Thursday, April 14, 2016

Jadi Penyuluh, Siswa Madrasah Ini Berpesan “Jangan Nikah Muda!”

Tidak mudah bagi seorang siswa yang baru berumur belasan tahun, berbicara di depan orang banyak. Namun Nurleli bahkan sudah menjadi penyuluh sejak kelas 1 Madrasah Aliyah (MA). Ia memberikan penjelasan mengenai keluarga berencana (KB). Ia memberikan pemahaman kepada para orang tua agar jangan buru-buru menikahkan anaknya yang masih berusia sekolah. Ia mengingatkan bahwa teman-temanya berhak memperoleh pendidikan yang memadai sebelum masuk ke jenjang pernikahan. Ia juga menjelaskan secara detil tentang bahaya narkoba.

Alhamdulillah saya punya kelebihan bisa tampil di hadapan orang banyak dan memberikan materi-materi,” kata Nurleli yang kini duduk di kelas XII jurusan IPA di Madrasah Aliyah As'adiyah Puteri Sulawesi Selatan.

Berbeda dengan anak-anak seusianya, Nurleli tidak mempunyai beban psikologis untuk tampil di hadapan banyak orang. Anak perempuan umumnya lebih pemalu jika berbicara di depan umum. Namun Leli sangat percaya diri. Ia tahu betul kelebihannya dan ia mamfaatkan untuk membantu orang lain.

Apa yang membuatnya percaya diri berdiri di depan orang banyak? Apa juga yang membuat Nurleli begitu bersemangat menjadi seorang penyuluh? Berikut ini kisahnya.

NurleliNurleli menjadi penyuluh sejak duduk di kelas 1 MA.  Ia tergabung dalam Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R). Ia tidak hanya memberikan penyuluhan di sekolahnya, tetapi juga ke beberapa sekolah di kabupaten Wajo Sulawesi Selatan.

Ia juga pernah dua kali menjadi juara penyuluh. Ia terpilih sebagai pemenang juara 1 dalam event Bulan Bahasa yang diselenggarakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Ia juga menjadi juara 1 dalam lomba penyuluhan yang diselenggarakan oleh PIK-R.

Alhamdulillah saya bangga bangga bisa menjadi juara. Apalagi banyak dari peserta lomba penyuluhan yang alumni SMP yang sekolah umum. Mereka sering tampil, kita jarang tampil, tapi bisa menang,” katanya senang.

Memberikan Pencerahan

Bagi Nurleli, memberikan penyuluhan adalah bagian dari aktivitas dakwah. Memberikan informasi dan pengetahuan yang penting yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah tugas dakwah yang diemban oleh generasi Muslim dan Muslimah.

Nurleli bercerita, sebagian masyarakat di Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan ingin menikahkan anak-anak mereka pada usia sangat muda. Para orang tua takut kalau anak mereka jatuh dalam pergaulan bebas. Namun, menurut Leli, menikahkan anak di usia muda apalagi masih usia sekolah bukanlah solusi terbaik dan bahkan bisa menimbulkan masalah di kemudian hari.

Pernikahan yang dilakukan di usia yang terlalu muda tidak tertalu bagus bagi masa depan pasangan pengantin itu sendiri, serta masa depan anak-anak dan keturunan mereka. Mereka yang akan menikah semestinya harus sudah menjalani tahapan pendidikan yang memadai, telah makan “asam-garam” kehidupan yang cukup. Anak-anak muda juga perlu diberi kesempatan untuk berkarir dan berkarya. Intinya pernikahan harus didahului dengan planning atau perencanaan yang matang.

“Kita memberikan pencerahan. Berikanlah kesempatan anak untuk belajar. Berikanlah kesematan anak untuk sukses,” kata Leli, panggian akrab Nurleli.

Masih tentang pernikahan, banyak juga keluarga Wajo Sulawesi Selatan yang belum menjalankan program Keluarga Berencana (KB). Banyak diantara keluarga miskin yang jumlah anak mereka banyak sekali, sehingga mereka kesulitan memenuhi beban hidup dan merencanakan masa depan anak-anak mereka.

