Salah satu fenomena penting kajian keislaman di pesantren adalah berdirinya model pendidikan tinggi yang secara khusus mengkaji khazanah keislaman klasik yang diperkaya dengan materi keilmuan kontemporer. Model pendidikan tinggi ini dikenal dengan sebutan Ma’had Aly.
Dari penelitian Marzuki Wahid dkk (2000), pendidikan tinggi yang diselenggarakan Ma’had Aly tidak lebih dan tidak kurang seperti pondok pesantren dengan berbagai kultur dan tradisi yang melingkupinya. Hanya saja karena kekhususannya, dalam hal-hal tertentu Ma’had Aly di berbagai pesantren diberi fasilitas khusus, seperti asrama, ruang kelas, perpustakaan, dan sarana aktualisasi seperti penerbitan atau ceramah di luar pondok pesantren. Yang membedakan dengan yang lain adalah metode pembelajarannya, yang melibatkan santri sebagi subyek belajar, dan tingkatan kitab kuning yang dikaji relatif tinggi, serta cara mengkajinya secara lebih kritis.
Saat ini lebih dari 13 pesantren yang telah menyelenggarakan pendidikan model Ma’had Aly scara reguler, baik dalam arti institusional maupun substansial. Ke-13 Ma’had Aly tersebut adalah ;
- Mahad Aly Saidusshiddiqiyyah, Pondok Pesantren As-Shiddiqiyah Kebon Jeruk (DKI Jakarta) dengan program takhasus (spesialisasi) “Sejarah dan Peradaban Islam” (Tarikh Islami wa Tsaqafatuhu);
- Mahad Aly Syekh Ibrahim Al Jambi, Pondok Pesantren Al As’ad Kota Jambi (Jambi), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);
- Mahad Aly Sumatera Thawalib Parabek, Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek, Agam (Sumatera Barat), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);
- Mahad Aly MUDI Mesjid Raya, Pondok PesantrenMa’hadul ‘Ulum Ad Diniyyah Al Islamiyah (MUDI) Mesjid Raya, Bireun (Aceh), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);
- Mahad Aly As’adiyah, Pondok Pesantren As’adiyah Sengkang (Sulsel), dengan program takhasus “Tafsir dan Ilmu Tafsir” (Tafsir wa Ulumuhu);
- Mahad Aly Rasyidiyah Khalidiyah, Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidiyah Amuntai (Kalsel), dengan program takhasus “Aqidah dan Filsafat Islam” (Aqidah wa Falsafatuhu);
- Mahad Aly Salafiyah Syafi’iyah, Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo (Jatim), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);
- Mahad Aly Hasyim Al-Asy’ary, Pondok PesantrenTebuireng Jombang (Jatim), dengan program takhasus “Hadits dan Ilmu Hadits” (Hadits wa Ulumuhu);
- Mahad Aly At-Tarmasi, Pondok Pesantren Tremas (Jatim), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);
- Mahad Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh, Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati (Jateng), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu);
- Mahad Aly PP Iqna ath-Thalibin, Pondok Pesantren Al Anwar Sarang Rembang (Jateng),dengan program takhasus “Tasawwuf dan Tarekat” (Tashawwuf wa Thariqatuhu);
- Mahad Aly Al Hikamussalafiyah, Pondok Pesantren Madrasah Hikamussalafiyah (MHS) Cirebon (Jabar), dengan program takhasus “Fiqh dan Ushul Fiqh” (Fiqh wa Ushuluhu); dan
- Mahad Aly Miftahul Huda, Pondok PesantrenManonjaya Ciamis (Jabar), dengan program takhasus “Aqidah dan FIlsafat Islam” (Aqidah wa Falsafatuhu).
Semangat...
Semangat Keilmuan
Sekilas orang akan menyangka bahwa Ma’had Aly sama dengan perguruan tinggi agama Islam yang sudah ada, seperti Institut Agama Islam Negeri (IAIN) yang sebagian berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN), atau Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) atau lembaga serupa lainnya. Namun jika kita mencoba masuk ke “dapur” Ma’had Aly, maka kita akan menemukan bahwa Ma’had Aly sama sekali berbeda dengan Perguruan Tinggi Agama Islam pada umumnya.
