital  MAN 1 Jember, bisa jadi itu hanya merupakan sisi  kecil dari rangkaian keinginan dan cita-cita besar dalam pengembaraannya di dunia maya. Ujung dari pengembaraan itu bermuara pada satu titik; kemajuan pembelajaran. “Yang saya pikirkan adalah bagaimana dunia pendidikan bisa memanfaatkan TI seoptimal mungkin untuk kemajuan pembelajaran,” tukasnya.

Usia Pak Tugi saat ini mencapai 52 tahun lebih sedikit, tidak lama lagi ia memasuki usia senja. Namun usia yang lewat tak menghalangi Pak Tugi untuk terus berkarya. Sebab, bagi lelaki murah senyum itu, karya adalah sebuah tanda bahwa seseorang masih ada atau pernah ada.  Bisa jadi, jasad seseorang sudah hancur berkalang tanah, tapi karya yang dihasilkan tak akan pernah musnah. Dan Pak Tugi adalah sosok yang tak pernah kekeringan ide untuk berkarya.  Selamat ya, Pak! (Red: Anam)

* Profil Pak Tugi ini dimuat dalam buku “Keteladanan: Sosok Guru Madrasah Inspiratif” yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (2015)

No comments:

Post a Comment