“Banyak keluarga di sini yang jumlah anaknya sampai 10 orang. Akhirnya secara ekonomi mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup karena beban tanggungan yang besar. Pendidikan anak-anak mereka juga tidak terlalu diperhatikan,” kata Leli.

Materi lain yang disampaikan oleh Nurleli dalam berbagai kegiatan penyuluhan adalah tentang bahaya narkoba. Kepada para pelajar dan pemuda ia menjelaskan bahwa narkoba bukan sekeder merusah sistem syaraf serta merusak badan. Namun narkoba juga merusak masa depan.

“Saya mengingatkan jangan sekali-kali coba-coba narkoba! Karena biasanya para pecandu kan awalnya coba-coba,” tegasnya.

Kepada para orang tua, Leli memberikan pemahaman bahwa anak-anak mereka perlu mendapatkan perhatian. Jangan sampai kesibukan kerja melupakan tugas yang sangat penting yakni endidik dan mengarahkan anak-anak untuk menggapai masa depan yang terbaik. Sebagian besar anak muda yang terjerumus dalam narkoba adalah mereka yang lepas dari kontrol orang tua. “Anak-anak tidak hanya membutuhkan uang, tetapi juga kasih sayang,” katanya.

Searching Materi


Materi-materi yang dibawakan Nurleli pada saat memberikan penyuluhan tentunya bukan pelajaran-pelajaran yang diperolehnya di bangku sekolah. Sebagian besar materi penyuluhan adalah materi tingkat anjutan untuk orang-orang dewasa, mungkin juga untuk para mahasiswa. Ia belajar banyak materi dari kakak-kakak kelasnya yang lebih dulu aktif di Pusat Informasi dan Konseling Remaja.

“Saya mendengar langsung dari penyuluh senior pada saat memberikan penyuluhan. Materi juga saya peroleh dari acara pengkaderan, kemudian saya kembangkan diri,” katanya.

Leli juga Ia cukup aktif membaca buku-buku dan panduan materi-materi untuk keperluan penyuluhan. Ia juga memanfatkan media internet untuk menambah banyak pengetahuan yang ia butuhkan untuk keperluan penyuluhan. Di Madrasah Aliyah As'adiyah Puteri Sulawesi Selatan para siswa mendapatkan kesempatan untuk menggunakan jaringan internet dan itu dimanfaatkan dengan baik oleh Leli untuk menambah wawasan.

Dari internet antara lain, ia mendapatkan materi penyuluhan tentang delapan fungsi keluarga. Menurut BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) fungsi keluarga dibagi menjadi delapan. Pertama, fungsi keagamaan, yaitu dengan memperkenalkan dan mengajak anak dan anggotakeluarga yang lain dalam kehidupan beragama. Kedua, fungsi sosial budaya, dilakukan dengan penanaman norma-norma tingkah laku sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

Ketiga, fungsi cinta kasih, diberikan dalam bentuk memberikan kasih sayang dan rasa aman, serta memberikan perhatian diantara anggota keluarga. Keempat, fungsi melindungi, bertujuan untuk melindungi anak dari tindakan-tindakan yang tidak baik. Kelima, fungsi reproduksi, yakni untuk meneruskan keturunan, memelihara dan membesarkan anak.

Keenam, fungsi sosialisasi dan pendidikan, yakni mendidik dan mempersiapkan anak menjadi anggota masyarakat yang baik. Ketujuh, fungsi ekonomi, yang dilakukan dengan cara mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, pengaturan penggunaan penghasilan, dan menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga dimasa datang. Kedelapan, fungsi pembinaan lingkungan, adalah menciptakan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan masyarakat sekitar dan alam.

“Saya searchiing internet. Materi-materi yang saya dapatkan, saya kembangkan sendri. Saya menambah kata-kata motivasi dan humor agar pndengar tidak bosan,” kata Nurleli.

Agar Tampil Percaya Diri

Yang lebih penting dari pengusaan materi adalah kemampuan menyampaikan materi di muka umum atau di depan banyak orang. Leli mengasah kemampuan publik speaking sedikit demi sedikit.