Perbedaan ini bukan semata-mata karena Ma’had Aly dikelola oleh pesantren dan diselenggarakan di lingkungan pesantren, tetapi terutama karena pendidikan tinggi ala pesantren ini lebih menekankan aspek intelektualitas ketimbang formalitas. Pendidikan yang diselenggarakan di Ma’had Aly tidak lebih dan tidak kurang seperti pondok pesantren dengan berbagai kultur dan tradisi yang melingkupinya. Hanya saja karena kekhususannya, dalam hal-hal tertentu Ma’had Aly di berbagai pesantren diberi fasilitas khusus, seperti asrama, ruang kelas, perpustakaan, dan sarana aktualisasi seperti penerbitan atau ceramah di luar pondok pesantren. Yang membedakan dengan yang lain adalah metode pembelajarannya, yang melibatkan santri sebagi subyek belajar, dan tingkatan kitab kuning yang dikaji relatif tinggi, serta cara mengkajinya secara lebih kritis.
Itulah sebabnya, Ma’had Aly sebagai sebuah model pendidikan tinggi di pesantren bisa digolongkan dalam dua jenis; pertama, Ma’had Aly yang secara kelembagaan organisasional dan administratif memang menyelenggarakan pendidikan tingkat tinggi yang berbasis pada tradisi intelektual dan keilmuan pondok pesantren. Dalam pengertian ini, Ma’had Aly memang dikelola oleh suatu lembaga resmi yang ditopang dengan manajemen dan administrasi yang profesional. Kedua, Ma’had Aly secara substansial. Berbeda dengan yang pertama, model yang terakhir ini tidak dilengkapi dengan kerangka kelembagaan dan organisasi-administratif yang secara khusus mengelola sistem penyelenggaraan pendidikan ini, tetapi dalam praktiknya, pendidikan Ma’had Aly terus-menerus dilaksanakan. Perbedaan kedua model ini terutama terletak dalam pengelolaannya yang sistematis dan terstruktur sebagaimana manajemen pendidikan pada umumnya.
Dalam kategori kedua, banyak pondok pesantren yang bisa dimasukkan di sini. Ukuran tradisi akademik dan intelektual klasik tingkat tinggi itu adalah selain standar kitab kuning yang, menurut orang pesantren, tinggi, juga proses pembelanjarannya tidak saja mengandalkan pembacaan literal dan pemahaman tekstual dari isi kitab dan pemikiran seorang ulama, melainkan telah masuk kedalam analisis isi (dirasah tahliliyyah), pembacaan kontekstual (qira’ah siyaqiyah), dan lebih-lebih kritik atas isi kitab dan produk pemikiran tersebut (dirasah naqdiyyah). Meski tidak seluruhnya terpenuhi, beberapa pondok pesantren bisa dimasukkan dalam kategori ini, yakni misalnya Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Pondok Pesantren Tegalrejo Magelang, Pondok Pesantren Sidogiri, Pondok Pesantren Dar Al-Tauhid Arjawinangun Cirebon, Pondok Pesantren Al-Ihya’ Kesugihan Cilacap, dan lain-lain.
Ma’had ...
Ma’had Aly Sukorejo: Sebuah Model
Ma’had Aliy Sukorejo Situbondo lahir dari sebuah kegelisahan atas gejala semakin langkanya ulama. Di ujung tahun delapan puluhan, semakin banyak saja kiai-kiai sepuh NU yang alim yang telah meninggal dunia. Sementara di pihak lain, tidak muncul generasi-generasi baru yang terlihat mampu menggantikan posisi keagamaan dan kemasyarakatan mereka. Hal ini merupakan masalah tersendiri bagi pesantren.