“Pengalaman menarik saya ialah saat mengikuti lomba penyuluhan tingkat provinsi yang merupakan pengalaman pertama saya ikut menyuluh. Saat saya menyuluh saya mengalami sedikit kesalahan dalam membawakan materi. Mungkin para santri, guru dan para tamu menilai hal tersebut benar. Tapi saya yakin tim penilai pasti mengetahui letak kesalahan saya meskipun sedikit.”

“ Alhasil saat saya selesai menyuluh, tim penilai diberi kesempatan untuk lebih memperjelas materi penyuluhan yang disampaikn, dan ternyata benar dugaan saya, tim penilai mengetahui letak kesalahan saya dalam membawakan materi. Akan tetapi cara beliau sangat baik dalam memperbaiki kesalahan dari materi yang saya sampaikan.”

“Saya sangat kagum dengan tim penilai. Seolah saat menyuluh saya tidak melakukan kesalahan dalam membawakan materi, sehingga saya merasa hanya saya saja yang mengetahui hal tersebut dan teman-teman pun terlihat tidak menangkap bahwa saya melakukan kesalahan,” demikian Nurleli bercerita.

Meski ia sudah sangat percaya diri menampaikan materi penyuluhan di depan banyak orang, namun sesekali waktu sebenarnya ia mersa canggung dan grogi. Namun Leli bisa mengatasi semua perasaan canggung dan grogi itu.

Bagaimana cara Leli menghilangkan perasaan malu atau grogi tambil di depan orang banyak? “Anggap saja kita sedang berhadapan dengan banyak orang yang sangat butuh materi yang kita sampaikan, karena mereka tidak tahu. Sementara apa yang akan kita sampaikan penting buat mereka,” katanya.

Jadi segala perasaan malu, canggung, dan grogi bisa dia atasi dengan cara menanamkan keyakinan diri bahwa apa yang akan ia sampaikan itu diperlukan oleh orang lain. Demi untuk membantu orang lain, maka ia harus tampil bersemangat dan penuh percaya diri.

Keluarga Sederhana


14 Nurleli


Nurleli lahir di Pasaru 14 Juni 1997 dari pasangan Herman dan Hasni. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya berprofesi sebagai tukang ojek. Ibunya berjualan sayur-sayuran. Mereka tinggal di Sabbangparu. Penghasilan keluarga hanya pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Kata Nurleli, keterbatasan ekonomi bukan penghambat untuk meraih masa depan yang gemilang. “Mereka (anak orang kaya) punya kelebihan, tapi kita punya kelebihan yang lain. Setiap orang punya kelebihan dan kelebihan itu kita kembangan dengan terus berusaha,” katanya.

Leli hanya mempunyai satu saudara. Pendidikan dasar dan menengah ia peroleh di SD dan SD dan SMP Negeri setempat. Setelah itu kakaknya, Erwin, menyarankannya untuk melanjutkan jenjang pendidikan ke Madrasah Aliyah. Kakaknya juga alumni pesantren dan pernah belajar di pondok pesantren.

Pilih Madrasah

Selain karena anjuran kakaknya, melanjutkan di madrasah adalah keinginan sendiri. Orang tua Leli sebenarnya menginginkan drinya melanjutkan ke SMA.

Dengan melanjutkan belajar di madrasah, Leli ingin mempelajari lebih dalam mengenai agama Islam. “Dulu saya lumayan nakal. Jadi saya masuk madrasah biar jadi tidak nakal,” katanya bercanda.

Ia memilih Madrasah Aliyah As'adiyah Puteri yang beralamat di Jl. Veteran No. 46 Sengkang, ibukota Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan.

Madrasah Aliyah As'adiyah Puteri berada di bawah naungan pondok pesantren tertua di Indonesia Timur dikenal dengan nama Pondok Pesantren As’adiyah, didirikan tahun 1348 H/1930 M. Nama As’adiyah dinisbatkan pada nama pendirinya yakni Gurutta Asysyeh Haji Muhammad As’ad. Penamaan ini baru ditetapkan secara resmi setelah almarhum pendiri wafat dan dan kepemimpinan dilanjutkan oleh Gurutta H. Daud Ismail bersama Gurutta H. Muhammad Yunus Martan.

Saat ini, Leli duduk di bangku kelas XII jurusan IPA Madrasah Aliyah As'adiyah Puteri. Mengapa pilih IPA? “Karena belajar IPA pada dasarnya adalah belajar mengenai diri sendiri,” katanya.

Leli sanga suka pelajaran biologi. Ia bercita-cita ingin menjadi dokter. Selain dokter, ia juga memendam keinginan untuk menjadi dosen.

“Saya ingin menjadi dokter karena jadi dokter itu bisa membantu orang lain. Kalau jadi dosen saya ingin berbagi ilmu,” katanya.

Leli belum ingin jauh dari orang tua dan kampung halamannya. Setelah lulus dari Madrasah Aliyah As'adiyah Puteri Sulawesi Selatan, ia ingin melanjutkan kuliah di perguruan tingg yang ada di Sulawesi Selatan, seperti UNHAS, atau UIN dan STAI yang ada di sana. Orang tuanya juga belum mengizinkannya pergi jauh dari rumah. “Kunci sukses adalah doa orang tua. Ketika ada penawaran ikut lomba selalu lapor dan meminta izin orang tua,” katanya

Membantu masarakat

Di Madrasah Aliyah As'adiyah Puteri, Leli disenangi oleh guru-gurunya. Kata Ibu Rosmilah, Kepala Madrasahnya, Leli adalah siswa yang sangat terampil. Prestasi di kelasnya juga cukup bagus. Leli juga cukup aktif Pusat Informai dan Konseling Remaja (PIK-R). Pihak madrasah juga selalu mengikutsertakan Leli dalam berbagai ajang perlombaan.

Ibu Aminah, wali kelasnya mengatakan, pribadi Nurleli baik sekali. Dalam hal menyampaikan materi penyuluhan, kata Aminah, Leli sangat lancar dan penyampainnya sistematik.

Leli sangat beruntung mempunyai kemampuan lebih di bidang publik speaking. Ia sering diundang ke sekolah lain dan mewakili kabupaten Wajo memberikan penyuluhan. Menurutnya, kemampuan dasar daam memberikan ceramah di depan umum dipelajari dari kakaknya Erwin. Kakaknya adalah lulusan pesantren dan sering aktif dalam kegiatan dakwah. Di luar kegiatan belajar di madrasah, Leli sering tampil memberikan penyuluhan.

“Saya memiliki pengalaman menarik saat memberikan penyuluhan di satu MTs, tepatnya di dalam masjid. Saat berhadapan dengan mereka, baik yang pengurus PIK, maupun yang bukan, ternyata satu pun dari mereka belum mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan materi PIK, seperti umur minimal pernikhan bagi pria dan wanita,” kata Leli bercerita.

“Beberapa kali saya mengumpan pertanyaan, tidak satupun dari mereka yang menjawab dengan benar. Namun hal ini saya jadikan peluang untuk memasukkan unsur humor degan cara tebak- tebakan agar suasana lebih hidup. Bahkan saya menyuruh mereka untuk tepuk tangan,” tambahnya.

Karena terlalu bersemangatnya memberikan penyuluhan, Leli mengajak peserta tepuk tangan meriah padahal mereka sedang berada di masjid. Sehingga salah satu dari mereka menegurnya dengan mengatakan, “Kita tidak boleh tepuk tangan di dalam masjid!”

Mendengar teguran itu Leli berusaha memikirkan hal lain untuk menggantikan tepuk tangan, agar suasana tetap semangat. “Akhrnya saya mengatakan kepada mereka untuk tepuk tangannya di dalam hati saja atau pun menggantinya dengan ucapan hamdalah,” katanya.

Berbagai cara dan inovasi dilakukannya agar masyarakat, terutama anak-anak seusianya dan adik-adiknya dapat memahami beberapa materi penyuluhan yang ia sampaikan. Kata Nurleli, materi-materi yang ia sampaikan itu penting untuk masyarakat namun tidak banyak diketahui. [A. Khoirul Anam]

*Profil Nurleli pernah dimuat dalam buku inspiratif “Madrasah Mencetak Generasi Emas” yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (2015).

No comments:

Post a Comment