Dari suasana psikologis macam inilah alm. KHR As’ad Syamsul Arifin pada tahun 1989 berfikir untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan yang didisain untuk melahirkan ulama-ulama yang andal dan profesional, terutama ulama yang ahli di bidang fiqh. Sebagai tindak lanjut dari gagasan ini maka diadakanlah langkah awal dengan menyelenggarakan sebuah simposium nasional tentang rencana pendirian Ma’had Aliy. Para nara sumber yang hadir pada simposium waktu itu antara lain adalah KH. MA. Sahal Mahfudz, Prof. KH. Ali Yafi’e, Dr. Fami Saifuddin, MPH, KH. Ma’ruf Amin, Drs. Masdar F. Mas’udi. Para peserta simposium seluruhnya sepakat bahwa berdirinya sebuah lembaga keulamaan sungguh sangat urgen dan mendesak.
Untuk kepentingan itu, maka pada tahun 1990 berdirilah lembaga Ma’had Aliy dengan mengambil konsentrasi dan spesialisasi pada bidang Fiqh dan ushul Fikih. Lembaga tinggi ini diberi nama al-Ma’had al-‘Aliy li al-Ulum al-Islamiyah Qism al-Fiqh. Lembaga inilah yang senantiasa menjadi obsesi Kiai As’ad hingga akhir hayatnya. Bahkan seminggu sebelum Kiai As’ad wafat (4 Agustus 1991), ia masih sempat menitipkan lembaga tersebut kepada KH Ali Yafie dan Dr Fami Saifuddin, MPh, ketika kedua tokoh itu datang ke Sukorejo.
Sebagaimana tercantum dalam statuta Ma’had Aliy, lembaga memiliki tujuan (a) menanamkan etos tafaqquh fiy al-din di kalangan mahasiswa sehingga mereka dapat mengembangkan dan mengkontekstualisasikan ajaran Islam dalam derap perubahan zaman; (b) mengembangkan fiqh dan ushul fiqh sesuai dengan ajaran ahlu al-Sunnah wa al-Jama’ah; (c) mengkondisikan mahasiswa dalam suasana yang dapat melahirkan seorang faqih yang mampu memecahkan masalah-masalah keagamaan dan kemasyarakatan secara cepat dan tepat; dan (d) menanamkan sikap dan kemampuan mahasiswa agar memiliki kesalehan individual dan kesalehan sosial secara sekaligus. Artinya, disamping sebagai orang yang ‘alim, mereka juga dapat mengetahui mashalih al-khalqi.
Catatan...
Catatan Akhir
Ma’had Aly yang diselenggarakan di berbagai pondok pesantren di Indonesia adalah wujud kongkrit dari sebuah komitmen untuk mengembangkan jenis pendidikan tinggi yang secara khusus mendalami khazanah keilmuan klasik dan sekaligus dibekali dengan pengetahuan-pengetahuan kontemporer.
Seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja Ma’had Aly membutuhkan perhatian ekstra tidak hanya dari pengelola yang bersangkutan, tetapi juga dari masyarakat dan khususnya dari pemerintah. Sebab, dari lembaga inilah diharapkan lahir ulama yang mampu menjembatani kesenjangan antara keilmuan klasik dan keilmuan modern.
Lembaga Ma’had Aly akan diperlakukan sama seperti perguruan tinggi, yakni akan dievaluasi dan diakreditasi. Namun yang terpenting sebetulnya bukan evaluasi dan akreditasi, tetapi juga pengakuan atas lulusan mereka. Sebab, dari segi penguasaan khazanah keilmuan klasik, lulusan Ma’had Aly yang dikelola secara serius seperti Pesantren Sukorejo sesungguhnya jauh melampaui lususan IAIN/UIN. Melihat kontribusi besar yang dihasilkan Ma’had Aly dalam melahirkan kader-kader ulama, maka sangat layak lembaga ini mendapat pengakuan formal, sehingga lulusan Ma’had Aly memperoleh akses yang lebih besar untuk memanfaatkan ilmu yang diperoleh dari lembaga tinggi khas pesantren ini. (Agus Muhammad, alumnus Pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo Jawa Timur/@viva_tnu, ed.)
No comments:
Post a Comment